jump to navigation

Cicak & Buaya November 9, 2009

Posted by anick in All Posts, Hukum, Politik.
trackback

Dan metafor pun menang. Mungkin itu tak disadari ketika kata cicak melawan buaya dipakai pertama kalinya dalam pertentangan yang kini disebut sebagai konflik antara KPK dan Polisi. Saya yakin Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji tak memperhitungkan betapa ampuhnya perumpamaan yang dipakainya dalam majalah Tempo, 16 Juni 2009:

Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya, di situ cicak. Cicak kok melawan buaya.

Dari sana, muncullah dalam gambaran pikiran kita dua pelaku yang bertentangan dan tak seimbang.

Yang satu reptil kecil. Ia tak lebih dari 10 sentimeter panjangnya, hidup di celah-celah rumah kita, tak mengganggu, dengan suaranya yang berbisik. Ia bahkan menyenangkan: mangsanya nyamuk-nyamuk yang menggigiti jangat kita. Anak-anak menyanyikan lagu yang riang tentang dia, (Cicak-cicak di dinding) dan pada umumnya ia tak membuat takjub siapa pun, kecuali orang dari Eropa yang tak pernah melihat kadal kecil dari khatulistiwa itu.

Yang seekor lagi reptil besar. Ia bisa sampai 8 meter panjangnya. Kulitnya kasar keras, moncongnya menakutkan, dan meskipun matanya seakan-akan tertidur, ia mendadak bisa menyerang. Kecuali ketika diternakkan atau dikurung di kebun binatang, habitatnya jarang didatangi manusia. Ia pembunuh. Mangsanya hewan lain, juga kita.

Dalam bahasa Indonesia, buaya umumnya sebuah metafor untuk sesuatu yang punya sifat tak baik: buaya darat, misalnya. Ada memang kata buaya kroncong, yang barangkali dipakai untuk mengesankan sifat penggemar yang amat doyan jenis musik itu dan penggemar itu tak gampang puas.

Maka memang aneh, kenapa justru seorang jenderal polisi mengumpamakan dirinya–mungkin juga korpsnya–dengan seekor reptil yang ganas. Besar kemungkinan ia hanya melihat dalam diri buaya faktor kekuatan yang handal. Atau mungkin juga kepintaran yang agresif. Dalam wawancara yang saya kutip tadi, Susno Duadji melihat pihak sana, yakni KPK, sebagai cicak yang ‘masih bodoh’. Pihaknya, si buaya, sebenarnya sudah berusaha ‘memintarkan’, tapi sang cicak tak kunjung pandai. Si kecil itu telah diberi kekuasaan, kata Susno Duadji, tapi ‘malah mencari sesuatu yang enggak dapat apa-apa’.

Dari semua itu tampak, metafor Susno–seperti halnya metafor pada umumnya–tidak berperan sebagai ornamen. Memang ada yang menganggap sebuah metafor cuma sebingkai hiasan, karena selalu mengandung sesuatu yang penuh warna dan rupa (dengan kata lain: sesuatu yang tercerap pancaindra). Tapi orang yang menganggap bahasa metaforik hanyalah hiasan untuk memperindah sebuah gagasan sebenarnya tak tahu, bahwa bahasa tak dimulai dari ide. Bahasa bermula dari tubuh. Bahasa berpangkal dari proses indrawi.

Itu sebabnya acap kali bunyi mendahului pemberian arti. Dan ini berlaku sejak kata seru seperti ‘Wah!’ sampai kata benda yang mengandung bunyi yang menimbulkan imaji dan asosiasi tertentu di dalam pikiran kita. Kata sulur, misalnya, mengandung bunyi lur yang kita dapatkan dalam julur, salur, balur: sebuah bunyi yang menimbulkan imaji tentang sesuatu yang memanjang tapi tak meregang.

Dari sesuatu yang konkret seperti itulah (bunyi dan imaji), dan bukan sesuatu yang rasional dan kognitif, metafor dilahirkan dan dipergunakan. Metafor memang mirip simbol. Baik metafor maupun simbol memakai sesuatu yang konkret untuk menyampaikan sebuah pengertian. Tapi antara keduanya ada beda yang fundamental.

Simbol: kita menemukannya dalam pohon beringin yang dipilih untuk merumuskan cita-cita Partai Golkar; atau palu-arit untuk menghadirkan dasar kelas sosial dan ideologi PKI. Tapi bila simbol dipilih dengan rencana yang sadar, metafor lahir lebih spontan; ia lebih bergerak ke arah asosiasi ketimbang ke arah konsep. Pungguk merindukan bulan adalah sebuah metafor, bukan simbol, sebab yang muncul dari kalimat itu adalah imaji seekor burung buruk muka yang hinggap di sebuah dahan ketika malam mengagumi purnama. Antara si pungguk dan rembulan itu ada kontras yang jelas–juga jarak yang tak akan terjangkau. Metafor itu lebih memantulkan situasi yang melankolis ketimbang mengikhtisarkan sebuah ide tentang cinta yang tak sampai.

Juga ketika kata cicak dan buaya dengan spontan dipakai: saya kira yang berperan bukan sebuah konsep yang dipikirkan. Bahkan ada anasir dari bawah sadar yang bekerja.

Dipakai dalam sebuah suasana konflik, kedua kata itu menyugestikan bahwa yang terjadi tak berbeda dari perseteruan di alam bebas, di mana penyelesaiannya bukanlah atas dasar hukum sebagai aturan bersama, melainkan ditentukan oleh kekuatan. Memang Susno Duadji tak melanjutkan cerita tentang cicak-lawan-buaya itu dengan cerita bentrokan. Ia mengatakan, sang buaya tak marah, –cuma menyesal–karena menurut penilaiannya si cicak masih tetap saja bodoh. Namun dengan mengambil ibarat dari dunia hewan, kekerasan dan kebuasan jadi demikian tampak penting ketika sebuah pertentangan harus diputuskan.

Mungkinkah itu yang sebenarnya tersimpan di kepala: bahwa konflik antarlembaga negara hanya selesai karena kekuatan fisik, bukan karena aturan yang sudah ada dan rasionalitas dalam manajemen pemerintahan? Ataukah metafor yang kini dipakai secara luas itu memang menunjukkan sebuah pengakuan bahwa hukum selalu punya dimensi konflik politik? Bahwa pengertian keadilan sesungguhnya ditentukan melalui sebuah persaingan hegemoni atas bahasa dan makna?

Apa pun jawabnya, sebuah metafor telah menang. Ia bahkan lepas dari keinginan sang pemakai pemula. Ia ramai-ramai dipungut, mungkin karena imaji yang muncul dari dunia hewan itu mengasyikkan seperti sebuah fabel. Tapi bukankah dongeng yang kita sukai bisa bercerita tentang hasrat dan cemas kita yang tersembunyi?

~Majalah Tempo Edisi Senin, 09 November 2009~

Komentar»

1. murno khuarizmo - November 11, 2009

yeah..jika habis baca karya2 barthes dan mario pei, tulisan ini sangat menarik. Jadi hati2 ber metafora..bos

2. zul azmi sibuea - November 12, 2009

karena metafora hanya kata, jadi yang mensugesti adalah kata, kemudian membius. ia membius diri, membius pemirsa dan membius publik.

yang punya kesadaran atas siapa yang mulai menggunakan kata itu mencoba untuk tidak terbius, sekarang massa yang membiusnya. kita temu kenali dua kata yang sangat membius, yaitu : kata dan massa.

mumpung entertainment mengenai sugesti, bius, hipnotis sedang marak seperti rafael, uya, itu orang yang dicurigai bohong pada kasus kpk dan nasrudin diminta ngaku lewat hipnotisnya cinta kuya lucu juga kali buat entertainment.

3. Bodrox - November 12, 2009

Ada lagi metafor tentang buaya om: air mata buaya…

4. damned - November 13, 2009
5. Lex dePraxis - November 13, 2009

Sobat,

Tulisan yang menarik! Untuk referensi tambahan, silakan baca Menumbuhkan Cinta Pada Diri Sendiri di blog saya. Semoga bisa membantu perenungannya.

Salam kenal juga!

Lex dePraxis

6. Ibra - November 14, 2009

Penghuni abadi neraka kebanyakan adalah para penegak hukum

zul azmi sibuea - November 15, 2009

itu juga kalau ada yang sudah kembali dari sana, kita menjadi tau kabar

7. ibra - November 14, 2009

wah, ada yang nicknya sama

8. Ibra - November 15, 2009

Salam kenal ? mbak ini namanya siapa ya ? jika sama itu bukanlah persoalan. Kebebasan menyuarakan pendapat itu penting. Akan tetapi kita saat ini belum bebas dari kebohongan dan kemiskinan.

9. Maren Kitatau - November 15, 2009

Yang mana cicak yang mana buaya
Kedua-duanya sama-sama penegak
Apa ibra and ibra sama-sama melata?
Juga?

Hehe!
Sing penting pas berfotonya tak sama.

Salam Damai!

10. zul azmi sibuea - November 15, 2009

kan beda atuh, satu dengan I (besar) satunya dengan i (kecil), jadi gak ada masalah, petanyaannya adalah yang mana buaya yang mana cicak yah…?, kalau versi pak susno polisinya yang cicak dilihat dari kecanggihan alat sadapnya.

11. Maren Kitatau - November 15, 2009

Bunul Lae, beda!
Beda itu bakal menggede pd apa bicaranya.
Kita liatin aja siapa dan apanya lagi yg menggede.

Salam Damai!

12. Asrul - November 15, 2009

Kalimat Cicak dengan Buaya sebenarnya wujud ketidak sukaan Susno duaji ternyata di kutip oleh Pers dan di baca luas malah bergulir Istilah POpuler adalah bukti puncak Es kebencian Masyarakat atas sikap Arogan POlisi selama ini

13. Ibra - November 16, 2009

Kalau buaya di africa di tangkap penduduk, itu pasti karena buaya sering memangsa manusia, dan setelah ditangkap buaya itu pasti dibelah perutnya untuk diperiksa apakah ada manusia yang ditelan.
Itu terjadi di africa, di sini buaya tidak suka makan manusia, nggak percaya ???
Coba periksa isi perutnya, nanti tau apa saja yang ditelan, itupun kalau sudah jadi kotoran orang nggak bakalan tahu, buaya itu nelan apa.
lucunya orang disini suka mengira2, barangkali buaya itu menelan buaya.

14. josef - November 17, 2009

Peristiwa yang terjadi disaat ini merupakan sebuah tantangan bagi bangsa kita untuk menjadi bangsa yang benar2 menjunjung tinggi norma-norma hukum. Hukum harus diletakkan lebih tinggi daripada kekuasaan politis, kita tidak ingin yang sebaliknya terjadi.
Dan yang dipercaya memegang amanah menjalankan lembaga keadilan ini, segala keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan, tidak kepada publik saja tetapi kepada juga Tuhan Yang Maha Esa.
Kehilangan materi mungkin masih bisa kita dapatkan kembali, akan tetapi mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat itu bukanlah hal yang mudah.

15. renc - November 17, 2009
16. Ibra - November 17, 2009

Yang dibutuhkan pemerintah saat ini bukannya pahlawan, melainkan penyembuhan, bukan revolusi melainkan restorasi, bukan hal-hal yang dramatis, melainkan ketenangan, yang dibutuhkan pemerintah saat ini bukanlah jampi-jampi, melainkan hal yang lumrah.

ibra - November 22, 2009

yang sangat anda butuhkan adalah gairah muda yang meledak-ledak, Chaos, Turbulensi, ketakterdugaan, hasrat tak terkendali, dan penyegaran agar tidak membosankan.

barangkali sedikit obat-obatan akan membantu anda jadi mantaf

gicu aza ko’ refot
😀

salam cuco’

Ibra - November 22, 2009

Siapa yg mempercayai wanita, berarti membajak angin, menuai laut gersang, tak menemukan dasar samudra, serta membawa air di tempayan yg penuh lubang.
Aktivitas intelektual itu membahayakan aktifitas watak. Akal memiliki racun yg bisa meresapi kalayak.

ibra - November 22, 2009

saya kira menghormati wanita berarti juga menghormati hasrat mereka, juga mimpi-mimpi mereka. kadang justru di situ seorang laki-laki merasa menjadi laki-laki. 😀 aku juga gak ngerti.

mari kembali pada pertanyaan kuno Sokrates, apakah kebenaran menjadi kebenaran karena hal itu dikatakan para dewa?
ataukah para dewa mengatakan hal itu karena itulah kebenaran?

j.fz - November 23, 2009

kebenaran berada di kesunyian masing-masing orang, akal masih bisa menyangkal, tapi hati nurani tidak. setan telah menyangkal kebenaran 3 kali, manusia mungkin bisa lebih dari itu.

iya - November 24, 2009

siapa yang menciptakan manusia, Dialah yang menciptakan nilai kebenaran pada pikiran manusia, yang kemudian menghasilkan budaya, dan dari situ muncul nilai yang rasional,,

zul azmi sibuea - November 24, 2009

wah berat nih, kita masuk ke wilayah “apa itu benar”, apa sumber kebenaran, apa syarat hingga diterima sebagai benar, ini wilayah teori ilmu – epistemologi. lalu benar menurut siapa, siapa subjek , objek dst.

sayangnya sokrates tidak mewariskan apa-apa, semua pertanyaan sokrates adalah katanya, kata plato.

Maren Kitatau - November 24, 2009

@ibra and all

Biar lah di sini tetap Cicak dan Buaya,
Soal kebenaran, mau lah aku dapat masukan.
Kubilang, “Kebenaran itu ada pd tiga”! Pls masukin!
http://tertiga.wordpress.com/2009/03/15/kebenaran-ada-pada-tiga/

Salam Damai!

ibra - November 24, 2009

Warisan yang sangat penting dari sokrates adalah untuk mempertanyakan segala hal yang kita terima. buat saya itu keajaiban yang kemudian menjadi keyakinan dalam diri saya, bahwa hidup yang tidak dikaji adalah hidup yang tak layak dijalani. dan dia rela menjadi martir karena itu.

saya kira akan rugi jika seorang terpelajar melewatkan momen-momen menggetarkan itu.

17. josef - November 17, 2009

Cara yang paling universal dan mujarab dalam menafsirkan arti hukum yang benar, yakni apabila perumusannya membingungkan, adalah dengan mempertimbangkan semangat dan akal sehat yang tersirat dalam hukum tersebut, atau dengan mempertimbangkan alasan diberlakukannya hukum tersebut. Jika alasan-alasannya tampak tidak masuk akal, berarti hukum tersebut tidak masuk akal.

18. zul azmi sibuea - November 17, 2009

sekarang terlihat political gamenya – jadi bukan hanya ekonomi yang bisa diamati sebagai “game” – ingat , “jika game hanya sekedar game” – mau kemana kita.
1. kpk, lahir karena penegak hukum taklagi dipercaya, reformasi ’98
2. tim-8, lahir karena kpk dan penegak hukum taklagi dipercaya
3. kom xx, lahir krn kpk,penegak hukum dan tim8 taklagi dipercaya
4. tim adhok, diperlukan karena struktur formal hukum tak dipercaya
5. dst akan muncul lagi utk century
6. dst muncul lagi dana pemilu + century , dst, dst
jadi bukan cuma komisi dan tim yang diperlukan, ndak habis-habis kita melakukan tambal sulam terhadap penegakan hukum kita. ada yang salah dalam model berfikir kita, ada yang salah dalam ilmu hukum yang kita junjung tinggi itu – perlu reformasi yang mendasar terhadap apa itu ilmu pengetahuan secara keseluruhan. perlu perubahan paradigma, bukan pergeseran paradigma – kita pelukan paradigma universal bagaimana mestinya bernegara, bermasyarakat, bergaul dengan komunitas internasional, dan perlakuan hukum terhadap rakyat kita disini dan tki di luar negeri.
jalan masih panjang.

19. ibra - November 17, 2009

setiap Game punya aturan mainnya sendiri. aturan main itu banyak bentuknya. bisa etika, bisa hukum, dst.

20. Maren Kitatau - November 18, 2009

Kenapa mereka orang hukum menganggap diri Buaya, ya.
Di dunia keuangan mereka seperti itu adalah Tikus?
Apa memang dari dulu kita itu dianggap Kecoak?
Atao emang Indonesia itu pande mengatur!

Salam Damai!

21. podolisasi prima - November 18, 2009

Siapa menabur angin, Dia menuai badai..
Ini favorit metafora saya.
Kekuasaan yang ditopang melalui berliku-liku jalan busuk, Kemudian tampil gemerlap di panggung kehidupan kita.
Berulang-ulang….

Ahh.. Alam punya logika-nya sendiri. Untuk itu saya Gentar..

22. ibra - November 18, 2009

aku juga punya metafor favorit. agak kepengaruh bang saut tapinya :

Oh, Mas Susno. Aku mencintaiMU dengan segenap jembutKU

Ibra - November 18, 2009

jangan lupa kita juga metamor; gun, zul, ibra, iblis,…

ibra - November 19, 2009

ya, Aku adalah metafor dari rasa sakit dan kehilangan.
Aku adalah metafor dari kembang jalanan

Ibra - November 19, 2009

Memahami adalah rahmat dan anugerah kepercayaan, Kekacauan jiwa merupakan hukuman dari diri sendiri.
di dalamnya hati terdapat jurang yg tak terduga dalamnya.

23. Maren Kitatau - November 18, 2009

Metafora Buaya-Cicak itu pas keknya.
Ke dua-duanya pande merayap.
Ukuran body mungkin tak menentukan
Tapi proporsional otak bisa jadi

Yg satu hanya bisa merayap datar
Yg lain bisa juga miring dan overhead

Yg satu doyannya yg ngambang-ngambang
Yg lain doyannya yg terbang-terbang

Yg satu sabetan ekornya berbahaya
Yg lain ekornya itu utk ngeles

Salam Cocok!

24. zul azmi sibuea - November 19, 2009

metafor tetap metafor, ia ingin menggambarkan tawuran sungguhan, metafornya siapa tawuran fisik dengan siapa. tapi masalahnya adalah mengapa, sebab apa.?? apakah karena
– idealisme dan profesi penegakan hukum (fiat justitia ruat caelum)
– berebut lahan yang disuburkan makelar perkara
– gagah gagahan atau besar kepala karena prestasi sebelumnya

dari alinea kedua dari belakang karangan diatas , ” Mungkinkah itu yang sebenarnya tersimpan di kepala: bahwa konflik antarlembaga negara hanya selesai karena kekuatan fisik, bukan karena aturan yang sudah ada dan rasionalitas dalam manajemen pemerintahan ?”

dengan kata lain “tawuran fisik diatas bagus dipertontonkan dihadapan publik , dan akan meningkatkan rating penyelenggaraan tv” – jangan-jangan masdalahnya adalah tidak ada tontonan yang bagus di banyak tv negeri ini, entahlah….

25. podolisasi prima - November 19, 2009

Media=AMBIGU.. Tergantung siapa ownernya.. Metro, Transcorp, MMC, Bakrie, siapa yo yang nyumbang ke incumbent pemilu kemarin?..
Dan jangan lupa juga GM damai dengan TW.. asikkk dah..

26. Maren Kitatau - November 20, 2009

KPK baru bermetafora menjadi Cicak,
Polisi baru bermetafora menjadi Buaya,
Makus sedang bermetafora menjadi Cakil,

WTS telah berpestapora menjadi PSK!
Well leh – well leh!

Kita itu keknya paling hebat merubah-rubah nama atau istilah. Mungkin baru sampai di situ bisaannya bangsa kita ini memaknai kata. SMA diubah jadi SMUN (supaya bermutu?). Ujian masuk perguruang tinggi keknya tiap taun diubah-ubah diganti-ganti istilah (supaya terjamin?). Penjara telah dijadiin Lembaga Pemasyarakatan (supaya tak begitu memalukan?). Kenaikan harga dialusin menjadi “menyesuaikan harga” (supaya tak ada yg pingsan?). ABRI diubah balik menjadi TNI (entah lah supaya apa lagi dia!). Banyak lagi hal yg boten-boten dipikirin Pengurus Negara ini, semisal hari kejepit hampir resmi berubah menjadi “Harpitnas”.

Kita jadi geregetan ngeliatin lenggak-lenggok reformasi bangsa ini. Sebenarnya reformasi itu bergerak karena sudah muak menghirup uap korupsi. Tapi setelah Reformasi dipersilahkan jalan, ehh, yang diuyak-uyak koq perubahan kata-kata di atas, seolah hal itu adalah biangnya yg utama, bahkan kata WTS dibagusin menjadi PSK, sementara KPK baru belakangan ditukang-tukangin sepantas pro-kontra dan yg sekarang diuyak-uyak pula supaya mandul dul dul dul.
Wuelehhh banget …kan?

Kita liatin aja lah nyampe dimana mereka para terhormat itu bersungguh-sungguh mengurus Negara ini. Apa kah pengurus Negara itu kerjanya menguruskan Negara sampai kerempeng?

Apa boleh buat!
Bangsa ini bisa-bisanya baru merubah kata-kata.
Merubah yg bagus jadi jelek dan yg jelek jadi bagus.

Kubikin di sini:
http://islamabangan.wordpress.com/2009/10/13/blog-celebration-artikel-ke-100/#comment-2379

Salam Damai!

27. zul azmi sibuea - November 20, 2009

setiap penamaan baru, tentu ada konsep yang menjadi latar belakangnya, konsep itu bentukan baru, hasil pemikiran baru, berkembang dari pengalaman empiriknya dalam mengarungi waktu.
konsep itu sangat dipengaruhi oleh
– pemahaman agen pembentuk nya tentang dunia ini.
– tingkat komunikasi para agen untuk mencapai sepakat
– kejujuran tiap agen bertukar informasi
– semangat untuk menjujunjung tinggi kemaslahat bersama, dst
saya tidak cukup bisa mengatakannya dengan baik, adakah yang bisa bantu ???
sebetulnya saya mau bilang “sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia (worldview) dari para agen”.

28. Al - November 20, 2009

ada sudut pd lain, yaitu peningkatan kualitas, lebih efisiensi, penggembangan riset, perubahan target, perubahan sistem.

29. Al - November 20, 2009

tapi jangan pernah bosan dg korupsi2, komisi2, kemiskinan, kekecewaan, ketidak adilan, ketidak makmuran, kepalsuan, kata2, berita2 duka, janji2, harapan2an, pengangguran, birokrasi, pencucian otak, ke tidak ada kesejahteraan, koalisi2,…..,dan juga ke INDONESIA nan.

30. Maren Kitatau - November 21, 2009

Bila demikian bineka latar belakang kita maka adalah resiko ganti-ganti nama atau istilah setelah ganti pengurus itu. Masing-masing latar budaya ingin mengemuka sekedar menunjukkan alternatifnya.

Persoalan, minat memberantas korupsi ini tidak berhubungan dengan perubahan-perubahan nama atau isstilah itu. Hukum kita sudah cukup “gagah”, sialnya banyak kita yg “menggagahinya”. Apa kita hrs tetap berlindung di balik budaya toleran timur (ewuh pakewuh) yg tinggi? Walahualam!

Salam Damai!

31. Taufik Al Mubarak - November 22, 2009

Ketika dukunga ke KPK menyemut melalui sejumlah jejaring sosial, maka orang-2 pun meributkannya…bahwa inilah gerakan sosial baru yang diyakini akan mengubah negeri ini.

32. zul azmi sibuea - November 23, 2009

saya kira ada masalah pandangan hidup (worldview), yang sangat mempengaruhi tatanan sosio, ekonomi dan politik kita, ada dua ekstrim sejauh ini :
– individualism ( dengan sekutu dan kombinasi nya)
– sosialisme (dengan sekutu dan kombinasinya)
pengenalan kita pada kedua faham ini biasanya adalah, apa itu
individualism dan apa itu sosialism, tanpa bertanya mengapa??.

format hukum kita dengan segala latar-belakang filosofis bentukan nya sangat berdasar pada hukum tertulis barat yang individualis, kapitalis, liberalis –ingin kita aplikasikan melalui penegak hukum kita dengan suasana, mood, dan kondisi lingkungan yang sangat ke”timur”an dengan segala “pakewuh” ketimurannya, dimana banyak institusi dalam masyarakat adalah quasi “guyub” (bukan organisasi modern) yang jelas aturan mainnya – karena setiap institusi hanya sibuk mengurus bagaimana agar pengurusnya bisa sekedar hidup saja, karena harus balapan dengan “inflasi”.

33. Raya Nabila - November 24, 2009

salam kenal. pernyataan cicak dan buaya adalah penilaian pada kemampuan lembaga hukum :Polri, Kejaksaan Agung dan KPK.

34. j.fz - November 24, 2009

alam hanya menyediakan tempat bagi mereka2 yang yang telah berbuat sesuatu. sementara bagi mereka yg hanya berfikir tanpa bertindak, alam tidak menjamin bahwa mereka akan tetap bertahan.

ibra - November 25, 2009

alam ini adalah alam yang sama untuk yang mau berpikir atau pun malas berpikir. alam ini adalah alam yang sama untuk yang berpandangan luas atau sempit. dan alam ini adalah alam yang sama untuk yang bertindak atau berkata-kata dengan penuh pertimbangan atau pun tidak.

perbedaan tafsir terhadap alam yang sama ini yang membuat manusia berbeda. dan kita juga tahu bahwa alam menyediakan “tempat” yang berbeda untuk pelbagai penafsiran itu. hingga kemudian kita juga tahu apa yang mesti dipertahankan atau pun tidak.

Maren Kitatau - November 27, 2009

@ibra

Di blog ku ada banyak pikir, kemon.
Di sini biar aja Cicak vs Buaya
Yang mulai jelas artinya,
Senjata makan tuan.

Salam Damai!

ibra - November 27, 2009

ok.
aku ke situ

35. j.fz - November 25, 2009

apa yang dimaksud “tempat” berbeda di alam adalah ketidak jelasan dan ketidak keterus terangan ?

36. wemmy al-fadhli - Desember 2, 2009

buaya menjaga lumbung harta gua markus
cicak2 suka merayap di dinding dan terlalu banyak mendengar…

37. Maren Kitatau - Desember 2, 2009

Buaya klo udah kenyang mangap,
Bagai ingin memakan matahari.
Buaya klo masih lapar tiarap,
Bagai takut sinar matahari.

Cicak kalau udah kenyang …ah,
Tak tau lah aku pasaran sekarang.
Tempo hari cicak basah Rp. 25.000/kg.

Salam Hehe!

songsong - Desember 7, 2009

pada sebuah sidang para penghuni hutan, bahwa buaya menolak tuduhan bahwa ia melakukan kecurangan dalam pemilihan raja hutan. tatapi si cicak yang sering menguping pembicaraan tokoh2 itu mempunyai bukti2 utk menjatuhkan sang raja. dengan wajah yang merah terbakar ‘raja hutan baru’ itu menantang semua penghuni hutan untuk membuktikan tuduhan2 tsb.

songsong - Desember 7, 2009

kenapa penghuni hutan ini selalu curiga pada raja yang malang ini. tidaklah mudah memimpin hutan yang telah habis kekayaannya karena sering dijarah manusia. apalagi penghuninya beranak pinak dan sumber2 makanan sulit didapat. setiap makanan yg mereka peroleh pasti juga disisihkan bagi upeti sang raja. sehingga mereka mendapat apa? . mau migrasi ke hutan sebelah pasti dikejar2 ditangkap karena tidak memiliki surat izin.

38. ibra - Desember 3, 2009

pengunjung blog ini ternyata berasal dari berbagai penjuru tanah air dan belahan dunia yang berbeda. sungguh menyenangkan dapat berkenalan dan berbagi dengan kalian.

salam hangat dan selamat pagi buat semua.

39. songsong - Desember 7, 2009

dalam hati sang raja menangis ‘kok tega benar rakyatku menuduh sedemikian kejinya’
inilah air mata buaya air

40. songsong - Desember 7, 2009

lalu sang petapa datang menasehati buaya. “kalau tuan memang tidak melakukannya kenapa harus bersedih” katanya. “lebih bijak jika tuan bersikap tegar dan meringankan penderitaan rakyat paduka dengan hanya mengambil upeti sedikit bagi si miskin sehingga meringankan penderitaan mereka dan seringlah menyayangi mereka2 tuan”, anggaplah mereka seperti saudara tuan sendiri” tambahnya. “kiranya hanya itu yg bisa saya nasehatkan pada tuan”. dan pertapa itu segera berlalu.

41. wemblogspot - Desember 8, 2009

ehm,,

Maren Kitatau - Desember 8, 2009

Pa an tuh!

Mangsanya jadi tak santai.
Kecuali yg sakit dan bangkai.
HeheH!

Salam Damai!

42. Dibonsai - Desember 11, 2009

5m samar, 10m agak jelas dikit, 15m titik terang, 20m beres.

43. Maren Kitatau - Desember 13, 2009

“m” itu meter apa ember.
Jangan-jangan milyard,
Baru beres!

Salam Damai!

44. Dibonsai - Desember 13, 2009

yang duitnya C’kak jangan bercanda ria!
“m” = maling

45. Maren Kitatau - Desember 13, 2009

Ah, Buaya mah nggak doyan maling,
Dia doyannya bangkai apa saya,
Atau yg kesasar jalannya atau ….

Salam “m”!

46. wemblogspot - Desember 24, 2009

kabar cicak lagi anteng2 ajja ya

47. Dibonsai - Desember 24, 2009

dalam hukum rimba yang kuat PASTI MENANG !!. HIDUP BUAYA !!! PELINDUNG HUTAN !!! HUTAN SARANG PENYAMUN.

48. Dibonsai - Desember 24, 2009

katanya pawang BUAYA ternyata pelayan BUAYA atau malah tukang bersih2 kandang BUAYA yang benar yang mana ya ?

49. about business and marketing - Januari 4, 2010

yang namanya buaya kedengarannya selalu negatif , buaya darat, dasar buaya……tapi kalau cicak….cicak cicak di dinding diam diam merayap…. about business and marketing dan indonesia blog

50. wemtje - Januari 6, 2010

cicak diam2 lagi napain ya di tengah hiruk pikuk century sdg performance art di senayan…

51. Maren Kitatau - Januari 9, 2010

Mungkin Cicak itu sedang melihat Naga.
Dan berharap Naga itu Nagasari.
Pulen, gitu loh!

Salam Damai!

52. wemblogspot - Februari 12, 2010

hari ini cicak apa kbrnya yaa

53. hooy - Februari 14, 2010

yng mau kita tangkap ni bukan sembarang BY, tapi BY jadi2an.

54. Maren Kitatau - April 2, 2010

@wembligspot

Hari ini cicak sdang kipas-kipas
Nyamber Hakim di pinggir sungai

Hari ini buya sedang pesta makan-makan
Bangkai yang ngambang-ngambang busuk

Salam Damai!

55. andra ,.. - Agustus 5, 2012

ehhehehehe buaya vs cicak…..ohhhhh heboh bgt…………coba kta liat ja nnti di sdnd pnggr mna….hahahhahhah
pinggr jln or ping pinggiran,,…..hahahhahhahha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: