jump to navigation

Api, Laut Juli 28, 2008

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Identitas, Indonesia, Politik, Sejarah.
trackback

Bung Karno jadi presiden dalam usia 44. Soeharto memimpin gerilya ke Kota Yogya dalam umur 26. Ali Sadikin jadi gubernur ketika ia 39 tahun.

Apa yang menyebabkan keadaan seperti itu kini tak terjadi lagi? Kenapa kini, pada awal abad ke-21 ini, sejumlah orang harus berteriak, seakan-akan mendesakkan yang tak lumrah, memberitakan yang tak lazim, bahwa mereka yang masih muda bisa jadi pemimpin?

Memang ganjil, sebenarnya. Indonesia belum tua benar. Enam puluh tiga tahun adalah waktu yang pendek bahkan dalam tarikh kepulauan ini sendiri. Tapi rupanya sesuatu terjadi: kini Indonesia tak berada dalam sebuah krisis dan lebih dari itu, kini kita telah terbiasa gentar untuk krisis.

Tak ada lagi tanah longsor politik, yang menyebabkan lembaga-lembaga yang ada retak atau runtuh. Tak ada celah tempat munculnya sesuatu yang baru sama sekali. Tak ada awal yang seakan-akan murni dan sepenuhnya awal. Kita bisa bernapas lega. Tapi jangan-jangan kita sebenarnya sedang tidak benar-benar bernapas.

Sebab, seperti dialami Indonesia pada tahun-tahun revolusi— dari 1945 sampai 1949—dari retakan tanah longsor itulah, ketika sejarah bagaikan dipenggal, bisa lahir pemimpin yang justru jadi penting karena ia tak punya masa lalu. Bukan kebetulan Benedict Anderson menyebut masa itu masa ”Revolusi Pemuda”: yang muda tak hanya berada di garis depan yang menghela maju, tapi juga di belakang, jadi pendorong.

Gemuruh itu menemukan jejaknya, dengan sedikit mencong-mencong, dalam organisasi-organisasi pemuda. Ada Gerakan Pemuda Marhaen, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Pemuda Rakyat, Pemuda Sosialis, Pemuda Ansor—dan pada 1958 sampai 1966, sebagian dari ”gerakan” itu disingkirkan dan sebagian dihidupkan kembali, sebuah tanda bahwa sesuatu sedang guncang di masa itu.

Pada 1958, Bung Karno menyebut tema ”Manifesto Politik” yang dimaklumkannya ”penemuan kembali revolusi kita”. Sampai 1965, kata ”revolusi” jadi sakti kembali. Tak berarti masa itu adalah masa yang seluruhnya layak dirindukan kembali: ”revolusi”, walaupun dalam bentuk separuh retorika belaka, punya korbannya sendiri. Tapi ada yang kuat di sana, dan suasana seperti matang kembali, berseru, seperti Chairil Anwar berseru:

Ayo Bung Karno, kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang di atas apimu, digarami lautmu

Kemudian datang 1965-1966: api itu membakar, laut itu menghantam, ke sana-kemari, dan dari arang dan puing Indonesia berpegang erat-erat, dengan rasa takut dan paranoia, sebuah keadaan yang disebut ”stabilitas”. Gemuruh dan gejolak dicegah. Revolusi digantikan Kontrarevolusi. Lembaga-lembaga dikukuhkan. Sistem dan prosedur dimantapkan.

Dalam keadaan itu, yang muda tak bisa lagi berkata, seperti Chairil berkata, ”aku sekarang api, aku sekarang laut”. Berangsur-angsur, yang muda jadi bagian penopang bangunan yang didirikan dan diberi nama ”Orde Baru”: jadi paku, sekrup, dan penyangga—hal-hal yang tak bisa mengguncang, bahkan diadakan buat melawan guncangan. Para pemuda bukan lagi bergerak, melainkan harus antre dengan tertib. ”Orde Baru” adalah sebuah masa ketika kita praktis tak mendengar lagi kata ”pemuda” sebagai yang terkait dengan gerakan. Kita tak mendengar dengus napasnya.

Politik memang mati pada masa itu. Kini, sejak 1998, ia memang hidup kembali, tapi tiap ”Reformasi”—bahkan sebenarnya juga tiap Revolusi—tak hanya mengandalkan sisi destruktif dari sikap menampik. ”Reformasi” tak hanya terdiri dari sisi yang merusak dari ”negasi”. Tiap ”Reformasi” mengandung sisi yang ”afirmatif”. Tiap ”Reformasi” menunjukkan kemungkinan lahirnya tatanan baru yang sebenarnya bukan sebuah awal yang benar-benar awal.

Tapi dengan demikian ”Reformasi” mengandung kemungkinan berubahnya tatanan itu jadi kontra-reformasi. Ada satu fragmen dari sajak Pier Paolo Pasolini, Vittoria, yang pernah dikutip Alain Badiou—sebuah sajak yang dimulai dengan kalimat yang muram, ”semua politik adalah Realpolitik”. Dari sini kita temukan gambaran yang murung: pasukan anak muda yang telah gugur, yang datang kembali dan menunggu. Tak mustahil bila ”ayah mereka, pemimpin mereka, terlibat habis dalam sebuah debat yang misterius dengan Kekuasaan”. Tak mustahil bila sang ayah akan meninggalkan mereka, ”di pegunungan putih, di lembah yang anteng…”.

Tak mustahil—bahkan itulah yang terjadi kini. Politik hidup kembali, tapi tampaknya anak-anak muda telah ditinggalkan. Sepuluh tahun setelah Reformasi, tetap tak ada tampak gerakan pemuda dalam radar politik Indonesia. Partai-partai yang kini sibuk tak henti-hentinya terlibat dalam ”debat yang misterius dengan Kekuasaan” dan ke luar dari sana dengan tubuh yang gemuk tapi tua.

Tubuh itu tampak tua tentu saja karena Megawati, dalam umur 61, tetap ingin jadi presiden sekali lagi. Juga karena Abdurrahman Wahid, 68 tahun, belum hendak melepaskan niatnya buat kembali jadi kepala negara. Tapi bukan hanya itu soalnya. Ketuaan itu terasa ketika partai-partai memang tidak dimaksudkan untuk jadi ”api” dan ”laut”—kekuatan yang bisa destruktif tapi juga bisa menggerakkan perubahan.

Buat sebuah perubahan sosial, mereka yang tak terikat masa lalu—para pemuda—diperlukan di depan, sebagai penghela dan pendorong. Tapi jika kini kita tak melihat mereka, itu karena partai hanya jadi sebuah tempat pengawet, berangkat dari keinginan untuk kembali, bukan untuk sebuah gerakan maju.

~Majalah Tempo Edisi. 23/XXXVII/28 Juli – 03 Agustus 2008~

Komentar»

1. Inprodic - Juli 29, 2008

Saatnya yang muda memimipin…!
Bung…! sekali lagi Bung…! bukan Pak, bukan juga Bu, bukan Gus.

Tapi, seperti di caping-nya GM “Gerai”. Indonesia kini hanya sederet partai. Hanya harapan kosong untuk mereka yang tak punya harap. Mereka yang disebut ‘rakyat Indonesia’.

Di alam demokrasi, sang jargon terucap: suara rakyat adalah suara Tuhan. Tapi rakyat tak punya pilihan lain, selain sodoran sederet partai penjaja asongan seraya berseru:”Pilihlah…!”

Akhirnya, pemilu pun digelar, lalu suara dihitung. Jika suara rakyat -yang katanya juga suara Tuhan- ternyata memilih seorang tua bangka untuk memimpin negeri ini, apa boleh buat.

Vox Populi Vox Dei?

2. nazdan meuraxa - Juli 29, 2008

kekhawatiran dan ketakutan saya mas gun, pemuda indonesia kini sedang diterjang badai pornografi, 3gp, tontonan sexy dan sebagainya hingga tersudut kepojok kamar, lantai kamar mandi, tak bisa lari kecuali berkeringat dingin dan onani. Pemuda kebanyakan kini ditawan setan, butuh pertolongan secara diam-diam. Mas gun, persoalan ini sungguh melemahkan, mematikan rasa dan menjadi candu. Sehingga pemuda kita tak bisa benar-benar melawan, melawan hingga titik darah penghabisan, hingga cita-cita terwujud dan Indonesia kembali berwibawa.
Mas gun, hingga kaum tua pun dikehidupan politiknya tak bisa lepas dari candu ini, sehingga menyeret mereka berjibaku untuk tetap bisa berkuasa tanpa amanah, tanpa prihatin dan tanpa keputusan arif.
Mas gun, bangsa kita sekarat, pemuda kita lemah, kering, kehilangan terlalu banyak air kehidupan…

3. DKY - Juli 29, 2008

Usia mungkin bukan ukuran kedewasaan, usia tidak mencerminkan ‘kadar’ keilmuan dan kemapanan…
tapi usia berpengaruh pada cara berpikir n bertindak….
so, apapun, siapapun, kapanpun….
untuk hari ini sih…

MET ULTAH MAS GOEN….
MET ULTAH JUGA BUAT AKU…

4. jaka - Juli 29, 2008

Halah, anak muda Indonesia sekarang bisanya cuma tawuran atau ikut2 pemberontak. Tidak heran, yg tua2 tidak rela melepaskan Indonesia ke tangan mereka.

Spt yg ditulis bung nazdan, orang muda Indonesia tidak lagi bisa fokus ke permasalahan kebangsaan (kemiskinan, kebodohan, pengangguran) krn mereka untuk diakui eksistensinya harus menguasai hal2 spt disebutkan Bung Nazdan itu, yg tidak langsung mengimbas masalah bangsa muda dan rentan ini. Saya, yg segera meninggalkan masa “pemuda”, bisa merasakan adanya ketidaksinambungan antara idiom2 orang muda dengan permasalahan bangsa. Kesenjangan simbol2 pengakuan eksistensi, semacam itu. Orang muda sekarang spt asing dg bangsanya sendiri, apalagi di Jakarta.

Mungkin harusnya ada program pertukaran pemuda antarprovinsi atau antarstrata-sosial, supaya pemuda tahu, Indonesia bukanlah hanya tempat mereka tinggal. Daripada habis2kan duit buat wamil.

5. ilmi - Juli 29, 2008

Jadi inget iklan rokok…yang muda harus ‘tampil tua’ dulu baru keliatan pantes…hehe..amit2 dah😛

GM ultah? MET ULTAH JUGA ! semoga tetap sehat dan panjang umur sehingga bisa terus berkarya untuk bangsa dan kita semua disini

6. muiszudin - Juli 29, 2008

gus dur, megawati….. dan seangkatannya, yang tak lelah berkeinginan meskipun bukan untuk siapa-siapa.
mungkin, kita sah untuk melarang!!!!!!

7. gus - Agustus 1, 2008

saya jadi merindukan Malaka, syahrir, dan Natsir…yg memimpin tanpa pretensi kecuali untuk bangsanya….

8. bambang - Agustus 1, 2008

saya melihat (dan optimis) masih ada orang-orang muda yang tiap harinya sibuk menanam benih amal. mereka yang sibuk menyalakan “api” dan menjadi “laut” itu. tentu saja dalam sunyi dan sepi karena mungkin dibuat sepi dan sunyi. tak ada media yang meliput. mereka yang rame ing gawe sepi ing pamrih. mereka tak sibuk beriklan. jadi tak dikenal dibanding mereka yang sibuk beriklan di TV tiap harinya. yang hanya sibuk bagaimana tampil memukau. sibuk ber-kecap!!

——————
btw sy salut kpd tempo di edisi ‘100 tahun kebangkitan nasional’ kemarin yg memaknai berbeda tema “Indonesia Bisa!”. meliput “bisa” mereka yang tak pernah di sorot mata banyak.
—bukannya dengan acara besar-besaran di senayan—-

9. aliefte - Agustus 5, 2008

iya nih… mbok ya yg udah tua2 itu sadar diri.. berikan kesempatan dan kpercayaan kepada kami kaum muda untuk berbuat, dan berlari mengejar ketertinggalan ini … ayo Maju Terus Indonesiaku!!!

10. Koran Saya - Agustus 10, 2008

usia tidak selalu mencerminkan kualitas dan kedewasaan seseorang.

11. Gobel - Agustus 28, 2008

Muda menjadi kata yang tidak jelas. Apakah ada rentang umur, dari usia berapa ke berapa? Banyak pemimpin dari gerakan-gerakan kepemudaan itu dipimpin oleh orang yang berusia diatas 40 tahun. Benarkah mereka muda?
Saya rasa tidak lagi.
Seharunya kita punya standar tentang kata muda, dan standar itu merupakan angka-angka bukan sekedar kata-kata yang tidak bisa diukur denga angka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: