jump to navigation

Logos September 25, 2006

Posted by anick in Agama, Multikulturalisme, Sastra.
3 comments

Pada mulanya logos. Kemudian keraguan.

Adapun logos, menurut para pakar, berasal dari kata Yunani legein, ”menghimpun”. Tapi kita akan terkecoh bila menyangka kata dari zaman kuno itu tak berkait dengan rasionalitas.

Ketika dalam puisi Illiad Homeros menggunakan kata kerja yang akarnya sama dengan logos untuk menggambarkan laku menghimpun senjata, baju zirah, roti, dan lain-lain, di sana telah tersirat penyusunan kategori—se­suatu yang kemudian kita kenali dalam katalogus. Yang termasuk ”senjata” punya anasir yang berbeda dengan ”makanan”. Ada proses abstraksi yang membentuk konsep: ”panah” lain dari ”lembing”, tapi keduanya dirumuskan sebagai senjata.

Logos pun berarti ”kata”, sesuatu yang merumuskan (dan juga memberi bentuk) benda atau laku yang beraneka ragam sebagai satu acuan. Logos pula yang menyusun alur dan struktur cerita dalam prosa, mengatur argumentasi dalam discourse.

Artinya, yang centang perenang diletakkan ke dalam sebuah tata. Keanekaragaman yang tampak sebagai chaos ditiadakan. Dari ”kekacauan” perbedaan itu ada yang bisa diidentifikasikan sebagai sejenis, digolongkan sebagai satu. Agaknya sebab itu Herakleitos mengatakan, siapa yang mendengarkan logos (yang universal) akan mengakui bahwa semua hal adalah satu.

Tapi ”satu” bisa palsu. ”Satu” juga bisa kaku. Ketika yang bhineka ditampilkan jadi eka, tidakkah keanekaragaman itu disembunyikan, atau abaikan, mungkin sejenak, mungkin pula terbungkam seterusnya? Sebuah tata atau ”order” bisa sangat represif. Bahkan undang-undang yang kita terima sebagai kemestian sosial juga mengandung sikap yang menekan dan mengetam: kita tahu ancaman penjara yang sama diberlakukan atas satu perbuatan yang mungkin sekali konteksnya tak sama.

Itu sebabnya hukum memerlukan hakim. Ia seorang yang diharapkan akan menimbang adilkah penyamaan itu, adakah yang ”logis” dengan sendirinya ”benar”. Hakim adalah unsur yang diperlukan untuk mempersoalkan sejauh mana undang-undang yang terpatri di kitab itu bisa diterapkan pada kejadian yang masing-masing sebenarnya unik, tak bisa dipatri. Hakimlah yang mesti bisa mengimbangi prinsip ekuivalensi—bahwa pelbagai hal perlu dianggap setara—dengan prinsip perbedaan—bahwa banyak hal niscaya berlainan.
Hakim, seorang manusia, adalah beda itu sendiri. Ia, juga aku dan engkau, tak mungkin sama sepenuhnya dan selama-lamanya. Siapa pun tak bisa diringkus dalam ­esensi yang tunggal. Seorang buruh tak hanya seorang anggita ”kelas” proletar, tapi mungkin juga seorang istri yang ditindas suaminya yang juga buruh; atau ia seorang yang memiliki sepetak tanah, sebuah alat produksi.

Sejak menjelang akhir abad ke20, kian kuat desakan untuk mengakui bahwa ”satu” memang bisa palsu dan kaku. Logos digugat. Rasionalitas yang tersirat di dalamnya mulai dilihat sebagai alat untuk mengkotak-kotakkan, mengontrol dan menguasai dunia dan orang lain. Weber dengan muram menyebutnya sebagai ”nalar instrumental”, bagian dari modernitas yang akhirnya akan membawa manusia ke dalam ”kerangkeng besi”. Kaum feminis, seperti Hélène Sixous, melihat ada hubungan antara ”logosentrisme” dan kecenderungan patriarki yang menindas, dan sebab itu memperkenalkan kata ”phallogosentrisme”. Gilles Deleuze memuji karya termasyhur Marcel Proust, A la recherche du temps perdu, sebagai pembawa Antilogos: berbeda dari kecenderungan Yunani yang meletakkan tanda di bawah kendali logos dan membentuk sesuatu yang sebenarnya telah rusak karena dipermak, dalam novelnya Proust menghidupkan keragaman yang tak bisa diringkus ke dalam Kesatuan.

Salahkah Kesatuan? Mungkin tidak dengan sendirinya. Tapi Kesatuan bisa terasa sebagai horor di sebuah zaman yang telah menyaksikan ngerinya totalitarianisme Hitler, Stalin, dan Mao. Kesatuan bisa terasa sebagai palu godam yang menghantam mereka yang disingkirkan karena dianggap tak satu golong­an, tak cocok untuk ”berSatu”: perempuan, orang hitam, orang ”kiri”, orang ”kanan”, gay, dan entah apa lagi.

Yang jarang diingat ialah bahwa Kesatuan itu tak sekadar hasil pemikiran metafisik. Ketika Kesatuan ditandai dengan satu bendera—”manusia”, ”Kristen”, ”Islam”, ”Barat”, ”Asia”—yang jarang ditanyakan ialah siapa yang memilih bendera itu dan memancangkannya. Kita lupa ada unsur proses kekuasaan di dalamnya, kita tak melihat ”the political” terpaut erat di situ. Kita tak selalu sadar bahwa tiap proses kekuasaan adalah bagian dari dunia yang tak kekal, terbatas, dan tergantung.

Memang ada yang merisaukan dalam pandangan yang menggugat Kesatuan itu, yang tak mengakui fondasi bersama manusia yang kekal dan dapat dijadikan pegangan semua. Ketika Paus dua pekan lalu mengingatkan bahwa ”pada mulanya adalah logos”, ia sebenarnya mengungkapkan sebuah peringatan dan kecemasan: bagaimana dialog antarmanusia mungkin, jika Kesatuan itu ditampik? Tidakkah ada sesuatu yang lain yang bukan ”mengkotakkotakkan” dan ”mengontrol”, dalam logos, ketika kita ”menghimpun”, legein—dan itu hanya bisa dimengerti bila logos, seperti dalam iman Kristen, juga diartikan Kasih Allah yang turun ke bumi?

Maka Paus pun menganjurkan perluasan makna kata Vernunft, (yang dalam bahasa Indonesia lebih dekat ke ”akal budi” ketimbang ”nalar” yang instrumental). Bukan penyempitan, apalagi penampikan.

Kita bisa memahami Paus di sini. Namun tentu saja jadi soal bila pada saat yang sama ”Eropa”lah yang dinilai mewakili ”akal budi” yang seperti itu. Di Indonesia kita tak perlu membaca kritik Adorno dan Horkheimer (dua pemikir yang pada suatu saat tersingkir dari Eropa) untuk melihat ”Eropa” juga bisa berarti penjajahan, ketika pada mulanya logos, kemudian kita tak bisa lolos.

~Majalah Tempo Edisi. 31/XXXV/25 September – 01 Oktober 2006~

Percakapan Ke-7 September 18, 2006

Posted by anick in Agama, All Posts, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan, Kisah, Multikulturalisme, Tokoh.
9 comments

NASKAH itu berupa 26 percakapan yang dilupakan orang. Semuanya berlangsung menjelang akhir 1391. Waktu itu Bizantium belum jadi wilayah Turki, tapi penguasanya, Manuel II, harus merendah: ia masih disebut ”raja” atau ”Autokrator”, namun praktis ia cuma seorang vasal di bawah daulat sultan yang bertakhta di Anatolia.

Sejak 1379, Bizantium berdiri rapuh dan tergantung. Karena perselisihan takhta dengan adiknya, Manuel yang waktu itu berumur 29 minta proteksi dari Sultan Murad I. Mulai dari sinilah Bizantium harus bayar upeti dan ikut dalam aliansi militer dengan negeri tetangganya di Selat Bosporus itu. Manuel selalu siap patuh.

Pada tahun 1391 itu ia dititahkan ikut dalam peperangan di pantai Laut Hitam. Tapi agaknya di Ankara ia punya waktu untuk hal lain. Sejak Oktober sampai Desember ia berbincang dengan seorang ”kadi” kota itu. Dari sinilah–meskipun mungkin tukar-pikiran itu tak sepenuhnya terjadi–lahir naskah Dua Puluh Enam Dialog de­ngan Seorang Parsi. Dokumen ini umumnya tak dite­ngok lagisampai ketika Paus Benediktus XVI mengutipnya di sebuah ceramah di Universitas Regensburg, Jerman, pe­kan lalu.

Saya tak pernah membaca sendiri tulisan Manuel II. Tapi saya tak akan heran jika di sana sikap anti-Islam bergema kuat. Sang Autokrator adalah ahli waris konflik dan kekalahan di hadapan kekuasaan Turki, nama yang waktu itu berarti ”Islam”. Ayahnya memerintah dalam situasi gawat setelah Daulat Usmaniah menaklukkan Macedonia dan Serbia pada tahun 1380-an; ia juga harus menghadapi usaha perebutan takhta di dalam negeri. Untuk mempertahankan ayahnya sebagai Raja Bizantium, Manuel menyediakan diri jadi vasal di istana Sultan. Ia siap menanggungkan pelbagai penghinaan. Ketika Sultan Bayazid I melarang tembok Kota Konstantinopel diper­kuat, larangan itu disertai ancaman: jika konstruksi itu tak dihentikan, Manuel akan dibikin buta.

Manuel diam, tapi ia punya kesimpulan. ”Hanya mala dan sifat yang tak manusiawi,” kata Manuel tentang ajaran yang dibawa Muhammad, Rasul Allah di Mekah itu….

Sumber Manuel memang tak perlu jauh dicari: kitab ”Pembelaan Buat Iman Kristiani” [terhadap Islam] yang disusun kakeknya, Johanes Cantacuzenus, yang bertumpu pada polemik yang ditulis Bruder Ricoldo dari Montecroce (meninggal pada 1320), Confutatio Alchorani, risalah yang membantah Quran.

Tapi tiap polemik mengandung politik kutipan. Ketika Manuel mengutip surah Quran yang mengatakan ”Tak ada paksaan dalam agama”, ia katakan kalimat itu datang ketika posisi kaum muslimin lemah. Dengan kata lain, ia memberi konteks sejarah kepada teks. Tapi ke-sejarah-an itu tak dikemukakannya ketika dalam Percakapan Ke-7 ia menyebut teks lain, yakni perintah sang Rasul yang katanya ”menyebarkan iman dengan pedang”. Dengan kata lain, Manuel tak mencoba mencari latar historisnya ketika pedang, dan bukan tegur sapa yang baik, dianjurkan Nabi.

Islam hanya membawa ”mala dan sifat yang tak manusiawi”, kata Manuel. Tentu saja ini tipikal suara esensialis, yang menganggap tiap identitas ditentukan ”esensi” yang tak pernah berubah, dan yang tak mengakui bahwa tiap ”esensi” sebenarnya hasil bentukan wacana.

Seperti Manuel, Paus Benediktus juga seorang esensialis. Ia mengutip Theodore Khoury (editor penerbitan kembali Dua Puluh Enam Dialog), yang mengutip R. Arnaldez, ”pakar tentang Islam” dari Prancis, yang pada gilirannya mengutip Ibn Hazn, bahwa Tuhan tak pernah bisa dikekang bahkan oleh Sabda-Nya sendiri. Dalam pandangan ini, yang tampil adalah ”citra tentang Tuhan yang semau-maunya (Willkür-Gott), yang tak dibatasi kebenaran dan kebaikan.”

Harus dicatat, Paus tak menganggap itulah citra yang disiarkan Islam; ia hanya menyebut itulah pandangan Ibn Hazn. Lebih penting lagi, ia mengemukakan, dalam se­jarah pemikiran Kristen ada Duns Scotus yang hidup pada abad ke-13, yang beranggapan mirip, bahwa kita hanya tahu voluntas ordinata Tuhan: di atas itu, sepenuhnya kemerdekaan. Tuhan dapat bertindak bertentangan bahkan dengan yang pernah dilakukan-Nya sendiri.

Sebenarnya tak hanya Ibn Hazn dan Duns Scotus. Tak disebutkan Paus adalah filosof ”okasionalis” Islam dan Kristen, seperti Al-Ghazali di Iran pada abad ke-11 dan Malebranche di Prancis abad ke-17. Bagi mereka ini, tiap perubahan dalam obyek dan pikiran adalah karena iradah Tuhan: ”kapas terbakar api bukan karena disulut geretan, tapi karena dibuat demikian oleh Allah”. Tak ada hubungan sebab-akibat seperti ditemukan ilmuwan dan disimpulkan mereka yang memakai nalar. Tuhan ada di atas akal budi.

Tapi bagi Benediktus, nalar adalah logos, kata Yunani yang juga berarti ”sabda” seperti terdapat dalam Kitab Kejadian. Maka nalar bertaut dengan iman. Manuel, kata Paus, sekadar mengatakan bahwa tak ada tindakan de­ngan nalar yang bertentangan dengan Tuhan.

Di sinilah, menurut Paus, pertautan yang intrinsik antara Alkitab dan siasah Yunani. Buahnya mengubah duniadan terbentanglah fondasi yang disebut ”Eropa”.

Eropa? Tapi jika ”Eropa”, dengan unsur Yunaninya, sama dengan ”Kristen”, bagaimana si non-Eropa bisa percaya kasih Yesus? Bukankah ”fondasi” itu hanya konstruksi wacana, yang disusun untuk membedakan diri daridan menyingkirkanyang harus dibuang dibisukan, dulu Yahudi, kini imigran muslim?

Tampaknya tesis di kampus Regensburg itu hanya sebuah polemik: proses politik kutipan dan ingatan, ketika informasi A dicatat dan B disembunyikan.

Artinya polemik yang serupa juga bisa dilontarkan orang muslim, dengan menegaskan Islam-lah yang punya landasan rasional dalam iman, sebab Hadith mengatakan ”agama adalah akal”. Islam pula, dalam sosok Ibn Rushd, yang memperkenalkan alam pikiran Yunani ke Eropa.

Artinya agama lain bebal semata….

Dan soal agama dan kekerasan: bukankah yang tergurat jelas dalam sejarah Islam juga tergurat di masa silam Eropatapi dilupakan hari itu?

~Majalah Tempo Edisi. 30/XXXV/18 – 24 September 2006~

Dari Ambon dan Gedung Hangus Agustus 14, 2006

Posted by anick in Agama, All Posts, Bencana, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Kekerasan, Kisah, Multikulturalisme, Politik, Tuhan.
7 comments

Ambon masih dihuni gedung-gedung hangus. Di kiri-kanan jalan: reruntukan suram. Di kota Maluku ini orang masih bisa bicara dengan rinci tentang kebengisan panjang yang berawal pada tahun 1999 dan berakhir menjelang 2005 itu: rumah mereka yang hancur dibakar, gereja, masjid, dan universitas yang dibumihanguskan, bom yang dirakit dan diledakkan, speed boat yang diserang, preman dan laskar dari luar yang ikut menyulut kebencian, militer dan polisi yang menghasut, pengungsi yang mungkin tak kembali, ratusan saudara dan teman yang mati dibantai. Konflik antara penduduk muslim dan Kristen Maluku itu berakhir dengan sekitar 13 ribu orang tewas; bagaimana orang akan melupakannya?

Yang menakjubkan ialah bahwa pada bulan Juli 2006 itu kota dan penghuninya telah tampak kembali ramah dan dengan kehalusan yang khas, tak jarang riang—seperti laiknya orang Ambon. Kehidupan sedang pulih dan seakan-akan ada salam yang kemarin bungkam: bandara itu kelihatan baru dan lebih bagus ketimbang bandara Surakarta, lebih rapi ketimbang Surabaya. Di lobi Hotel ”Amans”, tempat para tamu bisa berhubungan dengan seluruh dunia melalui koneksi Internet wireless, hari itu orang menyambut gadis-gadis Maluku peserta kontes kecantikan. Dan jalan padat, dan pasar ramai.

Tentu saja saya amat sebentar singgah; saya hanya tamu. Saya tak akan tahu persis jika ada trauma, dendam, dan perpanjangan curiga yang menyelinap di lorong-lorong. Namun, rasanya ada yang meyakinkan bila di sepanjang trotoar yang sesak lagu-lagu Maluku populer mengalun keras dari kedai-kedai CD, perempuan dengan atau tanpa jilbab duduk bercengkerama di warung-warung rujak orang Kristen di sepanjang pantai, dan pada hari kapal Lambelu merapat, pelabuhan hibuk oleh pelbagai manusia. Di kakilima di seberang kantor Firma Abdullah Alie (famili Alie adalah salah satu dari keluarga keturunan Cina muslim yang hidup di Maluku mungkin sejak abad ke-19) ada penjual koran; di kiosnya tampak majalah Playboy terbaru dipajang. Agak jauh dari sana, Pasar Mardika penuh dengan warna: deretan tomat merekah merah, jeruk purut berbutir-butir hijau, sagu di kantong plastik yang kuning, daging ikan asap secokelat kayu manis.

Di perjalanan sepanjang teluk saya dengar seorang sopir berkata: ”Kita orang bodoh, mau dibikin baku bunuh.” Ia tentu saja bicara tentang perang saudara yang mengerikan itu.

Ia agaknya tahu sebagaimana dunia tahu, di sini Tuhan pernah disebut di kedua kubu dengan keyakinan yang berlumuran darah, untuk sebab yang tak jelas, mungkin bagian dari cara orang di lapisan atas menegakkan posisi, mungkin karena sejumlah preman memperebutkan lahan pemerasan. Saya tak pasti bersedihkah sopir itu atau mencemooh. Tapi pada akhirnya terucap kesadaran itu—atau mungkin rasa letih yang tak bisa lagi jadi kemarahan. Kini orang kembali hidup dari tepi jalan bersama: di perdagangan kecil, di percakapan kecil, di perbuatan praktis dan persahabatan yang belum sepenuhnya hancur. Mereka menambal dan menyulam hidup, menyusun rumah dari puing, membalsami luka.

Saya jatuh hati kepada kota ini. Tapi bukan semata-mata karena ia dirias pohon hijau, didampingi teluk, dilengkapi bukit.

…no one exists alone;

Hunger allows no choice

To the citizen or the police;

We must love one another or die.

— W.H. Auden


Ada sesuatu yang akhirnya bersuara dari dalam tragedi itu, ”Kita mesti saling mencintai, atau mati.”

”Cinta” mungkin kata yang terlampau menggelembung. Tapi apa pilihan sebaliknya dari ”mati”?

Sajak Auden itu, September 1, 1939, ditulis di sebuah sudut di 42nd Street di New York, ketika dunia dihantui sebuah perang besar. Kini baiklah kita bayangkan sang penyair tak berada di New York, tapi di Ambon—atau di sebuah sudut Indonesia—ketika Republik terancam ambruk oleh perang-perang saudara lokal seperti yang terjadi di Maluku itu. Ia mungkin akan juga merasa bahwa ”harapan-harapan yang pintar habis”. Ia mungkin akan sadar tentang ”sebuah dasawarsa yang culas dan nista”, ketika gelombang marah dan ketakutan berpusar, ketika ”bau kematian yang tak bisa diucapkan” mengusik malam.  

Tapi, seperti halnya di Ambon, hidup bisa menebus dirinya sendiri: selalu ada sebuah alternatif yang bisa dibangun ketika ”harapan-harapan yang pintar habis”. Di akhir sajaknya Auden bertanya: bolehkah ia, seperti mereka yang lain, yang terbentuk dari ”cinta dan debu”, yang dikepung oleh putus-asa yang sama, menunjukkan ada cahaya yang meneguhkan? Pertanyaan itu memang ragu atau rendah hati. Tapi harapan bukan sesuatu yang mustahil. Sajak itu menyebut cercah sinar yang ironis (”ironic flash of lights”) yang tampak bagai titik-titik dalam gelap, tatkala malam tak menawarkan perlindungan.

Kata ”ironi” penting di situ. Konon kata ini datang dari bahasa Yunani, eirôneia, yang berarti ”sikap berpura-pura tak tahu”. Di dalamnya ada jarak, bahkan langkah berbalik membelakangi sikap ”aku-tahu” yang yakin.

Auden menulis sajak itu pada sebuah masa ketika ”pencakar-pencakar langit yang buta” berdiri tegak dan dengan tubuh jangkung mereka memaklumkan ”kekuatan Manusia Kolektif”.

   …blind skyscrapers use

Their full height to proclaim

The strength of Collective Man,  

Itulah masa ketika pelbagai paham totaliter berkibar-kibar. Itulah masa ketika tiap bahasa memuntahkan dalih yang angkuh dan penuh persaingan. Seperti di zaman ini: ketika ”manusia kolektif” digalakkan oleh menara-menara pengeras suara, ketika agama yang seharusnya menumbuhkan kerendah-hatian justru jadi dalih bagi sikap ”aku-yang-tahu-dan-benar-dan-suci”, ketika iman berangsur-angsur berubah jadi identitas sosial dan ”umat”—sebuah sosok manusia kolektif—jadi demikian penting, lebih penting ketimbang kebenaran.

Ironi menunjukkan, sebenarnya ada yang tak pas dalam posisi seperti itu. Dengan mengambil jarak, kita akan menemukan bahwa tiap identitas sosial sebenarnya tak pernah siap dirumuskan. ”Umat Islam” atau ”umat Kristen” dapat berarti macam-macam, sebab di dalamnya ada perbedaan-perbedaan yang tak hendak diakui. Di dalam tiap pembentukan identitas sosial, juga ketika kita bicara ”umat”, sebenarnya terkandung represi.

Kekerasan sudah berbenih sejak represi itu: pada gilirannya, yang dianggap tak sesuai dengan ”kami” yang kolektif akan dilenyapkan. Di Ambon, 27 April 2001, Radio ”Suara Perjuangan Muslim Maluku” dikutip menyiarkan peringatan ini: ”Jika masih terdapatlah di antara orang muslim yang ingin berbicara tentang rekonsiliasi, bunuhlah dia!” Di wilayah Kudamati, dua kelompok Kristen saling bermusuhan, saling menyerang, dan rumah-rumah dibakar.

Mungkin itu sebabnya tiap identitas sosial mengandung luka, dan sebab itu retak. Bahkan identitas itu dicoba dibentuk justru karena retakan-retakan itu. Pada saat yang sama, ia merumuskan diri atau dirumuskan, menamai diri atau dinamai, oleh sebuah bahasa—yakni bahasa yang tak ia bangun sendirian. Ia memasuki sebuah konvensi. Ia pun bergabung ke dalam sebuah sistem; sebenarnya ia hanya sebuah penanda. Tak ada yang secara utuh dan tetap hadir sebagai sesuatu yang ditandainya (apa sebenarnya yang disebut ”umat”?). Maknanya hanya muncul ketika ia disandingkan dengan identitas sosial lain dan diberi batas oleh identitas lain itu. Ia berbeda, tentu, dari yang-lain, tapi karena berada dalam sebuah sistem pemaknaan, ia tak sepenuhnya tertutup; ia tak secara radikal berbeda dari yang-lain. Bagaimana mungkin ia bisa meniadakan yang-lain?

”Kita mesti saling mencintai, atau mati,” tulis Auden.

Mungkin ”mencintai” bukan kata yang menggelembung. ”Mencintai” berarti terpesona kepada yang-beda, menyentuh apa yang terbatas dalam diri sendiri pada saat bersua dengan yang-lain, dan sadar bahwa bahasa tak bisa menangkap apa yang ada dalam diriku dan yang-lain itu. Dalam kalimat Auden, ”Each language pours its vain, competitive excuse.”

”Mencintai” adalah sebuah laku sederhana.

***

Saya pernah menempuh laut dari Pulau Buru ke Ambon di atas sebuah kapal kecil yang disebut Landing Craft Material pada tahun 1969. Ombak mengguncang hampir selama 11 jam di dek sempit yang pengap bau minyak kayuputih. Pada akhir Juli 2006 saya kembali menempuh laut itu, dengan ”kapal cepat” yang lancar selama sekitar tiga jam.

Rantau hampir tak pernah tak terjangkau. Berada di Maluku kita akan menyadari itu dan menyadari apa arti rantau: tempat yang jauh dari rumah, tapi tak sama sekali asing. Bahasa Melayu menyebut negeri lain sebagai ”seberang”.

Dengan demikian laut mempunyai dua sisi yang bertentangan, tapi juga bertaut: sebuah pemisah dan juga perangkai, sebuah antara dan sebuah lokus tersendiri. Ia penuh suspens, ia memukau.

Dalam salah satu puisinya yang terkenal, Cerita Buat Dien Tamaela, Chairil Anwar menghadirkan satu suara sosok mithologis dari Maluku—kita tak tahu persisnya dari mana—yang menyebut diri, ”Beta Pattirajawane”. Suaranya gemuruh; ia dengan agung memaklumkan, bahwa ketika ia lahir, orang membawakan kepadanya ”dayung dan sampan”. Dan ia pun mengajak:

Mari menari!

Mari beria!

Mari berlupa!

Dengan kata lain, laut menandai petualangan yang gairah, kebebasan untuk lupa, kepergian dari rumah. Terkadang laut adalah zona di antara rumah dan rantau, sebuah transito. Terkadang ia rantau itu sendiri. Laut tak pernah kosong: ia sumber hidup dan perangkai perniagaan, perang, pengungsian, dan peradaban.

Dengan itulah terjadi sebuah rumah baru, rumah bukan sebagai tempat asal yang tertutup, melainkan yang tumbuh justru karena pertemuan dengan yang-beda dan tak disangka-sangka. Saya ingat apa yang dikatakan Heidegger (yang berbicara tentang arus Sungai Danube yang disebut dalam sajak Hölderlein, der Ister): ”Pulang…adalah sebuah transit melalui ke-berbeda-an”.

Mungkin itulah Indonesia, mungkin itulah takdirnya: tempat kita pulang, juga serangkaian rantau, sebuah tempat yang dijelang tapi juga rumah yang meriah dan rumit dalam kebhinekaan.
 

Jakarta, 8 Agustus 2006.

~Majalah Tempo Edisi. 25, 14 – 20 Agustus 2006~

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 346 pengikut lainnya.