jump to navigation

Rumah Juni 28, 2010

Posted by anick in All Posts, Identitas, Indonesia, Modernisme.
trackback

DI ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, sebuah dusun di Flores Barat mencoba mengingat.

Di Desa Wae Rebo itu, orang membangun kembali rumah adat mereka yang berbentuk kerucut—setelah entah berapa lama hanya empat yang tertinggal dari tujuh yang pernah berdiri, setelah pohon kayu worok tak mudah lagi didapat untuk bahan tiang utama, setelah sawah ladang tak cukup bisa membuat surplus. Generasi silih berganti selama 1.000 tahun; mereka membentuk sejarah, dibentuk sejarah. Kebutuhan baru datang, dan desa didefinisikan oleh kekurangan yang dulu tak ada. Pada abad ke-21, ingatan tak lagi berwibawa: hanya sebuah gudang berisikan hal-hal yang aus.

Waktu memang bukan teman untuk Wae Rebo—sebagai nama yang dicoba disimpan dalam ingatan dan dilambangkan oleh rumah adat. Waktu bukan teman bagi banyak dusun tua lain di Indonesia, di mana rumah pernah memiliki ”kosmisitas”, di mana (jika saya tafsirkan pengertian Bachelard ini) orang bisa merasakan getar dari tiang yang menjulang, seakan-akan tiap saat bumi menjangkau yang kosmis.

Kita, hidup di kota yang makin padat, mungkin bahkan tak lagi sempat mempedulikan yang kosmis nun di atas. Yang vertikal di tempat tinggal dan tempat kerja kini dilambangkan oleh bangunan bertingkat yang tiap lantai bisa didatangi dengan lift. Ia jadi sesuatu yang horizontal. Tubuh kita tak mendaki.

Berbeda dengan nenek moyang orang Wae Rebo, kita tak berteman dengan ruang. Penghuni Wae Rebo yang hidup di antara gunung itu menyadari mereka bagian dari tamasya yang lebih luas ketimbang dusun. Sementara itu, di Jakarta, para pembangun rumah susun memaksa ruang atau dipaksa ruang; konstruksi mereka lahir dari impuls geometris.

Impuls ini—”geometrisme”, kata Bachelard—menggariskan batas yang lurus-kaku, dan dengan itu memisahkan apa yang di luar dan di dalam. Di hampir semua segi kehidupan, ruang terbuka dianggap serasa ancaman, karena akan datang yang ajaib dan tak dapat dikalkulasi. Manusia tak takut klaustrofobia; mereka menanggungkan agorafobia.

Tapi barangkali akan berlebihan bila kita terus-menerus mengeluhkan kota-kota zaman ini dan menyesali modernitas. Modernitas, yang memacu dan dipacu waktu, mendorong X, Y, Z ke masa lalu, dan kemudian mengubah semua itu jadi nostalgia. Namun nostalgia justru menunjukkan bahwa kita terpaut pada masa kini: kita memandang X, Y, Z dari posisi manusia masa sekarang yang sedang takut kepada lupa.

Maka nostalgia adalah ingatan yang memperindah ingatan. Sebab itu kita tak perlu mencemoohnya: ia bagian yang memperkaya hidup kita sekarang, karena mengakui ada dari masa silam yang begitu penting, begitu bagus, dan kita ingin tahu.

Maka jika sejumlah arsitek muda dari Jakarta pada suatu hari di tahun 2009 berjalan berjam-jam mendaki ke Dusun Wae Rebo, dan di sana mengagumi konstruksi rumah adat itu, jika mereka kemudian membentuk sebuah yayasan buat menghidupkan lagi kepiawaian arsitektural di pelosok-pelosok Indonesia, jika kemudian ada dermawan yang membiayai usaha untuk mensyukuri tanah air dengan cara yang kreatif itu—itu semua menunjukkan bahwa nostalgia itu adalah bagian dari pencarian hal-hal yang baru dan berbeda. Buku yang kemudian mereka terbitkan, Pesan dari Wae Rebo (editor Yori Antar, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2010) adalah rekaman semua itu.

Rasa ingin tahu itu sebenarnya mengandung kritik. Di situ ia sebenarnya bagian dari modernitas, yang tak mau hanya menerima apa yang ada. Dan modernitas bergerak karena kritik itu juga tak jarang ia tujukan ke dalam dirinya sendiri.

Salah satu otokritik yang terkenal menunjuk kepada ketakmampuan kita untuk merasakan tempat kita tinggal sebagai bagian dari Hidup yang tiap kali membuat takjub. Kini kita kehilangan pesona dunia: harum kembang, suara burung, warna fajar, telah jadi ”pengetahuan”. Rumah telah jadi kamar persegi panjang.

Heidegger, yang dengan suara berat melakukan otokritik kepada abad ke-20, mengingatkan kita akan makna kata bauen. Baginya, makna kata itu bukan saja mengacu kepada ”membangun”, tapi juga hidup di bawah langit, hidup di antara semua yang fana, tapi juga bagian dari apa yang tumbuh—baik karena benih sendiri atau diolah jadi kebudayaan.

Tapi di mana kini kita bisa bicara seperti itu?

Ini abad ke-21. Otokritik itu juga perlu kritik. Manusia tak lagi, untuk menggunakan kalimat penyair Hölderlin di Jerman abad ke-18, ”berdiam secara puitis” (dichterisch wohnet der Mensch). Di kota-kota Indonesia yang padat, manusia berhubungan dengan ruang hidupnya sebagai prosa dengan angka-angka di akta tanah.

Tapi tak hanya itu. ”Berdiam secara puitis” agaknya hanya bisa diutarakan oleh mereka yang punya rumah yang sejuk dan tenang, mungkin bahkan dengan hutan dan sungai di dekatnya. Tak semua orang punya privilese itu. Kuli bangunan yang menginap dari tempat ke tempat, para pemulung yang membuat kereta-kotak jadi kamar tinggal mereka yang bisa diparkir di mana saja, punya pengertian lain tentang ”rumah”.

Pada akhirnya, rumah adalah respons kepada kebutuhan tubuh, yang berkembang jadi rencana dan imajinasi. Ingatan tentang rumah masa lalu hanya penting jika ia bagian dari respons itu. Di situlah rumah adat dan rumah darurat punya titik temunya. Bukan dalam bentuk, tapi dalam kreativitas: kemampuan menemukan cara yang pas, di suatu masa, di suatu tempat, di sebuah kondisi berkelebihan dan berkekurangan.

Maka kita akan dapat sesuatu yang berharga jika dari Desa Wae Rebo kita temukan sesuatu yang baru di dalam bentuk fisik yang tampak lama. Kita mengingat, tapi kita tak mengulangi. Sejarah tak bisa diulangi. Sejarah berubah. Antara lain melalui kreasi.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 28 Juni 2010~

Komentar»

1. refanidea - Juni 28, 2010

saya pikir Mas Goen akan menuliskan tentang alasan pengembalian Bakrie Award. hehe..

tapi ini menarik..!

2. zul azmi sibuea - Juni 30, 2010

kenangan atas daging dan jiwa kita yang berdiam, dirumah yang secara arsitektural harmoni dengan langit memperkaya ingatan kita dengan berbagai makna berdiam, permanen, sementara, atau poetik.

“berdiam itu hidup di bawah langit, di antara semua yang fana, tapi juga bagian dari apa yang tumbuh—baik karena benih sendiri atau diolah jadi kebudayaan” kata Heidegger sambil berlalu.

itulah rumah, oma(jawa), huma( hauma untuk ladang, palak, porlak) – tempat dimana kita bisa hidup betah dan merasa “at home”. dinegeri lain disebut juga d’uomo karena mereka omo (mis. homo sapien, atau homo homini lupus) atau human.

rumah adat di Wae Rebo, berketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut itu adalah satu dari rumah kita, our homeland

3. cintahidupmati - Juni 30, 2010

Di jaman yang serba modern ini, rasanya akan semakin sulit untuk menemui rumah-rumah tradisional yang bercirikan adat masing-masing daerah. Hal ini lebih dikarenakan semakin sedikitnya lahan untuk tempat tinggal, harga tanah semakin hari semakin melonjak, sehingga orang-orang hanya memiliki lahan yang pas-pasan untuk membangun tempat tinggal mereka. Walhasil, mereka akhirnya tidak mementingkan lagi corak rumah adat mereka, mereka lebih mementingkan bagaimana dengan lahan yang pas-pasan bisa mempunyai tempat tinggal yang nyaman dan dapat menampung seluruh penghuninya. Selain lahan, mininmya anggaran untuk membangun tempat tinggal juga menjadi pertimbangan bagaimana bentuk akhir jadinya suatu bangunan tempat tinggal.

4. Ibra - Juni 30, 2010

buatku, sebuah kisah tentang Rumah adalah sebuah kisah yang mengingatkan pada kata ”pulang” dan peluk hangat. sebuah perasaan kangen akan suatu yang aman dan nyaman. dan ingatan seperti itu tidak cukup hanya diasosiasikan dengan sebuah bangunan.

Rumah, buatku, bisa jadi adalah sebuah momen, bisa juga seseorang.

asalngomong - Juli 6, 2010

Keren!!!

Rumah berarti Pulang…:)

zul azmi sibuea - Juli 6, 2010

dalam urutan antrian, kembali keawal disebut “pulang” atau homing

5. Roelus hartawan - Juli 1, 2010

Rumah bagi orang kota adalah sebuah tempat tinggal dengan tipe tertentu (36, 45, 70), gaya arsitektur tertentu, luas bangunan dan luas tanah. Tempat dia memikirkan bagaimana melunasi KPRnya, melakukan renovasi untuk menambah ruang, kamar untuk sang anak dan perawatnya, menutup luas tanah dengan pekarangan dan meninggikan pagar untuk keamanan.
Akan sangat berbeda sekali rasanya, ketika yang mereka maksud dengan rumah adalah ruang untuk hidup dan berinteraksi sesama komunitas, bukan sekadar sebuah keluarga. Sebuah ruang dan waktu dimana yang kita rindukan bukan hanya anak dan isteri, tetapi seluruh community. Tempat kita melakukan ritual-ritual adat selama hayat, menyambut tamu yang asing, dan melepas anggota komunitas ke kehidupan berikutnya.
Saya menyaksikan hal-hal itu masih tetap hidup di kampung Wae Rebo. Tempat yang akan selalu dirindukan masyarakatnya, meski untuk menemuinya diperlukan langkah yg teguh menapak jarak dan mendaki kerendahan hati.

6. oracle21 - Juli 2, 2010

wew.. Mr. Goenawan Muhammad..🙂 menulis seperti air.. mengalir begitu saja… mungkin gak pak… apa2 yg telah bapak lalui (nostalgia seperti tulisan di atas) mempengaruhi bapak yg saat ini… tulisan2 itu semua bermuara pada satu rasa.. yg mungkin di masa lalu bapak teringat sesuatu…sesal, senang dsb.. mungkin gak pak? hanya pertanyaan hehehe… ane ngefans banget .. ama caping.. mantab🙂

7. takeonepicture - Juli 3, 2010
8. Jacobian - Juli 6, 2010

penjelasan yg menarik.walaupun butuh waktu utk mencerna kata2 disini.🙂

9. gi2hpambudi - Juli 8, 2010

Rumah itu…tempat untuk berteduh.
Kunjungi juga blogku

10. Semendo - Juli 14, 2010

Waduh, sulit saya mencernanya. Mas goen terasa ‘memaki’ realitas sekaligus coba mengamininya.

11. pyan sopyan solehudin - Juli 15, 2010

Rumah adalah tempat utk mengulang kembali

12. penjernih air - Juli 15, 2010

Rumah buat saya adalah tempat segala hal, tempat berteduh, tempat bersenda gurau, tempat melepas, lelah, penat dan emosi, tempat mencurahkan kebahagiaan.
Dan rumah selalu menjadi saksi bisu orang2x di dalamnya.

Top artikelnya mas

13. gi2hpambudi - Juli 18, 2010
14. ijal - Juli 22, 2010

bung Goenawan Mohamad emang top banget deh,
saya ga pernah lewatin tulisan2nya.
Waktu masuk di ECF Unpar juga asik banget bawainnya.

Bahasa, rasa, makna.

15. Gigih Pambudi 1995 - Juli 29, 2010

top artikel ni…

16. joni - Juli 29, 2010

rumah u para nomaden kaum urban yg digusur2 ibukota apa ya? tenda yg beratap langit berdinding waktu? kemana duit lari kukejar kau, hahahahahaha perlu kali ya dibuatkan rumah siap gusur dari fiber kali atau serat bambu u para nomaden ya

17. d4li - Agustus 11, 2010

Mengulas sisi lain dari “rumah” sebagai asal muasal peradaban manusia Indonesia…two thumbs up!!

18. penyaring air bandung - Desember 22, 2015

Thanks for another great post. The place else may anyone get that type of information in such an ideal method of writing?

I’ve a presentation subsequent week, and I am at the search for such
info.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: