jump to navigation

Maridjan November 8, 2010

Posted by anick in All Posts, Elegi, Kisah, Pepeling.
trackback

Mbah Maridjan: sebuah pertanyaan. Ia tewas di tempatnya bertugas di Gunung Merapi, karena ia sejak lama menolak turun menghindar dari letusan yang telah berkali-kali menelan korban itu. Kesetiaannya mengagumkan, tapi apa arti tugas itu sebenarnya?

Ia, meninggal dalam usia 83, mungkin sebagai pelanjut dari alam pikiran yang dikukuhkan Kerajaan Mataram sejak abad ke-17. Ia pernah bercerita, Merapi adalah tempat terkuburnya Empu Rama dan Permadi, dua pembuat keris yang ditimbuni Gunung Jamurdipa karena telah mengalahkan dewa-dewa. Kedua orang itu tak mati. Mereka hidup, menghuni gunung yang kemudian disebut Merapi itu—yang jadi semacam keraton para arwah. Dan ke sanalah Raja Mataram (Islam) pertama, Panembahan Senapati (1575-1601), mengirim juru tamannya yang berubah jadi raksasa. Si raksasa diangkat sebagai “Patih Keraton Merapi”, dijuluki Kiai Sapujagat. Dengan itu, Panembahan Senapati, yang dikisahkan mempersunting Ratu Laut Selatan, menunjukkan bahwa kuasanya juga membentang ke arah utara. Dan di situlah pelanjut Kerajaan Mataram, atau Yogyakarta sejak abad ke-19, mengangkat orang untuk jadi kuncen Merapi.

Maridjan, yang biasa dipanggil “Mbah”, sejak 1982 diangkat Hamengku Buwono IX untuk tugas itu. Betapa penting kehormatan itu bagi si jelata yang lahir di Dukuh Kinahrejo di kaki Merapi itu. Ia menyandang gelar kebangsawanan “Raden”; nama resminya Surakso Hargo.

Tapi ia tak tunduk kepada raja yang sekarang, Hamengku Buwono X. Dalam majalah National Geographic yang terbit Januari 2008, (“Living with Volcanoes”, tulisan Andrew Marshall), disebutkan bagaimana Maridjan menganggap HB X membiarkan para pengusaha mencopoti jutaan meter kubik batu dan pasir dari tubuh Merapi. Juga dikatakan Sri Sultan enggan ikut dalam upacara nyadran ke Kiai Sapujagat, ketika makanan, kembang, kain, dan potongan rambut serta kuku raja dipersembahkan untuk melestarikan hubungannya dengan Keraton Merapi.

Agaknya Maridjan tak mengerti, HB X ada di alam pikiran yang berbeda. Sri Sultan, yang dalam National Geographic digambarkan mengisap lisong Davidoff dan suka setelan Armani, mengatakan: “Sebuah bangsa yang besar tak dapat dibangun di atas mithos yang pesimistis.”

Modernitas memang berangkat dengan optimisme. Ia bertolak dari keyakinan manusia bisa melepaskan diri dari alam sekitarnya. Dengan jarak itu, ia sanggup mengendalikan dunia. Fisika, geografi, ilmu kimia, dan juga teknologi bertumbuh terus dari kesanggupan menaklukkan bumi. Kesadaran modern menganggap alam sebagai materi yang mati. Tak ada peri menghuni samudra, tak ada raksasa menjaga Merapi.

Di abad ke-18, di Jerman, penyair Schiller menyebut arus modern ini sebagai die Entgötterung der Natur, “lepasnya dewa-dewa dari alam”.

Tapi tak hanya di Jerman di zaman Schiller dan Goethe tumbuh kesadaran hilangnya sifat yang magis dari alam. Animisme, yang menganggap benda-benda sekitar punya sukma, tergusur di Yunani sejak Sokrates dan Plato. Sejak abad ke-5 Sebelum Masehi, rasionalitas disambut. Sokrates tak menyukai mereka yang bekerja hanya berdasarkan “naluri”. Plato tak menghendaki penyair yang memandang alam sebagai sesuatu yang senyawa dengan manusia.

Tak dapat dilupakan: alam jadi mati, sebagaimana animisme terusir, sejak monotheisme ditegakkan. Pada mulanya adalah agama Yahudi. Yahweh adalah Tuhan yang “cemburu”, demikian disebut dalam Perjanjian Lama. “Janganlah ada padamu allah lain di hadapan-Ku”, begitu sabda-Nya. Maka sebagaimana orang-orang penyembah patung lembu dibinasakan, segala sikap yang menganggap benda apa pun sebagai sesuatu yang punya anima dianggap menyembah berhala.

Monotheisme yang mengharamkan animisme itu berlanjut dalam agama Kristen dan Islam. Pada satu titik, agama Ibrahim ini bertemu dengan semangat modern: saat “lepasnya dewa-dewa dari alam”. Tak mengherankan bila tendensi anti-takhayul tumbuh misalnya di kalangan Muhammadiyah, yang lazim disebut sebagai pembawa modernitas dalam Islam di Indonesia. Tak mengherankan bila orang Muhammadiyah (seperti halnya HB X) cenderung menampik adat nyadran di Merapi dan di mana saja. Nyadran adalah pemberhalaan.

Tapi ada yang sebenarnya hilang ketika adat itu disingkirkan. Max Weber, sosiolog itu, telah termasyhur dengan telaahnya tentang proses hilangnya yang “magis” dari dunia, yang terjadi sejak modernitas berkembang biak. Manusia sejak itu hanya menggunakan “akal instrumental”, memperlakukan alam sebagai sesuatu yang bisa diperalat, dengan hasil yang bisa diarahkan. Dunia modern dan kerusakan ekologi cepat bertaut.

Yang tak disebutkan Weber: agama-agama pun kehilangan kepekaannya kepada yang sesungguhnya mendasari iman—kepekaan kepada yang menggetarkan dari kehadiran Yang Suci, yang dalam kata-kata Rudolf Otto yang terkenal disebut sebagai mysterium, tremendum, et fascinans. Yang Suci membangkitkan pada diri kita rasa gentar dan takjub karena misterinya yang dahsyat. Tapi ketika alam dipisahkan dari Yang Suci (karena tak boleh di-“sekutu”-kan), Tuhan pun berjarak. Ia tak membuat kita luruh. Kita hanya berhubungan dengan-Nya lewat hukum. Tuhan pun mudah ditebak. Hukuman dan pahalanya dapat dikalkulasi.

Maka ketika gunung meletus dan tsunami menggebuk, mereka yang merasa bisa memperhitungkan maksud Tuhan dengan cepat bisa menjelaskan: bencana itu azab, ia terjadi untuk tujuan tertentu. Dalam hal ini agama mirip dengan ilmu-ilmu yang merasa bisa menjelaskan & menguasai alam—dan membuat manusia bersujud kepada Tuhan yang sebenarnya tak akrab.

Saya kira Mbah Maridjan meninggal dengan bersujud kepada Tuhan yang sama. Tapi Tuhan itu masih membuatnya gentar, takjub, dan bertanya.

Majalah Tempo Edisi Senin, 08 November 2010

Komentar»

1. ibra - Maret 29, 2011

pada suatu masa, Nabi Musa pernah dipertemukan oleh Tuhan dengan orang yang lebih bijak darinya. Khidir namanya. dalam pertemuan itu, betapa terperangahnya Musa ketika orang yang disebut lebih bijak darinya itu ternyata tak segan-segan merusak dan membunuh. suatu tindakan yang bahkan melanggar apa yang Tuhan perintahkan sendiri.

di masa yang lain, di semenanjung Arabia, Nabi Muhammad diperintahkan Tuhan untuk menyampaikan wahyu kenabian yang pertama : isra&mi’raj : perjalanan dari Mekah ke Palestina hanya dalam tempo satu malam, dan perjalanan menuju ke langit ketujuh. yang kemudian terjadi mudah ditebak : Nabi Muhammad dianggap irrasional dan bahkan gila oleh orang mekah.

di masa yang lain lagi, ada cerita tentang hewan yang dapat bercakap-cakap dengan manusia. atau di masa yang lain, Tuhan memerintahkan Api untuk menjadi dingin, dan tidak mengganggu Ibrahim.

kisah-kisah itu tentu bukan suatu yang yang dapat disinkronkan dengan Modernitas.
atau bahkan lewat rute yang lain, agama Ibrahim tak bisa sepenuhnya sinkron dengan Humanisme, atau Komunisme, atau Kapitalisme, atau isme-isme yang lain.

saya melihatnya sebagai sebuah keterbatasan alam pikir manusia. bahwa lewat kerangka -isme tertentu, tak semua variabel dapat dicakup. selalu asumtif. ilmu ekonomi menyebut sifat asumtif itu cetiris paribus (variabel-variabel yang lain dianggap tidak mempengaruhi).
padahal cetiris paribus itu sendiri adalah sesuatu yang jelas-jelas irrasional.

mati muda - November 21, 2011

jempol buat anda…..

2. Joseph - Oktober 29, 2011

@ Mas GM,

Pertanyaan yang selalu ingin saya tanyakan kepada Mas GM. Menurut anda TUHAN itu ada atau tidak?
TUHAN menurut Mas GM itu seperti apa?
Saya sudah membaca banyak CAPING dan kesimpulan saya anda sendiri nggak yakin Tuhan itu ada. May be i am wrong????

Edy - Desember 17, 2014

Yes, May be you wrong, Pak Joseph. Kalau bapak berkenan membaca caping lebih banyak lagi, pasti bapak akan mengubah kesimpulan.

Saya sendiri tak pernah bicara dengan GM. Saya hanya
sempat melihat wajahnya beberapa kali di pementasan teater.

Kalau bapak tanyakan kepada GM,”Tuhan itu ada atau tidak”, Dugaan saya, GM akan menjawab tidak ada. Tapi, kalau pertanyaannya percaya atau tidak kepada Tuhan? bapak akan mendapat jawabannya.

Saran saya, bapak, tidak usah menemui GM untuk mendapat jawab. Baca saja caping “lebih banyak”. Mudah-mudahan Pak Joseph mendapat jawaban di caping yang bapak baca berikutnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: