jump to navigation

Perang September 1, 2008

Posted by anick in All Posts, Amerika, Kekerasan, Perang, Sejarah.
trackback

Ada sebuah pernyataan tentang perang yang seharusnya tak terlupakan, terutama ketika senjata masih terus diproduksi dan mesiu diledakkan dan manusia tak habis-habisnya sengsara: ”Tiap senjata yang dibuat, tiap kapal perang yang diluncurkan, tiap roket yang ditembakkan, menandai sebuah pencurian.”

”Pencurian” adalah kata yang mengejutkan. Tapi orang yang mengucapkannya, Dwight D. Eisenhower, tahu apa yang dikatakannya. Ia—satu-satunya jenderal yang jadi presiden Amerika Serikat pada abad ke-20—melihat dengan tajam bahwa ada hubungan erat antara ekonomi persenjataan dan peperangan, sebuah hubungan yang disebutnya sebagai ”kompleks militer-industri”. Bagi Eisenhower, tiap kali perang disiapkan dan tiap kali meletus, sesuatu yang berharga diambil dari ”mereka yang lapar dan tak dapat makan, mereka yang kedinginan dan tak dapat baju”. Permusuhan bersenjata menghabiskan keringat para buruh dan kecerdasan para ilmuwan. Korban tak hanya di medan tembak-menembak. Di bawah bayang-bayang perang, ”kemanusiaan-lah yang terpentang di sebatang salib besi”.

Eisenhower mengatakan itu pada 1953, kurang dari dua dasawarsa setelah perang besar menggerus dan mengubah Eropa dan Pasifik—sebuah perang tempat ia, sebagai prajurit, menyaksikan dan mengalami kegagalan dan kemenangan, seraya tahu bahwa di tiap medan tempur, kebrutalan, kebodohan, dan kesia-siaan tampak dengan jelas.

Kini tahun 2008. Di Irak dan Afganistan seharusnya semua itu juga jelas. Tapi orang Amerika telah memilih persepsi lain tentang perang: sebagai bagian prestasi kegagahan, patriotisme, sikap setia kawan, dan keluhuran budi yang sudi berkorban sehabis-habisnya.

Empat tahun yang lalu, John Kerry, calon presiden Partai Demokrat, kalah karena ia diragukan kepahlawanannya dalam Perang Vietnam. Tahun ini, calon presiden dari Partai Republik, John McCain, seorang yang berumur 72 tahun, bisa jadi akan dipilih karena nun di masa lalu dia ”pahlawan perang”. Sebaliknya Obama, yang tak pernah terlibat dalam perang apa pun, dan menjanjikan sebuah masa depan yang berbeda, diragukan kemampuannya sebagai ”panglima tertinggi”. Ia bisa kalah karena itu.

Kenangan bisa jadi aneh memang, dan masa lalu tak pernah datang sendiri. Sejarawan Inggris terkenal, Tony Judt, dalam The New York Review of Books (1 Mei 2008), mengatakan sesuatu yang tajam dan menukik dalam: ”Amerika Serikat kini satu-satunya demokrasi yang telah lanjut di mana tokoh-tokoh publik mengagungkan dan menjunjung tinggi militer, sebuah perasaan yang dikenal di Eropa sebelum 1945 tapi tak terasa lagi sekarang.” Para politikus Amerika, kata Judt pula, mengelilingi diri dengan ”lambang dan pajangan yang menandai kekuatan bersenjata”.

Judt menemukan sebabnya: perang belum pernah membuat Amerika remuk. Dalam pelbagai konflik abad lalu, Amerika tak pernah diserbu. Ia tak pernah kehilangan onggok besar wilayahnya karena diduduki negara asing. Bahkan, sementara AS amat diperkaya oleh dua perang dunia, Inggris kehilangan imperiumnya. Meskipun merasa dipermalukan dalam perang neokolonial di negeri jauh (di Vietnam dan di Irak), orang Amerika tak pernah menanggungkan akibat kekalahan secara penuh. Mereka bisa saja mendua dalam menyikapi aksi militer belakangan ini, tapi kebanyakan orang Amerika masih merasa bahwa perang yang dilancarkan negerinya adalah ”perang yang baik”.

Korban jiwa Amerika juga tak sebanyak korban negara lain. Menurut catatan Judt, dalam Perang Dunia I, jumlah prajuritnya yang tewas kurang dari 120 ribu, sementara Inggris 885 ribu, Prancis 1,4 juta, dan Jerman di atas dua juta. Dalam Perang Dunia II, sementara AS kehilangan 420 ribu tentara, Jepang 1,2 juta, Jerman 5,5 juta, dan Uni Soviet 10,7 juta. Di dinding granit hitam monumen Perang Vietnam di Washington, DC, tercantum 58.195 orang Amerika yang mati; tapi jumlah itu dihitung selama 15 tahun pertempuran, sementara, kata Judt, tentara Prancis kehilangan dua kali lipat hanya dalam waktu enam minggu.

”Perang”, akhirnya, adalah sebuah pengertian yang disajikan dari bagaimana sejarah dibicarakan. Kini orang Amerika percaya, sejarah telah terbagi dua: sebelum dan sesudah ”11 September 2001”. Semenjak itu, masa lalu dan masa depan pun ditentukan oleh apa yang tumbuh pada tanggal itu: sikap waspada, takut, malu, dan dendam yang berkecamuk pada hari-hari setelah para teroris menghancurkan dua gedung tinggi di Kota New York itu.

Yang dilupakan: sejarah lebih lama dan lebih luas ketimbang hari itu. Seperti ditunjukkan Judt, terorisme tak hanya terjadi pada 11 September 2001. Apokalips tak hanya terjadi ”kini”, dan tak hanya mengenai orang Amerika.

Dalam film Apocalypse Now, dari rimba Vietnam yang penuh kekejaman, Kolonel Kurtz memaparkan segala yang menakutkan, berdarah, absurd, edan, dan tak bertujuan. Pada akhirnya ia adalah sosok rasa ngeri dan kebuasan manusia, yang menyebabkan Perang Vietnam tak membedakan lagi mana yang ”biadab” dan yang ”beradab”. Di jantung kegelapan Sungai Mekhong, Kurtz dalam film Coppola pada 1979 itu adalah versi lain dari Kurtz di Sungai Kongo dalam novel Conrad pada 1899. Kita tahu ia manusia luar biasa. Tapi ia bagian dari konteks yang brutal.

Itulah perang, itulah kekerasan kolektif yang meluas. Hanya mereka yang melihatnya dari jauh yang akan bertepuk tangan untuknya tanpa mendengar bisikan terakhir Kurtz: The horror! The horror! Eisenhower, yang menyaksikan perang dari dekat, tahu: dalam perang, apa yang luar-biasa, yang terkadang disebut kepahlawanan, jangan-jangan terkait dengan ”kebrutalannya, kesia-siaannya, kebodohannya”.

~Majalah Tempo Edisi. 28/XXXVII/01 – 07 September 2008~

Komentar»

1. Arsene - September 2, 2008

Setuju dengan pandangan GM. Kalau saja semua pihak yang kini sedang berperang juga sepandangan, alangkah baiknya. Satu saja pihak yang tidak berpandangan demikian, perang selalu ada. Memaksa semua pihak untuk memeluk erat pandangan ini sungguhlah sulit. Mungkin perang memang tak ada habisnya.

2. dana - September 3, 2008

Pertanyaannya adalah :

Bisakah dunia tanpa perang?

3. Pahlawan Perang dan Gila » Batas Ruang - September 3, 2008

[…] Perang […]

4. ayu ferdian - September 3, 2008

Perang . . . kalo boleh berdoa pada Allah, dunia ini tanpa perang mungkin lebih indah. tapi toh allah menciptakan manusia itu baik, mungkin manusia sendiri yang membuat dirinya jadi buruk.
btw, Nice Info pak. . .

5. andre - September 3, 2008

inilah hasil kerja sistim kapitalisme, industri perang adalah industri paling cepat dan besar mendatangkan akumulasi kekayaan. dan mesin perang kerap di baris depan motif penguasaan kekayaan alam, penjajahan dan penghisapan

6. bambang - September 3, 2008

Amerika membutuhkan sosok-sosok pahlawan untuk negerinya. dan sosok pahlawan amerika tersebut diproduksi dari lapangan peperangan.

Amerika ingin tetap menjadi negara adikuasa. dan itu diperoleh dari hasil meng-invasi, menyerang negeri liyan.

tak ada “perang yang baik”. semua perang hanya menghasilkan korban dan ke-sengsaraan.

jadi inget apa yang dikatakan Karl May :

Ada ilmu tentang peperangan, baik teori maupun prakteknya.
Ada ilmu tentang perdamaian. Tapi hanya teorinya saja.
Semua orang tahu betapa perang dimaklumkan, tapi tak ada seorang yang tahu bagaimana cara memaklumkan perdamaian. Anda memiliki pasukan yang siap tempur senilai milyaran tiap tahunnya. Tapi dimana benteng-benteng perdamaian….

ah, betapa benar
betapa benar.

7. welink - September 5, 2008

Saat ini jamannya bukan perang fisik, tapi perang teknologi, informasi dan perang ilmu. Siapa yang punya ilmu dan wawasan intelektual bagus, dialah pemenangnya.

8. ariefdj™ - September 6, 2008

dunia tidak mungkin tanpa perang.. selama masih ada konflik kepentingan, selama masih ada keserakahan (menjarah hasil tambang/kekayaan negara lain-bw) , selama masih ada kesombongan, kebutuhan ekonomi (produsen2 senjata) , dst.. dan, semuanya itu tetap ada sampai akhir zaman.. yeah..

9. rozieth - September 14, 2008

saya siap “membantu” amerika, bukan sok, tapi benar, ini sedang dibutukan. bahwa amerika lagi tak ke-PD-an, ibarat orang tua jatuh yang gemetaran…

10. bams - September 15, 2008

Setidaknya Amerika mau dan menunjukkan rasa nasionalisnya, melindungi rakyatnya.meski ini terlihat konyol dan bodoh di mata dunia, memerangi bangsa lain dengan dalih perang yang baik. bagaimana dengan Indonesia? untuk jadi Tentara saja rakyat sendiri harus merogeh kocek/uang yang tidak sedikit, apalagi kalo ingin jadi jendral. lebih konyol lagi Jendral perangi rakyatnya sendiri.

11. ozhieth - Januari 7, 2009

bahwa ada hubungan erat antara ekonomi persenjataan dan peperangan, sebuah hubungan yang disebutnya sebagai ”kompleks militer-industri”……………….
………….diambil dari ”mereka yang lapar dan tak dapat makan, mereka yang kedinginan dan tak dapat baju”. Permusuhan bersenjata menghabiskan keringat para buruh dan kecerdasan para ilmuwan. Korban tak hanya di medan tembak-menembak. Di bawah bayang-bayang perang, ”kemanusiaan-lah yang terpentang di sebatang salib besi”………….
Teroris, Iraq, Korut, Iran,….umpan
agama buat baju
politik jadi basi
budaya entah kemana
bisnis-ekonomi SENJATA adalah jantung dan hati mereka.

12. mrex - Januari 6, 2010

yah sy stuju bngt dengt pendpt nya bams. dan pndpt sy yg ln, sy yakin klo seandainya indonesia ato negara lain yg ada di arab or afrika yg memiliki kemampuan n kekuatan sbanding yg dimiliki amerika skrng, pasti akn menggunakn kemampuan n kekuatan yg dimilikinya terhdp negara ln jg melebihi yg dlakukn amerika skrng. lht sj sdkt2 kita konflik dg ssama kita bangsa indonesia sndri baik it karna suku,agama,politk maupn mslh2 ln dg negara tetangga. jngn menylhkn pandngn bangsa ln yg sebenrnya qt jg punya ego yg sama. hanya mslhnya qt blm ato tidk memiliki kekuatn n kemampuaan yg dpt dtunjukkn untk menaklukn org ln..

13. yeamploow - April 19, 2011

gggg

14. yeamploow - April 19, 2011

qqqq

15. yeamploow - April 19, 2011

okeee

16. yeamploow - April 19, 2011

diip

17. yeamploow - April 19, 2011

aku like it

18. yeamploow - April 19, 2011

aku

19. Jual Brankas - Lemari Besi - April 22, 2011

semua manusia di mata Tuhan sama, tetapi kenapa harus ada sekelompok orang berprofesi tentara harus mempertaruhkan nyawanya di medan perang, sementara segelintir politikus dengan bermodalkan komando perang malah hidup dengan tenang. kasihan kalian wahai tentara.

20. sosdatenrettung - Agustus 8, 2014

Woah! I’m really digging the template/theme of this blog. It’s simple, yet effective. A lot of times it’s very difficult to get that “perfect balance” between usability and visual appeal. I must say that you’ve done a awesome job with this. In addition, the blog loads super quick for me on Firefox. Excellent Blog!
sosdatenrettung http://www.sos-datenrettung.com/

21. careers At Home University Reviews - September 19, 2014

With havin so much written content do you ever run into any problems
of plagorism or copyright violation? My site
has a lot of unique content I’ve either written myself or outsourced but it looks like a lot of it is popping it up all over the internet without my agreement.

Do you know any solutions to help stop content from being ripped off?
I’d truly appreciate it.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: