jump to navigation

Repetisi Juli 5, 2010

Posted by anick in All Posts, Kapitalisme, Modernisme, Pepeling.
10 comments

Pada suatu hari saya berjalan dalam sebuah mall, di sepanjang deretan etalase. Seakan-akan melangkah di atas ruas jalan yang telah dipindahkan dari tengah kota ke sebuah interior, saya tertegun. Beberapa detik lamanya, saya tak tahu saya sedang di mana.

Di saat itu saya sadar, sebuah mall bukanlah sebuah titik dalam peta bumi. Ia bukan sebuah lokasi; berada jauh dari langit dan tanah, ia seakan-akan tak tersentuh waktu + unsur alam. Di mana pun letaknya, ia sesuatu yang generik: sebuah atau serangkaian bangunan besar yang berisi pelbagai toko dan restoran. Untuknya, konteks tak diperlukan.

Mungkin karena mall adalah sebuah pengulangan. Saya bisa berpindah dari yang satu ke yang lain dan mengalami hal yang sama. Toko-toko itu memajang merek yang sama pula dari satu bangunan ke bangunan lain. Baik di Oxford Road, Singapura, ataupun di Senayan, Jakarta; baik di Brunswick, Melbourne, ataupun di Queensway, Hong Kong, model-model yang ditampilkan di pelbagai tempat itu praktis serupa—setidaknya dengan potongan tubuh dan gaya yang tak berbeda—dengan kaca-kaca etalase yang bermiripan.

Repetisi tampaknya punya peran tersendiri di sini. Ia perpanjangan dari sifat fashion. Fashion, atau mode, tiap kali memang memperbarui diri, tetapi sebenarnya ia merupakan cerminan pengulangan. Ia hidup dengan membuat keinginan datang berulang kali untuk memperoleh merek favorit itu lagi, lagi, dan lagi.

Ia juga perlu mengulang-ulang kehadirannya karena ia adalah penanda yang ingin diingat. Sebagai keseluruhan, etalase-etalase dengan manekin dan poster yang itu-itu juga ingin meninggalkan bekas di bawah sadar kita, agar mereka (Zara, Prada, Giorgio Armani, Versace…) terkait secara permanen sebagai penanda kemolekan, ketampanan, kemutakhiran, yang makin memenuhi angan-angan kita.

Di dalam etalase mall itulah agaknya pelbagai komoditas, diwakili manekin berdandan dan poster wajah + tubuh yang memikat, ”seakan-akan sosok-sosok yang otonom” yang hadir ”dengan kehidupan mereka sendiri”, seperti dikatakan Marx ketika ia berbicara tentang ”fetisisme komoditas” dalam Das Kapital. Benda-benda itu bukan lagi seperti produk dan kreasi orang. Mereka berhubungan dengan sesama mereka, selain dengan umat manusia.

Demikianlah di kaca-kaca yang tak kunjung habis itu mereka bersaing, tapi semua melihat ke arah kita, mengajak kita masuk ke dalam dunia di mana mereka jadi pusat. Kaca itu seakan-akan menyediakan diri sebagai cermin. Dan sebagaimana layaknya cermin, ia menyajikan ilusi tentang diri yang utuh. Ia juga mendorong kita untuk melihat diri sendiri silih berganti antara ”tampan” dan ”kurang tampan”.

Dalam peralihan itu, lahirlah hasrat. Hasrat adalah tanda manusia sebagai kekurangan. ”Menghasratkan,” kata Gabriel Marcel, yang menulis sebuah telaah fenomenologis yang terkenal tentang ”punya” (l’avoir), ”adalah punya tanpa mempunyai.”

”Punya” mengandung ketegangan, antara yang empunya dan yang dipunyai, antara qui dan quid. Di satu pihak, sesuatu yang dipunyai, quid, adalah sesuatu yang di luar aku yang empunya, qui. Tapi di lain pihak, ia bagian dari diriku. Itu sebabnya, kata Marcel, ”Ada semacam penderitaan atau perasaan terbakar yang merupakan satu bagian hakiki dari hasrat”—satu kesimpulan yang berabad-abad sebelumnya telah disebutkan Sang Buddha dalam kata dukha.

Termasuk dalam penderitaan, ketakseimbangan, keterasingan itu adalah convoitise, sebuah sikap yang dalam bahasa Jawa disebut mélik. Dalam Baoesastra Djawa yang dihimpun W.J.S. Poerwadarminta (1939), kata itu berarti ”hasrat atau keinginan untuk mengambil, memiliki”.

Salah satu sifat mélik: ia tak punya obyek tertentu. Keinginan itu lebih merupakan keinginan mempunyai tanpa sasaran yang sudah dipilih sebelumnya. Ada unsur rasa cemburu dan gelora hati di dalamnya yang berbau busuk. Sebuah kata-kata mutiara Jawa yang terkenal memperingatkan bahaya itu: mélik nggéndhong lali—hasrat dan kecemburuan untuk memiliki membawa dalam dirinya sikap melupakan perilaku yang baik.

Tapi mall demi mall, etalase demi etalase, pada akhirnya adalah kuil-kuil di mana fetisisme komoditas jadi ritual, dan mélik jadi ketaatan. Tentu, tak semua menyebabkan lahirnya perilaku buruk. Kapitalisme, yang melembagakan hasrat dan iri hati, pada akhirnya menggerakkan dunia. Bahkan Marx sendiri mengatakan bahwa manusia, sebagai makhluk yang dibentuk dari tubuh yang melihat, menghidu, menyentuh, mencicip, dan mendengar, yang haus dan lapar, adalah makhluk yang menderita (leidendes Wesen) dan sebab itu, dengan gairah, dengan semangat, ia mendapatkan kekuatan menggapai obyeknya.

Tapi saya ingat sebuah lukisan kaca dari Jawa Tengah: Petruk (seperti mengacu ke parodi wayang terkenal, Petruk Jadi Raja) duduk di kursi, memangku seorang perempuan, salah satu tangannya memegang botol minuman. Ruangan besar, ada tanda-tanda kekayaan yang untuk ukuran sang pelukis rakyat sangat mewah. Di gambar itu tertulis huruf-huruf Jawa: mélik nggéndhong lali. Hasrat dan convoitise pada akhirnya bukan saja melahirkan nafsu tubuh, tapi juga hilangnya batas pengertian milik. Milik yang selalu berarti privat, bergerak ke luar. Dari sinilah akumulasi terjadi: menghimpun modal jadi kekuasaan, menguasai puluhan rumah secara sah dan tak sah, menyimpan harta dari penyalahgunaan milik publik.

Tapi di mana akhirnya? Mall demi mall, etalase demi etalase, akan selalu mengulangi ritualnya. Manusia hanya bisa bebas jika ia melintasi obsesi ini: milikku, milikku, milikku.…

~Majalah Tempo Edisi Senin, 05 Juli 2010~

Iklan