jump to navigation

Kakawin Juli 30, 2012

Posted by anick in Kisah, Perempuan, Sastra, Sejarah.
Tags: ,
trackback

Pada suatu hari, di taman paviliun istana, Marmmawati, permaisuri, menemukan sebait puisi di kelopak sekuntum bunga pudak. Terpesona, ia pun menyalinnya. Lalu ia cepat-cepat kembali ke kamar. Gerimis turun. Dalam kesendiriannya, ia baca sajak itu dengan setengah berbisik.

Dan kesalahpahaman pun terjadi.

Baginda Jayawikrama mendengar suara bisik itu ketika ia memasuki kamar. Ia tahu baris-baris itu sebuah sajak cinta. Ia curiga: istrinya pasti punya seorang kekasih yang sedang dirindukannya. Dengan murka ia menuduh Marmmawati selingkuh. Ketika permaisuri mengatakan bahwa puisi itu dikutipnya dari bait yang ditulis seseorang di kelopak pudak, baginda meminta bukti.

Tapi kembang itu tertinggal di luar, di halaman, dan gerimis telah menghapus huruf-huruf di kelopaknya.

Malam itu Raja Jayawikrama mengusir Marmmawati. Dan dengan tangis yang pedih, perempuan itu kembali ke pertapaan orang tuanya di tepi hutan.

Beberapa hari kemudian, ia dengar perang pecah dan Jayawikrama gugur. Segera, dengan kereta berkudanya Marmmawati bergegas ke lapangan tempat pertempuran paling sengit terjadi. Di sana mayat bergelimpangan. Marmmawati turun dari kereta untuk mencari jenazah suaminya. Tapi ia tak menemukannya….

Saya petik dan susun kembali cerita itu dari sebuah karya Mpu Tantular di abad ke-14, Sutasoma. Adegan itu dikisahkan kembali oleh Helen Creese dalam Perempuan dalam Dunia Kakawin, yang baru terbit (Pustaka Larasan, Denpasar, Juni 2012).

Creese, sarjana peneliti sastra Jawa Kuna dan Bali, khususnya memaparkan percintaan, perkawinan, dan seksualitas dalam sastra Jawa sejak abad ke-9 sampai dengan Bali dan Lombok abad ke-19. Meskipun versi Indonesia dari studinya ini agak kurang luwes, saya masih bisa mendapatkan petilan-petilan yang mempesona dari khazanah lama itu. Fragmen Sutasoma itu hanya salah satu contohnya.

Dari sekitar 30 karya yang ditelaahnya, Creese memfokuskan diri pada kehidupan perempuan dalam kakawin. Tapi akhirnya tak hanya itu; faset lain tampak ke permukaan.

Yang pertama-tama adalah sebuah kualitas puitik yang tak ada lagi dalam karya sastra Jawa di abad ke-18 dan 19. Wedhatama, Wulangreh, dan Kalatida adalah ikon sastra Jawa sampai kini. Tapi karya-karya tembang itu—dari zaman Ranggawarsita, Mangkunegara IV, dan Yasadipura—terasa datar jika dibandingkan dengan, misalnya, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh di abad ke-12.

Wedhatama, apalagi Wulangreh, terlampau dibebani fungsi didaktis. Yang satu untuk memberi pedoman anak muda tentang laku rohani yang baik; yang kedua sebuah petunjuk bagi para anak priayi. Kekuatan literer kedua buku itu, kalau ada, hanya tampak pada bunyi, permainan aliterasi, dan kekayaan si­nonim. Kita tak akan menemukan keleluasaan membangun deskripsi yang imajinatif seperti dalam Bharatayudha ini:

Panjang garis awan bercampur ke dalam merah menyala ­cakrawala

Seperti darah merendam pakaian merah pengantin yang ­diperkosa.

Dengan sepasang kalimat itu, hadir suasana erotik, sekaligus brutal. Kita masuk ke dalam sebuah masa ketika alam sangat dekat dan akrab dengan gairah manusia. Seperti ditunjukkan ­Creese, dalam Kunjarakarna karya Mpu Dusun di abad ke-14, misalnya, asosiasi antara yang alami dan yang seksual muncul kuat. Di sanalah hidup daya puitiknya. Sebatang pohon yang tampak di sela-sela kabut adalah perempuan telanjang yang berdiri di depan kekasihnya, sebuah dahan adalah lengan perempuan yang menghindar dari pelukan, dan selubung awan yang turun dari pucuk gunung adalah kain yang dilepaskan.

Dalam kakawin, yang erotik tak pernah jadi “kotor”. Tapi pada saat yang sama, seperti dalam contoh di atas, ia bisa berbaur dengan yang buas. Dalam Bharatayudha, kata Creese, “Majas seksual kadang-kadang menggema dalam peperangan.” Kegaduhan pertempuran, misalnya, dipandang sebagai “jeritan dan desahan sang wanita” dalam pergulatan di ranjang.

Di situ pula faset lain tersingkap: hubungan kekuasaan. Di hampir semua kakawin, perempuan hanya dianggap berarti ketika, seperti dalam cerita Marmmawati, ia adalah contoh kesetiaan mutlak kepada suami. Dalam hubungan seks, ia jadi obyek. Adegan “pengantin yang diperkosa” tak hanya sekali muncul. Khususnya di kalangan aristokrasi, perempuan hidup dengan kendali yang ketat atas hasrat. Kekuatannya terbatas dalam daya mengontrol diri sendiri.

Hanya perempuan yang bukan manusia yang punya keinginan, inisiatif, dan kapasitas untuk menikmati berahi. Dalam Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa dari abad ke-11, kita ketemu dengan bidadari Tilottama (“kulitnya warna telur kupas, payudaranya kental”) yang “berpengalaman dalam seni merayu”; dengan Arjuna bidadari itu bisa “merasakan puncak kenikmatan”. Dalam Drupadiwiwaha, Hidimbi, seorang raksasi, yang kemudian melahirkan Gatutkaca, dengan kehendaknya sendiri tidur bersama Bhima.

Tapi kekuasaan dan kekerasan tak selamanya ada. Klimaks kenikmatan seksual bisa bertaut dengan yang rohani. Bahkan dalam Tutur Kamadresti, sebuah panduan erotik dari Bali, tahapan terakhir dari asmara adalah asmaratantra, saat penyatuan mistik. Dengan kata lain, di dunia kakawin, yang erotik dan yang sensual diterima dengan bebas sebagai bagian dari keindahan, sebagai bagian dari kekerasan, dan juga dari yang spiritual.

Dunia yang paradoksal itulah yang menyebabkan kakawin jadi puisi yang hidup. Dalam dunia puisi, tak ada satu elemen pun yang sendirian menguasai ruang. Puisi adalah gema dari kombinasi dan kontradiksi yang tak terduga-duga.

Itukah yang tak ada—entah kenapa—sejak Jawa memasuki abad ke-15? Sejak datang Islam dan kemudian kemenangan orang Eropa? Saya cuma menduga: ketika tak ada kombinasi dan kontradiksi yang diakui, puisi para Mpu tak lahir kembali.

~ Majalah Tempo Edisi Senin, 30 Juli 2012~

Komentar»

1. Edy - September 12, 2012

Setelah abad ke 15 itu, perlakuan kita terhadap alam memang tak lagi ramah. Juga perilaku para penguasa kala itu senantiasa gusar dengan datangnya agama semitis abrahamik yang mulai meruyak di seputar pantai-pantai di Jawa.

Revolusi industri dan mulai berkembangnya tehnologi membuat manusia tak lagi akrap dengan alam. Alam dipandang sebagai penghalang dan musti dibuat tunduk dengan ekploitasi dan perkosaan abis-abisan.Dengan begitu, alam tak lagi berjiwa dan kehilangan ruh-nya.
Berbagai stigma yang terkait dengan takhayul pun, punya andil besar dalam upaya kita melestarikan alam. Saya jadi teringat kepada Mbah Marijan- dengan apa yang dilakukan terhadap Merapi itu. Hingga kini, masih menjadi teka-teki bagi banyak orang.

Di sisi lain, akulturasi budaya membuat para raja takut kehilangan wibawanya. Lantas sibuk membuat benteng dan merebut pengaruh.

Karenanya tak bisa dihindari, berbagai karya yang muncul pun sebagai cerminan dari zamannya. Sebagai anak jaman, ia tak pernah jauh dari induk semangnya. Inilah potret kita saat ini.

2. maesojeno - Februari 25, 2013

Menurutku ini bkn keindahan,,tpi jorok,,

3. ronalddepp - Mei 19, 2013

Saya sangat berterimah kasih banyak kepada PAK MANDALA atas bantuannya saya bisa menang togel, saya benar2 tidak percaya dan hampir pingsan karna angka yang di berikan beliau ternyata tembus. awalnya saya cuma coba2 menelpon, saya bilang saya terlantar di daerah Malaysia. kerja sebagai TKI dan tidak ada ongkos pulang, mulanya saya ragu tapi dengan penuh harapan saya pasangin kali 100 lembar dan ALHAMDULILLAH berhasil. sekali lagi makasih banyak ya PAK… dan saya tidak akan pernah lupa bantuan dan kebaikan PAK MANDALA. kepada saudara yang ingin merubah nasibnya seperti saya silahkan Hub 0823″4898″5714 PAK MANDALA. Demikian kisah nyata dari saya dan ini tanpa rekayasa. INGAT. kesempatan tidak akan pernah datang Yang ke.(2).kalinya…!

4. Parcel Buah - Juni 15, 2013

Ada banyak waktu untuk kita belajar lagi

5. bunga duka - Juli 5, 2013

Urusan kakawin sampai meninggal dunia memang bisa jadi urusan pelik dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu ada bunga duka cita utk menyampaikan ucapan simpati

6. florist bandung - Juli 11, 2013

Saya suka kalimat Dalam kakawin, yang erotik tak pernah jadi “kotor”. Tapi pada saat yang sama, seperti dalam contoh di atas, ia bisa berbaur dengan yang buas.
Karena memang begitulah sebuah pernikahan

7. media hamil - November 21, 2013

Literatur kuno bangsa kita ternyata banyak sekali menyimpan cerita dan kisah bermutu yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup dan hikmah.

8. Paket Umroh Keluarga - November 26, 2013

kakawin itu sungguh indah jika dibalut dengan pernikahan yang suci, agung dan sempurna

9. Maxgrosir - November 27, 2013

Puisi para mpu juga bisa melahirkan para puisi yang sangat bermakna sekali seiring kedatangan islam di eropa

10. lintasan-beritaku - Oktober 24, 2014

good infoooo

11. lintas-nasional - Oktober 24, 2014

jjjjjjjoooooooosssssssssssss

12. lintasmi - Oktober 24, 2014

ooooohhh gitu toohhh

13. berita politik - Oktober 24, 2014

salam supperrr aja

14. berita olahraga - Oktober 24, 2014

udah malemm ahhh

15. berita teknologi - Oktober 24, 2014

tambah lagi artikelnya gan

16. berita pendidikan - Oktober 24, 2014

tambahin lagi postingannyaaaaaa

17. berita otomotif - Oktober 24, 2014

udah cape cetak cetik nihhh

18. film terbaru - Oktober 24, 2014

tulisannya menginspirasi bingittss

19. berita hiburan - Oktober 24, 2014

ngikut nyimak aja deh bangg

20. spesifikasi psp - Desember 10, 2014

blognya kereennn abiss

21. laptop hp - Desember 10, 2014

infonya mantappp gan

22. laptop hp - Desember 10, 2014

bolehlah nanti saya berkunjung lagi
http://goo.gl/1dPUwY

23. harga tv - Desember 10, 2014

blogwalking aja gan…..

24. larismu - November 26, 2016

mantappp.. ayooo diupdate lagi beritanya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: