jump to navigation

Si Buntung Agustus 3, 2009

Posted by anick in Agama, All Posts, Bencana, Elegi, Fundamentalisme, Islam, Terorisme, Tuhan.
31 comments

JANGAN bicara kepada saya tentang jihad. Hari ini saya sudah tak tahu lagi apa maksudnya.

Tuan bisa berkata, jihad bukanlah kekerasan. Tapi berbareng dengan itu orang lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama?

Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Terorisme tak perlu dan tak bisa diterangkan dengan sabda atau fatwa. Bom yang diledakkan untuk membunuh dan bunuh diri itu justru mungkin akan lebih jelas bila dilihat sebagai sesuatu yang tak dapat diutarakan oleh (dan dalam) sabda dan fatwa.

Siapa yang melihat hubungan antara terorisme dan ajaran, apalagi ideologi, melupakan bahwa ada sesuatu yang lebih dahulu, dan lebih bisu, ketimbang ajaran dan ideologi—yaitu luka.

Yang menyedihkan dalam sejarah ialah bahwa luka itu tampaknya tak terelakkan. Akan ada selalu orang-orang buntung. Kata ini tak menunjukkan luka potong yang harfiah; di sini, ”buntung” adalah lawan kata ”beruntung”. Seorang teman di Bonn tadi pagi mengirim sebuah tulisan Hans Magnus Enzensberger dan di sana saya menemukan apa yang saya maksud. Dalam bahasa Jerman Enzensberger menyebut si buntung ”Verlierer”; dalam bahasa Inggris ”loser”.

Si buntung—dan ia tak hanya seorang—lahir dari semacam kecelakaan yang niscaya ketika manusia mengorganisasi dirinya sendiri. Enzensberger menyebut ”kapitalisme”, ”persaingan”, ”imperium”, dan ”globalisasi”, tapi kita bisa menambahkan bahwa terbentuknya negara-bangsa atau lembaga agama—bahkan dalam sejarah kota dan banjar—juga menyebabkan ada orang-orang yang terbuncang, tertinggal, kalah, bahkan separuh atau seluruhnya hancur. Mereka yang luka. Si buntung.

Sejarah juga mencatat, si buntung bisa memilih untuk menerima nasib. Si korban bisa menuntut pampasan. Si kalah bisa menunggu kesempatan lain. Tapi ada yang oleh Enzensberger disebut sebagai ”si buntung radikal”: ia yang mengisolasi diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang.

Tapi saat itu bukanlah saat untuk menebus nasibnya yang parah. Si buntung radikal, menurut Enzensberger, mengatakan kepada dirinya sendiri: ”Aku buntung, dan tak bisa lain selain buntung.” Ia tak melihat hidupnya berharga, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia menggebrak, si buntung siap membinasakan orang lain sekaligus dirinya sendiri.

Tapi agak berbeda dari Enzensberger, saya tak menganggap bahwa seluruh momen penghancuran itu sebuah pernyataan keberanian yang putus asa. Yang meledak juga bukan hasrat terpendam untuk mengekalkan ke-buntung-an. Bukankah pada saat itu, seperti dikatakan Enzensberger sendiri, akhirnya si buntung radikal bisa melihat dirinya jadi ”tuan dari hidup dan kematian”? Ia jadi seorang militan. Ia jadi subyek. Sejenak ia membebaskan diri dari statusnya yang celaka: untuk memakai kata-kata dalam sebuah sajak Chairil Anwar, ”sekali berarti, sudah itu mati.”

”Ber-arti”, atau mendapatkan harga dan makna, itulah yang diberikan oleh ajaran atau ideologi. Tentu saja karena ada kecocokan antara si buntung radikal dan ajaran atau ideologi itu: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang, lahir dari tafsir yang diutarakan dari sebuah situasi luka.

Enzensberger memaparkan luka itu—dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya sudah diketahui. Jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Enzensberger mengutip sajak penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam kriya dan industri”.

Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain terus-menerus menemukan kekalahan. Enzensberger menulis: ”Bagi setiap orang Arab yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi produk teknologi tinggi”.

Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20 dari ”Barat” yang mereka haramkan. Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi. Yang terpuruk jadi merasa tambah terpuruk justru ketika ingin membebaskan diri. Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada ”mereka” dan juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, si buntung radikal berkelimun.

Akankah ada pembebasan? Mungkinkah pembebasan? Saya percaya, jadi buntung bukanlah hukuman yang kekal. Tapi untuk itu agaknya diperlukan sebuah lupa. Si buntung perlu tak mengacuhkan lagi luka sejarah. Ia perlu melihat kekalahannya sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti kata petuah lama, guru yang baik.

Tapi saya sadar, si buntung radikal akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika ia menerima ajaran bahwa lukanya adalah luka di luar sejarah. Maka bom diledakkan, surga yang kekal dijanjikan, jihad ke kematian jadi langkah awal dan akhir. Dan selebihnya beku.

~Majalah Tempo Edisi 3 Agustus 2009~

Darwin Februari 16, 2009

Posted by anick in Agama, All Posts, Tokoh, Tuhan.
103 comments

Darwin, lelaki pemalu itu, tak ingin membunuh Tuhan. Ini agaknya yang sering dilupakan orang sampai hari ini, ketika dunia memperingati 200 tahun hari lahirnya, 12 Februari.

Menjelang akhir hidupnya, ia hanya mengatakan bahwa ia ”harus puas untuk tetap jadi seorang agnostik.” Teori evolusinya yang mengguncangkan dunia pada akhirnya bukanlah penerang segala hal. Ketika ditanya mengapa manusia percaya kepada Tuhan, Darwin hanya mengata­kan, ”Misteri tentang awal dari semua hal tak dapat kita pecahkan.”

Dia sendiri pernah jadi seorang yang alim, setidaknya jika dilihat di awal perjalanannya mengarungi laut di atas kapal HMS Beagle dari tahun 1831 sampai 1836. Pemuda­ berumur 22 tahun itu, yang pernah dikirim ayahnya un­tuk­ jadi pastor (setelah gagal bersekolah dokter), dan di penjelajahan itu diajak sebagai pakar geologi, amat gemar­ me­ngutip Alkitab. Terutama untuk menasihati awak ka­pal yang berfiil ”buruk”. Selama belajar di Christ’s College di Cambridge, sebuah sekolah tua yang didirikan pada abad ke-15, Darwin memang terkesan kepada bu­ku seperti Eviden­c­es of Christia­nity karya William Paley, pemikir yang gigih membela ajar­an Kristen pada zaman ketika rasio­nalitas dan otonomi manusia dikukuhkan tiap hari.

Tapi Darwin pelan-pelan berubah pan­dang­an. Otobiografinya mengatakan, ketika ia me­nulis karyanya yang termasyhur, On the Origin of Species, yang terbit pada 1859, ia masih seorang ”theis”. Sampai akhir ha­yatnya ia tak pernah jadi atheis. Namun, setelah lima tahun penjelajahan menelaah kehidupan satwa liar dan fosil, ditanggalkannya argumen Paley.

Bagi seorang apologis, segala hal di alam semesta ada­lah hasil desain Tuhan yang mahasempurna. Tapi Darwin menemukan bahwa tak ada satu spesies pun yang bi­sa dikatakan dirancang ”sempurna”; makhluk itu ber­ubah dalam perjalanan waktu, menyesuaikan diri dengan kondisi tempatnya hidup.

Darwin juga menemukan hal yang lain. Ia tak hanya me­nyiasati hidup alam di pantai Amerika Selatan dan ceruk Pulau Galapagos. Ia memandang juga ke dunia manusia di zamannya, dan bertanya: bagaimana desain Tuhan dikatakan sempurna bila ketidakadilan begitu menyakitkan hati? Darwin melihat kejamnya perbudakan. Ia, yang pernah bersahabat dengan seorang bekas budak dari Guyana yang mengajarinya teknik taksidermi ketika ia bersekolah kedokteran di Edinburgh, menganggap perbudakan sebagai ”skandal bagi bangsa-bangsa yang ber­agama Kristen”. Dalam perjalanan dengan HMS Beagle itu ia juga menyaksikan nestapanya manusia yang jadi pribumi Tierra del Fuego.

Tak bisa diterangkan dengan cara Paley mengapa Tuhan yang adil dan maha-penyayang menghasilkan desain yang melahirkan keadaan keji itu. Tentu ia bisa menemukan tema ini dalam kisah kesengsaraan Ayub dalam Alkitab, tapi bagaimana ”keadilan” Tuhan di situ bisa diterima seseorang yang berpikir kritis dan tak takut?

Bagi Darwin, apologia ala Paley gagal. Darwin tak me­lihat ada desain dalam keanekaragaman makhluk hidup dan kerja seleksi alamiah. Lingkungan hidup yang me­ngontrol nasib kehidupan di alam semesta bekerja tak konsisten dan tanpa tujuan. Alam memecahkan problemnya dengan cara yang berantakan dan tak optimal, dan tiap penyelesaian tergantung pada keadaan ketika itu.

Mau tak mau, pandangan itu merisaukan. Darwinisme adalah bagian dari sejarah yang ikut menenggelamkan apa yang disebut penyair Yeats sebagai ”ceremony of innocence”—yang terutama dijunjung oleh lembaga agama. Di Amerika Serikat, lebih banyak orang tak percaya kepada teori evolusi. Di sana pula, para pengkritik Darwin mengibarkan teori tentang adanya ”desain yang pintar” di alam semesta. Mereka mengatakan, ada ”kecerdasan” yang datang dari luar alam yang campur ta­ngan ke kancah hidup di sini, hingga, misalnya, bakteria bisa berpusar pada flagellum yang strukturnya begitu rumit hingga tak teruraikan.

Tapi kaum penerus Darwin bisa menunjukkan ada ribuan jenis flagella yang terbangun dari protein yang sebagian besar berbeda, dan jejak evolusi tampak jelas di dalamnya. Sebagian besar komponen yang membentuk flagella diperkirakan sudah ada dalam bakteria sebelum struktur yang dikenal kini muncul.

Artinya, tak ada desain, kata para pe­nerus Darwin. Teori evolusi menunjukkan ketidaktetapan dan kontingensi: hal ihwal selamanya berubah, meskipun tak terus-menerus, dan perubahan itu bergantung pada konteks yang ada, dan konteks itu pun terbangun tanpa dirancang. Bahkan terjadi karena koinsidensi. Stephen Jay Gould mengiaskannya sebagai spandrel, satu bagian dari plengkung dalam gereja gothis yang tak dirancang oleh arsitek tapi terjadi secara kebe­tulan ketika, dan karena, plengkung yang direncanakan itu rampung dibangun.

Memang dengan demikian tak ada lagi narasi besar. Ki­ta hidup dengan apa yang dalam bahasa program komputer disebut kluge, himpunan yang kacau dari macam-macam anasir yang terjadi dalam proses menyelesaikan satu masalah. Tak ada flow-chart yang bisa segalanya dan lengkap, tak ada resep yang akan siap.

Itulah sejarah: dibangun dari praxis, laku, keputus­an setelah meraba-raba, dan mungkin juga loncatan ke dalam gelap di depan. Tapi tak semuanya gagal. Alam pe­nuh dengan perabot yang ganjil dan awut-awutan, tapi makhluk hidup juga punya keterampilan dan kreativitas di tengah keserbamungkinan itu. ”Nature is as full of contraptions as it is if contrivance,” kata Darwin.

Mungkin Tuhanlah yang menyiapkan itu, mungkin juga Ia tak ada. Mungkin tak ada apa pun sebelumnya. Bagi Dar­win itu bukan persoalan. Yang penting adalah mengakui pengetahuan kita yang guyah, rumus kita yang coba-coba, tapi pada saat yang sama kita bilang ”ya” kepada hidup.

Orang beragama akan menyebutnya syukur. Juga ta­­wakal.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 16 Februari 2009~

Transformasi Desember 29, 2008

Posted by anick in Agama, All Posts, Kisah, Tuhan.
12 comments

Ketika Kristus lahir

dunia jadi putih

juga langit yang semula gelap oleh darah dan jinah

jadi lembut seperti tangan bayi sepuluh hari

Subagio Sastrowardoyo mengerti transformasi yang ajaib dalam kisah Natal. Ia bukan seorang Kristen, tapi sajak itu datang dari sebuah Indonesia sekian puluh tahun yang lalu, yang dengan serta-merta mengerti apa yang universal dalam cerita yang luar biasa tapi juga bersahaja itu: Yesus lahir, tapi hanya satu bintang di langit yang tampak terang di atas Bethlehem. Tak ada suara dahsyat atau guncangan bumi yang mengubah geografi. ”Malam sunyi…,” kata lagu yang berulang kita dengar itu. Begitu biasa, tapi kelahiran itu diterima sebagai isyarat: Tuhan tak meninggalkan manusia sendirian.

Maka,

manusia berdiri dingin sebagai patung-patung mesir

dengan mata termangu ke satu arah

Dalam imaji yang muncul dari larik sajak ini, manusia tak bergerak, bahkan tanpa perasaan lagi. Tapi suatu ketika terasa ada daya lain yang mengambil peran. Dari sesosok kekuatan yang dalam Perjanjian Lama digambarkan bisa ganas, cemburu, dan destruktif, hadir sebuah pesona yang diasosiasikan dengan ”tangan bayi sepuluh hari”. Dan manusia termangu.

Pertanyaan besar sejarah—yang sebenarnya tiap akhir tahun diungkapkan dengan cara yang banal—adalah bagaimana keajaiban seperti itu mungkin. Dengan kata lain, bagaimana harapan bisa hidup. Bisakah dunia dan kehidupan diperbaiki, ketika riwayat manusia telah demikian panjang, juga deretan kekecewaannya.

Nabi-nabi datang, petuah dan perintah dimaklumkan, dan kemudian dicoba revolusi dan diperkenalkan penemuan teknologi—tapi tiap kali kita mengalami perbaikan dalam hidup, tiap kali ada mala yang terjadi. Mungkin sebab itu di sebuah buku yang terbit pada 1990 Agamben menulis: ”Kita dapat mempunyai harapan hanya dalam apa yang tak punya penyembuhan” (rimedio).

Tentu saja ada paradoks dalam ucapan itu. Berharap kepada sesuatu yang tak bisa disembuhkan atau tak dapat diperbaiki sama saja dengan tak berharap. Namun barangkali di situ bekerja iman, sebuah dasar sikap yang dalam agama Kristen dan Islam dicontohkan dalam diri Ibrahim. Kita ingat ia dititahkan Tuhan menyembelih anak kesayangannya sendiri. Kita bayangkan ia berjalan sedih, tak paham, lunglai, ke Gunung Moria dan cuma percaya kepada sesuatu yang tak bisa diperhitungkannya.

Ada semacam sikap tawakal (yang tak selalu terkait dengan agama) ketika manusia berjalan terus, walaupun sejarah penuh dengan kebengisan, kegagalan, dan kesengsaraan. Tak henti-hentinya kita mengarungi l’irreparabile, yang tak dapat diperbaiki.

Dalam keadaan itu manusia memang kelihatan heroik. Namun ada yang kosong: baginya, tak akan ada transformasi di dunia. Manusia dengan gagah menanggungkan langit yang ”gelap oleh darah dan jinah”, tanpa tahu bahwa sesuatu bisa mengubah itu jadi ”lembut seperti tangan bayi yang sepuluh hari”.

Kita bisa mempersoalkan tepat-tidaknya metafora dalam sajak Subagio itu (bagaimana langit jadi seperti ”tangan bayi”?). Tapi kita tak akan luput menangkap radikalnya perubahan yang terjadi ketika kita tahu bahwa Tuhan, atau apa pun namanya bagi yang mengutamakan cinta kasih, bisa begitu dekat. Tak mengherankan bila Paulus dikutip mengatakan bahwa di antara tiga hal yang tinggal—iman, pengharapan, kasih—maka kasih itulah yang terbesar. Iman dan pengharapan bisa menggusur gunung. Kasih tak merasa perlu untuk itu. Ia merayakan adanya gunung, membuka diri kepada liyan, yang lain, yang bukan dirinya.

Sajak Subagio menyebut ”mata” (manusia) yang ”termangu ke satu arah”. Kata ”termangu”—dan bukan ”terpaku”—menyarankan sikap visual yang lebih pasif. ”Satu arah” itu bukan sesuatu yang disasar, melainkan sesuatu yang seakan-akan justru menarik kita ke arahnya, meskipun tak jelas benar.

”Kita mengharapkan apa yang tak kita lihat,” kata Paulus, ”kita menantikannya dengan tekun.” Artinya, yang penting bukanlah yang tampak, tempat kita meletakkan fokus. Yang penting bukanlah sesuatu yang dapat dipastikan, yang bisa dikuasai. Bahwa kita bisa tekun menantikannya itu karena kita terpesona ketika sesuatu yang seakan-akan mukjizat hadir: ada cinta kasih, ternyata.

Sebab itu harapan tak sepenuhnya penting untuk membuat hidup berharga. Kesadaran akan ini kurang meluas di sebuah babakan kehidupan yang oleh Agamben disebut sebagai ”waktu yang tinggal”. Ini bukan lagi waktu para ”nabi”, kata Agamben. Dalam tradisi Yahudi, ”nabi” didefinisikan ”oleh hubungannya dengan masa depan”. Bagi Agamben, ”waktu yang tertinggal” adalah waktu yang sekarang. Dan itu adalah waktu para ”utusan”, apostel, yang dalam peristilahan Kristen disebut ”rasul”. Sabda, kata Agamben, ”diberikan kepada sang rasul, utusan sang juru selamat, yang waktunya bukanlah masa depan, melainkan sekarang.”

Di ”waktu yang tersisa” sekarang ini, harapan, iman, dan cinta kasih tak selalu cocok—bahkan terkadang yang dua pertama disebut diunggulkan di atas yang lain. Sajak Subagio mengingatkan, Natal tak datang tanpa kejutan.

Terutama ketika iman bisa begitu keras dan harapan jadi optimisme yang buta dan menghalalkan segalanya. ”Dunia jadi putih” bukan tanda musim dingin yang hanya terjadi di sebagian muka bumi. ”Dunia jadi putih” adalah bagian dari transformasi ketika kita menyadari bahwa kita tak selamanya hidup di bawah kekerasan dan pelanggaran, ”darah dan jinah”. Di waktu yang tersisa ini, kelembutan terkadang menyelip—dan unggul.

Hanya dalam ritual agama, yang aturannya ditaati tiap kali, dan hanya dalam kalender iklan, Natal dapat direncanakan.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 29 Desember 2008~