jump to navigation

Berbagi Juni 15, 2009

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Ekonomi, Kapitalisme, Marxisme, Politik.
trackback

Bagaimana kita membebaskan diri dari terkam­an Pasar?

Ada sejumlah pemikir murung yang berbicara tentang struktur sosial dan manusia; mereka umumnya mengatakan: tak ada lagi harapan. Kapitalis­me merasuk ke manamana pada abad ke21 ini. Modal dan Pasar menyulap manusia jadi bukan lagi subyek untuk selamalamanya. Kita tak bisa berharap dari Negara, yang bagi kaum pemikir yang muram itu tak jauh jarak­nya dari takhta Sang Modal Besar.

Akhirnya kita tak sanggup melawan. Kini perlawanan terhadap Negara + Modal hanya akan seperti tusukan pisau yang majal. Tak ada efek. Tidak ada lagi Marxisme yang menyatukan kaum buruh dan menyiapkan datangnya revolusi. Yang ada hanya protes yang terpecahpecah. Seperti tembakan mercon yang saling tak berkaitan.

Maka satusatunya cara melawan mungkin dengan menulis, mencerca, atau me­nertawakan. Selebihnya ilusi.

Tapi benarkah cengkeraman Kapital itu demikian total?

Jawab saya: tidak benar.

Pada suatu hari saya mendapatkan sebuah hadiah. Saya sedang menulis sebuah risalah dan membutuhkan satu kutipan dari puisi Toto Sudarto Bachtiar. Tapi saya tak punya lagi kumpulan puisinya, Suara, yang terbit pada pertengahan 1950an, juga tak ada sajaksajak dalam buku Etsa. Tibatiba terpikir oleh saya untuk mencarinya di Internet, melalui Google. Alhamdulillah, saya menemukan apa yang saya cari! Itulah hadiah yang tak disangkasangka hari itu….

Tapi pada saat itu pula terpikir oleh saya: seseorang telah berbuat baik dengan mengunggah sajak itu ke alam maya. Ia mungkin seorang pengagum Toto Sudarto Bachtiar, atau seorang pencinta puisi. Yang jelas, ia seorang yang dengan tanpa mengharapkan balasan apa pun bersusah payah membuat agar sajak sang penyair dapat dibaca orang lain, dan saya—yang tak mengenalnya, tak pula dikenalnya—mendapatkan manfaat.

Saya ceritakan ”hadiah” saya itu kepada Antyo Ren­tjoko, seorang yang disebut sebagai ”Begawan Blogger”, dan ia menunjukkan kepada saya bahwa itulah kehidupan yang berlangsung di dunia maya: tiap orang yang masuk ke sana akan beramairamai berbagi.

Di sana ada semacam gotongroyong postmodern: tak ada yang memerintahkan, tak ada pusat komando, tak ada pusat, dan tak ada perbatasan yang membentuk lingkungannya. Masingmasing orang memberi sesuai dengan kemampuannya. Yang diberikan adalah informasi, yang didapat juga informasi. Tapi transaksi itu tak menggunakan uang. Pasar dan Modal Besar tak hidup di sini.

Dengan gotongroyong postmodern itulah lahir Wikipedia, sebuah ensiklopedia yang bisa dibaca dan dikutip bebas tanpa bayar. Didirikan pada 2001, ensiklopedia lewat Internet ini kini sudah terbit dalam 266 bahasa, isinya ditulis oleh 75 ribu penyumbang aktif. Siapa saja sebenarnya dapat mengisi dan mengedit isinya—dan dengan demikian diasumsikan ada saling koreksi dalam proses berbagi informasi itu. Dalam komunitas yang terbentuk oleh Wikipedia ini—tiap bulan ia dikunjungi 65 juta orang sebuah dunia baru tengah mendesak dunia ensiklopedia lama, yang disusun dengan biaya besar, dan membutuhkan Modal Besar.

Hal yang mirip terjadi dalam gerakan yang dirintis Richard Stallman untuk menyediakan peranti lunak gratis bagi siapa saja. Beriburibu pengembang software pun bekerja sebagai sukarelawan bersamasama dan berhasil menciptakan GNU/Linux, sebuah pesaing serius bagi Sang Modal Besar di belakang Microsoft. Sebanyak 4,5 juta sukarelawan lain menciptakan sebuah superkomputer paling kuat di muka bumi, SETI@Home.

Melihat gejala ini, Yochai Benkler, guru besar dari Yale itu, menulis The Wealth of Networks, merasa yakin bahwa kita tengah menyaksikan ”bangkitnya produksi nonpasar”. Ia menyebutnya ”produksi sosial”yang tak berdasarkan klaim dengan tujuan dijual ke pasar. Tak ada pula dasar hak milik, misalnya atas paten.

Dalam buku yang dikirimkan Antyo ke saya itu saya temukan suatu totokan ke dalam pikiran kita yang mulai beku: kapitalisme memang tidak matimati, seperti Vampir pengisap darah, tapi akhirnya ada cara untuk menegaskan bahwa cengkeraman Sang Modal Besar tak bisa menaklukkan seantero kehidupan. Kapitalisme tak 100 persen memaksakan komodifikasi semua hal. Kini Wikipedia, GNU/Linux, dan SETI@Home menunjukkan itu. Subyek, meskipun dalam kehadirannya yang tak kukuh, tak seluruhnya ditelan hiduphidup.

Maka para pemikir muram (dan mereka yang mimpi jadi Che Guevara di ruangruang akademi) tak boleh mengatakan dengan geraham gemeretak bahwa kapitalisme adalah sistem yang menelan ”ruang kehidupan”.

Tapi benarkah Benkler? Tidakkah Modal Besar akan punya kemampuan untuk memanfaatkan hasil ”produksi sosial” itu—misalnya IBM bisa mendapatkan keuntungan dari jasa merawat Linux? Bagaimana dengan persaingan?

Barangkali masih terlampau pagi untuk menyimpulkan bahwa telah kita temukan alternatif baru. Tapi dunia maya telah memperkenalkan kemungkinan lahirnya kehidupan yang lebih menarik: kehidupan di mana individu ternyata bisa menjalankan kebebasan tapi pada saat yang sama memilih untuk berbagi.

Manusia sebenarnya tak terlampau buruk.

~Najalah Tempo Edisi 15 Juni 2009~

Iklan

Komentar»

1. Jelokot - Juli 5, 2009

Blog ini adalah contoh nyata, dimana para pengagum Goenawan Mohamad dapat membaca esai-esai briliannya tanpa memberikan sesenpun kepada pemilik modal.

2. Berbagi - Juli 5, 2009

[…] the rest here: Berbagi Posted in Catatan […]

3. mailina - Juli 5, 2009

Hal yang tidak kita sadari. Gotong royong di dunia maya di tengah-tengah rasa individualisme yang semakin kental. Buatku, yang orang Indonesia, jauh di dasar hatiku yang paling dalam, aku masih sangat merindukan suasana gotong royong di kehidupan sehari-hari (bukan hanya di dunia maya). Pertanyaannya kemudian, kenapa di dunia maya gotong royong itu bisa terbangun tapi tidak di kehidupan sehari-hari? Sibukkah jawabannya?

4. ocidov - Juli 7, 2009

kehidupan sehari-hari telah dirampok oleh hal yang “terbatas” dan latah.

5. Zul Azmi Sibuea - Juli 9, 2009

titik beloknya fritjof capra, akan mudah menjelaskan kesalahan teori ilmu berdasar newtonian, kira-kiranya begini :
perkalian :dikaitkan dengan materialism utk individualism yang
bermakna penambahan satu bagian , namun faktanya
penambahan agregat menghasilkan 0 (zero sum game)
dan penambahan hanya terjadi untuk kapital.
pembagian : dikaitkan dengan altruism, yang bermakna pengurangan
tetapi sngguh memberi efek penjumlahan kepada
kehidupan bersama – lebih bermakna sosial.
jadi saya kira tak perlu murung, tak ada bermuram durja karena secara perlahan teori ilmu akan berpihak pada kelangsungan hidup manusia. dengan teknologi informasi dunia ini akan semakin interaktif, integratif dan evolutif dalam naungan epistemologi tauhid.
salam
zul azmi sibuea

6. imam aly ibra jitaksara - Juli 26, 2009

jikalau tokh semesta musti berakhir pada gelap, pada ketiadaan, paling tidak kita pernah “mau” untuk hidup. Beraturan atau tidak, berkeyakinan atau tidak, kita pernah melaluinya.
hidup tak hanya butuh untuk dipikirkan.

7. Deja - Juli 29, 2009

….tadinya tidak tahu, lalu jadi tahu, dan terus entah mau diapakan….berulang lagi spt itu….dari waktu ke waktu…duh capek deeeh…

8. Catatanku tentang Pesta Blogger « kalipaksi dot com - Oktober 25, 2009

[…] narablog.  Tak berlebihan jika kemudian ia abadikan peristiwa itu dalam sebuah catatan pinggirnya: Berbagi. Di sana, ia menulis […]

9. kota salju - September 19, 2011

bagaimana mungkin, bahkan sekarang perasaan pun dikomersialkan. orang orang tua yang menikahkan anaknya pun berfikir kebahagiaan perlu modal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: