jump to navigation

Kaligrafi April 14, 2008

Posted by anick in All Posts, Novel, Sejarah.
trackback

Sepotong sajak Turki dari zaman Usmani tertulis di antara bingkai yang dilukis dengan warna keemasan: sebuah sajak yang cantik dan sebuah karya kaligrafi yang piawai. Di sudut disebutkan: inilah buah tangan Rikkat Kunt (1903-1986).

Penjelasan lain menyusul: Rikkat adalah seorang perempuan juru kaligrafi Turki yang terkemuka justru di masa ketika Kemal Attaturk mendekritkan bahwa Turki baru harus mengganti huruf Arab dengan huruf Latin. Artinya, para seniman kaligrafi adalah makhluk yang terpencil dan hampir punah, dan Rikkat Kunt lolos dari keterpencilan.

Ia menang dalam kompetisi nasional seni kaligrafi dan dapat posisi mengajar di Akademi Seni Rupa Istanbul. Tapi ia tak akan diingat orang seandainya karyanya tak ikut dipamerkan di Museum Louvre pada tahun 2000. Dan seandainya tak ada Yasmine Ghata.

Pada 2004, dari perempuan yang waktu itu berumur 31 itu terbit sebuah novel pertama, La Nuit des Caligraphes.

Hidupku berakhir pada 26 April 1986: umurku delapan puluh tiga. Istanbul sedang merayakan Pesta Kembang Tulip di Emirgan…. Kematian tak membuatku takut. Ajal hanya kejam terhadap mereka yang takut kepadanya.

Dengan kalimat pembuka seperti itu, novel ini—bertolak dari riwayat hidup Rikkat Kunt—memang mempesona. Dunia sastra Prancis menyambutnya dengan hangat.

Bisa dimengerti kenapa. Prancis, seperti halnya seluruh Eropa, sedang sibuk dengan dua nama: ”Turki” dan ”Islam”. Imigran Turki ada di mana-mana, Turki ingin jadi bagian dari Uni Eropa, dan Islam dilihat terkait dengan kekerasan dan ketidakbebasan perempuan, tapi juga sebagai bagian dari nasib si miskin yang menanggung sebuah peradaban yang terluka.

Pendeknya, ”Turki” dan ”Islam” adalah nama kini bagi ”Si Lain”. Bagaimana memperlakukan ”Si Lain” dalam sebuah demokrasi? Sebagai sesuatu yang harus dibuat ”tidak beda”, agar tak membelah masyarakat? Atau ditoleransi sebagaimana dia adanya, agar tak terjadi kesewenang-wenangan?

La Nuit des Caligraphes tak bermaksud menjawab persoalan itu. Yasmine Ghata, anak seorang novelis dan penyair Libanon, lahir di Prancis dan hidup di negeri itu. Ia tergerak menulis karena satu hal yang intim: Rikkat Kunt adalah neneknya sendiri.

Tapi novel tentang nenek sendiri ini justru menarik bagi pembaca Eropa karena dari dalamnya ”Turki” dan ”Islam” tetap ajaib: ”Si Lain” yang tak mudah dijelaskan. Nostalgia kepada sesuatu yang eksotis terasa meruap dalam prosa Yasmine Ghata: daya imajinatif, yang selalu menghidupkan prosanya, menyebabkan La Nuit des Caligraphes seakan-akan tak bercerita tentang abad ke-20 melainkan bagian dari dongeng 1001 malam. Tapi dengan itu pula kisah Rikkat Kunt menunjukkan bahwa sejarah adalah proses yang tak mudah, tak gampang diputus-putus. Kaligrafi—seni tua yang tak juga punah, goresan tinta yang mengalir membentuk kata dari huruf—adalah perumpamaan yang baik tentang kontinuitas.

Sejarah dalam kontinuitas itulah yang menyebabkan masalah besar seperti ”agama” dan ”modernisasi”—yang membayang di belakang novel ini—tak tampil bagaikan dua tenaga yang berhadap-hadapan dan tak kait berkait. Ini agaknya nilai tambah ketika La Nuit des Caligraphes diterjemahkan ke bahasa Indonesia (dengan judul Seniman Kaligrafi Terakhir, oleh Ida Sundari Husen, terbitan Serambi, 2008). Di Indonesia, sebagaimana di Turki, orang berada di tengah masalah yang sama: konflik atas nama kemajuan, dan konflik atas nama Tuhan.

”Tuhan tak tertarik abjad Latin,” kata Rikkat. Napas Tuhan, katanya pula, tak dapat meluncur di atas huruf-huruf yang pendek, tambun, dan terpisah-pisah itu. Kemal, yang memimpin Turki agar negerinya maju seperti Eropa, hendak membuat masa lalu lenyap dan membuat masa depan lekas datang: ia memaksakan penggunaan alfabet Latin ke seluruh negeri. Istilah lama dari bahasa Arab terkadang diganti dengan istilah Prancis. Para seniman kaligrafi ”terluka”, kata Rikkat.

Luka itu bukan karena kehilangan posisi, tapi karena sebab yang lebih dalam: seni kaligrafi adalah ibadah yang tulus dan tragis. Semua seniman kaligrafi berusaha ”menangkap kehadiran Ilahi”, tapi tak seorang pun berhasil. Tapi mereka ingin terus.

Maka kata ”malam” (la nuit) dalam judul asli novel ini mengandung kiasan untuk suasana sunyi dalam ibadah itu dan juga suasana gelap karena terancam. Dalam arti tertentu, Seniman Kaligrafi Terakhir mengandung sebuah pembelaan bagi sikap religius di hadapan sekularisasi yang agresif.

Dengan latar Eropa sekarang, pleidoi itu punya nilai yang penting. Novel ini jadi suara pengimbang di tengah sebuah masyarakat yang memandang iman dengan cemooh atau curiga. Tapi perlu dicatat: dalam novel ini, ”iman” dan ”agama” dan ”Islam” dijalani dengan imajinasi yang subur.

Rikkat percaya pada hantu Selim (”seniman kaligrafi yang berumur 100 tahun”, yang ”menulis di bawah pengawasan ketat Rasulullah”), percaya pada patung-patung kecil darwis yang ”bergerak tiap kali mendengar suara orang mengaji”, percaya bahwa alat-alat tulis bisa bergerak sendiri, terkadang menari erotis, juga dalam memuja Yang Maha Suci.

Di hadapan imajinasi yang subur, yang hidup, yang mesra kepada fantasi seperti itu, dan fantasi yang tumbuh terus dalam kreasi, apa yang lebih yang diberikan ”modernisasi”? Sesuatu yang terasa terlalu datar, dangkal, dan hanya memikirkan ”guna” dan ”hasil”.

Tapi demikian juga yang diberikan ”agama”—jika ”agama” adalah keyakinan yang cuma mengerti hukum, yang lurus, kering, dan kaku. Menarik bahwa bukan jalan yang lurus yang diingat Rikkat menjelang akhir. Ia malah bicara tentang ”zigzag”, ”labirin”, dan ”spiral”—yang mengembalikannya kepada yang membahagiakan dan menyusahkan dalam hidupnya. Ya, hidupnya.

~Majalah Tempo Edisi. 08/XXXVII/14 – 20 April 2008~

Komentar»

1. danummurik - April 15, 2008

“Tapi demikian juga yang diberikan ”agama”—jika ”agama” adalah keyakinan yang cuma mengerti hukum, yang lurus, kering, dan kaku”. Saya jadi ingat tulisan GM yang berjudul Puisi Kitab Suci.

2. kamat - April 15, 2008

Seperti yg pernah dikatakan oleh seoarang sufi, jalan yg berliku lebih berharga dari tujuan perjalanan itu sendiri.

3. Dedy - April 16, 2008

Saya juga jadi teringat C.G Jung seorang psikolog analitik yang pernah menjadi murid Freud tentang “labirin” dalam sebuah perjalanan hidup dan juga Nietzsche dalam Zarathustra yang hanya percaya kepada Tuhan yang pandai menari. Mirip-mirip seperti kaligrafi yang mengalir. Dan memang sepertinya Tuhan tak tertarik “abjad Latin” yang “lurus”, “kering”, dan “kaku”.

4. ibra - April 16, 2008

saya kira kata ‘agama’ perlu didekonstruksi. Bukan lg sbg ‘jln lurus’ atau ‘jln benar mutlak’. sebab dlm al fatihah juga manusia hanya sebagai “peminta jln yg lurus”, bukan pemilik. dan itu dibaca dengan rendah hati… setiap hari…berkali kali…

5. Ajie - April 17, 2008

‘agama’ mungkin lebih sebagai “kendaraan” untuk menuju daripada sebagai sebuah peta yang sudah jadi utuh. Jika “kendaraan”, maka kita akan menjadi “peminta jln yg lurus” dan ada proses belajar terus menerus disana, keseimbangan, jatuh, terluka, berusaha, persis seperti belajar menaiki sebuah sepeda untuk sampai ke tujuan. Maka perjalanan dan pencarian pun menjadi lebih berharga dibanding kalkulasi pahala dan dosa.

6. ezi - April 18, 2008

Jujur saya katakan, untuk tulisan GM yang satu ini membuat perspektif saya tentang agama, islam dan keyakinan menjadi rancu dan tidak menentu dalam bebak saya.,.,..

7. HILMAN - April 19, 2008

berusaha menarik dan mencerabutkan diri dari kemasalaluan, musti akan menyimpan luka yang teramat..> seperti kaligrafi arab, meliuk, membentuk gambar yang dikehendaki, tapi kalimat dan maknanya tetap bisa dibaca. Islam pun seperti itu, tidak kaku, meliuk dan beragam…..

8. rumahteduh - April 22, 2008

Nah, HTi alia Hisbut Tahrir Indonesia musti membaca ini. Biar tidak galak terus.

9. rosydesigner - April 30, 2008

Tx U atas informasinya

10. ada - Mei 21, 2008

saya pikir agama adalah suara hati

11. kurnia ar - Juni 3, 2008

salam semua yang lagi baca n cinta tentang kaligrafi… sukses juga wat tulisannya kepada pengasuh blog ini… salam kenal dari kami komunitas seniman kaligrafi di jakarta.

12. aziz - Januari 19, 2009

salam kenal

13. kacabidang - Agustus 24, 2009

lukisan kaca jenis kaligrafi islam elegan silahkan lihat2 di:

http://kacabidang.wordpress.com/2009/08/16/calligraphy-islam-ci-309-312-313/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: