jump to navigation

Fitna April 7, 2008

Posted by anick in Agama, All Posts, Film, Fundamentalisme, Islam, Kebebasan.
trackback

Kita hidup di sebuah zaman ketika benci bisa jadi advertensi. Jika tuan teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar tuan kepada sekelompok manusia—dengan teriakan yang cukup keras—tuan akan menarik perhatian orang ramai. Tuan bahkan akan dapat dukungan.

Geert Wilders tahu betul hal itu.

Dalam umur 44, politikus Belanda ini adalah sosok yang cocok bagi zaman yang celaka sekarang. Tiap kali ia mencaci maki orang imigran—para ”non-pribumi” muslim yang hidup di Negeri Belanda—ia dengan segera tampak mumbul seperti balon jingga di langit Den Haag.

Dalam sebuah wawancara dengan harian De Pers pertengahan Februari 2007, inilah yang dikatakannya: ”Jika orang muslim ingin hidup di Negeri Belanda, mereka harus menyobek dan membuang setengah dari isi Quran.” Katanya pula: ”Jika Muhammad hidup di sini sekarang, saya akan usul agar dia diolesi ter dan ditempeli bulu ayam sebagai ekstremis, lalu diusir….”

Syahdan, 15 Desember 2007, radio NOS pun mengangkat Wilders sebagai ”politician of the year”. Para wartawan surat kabar yang meliput parlemen memuji kemampuannya mendominasi diskusi politik dan memperoleh publisitas, berkat ucapan-ucapan ringkasnya yang pas waktu. Ucapan dengan abab yang panas dan bau tentu.

Demikianlah Wilders jadi tokoh publik yang mendapat tepuk tangan karena benci memperoleh tempat yang strategis. Pada awal November 2004, sutradara film Theo van Gogh digorok dan ditikam di sebuah jalan di Amsterdam oleh seorang pemuda Islam, Mohammad Bouyeri, yang menganggap korbannya layak dibinasakan. Van Gogh, seperti Wilders, adalah penyebar kebencian yang dibalas dengan kebencian. Tak ayal, dukungan melimpah ke partai yang dipimpin Wilders. Sebuah jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai itu, PVV, bisa memperoleh 29 dari 150 kursi di parlemen seandainya pemilihan umum berlangsung setelah pembunuhan yang mengerikan itu.

Kini bisa diperkirakan film Fitna yang dibuatnya akan membuat Wilders lebih berkibar-kibar—terutama jika benci yang ditiup-tiupkannya disambut, jika orang-orang Islam meledak, mengancam, atau berusaha membunuhnya. Wilders bahkan memperoleh sesuatu yang lebih: bila kekerasanlah yang terjadi, Fitna, yang ingin menunjukkan betapa brutalnya ajaran Islam, akan dikukuhkan.

Saya menonton film ini di Internet. Saya tak menikmatinya. Isinya repetitif. Apa maunya sudah dapat pula diperkirakan. Dimulai dengan karikatur terkenal dari Denmark, karya Kurt Westergaard itu—gambar seorang berpipi tambun dengan bom di kepala sebagai sorban hitam, yang dikesankan sebagai ”potret” Nabi Muhammad—film ini adalah kombinasi antara petilan teks Quran dalam terjemahan Inggris, suara qari yang fasih membacakan ayat yang dimaksud, dan klip video tentang kekerasan atau kata-kata benci yang berkobar-kobar.

Ayat 60 dari Surat Al-Anfal yang ditampilkan pada awal Fitna, misalnya—perintah Allah agar umat Islam menghimpun kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh—diikuti oleh potongan film dokumenter ketika pesawat terbang itu ditabrakkan ke World Trade Center New York, 11 September 2001. Kemudian tampak pengeboman di kereta api di Madrid. Setelah itu: seorang imam yang tak disebutkan namanya bangkit dari asap, menyatakan: ”Allah berbahagia bila orang yang bukan-muslim terbunuh”.

Pendek kata, dalam Fitna, Quran adalah buku yang mengajarkan khotbah kebencian yang memekik-mekik dan tindak biadab yang berdarah. Wilders sebenarnya hanya mengulang pendapatnya. Pada 8 Agustus 2007, ia menulis untuk harian De Volkskrant: Quran, baginya, adalah ”buku fasis” yang harus dilarang beredar di Negeri Belanda, seperti halnya Mein Kampf Hitler. ”Buku itu merangsang kebencian dan pembunuhan.”

Salahkah Wilders? Tentu. Penulis resensi dalam Het Parool konon menyatakan, setelah membandingkan film itu dengan Quran secara keseluruhan, ”Saya lebih suka bukunya.” Sang penulis resensi, seperti kita, dengan segera tahu, Wilders hanya memilih ayat-ayat Quran yang cocok untuk proyek kebenciannya. Semua orang tahu, Quran tak hanya deretan pendek petilan itu. Dan tentu saja tiap petilan punya konteks sejarahnya sendiri.

Tapi Wilders tak hanya sesat di situ. Ia juga salah di tempat yang lebih dasar: ia berasumsi bahwa ayat-ayat itulah yang memproduksi benci, amarah, dan darah. Ia tak melihat kemungkinan bahwa Al-Qaidah yang ganas, Taliban yang geram, imam-imam dengan mulut yang penuh api—mereka itulah yang mengkonstruksikan Quran hingga jadi sehimpun kata yang berbisa. Ajaran tak selamanya membentuk perilaku; perilaku justru yang tak jarang membentuk ajaran.

Tapi dalam hal itu Wilders tak sendiri. Kaum ”Islamis” juga yakin, ajaranlah yang mampu membentuk manusia. Dan seperti Wilders, mereka juga memilih ayat-ayat yang cocok untuk agenda kebencian mereka. Dan seperti Wilders, mereka tak mengacuhkan konteks sejarah ketika sebuah ayat lahir.

Benci memang bersifat substraktif. Benci membuat pelbagai hal jadi ringkas—dan membuat sang pembenci tegas, jelas, menonjol. Benci adalah advertensi Wilders dan iklan para imam dengan demagogi ”Islam”.

Itulah sebabnya Wilders salah tapi dibenarkan. Ia salah, bila ia hendak menunjukkan hubungan antara Surat Al-Anfal ayat 39 dan pemenggalan leher wartawan Eugene Armstrong menjelang akhir film. Tapi bukankah para algojo itu melakukannya karena merasa mengikuti firman Tuhan?

Apa mau dikata: inilah zaman ketika firman berkelindan dengan fitnah, ketika yang sakral bertaut dengan yang brutal. Kita hidup pada masa ketika Jonathan Swift, satiris penulis Gulliver’s Travels dari abad ke-17 itu, terdengar kembali arif dan sekaligus menusuk: ”Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita mencintai….”

~Majalah Tempo  Edisi. 37/VII/07 – 13 April 2008~

Iklan

Komentar»

1. Broken Hearted Heart Breaker - April 8, 2008

“Pemeluk agama yang taat tidak ubahnya seperti sepasukan tentara yang siap berperang” – Dan Brown –

2. aliefte - April 9, 2008

–> greet = mengijinkan
–> wilders = lebih liar

Greet Wilders = orang yang punya pikiran liar.. tidak tahu aturan.. penyebar fitnah.

3. hawee - April 9, 2008

FITNA harus di blok agar tidak tayang di seluruh dunia

4. Ajie - April 9, 2008

Semakin marah umat muslim, semakin senang Wilders karena “analisa”nya semakin terbukti, lantas mendapat dukungan. Film yang picik tentang kebencian yang akhirnya melahirkan kebencian. Benarlah Wilders memang tidak sendiri akhirnya.

5. asih - April 9, 2008

Kebencian tidak akan dapat dipadamkan kebencian!!

6. sahabat88 - April 9, 2008

kisah ini menunjukkan bagaimana kekuatan opini d tengah masyarakat..iyakan?

7. ibra - April 10, 2008

dg merunut socrates>descartes>nietszhe, dan membaca freud spt lacan lalu althuser, saya kira saya sepakat dg tesis huntington ttg ‘clash civilization’. Namun dlm al anfal jg dikatakan: bila kamu condong pada perdamaian, maka condonglah…

8. teaterimambonjol2008 - April 10, 2008

Tak apa, biar saja menyebar film itu. Mari kita bahas bersama-sama. Toh sepanjang sejarah akan terus bermunculan, dari Ibnu Ezra hingga Wilders, akan terus ada saya kira. Tinggal bagaimana Muslim mendialogkan ini. Tinggal kita sendirilah yang mesti membuktikan benar atau tidaknya Wilders

9. kamat - April 10, 2008

Gimana kalau Geert Wilders kita undang aja buat ngebahas film masterpiece-nya itu?

Jd penasaran nih pingin ngomong lgsg. Byk sekali yg pingin gw tanyain, mis. knp durasi filmya cuma 17 menit dan knp nggak bikin dlm dvd versi resmi yg dijual di toko2? Atau, dia punya rencana nggak utk bikin film ttg hubungan Kitab Talmud dg pencaplokan dan okupasi tanah Palestin oleh Israel? Atau, dia mo bantu gw nggak ya bikin film ttg penyiksaan oleh nenek moyang dia thd nenek moyang gw yg bantu nenk moyang dia bikin rel kereta api di Jawa wkt jaman kolonial dulu?

Cuma sayang ya Pemerintah udah mencekal doi.

10. Dedy - April 10, 2008

Fitna bukan “film pendek”…tapi “iklan promosi” untuk Geert Wilders. Gak lebih bermutu daripada film2 mistik ala Indonesia. Seperti GM bilang…..”Saya tak menikmatinya. Isinya repetitif. Apa maunya sudah dapat pula diperkirakan”.
saya hanya bingung kenapa judulnya Fitna…..apa Geert Wilders sebenarnya menyadari apa yang dibuatnya memang fitnah. Gak penting…karya sampah…karena itu gak perlu sampai blokir Youtube segala.

11. danummurik - April 10, 2008

Saya juga tidak begitu menikmatinya, acuhkan saja Wilders atau kita bikin film versi kita sendiri.

12. zaki - April 10, 2008

Gimana kalau kita buat sebuah film pendek juga tentang kebiadaban kristen ortodok serbia di bosnia. ditambah lagi tentang kebrutalan amerika di afghanistan dan Irak.Gambarnya terus di padukan dengan rekaman para pendeta2 yang memegang injil sambil berapi2 mengkhutbahi jemaatnya.

Tapi jadinya kita sama bodohnya dengan Geertz.
Jadi lebih baik gak usah ajalah.

Yang jelas saya salut juga sama Geertz dengan sikapnya yang terus terang memusuhi Islam, beda dengan tokoh2 lainnya yang lebih munafik dengan menyembunyikan kebencian2 mereka terhadap Islam. Kita jadi tahu gimana sebenarnya sikap orang2 eropa terhadap Islam yang selama ini mungkin berpura2 ramah. Fenomena Geertz dan Jylland Posten, dan diterimanya dengan hangat isu ini di eropa, telah membuka mata kita untuk memahami sejauhmana kebencian Kristen, khususnya Eropa terhadap Islam. Kalau di Indonesia ada juga yang semacam Geertz, Anda tentu masih ingat Arswendo dengan angketnya di tabloid monitor. Argumentasi yang sangat kuat dan elegan tentang kebencian eropa terhadap Islam bisa kita baca dalam Moslem at the Crossroad – nya Muhammad Assad.

Tapi saya tetap tidak mengeneralisir orang2 kristen pada umumnya seperti Geertz, karena saya juga pernah menjumpai orang kristen yang sama baiknya dengan saudara kandung saya sendiri. Dan disisi lain, ada juga pembangkang Islam seperti Ali harsyi yang dari somalia itu. Nah, di sinilah kearifan kita dalam beragama mencapai ujian tertinggi karena madanya manusia2 seperti Geertz.

13. Dedy - April 11, 2008

Manusia memang selalu tetap butuh setan.
Dan kita tak perlu mengeneralisir itu yang utama. Kebaikan dan keburukan bisa dimana saja
Saya hanya ingin berharap saat menghadapi yang seperti ini kita bisa menganalisa dengan detail “lekuk-lekuk” sebuah “karya” dan apa sebenarnya motif dasar semua itu dengan sabar dan matang. Niscaya saat kita memahaminya kita akan tertawa-tawa, mendeletenya dari komputer kita karena gak penting dan gak menarik (banyak video yg lebih menarik di liveleak.com..he..he), dan kembali sibuk dengan hal-hal yang lebih bermanfaat.

14. Dedy - April 11, 2008

Kita liat saja nanti…bisa saja efeknya malah semakin banyak orang pengen tau tentang islam lalu mempelajarinya dengan sungguh2.

15. Ajie - April 11, 2008

Biasanya sih begitu…awalnya rasa ingin tau tentang kehebohan sebuah film…lalu mencari tau siapa Wilders….lalu lebih jauh berusaha memahami apa sebenarnya yang dimaui film tersebut…lalu membandingkan dengan sumber sebenarnya (Quran)…..saya pikir orang2 (termasuk di Belanda tentu) yang tidak memiliki kebencian seperti Wilders dan memiliki keinginan tahuan yang besar akan tergerak untuk mempelajari kandungan Quran dengan lebih sungguh-sungguh. So, tidak hanya menjadi “iklan promosi” untuk Wilders tapi juga untuk Islam. Kalau jadinya seperti itu, bagus juga Wilders muncul sekali-kali bila dibanding dengan mereka2 yang munafik dan diam2 membenci islam

16. dss - April 11, 2008

Menurut hemat saya kita gak perlu menjadi murka dengan orang sekelas Greet Wilders. Kalau gak salah kutip dari Mahatma Gandhi: “Harga Diri kita tidak akan dapat dirampas oleh orang lain kalau kita tidak memberikannya mereka.” Artinya buat saya, gak usah marah dengan tuduhan yang dihujatkan pada kita jika kita memang tidak pernah melakukannya.

Tidak semua orang bodoh dan buta sehingga dengan begitu saja percaya dengan apa yang dituduhkan pada Islam. Konon kabarnya, akibat bombardir propaganda “kekejaman” dan “keterorisan” Islam oleh Amerika sebagai balasan musnahnya simbol kesombongan mereka, Menara Kembar WTC, justru membuat banyak manusia terbuka hatinya dan menerima hidayah cahaya Islam. Mungkin inilah cara Tuhan yang misterius itu untuk mengingatkan umat akan kepicikan akalnya. Mungkin pertanyaannya kembali kepada diri kita, sudahkah kita berIslam? Apakah yang sudah kita perbuat sehingga orang lain tidak mendapatkan manfaat atau berkat dari kehadiran kita di tengah-tengah mereka sehingga membuat mereka malah mencerca dan menaruh kebencian kepada kita?

Dilain sisi Allah sptnya sedang mencoba bertanya kepada diri kita, “Apakah jangan2 kita telah menjadi salah satu dari golongan manusia-manusia munafik, yang berbicara lantang dan keras, atas segala sesuatu yang tidak pernah kita lakukan?” Kebenaran akan senantiasa keluar menjadi pemenang sampai kapanpun. Dan Allah akan tetap menjaga Islam sampai berakhirnya masa, baik dari gangguan musuh-musuh yang nyata maupun dari manusia-manusia munafik yang justru beratribut sama seperti para ulama. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita dan menjaga keimanan dan keIslaman kita dengan senantiasa berIslam dan berjuang di jalan Allah. AMIN. Selamat Berjuang Saudaraku.

17. Ajie - April 11, 2008

Amin…

18. nagasundani - April 11, 2008

Opiniku, ada sekelompok orang-orang yang sedang memprovokasi penganut2 Islam. Mulai dari komik, film, etc. Sekarang tugas kita sebagi orang Islam (Damai) harus menunjukan bahwa kita membawa perdamaian dan terbuka dengan dialog dan diskusi.
Kalo kita berhasil, mereka akan bungkam sendiri dan tidak lagi mendapat dukungan.
Salam,

19. yanti - April 12, 2008

ini adalah “panduan” menghadapi orang-orang “se-tipe” Gert…
mungkin bisa dibaca-baca… tolong buka di… “Fitna Menurut Manhaj-Haraki” yang ada di http://maaini.wordpress.com/2008/03/31/fitna-menurut-manhaj-haraki/

Jazakumullah ya…. sudah dapat ilmu dan boleh mampir disini

20. pencari kebenaran sejati - April 12, 2008

hari gini? terprofokasi sama film gituan… Cape dah.
gak banget deh.

apa gak tahu ya, ramalan kalo 20 tahun lagi dunia dihuni orang2 yang berhtai damai…

21. akhwat89 - April 12, 2008

assalamualaikum…
ikhwahfillhah….satu hal yang harus diyakini, bahwa islam tak kan mundur atau kalah hanya dengan cemoohan saja. bukankah Allah berjanji, pada suatu saat akan ada segolongan kaum yang mencintai Allah dan Allah mencintai mereka, serta mereka tidak takut atas celaan orang – orang yang suka mencela..
.
rahasia perubahan islam hanya ada pada diri setiap orang yang mengaku muslim…
Allahu’alam

22. lasima - April 13, 2008

….. Wilders salah tapi dibenarkan. Ia salah, bila ia hendak menunjukkan hubungan antara Surat Al-Anfal ayat 39 dan pemenggalan leher wartawan Eugene Armstrong menjelang akhir film. Tapi bukankah para algojo itu melakukannya karena merasa mengikuti firman Tuhan?

Dari ungkapan diatas:
Algojo itu mengikuti firman yg ada di agamanya atau datang lewat mimpinya ? Bukankah akhirnya disini kekerasan dibenarkan ?

23. ezi - April 13, 2008

Ass, sekarang bukan waktunya untuk terus larut dalam kebencian terhadap Geert Wilders dan para koloninya, sekarang waktunya untuk lebih meningkatkan keimanan kita pada sang khalik dan mencintai agama kita dengan hati yag iklas dan terbuka.

Toh bukan kali ini saja kita dipojokan, pada islam mencapai pucak kejayaannya dalu umat islam juga sudah terbiasa dengan cacian, makian, fitnah, dsb. itu semua ujian dan ujian itu datangnya dari Allah swt.

Jadi sekarang hendaknya kita sudah bisa kebal dengan semua kebebalan itu,tidak terpengaruh, tidak terprovokasi dan jangan jadikan hal semacam itu sebagai ujian yang datangnya dari Allah swt.

24. Ajie - April 14, 2008

Wilders tidak sendiri karena Fitna berisikan tentang kebencian sekaligus ketakutan. kebencian terhadap ajaran islam dan ketakutan akan islamisasi di Belanda khususnya (di akhir film muncul “pesan halus” stop islamisation).
Bukankah banyak kebencian dan ketakutan yang serupa? Kebencian kepada Amerika, Yahudi, kristenisasi,….
Fitna mungkin hanyalah satu contoh yang muncul kepermukaan. Pada akhirnya memang sebuah kebencian yang berbalas kebencian (Wilders menjadi “target sasaran” selain Van Gogh) dan sebuah kekerasanpun dibenarkan oleh pihak manapun.
@pencari kebenaran sejati
Saya juga memilih sikap seperti anda “hare gene terprofokasi sama film gituan… Ciapee deh..
Saya pribadi masih optimislah dan tak terlalu yakin dengan tesis Huntington tentang “clash civilization”. Masih banyak orang-orang yang ingin perdamaian di seluruh dunia, tak memandang dari mana asalnya dan apa yang dia anut. Mungkin pada akhirnya yang terjadi adalah “perang” yang sesungguhnya antara “orang2 awam” yang cinta damai dengan orang2 yang (dengan kebencian dan kemarahan) berusaha saling menusuk dan saling meledakkan satu sama lain

25. Dedy - April 14, 2008

Hehe….bener banget. Saya kadang berhayal kayaknya orang2 seperti Wilders, Bush cs, dan teroris2 seperti Al Qaeda di seluruh dunia memilih perang terbuka aja (di padang pasir misalnya biar gak mbunuhin orang2 awam) mungkin dunia semakin damai. Ah..ngimpi gw.

26. neo - April 15, 2008

setuju dengan GM.
kita lawan fitnah dari Wilders!
kita lawan fitnah serupa, yang gampang sekali kita dapetin dari situs-situs fundamentalis – terutama situs lokal, yang mengajak untuk membenci kelompok lain dengan mengutip penggalan2 ayat!

kayaknya yg kedua lebih penting..

27. iqbel - April 16, 2008

Maka…

sebaiknya bikin aja film tentang bagaimana GM setiap minggu memutar otak untuk nulis caping..: film yang berkisah bukan tentang kebencian atau kecintaan tetapi kebingungan.. :-))

28. Aslan - April 16, 2008

@iqbel
Ide bagus….buat juga film tentang kita yang berdebat sampai ada yang marah-marah sedangkan GM lagi santai di beranda rumah sambil minum kopi.
Ah..comment gak bermutu…
*kabuur* 😛

29. dion007 - April 16, 2008

bagi pembaca caping yang tidak kebingungan, pasti akan terpesona pada kemampuan GM mengalihkan kebencian dengan cara berempati.
kita perlu caping GM. mudah2an kita tak seterusnya kebingungan..

30. danalingga - April 17, 2008

Gambaran yang diambil wilders ternyata ada yang mempraktekkan. Dan ironis, yang mempraktekkan menyatakan bahwa merekalah yang melaksanakana ajaran Islam yang murni.

31. Dedy - April 17, 2008

Sebenarnya Wilders menyampaikan sebuah kenyataan yang memang ada ditengah-tengah kita. Kekeliruan Wilders adalah karena yang dia hadirkan tidak obyektif, dipilah-pilah agar sesuai dengan skenario kebenciannya. Dia menutup mata terhadap islam yang cinta damai. Saya pikir siapa saja bisa terjangkit benci seperti itu. Entah kepada Amerika, Yahudi, Kristen, Cina, Jawa, Madura…..karena ketakutan akan “kita” yang tersingkir oleh “mereka”. Jika melihat film Fitna saya menduga bertambah pesatnya jumlah muslim di Belanda lah yang menjadi sumber dari ketakutan Wilders karena itu ia “berkata” diakhir film “Stop Islamisation”.

32. Suluh - April 17, 2008

Solusinya gimana ya? kalau sebaiknya sih didiemin aja biar si fitna ma wilder gak terkenal tuh….. kayaknya tuh cara terbaik deh kalau saya baca dari tulisannya GM, tapi tuisannya GM ini juga malah ikut mempopulerkan wilder… yach sama saja dong… tambah terkenal dianya….

btw, saya yakin dalam 2 tahun atau kurang entar juga sudah gak populer lagi, butuh isu lagi pasti biar si wilder terkenal lagi… jurus jitu seorang politisi yang pengen populer…

33. Toni - April 23, 2008

Apa Salah Film Fitna

Sebelumnya saya mohon maaf karena dengan menulis tema ini saya ikut membantu menjadikan “film” Fitna dan pembuatnya, Geert Wilders, semakin terkenal. Setidaknya saya menjadi orang yang kesekian kalinya yang menulis judul dan nama pembuatnya itu, sekaligus membuat Anda yang membaca tulisan ini menjadi pengejanya yang kesekian kalinya juga.

Tapi begitulah kecerdikan yang diperagakan oleh Geert Wilders dalam mempopulerkan dirinya ke seluruh dunia. Mula-mula lewat jaringan internet, lantas dikutip media elektronik dan cetak, dikecam oleh beberapa pemimpin dunia, dan didemontrasi warga [Muslim] dunia.

Maka dua nama itu kini menjadi pembicaraan dunia. Situs-situs yang memuat film itu dicari-cari, meski situs video sharing liveleak, situs “resmi” yang memuat pertama kali, sudah mencabutnya. Tapi begitulah dunia internet. Sekali saja, sebuah materi [tulisan atau foto dan gambar] ter-up load, maka tidak mudah menghapus jejaknya. Apalagi, sebelum materi “film” itu diedarkan ke jaringan internat, jauh-jauh hari sudah ada pengumuman bakal diedarkannnya “film” itu. Maka, internet provider dan situs-situs lain segera “mencaploknya”, yang kemudian segera pula di down load oleh para pengguna internet, lantas dicopy di hardisk, dicopy lagi di flashdisk atau CD, atau ditransfer lewat jaringan nirkabel.

Sampai di sini muncul pertanyaan, bagaimana kita akan melarang peredaran “film” itu, jika jaringan internet dan media imbasnya ibaratnya adalah sebuah siluman. Saya sendiri tidak yakin bahwa UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang baru saja disahkan oleh DPR RI mampu menghambatnya. Atau, dengan kata lain, efektifkan larangan yang dikeluarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas peredaran “film” produksi politisi ekstrem Belanda Geert Wilders itu di Indonesia?

Bagaimana Bersikap?

Saya terkejut saat pertama kali melihat “film” itu. Tapi terus terang keterkejutan itu bukan atas isinya yang dianggap menghujat Islam dan Al Qur’an melainkan pada penggunaan kategori film pada “karya” Geert Wilders itu.

Sebelum di-up load, atau saat pengumuman pra penayangannya di internet, saya membayangkan akan diedarkannya sebuah film sebagai karya seni yang dibuat serius layaknya sebuah film, dan berisi sesuatu yang kontroversial.

Namun bayangan saya itu sia-sia karena ternyata apa yang disebut “film” itu bukanlah film, melainkan hanya sekedar cuplikan atau rangkaian dokumentasi yang dicomot sana-comot sini [karena itu pada tulisan ini saya lebih suka menulis Fitna sebagai “film” dengan tanda petik]. Misalnya ada dokumentasi tentang serangan 11 September, pembunuhan sandera [di Irak] oleh pasukan perlawanan, aksi-aksi demontrasi yang dilakukan umat Islam di beberapa negara, pernyataan keras tokoh atau pemimpin Islam, atau kliping liputan tentang berbagai aksi yang oleh dunia [Barat] distigmakan sebagai kelompok teroris [Muslim]. Maka, meminjam Budiarto Shambazy, tak sukar mengerjakan Fitna, mungkin sama mudahnya dengan membuat film dokumenter tentang liburan Anda bersama keluarga.

Dengan memperhatikan fakta seperti ini, maka pertanyaan nakal saya adalah apa sebenarnya yang pantas diributkan dari Fitna? Saya kok justru membayangkan Geert Wilders lagi berbuat iseng seperti sebagian pengguna alat rekam dan internet yang kadang seenaknya saja melakukan pencemaran nama baik seseorang tanpa harus bertangggung jawab, misalnya dengan merekayasa gambarnya seolah-olah dia benar-benar beradegan telanjang! Toh lewat internet dan perangkat pendukungnya, orang bisa berbuat apa saja, termasuk bertindak anomali atau mau lain sendiri.

Nah, ketika kita jadi ribut setengah mati dibuatnya, sesungguhnya kita telah masuk dalam perangkap propaganda pribadi Geert Wilders. Tapi, bukankah Geert Wilders telah melecehkan Islam atau Al Qur’an?

Pertama, saya sangat yakin bahwa Islam atau Al Qur’an tidak akan pernah luntur sedikit pun kemuliaannya gara-gara keisengan orang semacam Geert Wilders. Masih ingat salah satu tulisan Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai? Suatu saat Emha meminta pendapat Kiai Sudrun, yang disebutnya kiai sinting dari Mojoagung, tentang Salman Rusdhie yang diributkan karena bukunya Ayat-ayat Setan. Bagaimana jawaban sang kiai? “Salman Rusdhie itu zakarnya bengkok dan sejak muda selalu mengalami ejakulasi dini … karena ia inferior di bidang seks, makanya dia jadi bandar buntutan. Istrinya ia jual sebagai pelacur, digermoinya sendiri. Setiap lelaki disilahkan menyetubuhinya, asal wanita itu tetap menjadi milik Salman …” Benarkah itu? Begitulah jika kita baca dari cerita Emha itu, yang mungkin mengisyaratkan bahwa Ayat-ayat Setan adalah bagian dari pelampiasan kelemahan [juga kebodohan] Salman Rusdhie.

Tapi inilah jawab serius Kiai Sudrun, “Soal Ayat-ayat Setan ini, makin menunjukkan bahwa dunia makin tidak beritikad baik terhadap Islam … Tak apa. Itu bukan urusan Islam. Islam itu Islam. Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenaraannya. Silahkan orang seluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam … Islam tidak akan berubah seinci pun karena disalahpahami … Islam tidak mungkin berubah, laa raiba fiih, tidak ada keraguan di dalamnya …”

Dulu, tahun 90-an, ketika membaca tulisan Emha itu saya tidak terlalu paham apa makna di balik jawaban-jawaban Kiai Sudrun di atas. Tapi kini baru mulai menemukan maknanya. Ternyata hampir dua dekade sejak Salman Rusdhie memperolok Islam lewat Ayat-ayat Setan, Islam tidak pernah berubah, bahkan nilai-nilai Islam semakin dicari orang dan pemeluknya kini semakin tumbuh-berkembang [seperti yang terlihat juga pada tabel yang dibuat Geert Wilders dalam Fitna]. Demikian juga ketika berlangsung propaganda Barat bahwa Islam identik dengan teroris dengan entry point tragedi 11 September, atau pembuatan kartun Nabi Muhammad saw oleh Lars Vilks dan dimuat Jyland Posten Denmark, yang juga sempat menghebohkan itu. Jangankan kurun itu, bahkan propaganda negatif tentang Islam itu sudah ada sejak zaman Abu Lahab.

Jadi, hemat saya, kita tak perlu mengeluarkan energi terlalu besar hanya untuk memberi reaksi terhadap ulah iseng beberapa orang yang mengalami syndroma complex terhadap Islam semacam Salman Rusdhie, Geert Wilders, Lars Vilks, atau siapa pun!

Energi itu sebaiknya kita manfaatkan untuk lebih mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, yang secara tidak langsung akan menjadi jawaban atas berbagai tuduhan miring terhadap Islam. Misalnya ketika Islam dituduh sebagai penyebar fitnah atau kekacauan dunia, mari kita buktikan lewat amal nyata bahwa itu tidak benar.

Kedua, memang, harus diakui bahwa tidak 100% apa yang dibuat Geert Wilders dalam Fitna salah. Tentang ayat-ayat perang misalnya, memang itu ada dalam Al Qur’an. Dan sejarah Nabi Muhammad saw pun mencatat adanya episode perang. Hanya saja yang sering disalahpahami adalah konteks dan proporsi ajaran dan sejarah perang itu.

Seperti dicontohkan Nabi Muhammad saw, perang hanya dilakukan dalam rangka mempertahankan diri atau melindungi kedaulatan hidup mereka yang terancam. Ini menjadi sah, sama sahnya seperti sebuah negara yang melakukan perang dengan dalih mempertahankan kedaulatannya dari serangan negara lain.

Sementara dalam Fitna, terekam bahwa Islam adalah penyebar kekacauan yang identik dengan pedang, kekerasan, teror, atau bom bunuh diri, karena tidak ditampilkan, misalnya, latar belakang mengapa kekerasan yang terjadi itu menjadi gejala di berbagai belahan dunia. Tidak ada tank-tank Israel yang mengempur rakyat sipil Palestina berpuluh-tahun atau tidak ada kekejaman pasukan AS dan Multinasional yang meluluhlantakkan Afghanistan atau Irak. Sementara “kekerasan” yang dilakukan oleh sebagian Muslim itu hanyalah reaksi belaka dari kesewenang-wenangan atau ketidakadilan Israel atau AS dan Barat pada dunia Islam.

Tapi Geert Wilders tidak bisa “disalahkan” karena tujuan dia membuat “film” bukan untuk mempropagandakan keadilan atau Islam itu sendiri, melainkan sebaliknya justru hendak mencitra-negatifkan Islam. Kita tidak bisa menuntut pada Geert Wilders misalnya, agar membuat film yang menggambarkan ajaran Islam yang utuh, tidak saja sisi jihadnya, melainkan juga tentang aspek lainnya. Bagaimana dia akan melakukan itu jika ia mengidap penyakit Islamophobia?

Tugas menjelaskan Islam yang utuh pada masyarakat itu adalah tanggungjawab internal umat Islam, seperti apa yang coba dilakukan secara simpatik oleh Habiburrahman El Shirazy dengan novelnya Ayat-ayat Cinta dan kemudian disosialisaikan lewat film oleh sutradara Hanung Bramantyo.

Mohammad Nurfatoni

34. Dedy - April 23, 2008

@Toni
“Jadi, hemat saya, kita tak perlu mengeluarkan energi terlalu besar hanya untuk memberi reaksi terhadap ulah iseng beberapa orang yang mengalami syndroma complex terhadap Islam semacam Salman Rusdhie, Geert Wilders, Lars Vilks, atau siapa pun!”

Sekarang udah reda kok bung Toni…gak ‘ribut-ribut’ amat kok disini..hehe. Terima kasih bang Toni udah mengeluarkan energi besar untuk menulis sepanjang ini…semoga jadi pencerahan.

35. kamat - April 24, 2008

:Mas Toni,
Pertanyaannya, kenapa anda memilih pertanyaan “bagaimana kita akan melarang peredaran “film” itu?”
Kenapa anda menggunakan kata ‘kita’ dalam pertanyaan itu?
Kenapa anda begitu yakin banyak orang spt anda yg merasa perlu utk melarang film itu?
Bukankah justru tulisan panjang anda itu mencerminkan kekhawatiran anda sendiri dan mengganggap banyak umat muslim di tanah air ini akan terkena efek propaganda ‘fitna’?
Apakah anda tdk menyaksikan sebenarnya umat muslim di sini lbh dewasa bersikap drpd yg anda asumsikan?
Tahukah anda tindakan pemerintah yang meblokir youtube untuk menutup peredaran ‘fitna’ justru merugikan lembaga penididkan yg selama ini mengambil byk manfaat dari situs internet yg diblokir pemerintah?
Kenapa hrs melarang-larang, memblokir sana-sini, seakan byk org di sini akan resah, naik pitam, atau termakan proganda murahan?
Apakah anda dan pemerintah memandang byk muslim di di negeri ini seolah-olah baru tiga bulan kemarin menganut Islam?

Jika ya, maaf saya dan banyak teman di sini tidak butuh polisi akidah…

NB: film ayat-ayat cinta tdk cukup baik utk merepresentasikan ajaran Islam yg ‘utuh’. Ajaran Islam terlalu sublim utk disampaikan lewat film drama romantis.Dan hingga kini tdk ada satu pun film yang bagus utk mjd humas dari ajaran agama.

36. ajie - April 24, 2008

He..he…terkadang kita keliru menganggap orang lain sama merasa/berpikir seperti yang kita rasakan/pikirkan…..sama terganggu imannya…..sama tersentuhnya…..sama terangsangnya….terhadap sebuah film atau buku. Padahal tak selalu. Ada teman saya yang ketawa lalu pergi melihat ‘konyol’nya film Fitna. Dan ada yang seperti saya bilang Ayat-Ayat Cinta ternyata biasa-biasa aja.

37. ini si Sri - April 25, 2008

Jangan-jangan yg terpesona dengan film Ayat-Ayat Cinta juga mudah ‘terpesona’ dengan film Fitna..hi..hi…

38. qyai.rock - April 26, 2008

Bullshit fitna,. Ayat-ayat cinta juga sama aja.! Sama-sama bukan informasi yg utuh dari zaman ini.

39. rumahteduh - April 29, 2008

saya setuju dengan qyai.rock. tapi kalau fitna bull shit, apa yang tak bullshit?

40. Kandjeng Gusti Jossje - Juli 7, 2008

Mas Goen Kurang Tjermat.

Saja kagum deh atas pengetahuan Mas Goen jang begitu komplit tentang politik mutachir Belanda. Tjuma sajangnja ada satu hal jang gak tepat dan itu terlihat pada kutipan berikut

“Tak ayal, dukungan melimpah ke partai yang dipimpin Wilders. Sebuah jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai itu, PVV, bisa memperoleh 29 dari 150 kursi di parlemen seandainya pemilihan umum berlangsung setelah pembunuhan yang mengerikan itu.”

Itulah jang tidak masuk akal pada tulisan ini. Partainja Geert Wilders itu baru dididirkan pada tanggal 22 Februari 2006 (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Party_for_Freedom). Sedangkan Theo van Gogh dibunuh oleh Mohammed Bouyeri pada bulan November 2004. Waktu itu Wilders masih anggota fraksi konservatif VVD dalam parlemen Belanda. Dia belum keluar dari VVD untuk bikin partai.

Djadi, Mas Goen, di balik ketelitian anda jang luar biasa itu, masih harus lebih tjermat lagi kalau menulis tentang politik Belanda.

Salam dari Amsterdam.

Jossje.

41. Kebenaran - Agustus 14, 2008

Budha dan Muhammad
Budha dan Muhammad adalah dua tokoh besar. Tetapi masing-masing memiliki riwayat hidup tersendiri.

Budha dikenal sebagai pertapa yang kemudian mengajarkan orang-orang supaya berbuat baik dan hidup sempurna. Sebelum menjadi pertapa dan dikenal sebagai Budha, dia adalah seorang pangeran bernama Sidharta Gautama.

Ketika mengandung Sidharta Gautama, ibunya bermimpi bahwa anak dalam kandungannya kelak menjadi orang besar, tokoh, di dunia.

Mimpi itu menjadi kenyataan… Sidharta Gautama suatu ketika keluar istana, dan melihat penderitaan orang-orang: tua, sakit, dan menderita. Sidharta Gautama terusik dengan melihat penderitaan. Lalu Sidharta Gautama mencari cara supaya penderitaan orang-orang berkurang.

Sidharta Gautama pergi dari istana, memilih hidup menjadi pertapa, bukannya menjadi pangeran. Dalam menjalani hidup bertapa, akhirnya Sidharta Gautama menemukan bahwa berbuat baik dan hidup sempurna merupakan cara mengurangi penderitaan. Penemuan ini merupakan Pencerahan, sehingga Sidharta Gautama disebut sebagai orang yang menemukan Pencerahan, atau Budha.

Dalam menjalani hidup bertapa sehingga memperoleh penemuan ini, Sidharta Gautama tidak menyebutkan adanya allah, tuhan, untuk mendorong orang berbuat baik dan hidup sempurna.

Lain lagi dengan Muhammad.

Muhammad adalah seorang yang dikenal sebagai nabi, utusan allah. Muhammad memang menyebut diri demikian.

Sebagai nabi, utusan allah, sudah pasti Muhammad melakukan perbuatan yang sesuai kehendak allah, suatu perbuatan suci.

Inilah contoh ajaran suci Muhammad:

Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci? Seorang anak kecil Muhammad nodai dalam nama allah. Dalam ilmu psikologi moderen, yang dilakukan Muhammad disebut pedofilia, dan seorang yang melakukan pedofilia dapat dikenakan sanksi hukuman mati, karena telah merampas masa depan anak-anak, dan membuat anak-anak menderita trauma kejiwaan.

Selain itu, Muhammad juga berkali melakukan pembunuhan, pembantaian, yang semua dilakukan dalam nama allah. Bahkan di Khaibar, memerintahkan memenggal 700 orang lelaki Yahudi.

Ada perbedaan jelas antara Budha dan Muhammad.

Muhammad adalah seorang nabi, utusan allah, tetapi pikirannya mesum, dan perbuatannya keji. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammad adalah seorangbusuk yang bersembunyi di balik nama allah supaya pikiran dan perbuatannya dianggap benar.

Berbeda dengan Budha, mendorong orang berbuat baik dan hidup sempurna, tetapi tidak menyebut diri nabi, utusan allah.

Karena itu jangan heran, banyak pengikut Muhammad melakukan kekejian, kejahatan, dengan bersembunyi di balik nama allah. Mereka hanya bertindak sesuai dengan yang pernah nabi mereka lakukan semasa hidupnya.

Kekejian, kejahatan, dengan bersembunyi di balik nama allah yang Muhammad lakukan menunjukkan bahwa allah, tuhan Muhammad adalah palsu!!!

42. edy - Agustus 15, 2008

@kebenaran
bego lu…analisis di awali dengan kebencian ya gini jadinya. Saya muslim yang menghargai budha…andaikan Budha dan Muhammad hidup sampai sekarang mereka pasti muak melihat pola pokir orang-orang kayak sampeyan ini…pola pikir tai kucing

43. fsiekonomi.multiply.com - November 29, 2008

well, the second last previous comments is absolutely, sorry, stupid.

🙂

44. ipul - Juli 21, 2010

@kebenaran
kamu mantan jambret digrogol yah…koment mu menyedihkan…hihiii..!!

45. kota salju - Oktober 10, 2011

@kebenaran

pada akhirnya memang tak ada yang superior. jangan terpukau, itulah intinya. Baik itu sang buddha, greet wilders, bush, george washington ataupun soekarno. ada sisi badut dalam diri manusia.

Tetapi Muhammad S.A.W. harus diakui kehidupannya memang teladan yang paling realistis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: