jump to navigation

Atticus Februari 1, 2010

Posted by anick in All Posts, Hukum, Novel.
trackback

PENDUDUK kota kecil itu, Maycomb, bukan orang yang keji, tapi ada sesuatu yang menakutkan di pengadilan itu. Tom Robinson tak terbukti bersalah, tapi hampir seluruh penduduk bersepakat dengan diam-diam atau berteriak: Tom harus dihukum mati.

Dan para juri memutuskan ia memang telah memperkosa Mayella Ewell. Dan vonis itu dibacakan hakim. Dan Tom dimasukkan ke sel penjara, menunggu, tapi putus asa, mencoba melarikan diri, dan ditembak mati.

Novel terkenal To Kill a Mockingbird, ditulis oleh Harper Lee dan terbit pada 1960, mungkin akan selalu mengingatkan kita bahwa ketidakadilan dapat dilakukan atas nama keadilan bagi orang banyak. Orang banyak itu penduduk kulit putih yang tak ingin dipermalukan seorang buruh kulit hitam, justru karena si negro tak bersalah dan dengan demikian ayah dan ibu si gadis yang bersalah, berdusta—dan bukan cuma itu, sebab dari pengadilan itu tampak bahwa Mayella itu yang mencoba merayu Tom, bukan sebaliknya.

Pengacara yang lurus hati itu, Atticus Finch, telah ikut mempermalukan mereka. Ia, duda yang senantiasa berpakaian lengkap itu, seharusnya di pihak orang ramai, kaumnya, sebab ia juga berkulit putih. Tapi tidak. Atticus Finch memutuskan untuk membela Tom Robinson. Tanpa dibayar. Tanpa ragu meskipun ia harus menghadapi para tetangganya, bahkan disesali kakak kandungnya sendiri. Dan meskipun ia tahu ia tak boleh banyak berharap, dari sebuah mahkamah di kota di pedalaman selatan Amerika, untuk melihat seorang hitam sebagai sesama manusia.

”Kasus ini,” kata Atticus Finch kepada anaknya, ”kasus Tom Robinson ini, sesuatu yang merasuk ke hati nurani, Scout. Aku tak akan sanggup pergi ke gereja dan menyembah Tuhan jika aku tak menolong orang itu.”

Apa sebenarnya yang disebut ”hati nurani”, kita tak tahu. Tapi ada dorongan untuk kurang-lebih tak palsu. Atticus Finch mungkin bukan seorang yang tiap kali membaca Injil, tetapi ia merasa harus ada hakim yang terakhir, sebuah kekuatan yang tahu persis kebenaran dan keadilan, ketika manusia begitu galau, tak tahu persis apa yang terjadi, tapi ikut berteriak-teriak, ”Salibkan dia!”

Atticus dimusuhi tetangganya. Di luar gedung pengadilan, seseorang datang, dan meludahi mukanya. Orang itu Ewell, ayah Mayella, pemabuk yang suka memukuli anaknya sendiri.

Dan Atticus berkata, ”Nah, kalau meludahi mukaku dan mengancam-ancamku dapat menyelamatkan Mayella dari pukulan tambahan, aku dengan senang hati menerima diludahi.”

Di kota kecil Maycomb yang sedang menanggungkan depresi ekonomi, ketika orang dirundung cemas, Atticus Finch berdiri: ia jadi merasa kuat, justru ketika ia merasa bahwa yang ditanggungkannya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Mayella yang dipukuli dan Tom yang difitnah dan dizalimi oleh kekuasaan yang seharusnya melindunginya.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 01 Februari 2010~

Iklan

Komentar»

1. tengkuputeh - Februari 12, 2010

Cerita yang penuh dengan perenungan…

2. Lintang - Februari 13, 2010

bagi saya novelnya Harper Lee ini merupakan pengulangan dan penegasan superioritas barat yang hendak menyelamatkan si kulit hitam.. Atticus adalah representasi romantik orang barat yang mengidealkan nilai-nilai universal yang sebenarnya tidak ada itu.. kenapa harus Atticus–orang kulit putih–yang membela Maycomb, adakah Maycomb tidak bisa membela dirinya? suara Maycomb (kulit hitam?!) sudah dibungkam oleh Harper Lee di sini..

mungkin ini bagian pinggir yang tidak penting bagi keseluruhan cerita dan pesan dari novel to Kill a Mockingbird ini.. tapi justru yang tidak penting ini akan menjadi penting ketika kita membacanya dalam skema ketidaksadarannya Lacan.. Atticus adalah the Big Other yang bersarang dalam diskursus Simbolik orang barat, Sang Liyan yang membawa nilai-nilai peradaban dan keselamatan umat. padahal itu hanya ada dalam diskursus Simbolik..

walhasil, novel ini hanya kembali mengungkap kesombongan orang barat yang selalu menganggap diri mereka sang messiah.. 🙂

3. DIA CINTA JIKA - Februari 14, 2010

mekanisme komunal di ‘barat’ sana ndak sekental timur sini, lah bagaimana kita bisa berharap utk menjadi yg tak ikut2an di NKRI harga mati ??

iya kerja bersama. tp hasilnya gue miskin loe kaya

“duduk sama rendah, berdiri tetap rendah”

4. Ikra - Juni 30, 2010

@Lintang, settingnya adalah Maycomb, assumed itu kyk kotanya Harper Lee di Alabama, yg termasuk negara bagian selatan. Pada 1960-an Alabama pasti masih rasis. Klo baca ceritanya Soe Hok Gie yang pernah ke Amerika di sekitar tahun itu akan keliatan, universitas mereka bahkan banyak yang belum menerima perempuan. Jadi, sesuai konteks waktu saat itu, setting ini yg ckp masuk akal (berapa byk kulit hitam yg jd pengacara pd masa itu?). Tulisan GM berusaha menjembatani perbedaan2 itu saya kira. Kalau terus-menerus memandang timur-barat, utara-selatan, susah… bisa jadi gagal melihat setiap orang sebagai sesama manusia, dan jatuh persis pada perangkap yang sama yang telah menghasilkan rasisme. Bumi itu bulat, pada satu titik kita akan menjumpai bhw runtutan nilai timur yang kita ikuti berasal dari barat dan begitu pula sebaliknya.

5. kota salju - November 16, 2011

ternyata suara orang ramai tidaklah selalu suara kebenaran, bisa jadi itu adalah suara kebencian, kekuasaan yg seharusnya melindungi ternyata bunkgkam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: