jump to navigation

Bintang Agustus 25, 2008

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Elegi, Indonesia, Politik.
trackback

Kita sedang menyaksikan semacam nihilisme, dengan paras yang cantik. Ketika partai-partai politik tak lagi memaparkan apa yang mau mereka capai dengan bersaing dalam pemilihan umum, ketika mereka cuma memajang bintang sinetron untuk membujuk orang ramai, kita pun tahu: politik telah berubah. Kita tidak lagi hidup di abad ke-20. Kita tengah memasuki ”sindrom Italia”.

Di Italia, perempuan yang tersohor itu, pemain utama dalam sederet film porno, La Cicciolina, ikut dalam pemilihan umum pada pertengahan 1987. Ia dipilih; ia duduk di Parlemen mewakili ”Partai Cinta”. Pada 1992, ia terjun lagi, ketika di Italia pengangguran mencapai 11% dan inflasi 6%. Tahun ini tampil Milly D’Abbraccio. Ketika perempuan cantik ini masih lebih muda, ia pernah membintangi film yang berjudul, misalnya, Paolina Borghese, Maharani Nimfomaniak.

Sesuatu yang terjadi di Italia tampaknya tak banyak berbeda dengan yang terjadi di Indonesia kini—meskipun di daftar calon legislator itu belum ada bintang blue film. Kita se­akan-akan mendengarkan suara orang Indonesia ketika dari apartemennya di Roma D’Abraccio berkata kepada wartawan Reuters: di sini, ”tiap orang sudah muak dengan wajah para politisi itu…. Mereka ganti nama partai, tapi orangnya sama saja. Masing-masing menjanjikan banyak hal, tapi tak ada yang terjadi.”

Sudah begitu membosankankah demokrasi di Indonesia—yang baru lahir lagi 10 tahun yang lalu? Saya tak tahu. Tapi orang seperti butuh sesua­tu yang gemerlap ketika tak jelas lagi kenapa para pemilih diharapkan datang ke kotak suara. ”Rakyat”, yang di sepanjang abad ke-20 merupakan sebutan bagi sebuah kekuatan yang dahsyat (bahkan suci) karena dialah tenaga dasar perjuangan pembebasan, kini berganti jadi sehimpun angka dalam jajak pendapat. Tak ada sebuah agenda yang mengge­rakkan para pemilih agar aktif terlibat untuk sebuah re­publik yang lebih baik. Tujuan yang sejak Aristoteles disebut ”kebaikan bersama” tampaknya sudah hilang, atau dianggap sia-sia, atau kuno.

Kini orang memandang politik dengan mencemooh. Nihilisme itu merayap dan mengambil tempat dengan tenang.

Memang harus dikatakan, suasana ini berlangsung di banyak negeri. November 2007, di Universitas Pennsylvania sebuah panel diskusi diselenggarakan dengan judul, Democracy and Disappointment, dan Alain Badiou dan Simon Critchley berbicara. Rasa kecewa bertemu dengan jemu ketika orang tahu bahwa ketidakadilan masih menginjak-injak sementara tak tampak lagi harapan akan terjadinya perubahan yang radikal. Jika ketidak­adilan itu adalah kapitalisme, kita tahu betapa saktinya dia: segala ikhtiar sejak abad ke-18 untuk meruntuhkannya gagal. Slavoj Zizek mengingatkan bahwa Marx menyamakan kekuasaan modal dengan vampir; kini salah satu persamaannya yang mencolok adalah bahwa ”vampir selalu bangkit lagi setelah ditikam sampai mati”.

Apa yang bisa dilakukan menghadapi itu?

Ada yang memutuskan untuk keluar dari medan pergulatan, dan memilih sikap seperti para nabi yang aktif bersuara tapi menjauhi istana, memperingatkan bahaya keserakahan bagi ”kebaikan bersama”. Ada pula yang jadi semacam rahib: setengah mengasingkan diri dan menolak menjunjung ”akal instrumental” yang selama ini dipakai untuk memanipulasikan orang lain dan dunia. Tapi tak jelas, apa yang berubah karena itu.

Mereka yang lebih marah dan lebih ganas akan meledak­kan bom, menebar takut dan maut, seperti Al-­Qa­­i­dah. Tapi kini kita tahu, Al-Qaidah tak menghasilkan se­suatu yang lebih hebat ketimbang banyaknya kematian. Sang Iblis yang dimusuhinya tak musnah. Jaringan teror itu tak sebanding dengan Partai Komunis internasional yang juga gagal—meskipun dulu lengkap punya sebuah organisasi untuk memobilisasi massa, merebut kekuasa­an, dan membangun sebuah negeri, bukan hanya menambah jumlah musuh yang mati.

Maka ada yang berkesimpulan, terhadap ketidakadilan yang bertahan itu, kita meng­ubah politik jadi parodi terhadap politik itu sendiri. Parade bintang sinetron itu, apalagi bintang porno, adalah contoh parodi yang tak disengaja: partai-partai berpura-pura menja­lankan ”politik”, tapi sebenarnya melecehkannya sebagai sesuatu yang layak diremehkan. Dengan bintang-bintang dan pesohor lain, yang esensial adalah ­kemasan. Partai jadi komoditas, lengkap dengan kha­yalan yang muncul: seakan­-akan partai punya nilai dalam dirinya, tanpa proses kerja keras di jalan dan medan perjuangan.

Kini kita punya media massa yang mempermudah pa­rodi itu. Terutama televisi, sumber informasi utama dan pabrik (juga ajang) fantasi orang Indonesia sekarang. Kita tahu televisi perlu menjangkau khalayak seluas-luas­nya; kalau tidak, ia akan gagal sebagai bisnis. Untuk itu ia membuat soal hidup dan mati sebagai sesuatu yang gam­pang dan sedap dipandang, acap kali menyentuh hati, tapi selamanya bisa dipecahkan dan segera dilewatkan. Sinetron tak ingin membuat kita seperti Pangeran Siddhar­ta yang tertegun melihat bahwa dunia ternyata sebuah sengsara yang layak direnungkan terus-menerus. Sinetron adalah sebuah statemen bahwa serius itu tak bagus.

Ketika politik jadi versi lain dari sinetron, ia menjangkau orang ramai—tapi bukan karena sesuatu imbauan yang menggugah secara universal. Kalaupun ia berseru mengutuk ketidakadilan, itu pun hanya berlangsung untuk satu episode. Sejarah manusia yang dulu terdiri atas kemarahan dan pembebasan diganti dengan sesuatu yang jinak. Kini cerita manusia tetap masih gaduh, tapi itu kegaduhan suara merdu, tangis + ketawa galak yang palsu, dan bentrokan yang akan selesai ketika sutradara (atas titah produser, tentu saja), berseru, ”Cut!”

Nihilisme itu memang bisa asyik. Ia memperdaya.

~Majalah Tempo Edisi. 25/XXXVIII/25 – 31 Agustus 2008~

Komentar»

1. Ilmi - Agustus 27, 2008

Mungkin ‘republik mimpi’ memang benar-benar ada kelak dan parodi jadi sesuatu yang ditanggapi dan dibahas dengan serius. Dan nihilisme sepertinya memang berarti ketika tak ada lagi yang memiliki arti. Parodinya seni dadaisme. Ah..jadi teringat Saiful jamil yang ingin memberantas pornografi.

2. zainal - Agustus 27, 2008

rekan2, ada yg kenal dekat dg soetrisno “hidup adalah perbuatan” bachir, nggak?

kalo ada tolong ya sampaikan caping ini.

meskipun pesismistis, saya harap dia jadi paham apa yg mst dia lakukan dg partainya utk menggaet suara, bukan dg cuma comot pemain sinetron.

3. peristiwa - Agustus 28, 2008

kalau saya berpendapat sebenarnya sah-sah saja mereka mau mencomot pihak mana pun yang mau mendukung partainya, kalau seorang artis, ya kebetulan, agar makin ngetop partinya, dan mungkin fans dari sang artispun mungkin juga akan ngekor pada idolanya, lumayan bisa nambah suara..
dan berbagai mediapun juga akan lebih sering mempublikasikan, .. dan hal itu SAH!

karena sepertinya begitulah mental masyarakat Indonesia pada umumnya, menyedihkan.. tapi entah siapa yang salah..

dalam dunia politik sepertinya memang untuk ‘berpolitik’..
dan Indonesia dipimpin orang-orang macam begini..

4. Morning Coffee - Agustus 28, 2008

dalam hal comot mencomot, yang penting adalah jangan mencomoti jari dimuka umum, apa lagi mencomot ludah sendiri… (wew)
soal mencomot artis, mungkin karena artis dan politikus sama-sama senang main di panggung…
yang artis pengin jadi politikus, yang politikus bergaya seperti artis…
mungkin ada partai P4 nanti : Partai Pura Pura Politikus😉

5. bambang - Agustus 28, 2008

pahit emang menyaksikan (sebagian) partai-partai yang ia berteriak, tapi teriaknya palsu. ia menagis, menagisnya pun para-pura.
tapi bukankah justru yang pahit (terkadang) membuat kita kuat.

tak usah menjadi rahib yang mengasingkan diri. jangan pula menebar takut dan maut dengan Bom. untuk parodi, cukuplah sebagai tontonan yang menunjukkan kesalahan2 di tengan rutinitas.

dan untuk sinetron, cukuplah kita lihat iklan-nya saja tanpa harus mengikuti “cerita”-nya.

———
le…le… ngomong apa seeh..
aku ko g ngerti.
mbuh, mungkin anda ngerti?

6. Gobel - Agustus 28, 2008

Now, artis2 juga pingin jadi penguasa. Mulai dari pesinetron sampe penyanyi dangdut. Selalu ada lelucon di negara ini. Teringat si suatu acara, seorang penyanyi dangdut yang mau jadi wakil kepala daerah ditanya tentang visi misinya. Dengan dodongnya menjawab nga nyambung. gmana mo jadi pemimpin bu? Jelaskan visi misi aja nga mampu. Ato mungkin arti visi misi juga anda ngga tau??

Sudahlah, terlalu banyak yang harus dipikirkan di negara ini.

Terdengar Alunan Lagu Iwan Fals :

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
BUKAN KUMPULAN TEMAN2 DEKAT
APALAGI SANAK FAMILI

7. wakhit - Agustus 29, 2008

Mas Gun dan rekan-rekan, seperti yang mas Gun sering tulis sebelumnya, politik memang menjengkelkan, memperjuangkan satu hal kebaikan umum dengan proses dan hasil begitu-begitu aja…apa hendak dikata, tanpa politik kita juga bukan manusia. Akan lari kemanakah kita, selain menjadi nabi dan rahib? putus asa barangkali, tapi bukankah itu dibenci oleh setiap agama? Saya lebih melihat ini merupakan proses kebangsaan kita dalam berorganisasi, bernegara. Memang lambat dalam ketergesaan, sudah 63 tahun belajar tapi juga selalu tergesa-gesa prosesnya seperti lahirnya UUD-45 yang darurat itu, juga platform reformasi 98 itu, juga amandemen UU politik kita. Betapa lambatnya untuk matang dalam politik kita! Pingin sekali mas Gun ke depan menulis soal “rasa kepemilikan terhadap komunitas, terhadap bangsa”. Bangsa ini miliki ku, perlu kurawat, kudanai, kumiliki sebagaimana aku memiliki tangan dan kakiku, akal dan perasaanku. Bagaimana caranya itu jika kita tidak pernah berorganisasi yang benar? bagaimana caranya itu jika kita tidak lagi kenal pendidikan kewargaan?
tabik,
wakhit.

8. Ibra - Agustus 29, 2008

Sayangnya Marx ga ngasih pandangan etika kalo proletar udah pada cukup kaya..mestinya dia juga ngliat kalo anjing yg dia bela tyt cuma anjing

9. taufiq - Agustus 29, 2008

mas Goen, jika saya tidak salah akhir-akhir ini tulisan mas Goen banyak ke arah kiri, rada-rada marah begitu.

namun, saya merasa mas Goen punya pandangan yang selalu setengah hati.dalam keadaan yang sudah demikian menyesakkan ini, apakah sikap ragu seperti itu masih membantu? bukankah karena ‘kita’ ini (makhluk yang daif dan bisa salah) justru akan menemukan ‘makna’nya dengan keberpihakan-keberpihakan tegas yang meskipun selalu sementara.keberpihakan-keberpihakan yang mungkin bisa salah.dan oleh karenya, sebuah keberpihakan yang terbuka.

mungkin, mas Goen berkenan memberikan penjelasan kepada kami yang masih sangat hijau ini. thanks

10. gadis rantau - Agustus 30, 2008

mati kutu gw bos kalo soal politik. maklumlah tiap hari kerjanya hanya ngumpulin kayu bakar untuk dijual di pasar,he..he..soalnya hanya ini lahan empuk buat perempuan tk makan bangku sekolah kayak saya ini.

11. menjadinash - Agustus 30, 2008

Jadi ada 3 rangkai berkelindan:
1. Bintang Porno Italia sebagai benchmark Artis Indonesia di dunia politik

2. Kapitalisme [yang pseudo-demokrasi] sebagai benchmark Komunisme [yang anti-demokrasi] (dan Alqaidah [?])

3. Televisi (dan sinetronnya) sebagai benchmark bagi partai politik

Hmmm…coba tak pikir-pikir dulu…

12. Ibra - Agustus 30, 2008

Jangan2 posmo lahir bukan gara2 ketidak percayaan thdp metanarasi, tp lebih karena byk proletar udah jadi kaya? Dan kapitalisme jg komunisme kecele kalo etika bisa dg sendirinya jd baik jika orang udah kaya? Jadi semua ini ttg duit toh? Dan bener kata Adam Smith kalo semua tatanan yg ada pada dasarnya adalah upaya pemenuhan kepentingan diri dlm jangka panjang, bahkan moralitas? Bahkan agama?

13. Ibra - Agustus 30, 2008

Itu Newtonian sekali, saya pikir…yg menakjubkan adlh ketika islam (yg kabarnya tradisional) sudah sejak awal menyarankan pada org2 kaya untuk merangkul kaum miskin, anak yatim dan org2 yg butuh bantuan…bukan kalo udah kaya trus seenaknya sendri…dan mudah2an orang2 kaya macam itu diberi kemulian oleh sesamanya, juga kalo ada, oleh Tuhannya…

14. samaratungga027 - Agustus 30, 2008

Dengan merekrut artis menjadi caleg.menjadi suatu tren “Pop”.dimana menjadi bintang hanya dalam waktu sekejab dan memperhatikan konstituen.dari dulu yang namanya Partai memang begitu….setelah dapat suara…rakyat mau kelaparan, ato apa kek masa’ bodo.yang penting sudah “duduk manis”.di kursi “yang katanya terhormat”….

15. samaratungga027 - Agustus 30, 2008

Dengan merekrut artis menjadi caleg.menjadi suatu tren “Pop”.dimana menjadi bintang hanya dalam waktu sekejab dan tidak memperhatikan konstituen.dari dulu yang namanya Partai memang begitu….setelah dapat suara…rakyat mau kelaparan, ato apa kek masa’ bodo.yang penting sudah “duduk manis”.di kursi “yang katanya terhormat”….

16. Faizal Kamal - Agustus 30, 2008

Nihilisme. . . . Hmmmm . . . Nice Word, Sir
Beberapa Calon Dari Parpol yang mulai mengisi detik-detik iklan di televisi. . . dengan semua programnya . . . Semoga bener bener jadi tetes air di gurun Indonesia Tercinta ini,
Siapapun orangnya, Semoga Indonesiaku Lebih Baik

Nice Info , Sir

terimakasih di izinkam Mampir,

17. ilmi - Agustus 30, 2008

kayaknya calon2 parpol yang beriklan butuh ‘reativitas’ yg tidak seadanya kayak sekarang ini. Termasuk kalau udah memimpin dan mengurus rakyat supaya kelak ketika sudah menjabat dan membandingkan kembali dengan iklan2 yang pernah mereka buat tidak membuat orang-orang muak.

18. economatic - Agustus 31, 2008

Menarik sekali artikel ini, sepertinya analisis Anda sangat spesifik dan mendalam. Apakah Anda seorang kolumnis?

19. Mella Fitriansyah - September 1, 2008

Wah . . .. Sekarang bingung pak, mau ngomongin yang nihilisme aja orang masih kagak percaya, gmana ngomongin yang JUJUR-JUJUR aja. . . . tambah gak dilirik dah bakalan.Sulitnya orang kita itu, sukanya dibohongi . . . yaaah . . . Sisa-sasa ORDE BARU maseh meng”akar” pak
Semoga cepet hancur dah rezim nihilisme ini.

terimakasih Info nya.

20. Giy - September 2, 2008

Apa yang bisa dilakukan menghadapi (ketidak adilan kapitalisme) itu?

“bahasa (tulisan) memang penuh keterbatasan. Bahasa laku lebih bijaksana. Ketidak adilan yg disuarakan untuk orang lain melalui bahasa tidak lebih hanya bentuk keterbatasan dirinya dan bahasa-nya. Dia tidak lebih kemunafikan atas kegagalan dirinya sendiri! Kapitalisme bukanlah ketidakadilan, ketidakadilan berada di pikiran org2 yg menentangnya!”

21. Zul Azmi Sibuea - September 10, 2008

kalau ekonomi-politik-budaya
dibangun dengan : imperialism-kapitalism-individualism-liberalism
hasilnya ya gitulah yang terjadi nihilism, randomism, ndak ada yang tau mau kemana kita.

mestinya ekonomi-politik-budaya
dibangun dengan membalik semua sumber kesengsaraan, ketidak jelasan, kekosongan itu.

yang terjadi dalam ekonomi-politik-budaya
adalah kerancuan epistemologi ilmu – tidak ada lagi yang tahu pasti
untuk apa ilmu, untuk siapa ilmu, apa tujuan ilmu pengetahuan. ketidak beretikaan ilmu pengetahuan – adalah sumber segala malapetaka.

22. Tondi - September 10, 2008

Logikanya “sederhana” :
Memajang artis –> Penonton senang –> Rating naik –> Slot iklan laris.

23. mads - Oktober 10, 2008

Beda di italia dan di negeri ini. Di indonesia, bintang jadi anggota legislatif dulu, baru jadi bintang porno he he he

24. pearl white teeth whitening - Mei 9, 2011

It’s in reality a nice and useful piece of info. I’m happy that you just shared this helpful info with us. Please stay us informed like this. Thanks for sharing.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: