jump to navigation

Kamar Juni 29, 2009

Posted by anick in All Posts.
trackback

Sajak itu menghadirkan sebuah kamar. Luasnya cuma 3 m x 4 m, “terlalu sempit buat meniup nyawa”. Penghuninya tujuh. Ruang pun terasa kerdil dan rudin, ketika sebuah jendela menghubungkannya dengan dunia luar yang begitu perkasa.

Dalam sajak itu pula Chairil Anwar melukiskan kemurungan dan kelesuan kamar itu dengan sederet imaji yang makin lama makin dramatis. Sang ibu “tertidur dalam tersedu”. Sang bapak “terbaring jemu”. Mata lelaki tua itu menatap ke sesuatu yang mungkin hanya sebuah citra ketidak-berdayaan: gambaran “orang tersalib di batu”. Cahaya terbatas. Malam itu bulan mengirimkan sinarnya sedikit untuk mengintip, dan tanpak “sudah lima anak bernyawa di sini”.

Suasana represif, seperti sel-sel bui yang padat tapi kehilangan suara. “Keramaian penjara sepi selalu”.

Chairil menuliskan baris-baris itu sekitar setengah abad yang lalu, di Jakarta yang penduduknya belum lagi empat juta. Kini kota ini – yang baru saja berulangtahun ke-482 — dihuni 12 juta orang, dan membaca sajak itu kita terpekur: apa makna sebuah ruang (mungkin sebuah rumah) di kota seperti ini? Bagaimana pula kelak, di tahun 2025, ketika diperhitungkan hampir 70% penduduk Indonesia hidup di kota-kota? Apa yang tengah kita saksikan: sebuah progresi kepadatan dan ketercekikan?

Kecemasan atas kota-kota yang padat tak hanya terbatas di Dunia Ketiga. Di pertengahan abad ke-20, ada sebuah keluhan tentang Paris: “Di Paris tak ada rumah”. Itu tulis Gaston Bachelard, filosof Prancis itu, dalam La poétique de l’espace. “Penduduk kota-kota besar tinggal di dalam kotak-kotak yang dipasang-susun”. Akhirnya rumaha hanya terbangun horisontal; ia kehilangan “kosmisitas”-nya. Tak ada lagi pertautannya dengan yang kosmis, sebagaimana ia kehilangan angkasa, terlepas ari misteri keagungan.

Keluhan Bachelard memang menyiratkan sebuah nostalgia, kerinduan kembali kepada suasana tempat tinggal yang dengan nyaman dihuni bertahun-tahun di pedusunan dan kota kecil di pedalaman – sesuatu yang tentu saja tak bisa berlaku dalam latar sejarah sosial-ekonomi Indonesia.

Di Indonesia, terutama di Jawa, kepadatan penduduk sudah lama merampas pedusunan dari suasana sejuk-tenteram seperti yang dulu diidealkan lukisan Dazentje. Petani miskin tak mampu lagi punya rumah yang layak dirindukan. Tanah yang kian sempit diolah dan dimanfaatkan oleh penghuni yang kian lama kian banyak. Sebuah “involusi pertanian” (dalam istilah terkenal Clifford Geertz) terjadi: bukan kekayaan dan keluasan yang dibagi-bagi, melainkan kemelaratan dan kesempitan. Kamar yang dilukiskan Chairil bisa juga berlaku bagi ruang di rumah-rumah dusun.

Keadaan memang sedikit berubah sekarang, setelah program pengendalian pertumbuhan penduduk dua dasawarsa yang lalu berhasil. Pertumbuhan kini tinggal 1,3%. Tapi jika lihat Jakarta, kepadatan tetap sebuah kenyataan yang menyebabkan hubungan antara manusia dan tempat tinggalnya demikian tak membekas. Kita mengalami, dan menyaksikan, sejenis neo-nomadisme: orang berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain; “rumah” bukanlah faktor penting dalam stabilitas.

Orang hidup dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lain. Orang tak lagi mengenal tempat sebagai dunung, sebuah kata Jawa yang bukan saja menunjukkan sebuah situs fisik, tetapi juga afeksi, sentuhan perasaan yang positif, ruang yang pas untukku. Tempat telah jadi komoditi. Ia bukan lagi bagian dari pengalamanku yang tak bisa dipertukarkan. Ia bukan lagi mendapatkan wujudnya sesuai dengan wujud diriku; ia tidak lahir dari prosesku mengureg (burrow, bahasa Inggrisnya), proses seperti ketika tikus tanah membuat ruang hidupnya dengan membuat liang yang cocok. Para nomad baru tak membangun liangnya; ia masuk ke sebuah geografi yang sudah disiapkan untuk siapa saja. Di sana, ia hanya seorang tamu.

Neo-nomadisme itu juga lahir dari jarak: di Jakarta, rumah dan tempat kerja seringkali begitu jauh, lalulintas begitu padat, hingga lebih lama orang hidup di jalanan ketimbang di kamarnya sendiri. Ia akan berangkat pukul enam pagi, sampai di rumah kembali pukul tujuh malam, untuk kemudian duduk menonton televisi tentang dunia jauh, sebelum tidur, mungkin mimpi. Dan pada pukul lima…

Tapi tetap ada benarnya, bahwa seorang nomad tak pernah sempurna sebagai seorang nomad. Pada tiap kesempatan, manusia mencoba membentuk dunung-nya. Juga di Jakarta. Ada tempat-tempat yang kita bangun dan tempati dengan betah, juga di luar apa yang biasa disebut “rumah”. Ada ruang, sebagiannya tersembunyi dalam hati, yang tak hendak dan tak bisa diperjual-belikan: sebuah pojok di taman, sebuah sudut kota yang menyimpan kenangan, sebuah pasar yang menambat hati, sebuah kedai, sebuah stasiun bis, sebuah tempat pertemuan…

Di ruang-ruang yang jadi dunung, ada tenaga yang menarik kita ke dalam, membentuk setitik pusat, membangun dunia yang seakan-akan tanah yang kita ureg. Tapi di zaman ini, ada tenaga yang juga menarik kita ke luar, karena tempat apapun pada akhirnya hanya sebuah ruang transit. Barangkali yang akan tetap akhirnya hanya nomor HP atau alamat e-mail. Dan kita tak menyebut diri “tuna-wisma”.

Hari ini dan mungkin nanti, Jakarta adalah arus di mana “wisma” tak lagi relevan. Yang ada adalah kemah dalam hidup yang tak bisa mandeg. Ada yang hilang dalam kepadatan itu. Tapi manusia berjalan terus, terengah-engah makin tua, mencoba bisa hidup walaupun dengan sel-sel sempit yang kehilangan suara, dalam “keramaian penjara sepi selalu.”

~Majalah Tempo Edisi Senin, 29 Juni 2009~

Iklan

Komentar»

1. Kamar - Juli 5, 2009

[…] the original post: Kamar Posted in Catatan […]

ansav - Juli 24, 2009

kayak kos-kosan ajah.. tapi emang iya sie..

2. bodrox - Juli 5, 2009

karena kesempitan itulah maka manusia terus mencari, konon dulu manusia berlayar mencari benua baru. bahkan manusia menginvasi dan menjajah.

baru2 ini manusia terbang ke bulan.

adakah kelapangan itu sesugguhnya ada dalam hati?

3. mailina - Juli 6, 2009

Kamar, ruang, rumah bukan sekedar tempat berteduh, tidur dan istirahat. Tapi tempatku bermetamorfosa. Kalau katanya kelapangan itu ada dalam hati, benar. Tapi bukankah fisikku yang lelah ini juga butuh kelapangan? Bukankah fisikku ini juga butuh ruang yang leluasa buatku untuk bermetamorfosa?
Jakarta mungkin bukan ide yang baik lagi untuk hidup, bisnis dan ibu kota negara. Kalaulah negara ini mulai mempertimbangkan Jakarta hanya untuk jadi ibukota saja atau hanya jadi kota bisnis saja??

4. ikhsadi - Juli 7, 2009

KamarKu adalah Penjara Sepi yang slalu KuRindui..

5. bahak - Juli 7, 2009

kamar em…… nothing to say

6. ochidov - Juli 7, 2009

kamar
samar
hampar
dan,
terkapar.

7. ocidov - Juli 7, 2009

kamar
samar
hampar
dan,
terkapar.

8. Bisnis - Juli 8, 2009

kamarku ruang kerjaku ruang tidurku ruang santaiku

9. Zul Azmi Sibuea - Juli 9, 2009

sebuah ruang seperti pada syair lagu batak “aek sibundong” dibawah ini, yang artinya kira-kira :

kalau kau rindu padaku
pergilah ketepi sungai tempat pemandian itu,
teteskan air di telapak tanganmu
itulah aek sibundong
sebut namaku,
uuh. aku sudah disana berada disisimu ……

bila ruang pribadi itu ada dalam hati, memeang tak perlu berebut ruang-waktu dijalanan, tapi bila itu adalah suatu tempat seperti kata syair lagu diatas…pergilah ketepian mandi….., lama sampenya, bosan, macet, tidak aman dijalan banyak copet, kapak merah , tidak ada transportasi umum yang memadai……tapi untunglah ada OJEK.

sekaligus pula pada kesempata ini ingin diucapkan sukses, selamat dan terimaksih kepada jajaran yang mengurusi transportasi dinegeri ini mulai dari kementrian, kanwil, dinas transportasi khususnya instansi yang bertanggung jawab terhadap perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan transportasi umum darat di kota-kota besar karena telah berhasil membangun jaringan transportasi umum yang sangat merakyat, murah, semua terpuaskan, anti macet, cepat meluas dan meraja lela , dapat pajak balik nama besar, urus stn bayar pajak daerah juga besar yaitu “TRANSPORTASI UMUM MASSAL SEDEPA MOTOR”. dan bahkan sudah disusun undang-undang yang membolehkan sepeda motor bisa masuk jalan tol. sekaligus ucapan selamat ini, memohon agar instansi tersebut dibubarkan saja, karena tidak usah adapaun instansi itu, jumlah sepeda motor diberbagai kota besar di seluruh indonesia akan membuatnya sebagai “WAHANA TRANSPORTASI YANG UMUM”. Jadi kementrian, kawil dan dinas perhubungan tak lagi berguna, lebih baik seluruh jajarannya dimanfaatkan untuk keperluan lain yang lebih memberi manfa’at.

10. j u n s - Juli 10, 2009

Hii.. Jadi ngeri bayangin jakarta ntar th 2015. Skrg saja saya sudah rasa sumpek kalau maen kesana..

11. harunsaurus - Juli 12, 2009

Njakarta ngkota montor! Hahaha…

Pindah pulau ah…

12. Asep Sofyan - Juli 12, 2009

Esai ini mgkn tidak menggambarkan Jakarta bilangan Pondok Indah, Menteng, Kuningan…

13. Budaya Pop - Juli 13, 2009

Pandangan tentang tempat tinggal terus berubah seiring dengan makin sulitnya mendapat tempat.

14. risma - Juli 15, 2009

kehilangan ruang, kehilangan kosmisitas angkasa, dilukiskan lilis suryani dalam lagu “gang kelinci rumahku disasalah satu gang, persis kayak anak kelinci”. kita mesti siap-siap mengecil, mungkin jurus pertamanya, diet langsing dululah, lalu kemudian mobil pribadi yang besar bisa dilarang dijalan umum, karena mengambil space jalan dan parkir telalu boros – tentu ini bagus buat bisnis. asal kita tahu saja bahwa anggota dewan bisa menjalankan bisnis ini atas nama kepentingan rakyat.

15. KangBoed - Juli 15, 2009

SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG

16. Xna kool - Juli 15, 2009

hahhaha… i like it. hihi…. visit me.!!

17. KangBoed - Juli 17, 2009

WAAAAKAAAKAAKAKAK

SALAM SAYANG

18. masdiisya - Juli 18, 2009

bagi yang belum tahu sajak lengkapnya:

Sebuah Kamar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”

Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!

Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan Bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan: Kamar begini,
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

1946

19. KangBoed - Juli 21, 2009

Waaaakaakakak.. salam kenaaaaal boooosssss.. sukses selalu yaaaak

20. santeong - Juli 22, 2009

Dimensi ketiga dari penyerapan kita terhadap kedua dimensi ruang dan waktu adalah suasana, mood, rasa, dll. Ini yang akan menjadi mata dagangan unggulan dimasa-masa yang akan datang. Hal ini mudah terlihat pada penjualan paket-paket perumahan yang di lengkapi dengan dengan lingkungan pertokoan/mal, yang dimanfaatkan baik penjual maupun pembeli, fasilitas umum, fasilitas sosial, taman atau kebun atau hutan kota.

Nah sekarang apa lagi yang tersisa bagi masyarakat jakarta, bila kita keluar rumah, keluar kompleks perumahan , kita sudah dihadang macet, mau cari kenderaan umum, yang masih bisa jalan hanya “ojek”, karena berjalan kaki akan lebih berbahaya bagi keselamatan jiwa kita. akhirnya kita hanya eksis kalau ada ojek, ……hidup ojek….., kita hanya bisa ekspressif menyatakan diri kita dengan bantuan ojek atau sepeda motor. “JAKARTA MEMANG KOTA SEPEDA MOTOR”

21. Rigih - Juli 23, 2009

salam sayang juga!!!
ikut2n kang Boed

22. Deni_borin - Juli 24, 2009

mungkin suatu ketika gua-gua akan kembali penuh 🙂

23. akuakudanaku - Juli 26, 2009

setuju dengan kang asep…
hehehehe….

_salam kenal semuanya 🙂

24. Deja - Juli 29, 2009

Makanya mulailah membeli dan mengkoleksi tanah, Tuhan terus menerus tak jera mencipta manusia….tapi tanah…rasanya DIA sudah lama tak membuatnya….

25. Guam - Desember 9, 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: