jump to navigation

La Police Juli 14, 2008

Posted by anick in All Posts, Politik.
trackback

Syahdan, Riziq mengunjungi sebuah sekolah di Aceh, setahun setelah Meulaboh dihancurkan tsunami. Ia dipersilakan bicara di depan sebuah kelas yang baru dibangun kembali. Ia senang, sebab dulu, sebelum jadi anggota DPR, ia seorang dosen jurus­an sastra Inggris.

Ia pun maju. Sambil mengingat bencana yang terjadi di Aceh, ia menulis di papan tulis: T-R-A-G-E-D-I.

”Anak-anak,” katanya kepada murid-murid sekolah menengah itu, ”kalian tahu apa arti tragedi?”

”Tahu, Pak!” jawab para murid hampir serentak.

”Bagus! Coba beri contoh bagaimana sebuah tragedi terjadi!”

Murid A: ”Apabila seorang tua memanjat pohon mangga untuk memetik sebuah buat cucunya yang sakit—tapi ia terjatuh dan mati.”

Riziq: ”Oh, itu bukan tragedi. Itu kecelakaan.”

Murid B: ”Apabila sebuah asrama yang dihuni serombongan olahragawan nasional kena gelombang tsunami dan semuanya tewas.”

Riziq: ”Oh, itu bukan tragedi. Itu namanya kehilangan besar yang menyedihkan bangsa.

Murid C: ”Apabila Bapak dan tujuh orang anggota DPR lain terbang dengan sebuah helikopter, dan tiba-tiba pesawat terguncang, terbalik, dan bapak semua jatuh ke dalam jurang.”

Riziq: ”Nah, itu yang benar—itulah contoh tragedi. T-R-A-G-E-D-I! Coba kamu terangkan kepada teman-temanmu, kenapa itu bisa disebut tragedi.”

Murid C: ”Pertama, karena itu pasti bukan kecelakaan. Kedua, karena itu pasti bukan sebuah kehilangan besar yang menyedihkan bangsa.”

Satire yang mencemooh para politikus legislator ma­cam ini pasti kini mulai bermunculan. Mungkin lucu, mungkin pahit, atau kasar, tapi semuanya sebuah gejala krisis kepercayaan yang gawat: politik telah kehilangan makna sosialnya.

Bila beberapa orang anggota DPR ditahan karena menerima suap, bila partai didirikan hanya untuk mengusung pemimpinnya agar jadi presiden, bila mereka yang ingin jadi presiden tak jelas apa maunya selain mengelus-elus ego sendiri, orang Indonesia akan memandang ke pemilihan umum pada 2009 dengan angkat bahu: apa gunanya ramai-ramai itu buatku?

Nila setitik memang membuat susu sebelanga rusak. Dari sekian ratus anggota DPR, tentu banyak yang tak terima suap. Pasti ada yang rajin membahas rencana undang-undang dengan serius dan tekun mengunjungi orang-orang yang memilih mereka, untuk tahu apa yang diinginkan agar keadaan bisa lebih baik.

Tapi tampaknya tak terelakkan: persoalan besar Indonesia, satu dasawarsa setelah kembali ke demokrasi dengan pemilihan bebas, adalah bagaimana merawat kepercayaan bahwa pemilihan bebas itu diperlukan.

Tanpa kepercayaan itu, apa jadinya Indonesia? Negeri ini sebuah bangunan dalam waktu: ia berubah, bersama penghuninya, dengan kelemahan, kekuatan, dan harap­an mereka. Semuanya tak bisa mandek. Bila Indonesia belum berniat bunuh diri, pemilihan bebas adalah satu cara yang baik untuk mengikuti niat hidup itu. Kalau tidak, tubuh sosial akan kaku-beku oleh usia—dan mudah retak, bahkan patah.

Tubuh sosial itu diwakili Parlemen. Tapi dengan itu Parlemen tak bisa menganggap diri identik dengan masyarakat: wakil adalah hanya wakil. Sementara ia tak bisa jadi tempat yang sanggup menyelesaikan tuntas soal keadilan, ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa dalam tubuh sosial selalu bersembunyi apa yang disebut Rancière la police: struktur yang diam-diam mengatur dan menegakkan tubuh itu.

La police itu (mungkin ada hubungan kata ini dengan ”polis” sebagai negeri dan ”polisi” sebagai penjaga keter­tiban) bersifat oligarkis. Tubuh sosial mengandung ke­timpangan yang tak terelakkan; selamanya ada yang kuat dan ada yang lemah, yang menguasai dan dikuasai.

Tapi yang kuat hanya kuat jika ia diakui demikian oleh yang lemah—meskipun dengan mengeluh dan marah. De­ngan kata lain, si kuat diam-diam mengasumsikan adanya posisi dan potensi si lemah untuk memberi peng­akuan. Bagi Rancière, itu berarti nun di dasar yang tak hendak diingat, ada kesetaraan di antara kedua pihak.

Di situ kita menemukan bagaimana di sebuah negeri, polis, hidup: ada la logique du tort. Ada sesuatu yang salah dan sengkarut tapi dengan begitu berlangsunglah sejarah sosial. Di dalam ”logika” itu, ketegangan terjadi, sebab hierarki yang membentuk masyarakat justru mungkin karena mengakui kesetaraan. Ketegangan dalam salah dan sengkarut itulah yang melahirkan konflik, guncangan pada konsensus, dan polemik yang tak henti-hentinya.

Itulah la politique: sebuah pergulatan. Ia bukan seperti aksi komunikasi ala Habermas: di arena itu tak ada tujuan untuk bersepakat; di medan itu yang hadir bukanlah sekadar usul dan argumen yang berseberangan, tapi tubuh dan jiwa, ”perbauran dua dunia”, ”di mana ada subyek dan obyek yang tampak, ada yang tidak”.

Agaknya yang tak tampak itulah yang menyebabkan la politique, atau politik sebagai perjuangan, mendapatkan makna sosial. Sebab, yang menggerakkan adalah mereka yang bukan apa-apa, yang tak punya hakikat dan asal-usul untuk menang. Rancière menyebut kata ”skandal demokrasi”: ia agaknya mau menunjukkan bahwa kehor­mat­an para tulang punggung la police pada gilirannya akan diguncang oleh demos, mereka yang bukan apa-apa itu.

Satire adalah usaha skandalisasi yang dicetuskan si lemah. Mereka cuma bisa mengejek. Tapi, bila lelucon di atas membuat kita prihatin, itu karena di sana tersirat sepotong harap: proses parlementer akan mewakili perjuangan, terutama perjuangan mereka yang bukan apa-apa.

Tapi itu ilusi yang terbentur. Pada akhirnya Parlemen hanyalah sebuah konsensus darurat. Ia penting. Tapi seperti dikatakan Rancière: ”Konsensus mengacu kepada apa yang disensor.”

Ataukah lelucon di atas mencerminkan sesuatu yang lain? Jangan-jangan kita menghasratkan ini: mereka yang hidup nyaman dari konsensus dan sensor insya Allah akan jatuh ke dalam jurang.

~Majalah Tempo Edisi. 21/XXXVII/14 – 20 Juli 2008~

Komentar»

1. zainal - Juli 16, 2008

kasus suap alih fungsi lahan hutan dan dana BI itu cuma puncak gunung es. kasus-kasus sejenis di bawahnya yang disembunyikan lebih banyak lagi, dari dulu. amin nasution dan bulyan royan ketangkep kan krn mereka gagal bermain apik aja.

kapok ah nyoblos pemilu

2. Ilmi - Juli 16, 2008

Yah, tragedi memang bisa diucapkan tidak hanya dengan sedih tapi juga tawa atau senyum sinis. Tapi kalau jatuh ke jurang dari helikopter jadi sangar juga ‘doa’nya …trus (iseng kok nanyanya) kenapa Riziq ya?😛

3. baha' - Juli 17, 2008

memang sulit kadang mennghilangkan suatu yang sudah mengakar, hanya bisa mengembalikannya dengan mengubah paradigma yang sebenarnya.

4. Daif - Juli 17, 2008

Hidup dari konsensus, apalagi hidup dari sensor, tentu tidak akan mungkin pernah merasakan kenyamanan….

Tidak akan pernah…. Jangan berharap.

5. Daif - Juli 17, 2008

Mereka yang hidup dari konsensus, apalagi hidup dari sensor, tentu tidak akan mungkin pernah merasakan kenyamanan….

Tidak akan pernah…. Jangan pernah berharap menjadi bagian dari mereka.

6. aliefte - Juli 18, 2008

whekk.. satire banget prolognya…😀

7. elsara - Juli 18, 2008

Sebuah bangunan yang dibangun dengan bahan2 tidak berkualitas toh tidak akan awet umurnya. Itulah kalau segala sesuatu maunya asal ‘murah’ saja. Sampai harga diri pun rela diobral demi materi dan kekuasaan.

Tp sepertinya bangsa ini sudah biasa kehilangan ribuan rakyat miskin yang mati kelaparan, ketimbang pejabat publik yang makan hak rakyat. Buktinya.. yah, sudah banyak lah buktinya. Semua juga sudah pada tau. RP, bukan Rupiah, tapi Rahasia Publik!

@Zainal: Kapok nyoblos Pemilu? Sama dong..

8. firdaus putra - Juli 18, 2008

ada bahaya yang sangat besar, seperti bom waktu yang suatu tempo meledak, yakni pembusukan kultur politik di masyarakat. dan sayangnya, para politikus, praktisi tidak menyadari tindakannya akan melahirkan pembusukan kultur itu.

pembusukan ini lebih berbahaya dari pada kesalahan yang mereka perbuat secara personal. karena, lambat namun pasti, pembusukan ini akan menjadikan indonesia dalam jurang zero trust society. anda bisa bayangkan apa yang mungkin akan terjadi dalam masyarakat seperti itu?

9. Achmad Sholeh - Juli 21, 2008

Sampai saat ini kita masih belum yakin dengan wakil rakyat kita, selama dia hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya bukan kepentingan rakyat….. salam

10. fier - Juli 30, 2008

“pilih Aku bila Aku nanti menang, tenang semua bisa diatur…”de F**k R” tidak lebih dari sekedar pemborosan kas negara, yang saat ini hampir tiap tahun terjadi buaian janji manis… dan hembusan angin dingin menusuk tulang…. nilai kepuasan yang tidak lebih dari sekedar perebutan kursi malas??? ada gak ya… sekelompok “d*r.” yang mau patungan swadaya bikin jalan kampung atau sekedar nambal tai gigi jalan yang bolong, dari pada sekedar nodong pemerintah minta seonggok paket pekerjaan… “ok lah program you aneeh lolosin asal ntar klo aneeh studi banding minta uang jajan ya bos…. ya klo gak aneeh minta temen hareem buat mijitin klo pegel – pegel… Apaan sih… arti pernyataan semacam ini…???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: