jump to navigation

Jalan Juni 2, 2008

Posted by anick in All Posts, Identitas, Pepeling, Seni.
trackback

Jalan juga sebuah laku. Di sana orang ambil keputusan, ambil risiko, hanya mengulang tapi bisa juga melakukan yang tak terduga-duga. Di sana ia bisa menemui rezeki atau ajal. Dan jika kita bicara tentang lingkungan kota besar, jalan bisa juga berarti satu wilayah untuk mengelak.

Ada sepatah kata bahasa Indonesia yang sering dipakai tapi tak menarik perhatian: ”kluyuran”. Dalam kata ini tergambar bagaimana ruang yang sambung-menyambung dan berkelok-kelok itu dapat merupakan tempat kita iseng, main-main, atau mengikuti rasa ingin tahu. Saya kluyuran jika saya berjalan menyusuri kota besar ini, tanpa ingin menghasilkan apa-apa, tanpa didesak waktu, tapi asyik mengamat-amati seraya terus-menerus mengalihkan fokus.

Laku semacam itu bukanlah laku yang cocok dengan apa yang dikehendaki sebuah kota besar: rasionalitas, efisiensi, produktivitas. Baudelaire, penyair Les Fleurs du Mal (”Bunga Mala”) dan Le Spleen de Paris (”Limpa Paris”), telah membuat kata flâneur—yang artinya tak jauh dari ”Bung Kluyur”—jadi begitu penting dalam telaah ilmu sosial dan filsafat, karena ia dapat menggambarkan bagaimana ”kluyuran” di kota yang telah diubah jadi modern merupakan sebuah sikap politik dan estetik. Flâneurie seakan-akan menampik rasionalitas yang diterapkan di Paris mengikuti planologi Baron Georges-Eugène Haussman selama dua dasawarsa sejak 1852. Sang flâneur menjelajah secara acak, santai, dan seenaknya sebuah metropolis, semacam ikhtiar mempertahankan yang sepele, percuma, lemah, dan kuno. Sang flâneur, seraya tampil sebagai pesolek yang keren, merayakan tapi sekaligus memandang dengan berjarak dunia Paris yang berubah secara menakjubkan dan mencemaskan itu.

Di Indonesia, ”kluyuran” tentu saja tak sepenuhnya sama dengan flâneurie. Di sini kontras antara kota dan udik bisa begitu besar, tapi kota tak terputus secara radikal dari yang bukan-kota. Seperti pernah dikatakan seorang pakar sosiologi perkotaan, Jakarta tak cuma mengalami urbanisasi, tapi juga ”ruralisasi”. Rancangan yang rasional, ketertiban yang efisien, kapital yang mencoba menguasai pembagian ruang dengan perhitungan laba-rugi, tak henti-hentinya berbenturan dengan arus deras dari bawah yang datang dari desa-desa, barisan yang tiap kali kalah tapi tiap kali menyerbu kembali.

Kota ini sendiri bukanlah tauladan rasionalitas. Birokrasi begitu korup dan tak becus hingga planologi tak ada artinya. Kelas menengah tak secara serius menegakkan hukum. Kemiskinan begitu luas dan juga pengangguran, hingga bukan efisiensi yang terjadi, melainkan involusi.

Involusi adalah cara kelas bawah kota besar berbagi hidup: dalam ruang yang sempit, dalam pekerjaan yang terbatas, dalam milik yang tak seberapa. Involusi adalah sebuah kiat hidup dalam keadaan berjejal.

Ketika saya menonton Je.ja.l.an yang dipentaskan Teater Garasi di Teater Luwes Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 25 Mei yang lalu, saya merasa seakan-akan saya ikut dalam sebuah ”kluyuran”: menyusur jalan-jalan kota, mengamati involusi yang terjadi di sana, terpisah tapi terpaut.

Jarak antara pentas dan penonton dibuat demikian rapat, hingga mereka yang duduk di meja VIP (dengan gelas berisi anggur dan bir) juga tak bisa mengelak. Seperti di rumah makan tepi jalan, pengamen, penjaja kitab dan lain-lain mudah masuk ke sela-sela tamu. Hanya setengah meter dari sana: barisan drum band, pekerja seks, orang mati melarat, orkes keliling, perempuan berdandan keren, pengkhotbah yang marah, petugas ketertiban kota yang hendak menegakkan tertib, banci yang hidup di luar tata. Je.ja.l.an bagi saya mengandung makna ”jejalan”.

Memang banyak adegan yang tak baru: kita telah sering melihatnya, setidaknya di berita televisi dan koran. Tapi itu justru menunjukkan bahwa yang terpapar bukanlah sesuatu yang eksotis, bukan pula yang dramatis. Di kota-kota besar Indonesia, kita menemukannya tiap kali di tiap sudut. Kluyuran bukanlah sebuah darmawisata: karya teater Yudi Ahmad Tajudin dan kawan-kawan menegaskan hal itu karena ia tak mengajak menyaksikan hal yang menakjubkan.

Namun tiap karya teater adalah sebuah intervensi terhadap apa yang tak menakjubkan yang kita temukan di tiap sudut. Realisme dalam teater pada akhirnya mengakui bahwa ”realitas” bukanlah das Ding an sich. ”Realitas” mengandung sejarah sosial: ia dihadirkan oleh bahasa dan percakapan. Maka di pentas, kluyuran merupakan konstruksi ganda. Di pentas, ia diberi bentuk jadi sesuatu yang lebih intens. Demikianlah teater lahir, membuka peluang bagi dunia yang tampil sebagai beda, juga ketika ia seakan-akan menampilkan yang itu-itu juga.

Dalam beda itulah hadir sebuah tamasya—tapi bukan tamasya yang tertangkap secara panoptik, bukan gambaran utuh yang hanya bisa dilihat dari atas. Justru ambisi kota besar untuk mengikuti sebuah rencana agung terbentur oleh centang-perenang yang mencemooh perubahan budaya dalam ”urbanisasi”.

Itu sebabnya bagi saya Je.ja.l.an bukan hendak terdiri dari satu statemen, misalnya sebuah protes sosial karena kemiskinan. Pidato Bung Karno berapi-api, tapi rekamannya yang diputar tak mendominasi ruang. Kisah seorang miskin yang bunuh diri dibacakan, tapi si pembaca seperti lelah di ujungnya. Keduanya tak menimbulkan perubahan di pentas itu.

Dialektik antara beda dan sama, antara yang menusuk dan yang banal, antara teriak dan sikap acuh tak acuh, memantulkan kembali yang kita alami kini: sebuah fragmentasi pengalaman, sebuah khaos dalam perhatian.

Michel de Certeau, yang juga merenungkan makna kluyuran dalam hidup sehari-hari, seakan-akan berbicara tentang jalanan kota yang terpapar di pentas malam itu: ”Pengguna kota memungut fragmen tertentu dari statemen itu, dan dengan demikian mengaktualisasikannya dalam rahasia”.

~Majalah Tempo Edisi. 15/XXXVII/02 – 8 Juni 2008~

Iklan

Komentar»

1. ibra - Juni 10, 2008

sebuah “realitas” bukan sesuatu yg bisa dikeluarkan dari panel sejarah, panel spasio-tempora, tapi apa dia selalu ngga das Ding an sich?

2. ibra - Juni 10, 2008

meski Hegel,Comte dan Schopenhauer mencela konsep an sich, tp menurut saya dalam realitas sosial dia bisa jadi alat mengenali, dan bahkan bisa menciptakan…

3. ibra - Juni 10, 2008

sebuah fragmen buat saya selalu mengandung asumsi2. saat asumsi2 itu dipenuhi, dia jadi sebuah konstruksi…

4. ibra - Juni 10, 2008

dalam seni posmodern, aktualisasinya mungkin bukan ke “rahasia”-nya, tp ke “fun”-nya. Seperti keluyuran yg kagak jelas, tp aku suka

5. husni - Juni 11, 2008

soalnya adalah manakala an sich berada dalam putaran bahasa. dan bahasa adalah tanda. “rahasia” sejauh belum terbahasakan. lalu, masihkah ada realitas di luar bahasa? itulah sebab, realitas selalu dalam ruang dan waktu tertentu.

6. ibra - Juni 11, 2008

metafor itu bukti ketidak-mampuan bahasa. Jadi jawaban sementaranya: ada.

7. ibra - Juni 11, 2008

bila tak ada, konsekuensi logisnya adl taman tanda (baca:budaya) itu akan menuju nihil. Dan tyt rantai tanda itu bisa diputus. Disini Marxisme menemukan bentuknya dg membuat filsafat tidak lg spt burung malam, yg muncul kalo udah senja, alias telat mulu

8. Ajie - Juni 12, 2008

jika konsep an sich ‘berguna’ yah..kenapa nggak. Posmodern..dekonstruksi…mungkin memang arah ke ‘kesadaran’ yang lebih baik. Pengakuan keterbatasan dan pentingnya metafor sebagai bukti dari keterbatasan itu. Tapi di satu sisi lucu juga jika mereka berani tegas mengatakan tidak ada apa-apa di luar “teks”. Agak-agak ‘sok tau’ jadi kedengarannya. Yah, “rahasia” biarlah tinggal jadi harapan yg tak selesai, dan kembali fun dengan keluyuran kita.

9. jajang - Juni 16, 2008

mhon comment bwt coret2an saya di menapakihidup ya..

caping, udah saya klipingin, kali aja nambah inspirasi…hehe

10. gutawa mohamad - Juni 17, 2008

wu boleh boleh

11. Alif - Juni 22, 2008

realitas yang terjadi saat ini adalah adalah realitas yang tergambar dalam kotak ilusi yang disebut televisi.Saya sendiripun juga tidak mengetahui realitas mata akan ciptaan Tuhan , karena pribadi saya pun nun jauh dari Jakarta.

Hidup yang serba pragmatis dan sudah melupakan kearifan budaya lokal seperti Jakarta sudah tidak mencerminkan seperti apa orang yang baik maupun yang buruk di Jakarta.Banyak orang protes,banyak orang berdemo,semakin banyak tuntutan akan “kebaikan ” semakin banyak realitas ” kegilaan” yang menjadi-jadi.
Kegilaan yang menurut Jakarta adalah hal biasa di beberapa tempat di bumi bangsa ini selain Jakarta masih mengedepankan citra kearifan akan realitas kebaikan-kebaikan yang mumpuni.

Konsep lelaku adalah manifestasi kesadaran indivdu untuk menunjukkan wujud rasa terima kasih akan penciptaan Tuhan dengan hamparan alam yang ia ciptakan.Satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh jakarta adalah ia tidak bisa membeli hamparan kearifan akan kebaikan akan lelaku itu.Jakarta akan sulit membeli udara yang sejuk dingin yang memberikan vitamin akan aliran darah yang menuju otak,jantung dan bagian tubuh lainnya.

Jakarta juga tidak akan bisa membeli manusia-manusia yang melakukan je.ja.lan yang merupakan bagian pencitraan manusia-manusia yang arif, menerima “realitas kegilaan” tapi bukan untuk ditelan , melainkan melakukan penolakan denan membangun ralitas solider dengan sesama.

12. Dion Bata - Juni 22, 2008

Terima kasih mas GM

13. Edy - Desember 16, 2014

Kluyuran, sebenarnya memang realitas hidup yang tak bisa di tolak. Bukankah kehidupan itu sendiri bisa dimaknai dengan kluyuran, Je-ja-lan? Di sana, kita berada di sepanjang jalan. Di sana, ber-jejal-an realitas di sepanjang jalan. Di sana juga, ber-jejal banyak jalan.

Sementara jalan itu sendiri, tak selalu menentukan tujuan. Bahkan sebuah tujuan, terbentang banyak jalan. Anehnya, jalan yang kita pilih tak dengan sendinya membawa kita pada tujuan. Untuk itulah, kita tak acap kali berada di persimpangan jalan.

Terkadang, jalan yang tak pernah kita pilih malah membawa kita pada tujuan. Kluyuran, tak selalu membawa kita sesat di sepanjang jalan. Terlebih lagi, kalau kluyuran itu sendiri adalah sebuah tujuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: