jump to navigation

Yudhistira September 7, 2009

Posted by anick in All Posts, Kisah, Pepeling.
trackback

Pada tahun ke-13 masa pembuangan, di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, Yudhistira menemukan keempat adiknya tewas. Di tepi sebuah danau tergeletak dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna. Lebih ke utara terdapat jenazah Nakula. Lalu ia temukan juga mayat Sadhewa. Keduanya adik yang lain: putra Pandhu dari Ibu Madrim.

Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran. Apa yang terjadi? Sementara pikirannya galau, ia dengar suara berat yang tak tampak sumbernya.

Suara itu mengatakan, keempat kesatria tersebut mati karena melanggar larangan: mereka telah diberi tahu agar tak meminum air telaga itu, tapi mereka—dengan penuh percaya diri, bahkan angkuh—melawan pantangan tersebut. Yudhistira sebaiknya tak melakukan hal yang sama, kata suara gaib itu. Ia harus menjawab lebih dulu beberapa pertanyaan sebelum ia boleh mereguk air danau.

Yudhistira bersedia. Dalam Mahabharata ada beberapa pertanyaan yang dimajukan, tapi di sini saya kutip saja yang terakhir, yang paling menentukan.

Kata suara gaib: ”Salah satu dari adikmu akan segera kuhidupkan kembali. Siapa yang kau kehendaki, Yudhistira?”

Yudhistira terdiam. Ia pejamkan matanya, dan pilihan-pilihan yang sulit bertabrakan dalam gelap. Akhirnya sahutnya lirih: ”Nakula.”

”Nakula?” suara itu heran. ”Bukan Bhima, saudara kandungmu yang kau sayangi, yang kekuatannya setara dengan puluhan gajah? Bukan Arjuna, sang pemanah piawai?”

”Bukan,” jawab Yudhistira, kata-katanya semakin mantap. ”Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adalah dharma. Nakula aku pilih karena aku, yang selamat dan hidup, adalah putra Kunthi. Sudah sepatutnya putra Madrim juga harus ada yang hidup seperti diriku.”

Mendengar jawaban itu, suara itu pun raib, dan muncullah Batara Yama di depan Yudhistira. Dewa Maut itu dengan mesra memeluknya. Kahyangan terpesona akan kata-kata putra sulung Pandhu tersebut. Tak ayal, keempat jenazah itu—tak hanya Nakula—dihidupkan kembali.

Ketika saya baca lagi fragmen Mahabharata ini, saya merasa Yudhistira, seorang penjudi yang gagal, sadar: ketika ia memilih, ia ibarat melempar dadu. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetulan-kebetulan. Tak jelas alasannya. Tak jelas arahnya. Absurd.

Sebab di tepi telaga itu Yudhistira sebenarnya tak tahu, muka mana dari dadu yang akan muncul dan apa yang menyebabkannya. Kupilih Nakula, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan sisa hidupku di hutan ini. Aku tak tahu, tapi aku tak takut. Aku siap.

Pada saat itu ia jadi manusia yang mendekati Zarathustra dalam puisi Nietzsche: baginya keluasan langit ibarat meja para dewa tempat dadu kahyangan dilontarkan. Baginya hidup ibarat angkasa yang murni: terlepas dari jaring-jaring akal yang mematoknya dengan tujuan dan menambatnya ke dalam hubungan kausalitas. Dalam hidup, yang bergerak adalah ketidakpastian. Yudhistira menerima itu. Dalam pengertian Deleuze, ia bukan ”pemain dadu yang buruk”. Pemain dadu yang buruk masuk gelanggang dengan bersenjata teori probabilitas. Yudhistira tidak.

Itukah sebabnya, 13 tahun yang lalu, ia terima tantangan para Kurawa untuk bermain dadu, dengan sikap tawakal yang membingungkan? Itukah sebabnya ia mau menghadapi lawan judi yang tangguh dan curang, Sengkuni?

Mahabharata tak begitu jelas di sini. Yang kita ketahui, Yudhistira datang ke meja pertaruhan yang fatal itu—yang kelak jadi benih perang besar keluarga Bharata.

Ia tak berhitung dengan kalkulasi kemungkinan. Tak ada strategi mendapatkan tampilan dadu yang pas dengan yang ditebaknya. Ia cuma memandang ke langit-langit gelap, merasa tiap lontaran tak pernah sama, biarpun berkali-kali. Tiap kali dadu jatuh itu adalah kebetulan yang niscaya tak dapat diperhitungkan. Teori probabilitas terlampau menyederhanakannya.

Yudhistira berani, tapi ia bersalah. Ia jadikan hartanya, kerajaannya, adik-adiknya, bahkan dirinya, dan akhirnya istrinya, barang taruhan. Semuanya jatuh ke tangan lawan. Memang ia tampil dengan askesis yang kukuh: sanggup menerima absurditas seraya menghilangkan diri sebagai subyek yang menguasai hal ihwal. Tapi dalam tawakal itu ia tak tergerak oleh liyan, tak terpanggil untuk memikirkan sesama yang lain.

Kemudian ia berubah. Dari adegan di tepi telaga itu tampak, hari itu Yudhistira bukan lagi pelontar dadu yang lembek di depan Sengkuni. Nasib dan Kelak tak dapat dikuasainya, tapi ia tak pasif. Ia bukan seonggok otomaton. Ia memilih dengan sepenuh hati: Nakula. Ia kor bankan cintanya kepada Bhima dan harapannya kepada Arjuna.

Artinya, ia hadir dalam subyektivitas yang kuat. Tapi saat itu dharma-nya bukanlah aktualisasi ”aku yang te guh”, melainkan sesuatu yang membuat hidup terasa tak terhingga, memeluk sesama, melalui batas asal-usul. Ia rasakan kasih dan harapan, justru dalam cemas dan ketidaklengkapan.

Mungkin itu sebabnya dalam Mahabharata, Yudhistira adalah kesatria yang ganjil. Ia raja yang menganggap diri pendosa; begitu banyak manusia dibunuh agar Kerajaan Indraprasta kembali ke tangan keluarga Pandhu. Bagi nya, perilaku para kesatria, kasta pendekar perang, mirip tingkah anjing yang memperebutkan sisa makanan. Ia tahu posisi raja dan panggilan dharma selalu akan bertentang an—dharma-caryã _ca rãjyam nityam eva virudhyate.

Dengan demikian ia memang tak mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta, dan perannya. Tapi, seperti dikatakannya kepada suara gaib di tepi danau itu, (saya ku tip dari penceritaan Nyoman S. Pendit), ”orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci”.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 07 September 2009~

Komentar»

1. fajri gelu - Oktober 7, 2009

Yudhistira adalah kesatria yang ganjil. sy suka…

2. arya - Oktober 8, 2009

apa yang absurd memang kerap dianggap penyakit, aneh dan mesti dihindari..apa yang mungkin diupayakan jadi harus..namun ketika apa yang harus itu tak kunjung muncul: tali ihktiar kian pudar ditelan bebal yang terus mengarat…

3. jf - Oktober 9, 2009

Yudistira(Phuntadewa) adalah patron, pusat, sentral bagi Pandawa. Seandainya sang patron ini tidak ada mungkin cerita pewanyangan tidak usah diteruskan lagi. Yudistira tahu persis posisinya dalam suatu epos Mahabarata. Ia adalah titisan Batara Dharma dimana dalam perannya ia tidak boleh menumpahkan darah musuhnya, sangat ironis jika dia sebagai sentral Pandawa yang harus berperang melawan Kurawa demi tuntutan dharmanya. Jika Pandawa yang lainya sibuk berperang dan membunuh Kurawa yang dalam silsilah keturunan masih satu bangsa Barata, Yudistira hanya bisa menangis. Itulah Dharma, rasa belas kasihan, sang pecinta kehidupan bukan kehancuran. Tapi berbelaskasihankah Kurawa terhadap yudistira, tentu tidak, dengan segala cara kurawa ingin menjatuhkan sang Dharma ini tetapi tidak mampu. Jadi patron ini penting, yang perannya mirip seorang konduktor dalam suatu orkestra. Dia yang menentukan irama dan yang lain mengikuti. Bukan sembarangan orang bisa menjadi seorang patron, ia harus memahami siapa-siapa yang mengelilinginya dan memiliki kelebihan dari pada yang lainya.

4. ibra - Oktober 10, 2009

dan dharma macam apa yang tega mempertaruhkan istri dan saudara-saudaranya dalam meja judi?
dan sang patron sumber kehancuran itu hanya bisa menangis?

5. jf - Oktober 11, 2009

Jika anda faham cerita pewanyangan ini. Anda tahu jika Yudistira ini sampai meneteskan air matanya itu berarti kehancuran untuk semuanya Karena air matanya akan merubah wujudnya menjadi raksasa yang sangat kejam sekali. Bahkan para dewa tidak mampu meredam segala amuk amarahnya. Raksasa akan ini meluluhlantakan semuanya. Kecuali permohonan sang istri tidak akan ada yang merubah perwujudan raksasa Yudistira ini. Kira2 yang faham cerita pewanyangan itu tentu tidak akan memberikan suatu pertanyaan bodoh?
Tentang judi, Yudistira bukan orang yang senang menjilat ludahnya sendiri.

6. ibra - Oktober 11, 2009

ini kan kata-katamu, sayang…..
: “Jika Pandawa yang lainya sibuk berperang dan membunuh Kurawa yang dalam silsilah keturunan masih satu bangsa Barata, Yudistira hanya bisa menangis.”

tentang judi : ini bukan tentang jilat-menjilat, apalagi ludah…aku nanya Dharma itu letaknya di mana? sebelum mempertaruhkan istri dan saudara-saudaranya mestinya dia mikir dulu tentang Dharmanya.

7. rizal - Oktober 12, 2009

kecanduan akan berjudi membuat bukan hanya dirinya sendiri yang hancur, keluarganya, hartanya dan bahkan dharmanya, kalau akhirnya ia sadar, wajar, ia telah kehilangan semuanya, mau apa lagi coba? selain mengamuk, untung ada banyak batara yang relatif baik hati disekitarnya…:D

terlepas dari semuanya, kisah ini cukup punya banyak pelajaran yang silahkan saja di gali sendiri-sendiri, pakai kacamata sendiri. atau jangan-jangan bang Rhoma juga terinspirasi dari kisah JUDI nya Yudisthira ya?🙂

8. jf.fauze - Oktober 12, 2009

Jadi begini bukannya aku enggan jawab pertanyaanya karena jawabannya akan panjang sekali.Jika disingkat dan tidak jelas, aku takut para dalang yang telah sersusah payah mengabarkan ajaran bijak ini nanti protes semua atas ketidaksamaan daripada jawabanku. Jadi kusingkat begini, para Kurawa merasa tidak adil karena semuanya tahu bahwa para dewa dengan segala kesaktianya berpihak pada Pandawa. Ini berarti Kurawa tidak akan pernah menang dalam pertempuran dan itu sudah suatu kepastian. Kurawa enggan perselisihan ada keberfihak’an Dewata kepada pandawa dan pasti tidak adil bagi Kurawa. Jadi kurawa menawarkan suatu permainan judi dimana tidak boleh ada campurtangan pihak ketiga dan dilarang menggunakan senjata beserta kesaktiannya. Jika materi sudah habis badan boleh dipasang. Sebelum perjudian ini dimulai Yudistira sudah meminta kesanggupan istri, saudara, juga pengikutnya dan tidak ada yang menolak seperti juga dari pihak Kurawa. Dan ternyata benar tanpa campur tangan Dewata Pandawa tidak menang melawan Kurawa. Jadi jiwa keluhuran (Dharma) Pandawa akan mengakibatkan suatu kesengsaraan nantinya. Mungkin apa Dharma yang dimaksud teman kita itu Dharma yang menimbulkan kebahagiaan bagi dirinya sendiri barangkali ?

9. ibra - Oktober 13, 2009

urusan para dalang setuju atau tidak, itu tergantung bagaimana anda mempertanggungjawabkan kata-kata anda: dari sumber apa, dari tafsir bagaimana, dari logika bagaimana, dari retorika macam apa, juga dari konsistensi kata-kata anda sebelumnya.

saya sendiri bukan pembaca mahabharata yang serius. tapi pertanyaan GM, yang ditulis beberapa kali, cukup menarik perhatian saya.
misalnya :

1. “begitu banyak manusia dibunuh agar Kerajaan Indraprasta kembali ke tangan keluarga Pandhu”

2. ia terima tantangan para Kurawa untuk bermain dadu, dengan sikap tawakal yang membingungkan?

3. “Mahabharata tak begitu jelas di sini. Yang kita ketahui, Yudhistira datang ke meja pertaruhan yang fatal itu—yang kelak jadi benih perang besar keluarga Bharata.”

saya sendiri bingung, komentar anda ini tanpa mempertimbangkan wacana yang disajikan. padahal tulisan di atas membahas banyak hal. ada Nietzsche, ada Nyoman S. Pendit, ada teori probabilita, juga ada Deleuze.

tapi tak apa. saya kira “keasyikan bercerita” juga suatu bakat yang tidak dimiliki banyak orang.

10. j.fz - Oktober 13, 2009

Nietzsche yg kesepian , Nyoman S. Pendit saya tak begitu jelas tentangnya, juga sahabat Guittari, nabi modernitas Deleuze. dulu aku juga seperti anda, sekarang tidak lagi. GM aku masih tetap menghormatinya juga seteru (dulu) nya alm Pram.

11. ibra - Oktober 13, 2009

saya mau mengomentari ini,

“Pemain dadu yang buruk masuk gelanggang dengan bersenjata teori probabilitas.”

saya nggak ngerti apa maksudnya. apa benar teori probabilita dapat dijadikan senjata dalam bermain judi? padahal dengan teori probabilita yang paling canggih sekalipun, kemungkinannya tetap sama : taruhan anda dalam bermain dadu memiliki kans 1/6 untuk menang.

saya pernah melakukan uji coba statistik. melempar dadu 10 juta kali (dengan program ekonometri tentu saja) dan hasilnya sangat mendekati 1/6.

demikian.

12. Anonim - Oktober 13, 2009

Coba lempar lagi 20 juta kali hasilnya barangkali bisa 6/1, demikian… berarti betul teorinya (ini bisa dipastikan bahwa anda kurang kerjaan).

13. ibra - Oktober 14, 2009

mau 100 juta kali juga cuman tinggal satu klik.
emang kamu pikir kerjaan statistik ngapain?

14. ibra - Oktober 14, 2009

jika anda punya harapan bahwa dadu yang dilempar 20 juta kali bakal menimbulkan probabilita 6/1, berarti satu muka dari dadu itu akan muncul 120 juta kali. (???????)

kalau 1/1, berarti satu angka misalkan 4, keluar sebanyak 20 juta kali. angka-angka lain tidak keluar.
dst.

tapi saya kira bakalan ngga lucu jika kemudian saya membalikkan kata-kata anda tentang “pertanyaan bodoh” di atas. ada baiknya saya coba sedikit jelaskan tentang Teori Probabilita.

Teori Probabibilita adalah dasar logika semua teori statistik. hal yang paling dasar diajarkan di sini adalah tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika mata uang atau dadu dilemparkan. dalam paparan makro ataupun mikro positif (menjelaskan fenomena yang terjadi) teori kurang kerjaan ini ternyata juga mampu mempredik. bahkan dalam portofolio, teori ini dapat melakukan suatu yang mencengangkan.

jika anda suka baca koran, anda mungkin akrab dengan istilah-istilah seperti CPI, atau IHK, GDP, inflasi, IPM, persentase kenaikan atau penurunan ekonomi makro atau mikro, atau mungkin ingatan anda masih segar tentang QuickQount, atau pelbagai survei lainnya. semuanya berlandaskan teori probabilita. hanya kemudian banyak dikawinkan dengan pelbagai disiplin ilmu lain. dengan ilmu ekonomi dan demografi kelihatannya paling dominan.

dengan teori probabilita, semua istilah-istilah itu dihitung lewat sampel. Dewa yang disembah di sini adalah efisiensi, bukan dewa-dewa mahabharata.

jika anda tidak paham apa maksudnya, bisa dipastikan and tidak bakalan ngerti koran2 itu ngomongin apa.

kacian deh loe😀

15. Anonim - Oktober 14, 2009

maaf saya enggan berdebat yang apa itu kita sudah tau semuanya, bahwa apa yang telah diutarakan diatas tidaklah asing bagi kita, saya pun juga seorang kolektor segala macam buku, juga majalah, kalau koran saya nggak beli karena saya udah punya beberapa warnet, tinggal klik aja keluar. cuman untuk blog saya tidak akan bikin. tank’u

16. Anonim - Oktober 14, 2009

dulupun saya juga pernah turun ke jalan (demo) bersama teman2kita di kampus (surabaya) dan masyarakat yang peduli dengan perubahan bangsa. walaupun sempat masuk partai tapi saya kurang bersinar karena banyak orang yang hanya mementingkan ambisinya2 saja. barangkali saudara ini bukan salah satu dari ini.

17. ibra - Oktober 14, 2009

si mas pemilik beberapa warnet-kolektor buku&majalah-pernah demo-sempat di partai ini curigaan mulu ya…😉
kan nggak apa2 kita ngobrol ngalor-ngidul…
buat saya yang nggak tahu apa2, baca sana-sini itu sangat menarik dan sangat menyenangkan😉 apalagi plus ngobrol : mewah banget deh

18. zul azmi sibuea - Oktober 14, 2009

saya begitu kering dengan cerita-cerita wayang, yang saya mengerti sejauh ini, ia adalah legenda masa lalu yang diceritakan kembali, barangkali ada “ibrah” atau “pelajaran” yang bisa diambil dari kisah itu, untuk kemaslahatan pendengarnya, pembacanya baik masa kini maupun masa datang.
namun yang mencengangkan saya adalah mengapa diskusinya dikaitkan dengan darma, darma yang kapan , apakah darma dimasa lalu ataukah darma yang akan datang hingga analogis dengan kehidupan saat ini, dan suasana persaingan saat ini. Apakah perang baratayuda adalah patron kehidupan manusia saat ini ????, sehingga bisa tersimpulkan bahwa keadaan masa depan terprediksi dengan probabilita berdasarkan pola baratayuda ????.

saya tidak terlibat menjadi salah satu dari kurawa, atau pandawa – saya berada diluarnya, sehingga bagi saya kisah baratayuda, tidak lain dari cerita biasa

19. ibra - Oktober 14, 2009

seperti kata Sokrates, “dan penyair, jika ia memang penyair tulen, ia akan menyusun kisah. bukan argumen.” dari situ kita bisa melihat bagaimana Sokrates membuat pemilahan pola kerja antara penyair dan ilmuwan atau filsuf.

seorang yang terbiasa berpikir rigorous akan mengerutkan dahinya bila dihadapkan dengan variabel-variabel macam ini ; Mahabharata, Nietzsche, Teori Probabilita, dan Deleuze.

tapi kita lihat di atas, semua itu terajut dengan apik oleh Sang Penyair. memunculkan apa yang disebut Aristoteles sebagai Katharsis : sebuah ekstase tekstual.

20. Anonim - Oktober 14, 2009

Berpegang teguh ilmu (teori) tanpa pengalaman sangat berbahaya bagi pelakunya di lapangan, Sarat pengalaman tanpa dasar teori yang relevan kesannya hanyalah suatu kebetulan belaka (tidak terdefinisi). Ini kata2 yang dipetik dari Mahatma Gandhi dari ribuan halaman tulisannya. (saya hanya teringat sekilas di memoriku, itu buku aku punya, tapi tak ada waktu bagiku untuk mengeditnya lebih jelas).

21. o - Oktober 14, 2009

Suatu realita jika ditelusuri (sering kali) hanyalah rekayasa oleh pihak2 yang memiliki kekuatan2, yang di dalam (merekayasa) menggunakan pendekatan2 ilmiah. memunculkan figur2 yg meyakinkan. Seolah2 semuanya bisa diterima kalayak (proses yang wajar)..

22. harunsaurus - Oktober 19, 2009

judi tetap judi, probabilitas tetap probabilitas, kemungkinan tetap kemungkinan, tak bisa jadi kepastian meskipun seringkali kita besar berharap.

dalam teori probabilitas, kemungkinan sebuah angka dadu keluar adalah 1/6 , tapi toh itu tetap kemungkinan. yang namanya kejadian selalu one at a time, hanya satu dan pasti.

23. bambang setiadi - November 11, 2009

pemaparan kisah lewat proses penggalian yang cerdas terhadap sebuah cerita yang luar biasa. i adore the writing.

24. anung - September 23, 2010

”orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci”. ya betul KALAU TIDAK MENGAMALKANNYA!

25. anung - September 23, 2010

”orang tak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab-kitab suci”. ya betul KALAU cuma mempelajari dan TIDAK MENGAMALKANNYA!

kota salju - November 12, 2011

tul utul utul utul utul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: