jump to navigation

Politesse Juli 27, 2009

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Indonesia, Politik.
trackback

Di sebuah TPS, pada pukul 9 pagi: para tetangga datang, saling menyapa, saling senyum, bercakap-cakap agak lirih, duduk menunggu dengan tertib, kemudian bergiliran masuk ke ruang kotak suara, mencontreng, mencelupkan jari ke tinta hitam, lalu melangkah ke luar, menyambung senyum dan percakapan, tentang tetangga yang sudah pindah, tentang anak yang baru menikah, tentang selokan yang belum diperbaiki, tentang segala hal—kecuali tentang partai atau tokoh yang telah dan akan dipilih hari itu.

Politik: apa gerangan ia sebenarnya? Di TPS itu tak ada gelora yang berapi-api. Para militan dan partisan sedang mengubah diri jadi warga RT (jangan lupa, artinya, ”Rukun Tetangga”). Politik seakan-akan berhenti jika politik, (das Politische, kata Carl Schmitt) adalah sebuah arena kekuasaan, sengketa, dan antagonisme. Tapi benar kah?

Berhari-hari sebelumnya kampanye memang menderu seganas deretan panser dalam perang yang, dengan bendera yang angkuh, menembakkan kata-kata yang ingin menghancurkan. Tapi pada hari itu, di TPS itu, para tetangga yang bertentang an dalam menentukan pilihan dengan serta-merta tampak jinak: orang-orang yang saling mengucapkan selamat pagi. Mereka seperti saling mengerti: pilihanmu adalah pilihanmu, pilihanku pilihanku. Nanti, menjelang sore hari, mereka akan dengan tegang menanti hasil penghitungan suara, tapi setelah itu….

Beberapa minggu kemudian anggota DPR ditentukan, presiden dan wakil pre siden dilantik. Dan segera setelah itu tak terasa lagi kemeriahan, greget, dan semangat.

Ada yang menyambut hilangnya gairah yang berapi-api itu sebagai tingkat matang demokrasi sebuah kebajikan. Ada yang menunjukkan bahwa ajang politik memang bukan medan tempur. Bagi mereka ini, politik berbeda dari polimos atau perang. Politik, bagi mereka ini, adalah ruang kemerdekaan dan partisipasi publik. Di sana orang ramai membahas, menimbang, dan memutuskan nasib bersama. Dengan kata lain, di TPS itu tampak, apa yang ”sosial” dalam hidup manusia ternyata tak dihabisi oleh ”politik”bahkan sebaliknya.

Tapi ada yang menganggap itu hanya façade. Antagonisme memang bisa ditutup-tutupi oleh proses politik sebagai Politesse. Dipergunakan oleh Schmitt, istilah itu menyarankan sebuah laga yang sengit tapi sopan. Tapi bagi Schmitt dan para teoritisi politik yang sepaham, politik tak sama dengan pertandingan Manchester United vs Chelsea. Sebuah masyarakat dan sebuah bangsa terbentuk dari luar dan dari dalam oleh konflik. ”Saya menegaskan, politik dan polimos berjalan bergandeng an,” kata Chantal Mouffle.

Tapi jangan-jangan tak begitu sebenarnya, dan barangkali kita di sini bertemu dengan sebuah hiperbol. Dalam pengamatan sehari-hari, politik tak hanya bergandeng an dengan polimos. Pada akhirnya Mouffle sendiri mengatakan, berbeda dari Schmitt, ia mengakui perlunya ”pasifikasi”: tujuan demokrasi adalah memungkinkan bentuk-bentuk yang bisa mengekspresikan konflik tanpa menghancurkan asosiasi politik.

Di TPS itu, senyum dan percakapan ikut membangun proses sederhana yang mengelakkan sikap saling menghancurkan. Bahkan seakan-akan tempat itu jadi tempat silaturahmi atau bertandang—meskipun kita tahu, dan orang pun akhirnya mengerti, ada yang tak selamanya tuntas dalam Politesse. Selalu ada residu dari apa yang brutal dalam politik, selalu masih ada amarah yang tersisa dan dendam yang tersekat di saat para musuh politik berjabat tangan.

Betapapun berlebih-lebihannya gambaran politik sebagai arena pertempuran, pengalaman sejarah memang tak pernah menghadirkan sebuah masyarakat yang utuh penuh. Keragaman tak hanya bisa tampak bagai variasi, tapi juga sebagai pertikaian, bahkan perpecahan. Manusia bisa rasional, dan itulah dasar yang membuat orang percaya akan efektifnya demokrasi ”deliberatif”. Tapi manusia tak hanya—dan tak selama-lamanya—membentuk bangunan sosial-politiknya hanya dengan berembuk.

Apa boleh buat. Krisis gagasan besar kini ada di mana-mana. Juga agama tak selamanya bersuara dengan meyakinkan lagi. Kita hidup di sebuah masa ketika kita dihadapkan pada kesadaran yang meluas bahwa manusia adalah bermacam-macam kemungkinan. Seorang pemikir pernah menyebut zaman ini sebagai ”the age of contingency”.

Politik pada akhirnya adalah pengakuan akan konti ngensi itu. Kontingensi adalah sebuah lubang besar: tak ada jaminan yang kekal tentang apa yang baik dan tak baik mengenai masyarakat. Jaminan itu hanya terjadi bukan setelah (dan bukan sebelum) diperjuangkan. Salah satu bentuk perjuangan terjadi sebenarnya ketika kita masuk ke ruang untuk mencontreng. Di situ kita sebenarnya membangun jaminan dengan harapan yang setengah yakin bahwa besok apa yang dibangun itu tak akan runtuh.

Di luar TPS itu tak ada jaminan apa-apa. Tapi setidak nya juga tak ada pisau yang dihunus dan pistol yang dicabut. Yang kalah akan bersungut-sungut, yang menang akan tersenyum puas, dan masing-masing akan melanjutkan sikap waspada. Tapi ada satu faktor yang sering dilupakan dalam politik pada zaman yang serba-mungkin itu: waktu.

Waktu membuat kita bisa menunggu, menunda, bersiap, berubah posisi atau mengantar kita ke kematian. Waktu membatasi, tapi juga membuka pintu. Kita mencoba. Dengan kata lain, kita mengambil langkah sementara. Dalam ”the age of contingency”, demokrasi adalah politik dengan kesadaran akan kesementaraan—seperti hitam tinta yang melumeri kelingking kita di TPS itu.

~Majalah Tempo Senin, 27 Juli 2009~

Komentar»

1. zul azmi sibuea - Juli 27, 2009

bila demokrasi adalah politik dengan kesadaran akan kesementara an dalam ”the age of contingency” maka sesungguhnya, tidak diperlukan partai politik. yang diperlukan adalah gerombolan pragmatis biasa, bukan partai politik yang dengan keyakinannya mengajukan cara untuk mebawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat banyak. dengan kata lain partai politik dengan ideologi tertentu tidak akan laku dihadapan orang banyak.

barangkali ini juga sebabnya mengapa pada saat berkampanye beberapa partai kita menyaksikan orang yang sama , karena partai adalah partai ecek-ecek , bukan partai betulan – bahkan pengurus teras partai kita saksikan dengan mudahnya pindah dari partai yang satu kepartai lainnya, anggota/atau ketua dpr lagi. terjadi sunsang-sumbal dalam tubuh partai, dalam kebijakan partai eeeh salah ….
saya tak akan lagi bicara partai , karena partai sudah mati.

mestinya pemikir politik negeri ini berterus terang saja, dan deklarasikan diforum ilmiah bahwa di indonesia “PARTAI POLITIK SUDAH MATI”, segeralah dikubur agar tidak berbau busuk dan menjadi sumber penyakit.

2. Loginataka - Juli 28, 2009

Setuju Mas,

Kayaknya di Indonesia ini, demokrasi yang berbasis partai sudah tidak relevan (atau memang belum pernah relevan?)

Pemilu kemarin seperti kembang api (klo gak salah ada caping yg bilang begitu): Byar…. Semarak…. Melintas kepala kita….. Lalu turun ke bumi…. Jatuh.. Menjadi sampah…. dan langit kembali gelap…

3. Nyubi - Juli 28, 2009

Politesse bukan politisi rese kan mas?

4. Rusli Zainal Sang Visioner - Juli 29, 2009

Semoga capres yang kalah menerima dg lapang dada kekalahannya, sehingga menjadi politisiprestisse bukan politi rese

5. zul azmi sibuea - Juli 29, 2009

saya tidak tahu, entah apa yang tergambar dalam fikiran penulis artikael diatas ketika memberi judul “politesse”.
apakah ia meng analogikan nya sebagaimana ketika habermas membuat judul “knowledge and intresse” dimana intresse dapat diurai menjadi “inter-esse” , sehingga politesse bisa juga diuraikan menjadi “politie-esse”.
bila inter-esse nya habermas akan bermuara pada komunikasi inter esse, atau komunikasi antar subjek, gerangan apakah kiranya makna yang tersembunyi dalam kata “politie-esse” ?????, apakah ia dimaksudkan sebagai subjek politik , seperti digambarkan oleh pengarang yang sama pada atikel “tentang rakyat”. kita hanya bisa menduga-duga dengan etimologi bahasa, sehingga esse, yang berasal dari “essere” tidak lain adalah penanda bagi “existensi” ada. sedangkan politie, apakah disandarkan pada politienya plato pada implementasinya di yunani pada zaman polis.
artinya judul diatas menjadi sangat banyak arti – kita hanya bisa mengerti dengan konteks yang dijelaskan dalam badan karangan, tetapi tetap saja mengundang beribu tanya.

6. celotehanakbangsa - Juli 29, 2009

Semoga yang menang Jangan menepuk dan membusungkan dada..
Yang kalah jangan Menundukan ataupun menggelengkan kepala..hehe..

Salam Anak Bangsa..
Salam Perubahan..

http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/28/foto-ayam-kampus-gan-igo-nich/

7. Keuyeup - Juli 29, 2009

@Zul azmi
Begitulah GM. kita hormati kontribusi karyanya.
Makin bagus kita kritisi juga. Tidak semua karyanya jempol kok..

8. amim - Juli 31, 2009

Sy kira, karakter dasar masyarakat Indonesia adalah sifat yang santun, ramah, guyub dan rukun. Semoga perubahan zaman tidak menggusur sifat-sifat ini dan sy yakin kita semua masih memilikinya. Kampanye yang bisa jadi ajang pembelaan tokoh pilihan dan ‘penjatuhan’ lawan politik, tidak akan terjadi karena kita masih berbaju sifat-sifat itu. Hal ini menjadi terlihat saat banyak orang yang berbeda pilihan politik bertemu dalam 1 titik yg namanya TPS. Kadang mereka saling bercanda dan meledek…
Semoga Bangasa ini tetap gurub rukun dan adem ayem dalam keberagaman….

9. jajang husni - Agustus 3, 2009

Membaca politesse, serasa politik jadi sinetron. Si penonton sadar bahwa mereka dihadirkan cerita palsu. dan si aktor, meski sadar bahwa penonton tahu kepalsuan mereka, tetap berakting dengan total. Meski bukan berarti totalitas menjamin mutu.
Dan, keduanya nyaman. Si penonton, tak hendak mengganti channel- Karena memang tak ada acara lain-. Si aktor, tak punya beban dengan aktingnya. Namanya juga akting, “adanya kesamaan antara apa yang saya janjikan dengan harapan saudara, adalah kebetulan semata..”.

10. Rosit ska - Agustus 3, 2009

semarak capres pada masa kampanye hilang begtu mudahnya seiring dengan hasil yang diperolehnya, mirip dengan budaya pop, meledak pada saat itu juga namun tak lama kemudian hilang ditelan bumi.

11. Egi - Agustus 3, 2009

Selamat Ulang Tahun yang ke 68, Pak Goen. Semoga sehat dan panjang umur sehingga bisa terus berkarya( Kalau merayakan Ultah).Mohon Maaf telat.

Saya baru melihat pemutaran ulang pidato Pak SBY dan melihat beliau berpelukan dengan Pak TK.

12. kwangkxz - Agustus 14, 2009

Apakah politesse itu sama dengan politisi ?

13. camping_compang - Oktober 21, 2009

meneketehe, heee, heeee, mungkin saja seperti yang dibaca pada komen no.5, dimana : polit-esse identik dengan inter-esse

esse berasal dari essere (latin) yang berarti ada, adalah – atau exist, jadi politesse, bisa diartikan eksistensi politik, aksistensi perpolitikan – mas gun ingin menggugah bagaimana mestinya sebuah politik bereksistensi.

itu juga kalau pada setuju, nek gak setuju yo uissss, ra popo

14. Chat - Desember 9, 2009

Makasih, Guam Page.

15. Maxgrosir - April 10, 2014

dan baru kemarin kita melaksanakan coblosan, walau ane golput sih,, hehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: