jump to navigation

Kaki Langit Oktober 27, 2008

Posted by anick in All Posts, Identitas, Indonesia, Nasionalisme, Sejarah.
trackback

DI makam pahlawan tak dikenal, kita diberi tahu: ada seorang yang luar biasa berjasa, tapi ia tak punya identitas. Ia praktis sebuah penanda yang kosong. Tapi hampir tiap bangsa, atau lebih baik: tiap ide kebangsaan, memberi status yang istimewa kepada sosok yang entah berantah yang terkubur di makam itu.

Orang yang pertama kali melihat fenomen itu adalah Benedict Anderson. Dalam Imagined Communities-nya yang terkenal itu, ia menulis: ”Betapapun kosongnya liang lahat itu dari sisa-sisa kehidupan yang fana dan sukma yang abadi, tetap saja mereka sarat dengan anggitan tentang ’kebangsaan’ yang membayang bagai hantu.”

Barangkali sebuah bangsa memang harus selalu menyediakan ruang kosong untuk sebuah cita-cita. Seperti kita memandang ke kaki langit yang sebenarnya tak berwujud, tapi kita ingin jelang. Sekaligus, barangkali sebuah bangsa membutuhkan bayangan yang bagai hantu tentang dirinya: antara jelas dan tak jelas.

Pahlawan Tak Dikenal. Pahlawan Kita. Antara ”tak dikenal” dan ”kita” ada pertautan dan juga jarak. Ia yang gugur itu adalah seorang yang sebenarnya asing—bukan yang dalam bahasa Inggris disebut foreigner, melainkan stranger—tapi ia juga bagian terdalam dari aku dan engkau. Jika tampak ada yang bertentangan di sini, mungkin itu juga menunjukkan bahwa sebuah bangsa—seperti yang dimaklumkan oleh Sumpah Pemuda pada 1928 itu—memang mengandung ketegangan dan keterpautan antara yang asing dan yang tak asing dalam dirinya sendiri.

Seperti sang pahlawan yang tak dikenal itu: yang termasuk dalam ”kita” tak selamanya datang dari puak kita. Salah satu anasir dalam bangsa bisa bekerja untuk unsur yang lain, meskipun keduanya tak saling kenal betul, bahkan ada saat-saat ketika yang satu disebut ”asing” oleh yang lain. Itulah sebabnya kepeloporan para pendiri Indische Partij tak dapat dilupakan: ”orang Indonesia” adalah orang yang bisa melintasi batas, menemui yang ”asing”, untuk jadi satu—tapi di situ ”satu” sebenarnya sama dengan yang tak terhingga. Sebab sebuah bangsa yang tak didefinisikan oleh ikatan darah adalah sebuah bangsa yang selalu siap menjangkau yang beda—dan yang beda tak bisa dirumuskan lebih dulu, tak bisa dikategorisasikan kemudian. Ia tak tepermanai.

Seperti pahlawan tak dikenal itu: ia memberikan hidupnya buat kau dan aku, tapi ia bukan bagian kau dan aku.

Maka tak aneh jika dalam semangat kebangsaan, tersirat sebuah paradoks: sesuatu yang universal ada di dalamnya. Sebab sebuah bangsa pada akhirnya hanya secara samar-samar, seperti hantu, bisa merumuskan dirinya sendiri. Yang penting akhirnya bukanlah definisi, melainkan hasrat. Renan menyebut bahwa bangsa lahir dari ”hasrat buat bersatu”, tapi seperti halnya tiap hasrat, ia tak akan sepenuhnya terpenuhi dan hilang. Hidup tak pernah berhenti kecuali mati.

Dalam hal itu, orang sering lupa bahwa bangsa sebenarnya bukan sebuah asal. Ia sebuah cita-cita—dan di dalamnya termaktub cita-cita untuk hal-hal yang universal: kebebasan dan keadilan. Bangsa adalah kaki langit.

Kaki langit: impian yang mustahil, sulit, tapi berharga untuk disimpan dalam hati. Sebab ia impian untuk merayakan sesuatu yang bukan hanya diri sendiri, meskipun tak mudah.

Sebuah bangsa adalah sebuah proses. Jangan takut dengan proses itu, kata orang yang arif. Tak jarang datang saat-saat yang nyaris putus harapan, tapi seperti kata Beckett dalam Worstward Ho, ”Coba lagi. Gagal lagi. Gagal dengan lebih baik lagi.”

~Majalah Tempo Edisi 36/XXXVII 27 Oktober 2008~

Komentar»

1. adminblogfsiekonomi - Oktober 27, 2008

pahlawan tak dikenal.

dikenal ataupun tidak.
di era perjuangan kemerdekaan ataupun di era “pengisian” kemerdekaan.
tua ataupun muda.
pena ataupun darah.

….
ikhlas adalah salah satu pre-eliminary indicator seseorang/sekelompok orang dapat disebut sebagai pahlawan/pahlawan2.

tentu harus berpijak pada dimensi amal.
spektrum perbuatan kepahlawanan yang bermanfaat.
rahmat bagi semua.
menjadi kebaikan.
tumbuh dan dipanen di alam akhirat.

semoga mereka yang mendukung ruu pornografi adalah pahlawan2 itu. yang tak perlu dikenal. implementasi ruu itulah yang mesti lebih populer. semoga.

ah, perspektif lain.

2. tempo - Oktober 28, 2008

Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Dalam aturan resmi Indonesia, pahlawan nasional Indonesia adalah:
1. warga negara RI yang gugur dalam perjuangan yang bermutu dalam membela bangsa dan negara,
2. warga negara RI yang berjasa membela bangsa dan negara yang dalam riwayat hidup selanjutnya tidak ternoda oleh suatu perbuatan yang membuat cacat nilai perjuangannya.

merny - Oktober 29, 2009

Pahlawan akankah itu kita………………………………………namun Pahlawan dharapkan tuk bangsa dan agama jg.

3. (Seharusnya) Hari Sumpah Pemuda - Journal by The Lightbeamers, MD. - Oktober 28, 2008

[…] Kaki Langit […]

4. Ibra - Oktober 28, 2008

Sesuatu yg universal dalam semangat kebangsaan menyiratkan paradoks. Dan bukan cuma itu, bahkan ide2 tentang yg universal juga menyimpan ironinya sendiri. Menurut saya, yg jadi hantu sebetulnya adalah identitas. Ia tak pernah berhenti membuat kategori, persis seperti komentar tempo di atas.

5. joe - Oktober 31, 2008

pahlawan sejati tidak pernah perduli pada sebutan pahlawan. Pahlawan sejati tidak perduli puja dan puji

6. ochit - November 1, 2008

aku menaruh janji pada sebatang ranting yang bertonggak di musim kemarau, sebentar akan terik dan meranggas tanah yang akan menerimaku.

7. Gaia - November 3, 2008

Hi Joe, tempo doeloe mungkin msh kental alias msh sangat berlaku apa yang kau tulis ini :
“pahlawan sejati tidak pernah perduli pada sebutan pahlawan. Pahlawan sejati tidak perduli puja dan puji”

Sorry to say, tapi menurut aku zaman skarang justru yg kental terjadi adl yang bukan pahlawan mengaku-aku diri sebagai Pahlawan negeri ini. Aaahh.. bangsa ini tak perlu berjubel pahlawan kesiangan (more than enough !)

Pahlawan…

8. tiphit - November 4, 2008

Pahlawan….anak bangsa yg berjuang dg gagah demi tanah tumpah darahnya…

9. Fa - November 11, 2008

Pwuiff, negeri ini butuh pahlawan, yang berbuat, nggak hanya sekedar berdebat

10. fsiekonomi.multiply.com - November 29, 2008

well, just to add another opinion; no hero but true faith (islam) fighter.

11. amir - Desember 14, 2008

sadar diri bahwa dia hanyalah seonggok sesuatu yang kurang penting..dalam segala kepahlawanan yang sudah dilakoninya setiap hari..namun terus dia berbuat untuk meruwat bumi pada setiap jengkal tanah yang di tanaminya..untuk meneruskan untuk meneruskan generasi bangsa manusia…untuk sebuah identitas kebudayaan-nya- sebagai kaum perawat bumi..kaum tani.

12. Pink - Desember 13, 2009

Makasih Kalakas.

13. MagicStix - Desember 13, 2009

Salam kenal semua dari MagicStix.

14. kota salju - Januari 4, 2012

ternyaaaaaata bangsa itu bukan sebuah asal tapi sebuah cita-cita, jadi yg penting bukan kesamaan asal tapi kesamaan citaa-citanya (visi/misinya). identitas memang hantu. selalu mencoba membuaat kategori dan merumuskan orang lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: