jump to navigation

Melodrama November 30, 2009

Posted by anick in All Posts, Politik, Revolusi.
trackback

Politik terkadang butuh melodrama. Pada saat-saat tertentu ia sebuah melodrama tersendiri bahkan. Seperti dalam sinetron yang silih berganti kita saksikan di TV—lakon-lakon yang itu-itu juga, Kitsch yang tanpa malu memperdagangkan ajaran budi pekerti yang simplistis—politik sebagai melodrama bisa juga bicara tentang ”moral” dan pada saat yang sama, tak meyakinkan.

Melodrama dibangun oleh ”monopati”. Kata ini saya pungut dari Oliver Marchand yang menulis satu esai yang bagus tentang politik sebagai teater dan teater sebagai politik (Marchand meminjamnya dari Robert Heilman). Monopathy adalah ”kesatuan perasaan yang membuat seseorang merasakan diri utuh”. Tokoh-tokoh dalam sebuah melodrama ”tak punya konflik yang mendasar dalam dirinya”—berbeda dari tokoh-tokoh tragis, yang terobek-robek antara nasib dan kebebasan, antara kewajiban besar dan gelora hati. Melodrama adalah konflik manusia dengan manusia lain, sedang tragedi menghadirkan tokoh seperti Hamlet dan Oedipus, dan dengan demikian tragedi adalah konflik di dalam diri manusia. Maka melodrama bergantung pada permusuhan dengan sesuatu yang di luar sana—si jahat atau bakhil, ideologi yang memusuhi atau kekuasaan yang akan menindas, alam yang destruktif, dan lain-lain. Dalam melodrama, dunia hanya hitam atau putih.

Maka benar juga jika dikatakan, melodrama mirip politik, tragedi mirip agama—kecuali bila agama pun jadi proyek politik, bukan lagi merupakan ruang persentuhan aku dan Tuhan, melainkan ruang persaingan atau benturan antara ”kami” dan ”mereka”.

Revolusi adalah model yang bisa jadi acuan jika kita bicara tentang politik se­bagai melodrama. Dramawan Peter Brooks menunjukkan hal ini. Melodrama, katanya, adalah ”genre dan ucapan dari moralisme revolusi”. Dalam revolusi pesan moral diutarakan tanpa ambiguitas: di sini kaum revolusioner yang mulia, di sana kaum kontrarevolusioner yang keji.

Tiap revolusi menyangka, atau menyatakan diri, membawa sesuatu yang baru. Revolusi Prancis menyatakan tahun permulaan kekuasaan baru sebagai ”tahun nol”. Revolusi Rusia mengubah nama-nama kota terkenal (”St. Petersburg” jadi ”Leningrad”), juga Revolusi Indonesia menolak nama ”Batavia” dan menjadikannya ”Jakarta”. Bahkan Bung Karno mengubah nama orang yang me­ngandung nama ”Belanda”: Lientje Tambayong jadi ”Rima Melati”, Jack Lemmers jadi ”Jack Lesmana”.

Para sejarawan mungkin tak akan melihat apa yang ”baru” bisa sedemikian absolut. Tarikh baru bisa dimaklumkan, nama baru bisa diterima umum, tapi senantiasa akan ada endapan dari masa lampau dalam peristiwa revolusioner yang mana pun. Lagu Revolusi Oktober yang dinyanyikan dengan menggetarkan oleh paduan suara Tentara Merah menggunakan melodi yang sama dengan nyanyian Selamat Tinggal, Slavianka yang digubah pada 1912—yang juga dinyanyikan untuk membangkitkan semangat pasukan Tsar menjelang perang di Balkan.

Sudah tentu, bagi kaum militan yang muncul menegaskan diri dalam revolusi, apa yang ”baru” itulah yang menyebabkan mereka maju dan yakin. Badiou, yang menyebut Revolusi Prancis dan Rusia sebagai ”kejadian”, l’evénement, mengklaim bahwa kejadian itu adalah sebuah proses ”kebenaran”, dan ”kebenaran”, (berbeda dari ”pengetahuan”) bersifat ”baru”. Mungkin seperti puisi yang lahir dan—meskipun menggunakan bahasa yang ada—bisa dihayati sebagai baru sama sekali.

Persoalannya, sebuah revolusi (sebagai ”kejadian” yang dahsyat sekalipun) bukan hanya menerobos sebuah ”situasi”, bukan sesuatu yang datang dari luar sejarah, melainkan juga datang dari sebuah ”situasi”, dari sebuah keadaan yang terkadang disebut status quo. Saya kira Marx lebih benar ketimbang Badiou: revolusi bagi Marx tak akan terjadi bila tak ada keadaan obyektif, bila tak terjadi penguasaan total alat produksi di masyarakat oleh kaum borjuis dan makin meluasnya mereka yang tak punya apa pun, kecuali tenaga.

Dengan kata lain, politik dan revolusi sebagai melodrama bukanlah lakon seru yang tak dirundung ambiguitas dalam dirinya. Tiap perubahan besar sebuah masyarakat selamanya mengandung sifat yang tragis: kita bersengketa dengan diri kita sendiri, gerak terasa mundur dan jadi antiperubah­an, tak pastinya proses yang biasa diba­yangkan dalam pidato-pidato ”moralisme revolusioner”.

Politik yang tetap tak ingin melihat diri sebagai melodrama akan dengan cepat jadi komedi atau bahkan farce. Para pejuang yang bukan lagi pejuang tapi terus mengklaim kesucian motif dalam dirinya dan kemurnian semangat dalam kepejuangannya, akan tampak menggelikan, atau semakin tak meyakinkan para penonton. Terutama dalam keadaan ketika elan perubahan telah bercampur dengan rasa kecewa dan hilangnya keyakinan yang meluas.

Tapi melodrama selalu tersimpan dalam sebuah masyarakat. Hidup terkadang terlalu penuh warna abu-abu hingga orang menginginkan gambar yang tegas dan sederhana. Yang tragis menakutkan. Kita pun membuat kisah seperti Ramayana dengan akhir yang jelas dan bahagia: Sita kembali mendampingi suaminya setelah Dasamuka yang jahat itu mati. Tak ada dalam cerita kita bahwa Sita harus dibakar untuk membuktikan dirinya ”suci” setelah bertahun-tahun hidup di bawah kuasa lelaki lain.

Melodrama, dalam pentas dan dalam politik, memang mengasyikkan, dengan atau tanpa air mata. Tapi memandang politik dengan sikap pengarang sinetron akan cenderung menampik kesadaran akan yang tragis dalam sejarah—dan kita hanya akan jadi anak yang abai dan manja.

Hidup tak bergerak dengan monopati.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 30 November 2 009~

Komentar»

1. songsong - Desember 9, 2009

Harus ada keseimbangan antara menuntut sesuatu dan dituntut sesuatu di dalam diri kita, di keluarga, di masyarakat dan Negara. Jika tidak terjadi keseimbangan akan mengakibatkan hal2 yang kurang baik.
Perubahan2 TUNTUTAN itu sendiri seiring dengan perubahan2 zaman/masa/era/aturan main baru yang kadangkala dicatat secara lisan maupun tulisan.
Tuntutan2 itu seiring dengan Gerakan2 yg pastinya ‘melanggar rambu-rambu’. Bagi mereka2 yg tidak bergerak akan sulit memposisikan keberadaanya.
Toh jika tuntutan itu terpenuhi akankah mereka juga akan berhenti bergerak.

2. Guam - Desember 9, 2009

Makasih – Guam Chat.

3. zul azmi sibuea - Desember 9, 2009

mencari arti dalam melodrama seringkali berlalai-lalai, membuang waktu percuma, hanya saja kadang menyenangkan – bunuhlah waktu dengan cara yang menyenangkan, semacam kemewahan dan pemborosan, mubazir, energi terbuang untuk sesuatu yang tak jelas, itu-itu juga.
melodrama mengajarkan pada kita, bahwa dunia adalah arena bermain sedemikian sehingga keseluruhan hidup kita adalah political game, ekonomical game, sosial relation dan interaksi politik kita cukup disimulasi di televisi dengan game , talk show.

4. DBsai - Desember 10, 2009

dari situ kita berangkat dari situ pulalah kita pasti kembali

5. j.fz - Desember 10, 2009

mungkin ini karena kita sudah merasa bukan sebagai manusia merdeka lagi. di belenggu oleh tuntutan-tuntutan hidup direcoki retorika dimanjakan kapitalis dininabobokan drama melankolis membuat lemah upaya ketegaran dan keteguhan hidup. mengharap kedatangan sang mesias, dewi im, bathara dharma sudi turun kebumi dan mengobati penderitaan-penderitaan yang telah dialaminya.

6. wemmy al-fadhli - Desember 10, 2009

jadi lakon apa yg mesti kita mainkan saat ada tawar project bodonx sementara perut kosonx, pak gun?

7. korean drama - Desember 17, 2009

hahaha… thanks, it’s very nice story…

8. rakyat Indian - Desember 18, 2009

Bung ini adalah pelukis keadaan yang baik, lalu dibenturkan dengan sikap bung sendiri secara halus. Ini berakibat orang-orang yang membaca tulisan bung terikat dengan itu.
Saya setuju dengan istilah melodrama itu, karena kita adalah pendominasian dari sebuah melodrama yang besar bernama dunia!

9. agung - Februari 10, 2010

harus nya ada dialog tentang drama

rieta n - Februari 15, 2010

hai….

10. rieta n - Februari 15, 2010

cuku lengkap…..

11. edy - Februari 18, 2012

Tak salah, bila ada yang menyebut bahwa dunia ini sebuah panggung; tempat setiap lakon digelar, peran dipilih dan waktu ditentukan. Kita, tak lagi bisa meloloskan diri dari itu semua.

Anehnya, kita tak selalu bisa memilih peran, jenis lakon, ending, dan waktunya. Bahkan, sering kali, kita menyadari semua itu, setelah semuanya berakhir.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: