jump to navigation

Connie November 3, 2008

Posted by anick in Agama, All Posts, Amerika, Kapitalisme, Kebebasan, Kisah, Novel, Pornografi, Sastra.
trackback

Tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan.

Saya ingat satu pasase dalam Lady Chatterley’s Lover: perempuan itu mengalami ajaibnya gairah dalam persetubuhan. Dalam pagutan berahi kekasihnya, ia merasa diri ”laut”. Ia deru dan debur, samudra dengan gelombang gemuruh yang tak kunjung putus. ”Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah….”

Apa yang masuk menyusup ke dalam dirinya ia rasakan kian lama kian dalam. Bertambah berat empasan, bertambah jauh pula ia jadi segara yang berguncang sampai di sebuah pantai. Baru di sini deru reda, laut lenyap. ”Ia hilang, ia tak ada, dan ia dilahirkan: seorang perempuan.”

Saya tak sanggup menerjemahkan seluruh pasase ini. Di sini D.H. Lawrence sungguh piawai: ia uraikan suasana erotik dalam novelnya dalam kalimat dengan ritme yang naik-turun, membawa kita masuk ke paduan imaji-imaji yang, seperti gerak laut, tak putus-putus, berulang-ulang….

Agaknya Lawrence, seperti kita semua, harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk menggambarkan sesuatu yang tak mungkin tergambarkan: pengalaman tubuh ketika kata belum siap, gejolak zat-zat badan ketika bahasa belum menemukan pikiran.

Seorang sastrawan memang selalu dirundung oleh bahasa yang ingin ekspresif tapi juga ingin komunikatif—dua dorongan yang sebenarnya bertolak belakang. Yang pertama dituntut untuk mengungkapkan langsung apa yang berkecamuk di lubuk kesadaran, yang tak selamanya jelas dan urut. Yang kedua diminta agar berarti: sesuai dengan kesepakatan sosial dan membawa hasil.

Lawrence mampu menggabung kedua dorongan itu di bagian yang dikutip tadi, tapi bagi saya sebagai novel Lady Chatterley’s Lover terasa lebih digerakkan keinginan untuk menyatakan sebuah pendirian. Kalimatnya lebih komunikatif ketimbang ekspresif. Pertautannya dengan bahasa (untuk tak menyebut ketaatannya pada pesan dan tema) berbeda dengan misalnya Cala Ibi Nukila Amal atau Menggarami Burung Terbang Sitok Srengenge, dua novel yang, dengan bahasa yang puitik, tak hendak mengubah pandangan kita tentang hal-ihwal.

Lady Chatterley’s Lover memang sebuah kritik sosial; ia hendak meyakinkan kita tentang muramnya masyarakat Inggris sehabis perang pada 1920-an. ”Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolak untuk menyikapinya dengan tragis,” begitulah novel ini dimulai. ”Kita ada di tengah puing, kita mulai membangun habitat baru kecil-kecilan, untuk mendapatkan harap baru sedikit-sedikit.”

Dalam novel itu, puing itu sampai ke pedalaman. Masyarakat terjebak lapisan-lapisan kelas, dan industrialisasi yang mulai merasuk, juga peran uang, membuatnya lebih buruk.

Kritik novel ini tersirat dalam tokoh Constance Chatterley. Ia kawin dengan Sir Clifford, tuan tanah dan bangsawan pemilik tambang. Lelaki ini luka dalam perang. Ia bukan saja lumpuh, juga impoten, dan hanya menunjukkan kelebihannya bila ia mulai memimpin bisnisnya. Tampaknya perang, industrialisasi, kapitalisme—dan patriarki—menebarkan racunnya dan membuat hidup perempuan itu, Lady Constance (”Connie”), terpojok. Kesepian, bosan, hampa, dan tertindas, ia akhirnya menemukan kembali gairah hidup sebagai perempuan ketika ia disetubuhi Melleors, game keeper Sir Clifford, lelaki yang tinggal menyendiri di sebuah gubuk di tanah luas itu, mengurusi burung-burung yang esok pagi akan dilepaskan terbang untuk jadi sasaran tembak sang majikan.

Connie hamil dari hubungan gelap itu. Tapi ia tak takut. Ia memang menghendaki seorang anak, meskipun percintaannya dengan lelaki kelas bawah itu bukan dimaksudkannya hanya untuk beroleh keturunan. ”Aku bukan hendak memperalatmu,” bisiknya di tempat tidur. Mereka saling mencintai. Pada akhirnya Connie meminta cerai dari Sir Clifford, tapi ditampik. Kisah ini selesai seperti tak selesai: Connie dan Melleors menanti.

Agaknya apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani dengan perbuatan, dan tak seorang pun dihukum. ”Bukan salah perempuan, bukan salah percintaan, bukan salah seks,” begitulah novel ini bicara. ”Kesalahan itu di sana, di luar sana, dalam sinar keji cahaya listrik dan gemeretak iblis mesin-mesin. Di sana, di dunia di mana kerakusan bergerak seperti mesin… dan kerakusan menghasilkan mesin… di sanalah terhampar mala yang luas itu, siap untuk menghancurkan apa saja yang tak mau menyesuaikan diri. Ia akan segera menghancurkan hutan, dan bunga kecubung ini tak akan bersemi lagi.”

Dibaca pada awal abad ke-21, protes seperti ini—ketika yang erotik, yang lemah, dan yang halus dalam diri manusia diancam dunia modern—tak mengejutkan lagi. Bahkan bahasa Lawrence juga segaris dengan kehendak dunia modern yang ditentangnya, yang serba mengutamakan pikiran dan hasil, bukan persentuhan yang melibatkan tubuh dalam pengalaman. Tapi juga ketika dibaca pada awal abad ke-20: Lady Chatterley’s Lover hanya dianggap karya pornografis. Ditolak di mana-mana, pada 1928, hanya seorang penerbit Italia yang menerimanya; ia tak begitu paham bahasa Inggris.

Dengan segera novel ini laris dan dikejar-kejar. Yang paling ramai di AS, dengan warisan puritanisme Kristen yang awet dan semangat kapitalisme yang, seperti digambarkan Lawrence, ”rakus… seperti mesin” itu, yang melihat tubuh perlu berdisiplin baja dan gairah seks sebagai ”dosa”, yakni energi yang tak produktif.

Maka pemilik toko buku yang menjual Lady Chatterley’s Lover pun dibui, kantor pos menolak mengirimkan novel itu, dan Presiden Eisenhower menganggapnya bacaan yang ”dreadful”. Baru pada akhir 1950-an pengadilan menganggap karya itu tak pornografis.

Anehkah bila bertemu agama dan kapitalisme, juga komunisme, yang rezim-rezimnya melarang Lady Chatterley’s Lover? Tidak. Bagi mereka, tubuh kita hanya penting sepanjang bisa dibuat berguna bagi yang mahakuasa, apa pun namanya.[]

~Majalah Tempo Edisi 37/XXXVII 03 November 2008~

Naskah ini pernah dimuat di Tempo edisi 26 Maret 2006

Iklan

Komentar»

1. Gaia - November 3, 2008

Aku belum baca buku Lady Chatterley’s Lover (sayangnya). Namun aku sudah berkali2 menikmati film nya. Dan sungguh bersyukur karna film itu bisa ada di Indo.

Hati-hati.. jangan2 film itu bisa dicekal dgn UUP karna sangat ‘sexy’ & ‘hot’. hehehe

2. harlockwords - November 5, 2008

please visit my site
need advise

3. Gaia - November 6, 2008

Harlockwords, where should I visit your site…?

4. muh amin - November 7, 2008

Hot banget tuh……..tapi kalau ini HOT BENER…!
AIR MURNI DAPAT DIRUBAH MENJADI API, Gila nggak…! Lama kelamaan Premium tidak akan laku karena mahal.

5. ricky manix - November 7, 2008

bukankah UU Pornografi juga akan menjelma sebagai pisau arit panjang yang siap menebas kepala seperti D.H. Lawrence. dimanakah letak definisi kebenaran itu berada?

6. ronitoxid - November 8, 2008

iya
aku anak liar, kata seorang teman
tapi ketika melihat bening mata seorang anak kecil
aku tak tega menularkan kegilaan dan keliaran ini padanya
cukup aku memendam sisi hitam dalam-dalam
tak perlu diumbar apalagi dipertontonkan

Maka kenapa kita menolak UU pornografi
disaat kita tak pernah bisa melihat dalam mata bening anak kecil yang yadi saya temui?

Aku (tadinya) sependapat dengan anda (kaum seniman atau pemuja kebebasan buta) karena imajinasiku mungkin lebih liar daripada sodara2 semua
Tapi akhirnya semua kembali bahwa kacamata orang tak mungkin sama
Biar hancur luluh kacamataku
Tapi jangan hancurkan kacamata anak-anak indonesia yang baru belajar membaca tetapi sering disuguhi adegan erotis atau perdebatan bodoh orang2 yang merasa dewasa!

re-think!

7. yayasan langit - November 10, 2008

Menolak UU Pornografi bukan berarti anti pornografi,bung. yang ditolak itu UU-nya. defenisi pornografi memiliki makna kebenaran disetiap subjek yg menerimanya. kebenaran itu tidak bisa digeneralkan. kalau mau berbicara moral, perbaiki dulu moral para pejabat kita yang selalu memamerkan aurat kebohongan, ketidakjujuran, dan ketidakpedulian. itu yang sudah meluluhlantakan bangsa ini. bangsa yang menjadi cita2 anak2 Indonesia.

8. Peter - November 10, 2008

Here is proof (video): Chief Police Officer lied. FRU charged during Negara Ku. Please tell the world

9. harlockwords - November 10, 2008

di
harlockwords.wordpress.com

10. zaval - November 15, 2008

ah….kita ini bangsa yg tolol….jadi, hindari razia KTP ? haha

11. ochit - November 16, 2008

tidak lebih dari sedikit “munafik” atau mungkin sok lah dengan uuP, ehm, tak ada yang tak suka “buah” apapun bentuknya, dari jabang bayi sampai tua keladi, semua peduli.dengan ambisi atau lebih tepatnya dikatakan mimpi bagi yang ingin syari’at tegak di bumi pertiwi ini, sekiranya diterima uuP di bumi sedangkan padanya tak peduli, ehm, moral kok dikoar. begitu…

12. egia - November 27, 2008

menarik… untuk mengkaji kebutuhan manusiawi manusia.

13. fsiekonomi.multiply.com - November 29, 2008

gee, it’s weird, surely, if religion (i mean islam; i don’t know about other religions) “meets” communism etc. different logic and concept. and, also, different value. can gold compared to rubbish? nope. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: