jump to navigation

’In the Wee Small Hours’ Oktober 6, 2008

Posted by anick in All Posts, Pepeling, Sastra.
trackback

IZINKAN saya menulis tentang dinihari. Tentang jam-jam para insomniak, ketika malam sudah tak bisa disebut malam tapi pagi belum datang. Tentang orang-orang yang tak tidur, seperti kau dan aku, tak bisa tidur, mereka yang terpekur atau bengong atau bekerja apa saja, berdoa apa saja, mereka yang mencoba melupakan kesendirian, atau justru memasuki kesendirian.

Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru (sebuah e-mail datang dan kamu mengingatkan saya, mengutip Paulo Coelho), ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.

Kesementaraan, juga kelebihan. Barangkali kedua-duanya yang membuat dinihari mempertautkan manusia dengan yang kekal. Di biara yang jauh dari keramaian, para rahib bangun pukul 03.30 pagi. Masing-masing melakukan doa pribadi di bilik yang sempit. Pada pukul 04.00, misa bersama mulai.

Dan selama Ramadan, makan sahur dilakukan di saat itu pula. Orang bisa mengatakan, fisik kita perlu dijaga dengan beberapa suap nasi sebelum puasa 12 jam. Tapi jangan-jangan semua itu bukanlah buat kesehatan—makan di jam seperti itu justru tidak membantu metabolisme tubuh—melainkan buat merasakan hubungan antara yang indrawi, yang badani, dan transisi saat. Ketika kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga fana—dan tidakkah pengertian tentang ”fana” hanya bisa dimengerti jika ada yang ”bukan-fana”, jika disandingkan dengan yang abadi? Meskipun yang abadi tak pernah kita alami?

Dalam gelap dinihari, jika yang abadi bisa terasa hadir, mungkin karena ada hubungan antara keabadian dan kuasa, dan ada hubungan kuasa dengan misteri. Ia tak pernah bisa ditebak. Ia semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita—yang menyebabkan kita selamanya terbelah, antara kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas, antara kini yang hadir dan kelak yang kita tak pernah tahu.

Justru karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan kesementaraan. Gelap tak bisa mutlak. ”Aku tak takut gelap,” kau bilang. ”Dalam gelap aku bisa menemukan kedamaian.” Tapi mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah intermezzo di dunia yang diberondong cahaya. Ada cahaya surya yang tua, ada cahaya yang dibikin Thomas Alva Edison, ada cahaya bintang yang sporadis, ada kilau lampu-lampu iklan yang kian agresif. Maka gelap adalah selingan dari terang yang gaduh. Kita tahu terang telah jadi bagian dari proyek manusia menguasai bumi—yang tak membuat kedamaian hal yang lumrah.

Tapi tak selamanya gelap sebuah intermezzo. Ia bisa jadi awal putus harapan. Pada 1815, lebih dari separuh abad sebelum Krakatau, sebuah gunung di Nusantara meletus. Sampai setahun berikutnya, debu yang muncrat dari kepundan Tambora itu menutupi langit. Matahari terkurung cadar tebal. Bulan padam. Di Eropa, tahun berikutnya semacam perubahan cuaca terjadi. Tahun itu kemudian diingat sebagai ”tahun tanpa musim panas”. Pada tahun itu pula penyair besar Inggris Lord Byron menulis sebuah sajak yang memukau, Darkness.

…dan bintang-bintang

menggelandang di ruang kekal

tanpa sinar, tanpa jalur,

dan Bumi yang dingin

bergoyang, buta…

Terkurung gelap debu Tambora itu, pagi datang dan pergi, tak membawa siang. ”Morn came and went—and came, and brought no day.” Dan ombak mati, pasang berdiam di kuburnya, sementara Bulan, ”tuan putri mereka, telah padam sebelumnya.” Angin pun lingsut di udara yang tak bergerak, awan musnah. Tapi, tulis Byron, ”Gelap tak perlu bantuan dari mereka. Gelap adalah Alam Semesta itu sendiri. She was the Universe.”

Sedikit berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak. Sebab selalu ada jarak antara alam semesta dengan gelap dan terang. Itulah sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal, momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan.

Mungkin itulah kita bisa saling merindukan—kita yang lain, kita yang beda, kita yang mungkin belum pernah bertemu. Di jam-jam awal dari hari, di dinihari, ketika kita dengarkan dengan sedikit tergetar oleh kangen yang tak terelakkan Sting menyanyi, ”In the wee small hours of the morning.” Dan kita dengar trompet Chris Botti meningkah, dan terasa, semua yang akan berakhir sejenak seperti sesuatu yang abadi.

~Majalah Tempo Edisi 33/XXXVII 06 Oktober 2008~

Komentar»

1. aswin indraprastha - Oktober 14, 2008

Assalamualaikum,
Tak sengaja saya browsing untuk cari tahu info tentang catatan pinggir GM, akhirnya singgah ke sini. Terimakasih untuk semua infonya. Saya hanya ingin tanya, bagaimana caranya saya mendapatkan buku-buku dari penerbit Tempo, termasuk catatan pinggir? Bisakah saya beli secara online? Dimana saya bisa beli secara online buku-buku sastra Indonesia?
Maaf sudah merepotkan.

Terimakasih.

2. Ining’s Blog - Oktober 16, 2008

[…] In the Wee Small Hours’ […]

3. ROy - Oktober 17, 2008

jujur tulisan ini membuat saya merindukan gelap. merindukan saat-saat dimana saya bisa merasa begitu nyaman berdiam dalam gelap. gelap yang tak diartikan sebagai ketakutan, kekelaman atau ketersesasatan. tetapi, gelap yang mempertemukan saya dengan saya yang lain, dengan sisi lain dirimu, dirinya yang tak ditemukan dalam terang dan diri yang abadi. Tulisan ini telah menyadarkan saya bahwa selama ini saya yang selalu memilih terang bukan berada dalam keterang-benderangan. Saya malah terjebak dalam kesendirian, kesendirian diantara keramaian yang dingin.

4. zaval - Oktober 19, 2008

Seperti politik, segalanya bermula dari nafasMu yang bau..
tapi Gelap, dia tak dari mana-mana…

5. meLp - Oktober 21, 2008

Walau hidupku tidak selalu terang…namun aku tak ingin terlukis gelap (lagi)..
membaca tulisan ini di salah satu majalah pagi ini..

6. Haikal - Oktober 27, 2008

Saya mahasiswa biologi ITB. Sering kesulitan tidur. Banyak merenung pada prosesnya. Haha.
Saya sangat suka tulisan bapak. Terus menulis ya, pak.

7. Inu - Oktober 29, 2008

Saya tau tulisan Bapak dari teman saya Haikal. Ingin belajar banyak dari tulisan Bapak. Saya juga anak Biologi ITB. Sukses Pak! Saya tunggu tulisan Bapak.

8. hafid - November 18, 2008

kalo membaca tulisan ini, seperti pengakuan GM waktu Tempo edisi kecap dapur kemarin. GM, katanya, menjelang tengah malam mulai mengerjakan pisau editingnya sebagai pemred. Jadi mungkin ini rahasia GM, kalau hendak meretas kejernihan bahasa nan puitika, maka “in the wee of small hours” jawabnya. Hormat, GM!

9. melao - Desember 11, 2008

memang kegelapan bukan musuh….
banyak yang mengira dlaam kegelapan kita tak bisa melihat..
tapi justru dalam gelaplah kita bisa belajar untuk “melihat” tak handa dengan mata, tapi juga dengan rasa..

10. in « Swarahening - April 19, 2009

[…] ’In the Wee Small Hours’ Oktober 6, 2008 […]

11. uytu « Swarahening - April 19, 2009

[…] ’In the Wee Small Hours’ Oktober 6, 2008 […]

12. tr « Swarahening - April 19, 2009

[…] ’In the Wee Small Hours’ Oktober 6, 2008 […]

13. uiyi « Swarahening - April 19, 2009

[…] Posted by anick in All Posts, Pepeling, Sastra. trackback […]

14. ochidov - April 19, 2009

hari ini aku mencium “kegelapan” yang menjadi cemooh banyak orang.
tapi aku menyangkal, ketika aku peluk gelap itu menjadi jalan awal menuju yang semestinya tak terlihat.

15. podolisasi prima - April 20, 2009

from dawn to dust. twilight to starlight..
So Far Away. who are we?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: