jump to navigation

Indonesia Agustus 17, 2009

Posted by anick in All Posts, Identitas, Indonesia, Nasionalisme, Sejarah.
trackback

KADANG-KADANG saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran bapak saya beberapa saat sebelum ia ditembak mati. Kadang-kadang saya ingin membayangkan, ia menyebut nama ”Indonesia” di bibirnya, atau ”Indonesia merdeka”, tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil bapak ketakutan di depan regu tembak pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti, beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti keberanian) pun punah: peluru-peluru menembus batok kepalanya. Darah muncrat, ia roboh, tak akan pernah pulang lagi.

Di tengah perkabungan, seluruh keluarga kami ketakutan dan menangis. Hanya ibu yang teguh: seperti tiang rumah yang ajaib. Ia menangis tapi ia menenangkan kami semua dan mengambil alih persiapan pemakaman dan perkabungan yang tergesa-gesa itu.

Kini saya mencoba mengerti kenapa ibu dapat demikian kuat. Ia mungkin sudah tahu, hidup suaminya akan berakhir seperti itu, atau sedikit lebih baik ketimbang ditembak mati. Ibu telah menyaksikan bapak keluar-masuk penjara; ia bahkan menyertai bapak ke pembuangan nun di Digul, di Papua, yang tak terkirakan jauhnya. Adakah ia ikhlas? Ibu tak pernah berbicara tentang suaminya dengan kekaguman kepada seorang pejuang; ia hanya sesekali berbicara tentang sikap keras hati laki-laki itu: ada saat-saat ia seperti bertapa buat menetralisir musuh-musuhnya (yang tak pernah dijelaskan kepada saya siapa), ada saat-saat ia meninggalkan rumah untuk sebuah rapat gelap di atas perahu, ada saat-saat ia tak putus-putusnya mendengarkan radio. Selama itu, ibu tak pernah berbicara tentang ”Indonesia”.

Barangkali karena bagi generasi aktivis politik masa itu—yang terlibat langsung dalam pergerakan nasional sejak awal abad ke-20—”Indonesia” sudah dengan sendirinya hadir dalam pikiran, sehingga mulut tak perlu mengucapkannya lagi. Atau kata ”Indonesia” dengan sendirinya sebuah perlawanan bagi kata ”Hindia Belanda”. Karena setiap saat dalam aktivitas politik masa itu adalah perlawanan, kata ”Indonesia” sudah tersirat ketika orang siap masuk penjara. Atau dibuang. Atau ditembak mati.

Ibu membesarkan sisa anak-anaknya yang belum dewasa dengan praktis: mereka harus makan dan bersekolah. Hampir hanya itu. Dalam percakapan keluarga kami sama sekali tak ada pesan untuk cinta tanah air. Tapi saya tumbuh, dan saya kira juga saudara-saudara sekandung saya, dengan ingatan tentang bapak—dan bersama itu, diam-diam, ”Indonesia” pun menongkrongi diri kami, melibatkan kami. Artinya jadi sangat berarti. Setidaknya saya tak bisa membayangkan diri saya hidup tanpa pertautan dengan ”Indonesia”.

Saya yakin, saya tak sendirian. Bersama yang lain-lain, saya tak akan bisa merumuskan dengan fasih apa arti ”Indonesia” bagi saya. Tapi saya melihat teman-teman saya yang tanpa merumuskan apa pun berdiri menyanyikan Padamu Negeri seraya siap untuk melakukan tindakan besar bagi orang banyak di negerinya—misalnya melawan mereka yang menindas. Saya melihat Upik dan Udin yang berangkat ke Aceh untuk membantu mereka yang terhantam tsunami dan memasang bendera merah-putih kecil di ransel mereka. Saya mengenal Tati dan Toto yang—meskipun tak menyukai apa saja yang ”politik”—berkaca-kaca matanya ketika mendengar Indonesia Raya dengan musik yang agung.

Apa yang mendorong mereka demikian? Mungkin karena tanah air adalah ingatan dan harapan yang menyangkut tubuh: harum padi yang terkenang, rasa rempah yang membekas, deras arus yang tak bisa dilupakan, suara ayah yang memuji, lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang mengendap dalam kesadaran. Juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan beres bersekolah, karier akan dicapai. Juga harapan akan melakukan sesuatu yang berarti.

Tapi tentu saja ada mereka yang menolak itu semua—atau tak merasa terpaut dengan tanah air yang mana pun. Saya kira, mereka yang bersetia kepada gagasan ”Darul Islam” yang tak berpeta bumi itu adalah contoh yang baik; mereka berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, tanpa bertaut ke masing-masing tempat. Mereka tak bertanah air, sebab tanah air adalah bagian dari bumi dan badan, sedang mereka yakin bahwa hukum—yang bagi mereka adalah segala-galanya—tak terpaut pada bumi dan badan, ruang dan waktu tertentu. Tak akan mengherankan bila ”Indonesia” bagi mereka tak berarti apa-apa. Geografi mereka sederhana: sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.

Kita tahu mereka siap untuk mati, untuk ditembak mati. Tapi betapa berbedanya dengan mereka yang merasa terpaut dengan sebuah tempat hidup dan tempat mati. Mungkin sekali di depan regu tembak itu bapak saya tak menyebut nama ”Indonesia” dengan tekad utuh. Mungkin sekali ibu saya bekerja dengan tekad untuk anak-anaknya bukan untuk masa depan negeri ini. Tapi bagi saya mereka seperti kebanyakan kita: bagian dari sesama, yang hidup fana, di sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum dan senjata.

~Majalah Tempo Edisi 17 Agustus 2009~

Iklan

Komentar»

1. neno - Agustus 19, 2009

aku juga bertanya kemarin? dimanakah indonesia tertanam di diriku? barisan memory yang menumpuk dan berdebu. aku lupa indonesiaku, tapi, dalam waktu bersamaan, aku ingat gurauan bersama teman, lengkingan tawa kecil, peluh yang menetes dan menguap di baju, atau segukan kecil melepas kakek. semua terletak dan berada disini, sebuah wilayah yang dinamai indonesia. mungkinkah itu atinya? ataukah guliran waktu akan selalu membangun defenisi baru?

2. zul azmi sibuea - Agustus 19, 2009

mana ada lagi yang tersisa, mana tanah airku.???? indonesia, tanah airku itu , berarti cuma bayangan saja, imaji saja, hanya ada dalam fikiran, tak lagi ada faktanya, tengoklah, misalnya :
– tanah, kalaupun masih ada sawah, kebun, ladang , dalam waktu 64 tahun sejak merdeka, sudah dibagi dalam 3 atau 4 generasi (dibagi menjadi 30 sampai 35 bagian), sisanya hari ini NIHIL, jangankan tanah untuk tapak rumah, untuk dangau tempat berlindung dikala hujanpun susah, dikota-kota besar, bahkan sebelum mati orang harus terlebih dahulu sewa tanah untuk kuburan baru boleh mati, tragisnya, dilarang mati sebelum punya tanah kubur sewaan.
– air, coba renungkan air yang mana yang kita masud, air tanah untuk minum, mandi, cuci, untuk keperluan sehari-hari harus kita bayar dengan mahal, sungai ….ini jangan tanya, kalau tidak kering karena penggundulan hutan, beracun hingga tak lagi makhluk bisa gunakan. bukan hanya dikota besar seperti jakarta , bandung, medan , surabaya, ujung pandang, palembang, makasar saja menggunakan air kemasan, bahkan sampai jauh kesudut-sudut kampung di kecanmatan-kecamatan orang menggunakan air kemasan , walaupun industri kemasan bilang dibanding air atau isinya nya botolnya lebih mahal dari airnya sendiri (ini penipuan pihak pemodal, karena mengambil alih pelayanan publik) hal ini karena kualitas air dari pelayanan publik jelek, mahal, dan lebih mahal dari yang diusahakan swasta – bahkan pemerintah sedang berfikir untuk menswastakan air minum, air mandi dan air cuci. yang lebih tragis adalah karena kelalaian semua manusia kita diberi air yang banyak dalam bentuk banjir, karena cuaca tak lagi bisa diprediksi karena kelengahan kita memelihara keseimbangan alam.
jadi tanah air yang mana yang masih kita punya sekarang – tanah air sudah habis, sungaipun disisakan penuh dengan limbah beracun konsekuensinya kita mesti membayar mahal bertanah air di indonesia – saya perlu menayakan lebih rinci kepada saudara-saudara saya yang kembali jadi tki di malaysia, arab, eropa , amerika dll, garangan “di negeri mana bertanah air lebih murah” karena kata orang latina “UBI BENE IBI PATRIA” – dimana hidup lebih nyaman itulah tanah airku. 64 tahun merdeka, kita sudah peroleh apa (mis. pangan, sandang,papan, kesehatan, pendidikan) dengan utang berapa ?????

3. Nyubi - Agustus 19, 2009

Indonesia ada di hati setiap orang yang mensukuri kemerdekaan 🙂

4. Muhammad Zain - Agustus 19, 2009

Indonesia adalah kumpulan orang-orang suka menyumpah serapah,suka mengambil kesempatan,suka pamer (kekuatan,kekayaan,kerakusan,kemiskinan,kepamrihan,dsb).Tapi indonesia juga kumpulan orang-orang yang masih memiliki kearifan,keikhlasan,keluguan,kejujuran,dan kesejatian sebagai umat manusia.Anda termasuk yang mana??????………….

5. Lex dePraxis - Agustus 20, 2009

“Geografi mereka sederhana: sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.”

Luar biasa, thanks for sharing.

6. haris - Agustus 20, 2009

Indonesia adalah tanah airku dan selalu akan menjadi tanah air yang paling kucintai

7. Pusat Alkes Online - Agustus 20, 2009

Bagaimana Indonesia tertanam di hati para koruptor? dan para pejabat penyelenggara negara yang tidak menjalankan amanat dengan segenap hatinya??

8. nilam - Agustus 26, 2009

Aku baru bisa benar-benar merasakan betapa aku adalah orang Indonesia adalah ketika mengikuti suami tinggal di negaranya. Ternyata aku cinta Indonesia yang sebelumnya cinta itu tak pernah kusadari karena selama di Indonesia sejak lahir yang kurasakan adalah kemarahan pada bangsaku yang dipimpin dan dikendalikan oleh penguasa2 korup yang suka bermewah2 di atas penderitaan rakyat miskin.
Diam2 ketika sedang sendiri menanti kedatangan suami, aku menangis…
Betapa aku merindukan Indonesia
Kurasakan keindahan Indonesia justru bersama mereka yang sederhana, yang miskin yang bersyukur, yang menderita tanpa mengeluh, yang gagal tapi tetap optimis dan pantang menyerah, yang cerdas tapi tidak sombong dan dengan mereka yang suka berbagi karena rasa kemanusiaan, yang selalu ingin melihat kebahagiaan orang lain… dengan mereka yang pandai mensyukuri nikmat Allah tinggal di negeri yang “Indonesia” ini…

I love u, Indonesia

9. isoelaiman - Agustus 27, 2009

Ya, benar nilam. Cinta negara itu bagian dari iman. Tapi juga, sekaligus dalam waktu yang sama, cinta Tuhan adalah segalanya. Bila disatukan, cinta negara karena Tuhan.
Karena, kesempatan hidup yang dianugerahkan kepada kita sekarang ini, akan bergerak puuuaaanjaaaaaaaang tiada putus di dunia sana. Di Indonesia, aku bersyukur bisa mampir “ngombe”. Pelepas dahaga sejenak.
Galau. Kenapa begitu banyak kusaksikan tokoh agama, kyai, haji, penceramah, pengkhotbah, begitu sama dengan preman, koruptor, penguasa, dalam kerakusannya pada dunia. Saya tidak menyaksikan kehidupan Rasulullah di rumahtangga mereka.
Kubertanya, siapa yang benar-benar menjadikan Indonesia ini sebagai “ladang” kehidupan akhirat? Bukankah kehidupan ini sekedar “mampir ngombe”, tak terpaut kekinian?
Saat tuan di atas pelana kuda, kita tahu bedanya. Saat tuan berkubang di kandang kuda dan terus menerus disana, tak lagi jelas beda antara keduanya. Karena ternyata kesukaan sang tuan dan sang kuda sama. Nafsu badani, yang juga nafsu hewani.
Kubertanya, dimana jati diri sang tuan? Apakah hakekat sang tuan hanyalah memang badani dan hewani belaka?
Geografi kubangan keduanya, menyesakkan Indonesia. Hingga, Indonesia mengalami krisis spiritual yang sangat dahsyaaaat.

10. Xna kool - Agustus 27, 2009

yang penting kita masih punya rasa nasionalisme jenk..!1 mampir donk jenk.. ribuan traffic blog dari paid review terbaik

11. miftah - Agustus 31, 2009

Merdeka Indonesia! dari segala praktek KKN

12. mai - September 4, 2009

Sewaktu saya jadi pasukan pengibar bendera di upacara 17-an, di acara pengukuhan, sewaktu mencium bendera merah putih sambil menyanyikan Bagimu Negeri,gak ngerti kenapa saya terharu sampai menangis. Dan beberapa teman saya yang laiinya juga menanis. Waktu itu umurku 17 tahun, yang terlalu muda untuk bisa mengerti kata merdeka dan mengerti kata Indonesia. Yang ada di benakku dan yang aku rasakan saat itu adalah susah, sakit yang aku alami selama masa karantina yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyawa para pejuang untuk sebuah Proklamasi. Saat itu pengertian merdeka buatku adalah saat Soekarno membacakan Proklamasi dan saat Bendera Merah Putih dikibarkan sampai di puncak. Dan itulah yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus.
Hal lain yang membuatku sedih dengan kata Indonesia adalah saat aku, rakyatku dan bangsaku dihina, dilecehkan bangsa lain. Saat batik dan budaya kita yang lainnya diklaim bangsa lain jadi miliknya.
Yang paling menyedihkan kalau melihat kondisi Indonesia kita sekarang ini, yang katanya sudah merdeka 64 tahun. Aku jadi bingung, inikah negara yang 64 tahun lalu katanya diproklamirkan kemerdekaannya? Saat masih banyak orang yang tidak bisa makan, tidak bisa tidur di rumah yang sehat, tidak bisa sekolah? Masihkah aku bisa sebut kalo Indonesia ini negaraku? Tanah airku?
Di mana letak merdekanya? Satu hal yang selalu menggelitik adalah ungkapan “MERDEKA’ sewaktu hari ulang tahun negara ini. Mengapa selalu kata2 ‘MERDEKA’ yang kita pekikkan setiap kali 17-an? Bukankah yang kita rayakan adalah kemerdekaan? Bukankah harusnya yang kita pekikkan ‘SEJAHTERA’ dan sejenisnya? Apakah pekikan merdeka itu pertanda bahwa kita sebenernya belum merdeka?

13. ACI - September 26, 2009

Kadag rasa nasinalisme itu tumbuh ketika ada “musuh bersama” atau ada negara lain yang mengusik harga diri dan jati diri bangsa. Namun jika tidak ada itu, kayaknya generasi muda “acuh-acuh” saja. Namun saya percaya masih tersisa rasa cinta tanah air di sebagian besar masyarakat Indonesia

14. josef - Oktober 2, 2009

Ibarat sebuah kapal uzur besar mengangkut penumpang yang banyak, berjalannya sangat lambat. Tak ada yang bisa dilakukan oleh nahkoda kapal kecuali menyakinkan penumpang bahwa kapal dalam keadaan yang baik, laut sangat tenang dan ramah bagi kapal yang melewatinya.Padahal itu bukan gambaran yang sesungguhnya.Kapal itu kelihatan rapuh sangat mengkawatirkan jika harus berlayar di lautan yang luas.Para awak kapal kelihatan tidak handal dalam mengatasi masalah meskipun ada instruksi yang tertulis.Ketika bajak laut menghadangnya dan merampas harta milik para penumpang tidak ada yang bisa dilakukan oleh kru kapal untuk mengusir para penjarah karena tidak terlatih. Dan bencana lagi, badai datang menyeret sebagaian penumpang ke laut, tenggelam mati tak tertolong.Meskipun kapal ini diombang-ambingkan ombak tetapi tetap terus berlayar.Bendera Merah Putih di tiang kapal seakan menunjuk ke langit bahwa masih sanggup melihat angkasa dan tak akan terbenam di dasar laut. riwayat kapal tua besar dengan bendera merah putih ditiangnya ini membekas di ingatan penumpang yang selamat dalam berlayar dilautan sejarah kehidupan bernegara.

15. josef - Oktober 2, 2009

Hendaknya generasi sekarang memaafkan sejarah yang telah terjadi dan memikirkan nasib bangsa di masa mendatang. Seperti pemuda di tahun 20 an yang memaafkan sejarah feodal leluhurnya sehingga menjadi budak Belanda di negrinya sendiri. Tatapi walaupun para pengikut organisasi pemuda daerah yang terbagi dalam beberapa Jong ini tidak mau bernasib sama seperti orang tua mereka,menjadi budak Belanda. Mereka tidak ingin anak cucu mereka menjadi budak imperialisme. Segala jalan harus ditempuh meskipun mendobrak kekolotan feodalisme, menggugah jiwa merdeka yang sudah lama dininabobokan penjajah. Dan mempersiapkan segalanya dengan dukungan yang sangat minim. Mereka tidak mau mengulang perlawanan yang dilakukan sendiri-sendiri dan mudah dipatahkan.Pergelaran sudah dimulai perlawanan sudah dikumandangkan. Benteng imperalisme harus diruntuhkan dan dibangun kembali sebagai negara yang merdeka. Saya bayangkan umur daripada anggota dari berbagai Jong ini jarang yang lebih dari usia 30th, rata-rata 17-24th. Bayangkan dengan pemuda sekarang di usia begitu.Yg lebih membanggakan mereka dapat mempelajari bahasa Indonesia yang belum populer di masa itu karena bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda dan daerah. suatu sikap pemuda yang luhur dan polos tetapi berpikiran luas dan mendalam. Indonesia lahir dari pemikiran pemuda yang berwawasan modern. jabang bayi ini lahir dengan darah modernsasi barat mengalir ditubuhnya. Jabang bayi ini diasuh Bapak Revolosioner dan terlantar karena sang Bapak sibuk dengan Revolusinya. Diambil paksa sang paman seorang Jendral besar, Ia diajari kepatuhan. Anak yang baik adalah anak yang penurut, segala pemberontakan akan mendapat hukuman. Tapi tak berlangsung lama karena Sang Jendral jatuh karena banyak hutang. Setelah pengasuhnya jatuh dan meninggal ia mencoba mengatur dirinya sendiri. Ternyata tak enak mengatur segalanya sendiri. Sang pengasuh lebih pintar daripada yang diasuh.Anak ini sekarang sudah menginjak dewasa dia bergaul dengan para pencoleng, penjual obat mujarab di pasar malam dan para pelacur. Roh leluhurnya mengikutinya mencoba menariknya kejalan yang benar, tapi anak itu tidak bisa mendengar suara leluhurnya ditengah pesta yang memabukan.

16. Maria - Oktober 3, 2009

Indonesia merdeka dari belanda dan jepang karena meletusnya perang dunia ke 2. dan jatuhnya bom di hiroshima dan nagasaki. yang namanya perbudakan tetap akan berlangsung sampai kapanpun dengan berbagai macam nama sebagai topeng. perilaku pemerintahan indonesia sekarang sama dengan perilaku para pejabat belanda dulu, kata seorang kakek yang pernah mengalami masa pendudukan belanda. kata beliau, dulu itu para pejuang yang memerangi belanda itu kelihatan seperti segerombolan teroris atau pengacau keamanan yang dikejar2 oleh pemerintah hindia belanda. dan di pihak rakyat indonesia sendiri lebih banyak yang jadi tentara belanda dan pejabat belanda daripada yang berperang untuk memperebutkan indonesia, yang waktu itu kedengaran seperti sebuah ide separatis yang haram dan harus ditumpas sampai keakar2nya. pergilah ke Aceh dan disana ada kuburan tentara belanda yang dari nisannya terdapat nama2 orang indonesia yang jadi tentara belanda. walhasil, indonesia dijajah sampai 350 tahun dan 3,5 taun oleh jepang. Sampai akhirnya ditemukan bom atom oleh as dan dijatuhkan di jeapang dan terjadilah huru hara PD 2.

saya rasa krisis global akan melanda dunia dan akan mendatangkan suatu perubahan besar bagi kita.

17. josef - Oktober 4, 2009

Sungguh enak jika kita bisa saling berbagi rasa begini apalagi pesta demokrasi idol telah usai. Para pemenang dan pecudang sibuk mengkalkulasi biaya yang sudah dikeluarkan dalam lomba ini. Berbagai hadiah dan ucapan selamat sudah disiapkan oleh panitia bagi pemenang kontes ini. Pesta syukuran wajib dilakukan sebagai tanda suatu keberhasilan atas perjuangannya mendapat suara terbanyak. Luar biasa , sungguh mengharukan, kita akan segara mendapatkan seorang pahlawan sejati dari ajang kontes yang berat ini. Seluruh harapan kaum yang putus asa berada di pundaknya sekarang. Segala urusan harus dipermudah untuk orang sepenting ini, termasuk dalam hal pembiayaan. Saya pernah melihat artikel majalah National Geografik Indonesia di tahun 1955, negeri muda yang baru berusia 10 th. Dimana rakyatnya bergotong-royong membangun berbagai sarana dan prasarananya. Ada yang membikin sekolah seadanya dg alat mengajar yg minim dan dipakai secara bergantian. Belum ada pabrik kertas yang besar, sehingga tdk ada kertas, cuman kapur dan papan tulis. Tetapi semua siswa kelihatan senang bisa bersekolah. Di lain tempat ada yang membikin jalan, saluran air, rumah kesehatan. Nampak ramah-ramah penduduk negeri ini, yang berprinsip pelan2 tapi pasti. “kata sang jurnalis” . negeri muda yang mempesona.”tambahnya”.

18. catherine - Oktober 16, 2009

nasionalisme itu ide musiman sejak PD I hingga tahun 80-an. ide musiman berikutnya, fakta menunjukkan pembubaran beberapa nasionalisme bentukan seperti, Yugoslavia, Unisoviet, Jerman Timur. pada periode yang sama nasionalisme sempit negara-negara Eropa didominasi oleh kepentingan ekonominya hingga terbentuk EURO sebagai penyeimbang US.

jadi rasa nasionalisme bisa tergerus oleh berbagai macam kepentingan, keperluan, dan perkembangan keadaan – itulah sebabnya dalam pembukaan UUD , disebutkan ” Berkat rakmat Tuhan ………………” , jadi kemerdekaan, nasionalisme, semangat berbangsa dan bernegara tercakup dalam kuasa dan rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, Jadi marilah kita meneruskan, memelihara rahmat Allah ini, dan secara berkesinambungan memakmurkan kehidupan bangsa dst….

19. rojes benzahr - Oktober 26, 2009

Percayalah.Tuhan akan memilih seorang di antara hambaNya yang,sebagaimana saudara2,sangat mencintai negeri ini, buat memanifestasikan kehendakNya demi keluhuran bangsa ini.Ketika berbicara tentang Indonesia,tentang Nusantara,adalah keniscayaan buat mengakui bahwa ia lahir karena Gajahmada..Sang Maha Patih ini adalah manusia terpilih demi kemaslahatan negerinya ketika itu.Maka warisan ini, amat tidak ia relakan bila dieksploitasi sedemikian rupa demi segelintir golongan.Sebuah Indonesia haruslah menjadi rahmat bagi penghuninya,.Saatnya segera tiba,Sang Prabu mereinkarnasikan dirinya kepada sosok yang sanggup meluruskan bangsa ini selurus2nya di jalan kemaslahatan dunia hingga ahirat.Maka dikatakan oleh sang Prabu,pemimpin bangsa ini haruslah berkarakter ahirat, sebagaimana Soekarno dan Abdurrahman Wahid.Kehadiran reinkarnasi Gajahmada bukanlah ilusi,terlebih utopia, karena bangsa ini sudah begitu lama kehilangan jati dirinya.Tuhan,penguasa semesta alam, berkenan mendidik dan mengayominya agar ia siap mengemban misiNya.Demikianlah,tahun2 ini adalah tikungan maut sejarah.Kita harus waspada dan mawas diri,jangan-jangan sang reinkarnasi yang notabene adalah utusanNya,waliNya, sedang berada di hadapan kita, mengawasi nurani kita.Sesungguhnya Gajahmada adalah “Muhammad” Indonesia.Kehadiran sang reinkarnasi adalah kehendak dan misi Tuhan. Tak seorang pun dari sekian milyar manusia di muka bumi ini, yang sanggup menolaknya.

20. Annie - November 5, 2009

Krisis global bisa memberi dampak positip dan negatip thd Indonesia.

21. Edy - November 5, 2009

Bagaimana nanti dengan tahun 2012? Siapkan Indonesia menghadapinya?

22. onesimpletech - November 5, 2009

I enjoyed reading this article. If you don’t mind, please visit my blog Indonesia Page.

23. dawatmerah - Agustus 21, 2011

indonesia terkubur dalam piring nasi kita sendiri. berhari-hari setelah kita tak dapat makan nasi dari sawah sendiri. kita tau nasionalisme hanya bentuk lain yang menjadi bahan jenaka politikus. parah sudah…..salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: