jump to navigation

Ta’ayush Mei 12, 2008

Posted by anick in Agama, All Posts, Sejarah.
trackback

Sejarah kebangsaan juga bisa mengandung cerita kekejaman, meskipun sebuah bangsa semestinya dibangun dari ta’ayush.

Ta’ayush adalah kata Arab yang berarti ”hidup bebrayan”. Kata ini tak istimewa, tapi terasa luar biasa di sebuah negeri di mana ”bangsa” bukan saja sedang terguncang sendi-sendinya, melainkan juga terancam oleh saling membenci. Negeri itu adalah Israel. Ia bulan ini ber­umur 60, dengan kegundahan yang dulu tak terbayangkan ketika ia dinyatakan berdiri pada 14 Mei 1948.

Di tengah kegundahan itulah pada tahun 2000 sejumlah warga Israel memakai ta’ayush untuk jadi nama sebuah organisasi. Ia terdengar seperti bagian dari sebuah agenda mulia namun mustahil. Tapi statemennya yakin:

Kami—warga Israel keturunan Arab dan Yahudi—hi­dup dikelilingi tembok dan kawat berduri: dinding pemisahan, rasialisme, dan diskriminasi…; dinding penutup dan pengepungan yang mengurung orang Palestina di daerah pendudukan di Wilayah Barat dan Gaza; dinding peperangan yang mengelilingi seluruh penghuni Israel, selama Israel jadi benteng bersenjata di jantung Timur Tengah….

Kami bergabung bersama membentuk ”Ta’ayush”, sebuah gerakan dari bawah masyarakat Arab dan Yahudi yang bekerja sama untuk membongkar tembok rasialisme dan pemisahan dengan membangun sebuah kemitraan sejati antara orang Arab dan Yahudi.

”Kemitraan sejati”—ketika dari Israel tak terdengar semangat yang universal, tapi ”tembok dan kawat berduri”? Ta’ayush di tengah ”pemisahan, rasialisme, dan diskrimi­nasi”? Keraguan seperti itu tak aneh bila terdengar di wilayah itu, yang selalu dekat dengan api kebencian yang murub. Tapi semangat organisasi ini bukan baru. Jauh sebelum Israel lahir, pada 1925 di wilayah Palestina berdiri Brith Shalom.

Organisasi ini—berarti ”Kontrak Perdamaian”—hendak melaksanakan ide-ide Martin Buber (1878-1965), filosof Yahudi yang terkenal karena karyanya Ich und Du (”Aku dan Kau”). Buber bukan saja menentang kekerasan orang Yahudi ketika menghadapi orang Arab, melainkan menjauh dari arus besar nasionalisme dalam Zionisme. Berpindah dari Jerman yang menghalau dan membinasakan orang Yahudi, Buber datang ke Palestina. Tapi, berbeda dengan banyak Zionis lain, ia punya cita-cita tersendiri. Ia tak ingin sebuah republik Yahudi, tapi sebuah negeri dwi-bangsa.

Ia tak punya ilusi idenya akan diterima kaum nasionalis yang menggebu-gebu. Tapi, baginya, perjuangan tak hanya terdiri dari strategi politik. Buber bersuara terus, percaya bahwa kebenaran moral tetap penting biarpun terpojok. Bertahun-tahun lamanya ia dilupakan. Tapi mungkin ini tanda kegundahan Israel, bila kini pemikir­annya menarik perhatian lagi: sebuah kumpulan tulisannya diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 2005, dengan judul A Land of Two Peoples.

Tampaknya orang sedang mencari jalan dan harapan, ketika Israel harus memecahkan dilemanya yang terbesar. Republik ini berdiri dengan asas demokrasi (dulu ia demokrasi satu-satunya di Timur Tengah), yang mengakui mandat datang dari suara terbanyak warganya. Namun, sejak kemenangannya yang mengejutkan pada 1967, ketika Israel tak hanya punya sejarah yang panjang tapi juga peta bumi yang luas, republik itu harus mengakui: dulu ada masanya orang-orang Arab binasa atau terusir, tapi kini suara yang datang dari warga yang ”lain” itu makin lama makin penting. Tiap tahun penduduk Arab tumbuh 2,5 persen; penduduk Yahudi hanya 1,4 persen. Sementara itu, Israel sekaligus menduduki wilayah Arab yang hanya bisa ia pertahankan dengan darah dan besi.

Maka kini paranoia, kebencian, dan kehendak destruktif merasuk di mana-mana—sebuah lingkaran setan, sebuah napas iblis, yang diperkuat dengan nama Tuhan di kedua belah pihak. Apa gerangan yang akan terjadi dengan Israel? Tidakkah Martin Buber dulu benar: Israel sebaiknya memang tak hanya semata-mata republik Yahudi? Dengan kata lain, masa depan adalah ta’ayush, dengan pelbagai versi yang mungkin?

Tak mudah untuk percaya. Harapan gelap. ”Israel, seperti masyarakat mana saja, punya anasir yang buas dan mengidap patologi sosial,” tulis David Shulman dalam Dark Hope: Working for Peace in Israel and Palestine, sebuah buku kesaksian yang sedih dari seorang anggota kelompok Ta’ayush. Tapi dalam 40 tahun terakhir orang-orang Yahudi yang destruktif telah dapat tempat, lengkap dengan dalih ideologisnya, dalam ”usaha pemukim­an”. Di pelbagai wilayah, tutur Shulman, orang-orang itu ”punya kebebasan yang tak terbatas untuk menteror penduduk Palestina: menyerang, menembak, melukai, dan terkadang membunuh—semua atas nama apa yang dianggap kesucian tanah ini dan hak eksklusif orang Yahudi atasnya.”

Mereka praktis tak bisa disetop. Tiap usaha mengatasi kebiadaban itu, tiap usaha perdamaian—juga dari peme­rintah Israel sendiri—terjerat dalam apa yang disebut Shulman sebagai ”mesin yang rumit”. Aparat pemerintah sipil, tangan militer dan polisi, jalin-menjalin secara sengaja dan tidak dengan para pemukim Yahudi, yang bisa begitu kejam hingga tega menebarkan racun ke ternak orang Palestina miskin penghuni gua.

Tapi gelap atau terang, harapan tak sepenuhnya padam. Terutama ketika ada orang Arab seperti Sari Nusseibeh, Rektor Universitas al-Quds, yang melawan represi dengan berani justru karena ia memakai cara damai. Atau orang seperti Shulman sendiri, seorang pengagum Gandhi. Atau Ezra Nawi, si Yahudi asal Irak yang menolong orang Palestina tak putus-putusnya: orang yang percaya bahwa manusia, juga dalam bentuk bangsa, perlu ta’ayush.

Untuk itu ide kebangsaan bukan hanya lahir dari ­ingatan—satu tendensi yang dominan di Israel—tapi justru dari kemampuan melupakan. Tak mungkin bangsa akan tegak dengan kesetiaan primordial, apalagi dengan trauma dan saling dendam yang berakar.

~Majalah Tempo Edisi. 12/XXXVII/12 – 18 Mei 2008~

Komentar»

1. jaka - Mei 13, 2008

Israel memang (dari dulu) harus menyadari bahwa tak mungkin sebuah negara Yahudi (murni) berdiri di tanah yang telah berpuluh abad dihuni bersama-sama dengan orang Arab dan suku2 pengembara lainnya.

Bagaimana mungkin sebuah negara disebut demokratis jika membatasi hak salah satu unsur penduduknya di parlemen, dengan “memberi jatah” ?

2. boim lebon - Mei 14, 2008

wah boleh juga nih infonya, namabah pengetahuan saya mengenai masyarakat Arab dan Yahudi ……salam kenal

3. Ajie - Mei 15, 2008

Mungkinkah selamanya seperti itu? Bisakah orang2 seperti Sari Nusseibeh, Shulman, Ezra Nawi dan org2 lain serupa mereka menciptakan “mesin yang lebih rumit” untuk mengatasinya? Jika tanpa kesetiaan primordial maka tak ada ide kebangsaan disana (kesetiaan primordial atau kalau nggak bubar saja sekalian)…ditambah lagi trauma serta dendam yang berakar dalam dan turun temurun, berharap adanya kemampuan melupakan sepertinya kok gak mungkin ya (lagi pesimis..)

4. sofwan {kalipaksi} - Mei 15, 2008

Persoalannya, sebagian besar dari kita masih hidup dalam atmosfer abad 11 masehi, yang sangat kental dengan aroma perang salib, yang sama-sama mengatasnamakan Tuhan. Di satu sisi, King Richard juga berdoa kepada Tuhan untuk kemenangan Kristen, di sisi lain, Shalahudin al-Ayyubi juga berdoa kepada Tuhan untuk kemenangan muslim.

Aroma politik di zaman itu, memang, mempertemukan kekuatan muslim dan kristen yang saling dipertentangkan dan dalam status sebagai musuh satu sama lain.

Aneh, jika setelah 10 abad kemudian, kita masih berada dalam arus pemikiran perang Salib, bedanya dalam konteks Yerussalem dan tanah Palestina, Kristen disubstitusi oleh Yahudi.

Sadar dong…….sekarang ini sudah tidak zaman berkonfrontasi atas nama agama. Lha wong Tuhannya saja satu. Istilah “mesin yang rumit” sesungguhnya diciptakan untuk mempertahankan status quo permusuhan yang terkesan abadi. Jika mau, bisa kok tidak menjadi rumit. Kata Gus Dur, gitu aja kok repot.

Shalooom………Salam.

5. Suryadi - Mei 15, 2008

Hehehe…andaikan semudah itu…lha wong Tuhannya saja satu. “jika mau” nya itu yang nauzubillaaah susahnya. Emang merepotkan kok Pak.

6. sahrudin - Mei 17, 2008

Yah..namaya aja zionis….Yang aneh di buat lumrah…

Segala cara ditempuh….walaupun jelas-jelas melanggar demokrasi dan hak orang lain….

FASTER TRAFFIC BLOG
http://www.tiphit.co.cc

7. torasham - Mei 17, 2008

Israel tidak pernah demokrasi….
Menurut sejarah yang saya tau, berdirinya negara Israel ini melanggar peraturan piagam PBB dan melanggar sejarah juga.

8. torasham - Mei 17, 2008

@sofwan…
Pasukan salib tidak di subtitusi oleh Yahudi. Menurut James Rameston, kedatangan pasukan salib ke yerusallem dibarengi pembantaian kepada bangsa Arab dan Yahudi. Bahkan, genangan darahnya membanjir hingga mata kaki.

9. budi - Mei 21, 2008

bagus tapi sekaligus biasa

10. herismo - Mei 24, 2008

mungkin ini bukan tentang israel, tapi lebih tentang sebuah pembayangan komunitas yang mengikat. dan dengan segala pengandaian tentang “kita” dan kegamangan terhadap segala yang di luar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: