jump to navigation

Watchmen November 16, 2009

Posted by anick in All Posts, Hukum, Kisah, Pepeling, Politik.
trackback

Ketika polisi tak ada, dan keadilan terasa asing, muncullah Watchmen. Dalam cerita bergambar karya Alan Moore dan Dave Gibbons ini, sejumlah orang luar biasa perkasa menyamar sebagai vigilante: penyelamat kota dari kekejian, penyelamat Republik dari musuh, bahkan penyelamat dunia dari perang besar Armageddon.

Rorschach, salah seorang dari mereka, memulai cerita ini dengan menulis dalam catatan hariannya, 12 Oktober 1985: ”Kota ini takut kepadaku. Aku telah melihat mukanya yang sebenarnya.” Bagi Rorschach, yang menutup wajahnya dengan topeng putih berbecak-becak hitam, jalanan kota telah jadi ”selokan memanjang” yang ”penuh darah”. Ia merasa unggunan najis ”seks dan pembunuhan” akan menggenang membusa sampai pinggang, dan ”semua cabo dan politisi akan memandang ke atas dan berteriak, ’Selamatkan kami.’”

Rorschach adalah suara yang tajam getir, yang bergetar di atas garis yang jelas: ”Sebab ada kebaikan dan ada mala, dan mala harus dihukum. Bahkan sampai di hadapan Armageddon aku tak akan berkompromi dalam perkara ini.”

Berbeda dari Rorschach adalah Eddie Blake, ”The Comedian”. Ia menertawakan hidup dengan sinisme yang dalam. Ia tahu masa depan, yang bergerak cepat, tak punya tempat berlindung: dunia, seraya meneruskan lukanya yang busuk, hidup di bawah ancaman perang nuklir. ”Blake mengerti,” kata Rorschach tentang kawannya ini. ”Ia melihat wajah abad ke-20… dan memilih untuk jadi sebuah cerminan dan sebuah parodi tentang abad ini.”

Maka Blake adalah kebrutalan. Ia mencoba memerkosa rekannya sendiri dalam kelompok vigilante The Minutemen. Ia ikut dalam Perang Vietnam, tapi cepat-cepat meninggalkan Saigon ketika musuh mulai meringsek; ketika seorang perempuan setempat yang dihamilinya marah karena ia begitu tak bertanggung jawab, ditembaknya perempuan itu dari jarak dekat di tempat umum. ”Blake itu menarik,” kata Dr. Manhattan. ”Aku belum pernah bertemu dengan orang yang seperti dia: dengan sengaja tak bermoral.” Di Vietnam, orang macam ini cocok, karena ”kegilaan itu, pembantaian yang seenaknya itu.”

Tak begitu jelas bagi saya, mengapa The Comedian bergabung dengan tokoh-tokoh bertopeng atau setengah bertopeng yang penuh niat baik untuk menyelamatkan kota dari kebusukan. Tak begitu jelas apa yang baik dan adil dan apa yang tidak bagi orang ini. Tapi jika ada yang menyebabkan cerita bergambar Watchmen punya arti lain adalah justru kemampuannya menampilkan betapa tak murninya kebaikan, sebagaimana betapa tak murninya kejahatan.

Tokoh yang paling berbudi dalam cerita ini adalah Dr. Manhattan. Seorang ilmuwan muda yang cemerlang, Jon Osterman, terjebak dalam ruang eksperimen dan kecelakaan dahsyat terjadi. Ia berubah jadi manusia yang punya daya yang ajaib. Ia bisa mengendalikan struktur atom. Ia mampu menghancurkan tank dengan mengarahkan energi dari telunjuknya. Ia sanggup melayang langsung ke Mars. Ia juga dapat memindahkan tubuh manusia dari jarak jauh. Tapi ia tak berbuat apa-apa ketika di hadapannya, Blake menembak perempuan Vietnam itu. ”Kau bisa mengubah pistolku jadi uap…,” kata Blake ketika Dr. Manhattan menegurnya. ”Tapi kau tak menggerakkan jarimu sama sekali.”

Adrian Veidt juga istimewa. Orang mengatakan dialah manusia paling cerdas di dunia. Mundur dari kelompok vigilante, ia membangun kekayaan yang tak tanggung-tanggung. Dengan itulah ia membangun sebuah pusat di Kutub Selatan—dan dari sana, ia membinasakan ribuan orang di Kota New York. Dengan itu, ia berhasil mengalihkan dua negara superkuat, Amerika Serikat dan Uni Soviet, dari permusuhan. Keduanya jadi sekutu, karena merasa ada kekuatan lain dari luar bumi yang mengancam.

Adilkah tindakannya? ”Jon,” katanya kepada Dr. Manhattan menjelang cerita berakhir, ”aku tahu orang menganggap aku tak punya perasaan lagi…. Apa yang penting adalah bahwa aku tahu aku telah bergulat menyeberangi tubuh orang-orang tak bersalah yang terbunuh untuk menyelamatkan umat manusia…. Tapi harus ada seseorang yang menanggung beban berat kejahatan yang keji tapi perlu itu.”

Benarkah? Veidt sendiri tak yakin. Ia masih bertanya, ”Jon… apa yang kulakukan benar, bukan? Semuanya berakhir baik.” Tapi Osterman hanya menjawab, ”Tak ada yang berakhir, Adrian. Tak akan ada yang pernah berakhir.”

Juga keputusan tentang kebaikan dan kekejian tak akan berakhir. Rorschach merasa ada konfrontasi yang tegas antara kebaikan dan mala, tapi ia sendiri meletakkan garis itu pada kekerasan yang brutal.

Tapi mungkin dengan itu ia ingin memperingatkan bahwa baik otoritas moral yang diwakili lembaga resmi—polisi, pengadilan, hukum—maupun dirinya, seorang vigilante, bermula sebagai kekerasan. Seperti dialami para tokoh Watchmen, tiap kali kita bersikap bahwa kebaikan diri kita tak sedikit pun terkontaminasi kejahatan, akan terjadi kesewenang-wenangan.

Sebab itu, perlu dekonstruksi. Dekonstruksi adalah keadilan, kata Derrida: membuka diri kita kepada yang di sana yang berbeda dan dibungkam. Termasuk bagian diri sendiri yang cacat.

Itu sebabnya keputusan untuk adil tak bisa bertolak hanya dari hukum yang ada. Keputusan yang adil perlu menggunakan aturan tapi juga meniadakannya. Tiap kali harus ada peninjauan kembali. Tiap kali harus ada kerendahan hati.

Apa yang menakutkan dari Watchmen adalah bahwa manusia-manusia itu, yang menyamar, sebenarnya juga setengah menutup mata. ”Kota ini takut kepadaku,” kata Rorschach. ”Aku telah melihat mukanya yang sebenarnya.” Tapi bisakah ia melihat mukanya sendiri yang sebenarnya?

~Majalah Tempo Edisi Senin, 16 November 2009~

Komentar»

1. zul azmi sibuea - November 29, 2009

setiap kali membaca caping , saya hampir selalu menangkap “nature” , sebagaimana adanya , kenyataan alam, nature, semesta alam, dunia terbentang, perangai dan naluri manusia dilukiskan dengan baik perihal kefanaannya, kesemenataraan – terbaca dengan sangat jelas.
misalnya :
-Seperti dialami para tokoh Watchmen, tiap kali kita bersikap bahwa kebaikan diri kita tak sedikit pun terkontaminasi kejahatanakan, akan terjadi kesewenang-wenangan.
-Itu sebabnya keputusan untuk adil tak bisa bertolak hanya dari hukum yang ada. Keputusan yang adil perlu menggunakan aturan tapi juga meniadakannya.

2. podolisasi prima - November 30, 2009

GM dalam Caping sering menulis Tema-Tema seperti ini. Film salah satu medianya. Terinspirasi oleh Film Watchmen mungkin GM ingin memotret apa yang sedang terjadi di Republik ini. Dan jangan lupa, sewaktu kampanye GM meng-endorse Boediono. Kaum Intelek harus memihak katanya. Hahahha

3. j.fz - November 30, 2009

adakah yang patut dihargai di negri ini, selain uang.

4. j.fz - November 30, 2009

krn uang lembaga keadilan berubah fungsi jadi makelar hukum, parpol jadi makelar proyek, pejabat jadi cukong, rakyat hanya jadi bahan lelucon belaka.

5. j.fz - November 30, 2009

krn uang juga pendidikan jadi ladang bisnis, pmpm mandiri jadi ‘bank kredit kecil’, rumah sakit jadi toko obat,,,,,jadi….merana ??????

6. zul azmi sibuea - Desember 4, 2009

inilah yang ada dalam pikiran saya.
soal makelar kan adalah soal perwakilan, representasi, soal atas nama, soal agent, soal orang perorang , kaitannya dengan orang lain.
jadi kalau itu soal agent, sudah barang tentu, masalahnya adalah soal engkau dan saya, soal dia dan saya, karena setiap kita adalah agent.
kalau gak percaya, sebut bidang mana yang tak di “ageni” di negeri ini :
– urus ktp, yang terima pertama agennya di kelurahan
– urus passpor, orag pertama yang kita temui juga agen.
– nonton bioskop, yang jual tiket adalah agen pertama
– masuk jalanan kampung yang rada macet, ada agen “polisi cepek”
– semua pelayanan yang perlu antrian harus melalui agen –
penengah/agen/calo.

Paijo The Dreamer - Maret 28, 2016

Masuk akal statment nya juragan.
Josssssss dech

7. podolisasi prima - Desember 5, 2009

bisa dibilang ekonomi biaya tinggi kan zul azmi?

8. zul azmi sibuea - Desember 8, 2009

bukan sekedar ekonomi biaya tinggi, tapi perlu meninjau kembali arti ekonomi, untuk apa ilmu ekonomi, dan tingkah laku ekonomi.
misalnya pada zaman fisiokrat : tidak ada yang memberi nilai tambah kecuali hasil tanah, produksi artinya hasil dari agraria/ tambang – sisanya bukan produktivitas , tapi soal penghematan proses, proses pengalihan bahan mentah jadi bahan jadi atau setengah jadi, atau jasa biasa – bisa jasa mesin, jasa modal, jasa orang. saya menanya kembali apa arti produksi, produktivitas ????

9. cucu jack - Desember 8, 2009

intinya (kalo boleh kita sebut istilah untuk pusat pusaran) adalah halal-haram, dan bagian besar wilayah abu2 antaranya (yang “dmanfaatkan” manusia-anusia yg ingin berMuka2 ke atas).
untuk itulah dekonstrusionisme dibutuhkan membongkar lagi segala “yang melenceng” dari “tindakan awal”.
maka dekonstruksi itu adalah nnature dan “memurnikan” setiap rekayasa. derrida itu adalah generasi tabiin dan seorang salaf!

10. Chat - Desember 9, 2009

makasih…

Guam Chat.

11. podolisasi prima - Desember 9, 2009

jawab aja sendiri zul, haha retoris dan suka ber-gimmick..

12. wemmy al-fadhli - Desember 10, 2009

pa99y c3muaa,,

13. Chat - Desember 12, 2009

Makasih, Guam Chat.

14. syamsul huda - Januari 7, 2010

tak murninya kebaikan..kedamaian berdasarkan penderitaan orang lain…
orang yang tak kenal perang dan orang yang kenal damai
berbeda pendapat tentang cara damai……

15. aufannuha ihsani - Februari 18, 2010

Kenapa saya merasa Catatan Pinggir mengenai Watchmen ini hanya berkutat pada masalah “karakter-karakter tokoh” saja ya? Kenapa GM tidak mendedah arti “perdamaian” yang, secara bertolak belakang, dikemukakan antara Adrian Veidt dan Dan Dreiberg?

Hmmm, apakah GM begitu tertarik dengan kata-kata Dr. Manhattan: “I can change almost anything, but I can’t change human nature….”

16. kota salju - Agustus 1, 2011

intinya adalah setiap manusia mempunyai sisi gelap dan sisi terang. tak ada gelap yg total. tak ada terang yang total. pemujaan berlebihan kepada manusia(kecuali utusan tuhan) itu menyalahi kodrat

17. Linda Lancaster - Agustus 16, 2011

It is actually refreshing to hear somebody else say that! Thanks.

18. kota salju - Desember 4, 2011

JIKA DIPANDANG DARI SUDUT DEKONSTRUKSI ALA DERRIDA, HUKUM ITU SENDIRI PUN SEPERTI DUA SISI MATA UANG; ADIL DIGUNAKAN DI SITUASI TERTENTU, ZHOLIM DIGUNAKAN DI SITUASI YANG LAIN, JADI NALAR KITA HARUS MELAKUKAN PENINJAUAN KEMBALI DENGAN CEPAT DALAM SEGALA SITUASI, JANGAN PERNAH MEMBIARKAN SESUATU TETAP DALAM POSISINYA TERLALU LAMA, HARUS ADA PERGERAKAN MAJU……………………………LIFE MUST GO ON.

19. Edy - Desember 17, 2013

Tak ada sesuatu yang (paling) murni. Tak juga ada hal yang paling benar atau salah. Keduanya ada, karena yang satu membuatnya yang lain menjadi ada.

Hukum pun, tak lagi bisa meng-klaim sebagai sumber kebenaran. Di sana, masih ada yang lain, suara hati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: