jump to navigation

Tentang Rakyat Juli 13, 2009

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Pepeling.
trackback

Tentang rakyat, apakah yang sebenarnya kita ketahui?

Kata itu, seperti bagian penting dari mantra, punya efek yang kuat, tapi tak punya arti yang jelas. Seperti bagian dari mantra, ia diulang untuk membuat orang terkesima, atau tunduk, atau bersemangat. Tapi ia (sebagaimana mantra) akan hilang tuahnya apabila diletakkan sebagai sebuah satuan sintakse yang diurai maknanya. Di hadapan analisis, kata ”rakyat” akan jadi sebuah problem.

Artinya (seperti arti kata umumnya) ternyata bergantung pada bedanya dengan kata lain tempat ia dipasangkan. ”Rakyat” berarti bagian penduduk yang tak sedang berkuasa dari sebuah negeri, bila kata itu disandingkan dengan ”pemerintah”. Tapi kata ”rakyat” bisa berarti sebuah kekuatan tersendiri, juga di dalam pemerintahan, seperti dalam istilah ”Republik Rakyat Cina”. Kata itu juga bisa mengandung makna perlawanan terhadap yang mapan. Tapi ”rakyat” juga bisa berarti suara mayoritas yang, sebagaimana lazimnya mayoritas, berkumpul di bagian tengah kurva lonceng dalam statistik: sebuah tendensi di luar yang ekstrem.

Saya ingat sebuah sajak Hartojo Andangdjaja yang mencoba mengutarakan apa itu ”rakyat”. Tapi seba­gai­mana layaknya puisi, ia tak menawarkan definisi, melainkan imaji:

Rakyat ialah kita

jutaan tangan yang mengayun dalam kerja

di bumi di tanah tercinta

jutaan tangan mengayun bersama

membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga

mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di ko­ta

menaikkan layar menebar jala

meraba kelam di tambang logam dan batubara

Rakyat ialah tangan yang bekerja
Rakyat ialah kita

otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka

yang selalu berkata dua adalah dua

yang bergerak di simpang siur garis niaga

Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita

beragam suara di langit tanah tercinta…

Rakyat ialah suara beraneka

Sajak itu agak terlalu panjang bagi selera saya saya potong di bait itu. Tapi saya kira kita bisa menyimpulkan apa yang hendak dikemukakan penyairnya: Rakyat adalah subyek. Tapi subyek itu bukan terbentuk sebagai substansi yang sudah ada dan akan selalu ada; rakyat bukanlah ”kehadiran” yang tegak sebelum dan sesudah ”kemauan” atau ”perbuatan” atau ”keputusan”. Bagi Har­tojo, ”rakyat” lahir dari kerja, berpikir, mencipta. Subyek itu hanya jadi subyek dalam praksis.

Dalam hal ini kata ”rakyat” sejajar dengan pengertian ”proletariat” dalam pengertian Sartre: kaum proletar ”mem­bentuk dirinya sendiri dari aksi hari-ke-hari”. Ia ada hanya melalui aksi. ”Ia adalah aksi. Kalau ia berhenti beraksi, ia buyar”.

Tentu saja ada beda antara gambaran tentang ”rakyat” dalam sajak Hartojo dan asal-usul ”proletariat” dalam definisi Sartre. ”Rakyat” dalam puisi Hartojo lebih ­me­rupakan subyek produksi dan kreasi ketimbang subyek politik. Rakyat sebagai subyek politik diasumsikan seba­gai sesuatu yang tidak ”buyar” (decomposed), dengan kata lain: utuh dan tunggal, sedangkan rakyat dalam ­imaji puisi Hartojo tidak. ”Rakyat adalah suara beraneka”.

Dalam sejarah demokrasi, selalu ada pertemuan, perbenturan dan persilangan antara rakyat sebagai subyek politik dan rakyat sebagai ”suara beraneka”. Menjelang demokrasi modern lahir dari rahim Revolusi Prancis, Rousseau mengatakan bahwa apa yang membuat ”kemau an publik” bukanlah ”jumlah pemilih”, melainkan ”kepentingan bersama yang menyatukan mereka”.

Persoalannya, kemudian, bagaimana ”menyatukan” suara yang ”beraneka” itu. Robespierre, yang selalu cenderung untuk bersikap ekstrem, mengambil kesimpulan­ bahwa ”kita perlu satu kemauan yang tunggal”, une volonté UNE, seperti ditulisnya dalam catatan pribadinya pada tahun 1793. Dari sini kita tahu apa yang dilakukannya: teror terhadap mereka yang tak dianggap menolak jadi tunggal, pembasmian mereka yang ”bukan-rakyat”. Dipim­pin Robespierre, Revolusi Prancis bisa membebaskan, tapi juga bisa dengan bengis menghilangkan kebebasan.

Sebab orang seperti Robespierre merasa tahu betul apa yang disebut ”rakyat” dan akhirnya terjebak: ia sendiri dipenggal oleh mereka yang juga merasa mewakili ”rakyat”. Ia orang berniat baik—sebagaimana banyak intelektual dewasa ini yang karena niat baiknya melihat rakyat sebagai subyek politik yang diberi status ontologis: rakyat tak lagi sesuatu yang dibentuk oleh praksis, melainkan yang membentuk praksis. Pada gilirannya, ”rakyat” jadi bagian dari sebuah mitologi, atau setidaknya bagian dari mantra.

Tapi demokrasi kemudian belajar: jika sistem ini bermula sebagai ”pemerintahan oleh rakyat”, ia berangsur angsur menerima bahwa ”rakyat” adalah sebuah subyek yang tak ”hadir”. Para pendukung demokrasi memang sering terkecoh. Mereka alpa bahwa rakyat adalah subyek­ yang, sebagai subyek, tak sepenuhnya bisa diterjemahkan oleh bahasa. Ia bisa berganti-ganti maknanya sosoknya, suaranya, lakunya.

Maka tak mengherankan bila percakapan dan debat dengan sikap membela rakyat yang kita ikuti di koran dan televisi selama ini bisa tiba-tiba dipergoki oleh kenya­taan bahwa rakyat tak mendengarkan hiruk-pikuk itu.

Jika kita bisa belajar, mungkin sejak ini sebaiknya kita selalu bisa bertanya: tentang rakyat, apa sebenarnya yang kita tahu?

~Majalah Tempo Edisi Senin, 13 Juli 2009~

Iklan

Komentar»

1. zul azmi sibuea - Juli 27, 2009

agak tertegun sejenak setelah membaca artikel ini, mengapa ?
pertanyaannya sangat mendasar apa rakyat ?????.
saya teringat, mengapa disebut ra’yat, mungkin sejak kita intens diperkenalkan dengan baca tulis arab melayu sebelum abad 12, kata rakyat menjadi sering kita dengar. karenanya sering diperhatikan, sering dilihat-lihat, sering dipelihara – mungkin kata ra’yat berasal dari kata “ra’a” dari bahasa arab yang berarti lihat, perhatikan, dan menjadi pembicaraan orang banyak atau publik.
barangkali itu pulalah sebabnya ketika kita menjelang puasa atau hari raya kita melihat dan memperhatikan posisi bulan dan itu kita sebut “ru’yah”. atau barangkali kita langsung mangadaptasinya dari bahasa parsi yaitu “raaya” yang berarti adalah penduduk negeri, dalam zaman pagan mereka disebut “peasant”atau setara dengan gembala atau “pasture” sebelum renaissance.

Dan sudah sejak itu gembala adalah barang dagangan biasa, sering dimanipulasi dan diperjual belikan, diatas-namakan terutama oleh ideologi. dan ideologi itu pulalah yang membawa gembala mengalami lebih banyak kesengsaraan dibandingkan kebahagiaan. lalu mau kemana ra’yat ingin dibawa ‘susunlah manteranya” – lalu siapa sesungguhnya yang melihat siapa, siapa yang memelihara dan menjaga siapa, siapa yang memperhatikan siapa??????
garis antara siapa dengan siapa hanya bisa terbaca pada pemilu legislatif, pemilu presiden, pemilu kepala daerah – namun tetap saja tida pernah ada garis tegas siapa rakyat, dan saya rakyat manakah ????? rakyat indonesia atau rakyat partai.

2. jajang husni - Agustus 3, 2009

Terlepas dari rakyat itu apa, tapi kata-kata “rakyat” dari mulut politisi selalu membuat saya mual.
Buat para politisi, tolong jangan menyebut lagi “rakyat”. Selama anda bilang rakyat, rakyat dan rakyat, selamanya pula anda akan kehilangan kepercayaan. karena,
ketika anda berbicara “rakyat”, ketika itu pula saya tahu anda sedang berdusta.

3. kwangkxz - Agustus 14, 2009

Betul sekali, jangan berkata “rakyat” kalau ternyata ada dusta didalamnya.

4. josef - Oktober 1, 2009

Rakyat atau peuple istilah yang pertama kali digunakan dalam Revolusi Prancis ditujukan untuk suatu kaum yang tidak punya apa-apa dan hanya bergantung pada kedua telapak tangannya untuk menghidupi dirinya dan keluarganya.Istilah itu semakin populer setelah keberhasilan Revolusi Prancis dan menyebar di seluruh Eropa dan mengancam kemapanan sistem Monarki di Eropa. Perasaan terancam kaum miskin yg tak bermodal dalam mencari nafkah dalam arus liberalisasi ekonomi,membuat Revolusi pecah dimana-mana. Pemerintah yang lemah tak berdaya menghadapi kaum Revolosioner.Jika kaum miskin terus menuntut apa yg Pemerintah tidak bisa perbuat jawabannya adalah Undang-Undang atau peraturan yang membatasi tuntutan-tuntutan tersebut. Jika itu gagal kaum miskin harus menghadapi Petugas Negara dan harus berurusan dengan hukum.Tidak ada yg merubah nasib suatu kaum apapun kecuali atas perbuatan dan kemauannya sendiri.Rakyat yang digambarkan Bung Karno adalah si Marhaen, dengan modal kecil terampil menggunakannya dan mampu menghidupi keluargannya, tidak membebani Negara dimasa yang akan datang.Uraian singkat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: