jump to navigation

Mikropolitik Juli 7, 2008

Posted by anick in All Posts, Identitas, Tokoh.
trackback

– untuk Rahman Tolleng, pada ulang tahun ke-70.

Soal paling serius dalam politik hari ini adalah harapan.

Haruskah kita terus berjuang dalam politik untuk perubahan, ketika hampir semua hal sudah diucapkan secara terbuka, tapi Indonesia hanya berubah beberapa senti? Atau begitukah nasib dunia: sejarah adalah repetisi kesalahan yang tak kita sadari? Atau sejarah sebenarnya tak punya tujuan, apa pun yang dikatakan Hegel dan Marx?

Rahman Tolleng kini 70 tahun: ia mungkin tak akan menjawab pertanyaan di atas. Tapi ia saksi yang bisa menunjukkan, kalaupun sejarah hanya sebuah cerita acak-acakan, tak berarti ia sia-sia. Kalaupun akal budi tak kunjung menang, seperti dicitakan Hegel, tak berarti manusia takluk. Kalaupun kebebasan tak berhasil terbentang penuh di dunia, seperti diperhitungkan Marx, tak berarti ia tak layak diperjuangkan.

Entah mengapa, selalu ada orang-orang yang bersedia bekerja untuk menjaga agar sejarah, yang tujuannya tak jelas, tak bergerak jadi arus yang berakhir dengan pembinasaan—khususnya pembinasaan mereka yang tak berdaya.

Pada 1 Juni yang lalu saya bertemu Rahman Tolleng di halaman depan Galeri Nasional, Jakarta. Orang-orang, termasuk anak-anak, berkumpul di sana. Mereka menghindar dari Taman Monumen Nasional, setelah sejumlah orang dari mereka yang sedang akan memeriahkan Hari Lahir Pancasila diserbu dan dipukuli sampai berdarah-darah oleh sepasukan orang seakan-akan hendak menunjukkan, ”Kami Islam, sebab itu Kami berhak memukul!”

Hari itu Rahman di tengah orang-orang yang dipukuli itu. Ia tak kelihatan letih. Ini tahun 2008.

Saya coba mengingat, kapan saya bertemu pertama kali dengan dia. Mungkin pada 1962. Seingat saya, ia muncul di halaman sebuah hotel besar di Bandung yang lampunya hanya setengah menerangi ruang. Kami diperkenalkan oleh seorang teman. Saya mahasiswa baru dari Jakarta. Ia sudah aktivis terkemuka Gerakan Mahasiswa Sosialis di Bandung. Tahun-tahun itu ia harus setengah bersembunyi—terutama karena ia tak mau dibungkam. GMSOS organisasi yang dekat rapat dengan Partai Sosialis Indonesia yang dilarang Presiden Soekarno. Para pemimpinnya dipenjarakan.

Setelah itu saya jarang sekali melihatnya. Beberapa orang teman, antara lain Soe Hok Gie (ia juga aktivis GMSOS), memberi tahu saya bahwa Rahman terus menghimpun dan memproduksi tulisan yang diam-diam diedarkan dan didiskusikan di antara mahasiswa di Bandung. Ketika pada 1966 mahasiswa di Bandung dan Jakarta turun ke jalan, mengguncang ”demokrasi terpimpin” yang melahirkan otokrasi, Rahman tak lagi besembunyi. Ia memimpin mingguan Mahasiswa Indonesia.

Dari sini pula saya menduga apa gerangan yang menyebabkan ia bergerak, menulis, membentuk kelompok. Politik, baginya, adalah sebuah tugas.

Tapi itu tugas yang murung, agaknya. Seperti tiap orang segenerasinya, Rahman Tolleng tahu yang terjadi pada 1908 sampai 2008: gerakan antikolonial yang terkadang menyempit jadi xenofobia, revolusi yang meletus dan segera jadi Negara yang mau mengendalikan segala hal, perubahan yang berakhir jadi teror, reformasi yang melambungkan harapan tapi segera kelihatan betapa terbatas jangkauannya. Adakah harapan?

Setelah 1998, kita berusaha percaya bahwa demokrasi konstitusional, dengan parlemen yang dipilih, adalah jalan perbaikan yang pantas dan rendah hati. Radikalisme hanya bagus buat pidato.

Tapi kini perangai partai-partai politik mirip tikus besar-kecil yang merusak padi di sawah kita. Atau, lebih buruk lagi, mirip ”vampir”, seperti kata editorial Media Indonesia, pelesit yang menghisap darah dari tubuh demokrasi.

Kini parlemen, pengadilan, polisi, kejaksaan, dan media nyaris jadi sederet bordello, di mana si kaya bisa membeli sukma dan raga manusia. Kini suara rakyat yang diberikan kepada sang presiden seakan-akan sia-sia: sang presiden tetap tak yakin dan terus-menerus menunggu mandat. Kini para mahasiswa mencoba mengulang heroisme angkatan sebelumnya, seakan-akan sejarah bisa diulangi. Di manakah harapan?

Tapi siapa yang menggantungkan politik pada harapan lupa bahwa harapan tak pernah datang sebelum perbuatan. Siapa yang menggantungkan politik pada harapan akhirnya hanya akan terpekur, karena harapan selalu samar. Atau sebaliknya, ia akan membuat harapan sebuah obat yang serba mujarab, dan membikin agenda melambung-lambung.

Dengan modal harapan semacam itu, politik justru akan mati—”politik” dalam arti the political: gerak dan gairah melawan kebekuan yang represif.

Saya melihat ke Rahman Tolleng: politik adalah tugas, sering murung karena fana tapi juga tak terhingga. Saya ingat anjuran Alain Badiou: ”Dalam politik, mari kita berusaha jadi orang militan dari aksi yang terbatas”. Kita tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti.

Bukan karena kita Sisiphus yang perkasa. Kita bukan si setengah dewa yang dengan gagah menanggungkan hukuman itu: mengangkut batu besar ke puncak gunung, dan segera sesudah itu akan menggelundung kembali. Kita hanya makhluk yang dituntut, dipanggil, terus-menerus oleh sesuatu yang tiap saat menyatakan diri berharga. Dalam hal ini, berharga bagi harkat liyan, bagi liyan yang juga sesama. Simon Critchley menyebut sesuatu yang ”infinitely demanding”, dan saya kira dengan itulah politik adalah ”ethik” dalam perbuatan.

Di situlah ”mikropolitik” punya makna: ia ”militansi dari aksi yang terbatas”. Ia bukan rencana mengubah semesta berdasarkan wajah sendiri. Tapi ia tak takut kepada yang mustahil.

Dan harapan? Mungkin bukan itu soalnya. Politik bisa dengan harapan, bisa tidak. Sebab ia perlawanan yang membuat hidup kita—di sebuah tempat, di suatu waktu, bersama yang lain—tak sia-sia.

Juga pada usia 70.

~Majalah Tempo Edisi. 20/XXXVII/07 – 13 Juli 2008~

Komentar»

1. muiszudin - Juli 7, 2008

Selamat Ulang Tahun buat amboku rahmang, semoga “gau’ta'” menjadi contoh, ketidak-putusasaan.

2. q.fasih - Juli 8, 2008

tes

3. aliefte - Juli 9, 2008

ya .. harapan memang tak akan datang setelah perbuatan..:D

4. pakde - Juli 9, 2008

salam kenal pak, asyik juga muter2 di halaman bapak ni. banyak sejarah yang belum saya tahu betul. sekali lagi makasih pak untuk reminding real stories nya.❓

5. Ainur Rohman - Juli 9, 2008

Bangsa akan terus hidup jika masih berani berharap. Tetapi apa lagi yang bisa diharapkan dari “Indonesia” hari ini ?.

Di Indonesia ini pilihannya semakin hari, semakin menyempit. Seperti kata Soe Hok Gie, di negeri penuh ketidakpastian ini kita dihadapkan pada dua hal saja, menjadi idealis sejauh-jauhnya, atau apatis, se-apatis2nya..

Harapan dan perbuatan tentu dua hal yang saling mengisi. Tidak bisa kita menjatuhkan diri antara hati dan laku. Karena kedua-duanya bukan sustitusi tetapi komplementer…

Selamat ulang tahun Rahman Tolleng.

6. Ibra - Juli 9, 2008

@si gun dan si zik..

Buat saya yg orang kecil, kalian para pemegang hegemoni mesti punya tujuan untuk membawa sejarah negri ini ke depan…entah itu kebebasan madani atau apa kek…saya juga
tak peduli seberapa “tahi” atau seberapa “tukang khotbah Goblog” kalian! Itu tanggung jawab kalian!
Atau kalian ngga pada nyadar megang hegemoni? He!
Ngobrol laa..biar yg dibawah ngga ikut2an berantem…kayanya cuman masalah komunikasi tu…

7. Ilmi - Juli 10, 2008

Pada saat kita bergerak mungkin satu-satunya harapan adalah bisa mencairkan kebekuan yang represif tersebut. Dan kita tetap menjadi ‘Sisiphus versi lain’ dengan selalu berharap ada kebaikan untuk lyan di setiap batu yang berulang kali kita angkat keatas karena Itulah menurut saya ‘pasokan energi’ untuk membuat jadi ‘militan dalam aksi yang terbatas’ dengan harapan yang ‘terbatas’ pula, alias gak muluk-muluk. Sebuah panggilan yang membangkitkan gairah
Ah…emang parpol2 yang sedang sibuk bisa merenungi tulisan GM diatas?. Harapan samar sepertinya.

8. Ibra - Juli 10, 2008

Hehehe…sisifus ngangkat batunya di neraka, mba…dia ngga punya harapan apa2 disana..makanya ngabur

9. Ibra - Juli 10, 2008

Hehehe…sisifus ngangkat batunya di “neraka”, mba ilmi…dia ngga punya harapan apa2 disana..makanya ngabur

10. Ilmi - Juli 11, 2008

@Ibra
Yah..dipanggil Mba’…jeneng (samaran) kulo Ilmi Santoso mas😀
Yah kalau saya Sisiphus ‘versi anak-anak’ yang lagi bermain gelindingan batu dengan sikap seperti anak kecil yang riang tak bisa diam.
Mungkin agak mirip seperti yang pernah dikatakan Arief Budiman (kalau gak salah) “you fight and have fun”.

11. Ibra - Juli 11, 2008

🙂
Paus ternyata muslim

12. Ilmi - Juli 11, 2008

sangar rek…

13. Daif - Juli 13, 2008

Yang kita lihat adalah beberapa harapan yang seperti kembang api, byar… marak melintasi kepala kita, dan jatuh dari langit, kemudian hilang dalam gelap. Dan kita tahu, tanpa gelap, kembang api tak akan menjadi kembang.

Hanya untuk orang-orang yang tak punya harap maka kita diberi harapan.

—retyping dari Caping GM

14. dhito - Juli 17, 2008

selamat ulang tahun bung rahman tolleng

anda kaum sisyphus yang menolak berhenti mendorong batu

15. baharuddin silaen - Agustus 5, 2008

Aku cari alamat Rahman Tolleng, siapa yang mau bantu saya. Terimakasih sebelumnya. Baharuddin Silaen, Tangerang. Email: baharuddinsilaen@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: