jump to navigation

Karnivalesk Maret 30, 2009

Posted by anick in All Posts, Politik.
trackback

Seorang pengamen, dengan rambut gondrong dan gigi gingsul, dengan jaket yang penuh ditempeli kancing bergambar, memainkan gitarnya di sebuah tepi jalan di Tangerang. Namanya Herdy Aswarudi. Dia calon legislator dari Partai Bulan Bintang. Menurut harian The Jakarta Post, ia bukan sedang cari duit derma; ia, seorang pangamen, sedang berkampanye.

Di kota lain: satu sosok dengan kedua tangan siap bersarung tinju, dengan mata mengintai ke depan. Ia terpampang pada sebuah poster di tepi jalan di sebuah kota di sekitar Yogya. Sosok itu memang tak meyakinkan sebagai petarung: dada yang terbuka itu tampak empuk seperti bakpao, dan wajah itu tak ganas benar. Ia bukan pelawak. Ia seorang calon legislator, meskipun saya lupa dari partai apa. Ia menyatakan diri akan melawan korupsi.

Ada sosok lain: berdiri tegak di samping sederet semboyan dengan kostum superhero yang terkenal. It is not a bird. It is not a plane. It is not Superman. It is…well, dia calon wakil rakyat, pembuat undang-undang. Sama dengan ambisi yang di tempat lain memperkenalkan diri dengan huruf-huruf besar sebagai “papinya si X” (nama penyanyi terkenal). Atau berpotret di sebelah potret besar Obama. Atau memasang wajah di samping gambar Beckman, pemain bola tersohor itu…

Lalu apa yang harus kita katakan tentang Pemilihan Umum 2009? Mungkin satu hal: inilah sebuah pemilu tanpa tujuan.

Ada ratusan partai politik yang tak pernah jelas apa bedanya dengan partai lain, tak pernah jelas apa program dan ideologinya, bahkan tak pernah jelas (saking ruwetnya) tanda gambarnya. Pembuat logo itu pasti bukan pendesain yang berpengalaman dalam komunikasi massa; ia pasti seorang calon politikus yang terlalu banyak maunya.

Juga mungkin terlalu banyak pesaingnya. Ada ratusan nama aspiran anggota parlemen yang gambarnya dipasang jor-joran di sepanjang jalan – dengan hasil yang sama sekali tak memikat. Ada calon-calon presiden yang tak bakal punya kans tapi nekad, atau yang rapor masa-lalunya mengerikan tapi bicara sebagai bapak bangsa, atau seorang yang tak jelas kenapa gerangan ia maju: karena merasa diri mampu atau karena merasa diri keren?

Di tengah hiruk-pikuk itu, pejabat penyelenggara pemilihan bekerja seperti orang kebingungan. Dan di tengah kebingungan itu, birokrasi mendaftar nama pemilih dengan kebiasannya yang malas dan serampangan.

Jangan-jangan, inilah sebuah pemilu yang diam-diam dianggap tak begitu perlu tapi ajaib. Saya katakan “tak begitu perlu” karena tampaknya orang tak antusias lagi ikut ramai-ramai berkampanye. Dugaan kuat: yang ikut pawai di jalan-jalan itu hanya tenaga bayaran. Dugaan kuat pula: mereka yang tak hendak memilih, “golongan putih” itu, akan lebih banyak ketimbang jumlah suara sang pemenang nanti.

Walhasil, kalau para pesaing sendiri tak begitu jelas kenapa ikut bersaing, bukankah sebenarnya lebih baik mereka memilih kesibukan lain – misalnya mendanai (dan ikut main) satu tim bola kasti, atau lomba andong, atau kompetisi jaipongan?

Tapi “ajaib”. Meskipun tak jelas benar tujuannya, toh bermilyar-milyar rupiah dibelanjakan untuk itu. Para peserta itu tak peduli bila hasilnya cuma sekedar masuk hitungan dalam daftar yang umurnya tak lebih tiga bulan.

Tapi kata “ajaib” mungkin tak sepenuhnya tepat. Kata yang lebih tepat mungkin “lucu”. Pemilihan Umum 2009 tampaknya jadi sebuah parodi atas diri sendiri: orang-orang membuat sebuah tiruan yang menggelikan atas sebuah proses demokrasi yang tengah mereka tempuh tapi diam-diam mereka cemooh. Demokrasi yang pernah diejek Sokrates di zaman Yunani Kuno sedang diejek para pesertanya sendiri.

Tapi mungkin lebih baik kita berhenti masgul dan mencibir. Ada satu sifat dalam pemilu 2009 ini yang agaknya bisa menghibur para pemerhati politik yang prihatin: bagi sang pengamen, sang “petinju”, sang “superman” dan lain-lain yang tak meyakinkan kita, ini sebuah karnaval, Bung!

Keramaian yang “karnivalesk” (istilah ini saya pinjam dari Bakhtin, tentu) mengandung sesuatu yang kurang ajar, meriah, kacau, berlebihan, tapi bisa kreatif, menghibur, sama rata sama rasa, melibatkan semua orang, tak ada garis pemisah antara pemain dan penonton, dan sama sekali tak ingin produktif.

Sebuah bentuk baru kehidupan sosial terbangun dalam karnaval: mereka yang datang dan ikut serta (kecuali para pengikut pawai bayaran) tak menganggap benda dan manusia sebagai komoditi. Ruang dan waktu tak dihitung untuk dipertukarkan, melainkan dikomunikasikan. Dalam saatnya yang paling menggugah, sebuah karnaval adalah saling merangkul pada pertemuan yang saling menghibur. Ia melawan monolog kebersungguh-sungguhan – termasuk kebersungguhan para analis politik.

Humor sangat penting di sana. Dengan humor, sebuah parodi bisa terhindar dari sikap benci. Saya kira sebenarnya itulah yang tercapai oleh poster-poster yang ganjil itu: sebuah ekspresi menertawakan diri sendiri. Lihat, kami gila-gilaan, berjudi dengan nasib, menarik perhatian bapak dan ibu, dengan merendahkan diri sendiri.

Maka marilah kita jangan terlalu masgul: tak ada jeleknya orang buang uang (yang akan diserap anggota masyarakat lain) untuk secara sengaja atau tak sengaja jadi lucu.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 30 Maret 2009~

About these ads

Komentar»

1. podolisasi prima - April 1, 2009

SEBUT MEREK AJA OM GUN..
papihnya cinthia lamusu kan? ini anak sayah kata bapaknya, diposter tersebut.sapa yanggggg nanyaaaaaaaaaaaa..

2. massto - April 2, 2009

PENGUMUMAN PENTING

tgl 7-8 april 2009 akan ada pembersihan orang gila di jalanan seluruh indonesia, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi orang gila baru yang muncul pada tgl 9 april 2009.., harap diperhatikan!!!

3. massto - April 2, 2009

wakakakaka…ketawanya belakangan.., wakakaka..

4. patung pancoran - April 2, 2009

hahahahaahahha

ini caping paling lucu yang pernah saya baca!

emang hal kayak gini paling bagus ditanggapi dengan tertawa..

5. podolisasi prima - April 2, 2009

massto… hahaha sapu bersih org gokil,yg suka jual kecap.

6. isoelaiman - April 2, 2009

Ini tulisan GM yang paling “ringan”, artikel yang terdiri atas 16 alinea ini, sepertinya tak perlu berkerut-kening membacanya. Mungkin, karena apa yang kita baca di Karnivalesk ini, dapat kita saksikan secara langsung di dunia nyatanya, di lingkungan sekitar kita.

Mungkin juga, GM mengalami kesulitan memperoleh “referensi” atau paling tidak “padanannya” yang diulas oleh ahli lain di negara lain. Karnaval politik macam gini hanya ada di Indonesia. Atau, memang, karnaval itu tak layak dianalisa lebih mendalam. Karena, seberapa milyar pun menghabiskan dana, menjadi tak relevan. Saya ingat pawai pembangunan saat Orde Baru, memamerkan “hasil” pembangunan. Tapi, itu pun masih dipahami maksudnya. Tapi… karnaval politik yang seperti ini? GM bilang, “pemilu tanpa tujuan”.
Sementara itu, GM menyerukan himbauan yang masygul, agar “..lebih baik kita berhenti masgul dan mencibir.” Karena itu, saya melihat sisi positive yang lain.
Pertama, nampaknya kita mencapai tahap “dewasa” dalam berdemokrasi. Tak kita dengar bentrokan fisik, bakar membakar, keributan. Bila pun ada, jumlahnya tak signifikan. Antar partai saling menghormati. Pengucur dana lebih besar, lebih diminati dan dihadiri banyak konstituen. Di Ambon, saat hari putaran terakhir partai X, tiap mobil parkir di area kampanye, dapat 200.000,- rupiah, plus sekian ribu dan kaos atau baju, kali jumlah penumpang. Lumayan.
Kedua, tak terlalu menonjol monopoli “pemanfaatan” agama atau ideologi sebagai daya tarik. Artinya tak lagi menyandarkan partainya pada isu fanatis atau sensitive.
Ketiga, lebih banyak orang berani tampil pede (percaya diri) di depan publik. Dan untuk itu tak terlalu perlu persiapan dan perhitungan matang. Siapapun dan apapun latar belakangnya, tampil aja. Tak ada dominasi elite. Model bonek. Mungkin, GM benar, kan, ini karnaval, he-he. Keempat, bener-bener kita merasa di zaman “baru” ketimbang zaman sebelumnya. Kita tak lagi buta warna, calon pemimpin kita adalah benar-benar bagian dari kita. Dengan begitu, saya ingin menyampaikan –betapa pun–, ini lebih dari sekedar karnaval. Perlu waktu 10 tahun lebih dari “bau” orde baru, perlu trilyunan rupiah untuk mencapai itu semua.
Meski ada kritik, absen atau minimnya isu-isu penting Indonesia ke depan –kenegaraan dan kebangsaan–. Yang diulang-ulang, sembako, BLT, swa-sembada, sebatas itukah isu masa depan Indonesia?

7. Ajie - April 2, 2009

Milyaran? Andaikan saja tiap tahun..atau 2 tahunanlah, banyak lapangan kerja baru jadinya (digital printing, sablon, pembuat logo, kaos, Pekerja Konvoi Bayaran, tukang bersih pohon..dinding..dll). Begitu banyak uang yang diserap oleh anggota masyarakat lain…sepertinya tool yang bagus untuk program pemeratan dan pemberantasan pengangguran. :P
neh referensi keren :
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1429232

8. Loginataka - April 2, 2009

Ini karnaval yang sangat mahal. Menghabiskan uang rakyat sebesar 13.5 trilyun sungguh sangat tidak lucu!

9. bodrox - April 2, 2009

beckman? memangnya fabio cannavaro…
beckham mungkin :)

btw, ini kesalahan siapa yak? Bang GM apa yang upload. coz ku gak bisa cross cek, nggak langganan tempo sih. langganannya cuma caping yang ini hi hi hi

10. Rusdy - April 2, 2009

Kalau urusan nulis bung Isoelaiman emang paling niat..hehe

11. abinehanafi - April 2, 2009

pemimpin itu cerminan masyarakatnya. jangan-jangan pemilu kali inipun menunjukkan begitulah wajah sebenarnya kualitas sdm bangsa kita

12. rosmarinus - April 3, 2009

Benar”, saya sedikit byk merasa beruntung hidup di jaman (yg ktnya) edan ini, di mana saya bs menjadi seorg saksi hidup fenomena sosial-politik pemilu 2009 skrg.. Mungkin memang segala hal itu memiliki dimensi fungsional, bahkan kebodohan itu sendiri pun fungsional :)

13. ochidov - April 3, 2009

catping sekarang tidak bermutu
koment catping berbaris kayak kutu
tidak lebih begitu.

14. Rindu - April 3, 2009

Pemilu tinggal 6 hari lagi, tapi pikiran saya masih putih :) belum berwarna hijau, kuning, atau merah, biru dan orange :)

15. jaka - April 4, 2009

@loginataka: Duit itu pun kembali ke masyarakat: ke tukang sablon, tukang jualan minuman, pemiliki angkutan, penyelenggara pertunjukan, artis level lokal, dsb. Tidak perlu terlalu sedih.

Memang menyedihkan melihat kelakuan2 para caleg. Tetapi orang bijak bilang, tidak perlu semua orang pintar. Cukup ambil 10% dari warga disuruh mengurus warga yang lain, taruh mereka pada posisi2 yg tepat, maka … keajaiban suatu sistem terjadi.

16. cosmas - April 4, 2009

Dear Rindu
apakah pikiran anda akan selalu putih? Jangan-jangan anda mulai mengidap sindrom kecurigaan pada orang-orang partai. Tetapi bagaimanapun anda tetap tinggal di bumi RI kan?

17. urangrantau - April 4, 2009

Penyair kalsel pernah menulis:
“Negeri ini tak bernama
Orang pun malas membuatkan peta
Mungkin benderanya cuma kolor
Lagu kebangsaanya berjudul Kegaduhan yang
Labil”

18. Loginataka - April 4, 2009

@jaka
Tapi berapa persen yg nyampe ke rakyat (a.k.a grass root) Bro?
Belasan trilyun itu bukan mainannya tukang sablon, digital print, angkutan kampanye dst. Itu mainannya elit partai. Apalagi konon sumber dananya lebih banyak dari utang. (Waduh…!?)

Tapi OK deh saya sepakat. Gak perlu sedih, namanya juga karnaval. Harus ikut gembira. Ibarat kembang api, byar… melintas di atas kepala, semarak di langit, lalu turun ke tanah, menjadi seonggok sampah. Dan tentunya langit kembali gelap. Tanpa gelap kembang api takkan menjadi kembang.

Ah, sudahlah……

19. espito - April 4, 2009

Bangsa yang besar, pernah Soemanto berfatwa, adalah bangsa yang mampu menertawakan diri sendiri.

PILIH PARTAI KODOK aja dech….

20. jokopetir - April 5, 2009

ada banteng ngamuk
ada capres bugil
ada caleg gendeng
ada beringin angker
dlllsb….
klik “jokopetir” di atas!!!

21. dhilacious - April 6, 2009

hahaha..
ketawa aja deeeh..

22. chacha - April 8, 2009

berarti bukan salah kita kalau memilih menjadi golput kan?
sekarang mari kita nikmati saja pemilu ajaib yang akan ditertawakan oleh anak cucu kita nanti.

23. hetlotoborsos - April 8, 2009

saatnya ketawaaaaaaaaaaaaa,.
eh pada seriusannn.
ga menarik topik humor kali yak.
iya yakk.

24. Karnivalesk - April 15, 2009

[...] more from the original source:  Karnivalesk Posted in Catatan Pinggiran | Tags: a-akan-kejadian, Amerika, bintang-, gondrong-dan, [...]

25. kampanye damai pemilu indonesia 2009 - April 17, 2009

pemilu di indonesia makin lama makin ga jelas dan ga berkualitas, sebenarnya sedih sekali ketika trlyunan rupiah di hambur-hamburkan hanya untuk melakukan pesta kampanye, tetapi pada saat bencana melanda tak ada terpikir oleh mereka untuk menghamburkan uang trilyunan itu untuk kemaslahatan bangsa ini.

26. ochidov - April 19, 2009

dan ini menjadi bukti di kemudian hari, bahwa tulisan “Catping” dengan tema ini menjadi turut merayakan para Caleg yang stres dan buta-gila. salut pada catping yang turut berkontribusi pada hal-hal yang semestinya tak bernilai.
dan hidup.

27. Zul Azmi Sibuea - April 27, 2009

sampai sekarang saya belum pernah mengerti mengapa orang beranggapan bahwa suasana kampanye mirip karnival – saya sama sekali tidak melihat demikian karena :
1. pada dasarnya karnival adalah perayaan, milik dan untuk semua orang , tidak sepihak, bahkan bukan untuk salah satu partai – kampanye pemilu, saya lebih melihat semacam parade kekuatan, parade unjuk gigi, yang kita warisi dari zaman orde-lama, kemudian berubah bentuk menjadi arena unjuk kekuatan sempalan dalam bentuk partai.
2. karnival secara etimologis berasal dari “carne levare”, enyahkan makan daging karena akan puasa paskah, sesudah itu akan lebaran atau hari raya datangnya musim semi – karnaval, menyambut datangnya musim semi, datangnya kehidupan baru, semangat baru, baju baru, pada peradaban barat kuno.
3. kampanye partai sama sekali bukan karnival, saya melihat pameran pembangunan yang dilaksanakan oleh pemda lebih mirip sebuah karnival yang biasanya dilaksanakan setipa mendekati hari tujuh belas agustus dibandingkan dengan kampanye pemilu.
4. sedangkan kampanye pemilu , saya lebih melihatnya sebagai unjuk kekuatan, menanamkan persaingan tidak sehat ala pameran senjata militer atau iring-iringan sukarelawan/wati pada zaman orde lama.
perlu dicari bentuk-bentuk kampanye pemilu yang lebih beradab, dan tepat sasaran tidak menempeli pepohonan dengan gambar caleg, untuk meningkatkan kualitas demokrasi dinegara tercinta ini.

salam
zul azmi sibuea

28. podolisasi prima - April 28, 2009

Salam Zul Azmi..
Hayolah tersenyum dikit saja,. Hidup tak selalu carut marut kan?

29. Guam - Desember 10, 2009

Salam kenal…Island of Guam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 346 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: