jump to navigation

Di Zaman yang Meleset November 24, 2008

Posted by anick in All Posts, Amerika, Bencana, Ekonomi, Tokoh.
trackback

KATA sebuah kisah, John Maynard Keynes pernah membuang sebakul handuk kamar mandi ke lantai di tengah sebuah pembicaraan yang serius. Orang-orang terkejut. Tapi begitulah agaknya ekonom termasyhur itu menjelaskan pesannya: Jangan takut berbuat drastis, untuk menciptakan keadaan di mana bertambah kebutuhan akan kerja. Dengan itu orang akan dapat nafkah dan perekonomian akan bisa bergerak.

Waktu itu Keynes sedang berceramah di Washington DC pada 1930-an. Krisis ekonomi yang bermula di Amerika Serikat pada 1929 telah menyebar ke seluruh dunia. ”Depresi Besar”—dengan suasana malaise—berkecamuk di mana-mana. Di Indonesia orang menyebutnya ”zaman meleset”.

Kata ”meleset” sebenarnya tak salah. Prediksi yang dibuat, juga oleh para pakar ekonomi, terbentur dengan kenyataan bahwa dasarnya sebenarnya guyah. ”Kenyataan yang sangat menonjol,” tulis Keynes, ”adalah sangat guyah-lemahnya basis pengetahuan yang mendasari perkiraan yang harus dibuat tentang hasil yang prospektif.” Kita menyamarkan ketidakpastian dari diri kita sendiri, dengan berasumsi bahwa masa depan akan seperti masa lalu. Ilmu ekonomi, kata pengarang The General Theory of Employment, Interest, and Money yang terbit pada 1936 itu, hanyalah ”teknik yang cantik dan sopan” yang mencoba berurusan dengan masa kini, dengan menarik kesimpulan dari fakta bahwa kita sebetulnya tahu sedikit sekali tentang kelak.

Yang menarik di situ adalah pengakuan: manusia—juga para pakar—tak tahu banyak tentang perjalanan hidupnya sendiri. Kita ingat ucapan Keynes yang terkenal bahwa yang pasti tentang kelak adalah bahwa kita semua akan mati. Hidup dan sejarah, menurut Keynes, terdiri dari proses jangka pendek, short runs.

Ada seorang mantan redaktur The Times yang pernah menulis bahwa kesukaan Keynes akan jangka pendek hanya akibat ketakmampuannya menghargai nilai yang berlanjut beberapa generasi. Dan ini, kata penulis itu, disebabkan sifat seksualitasnya: Keynes seorang gay.

Memang benar, sejak muda, terutama ketika ia masih bersekolah di Eton, Keynes hanya berpacaran dengan sesama pria, meskipun ia kemudian menikah dengan Lydia Lopokova, balerina asal Rusia. Tapi tak jelas benarkah ada hubungan antara tendensi seksual itu dan teori ekonominya—yang sebenarnya juga sebuah teori tentang manusia.

Manusia adalah makhluk yang bisa meleset dalam memperkirakan, tapi dalam teori Keynes, manusia bukan peran yang pasif. Sejak Adam Smith memperkenalkan pengertian tentang ”Tangan yang Tak Tampak”, yang mengatur permintaan dan penawaran, para ekonom cenderung memberikan peran yang begitu dominan kepada Sang Pasar. Tapi Keynes ragu.

Sejak 1907, sejak ia bekerja untuk urusan koloni Inggris terbesar, India, Keynes tak begitu percaya bahwa dengan mekanisme yang tak terlihat, pasar akan bisa memecahkan problemnya sendiri. Pasar, kata Keynes, ”akan tergantung oleh gelombang perasaan optimistis atau pesimistis, yang tak memakai nalar tapi sah juga ketika tak ada dasar yang solid untuk sebuah perhitungan yang masuk akal”.

Tapi kemampuan untuk bertindak ”tak memakai nalar” adalah satu sisi dari manusia. Sisi lain adalah kapasitasnya untuk mengendalikan pasar. Abad ke-20 bagi Keynes adalah ”era stabilisasi” yang mencoba mengganti ”anarki perekonomian” dengan pengarahan dan kontrol atas kekuatan-kekuatan ekonomi, agar tercapai keadilan dan stabilitas sosial. Keynes percaya: kekuatan politik, khususnya Negara, bisa berperan besar ke arah sebuah hasil yang positif, dan perencanaan ekonomi sedikit banyak diperlukan.

Adakah ia seorang ”etatis”? Saya pernah membaca seorang penulis yang menunjukkan bagaimana Keynes, dalam kata pengantar untuk terjemahan Jerman atas bukunya, The General Theory, menyatakan bahwa teorinya ”lebih mudah disesuaikan kepada kondisi sebuah negara totaliter”, ketimbang ke sebuah Negara yang pasarnya dibiarkan bebas, laissez faire. Ini karena, kata Keynes, dalam negara totaliter ”kepemimpinan nasional lebih mengemuka”.

Keynes memang menyaksikan bagaimana Jerman, di bawah Nazi, bisa mengelakkan empasan Depresi Besar. Tapi tentu berlebihan untuk menyimpulkan Keynes percaya akan sebuah sistem yang mengklaim punya jalan keluar yang benar selama-lamanya. Ketika para intelektual Inggris yang ”kekiri-kirian” pada mengagumi Uni Soviet dan Perencanaan Lima Tahun ala Stalin, Keynes tak ikut arus.

Suatu hari ia berkunjung ke Rusia dan bertemu dengan sanak keluarga istrinya di St. Petersburg. Mereka melarat dan menderita. Keynes melihat bagaimana ajaran Stalin gagal. Ajaran ini tak bisa dikritik, meskipun hanya ”sebuah buku teks yang sudah kedaluwarsa” tentang ekonomi.

Manusia adalah kecerdasan yang bisa mengatasi keterbatasan—seraya menyadari keterbatasan kecerdasan itu sendiri. Manusia bisa merancang dan mengendalikan pasar tapi juga ia bisa bikin rusak—dan kemudian bisa mengenal dan mengoreksi kesalahan dalam pengendalian itu. Ada kepercayaan diri yang luar biasa pada Keynes.

Dengan penampilan yang rapi dan dengan perilaku yang khas warga elite masyarakat Inggris—lebih karena kepiawaian pikirannya ketimbang karena asal-usul sosialnya—Keynes lahir di Cambridge pada 1883 di keluarga akademisi yang bukan bagian pucuk kehidupan intelektual di sana. Tapi itu sudah cukup membuat John Maynard seorang pemuda cemerlang yang tertarik akan rangsangan hidup yang luas. Ia tak hanya seorang ekonom. Ia kolektor seni rupa kontemporer, pencinta balet, penggerak kehidupan kesenian; ia juga pemain pasar modal dan valas yang, meskipun pernah gagal, bisa makmur dan dengan itu membantu rekan-rekannya yang satu lingkungan.

Di kebun halamannya di Tilton, di wilayah Sussex yang tak jauh dari London, ia adalah tuan rumah untuk saat-saat minum teh seraya berdiskusi dengan teman-temannya yang terdekat, semuanya anggota kalangan cendekiawan Inggris yang terkenal. Di sana secara teratur datang Leonard dan Virginia Woolf, Mary MacCarthy, dan E.M. Foster. Dalam ”Bloomsbury Group” ini, ekonomi, sastra, dan estetika dibicarakan dengan cemerlang; novel dan teori-teori terkenal ditulis.

Saya tak tahu apakah dari kalangan ini semacam aristokrasi jiwa tumbuh pada Keynes. Ada sebuah kritik yang datang dari Friedrich von Hayek, guru besar asal Austria yang mengajar di London School of Economics. Hayek menyaksikan bagaimana Negara yang gagal mengatur dananya akan rudin terlanda inflasi. Kekayaan akan menciut habis. Tapi juga Hayek punya kritik yang lebih mendasar: pandangan Keynes yang meningkatkan jangkauan tangan Negara akan mematikan kebebasan, dan akan membuat borjuasi terhambat.

Tapi bagi Keynes, jangkauan yang seperti itu tak sepenuhnya berbahaya, kalau dilakukan oleh satu lapisan elite yang progresif dan cerdas, seperti para lulusan Oxford, Cambridge, atau Harvard. Aristokrasi ini diharapkan akan bisa merencanakan perekonomian ke arah terbangunnya ”Negara kesejahteraan”. Setidaknya, dengan kepemimpinan yang pintar dan bisa dipercaya, Negara sanggup memberikan stimulus yang kuat bukan saja untuk keadilan, tapi juga untuk pertumbuhan. Contoh handuk yang dilemparkan Keynes ke lantai itu bisa terus diingat: perlu keberanian para pengambil keputusan politik buat melakukan sesuatu di luar formula kapitalisme.

Tapi tentu saja bahkan Keynes tak selamanya benar. Pada 1980-an, formula kapitalisme kembali menguat. Para pemimpin tak mau lagi mencoba menegakkan ”Negara kesejahteraan”. Niat menyebarkan kesejahteraan ke seluruh masyarakat telah melahirkan sebuah perekonomian yang terancam inflasi tapi sementara itu hampir mandek. Untuk kesejahteraan yang menyeluruh dan merata di masyarakat, pajak harus ditarik agar Negara punya uang untuk bekerja. Tapi dengan demikian orang enggan meraih hasil sendiri. Negara, sebagai lembaga publik, merasa wajib mengatur perilaku ekonomi, termasuk modal. Tapi dengan demikian inisiatif melemah dan dinamisme pertumbuhan terganggu.

Pada saat itulah Reagan jadi Presiden Amerika Serikat dan Thatcher jadi Perdana Menteri Inggris. Kedua pemimpin ini memulai ”revolusi”: pajak diturunkan, regulasi diminimalkan, dan intervensi Negara praktis diharamkan.

Tapi bila Keynes bisa dibantah oleh dua dasawarsa kemakmuran yang tampak di bawah perekonomian ala Reagan dan Thatcher, Keynes juga bisa dibenarkan di sisi lain: bukankah ia pernah mengatakan hidup dan sejarah terdiri dari proses jangka-pendek? Ketika pemecahan soal di sebuah saat dikukuhkan jadi obat mujarab sepanjang masa, manusia lupa akan keterbatasan kecerdasannya sendiri.

Itu juga yang ditunjukkan Francis Fukuyama ketika ia menyebutkan di mana salahnya ”Revolusi Reagan”. Sebagaimana semua gerakan perubahan, tulis Fukuyama, ”Revolusi Reagan sesat jalan karena… ia jadi sebuah ideologi yang tak dapat digugat, bukan sebuah jawaban pragmatis terhadap ekses-ekses Negara kesejahteraan.”

Kini tampaknya sejarah jadi jera. Krisis yang sekarang melanda dunia mengingatkan orang pada Keynes lagi dan bahwa ada keyakinan yang aus—terutama di tengah penderitaan manusia.

Tahun 2008 ini zaman ”meleset” lagi. Usaha sulit dan para penganggur kian bertambah. Kita membaca angka-angka itu. Kita cemas. Tapi mungkin kita masih memerlukan pengingat lain tentang bengisnya keadaan—seperti Amerika merekam pahitnya hidup dilanda Depresi Besar dalam novel termasyhur John Steinbeck, The Grapes of Wrath, yang terbit pada 1936.

Dalam cerita rekaan ini, sosok Tom Joad dan sanak saudaranya telah jadi orang-orang yang terusir, kehilangan tanah, kehilangan kerja, bermigrasi ke wilayah jauh. Semuanya membangun murung yang tak terhindarkan, ditingkah topan debu yang merajalela bersama putus asa.

Tapi tak semuanya patah. Dalam kesetiakawanan, terbit harapan. Menjelang akhir novel, Tom Joad menghangatkan hati kita karena tekadnya menyertai mereka yang berjuang dalam kekurangan: ”Kapan saja orang berantem supaya yang lapar bisa makan, aku akan di sana….”

Mungkin ini awal semacam sosialisme—yang tak harus datang dari atas.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 24 November 2008~

Komentar»

1. Ibra - November 24, 2008

Ada pertanyaan2 ttg duit yg seakan tabu dibicarakan para ekonom pada publik: berapa besar sebetulnya duit yg dicetak tiap tahun? Bagaimana distribusinya? Atas dasar apa? Bukankah inflasi juga bisa terjadi gara2 kebanyakan cetak duit? Bukankah rupiah jadi murah karena itu juga?
Bukankah duit jadi berarti sebagai “duit” disebabkan tangan rakyat yang bekerja? Bukankah duit sebetulnya sebuah hutang pemerintah pada rakyat? Bukankah dengan demikian inflasi bisa diartikan sebagai sebuah pengkhianatan? Dan itu berarti juga perampokan pada jumlah yg seharusnya rakyat hasilkan? Dan sisanya? Saya tidak tahu, tapi saya kira kita butuh tahu.

2. Giyanto - November 24, 2008

Goen:
“Kini tampaknya sejarah jadi jera. Krisis yang sekarang melanda dunia mengingatkan orang pada Keynes lagi dan bahwa ada keyakinan yang aus—terutama di tengah penderitaan manusia.”

Giyanto:
Bagiku kalimat tersebut berbunyi seperti ini: “Kini tampaknya sejarah jadi lupa. Krisis yang sekarang melanda dunia mengingatkan orang pada Ludwig von Mises lagi dan bahwa ada keraguan yang lama-lama semakin jelas—bahwa manusia memang suka untuk diperbudak tiran negara.

3. neno - November 25, 2008

saya gak ngerti ekonomi, tapi saya mengimajinasikan sebuah dunia tanpa uang. dimana hanya ada barter, mungkin juga hanya keikhlasan. ketika manusia bekerja hanya untuk melakukan aa yang ia ingin, dan apa yang ia mampu kerjakan. tidak ada limpahan nafsu disana, cuma perasaan ingin menjadi manusia karena memang hidup sebagai manusia. ketika dunia berputar dan berjalan, sesuai dengan kebutuhan. hanya ada manusia yang saling menghargai, tanpa ingin menguasai lebih dari apa yang dia butuhkan. sebuah dunia dengan tatanan nilai, yang tidak distandarkan pada UANG. apa yang akan terjadi?

kota salju - Oktober 21, 2011

bagaimanakah kita bisa tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang tidak kita butuhkan. adakah ukuran yang ideal untuk itu.

4. HusniBanna Latief - November 25, 2008

Secara awam sy masih memandang ekonomi ad.”Pasar” yang mempertemukan kebutuhan manusia………..namun “Pertemuan” tersebut seringkali, bahkan tidaklah berlebihan kiranya kalau terbahasakan berangkat dengan semangat “Menguasai”……hal inilah yg mungkin menjadikan pasar saat ini menjadi sebuah area yang “menakutkan”, padahal mungkin saja akan beroleh manfaat yg optimal jika dengan semangat “Saling Membutuhkan”…………hal inilah yg menjadikan pasar atau model perekonomian yang terbentuk saat ini mengarah pada semangat “Kekuasaan”……hal ini mungkin pula kita temukan dalam lingkup yg lebih kecil……”Institusi Pernikahan”….bukankah juga merup. area pertemuan antara “Laki-Perempuan”…………..yang jika terpeleset dg semangat yang lain dari “Saling membutuhkan” maka cenderung merefleksikan semangat yang dibangun tesebut dalam perjalanan pernikahan tersebut,………mungkin segala kejadian, hingga saat inipun memberi tanda pada kita…….guna mengapresiasi “pertemuan” dalam segala sektor kehidupan……terkhusus ekonomi, sesuai tajuk yg didiskusikan, terima kasih

5. sabdalangit - November 26, 2008

CAPING BERCERITA…….Tapi tak semuanya patah. Dalam kesetiakawanan, terbit harapan. Menjelang akhir novel, Tom Joad menghangatkan hati kita karena tekadnya menyertai mereka yang berjuang dalam kekurangan: ”Kapan saja orang berantem supaya yang lapar bisa makan, aku akan di sana….”

menarik sekali membaca caping ini, saya tersentak dalam refleksi atas negeri ini, mana ada orang seperti itu saat ini, di negeri ini ?!. negeri yg tengah carut marut, negeri yg menjadi negara juara importir, juara korup, ahli mesum dan selingkuh, sumber wabah, negeri penuh bencana, negeri yg penuh wajah KEKERASAN, KEBENGISAN, INTOLERAN, ANARCHIS !

INILAH WAJAH NEGERI YanG AGAMIS !
sangat ironis !
jika dikoreksi demikian, mimiknya malah sinis !
jika tak digubris,
tampaklah wajah bengis !
membuat hati miris !
yah…negeri ini tengah menangis !!!

kearifan lokal disangkal,
dianggap hayal,
oleh para pejabat dan umat pembual !
lebih berharga sebuah bantal !
dapat untuk mengganjal,
pantat yang kenyal !
suara hati nurani dianggap gombal !
kejujuran dianggap tak masuk akal !
ramai-ramai menghargai orang yg nakal !

SIAPAKAH YANG DAJJAL ?

http://sabdalangit.wordpress.com

MEMBANGUN BUMI NUSANTARA YG BERBUDI PEKERTI LUHUR

kota salju - Oktober 21, 2011

mungkin kita memang harus membenarkan kata-kata filsuf jepang (katsuragi keima), yang berkata;
dunia nyata adalah sampah, aku tidak harus melakukan apa pun………………………………………….

6. Fa - November 26, 2008

Yup, duit alias uang emang seringkali identik dengan berbagai persoalan di sektor kehidupan apapun itu. Yang sulit itu kan gimana mengatur supaya uang yang berputar nggak hanya di satu titik aja.
Kalo setiap orang mau berpikir lebih bijak, masyarakat bijak, pemerintah bijak, dengan jalan meluaskan pandangan keluar dari diri sendiri, mungkin segala sesuatunya bisa menjadi lebih baik.
Itu sih menurut pendapat saya aja, ya istilahnya mereguk hidup sendiri sepenuh-penuhnya. Sampai ke dasar.

That is, ‘to suck out all the marrow of life’.

7. Hilman - November 27, 2008

Dan akhirnya kenyataan “sejarahlah” yang membuktikan…..

8. zaval - November 28, 2008

hegemoni-money mana yg lebih dahulu ?? tolong tunjukkan aku suhu…
kita seakan mau menohok sumber dg berbagai anti-theory..
tapi dia tak pernah lari, tak akan..
mungkin aku salah, sumber itu adalah kerakusan..
kerakusan tak terbatas, menurutku..
dan salahkah jika moral dan agama mendunia??? jelas salah..
dengan terbata dan sedikit kecewa perkenankan aku berkata bahwa, “hidup begitu absurd dan jalan nya begitu ambigu”…

kota salju - Oktober 21, 2011

uang itu sendiri pun absurd;

nyata tapi nggak real.

9. zombie idup - November 28, 2008

bagi sebagian banyak orang, uang adalah sebuah imajinasi…. belum berakhir di mana uang adalah imaji nyata… mesti harus dihancurkan oleh imaji uang dalam bentuk angka-angka….
uang adalah objek dari sebuah persepsi yang membanjiri kesadaran secara konstan. meskipun persepsi dapat mengelabui tapi bukan imaji kita akan tentang uang…
dunia imaji adalah dunia yang sama sekali tidak ada kejadian apa-apa di dalamnya…
masih belum jelas??????? hahahahahaaa

10. Dion - November 28, 2008

Terima kasih GM. Dunia tak hidup semata karena uang…

11. Giyanto - November 28, 2008

Konfirmasi Bacaan! pembaca GM agar tidak sekedar terbuai oleh keindahan sastra, tapi juga meningkatkan pemahaman keilmuan—khusunya tentang Keynesian.Link nama saya di atas.

12. fsiekonomi.multiply.com - November 29, 2008

well, so far this era gives us freedom to choose what the best for us; and, for us, it is Islam. and we need more efforts to receive it as the world ideology and system of life (not liberalism). rahmatan lil ‘alamin. well, it’s just an opinion. and we believe there is a freedom to be different, isn’t there?🙂

13. Ibra - November 29, 2008

Its like 200 km/h in the wrong direction

14. Danar - November 29, 2008

😀

15. manyar378 - Desember 2, 2008

kalo keynes melempar handuk bwt menyampaikan ‘pesan’nya tentang EKONOMI lebih baik kita melempar senyum saja sambil terus bekerja mencari duit. Semoga dunia ini BAIK-BAIK saja.

16. Ibra - Desember 4, 2008

Bukankah akan lebih menarik jika dunia ini tidak baik-baik saja? Bukankah lucu jika imaji kita ternyata dipimpin beberapa gelintir orang? Bukankah menyenangkan jika tuan2 pemegang hegemoni itu tanpa kita sadari telah memaksa kita bekerja keras, dan memberikan lebih banyak jerih payah kita ke pasar bunga? Gudang senjata kapitalis sesungguhnya kah itu? Bukankah justru mengasyikan jika kita punya rahasia?
Bahasa inggris punya istilah yg tepat untuk menggambarkan hal itu: orgy. Dan kita menontonnya tanpa ekspresi.

17. Rian Xavier - Desember 6, 2008

sebetulnya uang itu juga imajinasi juga (termasuk ekonomi)..

18. Ibra - Desember 10, 2008

Tidak harus jadi filosof untuk bisa menonton, seperti juga tidak harus jadi politikus untuk bisa sedikit merubah keadaan. Jadi pedagang kecil dan berani menghadapi anjing2 negara juga punya keutamaannya sendiri. Dan itu tidak bacin. Sama sekali tidak.

19. Manyar378 - Desember 10, 2008

Iya mas banyak banget djalan yang memeras peluh! Dan tak tahu MENARA GADING TRADISI YUNANI/TIMUR- Yang kecil itu sendiri tak tahu hiruk pikuk PEMIKIRAN. Yang ada hanya terus berjalan menanggung hidup. Sebab kelahiran kita tanpa sebuah dialog.

20. Giyanto - Desember 11, 2008

“Tidak harus jadi filosof untuk bisa menonton, seperti juga tidak harus jadi politikus untuk bisa sedikit merubah keadaan. Jadi pedagang kecil dan berani menghadapi anjing2 negara juga punya keutamaannya sendiri. Dan itu tidak bacin. Sama sekali tidak.”

Giyanto:

Indah nian puisi Bung Ibra….

salam

21. raz ghaz - Desember 19, 2008

tulisan ini terkesan sangat2 membuka minda. seakan sedang belajar filsafat ekonomi. tapi syg hanya contoh2 pemikiran gaya barat saja yang dipapar. bagaimana penanganannya yang lalu seperti di ttimur tgh, asia barat, china, amerika selatan. teori2 dari khomeini, che guevara maupun nehru dan deng xio peng juga rasanya kaya nuansa cara pikir menghadirkan kemakmuran perekonomian rakyat.

tlg mas goen tuliskan perbandingan keynes dgn metode perekonomian dari pemikiran sarjana muslim, kalau ada contoh2 dari lembaran sejarah yang bisa dikongsikan.

22. Di Zaman yang Meleset - April 15, 2009

[…] more here:  Di Zaman yang Meleset Posted in Catatan Pinggiran | Tags: akan-bisa, all posts, elegi, fundamentalisme, jangan, […]

23. ochidov - April 19, 2009

dan revolusi masih rindu dengan sosial-is(me).

24. Zul Azmi Sibuea - April 27, 2009

ini adalah zaman meleset, karena bobot ekonomi terganggu keseimbanganmya karena variabel rielnya dalam bentuk gravitasi sedang digerogoti dan dikorup untuk alasan keserakahan.

akibat penggerusan gravitasi maka bermunculan variabel baru yang membuat ekonomi kita membubung mejdi bubble economy, kehilangan bobot. variabel baru itu seperti derivatif pasar modal, bunga, investasi yang sama sekali tidak terkait dengan investasi riel dalam bentuk perjudian (casino capitalism),menjadikan uang (valuta) sebagai komoditas, predicted non perform loan, penipuan dalam korporate dst.

ekonomi tanpa bobot, ya jelas meleset rodanya kalau dijalankan, malaise, menjadi berarti kehilangan bobot – dimasa lalu tahun 30-an itu disebabkan oleh greedy industrial, kecongokan perdagangan internasional dan penjajahan ke dunia ketiga, sambil menutupi biaya perang dunia pertama.

salam
zul azmi sibuea

25. Rossie Kellam - Juni 26, 2011

I really love your blog, your a genius, keep writing such posts.

26. Natural mole removal - Agustus 17, 2011

Hey there! Someone in my Facebook group shared this website with us so I came to give it a look. I’m definitely loving the information. I’m bookmarking and will be tweeting this to my followers! Outstanding blog and amazing design.

27. kota salju - Oktober 21, 2011

jawaban jangka pendek, jangan pernah dikekalkan

28. Prasetya Utama - Februari 20, 2013

Akibat itu semua, untuk mengembalikan keadaan, uang rupiah akan didenominasi (istilah baru), dulu pernah terjadi duit seribu dipotong menjadi satu rupiah. Inflasi sudah 700 %. saya waktu itu masih kecil, habis 2 kambing saya dijual dapat 15000 rupiah, besoknya jadi 15 rupiah. harga-harga menjadi tidak keruan bandingan nya dengan harga sebelumnya, ketika dibelanjakan duit itu hanya dapat dua buah kaos oblong!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: