jump to navigation

DD Juni 30, 2008

Posted by anick in All Posts, Indonesia, Kisah, Sejarah, Tokoh.
trackback

Orang kelahiran Pasuruan itu selalu mengingatkan saya apa arti sebuah tanah air. Ia Ernest François Eugene Douwes Dekker. Ia mengingatkan apa arti Indonesia bagi saya.

Sekitar akhir Juli 1913 ia disekap di sebuah penjara di Jakarta Pusat. Waktu itu umurnya 33 tahun. Pemerintah kolonial menuduhnya telah ”membangkitkan rasa benci dan penghinaan terhadap pemerintah Belanda dan Hindia Belanda”. Tuduhan itu tak benar; tapi ia memang tak menyukai kekuasaan itu, yang, seperti dikatakannya kepada para hakim kolonial, bertakhta ”di negeri kami ini, di bumi orang-orang yang tak menikmati kebebasan”.

Dari sebuah berita acara yang bertanggal 11 Agustus kita tahu apa yang ia perbuat sebenarnya. Partai politik yang didirikannya, ”Indische Partij”, tak diakui sebagai badan hukum. Tapi Douwes Dekker terus menulis dalam surat kabar De Expres dan lain-lain sejumlah artikel yang oleh Residen Betawi, yang menginterogasinya hari itu, dianggap ”melanjutkan membuat propaganda” tentang cita-cita partai itu.

Tapi dapatkah itu dielakkan? Dalam sebuah memori pembelaan Douwes Dekker menjawab: ”Adakah kemungkinan saya tak lagi berbuat propaganda? Apakah hati seseorang ibarat jas luar yang dapat sesuka hati dipakai atau disimpan…? Tidakkah seseorang akan merupakan propaganda bagi dirinya sendiri selama ia hidup?”

”Saya tak dapat berbuat lain…. Kecuali saya dalam sebuah toko barang loakan dapat memperoleh watak yang sudah usang, semangat yang telah luntur, dan kedok yang kelihatannya tak mengerikan.”

Kalimat itu menggugah, meskipun bukan bagian sebuah prosa yang gemilang. Douwes Dekker ini bukan Douwes Dekker yang lebih termasyhur, yang terbilang masih kakeknya: penulis Max Havelaar yang memakai nama samaran Multatuli. Douwes Dekker dari Pasuruan ini bahkan agak enggan dikaitkan dengan sang kakek.

Dalam biografi yang ditulis Paul W. Van der Veur, The Lion and the Gadfly (KITLV Press, 2006)—sebuah buku yang layak dibaca orang Indonesia—dapat kita temukan rasa enggannya. ”Mengapa saya dibandingkan dengan Multatuli?” Ia merasa itu tak adil. Eduard Douwes Dekker, sang Multatuli, ”seorang sastrawan cemerlang”. Sedangkan dia, Ernest François Eugene, ”cuma seorang jurnalis rata-rata”.

Lagi pula, katanya pula, ”Multatuli seorang Belanda….”

Jika Multatuli ”orang Belanda”, orang apakah Ernest, yang oleh Van der Veur disebut ”DD”? Yang jelas, ia Indo. Ia lahir pada 8 Oktober 1879, anak ketiga dan putra kedua Auguste Henri Edouard Douwes Dekker dan Louisa Margaretha Neumann. Ibunya putri seorang Jerman yang kawin dengan seorang wanita Jawa.

Posisi seorang Indo cukup galau masa itu. Dalam ”negara taksonomi” (istilah Ann Laura Stoler, dalam telaahnya tentang kekuasaan dan klasifikasi sosial di Hindia Belanda) seorang Indo akhirnya tak diterima oleh mereka yang mengagungkan yang ”asli” dan ”murni”. Orang Indo, kata DD, adalah ”makhluk yang nestapa”.

Tapi justru sebab itu DD bisa berdiri memandang ”negara taksonomi” dengan hati kesal dan mata nyalang: ia tahu, taksonomi manusia adalah laku yang sewenang-wenang.

Maka ia bisa cepat merasakan ketidakadilan dengan tajam. Pada pertengahan 1898 ia selesai sekolah menengah dan bekerja di perkebunan kopi Soember Doeren, di lereng selatan Gunung Semeru, Jawa Timur. Ia akrab dengan para buruh. Seorang kuli tua pernah mengatakan kepadanya, ”Tuan muda, tuan memperlakukan kami sebagai manusia.” Tapi majikannya menilai DD tak selamanya tahu bagaimana ”membuat batas”.

Ia pun berhenti bekerja. Ia pindah ke pabrik gula Padjarakan di dekat Probolinggo. Pada masa itu di Jawa selalu ada sengketa pembagian air irigasi antara pabrik gula dan para petani di sekitarnya. Ketika DD menemukan bahwa Padjarakan merebut hak petani, ia menyatakan itu kepada atasannya. Ia diperingatkan. Dari sini ia juga berhenti.

Mungkin juga karena ibunya, yang amat dicintainya, wafat.

Dalam keadaan kehilangan, ia memutuskan meninggalkan Hindia Belanda: ia bergabung dalam sukarelawan untuk Perang Boer di Afrika Selatan, yang pecah pada awal abad ke-20 itu, ketika orang keturunan Belanda bertempur melawan ekspansi Inggris. Syahdan, Februari 1900, ia naik kapal S.S. Calédonien ke medan perang.

Pertalian dengan yang ”Belanda” tampaknya masih kuat dalam diri DD pada masa itu. Dalam perjalanan ke Afrika Selatan itu, DD berhenti di Bombay. Seperti dikutip dalam The Lion and the Gadfly, ia begitu bahagia bertemu dengan konsul Belanda, mendengar suara seseorang yang bicara dalam ”bahasa Belanda murni” di depan potret ”Ratu Belanda yang tercinta”.

Tapi dalam perang itu DD tertangkap pasukan Inggris. Ia dibuang ke Sri Lanka. Pada 1903, ia kembali ke Jawa—tapi dengan sikap yang makin berjarak, dan akhirnya sengit, menyaksikan keserakahan Belanda. Pada 1904 ia menulis: rakyat Jawa dirampok; pada 1908 ia menulis: api besar yang membakar desa-desa Aceh telah membuat terang ”kebangkrutan moral Kristiani” pemerintah kolonial.

Akhirnya kita tahu, DD bergerak. Rumahnya di Jakarta jadi tempat para mahasiswa STOVIA berkunjung—para pemuda yang di asrama mereka gemar menyanyikan lagu Revolusi Prancis: semangat untuk kemerdekaan, persamaan, persaudaraan. Ketika dua aktivis asal STOVIA, Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo, ditangkap pemerintah kolonial, DD menulis: kedua sahabatnya itu, dengan sikap perkasa yang tak bisa ”ditaklukkan di dalam penjara”, telah ”mempersatukan kita semua”.

Dari sanalah Indonesia lahir. Indonesia adalah sebuah sejarah kerja ke masa depan yang berharga bukan untuk diri sendiri—dan dengan demikian memberi makna bagi hidup kita. Indonesia adalah sebuah sejarah harapan dan pengorbanan—dari orang yang berbeda-beda, bagi orang yang berbeda-beda. Cipto dan Suwardi dibuang, dan DD menulis: ”Anak-anak berkulit cokelat dan putih… akan menaburkan bunga di atas jalan yang mereka berdua lalui.”

~Majalah Tempo Edisi. 19/XXXVII/30 Juni – 06 Juli 2008~
Iklan

Komentar»

1. jaka - Juli 1, 2008

Jadi, kebangkitan nasional seharusnya 25 Desember 1912, dong harusnya? Berdirinya Nationale Indische Partij ? Hanya karena salah satu pendirinya orang indo, lalu tidak dianggap ?

Saya masih lebih bisa terima kalau kebangkitan nasional itu ya pas Sumpah Pemuda 1928, di saat secara formal organisasi2 pemuda hampir se.Indonesia berikrar.

2. hendy adhitya - Juli 1, 2008

masalah kebangkitan nasional itu kapan, sebetulnya ndak usah diperdebatkan lagi bung. Yang terpenting menjaga konsistensi semangat dan produk kebangkitan di jaman sekarang dan yang akan datang itu yang sulit dan perlu dikritisi bung.

penetapan peristiwa, tanggalnya dan pelaku sejarah itu khan hanya usaha manusia Indonesia me-recall/mengingat, memperingati dan menghormati pejuang2 itu. Yang penting ya itu tadi, semangat dan relevansinya untuk kemudian mengkritisinya di jaman sekarang ini.

3. jaka - Juli 1, 2008

Kalau tidak ingin diperdebatkan, ya jangan dijadikan tonggak sejarah penting bangsa ini. Sekali suatu peristiwa dipilih sebagai suatu time-mark, perlu ada kejelasan sejarah, mengapa demikian. Karena pihak2 yang tidak turut serta kemudian di-downplay. Kenyataannya, kebangkitan nasional yg 20 Mei masih terus diperingati, pdhal sekarang kita tau, rasa ke-Indonesiaan itu muncul secara bertahap dari kelompok2 yang berbeda-beda.

Tak ada salahnya mengoreksi tradisi bangsa kalau ternyata, setelah sekian waktu berjalan, tidak pas dengan mind-setting masa sekarang atau disadari adanya fakta baru yg mengubah pandangan. Perhatikan kasus Columbus day di Amerika Serikat.

4. ilmi - Juli 2, 2008

Tulisan GM menurut saya lebih mau menunjukkan bahwa negara Indonesia adalah sebuah sejarah harapan dan pengorbanan dari orang yang berbeda-beda dan bagi orang yang berbeda-beda (secara bertahap seperti kata bung Jaka). Sebuah pengingat yang bagus untuk kita kini dan kedepan tanpa terlalu dipusingkan kapan dan dimana tepatnya hal tersebut -walau tetap penting-sebenarnya dimulai.

5. nunur - Juli 3, 2008

Cerita DD ini, setidaknya memberi inspirasi bagi saya untuk melihat lagi Indonesia. Sebuah negeri di mana batas-batas perbedaan antara manusia seringkali melampaui kata.
Menjadi Indonesia, oleh karena itu tidak akan pernah mengenal ketuntasan. Indonesia adalah sebuah proses panjang tanpa henti. Begitu seterusnya…

6. mbakarlin - Juli 3, 2008

Dari sini kita juga tahu kalau memang tak penting membeda2kan ras dan warna kulit. Yang penting semuanya beniat bersatu untuk maju. Buktinya DD yang bukan pribumi asli mampu memulai sejarah Indonesia dengan Indische Partij dan membantu mahasiswa dari STOVIA. kadang saya juga masih prihatin di era sekarang ini masih ditanyakan “kamu orang mana?” “jawa atau sunda atau minang?” yang mana masih dipertanyakan asal sukunya. Padahal masih sama2 orang Indonesia. Marilah bersatu kawanku jangan hanya terpaku pada suku!

7. untitled - Juli 3, 2008

@mbakarlin
Bener..bersatu untuk maju! (kayak perneh denger kata2 ini 😛 )

8. jaka - Juli 3, 2008

@mbakarlin:
memang susah kalau mindset kita masih spt orang terjajah. Kalau kita baca tulisan2 sejarawan sekarang terlihat bhw ternyata yang pertama punya konsep bagaimana bentuk “Indonesia modern” adalah dari kalangan Tionghoa dg sastra peranakannya di akhir abad ke-19. Lalu muncul kelompok2 organisasi modern berbasis kesukuan lain, agama, dan akhirnya nasionalis. Semua akhirnya bersepakat satu tujuan ya pas Sumpah Pemuda itu. Nyata bahwa Indonesia adalah milik semua, jadi aneh bagi saya kalau ada yg bilang Indonesia menguasai sini, menguasai sana dst. Indonesia ya kita ini, yg tinggal di kepulauan Nusantara ini.

Kalo saya ditanya dari mana/orang apa, saya sekarang selalu bilang dari kota tempat saya tinggal, bukan suku. Kalau saya perlu tanya orang, saya tanya “datang/asalnya dari mana”.

9. tanbaro - Juli 6, 2008

saya orang minang, anda orang jawa, saudara orang batak, kamu orang papua, dia orang bugis, si anu orang….. indonesia dibangun atas perbedaan itu semua. sah-sah saja. yang mungkin penting saya pikir, bisa tidak kita menerima perbedaan itu. Rezim Soeharto pernah ingin meleburkan semua perbedaan itu menjadi satu. tetapi saya kira, dia gagal.

10. joemardi Poetra - Juli 6, 2008

kebangkitan nasional adalah awal mulanya anak manusia sepakat melepas ikatan egois primitifnya dalam setiap berinteraksi dengan orang yang berbeda dalam segala hal. sehingga identitas kebangsaan adalah muara terpenting untuk mencari kita ini sebenarnya siapa dan hidup di hutan belantara yang mana. indonesia lahir bukan dari harapan kosong, tapi lahir untuk menyejarahkan kediriannya untuk menjadi salah satu entitas yang sulit untuk dipisahkan. Tak bisa dipungkiri, menjadi indonesia adalah revolusi berkehidupan yang belum selesai. Bung Karno pernah berpesan: Revolusi ibratkan gumpalan air laut yang selalu menari dan ingin mencium bibir manis pantai. ini artinya revolusi belum selesai dan selalu dikerjakan. itu semua, berawal dari apa yang bisa kita lakukan untuk ibu pertiwi ini. karena dia sudah terlalu ngidam kemerdekaan 100%.

11. aliefte - Juli 9, 2008

oooo…ternyata ada dua nama Douwes Dekker..:)

Indonesia adalah sebuah sejarah harapan dan pengorbanan—dari orang yang berbeda-beda, bagi orang yang berbeda-beda.

Setuju Pak GM..

12. Nyubi - Oktober 7, 2009

Aha! Serasa kembali ke bangku Sekolah Dasar

13. 7roulette7online7 - Juli 21, 2011

Great blog! Is your theme custom made or did you download it from somewhere? A design like yours with a few simple tweeks would really make my blog stand out. Please let me know where you got your design. With thanks

14. kota salju - Juli 31, 2011

yeha, apa yg kita temui di negeri ini selain watak yang usang, semangat yang luntur, kedok yg terlihat tak mengerikan.

15. ppc advertising company - Juli 20, 2014

Sweet blog! I found it while searching on Yahoo News. Do you have any
tips on how to get listed in Yahoo News? I’ve been trying for a while but I never seem to get
there! Thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: