jump to navigation

…Saya Tak Bisa Jadi Atheis

Bicara dengan Goenawan Mohamad selalu menarik. Penyair, esais, dan salah seorang pendiri kelompok Tempo ini terlibat aktif melawan rezim Soeharto di senjakala Orde Baru pada akhir 1990-an.

Belakangan, ia cukup mengejutkan dengan buku kecilnya, Tuhan & Hal-hal Yang Tak Selesai, 99 percikan permenungan yang bersumbu pada soal-soal keagamaan. Ia juga kritis terhadap kaum Atheis “fiundamentalis” yang sedang laris saat ini, seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Christoper Hitchens. “Saya terutama mengkritik kepongahan mereka,” katanya.

Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa. Berikut, ringkasan percakapan itu (versi lengkapnya, bisa diakses di situs Madina.com).

MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?
Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.

M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?
GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.
Ciri metafor adalah, pertama, dia mengatakan sesuatu yang lain, dari yang dimaksud. Maksud saya, bukan dia selingkuh atau menyeleweng dari yang dimaksud, tapi karena beberapa pengertian itu tidak bisa disampaikan dalam bentuk konsep. Misalnya, (kalimat) “negara membangun infrastruktur”.  “Membangun” itu kan metafor, dari kata “bangun”. Dan “Negara”  kan tidak bisa “membangun”.
Apalagi mengenai hal-hal yang lahir dari pengalaman yang intens, seperti pengalaman religius. Dalam hal itu, konsep tidak berdaya. Konsep itu berdaya untuk menguasai sesuatu yang disebut kenyataan… Konsep terutama berguna untuk apa yang disebut akal instrumental. Akal instrumental itu (adalah) bagaimana kita memecahkan persoalan, semisal bagaimana kita memecahkan problem managemen atau problem teknologi. Seorang filsuf Prancis, Gabriel Marcel berbicara tentang dua hal yang kita hadapi. Pertama adalah “problem”.  Ini berasal dari bahasa Yunani, yang artinya ”dilemparkan ke hadapan kita” – sesuatu yang untuk diterobos. Satu lagi adalah “misteri”. Itu tidak di depan kita, tapi itu melliputi kita. Dalam menghadapi problem, kita menggunakan konsep. Di dalam misteri, kita lebih mampu menggunakan metafor. Metafor bukan memecahkan misteri seluruhnya.

M: Tapi kalau tidak untuk menguasai, untuk apa?
GM: Menguasai itu dalam arti merumuskan. Kalau puisi dan metafor kan tidak merumuskan. Misalnya, kata-kata cinta dalam sajak Rumi, kan itu tidak ada rumusnya. Cinta hanya kita alami. Jika kita kemukakan dalam kata-kata, kita hanya menangkapya sebatas yang mungkin diungkapkan kata-kata.

M: Jadi, iman sebagai pengalaman?
GM: Ya, iman sebagai pengalaman dan iman sebagai bukan kepastian. Karena itu dalam ceramah di Freedom (Institute) mengenai Atheisme, saya katakan, ‘Tuhan saya adalah Tuhan penyair; bukan Tuhan sebagai kepastian, tapi Tuhan sebagai harapan.’

M: Dan di situlah metafor bekerja?
GM: Ya, dan konsekuensinya tidak hanya bahasa, tapi juga sikap menghadapi Tuhan, sikap menghadapi sesama. Karena kalau kita menghadapi Tuhan dan sesama tidak sebagai konsep, kita akan lebih rendah hati. Seorang filsuf, Jean-Luc Marion, pernah mengatakan ada “pemberhalaan konsep.” Kalau Tuhan kita rumuskan sebagai konsep, lalu kita sembah konsep itu, maka sebetulnya (kita) mereduksi Tuhan ke dalam sesuatu yang bisa didefinisikan, yang bisa dinamai… Sedang sikap menghadapi Tuhan itu berbeda bila kita lebih rendah hati bahwa kita tidak bisa menguasai pengertian tentang Tuhan. Itu yang saya sebut bagian “etika kedhaifan”, bahwa kita ini sebenarnya dhaif. Dan di situ, metafor mendapatkan tempatnya, dalam kedhaifan itu. Metafor tidak berpretensi menjelaskan semuanya, dan selesai dengan penjelasan yang ada itu.

M: Anda agaknya, belakangan ini, sedang dekat dengan agama atau Tuhan. Apa itu betul?
GM: (Tertawa) Saya ini tidak pernah amat jauh dari agama, tidak pernah dekat dari agama. Selalu berjarak. Mungkin waktu kecil lain, waktu kecil malah dulu lebih religius; saya kan sekolah madrasah juga, meskipun tidak ‘hebat’. Tapi sekarang ini, dalam banyak hal, agama itu mengecewakan. Tidak hanya Islam, tentu saja. Fundamentalisme Kristen di Amerika saat ini juga menakutkan. Misalnya, sikap mereka dalam menghadapi masalah Palestina, bukannya mencari perdamaian tapi mengojok-ojok ikut agar perang. Karena mereka percaya bahwa kalau perang terjadi di Timur Tengah,  Armagedon akan terjadi, dan Yesus akan datang untuk Kebangkitan Kedua. Juga fundamentalisme Yahudi, yang menyebabkan sifat sekuler dan demokratis Israel jadi rusak, dan intoleransi menjadi-jadi, hingga terjadi pembunuhan terhadap Yitzhak Rabin, kebencian kepada orang Palestina. Fundamentalisme Hindu di India membakar masjid Ayodya, karena mengatakan bahwa itu dulu kuil Hanoman. Fudamentalisme Islam sama saja. Kalau itu yang terjadi, lalu agama untuk apa, selain mengukuhkan kebencian dan kekerasan?

M: The Economist, dalam sebuah laporan khususnya, juga bilang bahwa satu abad ke depan, akan terjadi perang agama baru dalam berbagai bentuknya….
GM: Sebetulnya yang disebut perang agama ini kan selamanya adalah perang dengan argumen agama. Perang ya perang saja. Seperti perang di Eropa yang 80 tahun itu. Itu perang antara kepentingan-kepentingan lokal dengan gereja Romawi. Sama dengan yang sekarang di Palestina. Palestina adalah tragedi paling dahsyat dalam abad 20, sampai sekarang. Dulu, Palestina dimulai dengan janji Marxisme yang akan membebaskan rakyat Palestina. Marxisme gagal. Kemudian, nasionalisme, PLO, gagal juga. Nah, sekarang Islam.

Problem timbul ketika agama, baik Yahudi mau pun Islam, dipakai untuk menjadi substitusi nasionalisme: seperti saya tulis dalam buku itu, ketika cita-cita tentang tanah yang dijanjikan itu menjadi eskatologi baru. Artinya, ada sikap menantikan surga baru yang dijanjikan. Makin kecewa, makin intens rindu surga itu. Maka segala hal ikut dikorbankan, dan mudah terjadi kekecewaan. Karena dunia tidak akan pernah jadi sorga, sehingga ada spiral kekecewaan dan kekerasan.

M: Kembali ke soal penghayatan agama secara pribadi. Kalau melihat sajak-sajak Anda dari muda itu dulu, ketika Anda menulis tentang penghayatan agama dalam tiga waktu, tentang pengalaman di gua Hira, hingga sekarang …bagaimana Anda menggambarkan perkembangan relasi Anda dan agama?
GM: Saya kira, saya tidak bisa jadi Atheis, tidak bisa tidak percaya akan adanya Tuhan. Dipaksa pun tidak bisa, untuk tidak percaya. Paling tidak, saya tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Karena bagi saya, Tuhan itu selalu hadir ketika ada perbuatan baik yang sangat besar, keikhlasan yang sangat tulus yang bisa memperbaiki keadaan biar pun sebentar. Ketika penderitaan begitu hebat, dan ada perbuatan baik, di situ Tuhan seakan hadir. Tuhan juga hadir ketika keindahan begitu mencekam, atau ketika orang bisa menghibur mereka yang putus asa dengan keburukan-keburukan yang terjadi. Jadi, itu menyebabkan saya percaya pada, katakanlah, kehadiran hidup. Tuhan yang hidup.
Nah, dalam kehidupan agama zaman sekarang — seperti di zaman al-Ghazali di abad 11, dan itu ia sebut dalam otobiografinya — orang lebih pandai berbicara tentang hukum perceraian secara detail daripada menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup. Itu al-Ghazali setelah dia lebih ke arah sufi. Dan itu saya kira, semacam kemurungan hidup beriman – sesuatu yang dimulai dari pengalaman di gua Hira yang sendiri, miskin, ketakutan, rindu, kagum, tercengang. Sayangnya, kini hidup beriman berarti mendirikan mesjid yang berkubah emas, naik haji 17 kali, dan iman kembali direduksi jadi aturan-aturan.

M: Sebagai penyair, apakah Anda menangkap Rumi adalah salah satu model beragama yang khas?
GM: Saya tidak mengenal Rumi dengan baik. Saya hanya membaca-baca buku dalam bahasa Inggris. Rumi sekarang kan menjadi duta besar Islam di seluruh dunia yang paling efektif. Buku-bukunya itu best seller terus, justru sejak 11 September. Itu ada untungnya, ada tidaknya. Untungnya, Rumi menjadi semacam simbol yang dikaitkan dengan iman yang indah, cinta, dan damai. Bagus, saya rasa itu. Hanya saja, dalam iman itu juga ada kesakitan, kekurangan, kehampaan. Dan dalam hal itu, mungkin saya tidak terlalu ‘masuk’ dalam Rumi betul.

Namun, di dalam satu masa ketika agama menjadi bagian dari mekanisme kebencian, Rumi adalah alternatif yang baik. Rumi memberikan sesuatu yang dirindukan, wajah senyum agama, bukan wajah bersungut-sungut dan marah. Dan itu punya peran sendiri, dan itu bagus.
Cuma bagi saya Rumi tidak cukup menggetarkan. Mungkin karena sudah terlalu banyak dirayakan.

M: Kalau penyair yang membuat Anda lebih tergetar dalam hal topik sejenis itu, ada tidak?
GM: Banyak sekali, ya. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Subagio Sastroardoyo, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain yang lebih muda sekarang — ketika mereka mengangkat topik religius. Juga meskipun tidak.
Kan agama dan Tuhan itu tidak hanya waktu kita ngomong soal agama. Mungkin Tuhan malah sama sekali tidak disebut. Bahkan mungkin sikap religius yang terbagus adalah ketika Tuhan tidak disebut.

M: Dalam tatal ke-35 di Tuhan & Hal-hal yang Belum Selesai, Anda menceritakan semacam epifani pada suatu pagi, tentang hal-hal kecil yang tersingkir, yang dilupakan. Seolah-olah pada saat itu Anda menemukan bahwa revolusi itu seolah-olah berlawanan dengan hal-hal kecil dan tersisih itu. Agaknya itu yang membentuk pikiran atau sikap Anda selanjutnya ya?
GM: Saya kira betul, tapi bukan revolusi itu yang saya keluhkan, melainkan bahwa ada kecenderungan untuk memuja konsep besar, memuja narasi besar, dan membikin semuanya abstrak. Jangan lupa, waktu itu ideologi-ideologi besar kan bergumul, terutama di sekitar Marxisme. Dan itu yang menyebabkan saya merasa kok hal-hal kecil itu terlupakan. Mungkin karena saya menulis puisi, dan puisi saya tidak pernah ingin menggunakan konsep. Puisi saya bukan puisi ide, bukan puisi pernyataan, sehingga mungkin lebih mudah terseret ke dalam soal yang kecil-kecil.

M: Dan apakah itu mewarnai aktivisme Mas Goen setelah itu, baik sebagai wartawan mau pun sastrawan? Sepertinya, Anda mengembangkan perlawanan estetis?
GM: Kalau yang Anda maksud perlawanan terhadap Orde Baru, saya kira perlawanan saya bukanlah perlawanan estetis. Saya bekerja dengan anak-anak PRD dan lain-lain. Bagi saya, hidup tidak semuanya puisi. Ada penyair-penyair yang mungkin menganggap bahwa dengan puisi yang revolusioner, dia bisa mengubah dunia. Saya tidak percaya itu. Untuk mengubah dunia, Anda harus melakukan kegiatan revolusioner. Puisinya boleh bicara mengenai bulan, dan sebagainya. Kalau Anda baca puisi Ho Chi Minh, tidak ada kata-kata revolusi, ganyang Amerika, ganyang penjajahan. Mao Zedong juga tidak banyak membuat puisi yang begitu, tapi dia bekerja untuk revolusi. Saya menganggap mereka model yang baik, jadi kerja revolusi ya kerja revolusi, kerja politik ya kerja politik. Tapi jangan sampai menelan kamu seluruhnya. Juga, jangan kamu ditelan puisi seluruhnya. Selalu ada momen-momen yang saling menohok. Jangan satu hal pun menjadi total, karena diri kita sendiri tidak pernah total.

M: Sekarang sudah hampir 10 tahun reformasi. Bagaimana Anda memandang apa yang sedang terjadi kini?

GM: Sekarang ini berbeda dengan masa Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Orde Baru. Sekarang ini bahkan presidennya dipilih langsung oleh rakyat. Belum pernah dalam sejarah Indonesia, presiden dipilih rakyat langsung.

M: Tapi sudah 10 tahun, lho. Mulai banyak orang yang gelisah, bertanya-tanya apa yang dijanjikan oleh reformasi itu sekarang?
GM: Reformasi itu tidak menjanjikan. Reformasi adalah keinginan untuk memperbaiki selalu. Inilah baiknya demokrasi, yang bertolak dari kedhaifan. Demokrasi dimulai dari kekurangan. Pengakuan bahwa tidak ada sistem yang sempurna, tapi ada sistem yang selalu bisa diperbaiki dengan reguler dan damai. Demokrasi adalah mekanisme dari makhluk yang terbatas.
Reformasi tidak melahirkan kesempurnaan. Reformasi hanya membuka jalan ke arah perbaikan yang teratur dan damai. Dan saya kira itu yang terjadi sekarang.

M: Apa tidak cemas akan terjadi kekecewaan, dan kemudian aksi kekerasan seperti kudeta?
GM: Harus cemas. Tapi kalau itu yang dicemaskan, bukan kita lalu mengeluhkan demokrasi. Jangan lupa, konstitusi kita ini tidak diberikan oleh seorang bapak di  atas, tetapi diperjuangkan. Munir meninggal karena itu. Satu teman saya dari PRD, tidak pulang. Kalau kita mengeluh sekarang… Saya ingin menunjukkan atau memberikan gambaran yang lebih baik tentang keadaan kita. Coba pikirkan, dalam sejarah Indonesia dari zaman Majapahit, baru zaman ini begitu banyak orang dipenjara karena korupsi. Setelah demokrasi terpimpin, demokrasi Orde Baru, baru zaman ini orang punya pers bebas dan tidak usah pakai izin, sehingga di daerah-daerah dan di kampung-kampung bisa terbit. Di dalam sejarah Republik Indonesia, baru zaman ini walikota dan bupati dipilih langsung. Dan desentralisasi adalah revolusi diam-diam dari Republik. Republik ini berubah, tapi orang tidak sadar kalau itu perubahan besar. Kalau dibilang 10 tahun itu tidak menghasilkan, itu tidak benar.

M: Barangkali perlu ada lebih banyak pembahasaan demikian, bahwa keadaan ini bisa dipandang sebagai lebih baik?
GM: Tetap perlu ada orang yang mengeluh.. Keadaan tidak akan sempurna, memang. Seperti sekarang, pemerintah salah dalam soal pangan atau kedelai. Mereka salah karena tidak antisipasi. Tapi menyalahkan SBY sepenuhnya? Tidak bisa. Waktu zaman Soeharto, RRC belum tumbuh perekonomiannya. Juga India.  Begitu Orde Baru jatuh, RRC menjadi negeri kapitalis yang besar. Kapitalis dengan cara mereka, tentu saja. Bukan hanya itu. karena jumlah penduduknya yang begitu besar, mereka bisa membikin suatu produksi berdasarkan ekonomi berskala besar. Misalnya, bikin sepeda untuk pasar RRC bisa 40 juta buah, dan itu kembali modal. Sisanya, bisa dijual murah.
Dengan kata lain, Indonesia yang sekarang masuk dalam satu arena yang berbeda, tidak bisa dibandingkan. Bayangkan, soal kedelai, misalnya: 70% dari kebutuhan RRC diimpor, dan itu negeri yang 5000 tahun yang lalu sudah menanam kedelai. Mau tak mau, harga di pasar dunia naik.
Tapi tak berarti kita tidak salah. Sebab, Brazil bisa melakukan yang berbeda sama sekali, juga Argentina. Mereka jadi pengeskpor kedelai terbesar, mungkin setelah Amerika, mungkin juga lebih dari Amerika, mungkin hampir sama. Nah, kita kalah.

M: Jadi, dengan segala kesadaran akan sistem yang berangkat dari kedhaifan ini, apa yang tepatnya perlu dilakukan untuk Indonesia sekarang?
GM: Saya berkiblat pada Cak Nur saja, sewaktu ditanya: perbaikan harus dimulai dari mana? Jawab Caku Nur: dari mana saja. Saya kira betul. Kalau kita mikir dari-mana-dari-mana-nya, pasti kita tidak akan mulai sama sekali. Saya melakukan sesuatu di kesenian, Anda di pemikiran agama atau penerbitan. Yang tidak melakukan apa-apa …Majelis Ulama (tertawa). Nah, kalau bisa mengubah keadaan dengan cara radikal boleh saja. Tapi kalau harus menunggu perubahan radikal, lalu kita tidak melakukan hal-hal yang kecil, itu menurut saya salah.

Ada lagi yang bisa dilakukan. Waktu kami dulu melawan Soeharto, kita tidak ada pikiran bahwa dia akan jatuh tahun 1998. Tempo dibredel pada 1994. Saya mulai bergabung dengan gerakan tahun 1995. Kami berpikir, 20 tahun lagi rezim ini akan bertahan, barulah akan jatuh, mungkin juga tidak jatuh. Jadi? Ada dua pedoman kami dalam berjuang. Pertama, dari Arief Budiman: you fight and have fun. Kalau kalah, kamu masih punya fun. Perlu ada ironi, ada jarak juga terhadap perjuangan. Yang kedua, ada ilham yang kami dapat dapat dari kalangan HAM di dunia. Semboyannya begini, “jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin”.

Sekarang, bangsa Indonesia mengeluhkan kegelapan. Tapi, mana lilinmu? Dalam setiap perbuatan baik, ada maknanya. Seperti yang saya katakan tadi, ketika ada penderitaan atau kekurangan, kehadiran Tuhan terasa. Mungkin dunia tak akan berubah drastis (dengan perbuatan-perbuatan kecil itu). Tapi, dunia kan memang tidak pernah berubah drastis.**

Majalah Madina, Edisi Februari 2008

Komentar»

1. icchankamin - Februari 26, 2008

saya masih membuka kamus bahasa indonesia saya.. ketika membaca perkataan bung GM…

Tuhan…memang akan lebih terasa ketika kita lemah.., tak berdaya…

2. padjar - Februari 27, 2008

Alhamdulillah, saya mendapatkan wawancara yang mencerahkan

3. kartizah - Februari 28, 2008

saya hoo…

4. wishnu - Februari 29, 2008

“jangan kutuk kegelapan,nyalakan lilin”.

indah…..menerangi…

5. Koru - Maret 1, 2008

Kalo nyalakan lilin sambil kutuk kegelapan, boleh nggak??? Hehehe… soalnya kalo nggak misu-misu bisa dicuekin…

6. windra - Maret 3, 2008

Tuhan selalu ada walaupun sekuat apapun kita ingin melupakan

7. muiszudin - Maret 5, 2008

berlindung kepada Allah, Tuhan kita, kita punya bukan sekedar lilin, insya Allah.

8. cho zyn - Maret 25, 2008

yang jelas, perubahan akan selalu ada. manusia punya kekuatan dan kehendak. kalau kekuatan kita lemah, tuhan akan hadir menghampiri yang lemah.

Tan Xue Wen - Juli 30, 2011

Perubahan akan selalu ada. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

9. Cy - Mei 27, 2008

saya ingin sepuluh orang lagi seperti beliau…

mantabsss….. mencerahkan , cerdas, jumawa, otentik, elegan..

sambil bertanya tanya dalam hati.. bagaimana teori NLP ..untuk bisa

“sama” dgn jalan berpikirnya GM ..?

Alhamdulilah…

10. Qwerty - Mei 28, 2008

“kita ini sebenarnya dhaif”……itulah kata2 dari GM yang membuat saya yakin bahwa dia emang orang yang tercerahkan dan kita butuhkan

11. GKministries Salatiga - Jawa Tengah - Oktober 2, 2008

[…] Silakan baca juga tulisan wawancara ini […]

12. nafis - Desember 4, 2008

selalu dapat pencerahan kalau baca tulisan dan wawancara GM ini…terima kasih pak..

13. faridwajdiarsya - Desember 29, 2008

Excelent…

Ketika kita mengatakan Tuhan… bukankan itu juga mereduksi…

Bicara tentang agama….
jadi inget pernah baca entah dimana, dialog antara suami istri, kalo ngga salah dialognya seperti ini:

Istri: Kalau Tuhan jadi Menteri Agama, hidup jadi damai kali yah, Pa?
Suami: Tuhan itu kan tidak beragama. wong manusianya aja yang mencipta-ciptakan agama.

14. Juli Ramadhan - Maret 23, 2009

Sama, Mas Goen…

Saya juga tak bisa jadi Atheis….

15. podolisasi prima - Maret 24, 2009

Freelance monotheis..
Agent pagan.
Agent provocateur..
whatever we say.

Indeed..
Ur so wonderful GM.

16. zainul abidin - Agustus 8, 2009

i don’t know. about kyai, mungkin selama ini antar umat dan mreka ada gap, tp dengan pak gm rasanya lebih fair pencerahan lewat essai ataupun bicaranya selalu mencerahkan tanpa merasa kita ini berdosa(beban),…lilin itu spt dpt kunyalakan tuk mnerangi gelap, pak gun…thank

17. eri palgunadi - Juni 1, 2010

great interview…

atheisme memang tengah jd trend di dunia barat…mungkin karena kekecewaan terhadap radikalisme dan kegagalan agama dalam menjawab permasalahan2 yg substantif misalnya ketimpangan ekonomi

tetap harus ada dialog antara believer dan non believer..

18. asalngomong - Juni 8, 2010

luar biasa…..

seperti biasa selalu luar biasa…..

19. Zainul Mubarok - September 6, 2010

Saya yakin apa yang ada di kepala Pak GM betupuk-tumpuk, alhasil tak mungkin mampu dijelaskan atau dilukiskan dengan kata-kata. Orang model ini sedikit namun unik.

20. …Saya Tak Bisa Jadi Atheis « Catatan Pinggir - Maret 3, 2011

…Saya Tak Bisa Jadi Atheis « Catatan Pinggir…

[…]Bicara dengan Goenawan Mohamad selalu menarik. Penyair, esais, dan salah seorang pendiri kelompok Tempo ini terlibat aktif melawan rezim Soeharto di senjakala Orde Baru pada akhir 1990-an. Belakangan, ia cukup mengejutkan dengan buku kecilnya, Tuh…

21. kota salju - Agustus 8, 2011

harus selalu ada jarak, bahkan dengan perjuangan itu sendiri.

jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilinmu

22. Yudhi almitra - Oktober 1, 2011

Obrolan ringan yg menyehatkan…

😀

23. Yudhi almitra - Oktober 1, 2011

Izin share ya….

24. fajrday - Februari 2, 2012

Seorang teman bertanya pada saya.
Apa yang Tuhan tidak bisa lakukan?…
saya jawab” menulis?” , salah…
yangTuhan tidak bisa lakukan adalah bertemu sesamaNya…

suhaeni - November 18, 2012

mencerahkan orang beriman menyesatkan pendosa

25. bachtiar salim - Februari 18, 2012

saya tidak tahu dan saya tidak mengerti Tuhan merencanakan apa untukku

26. bachtiar salim - Februari 18, 2012

saya tak mengerti dan tak tahu apa rencana TUHAN untuk saya

27. edy - Februari 22, 2012

Mungkin karena Tuhan tak selalu “ada”, yang membuat seseorang punya alasan untuk menjadi atheis. Tapi, bagaimana ia bisa menemukan kata atheis itu, tanpa berfikir asal-usul keberadaannya.

Walau tak pernah ditemukan dalam penanda, namun, Tuhan senantiasa ada dalam kehadiran. Ia senantiasa hadir dalam ketiadaan-Nya.

Tuhan memang tak selalu “ada”. Karena Ia, bukan melekat pada kata itu. Ia, melebihi kata “ada” itu sendiri. Ia hadir di dalam sunyi, di saat-saat kelam.

28. Candu - Agustus 16, 2012

suddah sallah bellum kallah mallah marrah wallah parrah <— syair hidden realm

29. Candu - Agustus 16, 2012

kalau gunawan momohamad masih berkutat pada invisible man in the sky maka bangsa ini ga kan pernah belajar sains dengan benar

30. Brain Merdeka Teismeateismenobukti - November 12, 2014

gelap dan terang atau sebaliknya, datang dan pergi silih berganti, tidak akan mampu untuk saling melenyapkan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: