jump to navigation

Erasmus Oktober 26, 2009

Posted by anick in Agama, All Posts, Tokoh.
trackback

Ini akhir pekan Erasmus. Saya diminta bicara tentang humanisme dalam pandangan Indonesia untuk ulang tahun tokoh humanisme Eropa yang lahir 27 Oktober 1466 itu di Erasmus Huis, Jakarta. Saya tak tahu banyak tentang humanisme abad ke-15 Eropa, dan yang pertama kali saya ingat tentang Erasmus adalah apa yang dikatakan Luther tentang dia. Bagi Luther, pemula Protestantisme yang pada akhirnya mengambil posisi yang tegas keras menghadapi Gereja itu, Erasmus ibarat ”belut”. Licin, sukar ditangkap.

Erasmus memang tak selamanya mudah masuk kategori, tak mudah menunjukkan di mana ia berpihak, ketika zaman penuh hempasan pertentangan keyakinan theologis. Pada mulanya ia membela Luther, ketika pembangkang ini diserang dan diancam, tapi kemudian ia menentangnya, ketika Luther dianggapnya semakin mengganas dalam menyerang Roma. Dalam sepucuk suratnya kepada Paus Adrianus VI, Erasmus sendiri mengatakan, ”Satu kelompok mengatakan hamba bersetuju dengan Luther karena hamba tak menentangnya; kelompok lain menyalahkan hamba karena hamba menentangnya….”

Bagi Erasmus, sikapnya menunjukkan apa yang disebut di zamannya sebagai civilitas. Dalam kata-kata sejarawan Belanda terkemuka, Huizinga, itulah ”kelembutan, kebaikan hati, dan moderasi”.

Perangai tokoh humanisme abad ke-15 ini agaknya seperti sosok tubuhnya. Kita hanya bisa melihat wajahnya melalui kanvas Holbein di Museum Louvre: kurus, pucat, wajah filosof yang meditatif dan sedikit melankolis. Tetapi ia—yang merupakan pengarang terlaris di masanya ini (seorang penjual buku di Oxford pada 1520 mengatakan, sepertiga bukunya yang terjual adalah karya-karya Erasmus)—juga seorang yang suka dipuji. Dan di balik sikapnya yang santun, ada kapasitas untuk menulis satire yang sangat berat sebelah yang menyerang Paus Julius II. Dalam satire ini, Santo Petrus bertanya kepada Julius di gerbang akhirat: ”Apa ada cara mencopot seorang Paus yang jahat?” Jawab Julius: ”Absurd!”

Pada akhirnya memang tak begitu jelas bagaimana ia harus diperlakukan. Ia meninggal di Basel, Swiss, pada 1536, tanpa disertai seorang pastor, tanpa sakramen Gereja. Tapi ia dapat kubur di katedral kota itu.

Agaknya itu menggambarkan posisinya: seorang yang meragukan banyak hal dalam agama Kristen, tapi setia kepada Gereja. ”Aku menanggungkan Gereja,” katanya, ”sampai pada suatu hari aku akan menyaksikan Gereja yang jadi lebih baik.”

Mungkin itulah sebabnya yang selalu dikagumi orang tentang pemikir ini adalah seruannya untuk menghadapi perbedaan pikiran dengan sikap toleran dan mengutamakan perdamaian. ”Tak ada damai, biarpun yang tak adil sekalipun, yang tak lebih baik ketimbang kebanyakan perang.”

Dari sini agaknya orang berbicara tentang ”humanisme Kristen” bila berbicara tentang Erasmus—atau, dalam perumusan lain, ”rasionalisme religius”. Dalam jenis ”rasionalisme” ini, skeptisisme dan rasa ingin tahu, curiositas, diolah dengan baik, tapi pada akhirnya tetap dibatasi oleh apa yang ditentukan agama. Tak mengherankan bila Ralf Dahrendorf menyebut posisi Erasmus sebagai ”leise Passion der Vernunft”, gairah yang lembut untuk akal budi.

Dalam hal itu, Erasmus memang tak bisa diharapkan akan mengatasi pikiran yang umum di zamannya—yang tak amat leluasa dan luas. Di abad ke-21 sekarang, rasa ingin tahu yang dikendalikan oleh iman bukanlah sikap ilmiah maupun filsafat. Itu hanya sikap yang membuat pemikiran buntu.

Dalam kasus lain, Erasmus juga bisa tidak konsisten. Pernah untuk menghadapi kritik pedas Ulrich von Hutten—seorang tokoh Reformasi Jerman yang teguh tapi sengsara—Erasmus ikut bersama para tokoh Gereja di Basel untuk mengusir orang itu dari kota. Dalam kasus lain, Erasmus memang penganjur jalan damai menghadapi Turki, tapi ia tetap memandang ”Turki” sebagai yang tak setara dengan Eropa yang Kristen.

Pendek kata, pada diri Erasmus ada nilai-nilai yang mengagumkan dari humanisme, tapi juga ada unsur yang menyebabkan humanisme itu dikecam. Humanisme ini sejak mula—dengan kegairahannya mempelajari khazanah yang tak hanya terbatas pada kitab agama, tapi juga karya-karya Yunani kuno yang ”kafir”—yakin bahwa kita, sebagai manusia, dapat menangkap dunia obyektif dengan menggunakan akal budi. Di dalamnya tersirat asumsi bahwa (tiap) manusia adalah identitas yang tetap, atau ”diri” dan ”subyek” yang utuh dan tak berubah. Subyek ini menentukan makna dan kebenaran. Pikiran manusia menangkap dunia sebagaimana adanya dan bahwa bahasa merupakan representasi dari realitas yang obyektif.

Dalam perkembangannya kemudian, pandangan seperti ini terbentur kepada apa yang jadi tajam sejak abad ke-19 Eropa. Dan itu ketika manusia, sebagai subyek yang ulung, jadi penakluk ”yang-lain” di sekitarnya. Ternyata sang subyek tak seluruhnya bisa dikatakan utuh, tetap, dan rasional. Tak berarti manusia sia-sia.

Erasmus sendiri menulis sebuah karya satire yang termasyhur, Encomium Moriae, yang dalam bahasa Inggris terkenal sebagai The Praise of Folly. Di dalamnya, folly atau laku yang gebleg, yang tak masuk akal, dipujikan. ”Tak ada masyarakat, tak ada kehidupan bersama, yang dapat jadi nyaman dan awet tanpa sikap gebleg.” Dengan sikap gebleg itulah manusia mencintai, bertindak berani, termasuk berani menikah, apalagi cuma sekali, dan dengan sikap yang tak masuk akal pula ia percaya kepada apa yang diajarkan agama.

Mungkin manusia selalu harus mengakui ada yang lain yang menyertai satu sisi dari dirinya dan satu bagian dari dunianya. Yang lain dan yang tak cocok bahkan tak senonoh itu tak dapat dibungkam—atau manusia hilang dalam kepongahan dan ketidakadilan.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 26 Oktober 2009~

Komentar»

1. Acharsis - November 12, 2009

Mungkin Erasmus bukan seorang yang mengajarkan sikap militan Kristen yang tangguh yang diperlukan dimasa perpecahan di Gereja Kristen diwaktu itu, tapi dia jelas penentang kepatuhan umat yang berlebihan kepada Pimpinan Ordo/Sektarian. Dari paparan diatas kelihatan dimasa itu peranan Gereja sangat menentukan di Eropa. Dan ketika itu banyak intelek yang bermunculan secara tidak langsung menekan pihak Gereja untuk lebih terbuka dan rasional. Hal ini tidak mudah bagi gereja untuk menyikapi tuntutan dari masyarakat dan kaum intelektual, karena ini menyangkut hak-hak istimewa dan kekuasaan politis Gereja dan harta yang dipercaya untuk dikelola Gereja demi kesejahteraan masyarakat, yang pada waktu itu mulai terjadi penyimpangan2 yang dilakukan oleh pengurusnya.Beberapa juta manusia, lantaran dogma dan dogma, tergiring dari kegelapan yang satu ke gelapan yang lain. Tapi saya kira Eramus bukan orang yang masuk dalam kategorinya Maxim Gorki yaitu kaum intelektual yang hampir selalu terpenjara dalam memanjakan dan menghibur kaum borjuis, yaitu dengan berbagai ajaran dalih dan filsafat guna kepentingan kelas kapitalis.

2. zul azmi sibuea - November 13, 2009

ada semangat hidup yang profan pada kegeblegan, karena pada kegeblegan tidak ada batas teori dan praktika, pengetahuan adalah perilaku, subjek dan objek, aku dan dia , semua konvergen bergabung menjadi satu, tidak ada batas mati dan hidup , semua ngegebleg menyatu, menyebuah menjadi ahad, menjadi esa, menjadi eka.

bagi orang gebleg dimensi “waktu” bisa bertukar menjadi “kasih” , proxynya bisa bertukar menjadi “ilmu pengetahuan” atau bisa bertransformasi menjadi “kreasi”.

3. Ibra - November 13, 2009

Setiap gagasan adalah hasutan. Hal tersebut, khususnya tampak pada mereka yang pintar berbicara, sebab mereka bisa mengubah hal-hal keji, kemarahan, dan dendam menjadi masuk akal.

ibra - November 19, 2009

kemarahan dan dendam itu manusiawi asalkan pada porsinya. dalam perjalanan yang penuh liku dan tipu, hal-hal seperti kesalahan, kekeliruan, salah paham, penzaliman, dll kerap memicu dendam dan amarah. dalam taraf tertentu itu bisa muncul tanpa disadari dan justru dibenarkan. dan kadang malah harus.

sedangkan hal-hal keji nggak punya porsi dan dekat dengan brutal.

sungguh keliru jika anda menyamakan hal-hal keji dengan amarah dan dendam.

Ibra - November 19, 2009

bagaimana kisah tragedi 30/s/pki,…

Ibra - November 19, 2009

bagaimana kisah ivan the terrible,..

Ibra - November 19, 2009

bagaimana kisah pembunuhan nabi2 kaum yahudi (termasuk Yesus),…

ibra - November 19, 2009

ada sebuah janji Tuhan yang saya baca dalam Quran : ” dan Kami akan menghapus dendam orang-orang beriman di ahirat”.

ada banyak hal yang tersirat dalam janji itu.dan apa pun itu, semoga kita termasuk di dalamnya.

Ibra - November 19, 2009

katakan itu pd josef stalin, hitler, ho chi min, jengis khan, ivan terrible,yamammoto,…kekerasan@dendam sd menunggu adanya kesempatan.

ibra - November 19, 2009

ada jutaan kisah di dunia ini. dan anda lebih memilih kisah2 itu untuk “membuat metafor” dan mengaitkannya dengan kejadian sekarang. padahal anda sendiri tahu bahwa kisah2 itu tak sama. tak pernah sama. subjektifitas dan keberpihakan anda bermain di sini.

ibra - November 19, 2009

justru dengan begitu anda hendak menjadikan sama wajah fenomena ini, yang juga wajah kami para pemuda yang bodoh dan membabi buta, serupa dengan wajah dalam benak dan konsep anda.

memang memaafkan adalah lebih baik. tapi kalau terus ngalah, malahan bakal muncul wajah-wajah Stalin dan Hitler yang lain. dan saya akan sangat mungkin merelakan kecintaan saya pada hidup ini untuk mencegah hal itu terulang kembali. bukan dengan diam dan dengan gampang memaafkan.

sebab kejahatan merajalela bukan karena ulah para penjahat, tapi karena kebisuan orang baik.
begitu kira2 kata Martin Luther King jr.

Ibra - November 19, 2009

stereotip

Ibra - November 19, 2009

hampir sama, menyerupai, mirip, walaupun tidak ada kaitannya sama sekali, proses pengulangan yg sedemikian rumitnya.

4. Ibra - November 13, 2009

Pemahaman manusia selalu dipengaruh oleh kehendak dan perasaan itulah sebabnya manusia cenderung menolak hal-hal yang sulit karena ketidaksabarannya meneliti, cenderung menolak hal2 yang sederhana karena harapan dan keinginan-keinginan yang dangkal, cenderung menolak kedalaman karena suka tahayul, dan cenderung menolak terang pengalaman karena keangkuhan dan kepogahannya.
Sungguh jelas bahwa setiap hal hanya berubah dan berpindah, tak ada satupun yang lenyap, dan jumlah segala sesuatu akan tetap sama, tak ada yang kurang atau bertambah.

5. ibra - November 14, 2009

saya nggak sepakat sama yang ini :

“Di abad ke-21 sekarang, rasa ingin tahu yang dikendalikan oleh iman bukanlah sikap ilmiah maupun filsafat. Itu hanya sikap yang membuat pemikiran buntu.”

klaim tentang konvergensi atau divergensi antara iman dan yang-ilmiah atau filsafat nggak bisa sedemikian gampang diurai seperti di atas. begitu juga dampak yang membuat seseorang menjadi buntu atau tercerahkan.

tapi biar bagaimanapun, perdebatan antara konvergensi dan divergensi tersebut sangat menarik.

6. zul azmi sibuea - November 15, 2009

apakah anda ingin mengatakan bahwa orang beriman bukanlah orang rasional ????? mungkin bisa diurai dari apa itu : benar, rasional, iman, percaya, yakin, ainul yakin, haqqul yakin, ilmiah, ilmu, pengetahuan dll.

7. ibra - November 15, 2009

saya belum masuk dalam manusianya. tapi saya kira iman memang kerap mendahului dan bahkan melampaui rasionalitas. banyak sekali hal-hal dalam iman yang mesti diterima tanpa merasa perlu untuk dipertanyakan kembali. rasionalitas menolak itu.

8. zul azmi sibuea - November 15, 2009

tertolak karena rationalitas versi dikhotomi descartes dan emanuel kant. jadi masalahnya adalah, apa itu rasional ????? bila kita menerima dikhotomi diatas, maka semua yang rasional adalah materialis – artinya kesatuan jiwa dan badan menjadi penjumlahan sederhana. ruh, jiwa, spirit dapat keluar masuk sesukanya dalam analisis.

kalau yang menganalisis bertuhan, efeknya terinjeksi atau ditambah kan secara sederhana dari luar (exogen) – quasi atau pura-pura terjumlahkan, kalau yang menganilisis adalah kapitalis, liberalis maka ruh, jiwa, spirit akan diabaikan (berada diluar) sama sekali. – dan ini dinamakan orang banyak sebagai rasional.

padahal operasi penjumlahan bisa sederhana, bisa rumit misalnya
dalam matematika kita mengenal berbagai operasi penjumlahan / penyatuan : yang sederhana adalah penambahan biasa dengan tanda (+), sedikit lebih rumit adalah dengan himpunan (union operation), yang lebih rumit adalah seperti reaksi dalam kimia, kita tak lagi mengenal mana pereaksi dan mana yang direaksi.

jadi setelah materi dan ruh dipisahkan secara dikhotomis oleh descartes dan kant , untuk selanjutnya tak ada operasi untuk menyatukannya kembali ???? dunia tidak lagi perduli dengan spirit, ruh dan Tuhan, akibatnya kita semua hanya jadi material man.

itu pulalah sebabnya mengapa moral, etika dan Tuhan menjadi benda terasing dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial.

9. ibra - November 15, 2009

saya melihat kemungkinan itu sebagai sesuatu yang menarik dalam kerangka normatif ( apa yang sebaiknya terjadi).
tapi dalam kerangka positif (menjelaskan apa yang terjadi), saya kira bakal mengalami kebuntuan.

10. Ibra - November 15, 2009

Percaya pada Tuhan dan setan, pada jiwa baik dan jahat, pada kata, pada agama, atau pada apapun namanya, adalah awal dari keraguan.

11. zul azmi sibuea - November 15, 2009

apa yang sesungguhnya terjadi (positif) adalah tuple dari apa yang seharusnya terjadi (normatif). tuple adalah duaan : yang bisa diartikan sebagai : kawan, lawan, pasangan dsb. misalnya :kepercayaan pada tuhan-keraguan pada tuhan, baik-buruk, laki-perempuan,positif-normatif, deduktif-induktif dst….dst.

12. zul azmi sibuea - November 15, 2009

tidak mengalami kebuntuan dalam kerangka positif, karena metoda yang sama digunakan oleh myrdal dan veblen, dalam analisisnya dengan menggunakan data empirik yang kemudian dinamakan “circular causation”

13. ibra - November 16, 2009

sebetulnya saya belum masuk dikotomi ruh dan materi. saya mengemukakan hal mendasar dari rasionalitas tentang mempertanyakan kembali hal ihwal yang kita terima. letak perbedaannya ada di sini. iman kerap tidak berangkat dengan semangat itu. ada pun bila kemudian terjadi pemisahan antara yang materi dan yang ruh, itu wajar. sebab sangat susah melakukan pembuktian, logika, dan analisis tentang ruh yang berdasarkan fakta.

pada titik ini juga kiranya saya menangkap bahwa rasionalitas dibebani harapan yang terlalu berat untuk mencapai kebenaran hakiki. padahal hasil yang paling baik dari rasionalitas adalah yang dapat dipertanyakan kembali (Popper).

hal berikutnya adalah penjelasan saudara tentang suatu pengembangan kajian tentang tauhid. bukankah pengembangan ini pun pada dasarnya adalah upaya mempertanyakan kembali hal-hal yang berasal dari iman? bukankah ini juga upaya rasionalisasi?

kemudian tentang yang positif dan normatif. pandangan yang menyatakan bahwa yang positif dan normatif adalah dua hal yang berbeda adalah pandangan yang sudah didasari tentang positif dan normatif yang sudah tetap. maksud saya, masih sangat banyak hal dari yang positif dan normatif yang belum tergali betul. dan itu masih terus berlanjut.

dalam ilmu ekonomi mutakhir, khususnya Game Theory, yang positif dan normatif malahan bukanlah sesuatu yang bersebrangan. kemudian juga terjadi dalam ilmu jaringan, yang mengawinkan sosiologi dan fisika mutakhir.

yang hendak saya katakan di sini adalah, bahwa tiap pengetahuan punya porsinya masing-masing. jangan sampai mendapat suatu pengetahuan seolah-olah mendapatkan kebenaran yang maha dahsyat hingga menampik segala di luar itu. malahan dengan menyadari bahwa tiap pengetahuan punya porsinya masing-masing, kita dapat terus mempelajari banyak hal. mengembangkannya. yang kemudian tanpa disadari juga mengembangkan diri kita sendiri.

ps.
sebutan irrasional pun bukan suatu yang buruk

14. Ibra - November 16, 2009

Sungguh ajaib bahwa puncak kebijaksaan yang terpenjara mampu membuat orang berfikir sama, sekalipun dalam suasana bermusuhan. Keyataan yang jelas-jelas bersifat moral adalah bahwa manusia selalu menjadi mangsa kebenarannya sendirii. Sekali seseorang terperangkap kedalamnya, ia tak akan pernah bisa lepas, dan ia akan merasa selalu dirinya benar.

15. josef - November 16, 2009

Jika anda mengetahui dengan persis alam semesta itu bekerja itu berarti tingkatan anda sudah diatas manusia. Dan prestasi sedikit manusia dengan menciptakan matahari kecil di bumi (nuklir) dan itupun tidak sebanding dengan ciptaan Nya. Kuasa Tuhan itu tidak terbatas.
membicarakan sesuatu yang diluarbatas kemampuan kita, tidaklah bijaksana.

16. josef - November 16, 2009

Tokoh-tokoh kebudayaan adalah mereka yang menyebarkan dan memberlakukan segala pengetahuan dan gagasan terbaik di zamannya, dari satu tempat ke tempat lain. Mereka juga mempu menerjemahkan segala pengetahuan yang dalam, yang sulit, yang ekseklusif, yang abstrak, dan yang profesional. Mereka pulalah yang mampu memanusiawikan hal-hal tersebut sehingga menjadi berdaya guna tak peduli bagi yang biadap maupun yang beradap. Namun, hal-hal tersebut tetap merupakan pengetahuan dan gagasan terbaik sang zaman, dan masih tetap merupakan sumber cahaya dan keindahan.
Hendaknya kebudayaan dinilai pertama-tama bukan sebagai pemilik keingintahuan, melainkan pemilik cinta akan kesempurnaan. Kebudayaan adalah wahana belajar mengenai kesempurnaan. dalam konteks ini segera tampak bahwa kegiatan kreatif dalah kebahagiaan terbesar dan merupakan bukti nyata bahwa yang bersangkutan masih hidup

17. zul azmi sibuea - November 17, 2009

terdapat cacat pada apa yang kita definisikan sebagai “rasional”. sumber, asal-muasal, akar kecacatan itu adalah dualisme descartes dan kant. jiwa tidak inherent didalam badan, semua ingin dianalisa, diseparasi, dimoduler, tetapi gagal mengerti secara utuh ketika diperlukan menyatukannya kembali.

manusia menjadi pintar dan maju karena sekuler itu, secara alami/ hukum alam agar sekulerisasi menjadi bermakna, memerlukan penyatuan, unified, hasilnya unity, kecendrungan berkonvergensi , sebut sajalah TAUHID. (keynes juga mengatakan hal yang sama “di jepang, mereka mencincang seorang bocah, dan dapat menyusunnya kembali secara utuh dan hidup kembali”)

18. Master - November 17, 2009

Sptny sah2 saja ketika aku membagi pengetahuan manusia kdlm kelompok2 kecil. Apa yang sudah aku ketahui? apa yang aku blm ketahui? dn ap yg tidak aku ketahui?

zul azmi sibuea - November 18, 2009

lebih daripada absyah, spesialisasi ilmu pengetahuan membuat manusia menjadi pandai, pintar, maju dan modern — tapi terpisah dari spiritnya, batinnya, berpisah dari etika , moral dan tuhan karena dianggap exogenous (luar nalar) kesepian ditengah keramaian — saya kutip dari buku vadillo :
Isa yang mengatakan “ragukan semua hal kecuali cinta kasih Nya” – keraguan pada ilmu pengetahuan disuarakan melalui Heidegger, Bewley dan Vadillo sampai pada kesimpulan, filsafat Barat dengan segenap turunannya yang saat ini mendominasi bidang ekonomi, politik, sosial, perbankan, psikologi, teknologi, budaya, demokrasi, dan ranah lainnya, sesungguhnya tidak berdaya mengantar umat manusia (dan dunia) pada pencerahan kehidupan.

19. ibra - November 17, 2009

kenapa nggak coba fenomenologi?

zul azmi sibuea - November 18, 2009

apakah yang anda maksud time and beingnya martin heidegger, kalau ya – itu dijelaskan oleh umar ibrahim vadillo – dalam bukunya, sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia ” Heidegger for Muslim dan Sisi Gelap Renaisans , pustaka adina” saya kira approachnya akan lebih sufistik bila berhadapan dengan fenomenologi. lihat ; http://nantakana.wordpress.com/2008/01/11/setelah-kematian-filsafat/

20. ibra - November 18, 2009

bukan cuma Heidegger. masih banyak deretan manusia cerdas lain. kalau Heidegger gemar mengagumi puisi, Nietzsche sudah menulis risalah filsafatnya dalam bentuk puisi hampir seratus tahun sebelumnya. orang gila bernama Nietzsche-lah yang pertama melakukan revolusi pemikiran ini. dalam kajian ini juga anda akan berkenalan dengan Hermeneutik yang melibatkan lebih banyak “orang kafir” lagi.🙂

di Indonesia, yang banyak berjasa mengkaji dan menyebarkannya adalah penulis Catatan Pinggir ini.

lainnya, kita bisa sebut deretan nama besar dari Driyarkara dan Atmajaya. yang meski daya jangkaunya lebih kecil, tapi daya selamnya lebih dalam.

Ibra - November 18, 2009

Jika ada yang sefaham dengan Nietzsche, berarti kemanusiaan kita telah mati, bukan Tuhan yang telah mati.

21. josef - November 18, 2009

Kebenaran adalah hasil karya hak intelektual. Dengannya memungkinkan meraih jenjang-jenjang keutamaan yang bisa dilakukan jiwa dengan penerimaan dan penolakannya. Hal ini muncul dalam lima bentuk, yakni kesenian, pengetahuan ilmiah, kebijaksanaan praktis, kebijaksanaan filosofi (keadilan, keluhuran, kemurahan hati, kebebasan, kebijaksanaan, dan kearifan), dan akal intuitif. Dalam hal ini tidak termasuk keputusan dan pendapat. Penggabungan dua kata terakhir bisa membuat rancu.

zul azmi sibuea - November 19, 2009

@josef, saya setuju yang ini , koment 29 alinea akhir – bagaimana menurut anda ?
“nah, kalau dalam Game teori dan Ilmu Jaringan, semua kebenaran, keadilan, etika, moral dll itu merupakan konsensus yang terbangun dalam kelompok. semua pemain berada pada posisinya masing-masing saling berinteraksi. yang berkuasa yang kemudian yang memegang kendali akan hukum dan kebenaran. proses interaksi ini melibatkan kepentingan dan kekuasaan. makanya yang positif dan normatif bisa kawin dalam proses. dan ini pun punya konsekuensi untuk tidak terjadi konsensus ideal. alias kosong blong. nihilisme.”

22. ibra - November 18, 2009

ok, biar lengkap referensinya, aku tambahin daftar anak haram Pencerahan selain Nietzsche, : Marx dan Freud.
biar konvergen diskusi kita.

@Ibra dengan “I” besar:
tuhan,kemanusian, beserta semua konsep lainnya harus mati. mereka semua harus mati sebagai berhala.

23. ibra - November 18, 2009

pemberhalaan konsep tentang tuhan, kemanusian, dst itu persis seperti kata-kata anda yang ini : “bahwa manusia selalu menjadi mangsa kebenarannya sendirii. Sekali seseorang terperangkap kedalamnya, ia tak akan pernah bisa lepas, dan ia akan merasa selalu dirinya benar.

manusia terperangkap karena berpikir bahwa tuhan yang ada dalam konsepnya, dalam benaknya, adalah sama dengan Tuhan yang sesungguhnya.

zul azmi sibuea - November 19, 2009

kalau ada yang terperangkap, justru ngobrol disini adalah ingin menyibak perangkap tempurung itu, ngobrol hanya bisa kalau sahut-sahutan, hanya ingin membuka apa kata pikiran.
bahasanya indonesia timur lebih pas mengungkapkannya dengan “baku bincang”.
dalam baku bincang ndak ada berhala konsep dan pemikiran, semua beredar, bergulir, berubah mengelilingi yang unik , satu , tunggal, Kebenaran Hakiki , yang Maha Benar.

24. zul azmi sibuea - November 18, 2009

apakah karena humanisme Erasmus “Mengidola atau ingin menyerupai Tuhan” , sehingga Nietzsche harus membunuh Nya – mirip-mirip sangkuriang atau odipus.
mungkin menggambarkan Tuhan lebih baik kita menghayati seperti cara buddha melihatnya – “Tuhan itu tak terkatakan” tidak seperti hidup manusia hidup Nya, jadi percuma untuk mengatakan Nya “mati”, “hidup” saja Dia bukan, lalu apa kata yang cocok untuk menggambarkannya ?? tidak ada, Tuhan hanya bisa digambarkan dengan tidak ada, Tuhan tidak ada.
tapi saya percaya, kata “mati” dalam ekspressi Nietzsche adalah kata bersayap – terbuka untuk interpretasi.

25. ibra - November 18, 2009

“they did not end in twilight, though this lie is told. Instead one day they laughed themselves to death. That happened when the most god-less word issue from one of the gods themselves-the word; there is one God, thou shalt have no other god before me. An old grimbeard of a god, a jealous one, thus forgot himself. And then all the gods laughed and rocked on their chairs and cried: is not just like this godlike that there are gods but no god?”

yup, itu tuhan dalam teologi kristian.

26. ibra - November 18, 2009

Tuhan Maha Ada, dan tak ada suatu pun yang menyerupainya. anda bisa menemukan asma’ul husna itu dalam fenomenologi Levinas.

27. Ibra - November 18, 2009

Tuhan telah mati, tetapi di dalam nama-nama mereka kemanusiaan telah dijual secara memalukan. Sebab para pengaku iman dengan bersepuh emas, perak, dan intan ini telah duduk semeja dan memberkati para pemegang kekuasaan.
Awal setiap agama, etika, masyarakat, dan seni, semuanya akan bermuara dalam Oedipus Kompleks.

28. ibra - November 18, 2009

kita bisa menaruh analisis Marx tentang uang dan kelas sosial di sini. Kapitalisme ikut menyumbang dosa pada penjualan kemanusiaan.

zul azmi sibuea - November 19, 2009

marx membuang gagasan transformasi “roh mutlak menjadi idea” -nya hegel , mark memanfaatkan gagasan hegel mulai dari metodologi dialektik hingga sejarah materialisme, lalu mengemasnya menjadi manifesto komunis. hatta menggambar kan hal ini dengan “kepintaran murid membeo”

ibra - November 19, 2009

nggak jelas letak kritiknya di mana
kenapa nggak masuk sejarah kelas sosial?
atau, kenapa nggak masuk ke perjuangan filsafat yang nggak mau membiarkan kaum lemah ditindas dan direndahkan?
atau, kenapa nggak masuk ke analisis sistem ekonominya?

zul azmi sibuea - November 19, 2009

semua faham materialisme, kapitalisme, liberalisme berakhir pada pembunuhan tuhan atau komplex oedifus – saya mau ajak rekan sekalian bagaimana agar “roh mutlak nya hegel” kembali kedalam kehidupan sehari-hari. atau bagaimana menjelaskan “invisible hand nya” smith di-pasar tidak lain adalah “fiqih sosial” yang potensial mengubah model berfikir kita, saya terutama.

saya dapat info mengenai evolutionary phenomenology “yang menjelaskan integrasi antara iman, manusia dan alam dalam causal inter-relasional antara nalar normatif dan positif, nalar deduktif dan induktif’ pada karya Malek Ben Nabi trans. A.B Kirkary. The Qur’anic Phenomenon, Indianapolis, IN ;American Trust Publications, 1983.

29. ibra - November 18, 2009

gini lho ceritanya kenapa rasionalitas, , subjek rasional dan kebenaran tunggal tentang etika-moral-dll itu mati.

kalau versi Freud yang oedipus complex itu spekulatif.
mending merujuk pada analisis alam bawah sadar dari manusia yang punya tendensi untuk irrasional. ini menyangkut pada pengambilan keputusan dan pendapat yang rancu. kalau psikoanalisis Lacan lebih parah lagi, alam bawah sadar yang irrasional inilah yang memotori tindak tanduk manusia.

di sinilah subjek rasional otonom Kantian yang konon kabarnya ada itu mampus. gantinya subjek irrasional dan nggak otonom.

ini pun berkaitan erat dengan penjelasan Marx bahwa kebenaran ada di tangan kelas yang berkuasa. lewat penjabaran Gramcsi tentang hegemoni, bunyinya kurang lebih jadi kayak GM: pengertian kebenaran dan keadilan sesungguhnya ditentukan melalui sebuah persaingan hegemoni atas bahasa dan makna.

ini pun nggak ada hubungannnya dengan subjek rasional otonom Kantian yang moralis itu. alias mampus juga.

Nietzsche sudah jelas-jelas menyatakan bahwa yang mendorong tindak-tanduk manusia itu kehendak untuk berkuasa. bukan kebenaran rasional dan moral. moral itu taik kucing. Akulah Immoralis yang pertama, katanya. dan aku bangga menyandang gelar itu. sebab tak ada yang dikatakan moral selain kebohongan.

nah, kalau dalam Game teori dan Ilmu Jaringan, semua kebenaran, keadilan, etika, moral dll itu merupakan konsensus yang terbangun dalam kelompok. semua pemain berada pada posisinya masing-masing saling berinteraksi. yang berkuasa yang kemudian yang memegang kendali akan hukum dan kebenaran. proses interaksi ini melibatkan kepentingan dan kekuasaan. makanya yang positif dan normatif bisa kawin dalam proses. dan ini pun punya konsekuensi untuk tidak terjadi konsensus ideal. alias kosong blong. nihilisme.

30. ibra - November 18, 2009

jadi jangan heran kalau para penguasa itu pada nggak bener. yang membentuk moralitas mereka adalah kesepakatan lingkungannya. kalau lingkungannya saling sogok, ya itulah aturan mainnya. kalau nggak ikut aturan main, ya nggak mungkin bisa berkuasa.

terkecuali, jika gelanggang permainan diperluas, banyak pemain diikut-sertakan, para penonton -yang tadinya nggak ikut budaya sogok- kemudian ikut bermain dalam gelanggang, barulah terjadi perubahan.

31. zul azmi sibuea - November 19, 2009

gelanggang permainan, pemain, penonton , juri, kapten, pemimpin society, penguasa – pokoknya masyarakat dengan segala komplexitasnya adalah “commitee” yang mesti ber “interaksi” membentuk kesepakatan dan anutan bersama, bisa sogok bisa tidak, bisa jujur bisa sebaliknya, teis, ateis, baik , bajingan dst ini yang saya sebut “tuples”pada koment 11, atau duaan (referensinya srt ar-rahman), kemudian melalui proses penyebab melingkar (circular causation) pada koment 12 , mereka membentuk moralitas mereka berupa kesepakatan lingkungannya, saling belajar, bersama dan integrasi dalam hasil musyawarah itu untuk perbaikan keadaan masa depan (evolusi). saya setuju komen 29 alinea terakhir, ini saya sebut saja ranah “fiqih sosial” begitu.

Kata kunci : variabel sosial tuples, penyebab melingkar, musyawarah, interaksi, integrasi, evolusi, lalu fiqih sosial – sebetulnya istilah fiqih sosial ini agak berlebihan , fiqih itu arti aslinya sama dengan ilmu biasa, fiqih itu ilmu, sebetulnya saya hanya mau bilang ilmu sosial, tapi polutif – banyak kali yang menggunakan nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: