jump to navigation

Tawa Oktober 20, 2008

Posted by anick in All Posts, Seni.
Tags:
trackback

Kau menyukai lelucon dan aku menyukai tertawa. Justru ketika kita menyadari, dengan sedikit sakit, harapan yang sulit dipenuhi, impian yang rasanya mustahil. Tampaknya lawak bisa juga sebuah tanda murung. Atau ketakmampuan mencapai. Atau kesia-siaan.

”Bawa masuk para badut!”, konon begitulah bisik di belakang panggung bila sebuah pertunjukan terasa jadi hambar dan harus diselamatkan, agar para penonton tak pergi. Send in the clowns!, kata lagu terkenal dalam musikal Broadway Little Night Music pada 1973—sebuah lagu yang dinyanyikan saat tokoh lakon ini, Desirée, terduduk bersendiri, sadar ia telah salah pilih dan kini ditinggalkan orang yang sebenarnya dicintainya. Seperti yang dikatakan sang komponis, Stephen Sondheim: ini ”sebuah lagu sesal dan amarah”.

”Bawa masuk para badut!”. Tapi seperti dicantumkan di akhir lagu itu, disadari bahwa para badut sebenarnya tak diperlukan datang. ”Don’t bother, they are all here”. Mereka sudah di sini; mereka adalah kita sendiri.

Kita: badut. Antara ”kita”, ”badut” dan ”kekonyolan”—sebagaimana antara ”clown” dan ”fool” dalam teater Shakespeare—terdapat pertautan. Di simpul itu tampak bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang peyot, meskipun tak putus-putusnya menarik. Keadaan peyot yang dilihat bukan dengan rasa kesal itulah yang membuat kehidupan tak membuka jalan bagi sifat takabur. Hal itu agaknya perlu ditegaskan lagi kini, di masa ketika kita kecewa kepada para tokoh, dan menghasratkan pahlawan datang, sementara, seperti hari-hari ini, dunia tetap tak bisa dibuat tenteram penuh.

Pada sifat peyot yang menarik itulah terletak humor. Humor, kata Simon Critchley dalam Infinitely Demanding, ”mengingatkan kita akan sifat rendah hati dan keterbatasan kondisi manusia”. Dengan kesadaran akan keterbatasan itu kita menemui manusia dengan mengakui sifatnya yang ”komikal”, comic acknowledgment, bukan dalam sifatnya dalam posisi sebagai pahlawan tragedi. Kita akan melihat diri kita, manusia, lebih sebagai Petruk atau si Kabayan ketimbang sebagai Bhisma atau Kumbakarna.

Memang perlu kematangan tersendiri untuk mendapatkan perspektif itu. Bertolak dari makalah Freud tentang humor, Critchley memperkenalkan satu faktor dalam kesadaran manusia, yang disebutnya ”super-ego II”. Kita ingat, dalam psikoanalisis Freud ”super-ego” adalah Sang Penguasa yang Keras yang menghuni kesadaran manusia: ia pengawas, pengendali, dan penindak yang menyebabkan ego patuh kepada hukum ajaran moral masyarakat. Tapi ”super-ego” pula yang dengan demikian menyebabkan ego tertekan dan menderita.

Tapi Freud tak berhenti di situ. Dalam makalah bertahun 1927, ia menyebut kemungkinan hadirnya ”super-ego” yang bukan lagi Sang Penguasa Yang Streng. ”Super-ego” inilah yang hadir dalam humor, yang ”berbicara dengan kata-kata yang ramah yang menghibur kepada si ego yang ketakutan”. Itulah yang disebut Critchley sebagai ”super-ego II”.

Jiwa manusia akan lebih sehat, tak dirundung takut dan didera rasa bersalah yang habis-habisan, jika ”super-ego” yang lain ini tak dibungkam. Dengan kata lain: jika humor tak dimatikan dan tawa serta permainan tak diharamkan. Dengan kata lain, jika manusia mengakui ada yang lucu dalam ketaksempurnaannya, tapi dengan pengakuan itu ia jadi akrab. Itulah saat ketika kita tak didera untuk jadi Prometheus yang menantang dewa dan dunia, mengalahkan apa yang di luar.

Maka bukankah pemeo populer itu benar, bahwa tertawa itu sehat? Yang sehat adalah yang hidup dan tumbuh dan bekerja terus dalam keterbatasan, seperti cinta yang tak diakui tapi tulus.

Dari sini, kita bisa merayakan apa yang mungkin gagal tapi indah, menyambut apa yang tak tentu tapi pada tiap detik memberi alasan untuk hidup yang berarti.

Majalah Tempo Edisi 35/XXXVII 20 Oktober 2008~

Komentar»

1. Pembaca Setia - Oktober 21, 2008

Mungkin lebih baik lagi gila karena untuk tertawa tak butuh usaha.

2. Ibra - Oktober 21, 2008

Ada kata2 Nietzsche dalam Twilight of the idols yg bikin saya ketawa keras sampe2 ga sadar mata berair. Dia bilang : manusia tidak mengejar kebahagiaan, cuma orang inggris yang begitu…
Kita tidak pernah tahu apa hidup kita berarti atau tidak, kita juga kadang hanya bisa tersenyum kecut memandang hidup yg malah terlihat seperti komedi tragis itu. Tapi di situ juga kita tahu bahwa cinta memang ada…ya, dia ada…

3. Ibra - Oktober 21, 2008

O, betapa absurd ketidak-sadaran yang menyadari ketidak-sadarannya sendiri… betapa tragis kita mentertawakan lelucon yg yg bahan lawakannya adalah kita sendiri…o, betapa tidak! Betapa aku dan kau!

4. zaval - Oktober 22, 2008

haha…
tawaku ini sungguh tawa yg melupakan…
tawaku ini begitu murni…
haha…
bukan sebab lantaran kota2 menjadi rimba poster dan spanduk penuh tampang-tampang sok bijaksana…
bukan pula sebab dunia gemetar lantaran pasar terkapar…
bukan sebab pula iklan, komedi partai, ataupun berita-berita yg melulu..
haha…
tawaku ini tawa atas diriku sendiri…hahahahahahaha

5. Caleg Indonesia - Oktober 22, 2008

bagaimana kalau yang mendefinisikan tertawa itu sebuah institusi? Depkes misalnya??? dengan publikasi penelitiannya bahwa 1 diantara 4 orang Indonesia itu gila! masihkah kita bisa tertawa

6. adminblogfsifeunand - Oktober 22, 2008

😀

…ya, paling tidak, ada sedikit kebahagiaan dalam tawa.
kapan ya Indonesia bisa tertawa?
begitu banyak kesempitan menghimpit rakyatnya…

7. Mihael "D.B." Ellinsworth - Oktober 22, 2008

Bagai bercermin dan tergelak melihat muka masam yang tercetak di depannya ?:mrgreen:

8. Gaia - Oktober 24, 2008

Kadang di balik gelak tawa yg lepas, si dia menyembunyikan duka yg dalam.
Semakin senja usia si manusia, garis-garis (guratan) yang membekas di wajah makin tampak… dan konon katanya kerutan di wajah yg muncul dari tawa2 tempo doeloe,justru terlihat memperindah (baca: lebih cantik/ lebih tampan).
Aku hanya ingin bisa mengulang tawa..yg lepas, tanpa topeng.

9. zaval - Oktober 24, 2008

jangankan 1 dari 4…gila semuanya aja sekalian…dengan begitu, masih dapatkah kau tegang dan cemberut wahai para calon caleg ???…haha

10. timur matahari - Oktober 26, 2008

salam.. bertandanglah.. ada kopi dan ubi bermain kata..
janganlah segala dingin curiga pada reda
sebelum terbuka mata cahaya

11. Ajaran - Oktober 26, 2008

Maju aza terussss…
Tidak ada yang absurd dalams ebuah perjuangan, hanya perlu keyakinan

12. Ibra - Oktober 26, 2008

Keyakinan apa? Perjuangan apa? Ke mana lagi subjek tidak otonom itu mau minggat?😉

13. ayam - Oktober 27, 2008

ada lowongan nih??

14. fsiekonomi.multiply.com - November 29, 2008

di sela-sela multi krisis melanda indonesia; mungkin, perlu ada sedikit tawa ceria di wajah anak bangsa.

15. fathur - Desember 14, 2008

mungkin manusia tertawa karena terlalu sakit untuk tersenyum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: