jump to navigation

Mono Maret 2, 2009

Posted by anick in Agama, All Posts, Buku, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan.
trackback

Pada suatu hari di abad ke-7, dua orang Madinah bertengkar. Yang satu Muslim dan yang satu lagi Yahudi. Yang pertama mengunggulkan Muhammad SAW ”atas sekalian alam”. Yang kedua meng­unggulkan Musa. Tak sabar, orang Muslim itu menjotos muka Si Yahudi.

Orang Yahudi itu pun datang mengadu ke Nabi Muhammad, yang memimpin kehidupan kota itu. Ia ceritakan apa yang terjadi. Maka Rasulullah pun memanggil Si Muslim dan berkata:

”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa. Sebab di hari kiamat semua umat jatuh pingsan, dan aku pun jatuh pingsan bersama mereka. Dan akulah yang pertama bangkit dan sadar, tiba-tiba aku lihat Musa sudah berdiri di sisi Singgasana. Aku tidak tahu, apakah ia tadinya juga jatuh pingsan lalu bangkit sadar sebelumku, ataukah dia adalah orang yang dikecualikan Allah”.

Riwayat ini dikutip dari Shahih Muslim, Bab Min Fadla’il Musa. Dalam buku Abd. Moqsith Ghazali yang terbit pekan lalu, Argumen Pluralisme Agama, hadis itu dituturkan kembali sebagai salah satu contoh pandangan Islam tentang agama yang bukan Islam, khususnya Yahudi dan Kristen.

Pada intinya, Moqsith, sosok tenang dan alim yang mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, datang dengan pendirian yang kukuh: Islam adalah ”sambungan—bukan musuh—dari agama para nabi sebelumnya”, yang sering disebut sebagai agama-agama Ibrahimi.

Tapi yang bagi saya menarik adalah kata-kata Muhammad SAW yang dikutip di sana: ”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa”, dan, ”aku tidak tahu…”.

Kini kata-kata itu tenggelam. Kini sebagian ulama me­rasa di atas Rasulullah: mereka merasa tahu keunggulan diri mereka. Mereka akan membenarkan Si Muslim yang memukul Si Yahudi. Mereka bahkan mendukung aniaya terhadap orang yang ”menyimpang”, walaupun orang lain itu, misalnya umat Ahmadiyah, membaca syahadat Islam.

Dari mana datangnya kekerasan itu?

Saya sering bingung. Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.

Mungkin pada mulanya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguitas itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.

Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.

Kesatuan: jangan-jangan mala itu datang dari angka ”satu”—dan kita harus bebas dari the logic of the One.

Kata ini dipakai Laurel C. Schneider dalam Beyond Monotheism. Pakar theologi itu menuding: ”Oneness, as a basic claim about God, simply does not make sense.” Dunia sesungguhnya melampaui ke-satu-an dan totalitas.

Schneider menganjurkan iman berangkat ke dalam ”multiplisitas”—yang tak sama artinya dengan ”banyak”. Kata itu, menurut dia, mencoba menamai cara melihat yang luwes, mampu menerima yang tak terduga tak ber­hingga.

Tapi Schneider, teguh dalam tradisi Ibrahimi, mene­gaskan ”multiplisitas” itu tak melenyapkan yang Tunggal. Yang Satu tak hilang dalam multiplisitas, hanya ambyar sebagaimana bintang jatuh tapi sebenarnya bukan jatuh melainkan berubah dalam perjalanan benda-benda planet­er.

Dengan kata lain, tetap ada ke-tunggal-an yang membayangi tafsir kita. Bagaimana kalau terbit intoleransi monotheisme kembali?

Saya ingat satu bagian dalam novel Ayu Utami, Bilang­an Fu. Ada sebuah catatan pendek dari tokoh Parang Jati yang bertanya: ”Kenapa monotheisme begitu tidak tahan pada perbedaan?” Dengan kata lain, ”anti-liyan”?

Pertanyaan itu dijawab di catatan itu juga: sikap ”anti-liyan” itu berpangkal pada ”bilang­an yang dijadikan me­tafora bagi inti falsafah masing-masing”. Monotheisme menekankan bilang­an ”satu”. Agama lain di Asia bertolak dari ke­tia­daan, kekosongan, sunyi, shunyat, shunya, se­­kaligus keutuhan. ”Konsep ini ada pada bilang­an nol,” kata Parang Jati.

Bagi Parang Jati, agama Yahudi, pemula tradisi monotheisme, tak mampu menafsirkan Tuhan sebagai Ia yang terungkap dalam shunya, sebab monotheisme ”dirumuskan sebelum bilangan nol dirumuskan”.

Ada kesan Parang Jati merindukan kembali angka nol, namun ia tak begitu jelas menunjukkan, di mana dan bila kesalahan dimulai. Ia mengatakan, setelah bilangan nol ditemukan, manusia pun kehilangan kualitas yang ”puitis”, ”metaforis” dan ”spiritual” dalam menafsirkan firman Tuhan. ”Ketika nol belum ditemukan,” tulis Parang Jati, ”sesungguhnya bilangan tidaklah hanya matematis.”

Dengan kata lain, mala terjadi bukan karena angka satu, melainkan karena ditemukannya nol. Tapi Parang Jati juga menunjukkan, persoalan timbul bukan karena penemuan nol, melainkan ketika dan karena ”shunya menjadi bilangan nol”.

Salahkah berpikir tentang Tuhan sebagai nol? Salahkah dengan memakai ”the logic of the One”?

Di sebuah pertemuan di Surabaya beberapa bulan yang lalu saya dapat jawab yang mencerahkan. Tokoh Buddhis­me Indonesia, Badhe Dammasubho, menunjukkan bahwa kata ”esa” dalam asas ”Ketuhanan yang Maha Esa” bukan sama dengan ”eka” yang berarti ”satu”. Esa berasal dari bahasa Pali, bahasa yang dipakai kitab-kitab Buddhisme. Artinya sama dengan ”nirbana”.

Setahu saya, ”nirbana” berarti ”tiada”. Bagi Tuhan, ada atau tak ada bukanlah persoalannya. Ia melampaui ”ada”, tak harus ”ada”, dan kita, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”.

~Majalah Tempo Edisi 02 Maret 2009~

Komentar»

1. andrimanggadua - Maret 3, 2009

Saya tak tahu, pak Goen….
Saya tak pernah ada niat menyakiti orang lain
Saya hanya mau berdoa di pagi buta ini;

Semoga Allah menyelamatkan kita dari perbuatan keji

Semoga Allah menyelamatkan semua orang baik di muka bumi ini

Semoga Allah memberikan hidup yang baik, mati yang baik, dan akhirat yang baik

Amin

2. Gunoro - Maret 3, 2009

Saya rasa “anti-liyan” yg paling ekstrem adalah lia eden dan pasukannya. Ini terlihat dari keinginan untuk menghapus semua agama dan kedaulatan presiden. Kita tidak tahu apakah ini hasil renungan?tafsiran?atau kefanatikan?

3. Gunoro - Maret 3, 2009

Mungkin, fanatik adalah jubah dari sepotong identitas..

4. massto - Maret 3, 2009

tes.., tes,.. 1 2 3 dicoba…

5. isoelaiman - Maret 3, 2009

Agak heran kalimat GM terakhir. Dalam konteks uraian panjang lebar, salahkah bila Tuhan itu “nol” atau “nirbana”, ekh selanjutnya, ia mengutip kalimat, “…dan kita, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”. Padahal kalimat lengkapnya “Aku tidak tahu, apakah ia tadinya juga jatuh pingsan lalu bangkit sadar sebelumku, ataukah dia adalah orang yang dikecualikan Allah”. Dengan memotong kutipan seperti itu, jadinya terkesan Rasulullah menjadi tak tahu, bila Tuhan itu esa atau nol. Ini “hebat”, kok bisa, ya. Ck-ck-ck.
Kajian GM yang begitu serius tentang munculnya kekerasan dari kalangan pemeluk agama, sungguh luar biasa, tiada henti. Penemuan kali ini tiba ke daerah “ilah”. Apa karena esa-tunggal, maka lalu me-niada yang lain, hingga muncul intoleransi? Bila nol, mungkin bisa menerima toleransi.
Kajian yang lain ditemukan di syariat, di pemutlakan ajaran, di terlalu berharap surga, di sikap ambivalensi. Perkenankan ikut mengkaji, meski levelku masih jauh di bawah.
Begini, yang punya hak mencipta (dari tiada ke ada) dan memerintah (untuk dipatuhi) itu hanya Tuhan. Itu juga jawaban Jenar tatkala ia di”perintah” datang ke Demak. Ia merasa terusik kemerdekaan mutlak yang diberikan Tuhan padanya tatkala ada suruhan penguasa yang datang. Itu juga yang dilakukan Rasulullah saat perang melawan kafir dan musyrik Makkah, bahkan Allah membantunya dengan bala tentara malaikat (ekh sok tahu, biarin!). “Perangilah mereka itu dimanapun mereka berada”. Juga, perintah Tuhan pada Musa, “idzhab ila Fir’aun, innahu thagha”, pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia melampaui batas. Juga, do’a Nabi Luth, “hancurkan kaum yang melewati batas”.
Nah, dalam konteks pemeluk agama di Indonesia, mungkin perlu dialog dengan para pengunjuk kekerasan, “mengapa mereka lakukan itu”. Perlu indepth interview yang bijaksana, kenapa misalnya, mereka tak mengedepankan “amar ma’ruf”, tapi lebih menonjokan “nahi munkar”. Atau mungkin, sudah dilakukan, aku aja yang gak update. Kesian dech, aku.

6. Rusd - Maret 3, 2009

Mungkin “batas” nya itu yang jadi problem. Siapa yang pada akhirnya memutuskan. Apa si “pemukul” melampau batas? Apa GM yang melampaui batas?..aku tidak tahu..

7. dp - Maret 3, 2009

Kalau saya, herannya selalu yang menjadi “terdakwa” muslim.

Kekerasan tidak hanya dilakukan oleh muslim, tapi seluruh pemuja primordialisme. Di sini, kelompok tertentu yang mengagungkan liberalisme selalu menuding muslim yang menjadi biang keributan, tanpa mau melihat ke belakang akar permasalahannya.

8. Meduguba - Maret 3, 2009

@dp

Persis anak saya si Sulung yang sering bilang : selalu aku … selalu aku … adik nggak pernah dimarahin atau disuruh-suruh … aku lagi .. aku lagi … Bapak nggak adil !

(Lho Nak, bapak sayang sama kamu, makanya bapak ingin kamu jadi contoh yang baik buat adik-adik kamu … gitu, sudah sana main lagi, jangan ganggu adik … )

9. zombieidup - Maret 3, 2009

@massto
kok cuma “tes.., tes,.. 1 2 3 dicoba…” bingung yaa…….?????????

10. massto - Maret 3, 2009

baru nyoba sumbu molotov,..

nanti kalo ada anarki,..baru dinyalain,..wkkkkk

11. espito - Maret 3, 2009

Muhammad SAW, sepengetahuan saya dari beberapa catatan sejarah, membangun Madinah sebagai negara multikultur dan multiagama–bukan negara Islam yang eksklusif. Piagam Madinah membawa semangat pluralisme yang paling maju pada zamannya. Tapi kemudian saya heran mendapati banyak organisasi Islam politik kontemporer yg mengusung semangat revivalisme Islam dengan kecenderungan eksklusif: hendak mendirikan negara Islam dengan pemberlakuan hukum Islam.

saya kira Bilangan Fu karya AU adalah novel cerdas yg mengajak kita bersikap kritis dalam beragama demi menghindari klaim kebenaran mutlak yg menindas suara lain dari para liyan.
klaim2 mutlak hanya memiskinkan hidup yg sesungguhnya berwarna-warni, tak hitam putih.

12. fi_am - Maret 4, 2009

@espito
Madinah semasa Rasullullah SAW memang dihuni beberapa kelompok yang menganut agama lain, akan tetapi hukum yang diberlakukan adalah hukum Islam, dan ternyata dengan hukum Islam, madinah damai. Contohnya ya “kasus” perdebatan dalam hadits yang disitir GM diatas, Islam itu adil. bukan berarti orang-orang yang berkehendak mendirikan negara Islam dan menerapkan hukum Islam hendak menghilangkan kebinekaan, akan tetapi untuk menegakkan keadilan dan perdamaian.Mungkin…

divan - Agustus 10, 2010

GM itu ngambil satu hadis, tapi melempar hadist yang lainnya. Bahkan ayat Quran: innaddina indallahilislam. itu sudah jelas. Hidup saut situmorang!

13. faisal amri - Maret 5, 2009

pemikiran yang brilian dari mas gun. Saya baru tahu caping-nya mas GM ini. Satu hal menurut saya adalah: ketegasan dari pengambil keputusan sangat diperlukan. Rakyat Indonesia ini sebetulnya sudah letih dengan perbedaan2 ini. Perbedaan yang selalu berahir dengan darah. Di satu sisi kita berharap satu institusi yang dulunya jadi magnet di dalam kehidupan masyarakat, justru sekarang berubah hanya sekedar cuap-cuap aja.
Mas GM tarikan terus penamu, agar manusia indonesia bisa melihat hakikat dari hidup ini.

14. neno - Maret 5, 2009

mau satu, nol, ataupun banyak tuhan gak masalah, yang harus diperhatikan adalah bagaimana kehidupan di dunia ini bisa bermakna. bermakna dalam hal yang baik untuk kita dan orang lain tentunya. klo permasalahan tuhan yang mana harus dipercayai dapat menimbulkan krisis kepercayaan diantara kita, sehingga mendorong suatu sikap saling menyakiti diantara kita, menurut saya pemaknaan tuhan tidak akan menjadi penting. akan sia2 kita menganggap tuhan yang satu dan maha segala-galanya, jika hal itu nantinya hanya akan menjadi legalitas kita untuk menyakiti orang lain. kembali lagi, GM mengajak kita untuk memaknai hidup yang sedang kita jalani sekarang, bukan untuk terjebak dalam pemikiran-pemikiran atau debat yang akan melahirkan kemalangan pada kehidupan. kebenaran selalu tertunda dan hidup terlampau singkat jika kita bandingkan antara penciptaannya dan kemusnahannya.

15. massto - Maret 5, 2009

yups setuju sekali…

kali ini saya nggak mo anarki dulu,..saya mo undang pembaca2 caping tuk mampir di blog saya,..ada berita seru tentang ketua partai yang terlibat kasus perkosaan gadis di bawah umur,..

just come to my acak2an blog..ok

16. andrimanggadua - Maret 5, 2009

Saya kurang sepakat dengan yang “sok tahu” apa maksud GM.

Kita tak dapat merogoh dada GM, mengambil jantungnya, untuk kemudian kita tanyakan apa maksudnya.

Saya merasa isoelaiman wajar saja mempertahankan “qul huwallahu ahad”nya. Memang seharusnya seorang muslim begitu, saya pikir.

Dan juga, ada semacam “ketengilan” menyampaikan sesuatu yang “asal” menarik dalam benak penulis yang dijadwal untuk menulis. Saya merasa itu wajar saja dilakukan penulis yang berpuluh-puluh tahun dijadwal untuk menulis tiap minggu. Kadang, harga yang dibayar terlalu mahal untuk itu.

Artinya, GM tidak harus selalu kita terima pendapatnya. Dan hikmahnya adalah kelahiran polemik.

Ini kritik untuk orang-orang yang kadang membabi buta membela GM.

divan - Agustus 10, 2010

Betul mas…🙂 Si saut situmorang itu juga ada beberapa betulnya tentang GM. Piss, kek.

17. andrimanggaduaa - Maret 5, 2009

Saya kurang sepakat dengan yang “sok tahu” apa maksud GM.

Kita tak dapat merogoh dada GM, mengambil jantungnya, untuk kemudian kita tanyakan apa maksudnya.

Saya merasa isoelaiman wajar saja mempertahankan “qul huwallahu ahad”nya. Memang seharusnya seorang muslim begitu, saya pikir.

Dan juga, ada semacam “ketengilan” menyampaikan sesuatu yang “asal” menarik dalam benak penulis yang dijadwal untuk menulis. Saya merasa itu wajar saja dilakukan penulis yang berpuluh-puluh tahun dijadwal untuk menulis tiap minggu. Kadang, harga yang dibayar terlalu mahal untuk itu.

Artinya, GM tidak harus selalu kita terima pendapatnya. Dan hikmahnya adalah kelahiran polemik.

Ini kritik untuk orang-orang yang kadang membabi buta membela GM.

18. abinehanafi - Maret 5, 2009

Dari Hadis Abu Hurairah ra. bahwa Muhammad saw. bersabda, “Permisalanku dan permisalan para nabi adalah seperti sebuah istana yang bangunannya indah dan ditinggalkan satu tempat batu bata. Maka orang-orang pun berkeliling melihatnya, lalu mereka kagum terhadap keindahan bangunannya kecuali tempat batu bata tersebut. Mereka tidak mencela selain itu. Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, telah ditutup para rasul dengan diutusnya aku.”

19. andrimanggaduaa - Maret 5, 2009

Btw, Isoelaiman itu nulisnya berbelit belit. Pusing aku bacanya!

20. dicka - Maret 5, 2009

suka sensor ya kawan2 kau

21. brightside - Maret 6, 2009

Kau pikir aku bakal lupa sama kau?
Tunggu saja

22. zombieidup - Maret 6, 2009

seandainya nabi ke 26 diangkat lewat sms,kayaknya nama GM harus masuk.dan aku akan mengirim sms paling banyak!!!!!!

23. Kepingan Hati - Maret 6, 2009

Good Posting…!
Jadi byk tau deh…
Salam kenal yach…

24. espito - Maret 7, 2009

@ fi am
hukum islam sendiri masih debatable batasan2nya, persis debatable-nya kitab suci. tak ada yg punya otoritas mutlak untuk menafsirkannya. dari satu ayat yg sama bisa lahir multitafsiran. juga andaikan hukum islam itu bisa dirumuskan scr tunggal, tak ada alasan pemberlakuannya kecuali atas dasar konsensus bersama umat. masalahnya, umat islam sendiri, sbgmana umat manusia pd umumnya, tidaklah tunggal. ada keanekaragaman, khususnya dlm persepsi dan interpretasisnya thd “islam”. maka bgmn mungkin “hukum islam” (bila ia benar2 ada) dpt diterapkan, terlebih dlm masyarakat yg multikultur dan multiagama. apa yg dilakukan Muhammad dulu tidak bisa dilepaskan dengan konteks sejarah pd masa tersebut.

salam..

25. Zaki - Maret 8, 2009

KHUSUS UNTUK ORANG YANG SERIUS MEMELUK ISLAM

Setelah kiamat nanti, semua manusia akan dibangkitkan lagi dalam keadaan telanjang, seperti kecambah kacang tetangga saya yang tumbuh di ladang setelah ditabur 7 hari sebelumnya.

Saat itu, semua manusia, termasuk GM, anak GM, menantu GM, istri GM, tetangga GM, Karl Marx, Lenin, Stallin, Suharto, Sukarno, Ayu Utami, pacar Ayu Utami, kawan Ayu Utami, Inul, Roma Irama, Gusdur, Nurcholis Madjid, Munawir Sadhzali, Nietsche, Hegel, Kant, Goethe, Dostoyevsky, Khairil Anwar, Rendra, Sutardji, Khalil Gibran, Aa Gym, Dono, Benjamin S, Obama, Tzipi livni, Firaun, dan semua manusia yang pernah lahir ke bumi, akan berkumpul dalam keadaan telanjang dengan keringat yang sampai ke lutut, matahari seperti sejengkal di atas kepala, saking panasnya.

Tapi hanya pengikut setia Rasulullah SAW yang akan sanggup melewati semua itu dengan mudah, yaitu orang2 yang selalu menegakkan shalat lima waktu secara berjamaah. Mereka akan menerima catatan amal dengan tangan kanan, kemudian melintasi sirat secepat kilat dan lalu masuk surga tanpa interupsi.

Jumlah manusia saat itu mungkin melebihi 200 milyar. Semua tak peduli dengan sesamanya, masing2 sibuk mengurusi dirinya, bahkan seorang ibupun tak bisa peduli dengan anak sendiri. Penderitaan luar biasa. Saat itu, kalau GM sempat ketemu dengan Ayu Utami dalam keadan sama2 telanjang, mereka tak akan saling kenal dan saling peduli.

Sekitar 200 milyar manusia antri menunggu di hisap segala amal perbuatannya di dunia. Semua rekaman hidupnya di putar seperti sebuah kaset, kemudian dibahas, digugat dan diputuskan satu per satu. Mungkin GM akan tiba pada giliran ke 198007621043. Ayu Utami mungkin akan tiba 5 atau 6 antrian berikutnya.

SAYA MEMBAYANGKAN, BEGITU MEMBACA KOMENTAR SAYA INI, GM BERENCANA, BEGITU NANTI GILIRANNYA TIBA UNTUK DIADILI, MUNGKIN GM AKAN MENGAMBIL MIKE DAN KEMUDIAN BERORASI MENGGUGAT KEESAAN TUHAN. DIA PASTI BERHARAP AYU UTAMI DAN KARL MARX AKAN MENDUKUNGNYA.

26. ibra - Maret 8, 2009

Halo mas Zaki,,,,
Lama tak sua,,,

27. massto - Maret 8, 2009

agen2 asia foundation, cia, yahudi amerika, berkolaborasi dengan JIL plus GM yang dulu gagal berproyek bersama PRD,..
berorasi menggugat Tuhan, padahal alih2 cuma mempropagandakan kepentingan pemodal, menambah beban hutang republik, lewat ADB,..
jajah hisap tetek ibumu sendiri!!!

yang bikin saya geleng kepala, kenapa GM nggak berkolaborasi sama anak buah castro, chavez, ato morales yang jelas2 marxist, daripada sama JIL yang cuma jadi kaki tangan kebo bule yahudi amerika.

nb: buka JIL di wiki,..klik terus tautan2nya,..biar tau nyambung ma siapa tu si JIL

28. jokopetir - Maret 9, 2009

>> Zaki
wahh… ada utusan dari akherat nih.. asyik dong bisa nongol di sini..
ngomong2 gimana cuaca di sorga hari ini? mendungkah? ato malah sedang turun hujan kayak di bumi jawa bagian timur pagi ini?
tolong nitip salam buat tuhan kalo ntar balik ke alam baka, ya..
sampe jumpa..

>>massto
wahh.. ada anak buah pelir osamah bin ladin nih..
gimana kabar boss anda yang mantan piaraan cia dan kaki tangan amerika itu (yang sampe kini pun nampaknya masih dipiara cia untuk jadi kambinghitamnya amerika di setiap kesempatan menggasak negeri muslim)? sedang tiduran di hotelmewah-kah dia pagi ini?
nitip salam buat boss anda kalo ntar anda ketemu dia, dan sampaikan pesan saya padanya agar tak bermuka dua di hadapan umat manusia..
oh ya, wiki itu situs bebas, semua orang bisa nulis apapun di sana, termasuk yg gak bener buat memfitnah pihak lain. anda pun bisa menulis minibiografi anda sendiri di sana dengan sak penake udel sampean dhewe..
see you, bro…

29. massto - Maret 9, 2009

tenang mas jokopelir,.. ups jokopetir,..usamah lagi pijet plus sama tkw tetangga depan rumahmu di negeri abudabid,..salamnya nti disampein,..

JiL = mmi = fpi = akkbb = lia aminuddin = weteng buwono
pola sama kutubnya aja yang beda!!!
bikin warga pusing mikirin Tuhan,..surga,..neraka,..
biar lupa!!! hidup gak jelas gak guna!!

devide et impera gaya baru!!!

30. jokopetir - Maret 9, 2009

>> massto
betapa gampange sampean bilang devide et impera.. tidakkah perpecahan itu sudah jadi kodrat manusia? sejak jaman baheula manusia sudah saling tengkar saling tikam. masyarakat negara maju pun tidaklah solid. selalu ada friksi dan pertentangan kepentingan di dlmnya. so, tuduhan devide et imperamu itu terlampau menyederhanakan masalah hingga spt melihat pemandangan alam dalam sebuah foto hitam-putih. itu namanya mentality of the loser – selalu cari kambing hitam atas ketidakbecusan dan kebobrokan diri sendiri..

31. Ajie - Maret 9, 2009

Logika Arestotelian hanya membawa ke kegagapan mutlak tentang Tuhan. Sedangkan logika paradoksikal yang ada pada agama2 lain di Asia (China dan India) membawa pada pengalaman penyatuan. Kurang lebih seperti itu kata Eric Fromm. Segala yang masih bisa dijelaskan dan dikatakan bukanlah yang Kekal, karena Tuhan melampaui “ada” dan “tiada”. Melampaui satu dan nol.

Pusing…caping kadang bisa ‘tengil’ dan bikin orang ‘tengil’ juga..hehe

@Massto
Bung Massto..Bung Massto…iseng kok terus…kita mbahas MLM yang kemaren aja wis…di ‘omahe’ sampeyan…blom klir iku😛

@espito
Thanks udah mampir kemaren

32. massto - Maret 9, 2009

wong buktine caping mung dadi medan perang thok???

sedikit2 buruk sangka?!!..marah2..!!

saya dikira fundementalis??..

lalu kalau saya ber”mentality of the loser” yang dibilang cuma mencari kambinghitam atas kebobrokan dan ketidakbecusan diri,..apakah lantas dengan menggugat Tuhan kita jadi berubah ber”mentality of the winner”???

inilah wajah kita???..orang bego kaya saya perang pake golok di jalanan!!!membela bendera masing2,..

eeehhh,..elit2 yang punya bendera DUGEM MABOK bareng?!?!

apakah itu yang dicari GM???

33. melao kamisama - Maret 10, 2009

rame rame membela tuhan😛

tuhan kok di advokasi….

34. massto - Maret 10, 2009

mending daripada jadi agen yahudi,.. Jualan islam Lho,..eh pas lebaran ikutan sembahyang sama mertua,.. biar dikira aLim ngulama,. wkkkk

woy,..aku nitip proposal yo,..boleh gak???

35. tomass - Maret 11, 2009

kok sepiii….

gak seru lagi..!!!

36. Rembulan - Maret 11, 2009

Dasar manusia2 tak berguna….

Kalian2 lagi berorasi membahas Tuhan,,,membahasa agama,,,tapi kalau dilihat2 muncul caci maki ini itu!!!

ayolah manusia2 bani adam………bersatulah karena sesungguhnya kita bersaudara. Bukankah tanda2 kiamat sudah datang?? Ngga takut disiksa kubur, cuma gara2 caci maki orang??? Merasa paling perfect pula….

37. fi_am - Maret 12, 2009

@episto
Jadi menurutmu seharusnya islam itu disimpan saja dalam buku-buku dan dipajang dirak-rak perpustakaan, begitu? Hemm..hem…
….Begini saja, coba kau pelajari dulu islam itu secara kaffah, setelah itu kau coba buat tafsiran Al-Qur’an yang 30 juz itu, surat persuratnya, ayat-per ayatnya. Baru setelah itu kita ngobrol lagi yang lebih seru. Karena pada saat itu mestinya kakimu sudah berpijak tanah, anak muda….

38. aya - Maret 12, 2009

tes2

39. Windradi - Maret 12, 2009

Mas espito itu maunya tafsir yang kontekstual pak fi_am, jgn langsung di’tuduh’ menonsense-kan islam dan hukum2nya dengan hanya menjadikan buku2 tentang islam sebagak pajangan.

Kan seharusnya lebih seru toh jika mas espito tetap pada pandangan dan gak harus seperti sampeyan yang sepertinya udah mempelajari secara kaffah sehingga sampeyan bisa memprediksi jika mempelajari dengan cara seperti itu maka mas espito sudah ‘berpijak tanah’.
Mau debat seru kok diminta ‘seragam’ dulu…ya gak serulah…orba udah lewat 10tahunan…apa kata dunia??

40. agiek - Maret 13, 2009

@windradi
komen yang menohok masbro🙂

41. tomo - Maret 13, 2009

Salam kenal aja

Gw lg males debat

42. espito - Maret 14, 2009

@ fi_am
saya tanya, islam kaffah itu yg spt apa? spt nabi atau umat zaman nabi kah? pahamkah anda bahwa islam tidak turun di dalam masyarakat yg “kosong” (tanpa sejarah tanpa budaya sebelumnya). maka apakah islam kaffah itu adlh islam yg berjenggot, bersorban, berkerudung, dsb, dsb.. apakah islam kaffah itu adlh islam yg tak boleh berbaju batik, berpeci, bersarung, berkumis, dsb, dsb..
jika islam kaffah itu islam yg penuhseluruh dan murni, lantas bgmn dengan pengaruh sejarah dan budaya arab itu sendiri thd kehidupan nabi dan umat di jamannya???

43. isengaja - Maret 14, 2009

I don’t know……..?????
But who can tell the thruth?????

44. isoelaiman - Maret 16, 2009

Islam kaaffah itu, Islam yang didasarkan atas Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Iman, Islam, syari’at, tauhid, ibadah, akhlaq, mu’ammalah, seluruhnya atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Pakaian itu soal budaya, bentuk dan ragamnya terserah budaya setempat, dengan syarat menutupi ‘aurat. demikian juga bila sholat bagi pria dan wanita ada aturannya. Soal batik, kimono, sorban, yang penting menutupi aurat itu.
Adalah benar, Islam tidak turun dalam masyarakat yang “kosong”. Semua Rasul dan Nabi tidak turun dalam masyarakat yang “kosong”, kecuali Nabi Adam, sebagai pendahulu manusia.
Justru masyarakat yang tidak kosong, itulah yang di-Islamkan. Islam itu diturunkan untuk seluruh ummat manusia.

45. Windradi - Maret 16, 2009

hmm..darimana kita tahu seseorang sudah ‘memenuhi syarat’ mempelajari islam secara kaffah? Siapa yang punya otoritas menentukan? ‘Sertifikasi’ seperti apa yg dibutuhkan?
Saya harap mas isoelaiman bisa memberikan jawaban yg bagus, karena selama ini, tentang hal serupa, saya selalu mendapatkan jawaban yang selalu saja menyederhanakan permasalahan.

46. isoelaiman - Maret 16, 2009

Mas Windradi, mungkin saya salah memahami istilah “memenuhi syarat”, otoritas, dan sertifikasi. Saya balik tanya, apakah itu ada? Setahu saya istilah-istilah tersebut tidak ada, atau saya tidak tahu kalau istilah itu ada, sebagai syarat seseorang untuk mempelajari Islam secara kaaffah. Siapa pun, boleh meng-kaji Islam, tanpa syarat.
Kalau lah ada, adalah hidayah atau petunjuk dari Tuhan. Ini bagaikan “hak prerogrative” Tuhan untuk memberi petunjuk kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki untuk memperoleh petunjuk. Dan untuk petunjuk Tuhan ini, kita boleh ikhtiyar untuk memperolehnya, ada banyak jalan untuk itu.
Memang, Mas Windradi, secerdas apa pun manusia itu, sepandai apa pun intelektual manusia itu, tidak otomatis atau menjamin bahwa kecerdasannya membuat ia memperoleh petunjuk. Orang seperti ini ada, dan kita tahu dari nada tulisan atau bicara, apakah menyangkal, mengingkari dan atau menerima kebenaran Al-Qur’an.
Setahu saya, di agama Hindu, yang boleh membaca kitab suci itu elite agama atau “pedande”, manusia awam sepertinya tak boleh menyentuh atau baca (tolong koreksi, bila saya salah).
Dalam Islam, siapa pun boleh membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah (Al-Hadist) Rasulullah. Oleh karena asli keduanya itu dalam bahasa Arab, maka, baca dan pelajari saja terjemahan dan tafsir. Setahu saya, siapa pun yang ingin mempelajari Islam, terbuka untuk mempelajari keduanya. Tidak ada syarat khusus untuk itu. Dan, bila seseorang itu membaca, mempelajari dan kemudian mengamalkan tafsir Al-Qur’an 30 juz, dan kitab As-Sunnah seperti Al-Lu’lu’u wal Marjaan (Kitab Shahih Bukhari dan Muslim), maka ia mempelajari Islam secara Kaaffah. Begitu jawaban saya Mas Windradi, jadi tak ada pesyaratan atau sertifikasi khusus.
Lain halnya, bila kita ingin menjadi mufassir (penafsir) Al-Qur’an, maka kita harus paham bahasa Arab (nahwu, shorof), Asbaabun Nuzul, beberapa kitab hadist, ushulul fiqih, dan lain-lain.

47. Loginataka - Maret 16, 2009

@massto

Mas… udah mledak belum molotov nya? Pinjem satu ya..

48. tomass koncone adi red - Maret 16, 2009

,.. lumayan mleduke mas??.. klo mau, nanti saya kirim,.. wkkkk

49. Loginataka - Maret 19, 2009

Sampai ketemu di next caping. Mbahas kapitalisme ‘bukan-pasar’.
Ngomongin kapitalisme bakal lebih seru dari ngomongin Tuhan gak ya?

50. massto 0narkis - Maret 19, 2009

yups.. buetuLL itu mass.. itu masalah reaL.. nyata,.. lebih membumi,..sehari-hari,..anak istri,..hidup juga mati..!!!

mkasih wis mampir ning “gubuk” saya..

51. ochidov - Maret 28, 2009

karena ambisi manusia lah yang me-mono-kan segala Tuhan yang ada di setiap agama baik langit atau bumi.
mono itu diri kita sendiri
karena takut kesepian lah yang membuat kita butuh “mono”.
orang gila juga “mono.

52. chia - Maret 31, 2009

yups….semua berdebat…semua baku hantam…inilah yg dimaksud GM. padahal Tuhan tak perlu eksistensi. Kasian ya……kalian….mudah tersulut.

53. Steven Rinaldy - Maret 31, 2009

buat saya,saya slalu merasa bahwa tidak ada agama yang paling benar..
agama itu dibuat oleh manusia sendiri..
itu semua trgantung keprcayan masing2,tapi jika anda berkelahi untuk membela agama anda,dan memukul orang karena merasa agama anda yang paling benar,itu berarti anda tidak menghargai kepercayaan orang lain,dan itu sangat menentang hak asasi manusia..
jika memang anda merasa paling benar,jadilah Tuhan,ga perlu jadi manusia,karena manusia memang tak luput dari kesalahan..
yang menentukan semua itu adalah kepercayaan dan iman kita..
saya sebagai kristen,saya memang sangat percaya kepada Yesus,karena Dia memang menyelamatkan hidup saya,tapi saya tetap menghargai agama lain,tidak menghujat mereka agama lain,saya tidak pernah menghujat Allah agama lain..
semua itu datang dari hati,sikap dan sifat kita yang mencerminkan karakter kita sendiri dari ajaran yang telah kita terima..

54. wakhit - April 5, 2009

isoelaiman – Maret 3, 2009

Agak heran kalimat GM terakhir. Dalam konteks uraian panjang lebar, salahkah bila Tuhan itu “nol” atau “nirbana”, ekh selanjutnya, ia mengutip kalimat, “…dan kita, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”. Padahal kalimat lengkapnya “Aku tidak tahu, apakah ia tadinya juga jatuh pingsan lalu bangkit sadar sebelumku, ataukah dia adalah orang yang dikecualikan Allah”. Dengan memotong kutipan seperti itu, jadinya terkesan Rasulullah menjadi tak tahu, bila Tuhan itu esa atau nol. Ini “hebat”, kok bisa, ya. Ck-ck-ck.

*****

Qur’an tergubah 14 abad yang lalu…konon sebelum dunia ada cikal bakalnya sudah terumuskan di nun surga yang terjaga. Kira-kira dengan mengembannya, ada nggak ya yang tidak diketahui oleh Kanjeng Nabi Muhammad? Apa beliau juga menjadi maha tahu seperti Tuhan? Percaya sama beliau mirip Tuhan jadi sirik, tapi menyebut beliau nggak tahu semua hal dimarahin sama umatnya! Jadi bingung hehehe! Njeng Nabi Muhammad sendiri percaya beliau hanyalah manusia…..”aku tak tahu…”, “…kamu lebih tahu urusan duniamu…”, “..aku ini cuman manusia yang diberkati wahyu…”.

Mungkin itu yang dimaksud bung GM itu. Rasa andap asornya itu, tapi juga rasa yang tak bisa nggak peduli sama penderitaan orang lain itu, yang membuat orang mencintai beliau, setulus-tulusnya….
mungkin…

tabik.

55. ochidov - April 6, 2009

kalau orang tahu bahwa al-Qur’an adalah buku yang paling banayak berhutang
kalau orang tahu bahwa puisi masih menjadi sedap bawang
tiadak ada ketakutan dan kekwatiran bila merendahkan al-Qur’an dari posisi puisi sesungguhnya
maksudnya apa???
tidak sekedar jadi acuan dan refrensi kaum radikal saja
tapi, menjadi acuan bagi siapa saja yang masih punya imaginasi tidak melihat siapa dia atau bahkan mereka,
sudah dijamin kan???

56. Mono - April 15, 2009

[…] is the original post:  Mono Posted in Agama, Catatan Pinggiran | Tags: Agama, Amerika, dua-orang, islam, kedua-meng, […]

57. Zul Azmi Sibuea - April 24, 2009

dengan nulisme, kita kembali akan mencari eksistensi kita sebagai manusia – mengulang sejarah pencarian tuhan masa lalu dari animisme, politheisme, sembah pohon, matahari, bulan, dan benda-benda lain.
dengan politeisme, kita akan terjerat dalam penentuan yang mana diantara yang banyak itu yang betul-betul mesti dipertuhan, akhirnya secara ilmiah kita akan masuk pada perangkap kemungkinan random, dengan ini kita punya keyakinan, bahwa kita bermula dari tamdom dan kembali ke random, kita tak tahu apa-apa, tidak tahu mau kemana, jalan aja, sama saja dengan atheis.
dengan ahadisme atau tauhidisme, kita akan fokus pada satu ketuhanan, ibarat fokus pada satu titik berat keseimbangan yang jelas walaupun titik berat itu dapat dinamis bergerak sepanjang garis berat pada bidang, dapat bergerak dinamis pada bidang garis berat dalam ruang dan dapat bergerak dinamis pada ruang dalam dimensi ruang-waktu. mudah menjelaskan ini dengan “inna lillahi wa inna ilahi raji’un” – dari dia kita datang dan kembali kepadanya.

salam mas gun, semoga terkandung dalam sihat wa ‘afiat
zul azmi sibuea

58. Zul Azmi Sibuea - April 24, 2009

mas gun,
katanya orang-orang untuk intensif memahami keyakinan tauhidism (ahadism), dualism, pluralism , tiga referensi ini akan membantu :

1. John D. Barrow, Theories of Everything: The Quest for Ultimate Explanation (OUP, Oxford, 1990) ISBN 0-099-98380-X
2. Stephen Hawking ‘The Theory of Everything: The Origin and Fate of the Universe’ is an unauthorized 2002 book taken from recorded lectures (ISBN 1-893224-79-1)
3.Masudul Alam Choudhury. The Universal Paradigm and Islamic : Economy, Society, Ethics And Science World-System

thanks btw,salam
zul azmi sibuea

59. isoelaiman - April 27, 2009

Saudaraku Steven Riinaldy,
Terima kasih bahwa Anda telah menyatakan pendapat Anda dengan baik. Perkenankan saya menanggapai pernyataan Anda.
Pertama, saya ingin konfirmasi pernyataan Anda, bahwa “…buat saya, saya slalu merasa bahwa tidak ada agama yang paling benar..”.
Apakah Anda menyatakan hal ini secara serius? Jadi, hingga kini, perasaan Anda tidak ada agama yang paling benar?
Pertanyaan saya adalah apa dasar Anda mengatakan bahwa tidak ada agama yang paling benar? Bila memang begitu, apakah pernyataan ini juga berlaku bagi agama kristen yang Anda peluk?
Kedua, pernyataan Anda, “…agama itu dibuat oleh manusia sendiri..”
Benarkah Anda menyatakan kalimat ini? Apa dasar dari pernyataan ini? Mulai kapan manusia mempunyai “kewenangan” membuat agama? Apa yang diketahui manusia tentang akhirat?
Ketiga, pernyataan Anda, ” …jika memang anda merasa paling benar,jadilah Tuhan,ga perlu jadi manusia,karena manusia memang tak luput dari kesalahan..”
Pernyataan ini membingungkan, bagaimana manusia disuruh jadi Tuhan? Manusia itu makhluq, artinya yang diciptakan. Sedangkan yang menciptakan adalah Sang Maha Pencipta, Allah. Mana mungkin, manusia yang diciptakan menjadi pencipta? Akal sehat tak akan bisa menerima bahwa yang diciptakan berubah posisi menjadi Sang Pencipta. Tidak akan bisa, dan bila ada yang berpendapat demikian, itu pendapat yang sulit diterima akal.
Keempat, –yang ini pernyataan saya–, agama yang paling benar adalah agama yang dinyatakan Allah sebagai agama yang paling benar dan paling diterima Allah. Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an dinyatakan dengan tegas bahwa “Sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam”. Dan, “Barang siapa yang mencari Agama lain selain Islam, Allah tidak bakal menerima.” Jadi, berdasar Ayat Suci ini, bagi saya agama yang paling benar hanyalah Islam, agama tauhid. Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, Allah menurunkan agama tauhid ini. Orang Islam seluruh dunia mempunyai pendapat yang sama dalam hal ini. Tidak aga keraguan sedikit pun. Oleh karena itu, orang Islam mempercayai seluruh Rasul, Nabi dan kitab Suci yang diturunkan Allah kepada Rasul dan Nabi. “La nufarriqu baina ahadin minhum”, artinya kami tidak membeda-bedakan diantara mereka (para Rasul dan Nabi itu).
Apakah dengan menyatakan seperti ini, lalu saya menghujat agama lain atau melanggar HAM? Kepada agama lain, saya akan katakan, “lakum diinukum waliya diin”, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.
Jadi, saya tidak bisa, merubah “yang paling benar” itu menjadi setengah benar. Meskipun perubahan itu “demi” toleransi. Saya nyatakan tidak.
Dan tidak perlu, menuruti permintaan Anda, bahwa untuk menyatakan “yang paling benar”, lalu saya harus merubah status menjadi Tuhan. Atau, untuk menyatakan “yang paling benar”, saya dituduh melanggar HAM. HAM itu kan kesepakatan antar manusia. Meski seluruh negara di dunia menyatakan kesepakatannya, maka statusnya itu tetap produk manusia. Takkan berubah menjadi ciptaan Tuhan. Kesepakatan HAM, tidak akan berdampak pada akhirat. Sedangkan agama adalah wahyu dari Tuhan, berdampak pada akhirat. Jadi, statusnya berbeda. Saya ingin selamat di dunia dan di akhirat, jadi saya meyakini ketetapan Tuhan.

60. Zul Azmi Sibuea - April 27, 2009

eka, berevolusi jadi eca, yang ditulis dengan c dicoret pada kakinya c(c diberi kaki seperti pada tulisan perancis).

bahwa dari mana bermula satuan hitung tentu orang harus membayangkan sebelum ada sesuatupun maka itu adalah kosong, apa artinya kosong, ???? jadi penjelasan bung GM mestinya : hanya ada sesuatu, dari sebelum ada sesuatu itu , itulah yang dinamakan kosong – tidak ada apa-apa – tidak ada dimensi – tidak ada wahana – nirwahana – dan kosong itu adalah nirwana.

jadi pernyataan GM “Setahu saya, ”nirbana” berarti ”tiada” ” menjadi salah kaprah , menurut bahasa Pali yang saya ketahui eka tetaplah satu atau eca, kosong tetap kosong, dan kosong tidak berarti satu/
saya mengerti bahwa GM ingin menjelaskan ahadisme, tidak berarti satu atau tunggal , karena kesatuan, ketunggalan dan keesaan adalah sekaligus cara membilang tuhan dengan banyak sekali dimensi sekaligus, dan pada saat yang sama tidak lagi berdimensi saking banyaknya, tidak lagi diperlukan konsep dimensi.

jalan keluar yang bisa dianjurkan adalah melihat ulang keesaan ilahiah pada nondimensional ekspression , yang dijelaskan dalam matematika pada bagian ; “dimensionless mapping” , berupa bilangan “super cardinal” dalam ruang ” supermanifold” ala stephen hawking.

dengan demikan kita tidak dibingungkan oleh ahadisme, dan nullisme seperti yang dilansir oleh mas GM diatas.
salam
zul azmi sibuea

61. Thieves - Desember 28, 2009

It’s hard to know that Truth Hurts, Tell Them Lies.

62. kota salju - November 13, 2011

saya setuju dengan mas @ajie, sesuatu yang masih bisa dikatakan dan dijelaskan adalah sesuatu yang tidak kekal, karena tuhan itu kekal maka tak bisa dijelaskan.

63. Edy - September 28, 2013

“Aku tidak tahu”. Bukankah kata ini juga berarti nol? Bisa juga berarti “kosong”. Pun bisa dimaknai sebagai “suwung”.
Nampaknya, yang tersirat dalam perkataan Muhammad itu adalah, tak harus ada monopoli kebenaran mutlak, dalam menafsir.

Monopoli kebenaran dalam menafsir, sering kali identik dengan tuntutan terhadap kemurnian. Tanpa kita sadari, kemurnian tak jarang menyimpan pemaksaan dan kekerasan.

Tuhan memang tak selalu ada. Karena keberadaan-Nya melampau kata “ada” itu sendiri. Ia, tak pernah bisa terwakili oleh apapun penanda-Nya. Namun, Ia acapkali hadir dalam rasa. Kehadiran-Nya memang tak selalu ada.

64. woolrich jacken - September 13, 2014

Do you mind if I quote a couple of your articles as long as I provide credit and sources back to your webpage? My blog site is in the exact same niche as yours and my users would definitely benefit from some of the information you present here. Please let me know if this okay with you. Cheers!
woolrich jacken http://www.sabio.de/wp-content/themes/woolrichoutlet/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: