jump to navigation

Proletariat Mei 3, 2010

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Ekonomi, Marxisme.
trackback


— Hari Buruh, 2010

PADA suatu hari di tahun 2010, seorang perempuan dari Utara membayar lebih dari satu juta dolar untuk membeli beberapa ekor anjing.

Dan kita tercengang: Cina bukan lagi Mao. Saya tak tahu masih adakah orang di sana yang ingat Mao Zedong yang pernah berbicara berapi-api tentang ”proletariat”, ”proletariat gelandangan”, dan ”semi-proletariat”, kelompok miskin yang akan membebaskan Cina dari ”keadaan setengah feodal dan setengah kolonial”.

Tampaknya kini yang membebaskan—atau yang menjerat?—adalah uang dan hasrat, dan dengan itu banyak batas diterobos. Perempuan dari Utara itu, seperti ditulis China Daily, pada hari itu mengirimkan 30 mobil Mercedes-Benz ke bandara untuk menjemput hewan yang dipesannya.

Ia pasti salah seorang dari 835.000 orang miliarwan yang ada di Republik Rakyat yang berpenduduk sekitar 1.330.000.000 ini. Ia pasti bagian dari 0,06 persen warga yang hidup berkelimpahan dan tak merasa berdosa atau rikuh di negeri yang setengah abad yang lalu diguncang ”Revolusi Kebudayaan Proletar” itu.

Setengah abad yang lalu itu para pengikut Mao yang militan bahkan siap membunuh seekor babi yang dimiliki tetangga dengan granat; babi itu tanda kelas ”borjuis”. Pada awal abad ke-21 sekarang orang berduit membayar dengan harga mahal anjing jenis Mastiff Tibet.

Walhasil, kita tak pernah paham benar bahwa Cina masih menganggap diri ”komunis” tapi hidup dengan ketimpangan sosial yang demikian tajam.

Tentu harus dicatat, indeks Gini, yang menunjukkan ketimpangan itu, di Cina sudah mulai menurun. Kini angkanya sekitar 40,8. Tetapi dibandingkan dengan itu, Indonesia sedikit lebih baik: 39,4. Tak meratanya pembagian kekayaan di Cina bahkan kurang-lebih sama dengan keadaan di negeri kapitalis yang paling timpang, yakni Amerika Serikat, dan jauh lebih buruk ketimbang Inggris, yang mencatat koefisien Gini 36.

Agaknya bayang-bayang Marx tak pernah berkelibat lagi di Mausoleum Mao di Beijing. Marx menganggap milik privat (anjing Mastiff, mobil Mercedes-Benz, babi kurus, atau sepetak tanah) sebagai sumber keterasingan manusia dari proses kerja. Ia pernah mengumandangkan bahwa justru kaum buruh—yang tak punya apa-apa, kecuali ”rantai yang membelenggunya”—yang akan jadi pelopor penggerak ke masa depan yang bebas dari keterasingan. Tapi di Cina kini Marxisme telah jadi benda museum prasejarah. Dan kita tak tahu lagi di mana pula mereka, proletariat.

Sejak mula sebenarnya ”proletariat” memang sebuah kelas sosial yang ganjil di Cina. Dalam sebuah tulisan pada 1926, ”Analisis Kelas dalam Masyarakat Cina”, Mao mengakui, proletariat hanya berjumlah dua juta. Buruh industri itu terutama bekerja di kereta api, pertambangan, pengangkutan laut, tekstil, dan pembuatan kapal, ”dan sejumlah yang sangat besar di antaranya diperbudak dalam perusahaan modal asing”. Tapi, sebagaimana layaknya seorang Marxis sejati, Mao percaya, kelas buruh ini ”yang paling progresif” pantas jadi ”kekuatan memimpin dalam gerakan revolusioner”.

Sebab, berbeda dengan kalangan lain, buruh industri tinggal dan bekerja memusat, di sekitar lokasi yang sama. Lebih penting lagi, tulis Mao, ”mereka telah kehilangan alat produksinya, tinggal punya dua tangan saja…”.

Tapi persoalan yang timbul segera setelah itu: bagaimana kelas buruh, dalam posisi bukan mayoritas, dapat menggunakan cara pandang mereka yang menurut Marxisme bersifat istimewa, untuk jadi standar masyarakat umumnya?

Kita tahu, Mao—setelah Lenin—menganggap penting bukan hanya buruh, tapi juga peran petani untuk menggerakkan Revolusi. Mao tak akan mengatakan orang-orang pedalaman itu bagian dari apa yang disebut Marx sebagai ”kedunguan dusun”. Tapi para petani, juga yang paling tak berpunya, selalu ingin punya tanah. Mereka bagaimanapun tak ingin merayakan heroisme kaum yang tak punya apa-apa.

Hasrat itu, ”borjuis” sifatnya, pada akhirnya memang tak teredam. Kita tak bisa mengatakan bahwa kodrat manusia adalah ingin empunya dan makin rakus, tapi Marx punya kesalahan ketika ia menganggap milik pribadi dengan sendirinya penyebab alienasi manusia, ketika manusia mengutamakan apa yang jadi miliknya dan tak lagi jadi tuan dari benda dan kerja.

Dalam perkembangan politik Cina, alienasi justru berlangsung ketika manusia merunduk di hadapan buah tangannya sendiri yang lain—kali ini bukan milik diri sendiri, melainkan justru sesuatu yang hampir sepenuhnya sosial: tata simbolik—kata, slogan, dan doktrin. Juga organisasi, baik dalam bentuk kontrol kehidupan sehari-hari dari unit tetangga maupun, lebih agung lagi, Partai Komunis.

Di Cina, kediktatoran proletariat berbeda dari yang dibayangkan Marx. Ketika ia menyusun teori sejarahnya, Marx memperhitungkan bahwa pada suatu tahap perkembangan kapitalisme, proletariat akan jadi golongan yang melimpah. Borjuis kecil akan dicaplok borjuis besar dan, seperti kaum buruh, akhirnya tak punya apa-apa lagi. Yang papa jadi mayoritas.

Tapi, dengan jumlah kaum buruh industri yang begitu kecil di tengah kaum yang lain, yang terjadi adalah kediktatoran yang cemas. Ia harus defensif dan ofensif sekaligus. Ia harus meyakinkan. Ia harus ketat, dalam manajemen tubuh dan pikiran orang ramai.

Akhirnya ia jebol juga. Partai boleh tetap berkuasa, tetapi etos proletariatnya telah dihapus. Pembebasan ternyata bukan datang dari mereka yang tak punya apa-apa, tapi dari punya dan keinginan untuk punya.

Bersama itu, segala yang ganjil dan gila-gilaan pun bisa terjadi, juga sebuah alienasi lain: 30 mobil Mercedes-Benz untuk menjemput anjing….

Mungkin sesekali kita perlu bertanya, bagaimana dengan milik dan bukan-milik manusia bisa bebas.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 03 Mei 2010~

Komentar»

1. ibra - Mei 8, 2010

alienasi adalah sebuah akibat dari kebuntuan tafsir

thomm - Mei 11, 2010

segala sesuatu bisa ditafsir. ketika ada kebuntutuan dalam tafsir maka ada kemungkinan untuk menafsir sesuatu cuma dari satu perspektif.

ibra - Mei 11, 2010

betul. dan menurut saya, dari awal Marx memang tak hendak menawarkan tafsir lain tentang hubungan manusia dengan kekuasaan, benda-benda, dan ekonomi. dia mengatakan bahwa, “the philosophers have only interpreted the world in various ways, the point is to change it”. tafsirnya tentang kekuasaan, benda-benda, dan ekonomi mengikuti tafsir kapitalisme tentang hal-hal itu. letak perbedaannya hanya pada posisi manusianya dalam fase-fase kapitalisme. yang kanan dari posisi pemodal, yang kiri dari posisi buruh.

Dadang hermawan - Mei 12, 2010

ya,alienasi tak hanya menimpa kaum buruh, akantetapi juga pemodal

ochidov - Mei 29, 2010

agam juga…banyak para pemuka agama yang keluar dari ajarannya. dan ini karena tafsir juga.

2. free font - Mei 8, 2010

hidup memang terkadang tampak tidak adil….

3. rembulan - Mei 9, 2010

……………

4. Yahweh - Mei 9, 2010

Di Indo orang2 Chinanya juga banyak melakukan kegilaan kayak gitu. Mencari feishitisme dari produk2 kapitalis u/ mendptkan appresiasi bnyk orang, nunduk kalo’ perlu.

5. jay - Mei 9, 2010

Hidup tanpa sinar roh Illahi…ditelan nafsu tak berkesudahan

6. zul azmi sibuea - Mei 12, 2010

sudah agak lama kaum muda cina merasa lebih kapitalis dan liberalis dari yang diduga banyak orang, dengan demikian tidak ada salahnya 30 mercedes menjemput beberapa anjing dari airport.

yang mengganjal pikiran bung GM, haruskah moralitas membatasi tindakan manusia, moralitas macam apa yang mesti dianut kapitalis yang memper-Tuhan kapital.

bukankah sejak terbunuhnya tuhan, manusia bersegera ingin menggantikannya ?

ochidov - Mei 29, 2010

manusia kadang munafik….dan Tuhan gila.

7. callmealbert - Mei 16, 2010

salah satu hal yang saya kutip dri topik diatas
“Pembebasan ternyata bukan datang dari mereka yang tak punya apa-apa, tapi dari punya dan keinginan untuk punya.”

8. elsy - Mei 17, 2010

proletar (in other ways-leftish) has passionated me so sexy…

9. guam - Mei 17, 2010

Menarik ceritanya, Guam Dive.

10. Guam Network - Mei 24, 2010

Makasih atas infonya, Paradise Chat.

11. Guam Chat - Mei 24, 2010

Makasih banyak, Guam Network.

12. ochidov - Mei 29, 2010

aku tak berharap banyak pada satu ajaran tertentu…..aku api yang membakar dan kematian dan kemunafikan.

Dadang hermawan - Mei 31, 2010

munafik = tukang bohong+ingkar+pengkhianat.

kayak gitu kok bangga. aneh.

13. surya esa - Mei 29, 2010

agama budha tidak sama orang beragama bhuda,komunisme bukan kaum kamunis,indonesia baik tapi orang indonesia belum tentu.

14. takeonepicture - Juni 2, 2010

Makasih atas ceritanya, TakeOnePicture.

15. supito - Juni 5, 2010

alienasi itu juga bisa menikam kaum agamawan: tafsir atas teks yang tak lagi menemukan konteks aktual-nya..

16. Andre - Juni 9, 2010

dunia semakin gila, uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang…
bingung….

17. rudi92 - Juni 10, 2010

Mas,, Salam kenal yah, saya blogger newbie nih,,
bener tuh kata andre,, Uang bukanlah segala-galanya ^_^

18. Seven Up - Juni 11, 2010

melik nggendhong lali

19. dinov - Juni 15, 2010

like this🙂

20. myonlyproxy - Juni 16, 2010

Makasih banayk…

21. Dadang hermawan - Juni 22, 2010

kalo dari bakrie dibalikin, yang dari dandavidprize dibalikin juga dong, pak🙂

22. Cinta Buku - Juni 24, 2010

kita di indonesia revolusi aja pak….

23. farhan - Juni 24, 2010

damai deh…piss

24. atang - Juni 24, 2010

neng nong.. neng nong.. inilah tarian kemenangan manikebu..

25. fadly - Juli 7, 2010

ideologi yang terklahkan

26. isoelaiman - Oktober 18, 2010

Begitu indahnya GM merangkai realitas sosial. Jurang kaya miskin begitu enak dalam untaian GM. Begitu bening, dingin, istilahnya obyektive.
Nah, sampai disitulah batas imajinasi tuylisan GM. Komentar cerdas di atas, juga tak kalah bingung memahami realitas tingkah laku manusia. Manusia bebas tak kenal Tuhan penciptanya. Berbuat sebebas mungkin. Termasuk GM yang berusaha menyajikan lakon dari Cina yang dulunya dalam kendali partai komunis, tak terbayangkan bakal terjadi. Begitu “bersalaman” dengan dedngkot Amerika, open door policy, kapitalisme dunia atawa dunia kapitalisme menjadi “agama” baru. Dan lalu, itulah yang terjadi. Itu, lalu dibilang “keberhasilan” atau “kegagalan” kapitalisme.
Kisah dalam Al-Quran adalah Qarun, anak bibi Nabi Musa. Ia ahli Kitab Taurat, bacaan kitab sucinya sangat fasih. Dia tergelincir dalam satu ucapan yang mengalir deras dalam lubuk hati keyakinannya. Dia bilang, “Sesungguhnya, Tuhan memberikan limpahan karunia harta, hanya karena ilmu yang ada padaku…”. Maka, merasa “disayang Tuhan” dengan perbendaharaan harta yang kuncinya tak mampu digotong puluhan orang, –saking banyak dan beratnya–, dia menantang Musa, yang hartanya pas-pasan. Itulah, yang terjadi, Qarun bersama pengagumnya –yang membanggakan diri–, ditenggelamkan Tuhan.
Tragis, memang ahli Kitab Taurat ditenggelamkan oleh Tuhan yang mewahyukan kitab itu sendiri.
Zaman ini, kita banyak menyaksikan ahli Kitab Suci, bahkan Kitab Suci Al-Qur’an sekali pun dikutuk oleh Al-Qur’an sendiri. Karena, mereka bila sampai ke makna, menolak keras-keras. Mereka mau Al-Qur’an tanpa makna. Bagaikan mereka berkata, “Kami mau nderes Al-Qur’an, tapi jangan sampai kepada makna.” Kenapa? Yaa, itu tadi. Hasrat duniawi, hasrat kebinatangan, –dalam tulisan GM hasrat ajing–nya memenuhi ruang manusiawinya. Hingga, derajatnya tak lebih berharga ketimbang anjing itu sendiri. “…bal hum adhol..”, bahkan mereka lebih rendah.

27. kota salju - Juli 28, 2011

jadi yg terpenting adalah tidak dikendalikan benda dan tidak sepenuhnya merunduk pada doktrin/organisasi apa pun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: