jump to navigation

Mukjizat September 8, 2008

Posted by anick in All Posts.
trackback

Mukjizat tak pernah datang tanpa mengecoh. Manusia punya kemampuan besar untuk membentuk khayal jadi janji—dan mempercayai janji itu setelah mengemasnya dengan ”iman” atau ”ilmu”.

Di zaman ”iman”, orang percaya akan deus ex machina, dewa yang keluar tiba-tiba dari ”mesin” dan menyelamatkan manusia dari tebing jurang bencana. Di zaman kini—persisnya di zaman ketika seorang bernama Heru Lelono hidup di dekat Presiden Indonesia, di masa ketika kata ”ilmu” & ”teknologi” sering membuat mata silau—orang pun percaya akan blue energy dan padi ”Super Toy HL-2”.

Tapi, untunglah, tak semua dan tak selamanya orang teperdaya. Mukjizat hanya laris ketika yang terkecoh dan yang mengecoh bersatu, ketika ada hasrat yang diam-diam mencekam, agar hari ini yang terpuruk dapat ditinggalkan dengan ”loncatan jauh ke depan”.

Padahal, sejarah tak pernah terdiri atas loncatan seperti itu. Hasrat buat mendatangkan mukjizat selamanya gawal, bahkan ketika ia didukung ”iman” yang bergabung dengan ”ilmu”.

Contoh yang terkenal adalah cerita Trofim Lysenko di Uni Soviet di masa kekuasaan Stalin. Pada 1927, dalam usia 29, anak petani Ukraina yang pernah belajar di Institut Pertanian Kiev ini menjanjikan mukjizat. Koran resmi Pravda (artinya ”Kebenaran”) menyebut Lysenko bisa ”mengubah padang gersang Transkaukasus jadi hijau di musim dingin, hingga ternak tak akan punah karena kurang pangan, dan petani Turki akan mampu hidup sepanjang musim salju tanpa gemetar menghadapi hari esok”.

Dengan proses yang disebutnya ”vernalisasi”, Lysenko mengklaim ia mampu membuat keajaiban itu. Partai yang berkuasa—yang selamanya ingin dengan segera dapat kabar baik—mendukungnya, dan Stalin mendekingnya. Tak seorang pakar pertanian pun yang berani membantah. Sejak 1935, Lysenko bahkan diangkat ke jabatan yang penting: memimpin Akademi Ilmu-ilmu Pertanian. Di sini ia bisa menggeser siapa saja yang tak menyetujuinya. Baru pada 1964, hampir sedasawarsa setelah Stalin mangkat, ilmuwan terkemuka Andrei Shakarov secara terbuka mengecamnya: Lysenko-lah yang bertanggung jawab atas kemunduran yang memalukan bidang biologi Uni Soviet, karena ”penyebaran pandangan pseudo-ilmiah”, bahkan penyingkiran dan pembunuhan para ilmuwan yang sejati.

Kehendak untuk mukjizat acap kali berkaitan dengan hasrat untuk super-kuasa: ”iman” atau ”ilmu” seakan-akan bisa membawa seseorang ke sana. Itu sebabnya mukjizat yang mengecoh tak hanya terbatas pada kasus macam Lysenko. Ada contoh lain dari Cina. Menjelang akhir 1950-an, Mao Zedong—yang beriman kepada sosialismenya sendiri dan merasa sosialisme itu ”ilmiah”—menggerakkan rakyat di bawah kekuasaannya agar membuat ”loncatan jauh ke depan”.

Mao ingin agar Cina yang ”terkebelakang” akan dengan waktu beberapa tahun jadi sebuah negeri industri yang setaraf Inggris. Caranya khas Mao: mobilisasi rakyat. Di pedesaan Cina yang luas, ribuan tanur tinggi untuk produksi baja dibangun dengan mengerahkan segala bahan yang ada. Hasilnya: baja yang tak bermutu. Sementara itu, di seantero Cina yang luas, selama dua tahun berjuta-juta petani telah dikuras tenaganya untuk itu, hingga sawah dan ladang telantar—dan kelaparan pun datang. Berapa juta manusia yang mati akibat itu, tak pernah bisa dipastikan.

Keinginan untuk mendapatkan mukjizat mungkin sebanding dengan tingkat putus asa yang menghantui mereka yang mendambakan deus ex machina. Manipulasi Lysenko terjadi ketika Uni Soviet menghadapi krisis pangan setelah ladang-ladang pertanian diambil alih negara dan panen gagal bertubi-tubi. Saya kira fantasi Mao tak bisa dipisahkan dari trauma macam yang pada 1928 dilukiskan dalam A Learner in China: A Life of Rewi Alley tentang bocah-bocah buruh perajutan sutra di Shanghai, yang berbaris panjang, berdiri selama 12 jam di depan kuali-kuali perebus kepompong yang mendidih.

Anak-anak berumur sekitar sembilan tahun itu menatap lelah, sementara jari tangan mereka bengkak memerah memunguti kepompong ulat sutra yang direbus itu. Para mandor berdiri di belakang mereka dengan cambuk kawat, tak jarang mendera bocah yang salah kerja. Ada yang menangis kesakitan. Di ruangan yang penuh uap dan panas itu, ”mereka terlalu sengsara untuk bisa dilukiskan dengan kata-kata”, tulis Alley.

Kita tahu, kesengsaraan itu juga tanda ketidakadilan. Dan memang tak mudah buat bersabar di hadapan itu. Maoisme berangkat dari kehendak menghabisinya, dengan rencana yang cepat dan tepat. Tapi apa yang ”tepat” dalam sejarah yang senantiasa bergerak, berkelok, dan tak jarang jadi kabur? Baik ”iman” maupun ”ilmu” acap kali membuat hal-hal jadi terlampau mudah diselesaikan. Apalagi jika, seperti dalam hal blue energy dan ”vernalisasi”, ada kekuasaan yang bersedia mendesakkan mukjizat itu.

Tentu saja harus dicatat: Indonesia hari ini bukan Uni Soviet di masa Lysenko, bukan pula Cina di masa Mao. Di sini ”iman” dan ”ilmu” tak dibiarkan memegang monopoli. Informasi mengalir leluasa, pertanyaan dan keraguan dengan bebas dinyatakan, dan tiap pengetahuan diperlakukan hanya sampai kepada tingkat pengetahuan, bukan kebenaran. Dan di sini, bahkan kantor kepresidenan tak bisa dan tak hendak membungkam perdebatan.

Mukjizat Lysenko dalam ilmu biologi berlangsung antara 1927 dan 1964, dengan korban yang tak sedikit. Mukjizat Mao lebih sebentar, tapi menghancurkan kehidupan jutaan manusia. Mukjizat blue energy dan ”Super Toy HL-2” lebih pendek umurnya. Mungkin kita perlu bersyukur. Kita masih bisa melihat keyakinan dan kepastian, ”iman” dan ”ilmu” sebagai kekuatan yang sementara.

~Majalah Tempo Edisi 29/XXXVII 08 September 2008~

Komentar»

1. Tondi - September 10, 2008

Sejatinya mukjizat tak pernah mengecoh, kecuali bila kita memperlakukannya lebih dari sekedar obat sakit kepala…

2. Ibra - September 10, 2008

Saya suka si Bapak ini kalo lg beraksi 🙂
dahsyat!

3. Ibra - September 10, 2008

“iman” rupa2nya selalu didasarkan pada keyakinan ttg “asumsi”. Bahkan kalau mau jujur, deskartes mestinya nulis: aku berpikir, maka aku berasumsi bahwa aku ada.

4. kawe shamudra - September 11, 2008

saya punya koleksi foto rumah tempat GM lahir dan menjalani asa-masa kecil di Batang. Rumah yang sederhana, kapan-kapan tak posting ke bloggu: penapantura.blogspot.com. Sedang tak persiapkan. Insya Allah

5. aprilfooltaiktasu - September 11, 2008

▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

BERITA BAIK!!!
Mari kita liat nich blog. keren abiss!

MARI MENCARI KEBENARAN

Masuk sini= http://mustahil-kristen-bisa-menjawabb.notlong.com

▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

6. Anna politkovkaya - September 12, 2008

dan ‘asumsi’ selalu berhubungan dengan dua hal yang kontradiktif, antara bayangan dan kenyataan. Kadang mereka mengatakan, tanpa ‘asumsi’ manusia hanya hidup seperti mesin yang tak pernah berfikir, tak punya niat untuk melakukan ‘Loncatan-jauh kedepan” namun sebaliknya, semakin kita terpaku pada “asumsi’ kita hanya jadi manusia yang selalu hidup dalam bayangan, dan tentu saja tetap jalan ditempat. Karna itu bagi saya takdir hanya ada pada saat saya lahir dan mati, karna keduanya tak datang dari sebuah ‘asumsi’ dan itu Mukjizat yang sebenarnya……

7. Pembaca Setia - September 12, 2008

Analisis GM sangat tajam dan mengena. Berminggu-minggu saya mencoba cari tahu tanpa hasil sebab kekonyolan blue energy and supertoy, ternyata dijawab GM dalam tiga menit saja dengan tulisan ini. Terima kasih untuk pencerahannya.

8. budipras007 - September 13, 2008

Tulisannya menarik Pak. Salam kenal

9. rozieth - September 14, 2008

kalau bangsa lagi se-bingung2-nya, tuhan akan mendatangkan petunjuknya, lha itu mukjizat dilemparkan oleh tuhan ke bangsa yang namanya ‘indonesia’, tanyalah; apa masih merdeka?

10. rozieth - September 14, 2008

HL; mungkin nabi. dia “nabi” punya sahabat, yang di-staff-kan jadi (mungkin) PRESIDEN…

11. geistijany - September 14, 2008

beruntung hidup kita masih didiami orang yg bilang bahwa ‘mukjizat’ tak lain adalah curiga atas mukjizat itu sendiri…bahwa tak ada kepastian selain ia kesementaraan belaka…bahwa tuhan tidak menurunkan mukjizat selain untuk sepotong masa dan tempat

12. jaka - September 15, 2008

Wah Pak GM nyebut nama orang dekat SBY. Minta spy dicopot ya Pak?🙂 Iya memang, dicopot saja. Bikin skandal pseudoscience macam2.

Di tempat lain, sedih saja, kenapa nama Sakharov yg disebut, bukan Vavilov, orang yg berani menentang di masa Stalin, dan karena itu diasingkan, sebelum sempat diselamatkan kolega2nya di barat.

13. Ibra - September 17, 2008

Saya tidak melihat ada yg kontradiktif

14. RYONO - September 22, 2008

Barangkali ini gejala makin merebaknya pola pikir irrasional publik, parahnya ini didukungoleh “atmosfer” berbangsa kita, bagaimana setip pemilu, publik dijejali iklan Ratu Adil, Ksatria Peningit, atau bagaimana kita lihat umat agama yang merasa eksistensinya terancam lantas penuh harap terhadap datangnya “Imam Mahdi”. Atau barangkali masyarakat kita sedang dilanda “inferiority complex”. dimana Hasil mesti dicapai dengan instan, meski harus melawan akal sehat dan kodrat Alam. Bagaimana misalnya Publik gandrung sekali dengan pemikiran Harun Yahya, –yang notabene terkenal sebagai pendakwah daripada saintis–macam Richard Dawkins dalam konteks Ilmu Evolusi, atau dulu misalnya AS HIKAM –ex menteri RISTEK pernah mengusulkan “teknologi” JIN dan Roh Halus masuk kurikulum IPTEK…

15. jaka - September 22, 2008

Bukankah Koentjaraningrat telah menunjukkan kepada kita sejak 30 tahun lalu bahwa memang mental bangsa ini adalah mental “serba instan” (istilah beliau : mental menerabas) ? Deja vu.

Tentang usul AS Hikam, itu tidak sepenuhnya “konyol”: ada aspek fisis tertentu yang dapat dipelajari dari teknik2 klenik dalam tradisi kita. Masalahnya, alat pendeteksinya sulit dibuat/mahal. Bukankah ahli2 (al)kimia di Eropa dulu juga berisiko dicap tukang sihir? Masalahnya adalah bagaimana seseorang menjaga cara pandang atas suatu gejala alam.

16. Ibra - September 22, 2008

Menurut saya, yang konyol itu harapannya. Entah itu tukang sihir, dukun, alkemis, joko- lelono, bahkan para filsuf, agamis dan saintis, mereka berharap bisa meloncat jauh. Padahal tak pernah ada loncatan jauh dalam sejarah. Semuanya berjalan pelan, dalam prosesnya malahan bisa tersesat dan tersungkur. Itu brgkl yg dimaksud tiap mukjizat punya usianya sendiri. Jadi menurut saya, masalahnya adalah iman yg berlebihan pada asumsi (baca: premis). Sedangkan bila premis2 itu digugat kembali, yg ada cuma nihilisme.😉

17. melao - September 28, 2008

mungkin sudah saatnya harapan pada “ilmu” dan “iman ” di pisahkan..
orang tak bisa mengharapkan hal yang sama pada dua hal yang berbeda……..
“iman” yang berlebihan pada “ilmu” bisa jadi hal yang naif..
sementara,
“ilmu” yang berdasarkan “iman” seringkali melahirkan hal2 yang menyesatkan dan konyol..:P


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: