jump to navigation

Asterix Oktober 18, 2010

Posted by anick in All Posts, Tokoh.
trackback

TIAP jagoan perlu ironi. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan demikian perkasa, penting untuk ambil jarak. Jarak untuk berpikir lagi, dengan sedikit lelucon. Jarak untuk lebih arif.

Ironi membuka pintu ke kearifan itu. Ironi, kata Anatole France, adalah la gaieté de la réflexion et la joie de la sagesse. Bersama ironi kita bisa merenung kembali dengan hati ringan tentang hal ihwal yang berlebihan—dan jadi sedikit bijaksana seraya riang.

Agaknya itulah yang membuat kita, pada usia di atas 40—yang sudah menyaksikan sejumlah omong kosong di dunia—tak berhenti menyukai komik Asterix. Kita hanya sesekali menengok kembali Superman atau Batman yang kita gemari pada usia di bawah 20.

Asterix diciptakan René Goscinny dan Albert Uderzo. Umur komik ini lebih panjang ketimbang Goscinny sendiri, yang meninggal pada 1977, setelah ulang tahunnya yang ke-51. Uderzo meneruskan karya bersama itu. Cerita bergambar yang kocak itu kini sudah mencapai sekitar 34 jilid, sejak pertama kali terbit di majalah Pilote pada 29 Oktober 1959.

Sebagaimana tiap penggemarnya tahu, Asterix dikisahkan tinggal di sebuah desa bernama Armorica di wilayah Gaul, atau Gallia, atau Prancis kuno, sekitar tahun 50 Sebelum Masehi. Di masa itu, daerah yang luasnya meliputi peta Prancis modern itu (plus Belgia, Luksemburg, dan Swiss) dikuasai imperium Romawi di bawah Julius Caesar. Goscinny menciptakan Desa Armorica yang bebas untuk menunjukkan bahwa tak semua bangsa Gallia takluk. Dengan cara yang kacau-balau, tapi dengan bantuan ramuan jamu dukun mereka, Asterix dan orang-orang sekampungnya selalu bisa mengalahkan tentara Romawi yang perkasa. Ramuan jamu itu bisa membuat tubuh mereka mahakuat, seperti Popeye Sang Kelasi setelah menyantap bayam.

Tapi Asterix dan kawan-kawannya yang mencoba mengelak dari penjajahan Romawi berbeda dari Si Popeye yang melawan Bluto yang merebut sang kekasih, Olive Oyl. Karya E.C. Segar, kartunis yang hidup pada awal abad ke-20 di kota kecil Chester di Illinois, Amerika Serikat, itu praktis tak bicara apa pun yang terkait dengan politik. Popeye sebuah lelucon cepat yang bisa diulangi lagi, cocok buat anak-anak. Sebaliknya, Asterix mengandung percakapan tentang kekuasaan dan tentang apa yang bisa disebut sebagai patriotisme.

Patriotisme selalu punya masa lalu pilihan, dan dalam kasus Prancis—sebagaimana tersirat dari lelucon Goscinny dan Uderzo—pilihan itu jatuh ke sebuah sejarah dua milenium lebih di masa silam. Tokohnya Vercingetorix, yang bunyi ”ix”-nya mengilhami Goscinny dan Uderzo untuk dipelesetkan.

Vercingetorix menolak kolonisasi Romawi. Orang Gallia ini berontak. Ia berhasil menghimpun kembali para pemimpin lokal yang saling bersaing. Ia jadi raja mereka dengan dukungan petani miskin. Ia tak main-main. Ia pernah mengalahkan Julius Caesar, dan hampir berhasil ketika ia mengepung pasukan Romawi dengan 30.000 tentara di Alesia. Tapi Caesar lebih berpengalaman. Dibangunnya dua dinding konsentris sebagai penangkis. Vercingetorix gagal. Pemimpin Gallia ini akhirnya menyerah pada tahun 52 Sebelum Masehi, dirantai ke Roma dan mati.

Jika kita lihat patung setinggi tujuh meter yang didirikan Napoleon III untuk mengenang Vercingetorix, kita praktis tak akan teringat Asterix atau siapa pun dari tangan Goscinny dan Uderzo. Sosok patriot besar Gallia itu tinggi tegap. Rambutnya ikal memanjang. Sebaliknya Asterix kontet, apalagi bila disandingkan dengan sahabatnya yang gendut gempal, Obelix. Wajahnya tua, tapi tanpa wibawa.

Pada awalnya sebenarnya Uderzo ingin menggambar seorang tokoh yang gagah berotot untuk melukiskan seorang pendekar Gallia. Tapi Goscinny punya ide lain, dan jadilah Asterix. Dengan itulah kedua penggambar itu menyelamatkan patriotisme bukan saja dari lambang yang membosankan (lelaki berotot, tatapan mata yang berani), tapi juga dari kemungkinan jadi emosi yang konyol. Patriotisme jadi konyol ketika gairah mencintai sebuah tanah air meluap-luap sedemikian rupa hingga tak ada ruang untuk melihat apa pun yang lain, apalagi untuk kesadaran akan ironi.

Asterix menyegarkan, mungkin karena ia lahir setelah dua perang besar yang hampir menghancurkan Eropa—dua perang yang dipicu oleh patriotisme yang berkembang jadi nasionalisme yang ganas. Mungkin bukan kebetulan bahwa Goscinny dan Uderzo bukan orang Prancis ”asli”, kalaupun kata ”asli” ini jelas. Goscinny, yang pernah masuk tentara Prancis pada masa Perang Dunia II (sebagai pembuat poster), berdarah Yahudi Polandia; meskipun lahir di Paris, ia dibesarkan di Buenos Aires dan pernah tinggal di New York. Uderzo keturunan Italia. Nama keluarga itu berasal dari Dusun Oderzo di Italia, sekitar 70 kilometer arah timur laut dari Venesia. Ketika karya mereka terbit, dan disukai tak hanya oleh orang Prancis, tampaklah bahwa Eropa tak bisa menganggap nasionalisme lama dengan tanpa humor. Asterix lahir dan tumbuh ketika sikap naif dan sempit tentang pahlawan tanah air—juga tentang heroisme umumnya—sudah ditinggalkan.

Dalam hal itu, Asterix berbeda dari para superhero produk Amerika. Superman, Batman, apalagi Captain America, adalah pendekar yang terlampau serius dengan kepahlawanan mereka sendiri. Para penciptanya mengkhayalkan manusia yang serba dahsyat—seperti para penggambar itu belum pernah kecewa dalam mempercayai sesuatu dan memuja sesuatu.

Syahdan, Presiden Sarkozy menghadiahkan komik Asterix kepada anak Presiden Obama. Saya tak tahu apa pesannya. Tapi mungkin ini: di dunia ini, nak, humor dan ironi lebih menyelamatkan kita ketimbang impian tentang kekuasaan dan keagungan….

~Majalah Tempo Edisi Senin, 18 Oktober 2010~

Komentar»

1. tengkuputeh - November 6, 2010

Dalam setiap cerita ada ironi seperti halnya setipa pahlawan memiliki kelemahan…

2. Prayitno - November 25, 2010

Asterix. Komik terdahsyat sepanjang masa… Baru tau kalau seorang GM juga baca Asterix. Ah, mungkin kita ini orang2 yg kelewat geli dg sosok jagoan yg tdk se-‘lengkap’ tokoh macam Asterix-Obelix. Makasih, mas, sudah mengabadikan dlm caping.

3. Megan mahmud - Desember 6, 2010

Pak gm_gm aku dataaaang hehe

4. Megan mahmud - Desember 6, 2010

Aku datang maning

5. rudy_rudy - Desember 27, 2010

kekuatan gm, dalam hal ini caping, adalah pada pada kalimat-kalimat terakhirnya–orang sering menyebutnya ending.

6. Rifqi Muhammad - Desember 30, 2010

cerita kepahlawanan yang penuh ironi. saya menemukan gaya ini di hampir semua kisah antik, termasuk ramayana.

7. coretan9 - Januari 26, 2011

Terimakasih sheringnya mas, artikel di situs ini memberi saya informasi yang bermfaat, keep posting ya …

8. Huga - Februari 12, 2011

Mantap

9. SM Biro Bangunan - Februari 13, 2011

Saya juga senang baca komik asterix…terutama sama tokoh utamanya Asterix dan Obelix yang bisa mengalahkan pasukan Romawi dengan ramuan ajaibnya…

10. bujangkatapel - April 2, 2011

ya semoga haal ini bisa menjadi inspirasi bagi para peng-komik kita biar bikin komik tu bukan sekedar fantasi tapi cerdas – historis – berkarakter – berisi – dan indonesia bangt lah pokoknya.. ;D

11. Jual Meja Kantor - Kursi Kantor - April 30, 2011

jadi kangen baca komik sterix obelix lagi, ceritanya simple tapi penuh sisipan moral yang baik

12. wordpress mage monster - Juni 29, 2011

I am glad that I detected this web blog , exactly the right information that I was searching for! .

13. descubrir esta informacion aqui - Agustus 1, 2014

Nice blog here! Also your site so much up very fast! What web host are you using?
Can I am getting your associate hyperlink on your host?
I wish my site loaded up as fast as yours lol


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: