jump to navigation

Herman April 6, 2009

Posted by anick in All Posts, Elegi, Politik, Sejarah.
trackback

Potret itu dipajang berderet-deret, hampir di tiap pohon. Tapi di manakah Herman? Tiba-tiba saya ingat dia. Ia tak pernah kembali. Sepuluh tahun lebih, sejak ia hilang pada 12 Maret 1998. Orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Herman tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul—dan memang tak harus mengenalnya betul.

Baru kemudian saya ketahui aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu, bernama lengkap Herman Hendarwan, lahir pada 29 Mei 1971 di Pangkal Pinang, Bangka. Selebihnya tak banyak lagi informasi. Wilson, aktivis PRD yang juga sejarawan, menulis kenangan tentang kawannya ini dan mengakui: ”Menulis… tentang Herman Hendarwan bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali aktivitas politiknya yang dilakukan secara rahasia dan tersembunyi….”

Rahasia dan tersembunyi: saya dan Herman bertemu dalam beberapa rapat seperti itu. Itu tahun 1998, pada hari-hari ketika tentara Soeharto menangkap dan memburu para anggota PRD, setelah rezim itu memenjarakan anggota-anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen), setelah orang-orangnya menduduki dengan kekerasan Kantor PDI-P…. Beberapa orang sudah dilenyapkan. Dan Herman salah satu buron, seperti halnya Andi Arif, Nezar Patria, Bimo Petrus, dan lain-lain….

Dari bangunan di Jalan Utan Kayu 68-H, saya dan teman-teman aktivis lain tahu kami dimata-matai. Di tempat yang kini dikenal sebagai ”Komunitas Utan Kayu”, kami belajar bagaimana mengamankan diri, setelah markas AJI, organisasi kami, digerebek polisi dan tiga anggota ditangkap. Satu tim dari kami—Irawan Saptono, Ging Ginanjar, Stanley Adi Prasetya, Tedjobayu—mengatur cara pengamanan itu, yang kadang membingungkan karena tiap kali diubah.

Itu tak bertambah gampang ketika kami harus berhubungan dengan lingkaran yang lebih luas. Tapi waktu itu kalangan pergerakan perlu membentuk jaringan, bahkan front bersama, secara pelan-pelan. Soeharto terlampau kuat, dan kami hanya sekelompok aktivis dengan jangkauan terbatas. Di luar pelbagai gerakan pro-demokrasi bergerak, diam-diam atau terbuka, dan kami saling mendukung, tapi tak ada front persatuan untuk perlawanan.

Selebihnya gagu. Soeharto berhasil menundukkan Indonesia dengan cara yang efisien: menyebarkan ketakutan. Rezim itu punya modal teror yang amat cukup, setelah pada 1965-66 puluhan ribu orang dibunuh, dibui, dan dibuang. Dalam keadaan itu, membentuk kerja sama dengan kalangan lain dalam pergerakan pro-demokrasi perlu didahului dengan mematahkan teror itu. Dengan menjajal keberanian.

PRD ada di garis depan keberanian itu. Saya mulai bekerja sama dengan mereka secara lebih dekat sejak saya mengetuai Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP)—sebuah langkah ke arah pembentukan front bersama dan sekaligus sebuah siasat untuk mendelegitimasi pemilihan umum Soeharto (”kami pura-pura memantau pemilu, karena rezim ini juga pura-pura mengadakan pemilu”). Harus saya katakan sekarang: para anggota PRD—mereka umumnya sadar arti gerakan politik, bersemangat, dan tak gentar—adalah sayap yang paling saya andalkan dalam KIPP.

Tapi sebelum KIPP bekerja penuh, PRD digerebek. Pimpinan mereka, antara lain Budiman Sudjatmiko, kemudian tertangkap. Kami terpukul, tentu: seluruh daya harus dibagi. Sebagian untuk meningkatkan perlawan­an—”la lutta continua!”—dan sebagian menggagalkan usaha tentara Soeharto mematahkan bagian gerakan yang tersisa. Langkah baru harus diatur.

Sejak itu hubungan kami berlangsung makin berahasia, termasuk membangun kontak ke tempat tahanan. Dari Utan Kayu 68-H, operasi seperti ini, termasuk ope­rasi penyebaran informasi dan disinformasi, dikerjakan oleh yang kami sebut ”Tim Blok M”. Lewat jaringan yang dibentuk Irawan kami secara periodik bertemu dengan link PRD”: Andi Arif dan Bambang Ekalaya. Kemudian Herman—meskipun saya tak mengenalnya betul sebagaimana ia tak akan mengenal saya betul. Ada yang harus dijaga, karena bisa saja suatu hari kami tertangkap dan dipaksa buka mulut.

Dan benar: pada Maret itu Herman tertangkap. Atau lebih tepat, diculik. Tak hanya dia; Andi Arief, Faisol Reza, Waluyo Jati, Mugianto, Nezar Patria, Aan Rusdianto—semua aktivis PRD yang diangkut dengan paksa, dalam mobil yang tertutup rapat, dengan mata yang diikat dan kepala yang diselubungi seibo, dan dimasukkan ke dalam yang oleh Nezar Patria disebut, dalam testimoninya kemudian, sebagai ”kuil penyiksaan Orde Baru”.

Sebagian mereka kemudian dilepas. Tapi Herman tidak. Ia hilang. Juga dua nama lain Bimo Petrus dan Suyat. Wiji Thukul, yang untuk beberapa lama dapat disembu­nyikan satu tim teman-teman, juga kemudian lenyap.

Tak ada alasan untuk tak menduga mereka dibunuh. Setidaknya mati dalam penyiksaan. Nezar pernah menggambarkan bagaimana tentara Soeharto menganiaya mereka: pada satu bagian dari interogasi, kepalanya dijungkirkan. Listrik pun menyengat dari paha sampai dada. ”Allahu akbar!” ia berteriak. Tapi mulutnya diinjak. Darah mengucur lagi. Satu setruman di dada membuat napasnya putus. Tersengal-sengal.

Saya bayangkan Herman di ruang itu. Mungkin ia lelap selamanya setelah tersengal-sengal. Mungkin ia langsung dibunuh. Yang pasti, ia tak pernah pulang. Para pejuang dalam sajak Hr. Bandaharo berkata ”tak berniat pulang, walau mati menanti”. Dan Herman pernah menulis surat ke orang tuanya: ”Herman sudah memilih untuk hidup di gerakan”, sebab Indonesia, tanah airnya, membutuhkan itu. Tapi haruskah kekejian itu?

Saya memandang potret-potret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 06 April 2009~

Iklan

Komentar»

1. sawung - April 6, 2009

apakah kita lupa dengan sejarah?
Sutiyoso, Sby, abu bakar nataprawira -> pristiwa 27 juli (penyerbuan kantor pdi).
wiranto -> mei 98, kerusuhan-kerusuhan kecil didaerah
prabowo ->penculikan, mei 98.
??? -> ???
baru prabowo yang mengaku dan disidang di militer. yang lain??? cuci tangan semua.

2. jaka - April 6, 2009

Tetapi kenapa “orang-orang keji” itu saya lihat mendapat dukungan dari kalangan terpelajar dan bermodal besar ? Bodohkah mereka, tidak bisa melihat kenyataan seblaka ini ?

3. romeong - April 6, 2009

budiman koq uda jadi caleg PDIP y???

4. romeong - April 6, 2009

lha budiman jadi caleg PDIP tu

5. adib - April 7, 2009

semoga tulisan ini memberi arti pada tanggal 9 nanti.

6. sarapandingin - April 7, 2009

cara instan untuk mendapatkan kekuasaan adalah pura-pura bodoh, dan tidak menjadi manusia yang penuh dengan rasa. saya benci mereka…gm, ternyata perjuangan utan kayu lebih mendebarkan daripada cerita-cerita film-film kejar maling atau investigasi FBI…

selalu salut untuk GM

7. ochidov - April 7, 2009

Herman adalah 1 dari sekian sejarah “mainan” penguasa (dari Republik ini).
catping ini terkesan satu kotak dalam satu ruang dari mulut seorang.
kemudian “orang-orang hilang” tetap akan gentayangan dan selalu berulang-ulang, tidak kenal “dinasti” penguasa negeri ini
tinggal “siapa” yang menanti dan diburu kemudian hari.

8. ibra - April 7, 2009

Orang keji itu bangsa kita sendiri. Ini tak sederhana.

Saya jadi ingat tulisan Pram untuk GM. Kalau tidak salah judulnya : Saya Bukan Nelson Mandela.

@ochidov
Tulisan2 kamu di sini juga mengandung unsur kekejian. Kamu ngusir orang, ngomong tengkorak orang di ciliwung, paku??????? Apa lagi????

9. podolisasi prima - April 7, 2009

ya ya saya baca tulisan itu jg ibra.
Pram dendam dengan Jawa.
Lalu GM menyuratinya, Sudah maafkan saja lah..
Pram: Ini penindasan sesama anak bangsa, bukan di Afrika sana. Yang berwarna berkonflik.

Kita tahu Pram adalah pesona tersendiri terhadap apa yang di yakini nya. Sampai mau menjemput.

Indonesia adalah proyek masa depan,.
Dan kita msh bergelut dengan masa lalu.

10. ibra - April 7, 2009

Oh, Saya ingat betul…

1. GM meminta Pram untuk memaafkan kekejian itu. Tak ada ukuran dalam penderitaan, katanya. Penderitaan orang-orang di gulag Stalin sana sama terkutuknya dengan pembuangan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru.
Dan samakah penderitaan mereka dengan pemuda-pemuda PRD??

Dan akankah GM memaafkan kekejian itu??

Saya tidak tahu, tapi mungkin kekejian akan terasa sebagai sebuah “kekejian” jika “kekejian” itu menimpa kita dan orang-orang dekat kita.
Tapi siapakah “kita”??
Saya tidak tahu.

2. saya juga tidak sepakat bahwa penderitaan tidak punya ukuran.

Mungkin anda ingat betul ungkapan ini:
Satu gigi tanggal dibalas satu gigi tanggal. Satu mata picak dibalas satu mata picak.
=> itu mungkin bukan keadilan yang ideal.

Tapi, ketika satu gigi tanggal dibalas dengan membunuh, kita tahu betul bahwa itu adalah brutal.
Saya kira penderitaan pun butuh ukuran.

11. ibra - April 7, 2009

Kalau tidak salah, deklarasi PRD untuk yang pertama kali dihadiri Pram??

Orang-orang ini berkaitan satu sama lain ya….

Sayup-sayup saya juga ingat Milan Kundera :

Perjuangan orang lemah dalam politik adalah perjuangan melawan lupa.

12. podolisasi prima - April 7, 2009

Kita ini komunal sekali kalau dalam masalah ingatan. Dan ya ampun pemaaf sekali. Segala filosofi kebaikan yang ada, menurut saya pribadi adalah “ruang gombal”.

Alm Harry Roesli dipopor dengan senjata, Kita maklum kalau dia nyinyir,.

Fadjroel Rahman demikian juga.
Dan saya rasa bukan mereka saja.

Selain pemaaf, Mungkin “harapan juga” yang harus tetap waras di ingatan kita.Semoga kita tak lelah..

13. ochidov - April 8, 2009

hahaha…
@ ibra
sekali nampak
terkuak
muak.

bahasa ibra mengekor ‘catping’ banget ya???

14. ibra - April 8, 2009

Dasar changcut keji

15. podolisasi prima - April 8, 2009

masalah style kenapa ribet?
buat saya pribadi ibra salah satu kontributor setia disini.
tentu banyak yang lain-lain juga,valued.seneng nongkrong disini.
respek!

16. ochidov - April 8, 2009

@Ibra
Asoka “mengulurkan tangan” pada sang Buddha.
semoga kau juga ya…
Ibra, besok tidur seharian, yoi.hehehe.

17. podolisasi prima - April 8, 2009

hahaha
kamu teh kenapa sih ochidov.. bnyk berjibaku dng org-org.
sok aya-aya wae.
Hemat energi tauk! soak tuh batere lama-lama.

18. ochidov - April 8, 2009

eh terntaya;;;;;
Ibra duwe bolo toh, yowes, ndang digarap wae.hehehe.

19. Rusdy - April 8, 2009

@ochidov
Maksud lho apa sih om? Benarnya malas nyari tau mau dan maksudnya ochidov ini. Gak penting. Jgn jadi senjata makan tuan kalau sebenarnya yg berkata tanpa makna itu elo.
Ibra sama Andrimanggadua kemaren ‘style’ nya kok mirip ya…hmm

20. ochidov - April 8, 2009

@Rusdy
Gak ada maksud apa-apa kok, cuma iseng aja lihat tingkah-polah orang Indonesia yang lagi stress dan negaranya sedang kacau, sebentar lagi juga ambruk, amen.

21. isoelaiman - April 8, 2009

Itulah “kampanye” model GM. Dia bongkar keasdaran bawah sadar, menjeleng tanggal 9 April, 2009. Ini sangat strategis.
Ini hak azasi.
Ini demokrasi.
Ini perjuangan menghadang pengulangan sejarah kelam.
Ini kesaksian dan sekaligus solidaritas,
Ini tak hanya seputar kita, tapi kita sendiri,
terasa nyeri dalam berbagai sedu, erang dan waktu
orang-orang itu,
kini,
tampil di layar kaca,
yang t’lah mati rasa dan tanpa b’sana,
GM tersentak, air mata menetes buat rekannya yang
t’lah dibantai oleh mereka.

22. podolisasi prima - April 8, 2009

HELL NO OCHIDOV!
Mentalitas anda khas sekali..
Pukul dulu’, urusan belakangan.

Kalau kami kumpulan orang stress,. lalu anda apa.
Durjana kah kami selalu berharap, apapun yang terjadi: mentari tetap setia hadir di esok hari.?

Punch me if u can!

23. Windradi - April 8, 2009

@isoelaiman
mu’uv….itu puisi? atau mirip doang? 😛 Jadi ingat mas Toni dulu…hehehe..kemana ya dia sekarang?

24. ibra - April 8, 2009

@ochidov
Aku tidak semulia itu
Tapi sore ini hujan turun
Aku tersentuh dengan cerita Buddha mu itu
And hell yeah, aku besok mo bobok sepanjang hari

25. ibra - April 8, 2009

Mumpung masih ujan, dan mumpung dadaku masih dipenuhi cinta : buat semua yang nongkrong di sini : mas Anick, rusdi, podolisasi prima, ajie ….dan semuanya
Cintaku untuk kalian semua 🙂

26. aan - April 8, 2009

Apa yang mereka inginkan untuk negeri ini, tidak lain adalah kekuasaan dan apa yang didapatkan dari kekuasaan tidak lain adalah harta..!!

27. ochidov - April 8, 2009

@ podolisasi prima
matursuwun….akang, hehehe.
aku tunggu di Hell aja dech.kikikikik.

28. Ajie - April 8, 2009

@Ibra
wkakak..untung hujan selalu akan berhenti. Untung cuma mumpung… kan katanya diskusi yg gaduh juga asik..hehehe. Tapi saya bisa kok merasakan cintanya. Kebetulan disini juga lagi hujan, sambil dengerin Toto + bengong liat wallpaper gambar Angelina Jolie 😛

29. podolisasi prima - April 8, 2009

lea ? myfavtoo..
saya jg lg suka muterin musik sebelum turntable mengambil alih.
dan saya lebih suka lagi kalo mas anick post caping:
pada suatu hari, ikarus.

ga nemu di index.
hehe ngarep.

buat ochidov yeuh lagu hiji ti imogen heap: Goodnight& go. :p

30. ochidov - April 9, 2009

“Cinta tidak berguna. Bersiul nggak berguna, Bergurau tidak berguna. Anjing menggonggong tidak berguna. Banyak hal yang tidak berguna tapi dari sana hidup terbangun.”
Nafasku sesaat berhenti.

31. ibra - April 9, 2009

Konsep opportunity cost juga terbangun dari kesadaran akan hal itu.

Yang “berharga” menurut ekonomi adalah yang “tidak berguna” itu : waktu senggang, maen2, tidur2an, males2an…..
Tapi, dengan kondisi “kekayaan” yang terbatas, mau tidak mau yang “berharga” itu harus dikorbankan….

Jangan kebalik ya… ;p
“Bekerja” itu adalah pengorbanan untuk dapet waktu senggang….

32. Windradi - April 10, 2009

‘salah kamar’ woi… 😀

33. Ajie - April 10, 2009

“Melanie” bung podolisasi prima (opo sih mas artine iku?podo?podoli?)
“Kita bekerja untuk hidup…dan kita hidup untuk Cinta….” kurang lebih seperti itu kata John Keating dalam Dead Poets Society. Hmm…siang bolong lagi terik gini ternyata masih juga saya dipenuhi cinta :P@windradi…yuu…pindah kamar..

34. hafid - April 10, 2009

saya penasaran waktu membaca catping ini, lantaran ujar seorang teman katanya GM bermenung cukup dalam.. dan sesudah membaca sewaktu kuliah saya menonton film battle of algiers yang adegan pembukanya adalah seorang anggota front bawah tanah baru saja selesai disiksa oleh tentara perancis. ujaran GM mendapat visualisasi, dan seketika saya ingin muntah. “untuk apa semua kekejian itu?” kita telah reformasi 11 tahun tapi pergulatan tentang dasar indonesia yang diremuk orde baru tidak jua rampung dirumuskan. seolah kita sampai sekarang masih terus bermimpi, mengharap awan menari dan kicau angin berhinggap,namun kita masih terjerembab, terlelap panjang, mungkin koma. pemilu sudah 3 kali,tapi selama konflik alam bawah sadar indonesia tidak final,maka fantasi seperti yang dilontarkan GM akan selalu berkelabutan setiap kali kita merasa telah berhasil mengembalikan kuasa sipil…
siapa yang berujar telah final? para pelaku penyiksa tidak pernah buka mulut tentang kejadian ini, pemerintah menghindari isu ini, parlemen setengah2 dengan upaya rehabilitasi, akibatnya kita tengah berperang di dalam hati anak-anak bangsa yang berserak. kalau ingin dihukum, bawa kasusnya ke pengadilan.. kalau hendak damai si pelaku berani mengaku kepada publik, lalu meminta maaf kepada seluruh korban, termasuk orangtua herman, bimo petrus, wiji thukul, dst. kubur memori kolektif kekerasan ini, kita hanya menyiram air garam kepada luka yang terlanjur membusuk meski ia mengering…

35. podolisasi prima - April 10, 2009

hahaha mas ajie,. podol=hasil akhir buang hajat. bahasa sunda di tataran yang paling kasar. Ga jelas aku sendiri artinya apa, maklum
anak2 muda bandung selaen kabayan dan banyak komunitasnya,suka tengil2an jg.
Maka kurang lebih= podolisasi prima, santay ajah, serius ok.
yeahh kaumnya warkop lah.belegug gituh ganti rojer..

36. podolisasi prima - April 10, 2009

@hafid
Dengan rasa penasarannya,. saya setuju dengan anatomi kebaikan anda. Hanya menyirami air garam: hmmm, simplikasi lo.
Di tempo edisi Jendral besar wafat, ada dokumen yg menarik:
GM mengabadikan foto soeharto di Piramida Mesir,gambaran kedekatan pers dan kekuasaan. Tahun 70an kl ga salah.Berikutnya Tempo mengulas kapal perang Bj Habibie, Tiarap masuk kotak.

Lebih muskil kalau sampai diam kan?
Rivalitas Wiranto dan prabowo di 98-an. Jakarta luluh lantak.
Kita yang ada di dalam pusaran sejarahnya, No No kalau sampai kubur2-an.Selalu ada yang bisa kita perbincangkan disini..

37. ochidov - April 10, 2009

dan aku menerawang
Wiranto vs Prabowo
SBY tersenyum
Jenderal-jenderal lain mengulum
Sedang,
para kawan-kawan disembunyikan
ketakutan
gila
dikucilkan
bahkan,
sampai busuk
jadi nanah
sampai kering
jadi tulang
jauh,
saudara-ayah-ibu
membisu
tidak tahu
Dan,
para jenderal (Wiranto, Prabowo, Sutiyoso, Tri S., SBY, dan “peluru-peluru” mengekor)
masih juga tertawa-bersendawa
sampai hari ini.

tinggal siapa lagi?
jadi???

38. ibra - April 10, 2009

@windradi : saya tidak salah kamar. Perhatikan ini;

Orang-orang berani itu memperjuangkan demokrasi. Namun ironisnya, demokrasi kemudian menelan kisah keberanian itu menjadi biasa-biasa saja. Tak ada yang luar biasa dalam demokrasi. Atau jangan-jangan itu bukanlah sebuah ironi, barangkali di situlah letak keberaniannya. Mereka berjuang dengan berani untuk menciptakan sesuatu yang biasa-biasa saja dan menjadi biasa-biasa saja.

Tapi yang biasa-biasa saja mengandung kelenggangan, waktu luang, sekaligus ruang kosong untuk bermain dan berkreasi. Dan kelenggangan ini bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Kelenggangan ini adalah ruang untuk cinta. sebuah ruang mewah, windradi…

Mereka memberikan itu untuk kita.

39. Sitohang Par Bintan - April 11, 2009

Kalau saya menarik pesan GM dengan tepat, GM ingin mengatakan kepada kita bahwa Herman dan para pejuang demokrasi itu bukan hanya tidak menikmati hasil perjuangannya tetapi bahkan tak seorangpun mengingat perjuangan dan penderitaannya.

Seringkali para pahlawan memang tidak pernah menikmati perjuangan dan pengorbananya. Tapi Catatan pinggir ini telah mencoba menuliskan kisah kepahlawanan Herman dan kawan-kawan dalam catatan piggir sejarah demokrasi di Indonesia.

40. hafid - April 11, 2009

@ podol: masa pasca reformasi seperti orde serba pura-pura.. sekarang demokrat menang besar karena sby, pdi masih mengandalkan megawati. dengan asumsi ceteris paribus, sby jadi presiden lagi,maka saya kuatir tahun 2012 indonesia akan kebingungan mencari sosok pemimpin masa depan.. saat ini hegemoni parpol dan oligarki kekuasaan masih kencang, sehingga banyak tokoh pembaharu yang tetap jaga jarak dengan kuasa…

41. Zaki - April 11, 2009

Begitulah Indonesia.

42. Zaki - April 11, 2009

@ibra.
Saya salut dengan stamina anda dalam menulis komentar. Semua ini pasti ada manfaatnya.

Salam kontemplasi.

43. podolisasi prima - April 11, 2009

Dr pertama jg snapshot anda saya akur Hafid..
Masalah kubur2-an memory itu lo.
Banyak gerbong-gerbong kehidupan yang masih dinamis bergerak,
Santay aja kaya anak pantay..

44. espito - April 11, 2009

betapapun semrawutnya “demokrasi sampah” ala indonesia hari ini, ternyata ia masih jauh lebih baik daripada fasisme bertopeng “demokrasi pancasila” ala soeharto: di kala itu, indonesia sesungguhnya serupa kerajaan, dan tak pernah ada kerajaan di mana penguasanya tak bersikap lalim dan loba.

45. ibra - April 11, 2009

Salam juga untuk anda, Zaki

Pun bila ini tak ada “manfaat”nya, saya sudah cukup bersenang-senang dengan cara saya sendiri.

46. podolisasi prima - April 12, 2009

Lg naik cetak neh tempo..
Kadang kl sotoy2-an bs diduga tentang apa caping terbaru.
Prancis kalah piala dunia sm itali, judul caping: Zidane
Pram wafat: Pramoedya,.
Obama jg termasuk yg diulas..

Ga tau deh kl salah kamar masuk scan GM ga..
Proses kreatipnya GM bs jd saat imsonia menyerangnya.
Contemplative gitu.Tafakur dengan explore knowledgenya..
Asoyyy aja lah pokonya buat hadirin&hadirot disini..

47. Loginataka - April 13, 2009

Mas Gun, apakah PRD itu bisa disebut buah dialektika dari Manikebu & Lekra?

48. Loginataka - April 14, 2009

Maaf…

Setelah mengunjungi link:

http://mediacare.blogspot.com/2007/09/goenawan-mohamad-manikebu-tidak-relevan.html

Pertanyaan di atas menurut saya menjadi tidak relevan lagi.

49. frodobag - April 20, 2009

Saya atas nama penyiksa pada masa bapak ‘Pemberangusan Aktivis’ Indonesia …. boleh gak saya minta maaf!?!?!?!?!?! terlebik kepada para komentator blog ini!

50. Rinto - April 30, 2009

“Para penculik itu sekarang mau jadi Presiden”
http://sukab.wordpress.com/2008/11/16/ibu-yang-anaknya-diculik-itu/

51. sigit wardoyo - Mei 5, 2009

berkaca- kaca mata saya membaca Herman oh Tuhan jadikan bangsa kami bukan bangsa pelupa

52. Zul Azmi Sibuea - Mei 5, 2009

eksistensi membuat bayang-bayang, eksistensi membuat jejak tetapi bayang-bayang memang tak berjejak.
sejak realitas adalah imaji, maka imaji memang tak berjejak tetapi tersimpan dalam ingatan kolektif.
kalau demikian apa yang membuat kita suka pada orang seperti Herman, eksistensinya, jejaknya, realitasnya, imajinya, memory kolektifnya ???

tak akan pernah ada jawaban yang jelas karena pertanyaannya juga tak bisa jelas, bukan ??, tetapi herman tetap saja herman – belum ditemukan hingga hari ini.

atang supriatna - Mei 8, 2009

Herman adalah sepenggal peristiwa di mana bangsa ini memang masih pingsan

53. raz ghaz - Mei 16, 2009

syabbas..ternyata ingatan kita masih kuat. dan hati kita masih terus menerus mendambakan keadilan dan kesaksamaan di ibu pertiwi ini.

54. aan - Juni 3, 2009

Ah, betapa aku mencintai tulisanmu….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: