jump to navigation

Memihak Juni 8, 2009

Posted by anick in All Posts, Politik.
trackback

Politik adalah sebuah tugas sedih: usaha menegakkan keadilan di dunia yang berdosa. Reinhold Niebuhr, theolog itu, mengatakan demikian untuk siapa saja. Tapi saya kira ini terutama berlaku bagi tiap intelektual publik – artinya seseorang yang dengan tulisan dan ucapannya berbicara ke orang ramai, mengetengahkan apa yang sebaiknya dan yang tak sebaiknya terjadi bagi kehidupan bersama.

Niehbuhr (dan saya mengikutinya) memakai kata “tugas”. Kata yang aneh, memang. Sebab tugas itu bukan karena komando sebuah partai atau kekuasaan apapun. Tugas itu muncul, di dalam diri kita, karena ada sebuah luka. Kita merasa harus melakukan sesuatu karena itu. Luka itu terjadi ketika pada suatu hari, dalam kehidupan sosial kita, ada liyan yang dianiaya, ada sesama yang berbeda dan sebab itu hendak dibinasakan. Luka itu ketidak-adilan.

Saya menyebutnya “luka” karena persoalan ketidak-adilan bukanlah sesuatu yang abstrak, tapi konkrit, menyangkut tubuh, melibatkan perasaan, membangkitkan trenyuh dan juga amarah: Munir yang dibunuh tapi kasusnya tak terungkap tuntas, ribuan orang yang dilenyapkan di masa “Orde Baru” dan tak pernah diusut, Prita Mulyasari, si ibu, yang dimasukkan sel oleh jaksa secara seenaknya, atau Prabangsa, wartawan Radar Bali, yang dibunuh dengan brutal karena ia mengritik orang yang berkuasa.

Ada luka, dan aku ada: pada momen itu aku tahu apa yang terasa tak adil. Meskipun aku belum bisa merumuskan seluruhnya apa yang adil, aku terpanggil.

Di situlah seorang intelektual publik berbeda dengan seorang clerc dalam pengertian Julien Benda. Dalam versi Inggris, kata clerc disebut sebagai “intelektuil,” tapi itu adalah padanan yang tak tepat. Benda menggunakan kata itu untuk mengacu ke zaman lama Eropa, ke kalangan rohaniawan yang semata-mata mengutamakan nilai-nilai universal, hidup jauh dari pertikaian politik. Mereka tak memihak; mereka jaga kemurnian akal budi. Dalam La Trahison des Clercs Benda mengecam para intelektual yang turun ke keramaian pasar, memihak kepada satu kelompok dan mengobar-ngobarkan “nafsu politik”.

Harus dicatat: Benda seorang rasionalis sejati. Ia tak mengakui bahwa “nilai-nilai universal” datang dari pergulatan manusia sebagai mahkluk-di-bumi, yang terbatas, yang hidup dengan liyan, yang fana. Benda memisahkan rasionalitas dari dunia, sebagaimana ia menghendaki siapapun yang setara dengan clerc tak memasuki arena pergulatan politik di mana nilai-nilai universal konon ditampik.

Memang harus diakui, di masa Benda, sebagaimana di masa kini, ada perjuangan politik yang hanya memenangkan cita-cita yang tertutup: kaum Nazi hanya hendak membuat dunia baru bagi “ras Arya”, kaum “Islamis” hanya untuk menegakkan supremasi umat sendiri.

Tapi kita ingat Nelson Mandela. Ia berjuang sebagai pemimpin kaum kulit hitam, tapi akhirnya ia tak berbuat hanya untuk kebaikan kaumnya. Ia menang untuk meruntuhkan kekuasaan apartheid yang memperlakukan orang secara menghina berdasarkan warna kulit. Maka kemenangan Mandela baru berarti kemenangan bila ia mengalahkan apartheid juga dalam bentuk baru. Demikianlah Mandela tak mendiskriminasikan orang kulit putih di bawah pemerintahannya. Di dalam cerita Afrika Selatan, luka ketidak-adilan itu memanggil keadilan dalam arti yang sebenarnya: keadilan hanya “adil” bila keadaan itu berlaku bagi siapa saja.

Itulah sifat universal yang berbeda dengan universalitas seorang rasionalis. Universalitas seperti dalam politik Mandela tumbuh dari trauma. Tapi tak hanya itu. Kepedihan itu diakui sebagai sebuah mala yang tak dapat dibiarkan bercokol di sebuah masyarakat jika masyarakat itu ingin hidup. Dengan kata lain, politik, sebagaimana dijalankan Mandela, adalah perjuangan ke sesuatu yang universal, dari sebuah situasi yang partikular.

Di situlah seorang intelektual publik seharusnya terpanggil untuk memihak. Dengan itu ia memandang politik sebagai sebuah tugas, bukan untuk sebuah ambisi. Ia tak duduk di tepi ongkang-ongkang, merasa harus bermartabat di mahligai. Ia tak berbeda dengan seorang tetangga yang ikut memadamkan api bila rumah di sudut sana terbakar, bukan hanya untuk menyelamatkan kampung seluruhnya (dan tentu saja rumahnya sendiri), tapi juga karena ia terpanggil untuk tak menyebabkan orang lain menderita.

Tapi, seperti disebut di atas, dunia memang berdosa. Penderitaan dan kekejian tak pernah hilang dari dalamnya. Maka perjuangan, atau pergulatan politik, akan selalu dibayangi cacat. Kita tak bisa menerima “politik sebagai panglima” bila di sana tak ada kebebasan lagi untuk mengakui cacat itu, bila pertimbangan kalah dan menang menelan secara total seluruh sudut hidup kita, selama-lamanya. Sebab tiap perjuangan politik akan terbentur pada keterbatasannya sendiri.

Maka bila aku memilih A hari ini, aku memilihnya dengan bersiap untuk kecewa. Aku juga memilihnya bukan untuk selama-lamanya. Aku hanya memilihnya sebagai sarana yang saat ini kurang cacat di antara yang amat cacat – sarana sementara untuk mencegah luka lagi, meskipun pencegahan itu tak pernah pasti.

Saya katakan tadi: kita bersiap kecewa. Tapi kita tak menyerah. Sebab kita tak akan bisa lupa Munir: kita tak akan menghalalkan ketak-adilan sebagai kewajaran hidup. Pengalaman sejarah menunjukkan, di tengah ketidak-adilan yang akut, yang kita derita, manusia selalu menghendaki keadilan — yang entah di mana, yang entah kapan datang.

Dari perspektif ini, Ratu Adil bukanlah takhayul. Ia sebuah ideal yang tak hadir. Politik adalah tugas merambah jalan di belukar membuka celah agar keadilan itu datang. Terkadang tangan jadi kotor, hati jadi keras – dan itu menyebabkan rasa sedih tersendiri.

Di depan belukar itu, kita berjudi dengan masa depan. Siapa yang menuntut kepastian penuh dari sejarah akan mendustai diri sendiri. Selalu ada saat untuk bertindak dan memihak – juga ketika kita menolak untuk bertindak dan memihak.

Tapi pada saat yang sama juga ada saat untuk berdiri agak menjauh. Terkadang dengan ironi, terkadang dengan penyesalan, tapi selamanya dengan kesetiaan: di dunia yang berdosa, pilihan kita bisa salah, tapi tugas tak henti-hentinya memanggil dan politik selamanya meminta. Kita mungkin gagal. Meski demikian, tetap ada yang berharga yang kita perkelahikan.

~versi yang berbeda dengan Majalah Tempo, 08 Juni 2009~

Komentar»

1. Singal - Juni 8, 2009

Ya selalu ada kesakitan, ketidak adilan, tetapi kita tidak boleh larut, dan kecewa, paling tidak kita tetap semangat menerobos ketidak adilan, menerobos sewenang-wenang pihak yang kuat.Semangat, meski dengan menelan air liur pahit, yang memberi kekuatan baru di diri kita sendiri, untuk berkarya tanpa pamrih dengan teman dengan bangsa yang berbeda tetapi satu, dengan bangsa dunia…manusia yang pasti meliki warna darah yang sama.

2. Memihak - Juni 8, 2009

[…] is the original post: Memihak Posted in Catatan […]

3. pensiun kaya - Juni 8, 2009

salam
karena hidup selalu dihadapkan pada pilihan, tentunya dari awal kita harus cermat memilih..bahkan tidak memilih pun adalah satu pilihan. pilihan selalu menyambangi tiap desah nafas dan langkah kaki kita. sebab hidup memang pilihan dari-Nya!

4. eryadi - Juni 8, 2009

tulisan yang sangat mencerahkan…. keadilan memang sulit ditegakkan di sistem yang didalamnya penuh dgn ketidakadilan….

5. LIA - Juni 8, 2009

BARU SAJA SAYA BROWSING diskusi orang-orang yang kecewa karena menginginkan dapat mengerti tulisan2 GM, diantaranya: GOD & UNFINISHED THINGS.

Saya cuman tersenyum-senyum….
Menggingat hal yang sama dan suatu hari pernah kupertanyakan padanya.

How many books u read whole life yang masih tersave dimemory anda (maaf, baca: nempel diotak anda)??

Dia cuma tersenyum,

How many books to read till we understand your writtings?

Dia jawab: tergantung kekayaan bathinmu…

SHITT!! this guy answer 3 words only, and it answers

Laillea12@twitter.com

6. Zul Azmi Sibuea - Juni 9, 2009

berpihak-pihak untuk saling melengkapi – komplementer, karena keadilan sedemikian subjektifnya, rentangnya mulai dari sangat adil hingga sangat tidak adil, maka diperlukan interaksi diantara orang banyak sehingga terpolarisasi dan berintegrasi dalam simbol-simbol atau program , sehingga hanya terdapat dua pilihan, yang ini apa bukan. simplifikasi untuk memilih pada akhirnya adalah memilih atau golput, karena golput pun adalah pilihan.
tetapi tetap saja tersisa pertanyaan kepada siapa sesungguhnya kita mesti berpihak, pertanyaan ini tidak pernah habis, dan mekanisme sosial politik seperti ini akan selalu berulang, sampai kita kembali mempertanyakan “kapan semua ini akan berakhir ??”

Wong Ndezo - Juni 10, 2009

konon Tuhanpun berpihak, sehingga dia mencipta Surga bagi yang senada dengaNYA, dan menyediakan Neraka bagi yang tidak memihak sebagaimana DIA memihak. Adalah tidak mungkin dalam hidup yang riil ini lari dari pilihan-pilihan untuk melaksanakan tugas. amat munafik jika beralibi aku “Netral” dst. keperpihakan kepada yang lemah, kepada yang tertindas adalah tanggung jawab dan tugas kemanusiaan sebagai amanat dari Tuhan.

7. Ono Gosip - Juni 9, 2009

BREAKING NEWS !!!
TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
“Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

8. Ono Gosip - Juni 9, 2009

HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

9. Ozy - Juni 10, 2009

pihak yang benar! Keadilan yang sebenarnya adalah memihak pada kaum lemah dan tertindas.

10. saya - Juni 10, 2009

Doh kenapa “islamis”-nya diberi tanda kutip. Islam itu rahmatan lil alamin.

Kalau ada kaum “islamis” yang untuk menegakkan supremasi umat sendiri seperti diungkapkan GM di atas, secara bahasa pun ia sudah gugur.

11. Loginataka - Juni 12, 2009

var text as multifunction
var teks as multiinterpretasi
var thinking as free

Begin
text = (tugas or luka or Orde_Baru or intelektuil or islamis)
teks = text
thinking = teks or text
End

12. Loginataka - Juni 12, 2009

Public Function Post_Structure as Boolean

var text as multifunction
var teks as multiinterpretasi
var thinking as free

Begin
text = (tugas or luka or Orde_Baru or intelektuil or islamis)
teks = text
thinking = teks or text
End

13. SBY OK - Juni 14, 2009

Itulah sebabnya SBY menghimbau Jaksa agung untuk meninjau ulang gugatan OMNI.
Penegak hukum tidak memihak pada siapapun, SBY telah menjamin itu semua.
Kebebasan berbicara adalah hak warga, ingat:
1. Kasus Demo penurunan BBM tidak ada orang yang diduga ANARKIS yang benar2 ditahan, hanya cuma diperiksa oleh polisi, baik Rizal Ramli dan Ferry Yulianto sekarang telah menjadi Tim SUkses SBY.
2. Pencemaran nama baik SBY oleh Zaenal Maarif, akhirnya dengan rendah hati dihentikan oleh SBY, Zaenal sekarang malah menjadi Tim Sukses SBY.
3. dll. LANJUTKAN sendiri
Itu semua menunjukan Komitment SBY untuk kebebasan berbicara.

SBY PRESIDENKU

14. TonTaipur - Juni 14, 2009

TERSERAH!
HAHAHHA MANG GUE PIKIRIN..

15. TonTaipur - Juni 14, 2009

beuh sekalin aja lu SBY OK PAKE NICK PT.ABC PRESIDENT INDONESIA..
borong semua dah!

16. terapi anak - Juni 15, 2009

Semua komentar tentang SBY … mana suara komentar tentang MEGAPRO ???

17. Bayu Probo - Juni 16, 2009

”Politik adalah sebuah tugas sedih: usaha menegakkan keadilan di dunia yang berdosa.” sepertinya sudah dilupakan.

18. Made Harimbawa - Juni 21, 2009

Tak bisa tidak, kita pasti (suatu saat) akan di-‘paksa’ untuk menunjukkan di mana kita berpijak dan berpihak. Kita tak bisa selamanya mengambang dan bersikap netral. Tapi yang penting adalah untuk tetap tidak terikat pada satu pihak. Karena keterikatan pada sesuatu itulah yang sering mengaburkan pandangan kita.

19. Investasi - Juni 22, 2009

politik itu kejam berani mengorbankan apapun yang penting dapet dan juga biasanya main kotor

20. Sby OK - Juni 22, 2009

Terserah situ, yang jelas semua orang punya sosok idaman.
berasal dari keluarga seperti kita2, berwibawa, berbudi, bijaksana, cerdas, ganteng, intelegent, keren, percaya diri tinggi, sopan, tidak korupsi, miskin dan bersahaja, pokoknya superman + arjuna.
Di republik hanya ada satu manusia sempurna itu.

SBY Presidentku LANJUTKAN

21. Tontaipur - Juni 22, 2009

heu sempurna? ko jadi naif gini si kontribusi opininya?
Sipp lah atur aja bos.

22. isoelaiman - Juni 22, 2009

Saya hanya meminta pertanggungjawaban bagian kalimat GM, yakni “…kaum “Islamis” hanya untuk menegakkan supremasi umat sendiri.”
Kalimat ini hanya membuat luka baru. Semua yang mengucapkan syahadat itu muslim, sekaligus Islamis. Supremasi Islam itu untuk rakhmatan lil ‘alamien. Bila ada kelompok seperti itu, tunjuk hidung saja. Jangan ke Islam-nya.
Pertama, saya ingin klarifikasi siapa yang GM maksud dengan istilah “Islamis”?
Kedua, hendaknya GM tidak gegabah menyamaamakan Islam dengan parpol Islam yang nota bene sangat tergantung kualitas dan ambisi pemimpinnya.
Ketiga, tolong sebut maksud Anda dengan istilah “Islamis” itu secara spefisik, misalnya parpol A atau ormas B. dengan menyebutkan alasan Anda.
Keempat, kini Anda memang kuasa melalui tinta Caping Anda. Termasuk menyindir Islam. Tapi, saya kira tidak fair dengan cara seperti itu. Atau, karena di Caping itu Anda menulis dan menghargai banyak aliran, tokoh, pendapat, lalu Anda meng-klaim diri Anda menjadi bagaikan “Ratu Adil”. Dan dengan begitu Anda sah, menyindir tokoh Islamis, kok tidak seperti diri Anda? Itu “opor bebek”.
Astaghfirullaaha ‘adziem.

23. aMt - Juni 22, 2009

Luaaar biasa memang penulis idolaku ini, makanya setiap blogku selalu menjadiannya sbg bagian dari Link-nya. Hanya saja dlm Pilpres 2009 ini, GM nampaknya terlalu subjektif berpihak ke SBY-BOEDIONO — mungkin ikut sikap anak buahnya si Cheli itu ya? Dan tulisan “Memihak” kali ini juga harusnya menjadi pembelajaran GM, selain kita para pembaca setianya.

24. mailina - Juni 24, 2009

Benarkah seorang intelektual publik seharusnya terpanggil untuk memihak? Bukankah dengan memihak berarti akan membatasi mereka untuk bersuara yang sebenernya perihal yg dipilihnya? Dan hanya bersuara perihal yang baik-baiknya saja? Bukankah ini pembodohan buat mereka yang buta politik? Please…… sudah terlalu lama bangsa ini dibodohkan. Para intelektual publik ada baiknya menjadi orang yang tetap memberikan pengetahuan politik tanpa memihak.

25. wong mbatang - Juni 29, 2009

kapan tengok batang karangasem?
wis asem kranji wis ditebangi..

26. wong mbatang - Juni 29, 2009

kenapa waktu naik bis bersama budiono
saat kamera antv mendekati, sampeyan menutup wajah dengan laptop?

27. Bisnis - Juli 2, 2009

tulisan yang bisa membuka mata hati saya menganga sungguh menarik dan ok, salam kenal

28. Bang Del - Juli 2, 2009

Ketika kita telah berbicara dengan politik, maka semuanya akan terasa abu-abu. Tidak bisa dikatakan memihak atau tidak memihak. Semuanya serba absurb. Untuk pilpres kali ini, saya menaruh salut dan hormat bagi ketiga Capres.

29. mailina - Juli 2, 2009

Adalah tugas seorang intelektual untuk memberikan pelajaran politik bagi mereka yang awam politik. Bukan memihak salah satu dari mereka. Yang kita harapkan dari seorang Oom Goen dan Oom Goen-Oom Goen lainnya adalah memberikan pemahaman tentang ketiga pasang capres-cawapres kepada mereka yang tidak kenal ketiga pasangan itu. Penjelasan yang sejujur-jujurnya, tidak subjektif.

30. Abu - Juli 3, 2009

kok gak ada yg baru???

31. massto - Juli 3, 2009

goenawan moehammad…. grup tempo… sucks..!!!!!

32. mailina - Juli 4, 2009

Oom Goen, yang baru dong…

33. ocidov - Juli 8, 2009

ketika mereka berpesta, aku tidur nyenyak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: