jump to navigation

Harmoko Maret 24, 2008

Posted by anick in All Posts, Kisah, Politik, Tokoh.
trackback

Syahdan, dua hari setelah Harmoko berhenti dari jabatannya sebagai Menteri Penerangan ”Orde Baru”, datanglah seorang perempuan ke kantor departemen itu. Wajahnya manis, senyumnya tulus meski samar-samar. Di meja penerima tamu, ia berkata, ”Saya datang untuk menghadap Pak Harmoko, Pak Menteri Penerangan.”

Petugas penerima tamu itu berkata dengan sopan, ”Maaf, Bu, Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi.”

”Oh, begitu,” jawab perempuan tamu itu. Dan ia pun pergi.

Tapi esoknya ia datang lagi. Ia menuju meja penerima tamu itu pula dan berkata, dengan nada suara yang sama dan senyum samar-samar yang sama, ”Saya datang untuk menghadap Pak Harmoko, Pak Menteri Penerangan.”

Petugas itu (orang yang juga sama seperti kemarin) sejenak terhenyak. Ia ingat, ini tamu yang kemarin juga. Tapi ia menjawab sabar, ”Maaf, Bu, Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi.”

Dan perempuan itu pun pergi.

Tapi esoknya dan esoknya lagi ia kembali, dan adegan, ucapan, dan senyum itu berulang lagi. Sampai lima kali.

Tak urung, para petugas penerima tamu bingung, kemudian curiga, lalu melapor ke bagian keamanan dan protokol. Dengan cepat cerita ini menyebar ke seluruh lantai Departemen Penerangan.

Syahdan, pada hari keenam, para pegawai (yang umumnya memang hanya pura-pura banyak kerja) pun menunggu. Dengan mengintip-intip. Betul juga: perempuan misterius itu datang lagi.

Langsung ia dibawa ke lantai ke-3. Sang Sekretaris Jenderal sendiri, dengan didampingi dua direktur jenderal, duduk menemuinya. Perempuan itu tak tampak gugup atau gentar. Senyumnya tetap, juga ketika salah seorang direktur jenderal bertanya:

”Ibu sudah lima kali ke kantor ini untuk menghadap Pak Harmoko. Petugas kami sudah memberi tahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Tapi Ibu datang lagi, datang lagi. Kan sudah jelas bahwa Pak Harmoko tak menjabat lagi? Apa maksud Ibu, sebenarnya?”

”Oh, saya tak bermaksud apa-apa, Pak,” jawab perempuan itu. ”Saya datang berkali-kali kemari karena saya senang mendengar kabar baik itu berkali-kali.”

Cerita ini—sebuah fiksi, tentu—hanya lucu jika kita letakkan dalam latar masa ”Orde Baru”, ketika ada ketaksukaan yang meluas kepada Harmoko: Menteri Penerangan yang tak henti-hentinya muncul di layar TV, yang tak habis-habisnya omong yang itu-itu juga, seraya tak putus-putusnya bermulut manis kepada Presiden—di masa ketika media massa dikekang dan orang takut membantah kebohongan para pembesar.

Cerita ini hanya lucu jika orang ingat masa itu, ketika keajaiban bisa sangat sederhana: seorang menteri berhenti.

Kini hal seperti itu tak akan ada lagi. Demokrasi adalah sistem politik yang meniadakan keajaiban. Ada yang lugas di sini: berhentinya seorang yang berkuasa adalah bagian dari regularitas.

Tapi kita tahu, proses yang teratur dan ajek itu bukan sekadar tour of duty seperti yang harus dijalani para birokrat sipil dan militer. Sebab itu kejutan bukan mustahil. Pergantian masih bisa jadi berita baik. Regularitas dalam demokrasi adalah sebuah struktur yang agonistik: yang naik dan yang berhenti bergerak dalam sebuah bangunan politik dengan ketegangan, perjuangan, persaingan, pertentangan. Ada kalah dan menang.

Tapi dalam kondisi seperti itu, struktur itu dibayang-bayangi oleh hantu yang sesekali memperlihatkan diri, seperti hantu sang raja dalam lakon Hamlet. Ia datang dari Antah Berantah. Ketika ia muncul, kita sadar bahwa sebuah negeri tak pernah bisa benar-benar jelas bagi dirinya sendiri.

Tapi sebenarnya tak hanya itu: Antah Berantah itu, yang tak bisa diterangkan dan ditangkap oleh bahasa dan sistem, oleh artikulasi dan proses politik, bukanlah sekadar bagian yang turah tak tertampung sistem. Ia lebih mendasar. Bahkan bisa dikatakan tiap negeri berada dalam orbitnya. Berpusar di sekitar Antah Berantah, tiap negeri sebenarnya genting dan tak tuntas disalin dalam satu wacana.

Itu sebabnya, meskipun regularitas adalah bagian yang produktif dalam demokrasi, kita tak akan memandangnya sebagai sebuah kehadiran yang tak bergeming. Kita tak akan lupa bahwa justru regularitas lahir karena ada yang tak hadir, ada yang negatif, yang traumatis, di sekitarnya.

Itu sebabnya pemilihan umum, pergantian pemimpin dan manajemennya, perubahan para legislator dan undang-undangnya—semuanya adalah regularitas yang terjadi dari paradoks demokrasi: inilah sistem yang (seperti telah saya sebut tadi) meniadakan keajaiban, tapi pada saat yang bersamaan inilah sistem yang mengakui bahwa ada yang sesekali muncul dari Antah Berantah.

Itu sebabnya kita selalu perlu risau melihat ke Senayan. Di sana duduk orang-orang yang dengan yakin, mungkin sedikit pongah, memandang diri sebagai intan dua cahaya: cahaya pertama adalah cahaya ”wakil suara rakyat”; cahaya kedua, ”pembuat undang-undang”. Mereka bisa mengatakan, dari tangan merekalah undang-undang sah dan adekuat untuk kepentingan umum.

Tapi benarkah? Undang-undang pada akhirnya hanya akan mencapai apa yang normatif. Ia terbatas. Masih ada sesuatu yang tiap kali bisa hilang dalam kehidupan sebuah negeri di mana yang normatif tak bisa digugat—yakni keadilan.

Sebab keadilan lebih dari norma. Ia tak pernah secara lengkap dipenuhi. Ia juga berada dalam Antah Berantah. Ia seperti hantu yang sesekali datang sesekali hilang dan, seperti hantu dalam Hamlet, begitu penting dalam menggerakkan lakon.

Tapi analogi itu perlu stop di situ. Demokrasi bukanlah sebuah tragedi. Kalaupun keadilan mirip hantu, ia bukan mukjizat. Ia bisa kita panggil dan bisa kita datangkan sekali-sekali—dan ia bisa jadi kabar baik yang kita suka mendengarnya berkali-kali.

~Majalah Tempo Edisi. 05/XXXVII/24 – 30 Maret 2008~

Komentar»

1. antown - Maret 24, 2008

sudah lama saya tidak mengunjungi blog yang berbobot (baca: serius) seperti ini. permisi pak, numpang lewat…

salam kenal

2. padjar - Maret 25, 2008

Justice?
You get justice in the next world, in this world you have the law.

– William Gaddis, novelis, US

3. rumahteduh - Maret 27, 2008

Sebab keadilan lebih dari norma. Ia tak pernah secara lengkap dipenuhi. Ia juga berada dalam Antah Berantah. Ia seperti hantu yang sesekali datang sesekali hilang dan, seperti hantu dalam Hamlet, begitu penting dalam menggerakkan lakon.
…kami pengunjung setia blog ini, yang lain tidak

4. kamat - Maret 27, 2008

harmoko=dahar, modol, ngaroko

5. deddy arsya - Maret 28, 2008

kita mengisi cawan itu setiap hari, tapi setiap kali cawan itu penuh, kita akan merasakan, ia kembali kosong seketika itu juga. demikianlah demokrasi, usaha untuk menuang air ke dalam cawan. tak ada yang bisa selesai (baca: penuh) dalam sekali tuang, tuangan berikutnya, dan berikutnya lagi. keadilan, barangkali hanya suatu titik di mana kita merasa telah mengisi. betapa rumit untuk memulai menjelaskan yang Antah Barantah

6. HILMAN - Maret 31, 2008

Sebenarnya cerita Harmoko yg ditulis GM msh kocak kok, ngegigit !!

7. antown - April 2, 2008

ayo diupdate lagi boz!! semangat…

8. danummurik - April 5, 2008

Banyak orang mencela Harmoko, namun dia tiada juga terjerat. Aneh bin ajaib.

9. Rizki on benbego - April 6, 2008

Harmoko, sang loper koran di masanya, jd mentri. edan. kita? belum tentu!

10. nikenike - April 15, 2008

Btw, Bung Harmoko sekarang ada di mana ya?

11. diksi - April 22, 2008

@nikenike
, harmoko muncul lagi lho, jadi sesepuh disuatu partai baru..
br 3 hari lalu diwawancara di TV One

12. ajie - April 22, 2008

..dan berganti ‘julukan’ Hari-Hari Omong Kongkrit…katanya sih. Tunggu aja😛

13. AP. Bayu - April 24, 2008

Syahdan, Harmoko muncul tiba-tiba lantaran menurut “petunjuk”. Menurutu petunjuk dia seorang Ninja yang baik. Dan menurut pentunjuk lagi dia sudah merubah sisiran rambutnya.

14. muiszudin - April 24, 2008

demokrasi = enak dikunyah, sulit ditelan

15. sahrudin - Mei 1, 2008

wah..ketemu juga sama blognya kang caping..he..he
susah bnget nemunya…..
Salam kenal

16. taha ma'ruf - Mei 24, 2008

Jangan gitu ah…. manusia khan tidak terlihat dari covernya… dia khan sekarang sudah berubah. Belum tentu pejabat sekarang lebih baik dari dia, walaupun covernya sok alim dan coool.

17. iswandy - Mei 24, 2008

sungguh mencerahkan isi yang ada di blog ini, semoga lebih banyak kaum muda yang membacanya

18. wulang - Mei 27, 2008

Dalam sebuah sesi kala masih hidup, Affandi, seseorang yang dijuluki Maestro lukis berkata, “aku sangat menghormati Chairil Anwar dan Gunawan Muhamad sebagai penyair tapi tidak sebagai seorang pribadi. kira-kira kenapa ya?

19. Bukan Sodaranya Harmoko - Januari 29, 2010

Pak GM, just intermezo, satu kelebihan Harmoko, Ia satu-satunya menteri yang menjelang Mei 98 berenti duluan he he he yang lain cuma ikut-ikutan

20. ho.. ho.. - Januari 30, 2010

anjing hitam, kepala dan kakinya (kuning) hampir mati diinjak2 banteng (merah), beranak pinak lagi . . .

21. zul azmi sibuea - Februari 1, 2010

menurut petunjuk presiden “Harmoko sukses pada masanya”, kitanya penduduk negeri ini juga punya kesalahan, mengapa orde baru kita buarkan terlalu lama??????

22. rere - Februari 10, 2010

haduu,,kayanya saya ga update yah,,pak harmoko tuu yg mana c??hehhehee

23. Harmoko - Februari 21, 2011

ass.. pak harmoko gimana kbrnya sudah lama tak terdengar didalam berita?

24. edy - September 22, 2011

Menurut hemat dapipada saya, Pak Harmoko ini, adalah salah satu dari pada yang mana adalah tiang Orde Baru. Sebab,dialah salah satu dari pada orang yang paling banyak menyebut dan mengulang ucapan dari pada Pak Presiden, saat memulai dari pada bicara:” Menurut pentunjuk dari Bapak President”..bla,bla,bla

Namun, pada akhir tampuk kepemimpinan daripada Pak Harto, dia jugalah yang paling getol memberi petunjuk untuk tidak lagi mendukung daripada yang mana adalah Pak Harto. Meskipun saat itu Pak Harto sendiri mengaku, bahwa ia sedang TOP (Tua-Ompong-Perot).

Lha..,ini karena Pak Harto, kalau sudah duduk, lupa daripada yang mana adalah berdiri! Lha.., daripada berdiri, enakan duduk, tho!

25. attaqiyadin - ciledug - Oktober 20, 2011

Pak Harmoko menteri yang dipercaya Pak Harto (alm) dan bisa memegang rahasia serta memilah mana yang untuk publik dan mana yang untuk internalnegara. lagi pula dia (P. Harmoko) sangat dekat dengan rekan-rekan PRESS.

26. Hotman J Lumban Gaol - Juni 5, 2012

Harmoko memang mengelikan dan menyebalkan.

27. agus ch mahesa - Oktober 28, 2013

Harmoko adalah bagian dari sejarah Orde Baru,Orde Baru bagian dari sejarah Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: