jump to navigation

tentang GM

======= > Committee to Protect Journalist

Goenawan Mohamad has been a crusader for press freedom since his university days, when he set up the short-lived independent student newspaper Harian Kami in 1967, just a couple of years after Suharto engineered the overthrow of Indonesia’s founding president, Sukarno. Now, after sparring for decades with Suharto’s authoritarian government, it is Mohamad who remains on the public stage while his nemesis has been forced to resign.

Read more…

======= > Jim Lehrer

Another winner of the International Press Freedom Award this year was Goenawan Mohamad, founder and Editor of Tempo Magazine, Indonesia’s most widely circulated weekly. His magazine was officially banned in 1994, but reopened in October, following the ouster of Indonesian President Suharto. Mr. Mohamad is also a poet. And we asked NewsHour contributor Robert Pinsky, Poet Laureate of the United States, to read one of his poems.

Read More…

======= > Kurnia Effendi

Kini, setelah meletakkan tugasnya sebagai pemimpin redaksi majalah Tempo, ia menjadi seorang kreator yang lebih bebas secara kedinasan, namun tetap terikat deadline Catatan Pinggir majalah Tempo yang terbit sekali seminggu. Agaknya, tidak semata menulis secara tunggal saja ia bekerja; GM juga menciptakan komposisi pertunjukan bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel dengan karya libretto untuk opera Kali (1996 sampai dengan 2003, dengan sejumlah revisi). Pementasan di Seattle (2000) dan New York, berjudul The Kings’s Witchbersama Tony Prabowo.

Baca selengkapnya…

======= > The International Artist Database

Goenawan Mohamad writes critical remarks on the press, on the massive corruption and lack of human rights and of democratic tradition in Indonesia. His tireless fight for freedom of expression has led to the foundation of several new media organisations and made the Indonesian press one of the most free in South Asia.

Writer, editor, activist, and poet, for more than 30 years Goenawan has set standards for journalists around the world. Ever hopeful, he looks forward to continuing change in Indonesia. “It’s like building a new country”, he says.

Read More…

======= > Asialink

Goenawan Mohamad: Writer, journalist, and cultural leader, Jakarta. Theatre: an Encounter with the Strange. A collaborative work is not a hybrid of representations of ‘cultures’. As I see it, the crucial thing is to see the performing art as something built on
differences, not identities, in a continuing, and intense, discovery. In the Javanese puppets theatre, this is underlined by the shifting personas of the wayang characters. Their identities (‘names’) are often related to a particular situation they are in — incidentally reminding us that a permanent identity is a modern state’s way of comprehending the human.

The flat puppets, each is created in a highly stylized and unfamiliar form, suggests not a representation of ‘reality’ as depicted by a Renaissance work of art. The wayangs are an open invitation to a realm where the human subject does not put him/herself in control. The wayangs’ ‘lives’ are a perpetual encounter with the Strange.

Perhaps this is part of the excitement of the theatre both as a form and as a narrative; one can speak of the Strange in Oedipus, Hamlet, Brecht’s Good Woman of Sezchuan, Becket’s Godot.

======= > TIFA 2

gunawan.gifGoenawan Mohamad adalah seorang penulis besar yang berpengaruh, seorang jurnalis dan sastrawan. Ia mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai pendiri majalah mingguan Tempo yang dihentikan penerbitannya pada tahun 1994 karena memberikan kritik terhadap pemerintah. Majalah tersebut kemudian dihidupkan kembali setelah Suharto diturunkan pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, Gunawan menerima Penghargaan Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists). Ia juga menerima Penghargaan Internasional Editor Tahun 1999 (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat, pada bulan Mei 1999; Penghargaan Louis Lyons dari Harvard University, Amerika Serikat di tahun 1997 dan Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University, Belanda, di tahun 1992. Koleksi esai dan tulisan-tulisannya di kolom “Catatan Pinggir” Tempo telah diterbitkan dalam sejumlah buku. Pada bulan Nopember 2000, Goenawan mewakili Indonesia dalam Konferensi White House mengenai Kebudayaan dan Diplomasi di Washington D.C., dengan Presiden Clinton dan Ibu Negara Amerika Serikat, Hillary Clinton, sebagai tuan rumah.

======= > WIKIPEDIA

Goenawan Soesatyo Mohamad (Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941) adalah seorang pujangga Indonesia yang terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri Majalah Tempo.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai dari pemain sepakbola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman dan musik, dan lain-lain. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

Tulisan-tulisan awalnya meliputi: Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980). Sementara tulisannya yang lebih aktual mencakup Parikesit dan Interlude (2001), Kata, Waktu (2001). Tetapi lebih dari itu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot. Goenawan Mohamad juga punya andil dalam pendirian Jaringan Islam Liberal.

======= > Tokoh Indonesia

Goenawan Susatyo Mohamad

Sastrawan ‘Catatan Pinggir’
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

Komentar»

1. Anas - Agustus 8, 2006

blog yang menarik, Mbak. Sekurangnya, mampu memenuhi kebutuhan saya untuk mengakses literatur yang sukar didapat di sini (saya tinggal di Jerman). Terus diupdate ya, Mbak. Kalau bisa juga menampilkan tulisan2 GM yang lain. Salam.

2. Muhammad Fauzan - Agustus 12, 2006

Senang dengan adanya blog ini, saya sangat mengagumi GM, aku udah mengenal tulisan beliau semenjak duduk di bangku SMP di pondok pesantren al-amien di sumenep madura. harapan saya tetap mendapatkan update-an nya, mengikuti di majalah TEMPO, gak kuat kayaknya, hee…hee..

3. M. Rusli - Agustus 15, 2006

Rasanya Blog ini akan terus saya kunjungi. kekeringan saya akan esai-esai Mas Gun bisa saya ikuti disini.

4. wicaksono - Agustus 19, 2006

apa gm sudah tahu tentang blog ini?

5. Juneadi U - Agustus 24, 2006

Thaks berat buat keberadaan blog ini. Selama ini sy coba cari tulisan yang mirip ama punya Goen. Tapi kok rasanya yang lain gak merasuk ke hati. Beda bgt ama Caping. Viva Goen, Viva Caping. Semoga TUHAN memelihara mas Goen. Dia aset penting buat bangsa ini.

– Yang kagum ama Goen -

6. Bang Pi'i - Agustus 27, 2006

ada dua orang yang saya kagumi, dan mereka berteman… (alm.) Umar Kayam atau yang sering saya panggil pakde itu, dan Goenawan Muhammad….

nice blog!

7. choirul rozi - September 4, 2006

jika ingin mengetahui kepenulisan berbahasa indonesia dengan benar, kaya bahasa, penuh makna dan mengalir tidak lain membaca karya goenawan mohammad. saya sangat kagum pada beliau..

8. Aguz - September 10, 2006

semoga bang GM masih tetap menulis, secuil apapun tulisan itu. darinyalah saya tahu apa itu hal yang sepele dan bermakna. GM bagai kata dan makna yang terus mengalir, menghidupkan bhs, bangsa, dan masyarakat indonesia. saya rasa dialah sejarah yang berjalan-jalan, yang masih hidup menghampiri kita semua.

9. vny - September 26, 2006

Saya mengenal seorang Goenawan mohammad, dari majalah Tempo edisi Milenium yg tahun terbitnya tentunya tahun 2000 yg diberikan oleh sepupu saya.Ironisnya saya membaca majalah Tempo tersebut pada tahun 2005,karena lama tersimpan dalam buffet. Alhasil saya mengenal seorang Goenawan Mohammad pada tahun 2005.
Tak mengapa saya mengenalnya terlambat, karena pertemuan saya dengan tokoh ini sangat unik even surprise. Ternyata masih ada tokoh seperti beliau di bumi pertiwi ini.

10. engkos - September 28, 2006

Mas Gun adalah salah satu sosok anak bangsa yang terbaik, pemkiran dan ide-idenya mencerahkan anak-anak bangsa lainnya. saya sempat berfikir kalau saja ada 10 orang manusia sejenis Goenawan Mohammad tentunya Indonesia akan kian kaya dengan tradisi menulis dan tradisi kritis yang terus dituangkan dalam karya tulis. alhamdulilah saya sempat bertemu beliau ketika seting diskusi di Jogja dulu. kebetulan saya sempat sama teman-teman di PPMI mengikuti arah tulisnya. sukses terus untuk Mas Gun, semoga kesehatan tetap melindunginya

11. firdaus putra - September 29, 2006

good, nih blog yang bikin bang anick ht ya…
apresiasi atas gm atau diminta… baguslah asal up date-nya bagus aja…

12. Ivan - Oktober 5, 2006

awesome…!!

13. revoltase - Oktober 8, 2006

Saya penggila caping, Sampai beli tempo hanya untuk baca caping aja. blog ini membantu banget, tapi mudah-mudahan ga digusur ama TEMPO

14. arifadi budiarjo - Oktober 10, 2006

Inspired ! Catatan pinggir GM bagi saya merupakan ajakan untuk mendalami suatu soal dari berbagai macam perspektif tanpa harus kehilangan keberpihakan kita pada keadilan, kemanusiaan dan kebenaran. Perkenalan saya dengan catatan pinggir sejak duduk dibangku SMA membuat saya lebih tertarik untuk mendalami realitas sosial yang terjadi.

15. Nurliah - Oktober 16, 2006

saya pengagum GM. Thanks buat yang mengusahakan blog ini.

16. Budidab - November 3, 2006

Makasih banget atas dibuatnya blog ini. Dalam kegerahan kemarau gagasan & imajinasi saat ini, blog ini merupakan salah satu oase saya. Terima kasih banyak.

17. Ryan Waldyanto - November 4, 2006

Saya menikmati Caping smenjak saya kuliah,
menikmati fasilitas majalah perpustakaan di universitas negeri Bandung.
Tulisan2 GM membuat otak & hati bekerja berbarengan. Kadang provokatif juga membuat alis mengerenyit.
Kalau sampai sekarang saya masih menyesal belum pernah ketemu langsung dengan Pramoedya A. Toer, mudah2an saya sebelum mati saya bisa ngobrol langsung dengan GM.

18. Chalie - November 10, 2006

Puji Tuhan, akhirnya aku menemukan Blog yang di cari selama ribuan tahun, . thanks ya buat pengelolanya.

riyanto - September 1, 2009

emang chalie ini lahirnya kapan kok “ribuan tahun” sebelum masehi ya Hehehe. salam sesama pecinta GM. beli tempo cuma buat baca caping nya doang. tapi sayang usia Pak GM ?

19. Cid' - November 13, 2006

aku mengenal GM dari selembar puisi pendek di internet, aku tak menemukan perbedaan tema atau gagasan yang mendasar pada karya2 GM dengan penulis2 sekelas pram. sulit mencari ide baru yang betul2 orisinil kecuali hanya mengganti kulitya dengan sedikit polesan. entahlah…

20. Chalie - November 13, 2006

This Poet To GM, aku tahu ini picisan ngga ada apa2nya dibanding puisi GM. Membaca puisi dan esai GM seluruh dunia indera terguncang-guncang kadang kadang sunyi mengalir tak terbendung .smoga GM atau siapapun sudi membaca dan kasi kritik.

“JALAN SETENGAH BAYA”…….

Di tepi sore yang terhimpit keringat dan penat
Hidup ditaruh sejenak,
Langit terpaksa berubah warna, Pohon- pohon membungkuk,
Pintu dan jendela ditutup rapat sebelum sangkala menggayang badan
Anak- anak digiring ke kandang

Dan kau masih tetap sama
Tak tersentuh sedikitpun harmoni senja, sejarah panjangmu masih dikejar cemas
Di usiamu yang setengah kendur,
Percuma menunggu datangnya nasib yang menjulang, ia telah ambruk
Mimpipun enggan untuk hinggap
Apa kau tahu itu ?

Harusnya kau tak keliru
Angan yang bergentayangan jangan pernah sekalipun di beri ruang
Lihat hikayatmu kemarin,
Kau lupa akan manisnya kurma, nikmatnya bersegama dan gaduhnya pasar
Kini kau tinggal menunggu sisa
Itupun kalau zaman bersedia menyisihkan niat baiknya
Karena haus manusia pantas rakus

Kau tak perlu menunda sampai masak
Lepas benang yang menempel di perutmu, itu hama yang merusak kulit
Copot segera hasrat, jangan sampai berlimpah
Bersandarlah pada bulan yang masih separuh

Hari ini belum selesai,
Tapi waktumu hampir terjangkau oleh ajal

Kau harus tahu itu !!!

Barat Jakarta,
ACM131006
Chalie Sakyan

21. nurfath mulia - November 14, 2006

menemukan blog ini rasanya seperti mendapatkan hidayah yang patut disyukuri berulang kali. thank’s to Anick yang sudah membuat blog ini. salam untuk GM, Semoga beliau dikarunia kesehatan dan umur panjang hingga pada suatu kesempatan nanti Tuhan berkenan mempertemukan saya dengannya. amin.

22. nurfath - November 14, 2006

menemukan blog ini rasanya seperti mendapatkan hidayah yang patut disyukuri berulang kali. thank’s to Anick yang sudah membuat blog ini. salam untuk GM, Semoga beliau dikarunia kesehatan dan umur panjang hingga pada suatu kesempatan nanti Tuhan berkenan mempertemukan saya dengannya. amin.

23. Mukhlis Rahmanto - November 14, 2006

syukron awi-awi atas blognya, kita yang di Cairo lumayan bisa ngakses tulisan2 mas Goenawan M. Jadi nggak usah susah-susah minta teman di Indo untuk ngirimkan buku2 mas Goen…Salam aja deh buat mas Goen.

24. chindy_tan - November 14, 2006

Ya ampun! ehm rasanya ungkapan ini kurang pas..whuuuaow! juga kurang punya gigitan..entah bagaimana mengungkapkan perasaan saya. pertama kali, ketoe bulan July 2006 kemaren mengenal tulisan mas Goen, saat nyasar di blog pecasndhase’. baca separagraf, kesan unik ngusik banget, tak bisa tidak rasa ingin tau trus nagih untuk trus baca, astaganogir! bener2 tulisan yang punya nyawa, ritme denyutnya bisa disentuh, bisa dirasa. memberi pemahaman, lebih dari sekedar pemahaman,insight broo! amboiii indonesia tanah air beta, sekiranya u’re been very blessed by the time for the existence of mr Goen. over banget g seh,hehe..mr G emang melampaui biasa, jempol deh!
dan rasanya saya mungkin ud terkategori berhala pada tulisan beliau, dari juli kemaren sampe sekarang saya ud collect 7 buku beliau,gendeng yee;) caping1-6 plus conversation with difference terjemahan Jennifer Lindsay, kalap melahap gelap nurani selama ini, bersentuhan dengan mr G, nurani melanlang lintas kotak apapun.kotak yang membusukkan humanitas, spiritual dan akar hidup itu sendiri.thanks mr G, Semesta juga menitipkan rasa terima kasih untuk entitas yang kesadarannya bermata dalam tiap porinya, great son of earth mr Goenawan Mohamad..blessing is yours mr Goen;)

25. Ahmad Nabil - November 23, 2006

Thanks berat buat blog ini, moga di up date terus,

26. tu - November 26, 2006

ada 4 edisi catatan pinggir di rumah saya
kopian memang
tak apa toh
beli tempo pun tujuan besarnya untuk caping

salam

27. Sarga - November 28, 2006

Mohon bantuan serta doa. saya sedang mengerjakan skripsi yang meneliti tentang kumpulan puisi GM yang sdh dterjemahkan dalam bahasa inggris.

28. abdul majid - November 29, 2006

assalamu’alaikum
dengan segenap luapan penghormatan saya, saya pribadi mengenal (lebih tepatnya, tahu) gunawan Muhammad bukan di Indonesia, tetapi di mesir. agaj canggung memang. perkenalan ini ketika rel kereta kehidupanku saya bantir setir dari cita-cita menjadi “Ustadz desa” (karena memang begitu bayangan awal saya) berubah menjadi seorang kuli tinta/laskar tinta (terlalu sombong menyebutnya dengan jurnalis). mas goen, izinkan aku menjadi muridmu.
salam, Majid Kairo
nb; saya selalu mendoakan semoga impian itu kan jadi kenyataan. tetaplah berusaha. kalau berkenan, tolong saya dikirimi kumpulan puisinya GM

29. ab majid - Desember 11, 2006

mbak anik, mohon puisi2nya mas goen juga dimasukin

30. Asep Hartono - Desember 12, 2006

Bang Goen, Kau jangan dulu mati.

31. anick - Desember 12, 2006

@ ab majid

Kalau puisi GM masuk ke sini, nama blognya bukan caping lagi ntar…

32. Goenawan Mohammad - Desember 14, 2006

Tiada mengapa Nick. Biarkanlah setiap orang mengapresiasi

33. Pendeta Budiman - Desember 26, 2006

Saya penasaran dengan naskah teater GM yang mengangkat isu tentang melepaskan kuasa. seperti kondisi gelassenheit. Ada satu bagian yang saya inga, itu pun karena dikutip di tempo, “ana titir jroning rasa”. di mana saya bisa mendapatkannya Mas Goen? Dahsyat narasi itu.

34. arul - Desember 27, 2006

met kenal pak goenawan…
salam kenal..
ternyata orang besar jurnalistik ini memiliki kharisma begitu dalam di jurnalis2 muda

35. bayuleo - Januari 5, 2007

edan tenan ….blog iki tulisane uakeh buangettt!!! Gak ada habisnya utk dibaca kayak bengawan Solo…..mengalir sampai jauuuuhhhhhh…

36. kawe shamudra - Januari 16, 2007

GOENAWAN MOHAMAD YANG (tidak) SAYA KENAL
Curah Rasa: Kawe Shamudra

Bagi saya, Goenawan Mohamad (GM) adalah tokoh yang hanya ada dalam bayangan. Saya belum pernah ketemu secara langsung, apalagi bincang-bincang. Saya pernah kirim surat tapi tak dibalas. Pernah telpon tapi tak diterima. Saya menyukai puisi-puisinya, juga esai-esaainya.
Lamat-lamat, saat saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah melihat GM dari kejauhan, wajahnya murung, di tahun 80-an, ketika ibundanya, ibu Rukoyyah, meninggal. Tapi saat itu saya belum tahu GM seorang sastrawan terkemuka negeri ini. Saya kenal baik dengan keluarga GM yang lain, terutama kakak-kakaknya. Saya pernah selama tiga tahun tinggal bersama kakak kandung beliau, Ibu Chikmah Mohamad. Dari beliaulah saya sedikit banyak tahu tentang riwayat GM. Tapi sekali lagi, saya belum ketemu secara pribadi dengan GM. Ada keinginan, tapi belum kesampaian.
Belum lama ini saya memotret rumah tempat tinggal orang tua GM yang masih berdiri kokoh di Karangasem, Batang, Jawa Tengah. Rumah yang dulu pernah saya tempati bersama Ibu Chikmah, ibu asuh saya yang membimbing dan mendidik saya sampai mengenal dunia sekarang ini.

GOENAWAN MOHAMAD YANG (SEDIKIT) SAYA KENAL

SUATU malam di tahun 80-an (kalau tidak salah tahun 1985) ketika saya baru menjalankan shalat Isya di kamar belakang, tiba-tiba dipanggil ibu asuhku, Chikmah Mohamad, kakak kandung perempuan Goenawan Mohamad (GM), yang biasa saya panggil Ibu. Malam itu beliau sedang berada di ruang tengah sambil nonton acara televisi.
Kamar saya berada paling belakang. Mengira akan mendapat tugas, maka dengan langkah sigap saya segera menghadap beliau.
“Ada apa, Bu?” Tanya saya dalam hati.
Ternyata saya hanya disuruh menonton televisi. Malam itu ada acara kunjungan Presiden Soeharto ke Hongaria yang disiarkan TVRI. Saya tidak paham kunjungan dalam rangka apa. Waktu itu saya masih SMP. Jadi kurang begitu suka dengan acara kenegaraan di televisi.
“Tuh lihat Gun, adikku, yang berdiri paling tepi” kata Ibu bersemangat. Sebagai kakak kandung, Ibu biasa memanggil GM dengan sebutan “Gun”.
Itulah pertama kali saya mengenal GM, meski hanya sebatas nama dan belum pernah ketemu secara langsung. Malam itu saya lihat sosok GM di layar kaca dengan pakaian necis, berdiri mematung tak jauh dari Presiden Soeharto. Wajah GM saat itu masih sangat muda dan memancarkan kharisma.
“Itu lihat fotonya,” kata Ibu. Kemudian Ibu menunjukkan sebuah foto (hitam putih) seorang lelaki yang sedang memangku anak kecil. “Itu adikku yang paling kalem,” puji Ibu.
Saya perhatikan foto GM saat masih muda. Foto yang menurut saya tampak puitis dan tersirat banyak makna.
Selanjutnya Ibu tidak bicara apa-apa lagi dan membiarkan saya menikmati siaran televisi. Saya lupa sampai jam berapa acara tersebut berakhir.
Entah dengan alasan apa Ibu merasa perlu mengenalkan saya pada GM. Mungkin karena Ibu tahu saat itu saya mulai suka membaca Koran dan majalah. Dan secara sembunyi-sembunyi saya juga mulai suka menulis puisi dan cerita. Secara kebetulan, hobi baru yang mulai saya tekuni tidak jauh dari sosok GM sebagai sastrawan.
Hidup serumah dengan Ibu, membuat saya sedikit tahu tentang keluarga GM. Cerita tentang sosok GM yang sempat saya dengar dari kerabat, pembantu dan tetangganya. Sebagian masih terekam dalam ingatan.
Kisah-kisah masa kecil saat GM masih tinggal di desa kelahirannya, Desa Klidang, Batang, Jawa tengah, menjadi bagian dari romantika yang selalu dikenang oleh kerabat, para tetangga, teman sepermainan, dan orang-orang dekat lainnya. Dan saya adalah salah seorang yang sempat mencicipi kenangan itu.
Sebelum menjalani masa remajanya di Jakarta, GM tentu saja menjadi anak desa yang lugu seperti teman-teman sebayanya. Hanya saja, darah pujangganya telah mengalir sejak ia belia. Meskipun ayahnya, Mohamad Zen (Almarhum) seorang tentara dan ibunya, Rukoyah (Almarhumah), seorang pedagang.
Ada sekelumit cerita menarik yang saya dengan dari lingkungan kerabat GM, tentang proses kepenyairan GM. “Dulu saat masih duduk di SR, om Gun pernah menulis sebuah puisi dan ditunjukkan kepada salah seorang gurunya. Setelah dibaca, gurunya terkagum-kagum…” kata Lukman Hakim, keponakan GM.
Itulah awal kisah yang sederhana, dan selanjutnya kehidupan GM bergulir mengikuti arah taktir yang sudah digariskan Sang pencipta.
Mungkin muncul pertanyaan, kenapa di usianya yang masih belia GM bisa secerdas itu? Apakah karena dia banyak mengonsumsi ikan? Ternyata tidak. “Gun malah kerap dilarang orang tuanya makan ikan. Hampir tiap pagi Gun menikmati makanan kesukaannya, yakni nasi urap kelapa,” kata seorang kerabat.
Sebenarnya saya punya kesempatan banyak untuk bertanya tentang apa saja soal GM, namun saat itu saya nyaris kehilangan kemauan untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok GM. Dan baru sekarang saya sadar dan menyesal, kenapa dulu tidak banyak mengorek keterangan tentang GM yang saat ini justru saya butuhkan.
Saya hanya punya satu ingatan tentang GM. Saat itu di tahun 1986 ibunda GM meninggal di Batang dan saya lihat GM datang dengan tatapan kosong menahan duka mendalam.
Selanjutnya saya hanya mengenal GM dari jauh lewat bacaan yang sudah banyak diketahui orang.

Bersama Ibu Asuh

Masa-masa penuh derita itu saya rasakan sampai menginjak remaja. Selepas SD dan sepeninggal ayah, saya hidup bersama keluarga lain. Ibu saya cukup bijak dan memberi restu ketika ada pihak yang menawarkan diri menjadi ibu asuh.
Maklumlah, saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan alam pedesaan dari keluarga miskin. Di usia 10 tahun saya jadi yatim. Ayah meninggal setelah cukup lama menderita penyakit saluran pernapasan. Dari predikat yatim inilah akhirnya saya dipungut Ibu Chikmah Mohamad menjadi anak asuh. Kebetulan waktu itu Ibu Chikmah menjadi ketua berbagai organisasi sosial dan sedang merintis berdirinya sebuah panti asuhan yang menampung anak-anak yatim.
Tahun 1983 saya sekolah di M Ts Muhammadiyah Batang atas anjuran Ibu Chikmah. Waktu itu sekolah masuk sore sebab paginya ruang kelas dipakai untuk anak-anak Madrasah Aliyah Muhammadiyah. “Kamu sekolah sore, paginya bantu ibu. Di sini kamu tidak bisa hidup bersenang-senang. Harus mau hidup susah,” kata ibu saat itu.
Sejak saat itu jadwal kehidupan saya mulai berubah. Saya dibiasakan hidup disiplin mulai bangun tidur sampai tidur kembali. Bangun tidur aku bersih-bersih rumah dari menyapu lantai, ngepel, membersihkan WC dan menyapu halaman. Habis sarapan membantu ibu membuat kerupuk dan jajanan lainnya untuk dititipkan di warung-warung. Kadang saya harus mengantar kerupuk sambil berangkat sekolah.
Berangkat sekolah kadang naik andong, kadang juga jalan kaki. Atau kalau ada teman yang baik hati, boncengan sepeda onthel.
Dan saya merasa beruntung, Ibu Chikmah punya cukup banyak koleksi buku dan majalah. Dan saya dibiarkan mengacak-acak almari yang berisi tumpukan buku dan majalah. Saya ingat, majalah anak-anak yang pertama kali saya baca adalah Bobo dan Kuncung, yang memuat dongeng dan cerita anak.
Ketika membaca dongeng, pikiran dan perasaan saya ikut terhanyut mengikuti alur cerita. Imajinasi saya mulai hidup dan muncul juga rasa penasaran terhadap berbagai hal. Sayangnya, harus saya akui, saya bukanlah termasuk anak cerdas. Seandainya waktu itu ada tes IQ, mungkin saya masuk kategori anak yang ber-IQ jongkok.

WAKAF GOENAWAN

Ada yang tidak bisa saya lupakan ketika GM memberikan sebagian kecil hartanya untuk membeli sebidang tanah kurang lebih 1 ha di Batang dan kini ditempati anak-anak yatim. Di atas tanah tersebut kini dibangun Panti Asuhan Umar Bin Khottob. Mungkin GM sudah melupakan wakaf itu dan mudah-mudahan menjadi amalan yang diterima di sisi Yang Maha Kuasa.

Banyak orang mengagumi Gm, tetapi tak kurang juga yang menghujat bahkan melaknatnya. Tetapi di mata saya, GM tetap GM, sebagai manusia yang memiliki kedhaifan.

Kini panti asuhan tersebut dihuni anak-anak yatim dan fakir miskin. Saya hidup berdampingan dengan mereka, dan mencoba memberi spirit agar mereka tetap bahagia di tengah-tengah himpitan hidup yang kadang kejam.

Salam untuk GM dan untuk semua pembaca. Kenalkan saya yang lancang ini.

KAWE SHAMUDRA
Panti Asuhan Umar Bin Khottob
cepokokuning, Batang, Jawa Tengah
E-mail: kaweshamudra@plasa.com, jujurpawarto@yahoo.co.id
Silahkan bagi yang mau kirim surat atau kenalan.

37. echy - Januari 20, 2007

Alhamdulillah-saya menemukan blog ini,saya membayangkan seorang GM masih seperti fotonya dicatatan pinggir 2 ,karna itulah awal saya mengenal beliau,sekarang yang pasti aslinya tidak seperti foto di caping 2 ,tapi saya merasa semangat dan tulisannya masih semuda fotonya.Bravo you you my inspirator

38. Nazdan Meuraxa - Januari 22, 2007

ada 3 orang yang semenjak kecil turut membentuk karakter saya ;
1. bang Iwan Fals, menguatkan saya untuk tetap bertahan hidup
2. bung Taufik Ismail, mengasah kepekaan batin saya, dan
3. Gunawan Muhammad, memberi inspirasi dan mengembangkan wawasan saya.
setiap kali membaca caping, berarti banyak buku yang telah saya baca atau yang harus saya baca.
Semasa SMA, saya pernah menabung untuk membeli buku Caping I, tapi hilang dipinjam teman kuliah yang akhirnya jadi wartawan tempo. kehilangan itu rasanya, berat sekali. mudah2an setelah ada blog ini, berarti caping tidak akan pernah hilang setiap kali saya mau baca.

Bajingan Cilik.

39. noercha - Februari 2, 2007

Buat Bung Kawe, lebih menarik jika Anda menulis tentang kehidupan masa kecil GM, bisa gak. Sepertinya Anda bisa melakukannya.

40. Kawe S - Februari 2, 2007

SAJAK NEGERI IKAN

(buat Goenawan Mohamad)

Ikan-ikan
penghuni taman garam.
“Laut biru negeriku!
Tanpa bendera.
Tetapi
kami tak pernah berebut kuasa.”

Di langit
para malaikat menghormat
pada ikan-ikan di lautan:
“Kalian adalah penyelam kejujuran.”
Sepanjang hari ikan-ikan jadi pelangi,
tempat persinggahan warna dari surga.

Di bumi
para nelayan adalah petani
yang tak pernah menanam.
Mengais rempah-rempah di negeri ikan,
kemudian menjualnya ke negeri lain.

Ketika matahari menatap laut,
jaring pun dirajut.
Di tepi pantai landai
anak-anak bumi mengejar andai

Di pelataran tenda karang
ikan-ikan menari dan bernyanyi:
“Kami rela mati
agar anak cucumu tak kurang gizi”

Tetapi
ikan-ikan pun
membela negerinya:
“Jangan ada tuba di sini!
Sebab bila kami semua mati,
Anak-anak bumi juga ikut mati”

Batang, Agustus 2006.

By: Kawe Shamudra, Batang

41. deni - Februari 2, 2007

“waktu adalah mesing hitung, cintaku.
jam berkeloneng dingin…………….

saya selalu ingat sajak ini.
membacanya adalah juga membaca kesadaran akan batas.

GM !!! semoga kau panjang umur…

42. umar khattab - Februari 8, 2007

ketika kita berdiri sunti pada dinding biru ini
menghitung ketidakpuasan dan bahagia
menunggu seluruh usia

Itulah penggalan puisi yang tetap saya ingat sejak masa SMP tahun 1984. Itu puisi GM yang menyentuh.

Kapan kau ke Batang menjenguk Pak Noerhadi, Bu Chikmah, Bu Sup, dll?

43. yudhit ciphardian - Februari 21, 2007

anda yang membangun blog ini dan meng-up date-nya setiap hari, sama berjasanya seperti GM bagi republik ini.

meski mimpi untuk “memotong generasi” sudah hancur di tengah jalan, setidaknya kumpulan caping ini masih bisa “meracuni” banyak generasi masa depan.

teruslah bekerja!

kesadaran adalah matahari
kesabaran adalah bumi
keberanian adalah cakrawala
perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(rendra-paman doblang-kantata takwa)

44. Imam al-Marghoni - Maret 12, 2007

Salam buat GM
Setelah membaca cukup banyak tulisan GM, saya menemukan seorang penulis yang tidak sekedar bebas serta kritis, namun juga berwawasan sangat luas. Yang membuat saya sangat kagum dengan GM adalah cakupan informasi baik dalam maupun luar negeri, agama ataupun umum, entah berapa jam dalam sehari GM menyisakan waktunya untuk membaca.

Fansmu di Kairo

45. Kawe Shamudra - Maret 12, 2007

Vie’s dan GM

Sengaja saya sandingkan nama Vie’s dengan GM (Goenawan Mohamad). Dalam jagad kesusasteraan, nama GM sudah tidak asing lagi, tetapi nama Vie’s belum ada apa-apanya.
Vie’s adalah penyair dan penulis pemula yang kini mulai mengepakkan sayapnya. Setidaknya dapat dibaca dari buku kumpulan puisinya bertajuk “Sabana Hati” dan cerbungnya “Mir & Red Devil” yang dimuat Suara Merdeka Edisi Minggu (Remaja) mulai 11 Pebruari 2007.
Saat Vie’s bertandang ke kediaman saya belum lama ini, saya memberi lecutan motivasi agar dia terus berkarya. “Suatu saat nanti di Batang akan lahir penyair sekaliber Goenawan Mohamad,” kelakar saya waktu itu. Vie’s hanya tersenyum manis sambil berucap, “Amiiin…”
Vie’s dengan GM jelas beda jauh dalam segala hal. Keduanya hanya sama-sama lahir di Batang. Daerah yang kerap dijuluki ndeso kluthuk ini, memang menyimpan sejumlah nama penyair dan penulis, satu diantaranya ya Vie’s itu, yang tergolong pendatang baru.
Kehadiran gadis imut ini melengkapi daftar nama penulis/ penyair Batang seperti (stok lama) seperti Maghfur Saan, Sugito Hadisastro, Dyaning Widya Yudhistira, Sulistiyo Suparno, MT. Jirien, Hamid Kaha, Waskitho AS, dan sederet nama lainnya.
Kehadiran kelahiran 4 Agustus 1987 ini memang mengejutkan. Talenta kepenyairannya sudah muncul sejak belia dan diasahnya terus-menerus. Terbukti, saat duduk di bangku SLTA Vie’s menelurkan buku kumpulan puisi pertamanya.
Karya tersebut lahir dari proses reduksi dan pergulatan kreatif seorang anak desa yang hobi menulis puisi. Sepertinya dia tak sanggup membendung aliran ide yang membanjiri otaknya. Ia senantiasa menjadi orang yang gelisah memikirkan banyak hal.
Sebuah karya, betapapun sederhananya, tetap punya makna jika direduksi dengan apresiasi jujur. Siapa tahu Vie’s kelak mampu mengukir sejarahnya sendiri dalam peta sastra tanah air, bahkan mungkin dunia, menyamai atau bahkan melebihi Goenawan Mohamad.
Vie’s punya potensi ke arah itu. Tidak semua orang dikaruniai kemampuan menulis puisi secara intens dan dinamis, setidaknya untuk ukuran seusianya. Tidak semua penyair bisa tabah menghayati proses yang mungkin tidak memberikan kontribusi apa-apa kecuali kepuasan batin. Vie’s tampaknya menikmati proses itu dengan santai seolah tanpa beban.
Sebagai penyair pemula, Vie’s mencoba mengolah apa yang dilihat, didengar dan dirasakan menjadi untaian kata bermakna. Ia punya cara sendiri untuk mengungkapkan kekaguman dan kegelisahannya dalam menjalani kehidupan.
Vie’s kini tengah menapaki sejarah awal proses kepenyairannya. Yang pasti ia membutuhkan dukungan dari banyak pihak secara proporsional. Sayang jika bibit segar ini dibiarkan tumbuh liar tanpa ada yang merawatnya.

KAWE SHAMUDRA, anggota Komunitas pena Batang.

46. dd bata - Maret 22, 2007

GM adalah anugerah bagi bangsa Indonesia. Terima kasih untuk pengasuh blog ini.

47. apg - April 16, 2007

interview GM di playboy edisi januari 2007 silakan diambil dr link ini. pembuatnya setuju kok :)

48. apg - April 16, 2007

interview GM di playboy edisi januari 2007 silakan diambil dr link ini http://tamankembangpete.blogspot.com/
pembuatnya setuju kok :)

49. bujang - April 25, 2007

wawancara GM di Playboy bagus, saya aku nggak dapat edisi cetaknya, nggak sampe kampungku sih.

50. Dimas - Mei 20, 2007

Surprise juga tiba-tiba dapat bloq ini dari iseng-iseng browsing. Jadi berusaha jadi makmum yang baik, dan sekadar amin, habis imamnya terlalu tinggi.

51. Zullisaprilla - Juni 14, 2007

Saya sangat senang sekali , dapat beritraksi dengan orang yang saya kagumi ,jurnalistik sejati ,penulis yang berani melawan arus kekusaan pada zamannya.

Semoga Mas Goen dapat menciptakan ,orang-orang muda sebagai penganti Mas Goen ,untuk masa yang akan datang.

Semoga Caping tetap eksis di belantara media Indonesia.

52. Bambang S. Soedharto - Juni 20, 2007

Mas Anick,
Apakah caping berjudul “Lembing” sudah dimasukkan ke dalam situs ini (no dan tanggal/tahun edisi majalah Tempo tidak ingat)?
Disitu terekam kemarahan Goenawan Mohamad yang cukup dalam terhadap komentar-komentar yang tendensius berkaitan dengan meninggalnya guru bangsa kita semua, Nurcholis Madjid.

Terima kasih, bambang

53. anick - Juni 20, 2007

@ Mas Bambang,
Sekarang sudah masuk. Lihat index….

+ Lain kali, tempat “meminta-minta” jangan di halaman ini, tapi halaman index aja ye….
:)

54. Bambang S. Soedharto - Juni 22, 2007

Mas Anick,
Sori dan terima kasih.
Bambang

55. secretpoet - Juli 19, 2007

aku nggak suka sama GM, tapi ntar dimarahin nggak ya kalo aku nggak suka sama dia? mmmmm…?

masalahnya, dia sastra banget, aku kan nggak suka yang sastra banget…kebosenan nih….bikin pusing…nanya-nanya…jadi gila deh…hihihihi….

maaf ya? kata seorang mahasiswa jurnalistik Unpad, ini kan demokratis. Jadi, boleh apa aja donk berpendapat….hihihi….

Sastra itu pinteeeeeeeeeeeer banget, tapi karena aku membenci kemunafikan dan aku ‘belum’ pinteeeer banget, jadi aku nggak suka…..hihihih

tanktop - Oktober 20, 2009

geli banged bahasku hariku hari ini
sampai keringat dalam perutku di endus kucing’
mampus ia,,,
kena rasa asin dan sedikit asam dari lamunanku semalam
elu,,,,sih nanya terusz…ha.a..a.a

56. yuliernawati - Juli 28, 2007

pak goen…
matur sembah nuwun nggih amalannya yang begitu besar untuk dunia sastra. sangat membantu saya untuk melepas kegelisahan dan keresahan atas keruwetan-keruwetan yang terpaksa saya hadapi.
SEMANGAT.. SEMANGAT.. !!!!

57. Mas Indra - Agustus 5, 2007

Akhirnya aku menemukan blog ini. Syahdu..bahagia…akhirnya…

58. tono - Agustus 8, 2007

mas goen, anda yang mengenalkan kepada saya getar akan kesementaraan : hujan pagi, janji, lupa,keajaiban, kenangan……. dan tak ada lagi.

terima kasih banyak.

59. wayan sunarta - Agustus 14, 2007

menarik sekali dengan adanya situs ini. kita bisa banyak pengetahuan…

60. hEnDrIkUs AdAm - September 3, 2007

Hidup adalah anugerah…..
karena hidup sebuah anugerah, maka pantas di syukuri…
Kata-kata yang dibingkai dalam catatan pinggir GM juga sebuah anugerah sebagai realitas dari buah pikiran, ide yang cemerlang….
situs ini menjadi pantas untuk terus hidup……..sebagai media berbagi invormasi dengan kata-kata sang GM….
provisiat buat GM juga pengasuh situs ini….!!!

61. hendrikus adam barage repo - September 3, 2007

Satu lagi……….
Catatan Pinggir Mas Goen….adalah kata-kata yang berantai, sebuah kata-kata yang menunjukkan keberadaannya ditengah-tengah dunia yang penuh pergolakan kata-kata…

bBrisi Catatan kritis penuh makna, inspiratif………

salam buat Mas Goen

West Borneo……….

62. wild - September 4, 2007

alhamdulillah, puji tuhan saya menemukan bloh ini. saya penggemar berat CAPING. Dengan tanpa bermaksud mengkultuskan, GM memang penulis yang luar biasa, dalam ide, dalam rasa, dan dalam kata-kata. saya bahkan mencoba mewarnai tulisan-tulisan saya dengan gaya dia, tapi gak bisa. saya selalu puas dengan tulisan-tulisannya. tapi saya masih penggemar CAPING nya, puisinya saya belum punya.

salam kenal buat CAPINGer semuanya, salam damai dalam universalitas.

63. Dedi Sukardi - September 10, 2007

Assalamu’alaikum.Wr.Wb
Semoga oom dan keluarga dalam keadaan sehat-sehat saja. Selamat menunaikan ibadah Shaum ya oo…
Wah, saya baru walking di blog caping nih. Dulu (lupa tahunnya) saya suka baca caping dari majalah Tempo (meskipun pinjam punya teman, hee..heee…).Salam dari orang indonesia asli ti tatar sunda. Dedi.

64. titik - September 21, 2007

catatan pinggir, salah satu buku yang membuat saya nyandu. seperti makan, minum dan ngemil.

65. morishige - September 23, 2007

salam kenal, pak..
hmm.. saya kan lagi baca MADILOG nih, pak.. ada ulasan tentang MADILOG tidak?
trims..

66. stepanus - Oktober 3, 2007

Syaloom,

Salam kenal, Pak..
Bapak tentu tidak kenal saya, tetapi tidak apalah…hehe
Saya menyenangi tulisan Bapak. Kemarin saya baca tulisan Bapak soal Puasa, soal dihormati…Tulisan itu sungguh inspiratif dan mengundang refleksi lebih jauh.
Saya merasa beruntung hari ini bertemu dengan Blog Bapak ini. Kesempatan terbuka lebar di depan saya, mengakses dan menikmati tulisan-tulisan Bapak.

Salam hormat penuh cinta

Stepanus-Makassar

67. erander - Oktober 14, 2007

صيمنا وصيمكم من الآعيدين والفائزين‎ تقبل الله مناومنكم

mohon maaf lahir batin jika selama ini saya hanya cuma membaca blog GM tanpa memberi komentar.

68. salman - November 7, 2007

dua orang penulis yang saya kagumi mas goenawan dan jalaludin rakhmat, mencerahkan dan mencengangkan,
semoga keduanya diberi usia yang panjang

69. Amali - November 9, 2007

GM, Thanx for joy and inspiration u’ve gave to me
Read “U” make me stronger and much “live” more than ever..
May God take care for U
*and to this blog maker also* ;p
Keep the good work

—-*Carpe Diem*—-

70. Ken - November 9, 2007

Saya sedang membaca buku GM yang terbaru “Tuhan dan Hal-hal yang tak selesai” dan banyak hal yang memang kemudian jadi saya renungi kembali ttg makna hidup dan kehidupan..

terimalah salam kenal saya, dr seseorang yang bukanlah siapa-siapa ini,

71. Dhe-Fux - November 14, 2007

dalam hidup aku mengenal tiga GM ; Goenawan Muhammad, Galih Mahendra and Gaddul Muhammad……double thumb tuk blog ini…

72. extremusmilitis - November 17, 2007

hebat, harus banyak belajar nih :roll:
*semangat*

73. hendro - Desember 5, 2007

thank’s untuk adanya blog ini.

74. panda - Desember 6, 2007

kenapa kita hanya tahu memuja? harusnya kita berperang ‘mengalahkan’ GM.

75. leny - Desember 6, 2007

ehmm…komunitas Utan Kayu kah? hihihi..
ikutaaaaaaaaaaaaaaan ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh

76. ajo - Desember 11, 2007

mbak ini blog betul2 bagus.. telah banyak memberikan inspirasi bagi siapapun serta

77. ibra - Desember 31, 2007

pak Goen, bukunya yang baru ko dikit banget isinya?
kapan caping 7 keluar?
oiya, caping 4 ko saya ngga nemu2 di tok buku ya?

78. abbas mochamad - Januari 6, 2008

GM adalah sosok misterius yang tanpa kesimpulan, beliau seperti mengigau dan bertanya-tanya tentang sesuatu yang seharusnya tidak terjadi atau mengisahkan sentimentil masa lalu yang dikangeni saat ini. GM tidak seperti pabrik tenun yang konsisten GM adalah pabrik ide yang resah, beliau lebih daripada kritis beliau seorang pendongeng yang lihai merelevansikan kisahnya dengan moment aktual. Satu yang saya kagumi dari beliau; GM selalu sangsi terhadap berbagai hal itu yang saya tiru buat kehidupan saya. Tanpa kesangsian kita malas untuk mencari. Mencari apapun juga termasuk TUHAN SANG RAJA DILANGITataupun DUIT buat anak istri.

79. the-herstory - Januari 18, 2008

thanks God i found this blog .. he he

80. Pipiet - Januari 30, 2008

salam kenal semua, ikut gabung achhhhhh
(salah satu pengagum GM nich aku :) )

81. Joe Kidd. Founder of Ricecooker & member of the lagendary band Carburetor Dung. | Sireh Dan Cengkeh Terpilih™ - Januari 31, 2008

[...] What are you currently reading and listening to right now? A. Goenawan Mohamad’s SIDELINES: Thought Pieces from TEMPO Magazine, a translated collection of Goenawan’s [...]

82. Taufik Al Mubarak - Februari 5, 2008

akhirnya saya bertemu dengan penulis idola saya. saya tak pernah melewatkan catatan pinggir mas GM di TEMPO. dulu ketika masa konflik saya paling senang membaca 2 tulisan mas GM: Aceh dan satu lagi NKRI. entah kapan aku bisa bertemu dg beliau, walau cuma sekedar salaman? pertanyaan yg blm terjawab sampai sekarang

83. Overseas Think Tank for Indonesia » MAJALAH TEMPO DAN PERJAMUAN TERAKHIRNYA - Februari 7, 2008

[...] benar bahwa mayoritas umat Kristen setuju dengan pendapat Goenawan Muhamad di atas. Sebagian dari mereka, seperti yang beredar di mailing list, berpendapat bahwa umat Kristen [...]

84. donkopings - Februari 7, 2008

Salam kenal, Bung …
Saya banyak baca tulisan Anda, sejak di Tempo, jaman dulu…
dan saya berusaha menjadi pengikut Anda. mengikuti jejak Anda menulis catatan pinggir,….

85. jeemee MH - Februari 8, 2008

ada dua baris sajak yang saya selalu ingat dari GM:
1. tidurlah untuk malam yang tak terulang
2. sesuatu yang kelak retak / dan kita membuatnya abadi.
Indonesia harus berbangga karena mempunyai seorang GM!

86. ASI (AYA SOPHIA INTEGRATED) - Februari 8, 2008

Terus terang saya sangat kagum dengan GM. Lembaran pertama yang kubaca ketika kubaca Tempo langsung halaman belakangnya. Saya ingin bisa menulis seperti GM. Saya bisa seperti beliau. Saya akan melanjutkan perjuangan beliau.

87. Moh. Sholihuddin - Februari 14, 2008

thank to GM, karena saya terinspirasi menulis dari beliau

patut disebut sebagai Pahlawan Pena Anak Negeri

88. Tatang - Februari 20, 2008

Sebelum mati ada 3 keinginan saya yg hrs terpenuhi,yaitu naik haji,menulis buku,dan makan siang bersama GM,that’s all!

89. Deka - Februari 21, 2008

Ada kesan tersendiri walau daku tidak mengenalmu secara pribadi, waktu SD kelas 6(enam)daku membaca sajak karya Bung GM, “bahwa bom yang meledak membagi bumi tidak bisa mencegah terbitnya ditimur matahari “, itulah syair kata-kata yang hingga kini terpatri di hati dan sanubari seorang anak yang mulanya untuk tampil di panggung saja tertatih-tatih dan kata sekarang demam panggung, namun dengan seiring berjalan waktu, itulah yang selalu spirit dan semangat yang tiada henti-henti ada dihati walau hanya dari liric sebuah puisi, terima kasih bung GM

90. deka - Februari 21, 2008

Dimana bisa menemui Bung, ada panel diskusi atau seminar yang gratis dan kita bisa jumpa dengan ribuan penggemar Bung GM, pasti cihuuy…..dan lucunya, pasti yang hadir dari beragam kalangan usia, dan Bung GM sendiri akan terkagum-kagum dengan tingkah polah fans berat anda, mirip fans PSSI,hik…hik…(tapi tidak semenakutkan itulah pasti!!!)

91. dharmeinsw - Maret 4, 2008

hi… aku interest pengen tau tentag biography keneth arthur yang karyanya pernah di adaptasi Rendra menjadi ‘Lawan Catur’.
ada gak yang bisa ngasih tau aku sedikit tentang penulis aslinya..?
soalnya aku da nyari ke situs-situs yang terkait… but gak ada hasil….
kalo ada tolong di bahas ya…
ato please urgent me at : dharmeinsw@yahoo.com

92. vina_melao - Maret 19, 2008

saya setuju klo Mas Goen ngadaiin diskusi terbuka buat semua orang.. pasti seru dah.. apalagi klo pake acara Jumpa fans dan road show.. wah Heboh dah..
(sebuah ide gila ngak masuk akal dari seorang yang sangat ngefans sama Goenawan Mohamad :D)

93. raha - Maret 20, 2008

bolehkah saya minta input dimana bisa saya dapatkan buku anthology puisi-puisi GM yang diterjemahkan kedalam bahasa inggris, sejauh ini saya hanya punya satu (Laksmi P)………mungkin teman2 punya koleksi versi terjemahannya. mungkin akan sangat membantu bagi saya penikmat karya-karya beliau…..

bila perlu copy-an nya saya beli……….terima kasih

bisa hubungi di >> panda_kribox@yahoo.com

94. Kelana - Maret 29, 2008

Ada lho pengekor Goenawan Mohamad. Namanya Gunoto Saparie. Mungkin karena sama-sama dipanggil Gun ya.

95. Ichonk Pribadi - Maret 30, 2008

“Kang GM: Capingmu Taburkan Inspirasi Hidup”

Sedikit saja komentarku. Aku mengenal Kang GM sejak kuliah. Lewat Caping, pertama kali kurasakan perjumpaanku dengan ide-ide besar, yang seringkali menampakkan kesan “Membosankan”, menjadi ‘renyah’. Terasa mudah dan menyenangkan sehingga menyulut semangatku untuk bergelut dengan pengetahuan. Lewat Caping pula ketertarikanku pada “perjuangan pena” muncul. Hingga sekarang, tiap kali membaca Tempo, halaman terakhirlah yang pertama kali kusingkap. Apalagi kalau bukan Caping Kang GM yang hendak kubaca. Sebab, dari Caping Kang GM semangat penaku tak pernah luntur, asa hidupku tak pernah meredup.

96. Poison Ivy - Maret 31, 2008

“GM, My Inspiration”

Sejak kuliah aku terinspirasi Mas Gun selain Marx dan Herbert Marcuse; inspirator gerakan New Left. Aku banyak terlibat dalam aktifitas desentralisasi dan otda, penguatan dan pengembangan kapasitas lokal, dan penanganan konflik horizontal. Jujur aja, aku banyak mengambil manfaat dari Mas Gun, kalo nggak memberi testimoni kayaknya nggak fair.

Saat ini jujur aja aku dalam taraf frustrasi dengan situasi saat ini dan aktifitas yang telah dilakukan. Suatu malam, aku datang ke diskusi Pemikiran Politik Alain Badiou. Sumpah, nggak connect, denger namanya aja baru saat itu. Tapi ada Mas Gun……jadi magnet yang RUAAAR BIASAAA….buatku yang lagi jutek. Sempet pula minta tanda tangan buat kejutan ultah temenku yang pengagum Mas Gun juga.

Aku sedang berada dalam sebuah tim (aku paling junior) yang memediasi konflik petani vs pengusaha yang digagas oleh sebuah institusi yang nggak ada hubungannya dengan social conflict matter dan berkomitmen kuat dalam kasus ini di sebuah wilayah di……. Prosesnya alot, menguras emosi, terutama kenyataan bahwa institusi sebesar itu dalam pandanganku nyaris tidak berdaya berhadapan dengan kekuatan kapitalis. Aku merasa terpojok, frustrasi, sendirian, terutama memikirkan hektar demi hektar lahan milik petani itu tergerus, berpindah tangan, dan mereka terusir dari tanahnya sendiri.

Malam itu aku nggak tanya, nggak memberi komentar, aku nggak ngerti Badiou, kalau Badio aku tau (Subadio Sastrosatomo….hihih Mas Gun bisa aja, semasa kuliah aku nongkrong di Guntur 49). Tapi Mas Gun bilang dalam forum itu, “dalam keadaan yang putus asa dan bosan dalam pemilu dan desentralisasi, kita jangan bosan dengan hal-hal yang praksis”. Seolah-olah, Camus yang berkata langsung dengan hatinya, bahwa aku tidak sendirian dan yang kulakukan tidak sia-sia, bahwa selalu datang hari ketika istana-istana penindasan runtuh, pengasingan berakhir, dan kebebasan terbakar.

Terima kasih buat inspirasinya Mas Gun. Me and my friend love you!!!

97. bambang - April 11, 2008

saya adalah menjadi bagian dari tulisanya,ketika begawan goen udah semakin tua justru semakin jauh dri batas kesdaran dirinya,seolah -olah semua sudah selesai hari ini tak ada hidup lagi sesudah mati atau hanya akan menjadi cacin-cacin g tanah?sehebat itukah begawan goen?mungkin anda mengangap Tuhan tak ada,atau anda lebih hebat dari syafii yang menangis menjelang kematiaanya?renungkanlah hidup sebentar lagi gelap……

98. Dion Bata - April 17, 2008

Sebagai pelanggan Tempo dan terutama menggemari Catatan Pinggir Mas Goen, saya selalu link ke blog ini. Terima kasih buat pengasuh blog. GBU.

99. koong - April 28, 2008

Mas Goen adalah penulis yang saya jadikan guru dalam menulis

100. sidik - Mei 9, 2008

Goen, saya memang pengagum berat anda. satu hal yang saya sesalkan adalah bahwa anda tidak tahu kalau seluruh konsep yang telah anda tulis, telah menjadi bagian dari isi naskah novel yang saya buat. sayang, naskah itu belum mau terbit juga. tak ada yang mengerti tentang diri saya mas!

101. sidik - Mei 9, 2008

tentang Reyna, judul salah satu caping kalau saya tidak lupa lagi, telah benar-benar membuat adik perempuan saya menangis. Goen harus bertanggung jawab dengan memberi komentar atas naslah novel saya yang belum juga terbit (karena mungkin sedikit orang yang tahu)

102. gody - Mei 14, 2008

goen muhammad dan Pramudya A toer adalah 2 tokoh yang sangat kukagumi……………. aku banyakkkk blajar dari kedua tokoh ini dan kerinduan ku smoga kelak aku bisa bersua dgn mas GM…… doain yaaaaaaaaa sesekali datang dong ke STFK.LEDELERO Maumere-NTT

103. husni - Mei 28, 2008

sudah lama saya mendengar blog ini. tapi baru kali ini saya bisa menikmati. banyak gagasan yang mencerahkan di sini. meski tidak semuanya bisa saya sepakati. muantab :) :D

tanktop - Oktober 20, 2009

aq, juga, ngikut,..

104. Kapan Pancasila Lahir? « DjunDiBlog - Juni 2, 2008

[...] seperti ubi. Metafora ini ditulis Goenawan Mohammad (GM) dalam catatan pinggir tanggal 12 September 1981 (Catatan Pinggir, Pustaka Utama Grafiti, [...]

105. bowo - Juni 2, 2008

salam kenal buat pak gunawan, tulisannya bagus, kapan kapan hadir dong di jogja di acara studio pertunjukan sastra

106. Dedi Azqia - Juni 9, 2008

saya bukanlah orang yang terlalu kenal dengan GM, saya cuma mengenalnya melalui beberapa buku yang pernah saya baca. namun tiba-tiba saya jadi mengaguminya setelah saya membaca buku-bukunya.
kalau boleh saya ingin mengatakan dia lebih layak dinobatkan sebagai guru bangsa…..

107. Ferry Hidayat - Juni 13, 2008

Wah Goenawan Mohamad kui wonge cerdas tenane e!aku baca tulisan-tulisane GM seperti saya dikenalkan dengan tokoh-tokoh impor seperti Albert Camus, Maxim Gorky, Milan Kundera dll, Aku sudah ngoleksi buku-buku GM dari SMP, sejauh ini saya dah ngumpulin caping 1 sampai terakhir, dan buku GM yang terakhir aku beli ” Eksotopi” dan ” Tuhan dan Hal-hal yang tidak selesai”

108. Ferry Hidayat - Juni 13, 2008

Baru pertama kali saya lihat sosok GM di TV, ya itu pun ga sengaja gara-gara tragedi Monas, saya lihat GM berkomentar. Ha-ha-ha ternyata GM orangya ceking, keriput, dan tidak banyak omong!GM bisa boso ngapak ora ya? lah dia kan dari batang Pantura?

109. Goenawan Mohamad - Juni 13, 2008

Saya bisa bahasa jawa ngapak kok mas?, ha-ha-ha, kepriben? tulisan-tulisanku apik-apik mbok?

110. arlin - Juni 23, 2008

salam kenal mas Goen, saya tertarik dengan tulisan2nya yang berani, edukatif serta dibawakan dengan gaya bahasa sastra yang sangat indah. saya tidak punya latar belakang sastra atau jurnalis seperti Mas Goenawan, tapi saya hobi menulis dan ingin menjadi penulis besar seperti mas Goenawan…boleh ga blog-nya Mas Goen nge-link dengan blog saya?…pareng Mas…

111. padjar - Juli 29, 2008

Untuk Goenawan Mohamad:

Selamat ulang tahun.

Mudah2an masih tetap bunyi di usia 67 ini, dan bunyi itu tetap memberi saya getar energi, inspirasi, dan kesadaran berendah hati.

Terima kasih untuk kerja yg sangat berarti selama ini.

112. Inprodic - Juli 30, 2008

@padjar: terima kasih mengingatkan.

Untuk Goenawan Mohamad:

Selamat ulang tahun…!

Semoga Tuhan Yang Maha Lain me-ridhai semua karyamu. Amien

113. Ajie - Juli 31, 2008

Selamat Ultah untuk Goenawan Mohamad….semoga di berikan kesehatan dan umur panjang sehingga tetap bisa terus menciptakan karya-karya yang indah dan kritis yang bisa melawan kemandekan dalam berkarya & berpikir

114. agantha - Agustus 7, 2008

aduh !
saya menghilangkan puisi goenawan mohammad yang berjudul
penemuan seorang yang terbunuh di hari pemilihan umum 1965
ada yang tau bait”nya ?
tolooooongggg

115. rere - Agustus 10, 2008

Selamat ultah UA GOEN … dari keponakan nih…

*pernah mampir kesini ngga ua ?* :P

salam juga buat Bumbung, Mita dan Ua

Salam dari Africa

116. melao - September 28, 2008

mas Goen.. you’re still the best!!

117. -qQ- - Oktober 12, 2008

Mas Goenawan, kami dari Pers Suara Mahasiswa UI ingin mengundang Mas Goen sebagai pembicara dalam Pelatihan Jurnalistik Suara Mahasiswa. Kami bisa kontak Mas Goen kemana ya?

terima kasih..

salam pers!

118. Prih Suharto - Oktober 15, 2008

Saya sudah baca caping-nya Pak Goen waktu saya masih mahasiswa di awal tahun 80-an, tapi baru ketemu dari dekat dan bisa ngomong-ngomong (sambil ngantar Pak Goen ke mobilnya yang sederhana itu) 25 tahun kemudian ketika kantor kami, Pusat Bahasa, ngadakan seminar di Hotel Acacia dan Pak Goen menjadi salah seorang pembicaranya. Ternyata Pak Goen lumayan ramah dan terkesan tak suka banyak omong, padahal dia “sangat royal” berkata-kata lewat tulisan-tulisannya. Dan kita semua dicerdaskan olehnya. Matur nuwun, Pak Goen. Semoga tulisan-tulisan Anda menjadi amal baik Anda.

Salam,
Priharto

119. Farhan - Oktober 18, 2008

Salam kenal pak.. sudah lama saya ingin berkomentar di blog Bapak, cuman segan aja pak (kata abegeh.. Goenawan Mohamad Gitu Looh..he2…).. Btw have a nice blogging pak.. Tulisan bapak memberi inspirasi dan semangat.

Salam!!

120. plato - November 4, 2008

Superhero wannabe

121. the.tintamerah.info » Pahlawan - November 10, 2008

[...] di negara ini, dan di pemerintahan manapun di permukaan bumi, memiliki penyakit yang sama memang. Goenawan Mohamad memang tak salah berkata bahwa kita mengidap amnesia sejarah. Melupakan sejarah tentang ratusan [...]

122. Haikal - November 18, 2008

Saya bukan orang penting, hanya seorang mahasiswa biologi ITB tingkat 2. Kalau ada waktu senggang, saya harap bapak GM sudi mengunjungi dan meninggalkan komentar di blog saya yang baru saya buat.
Linknya di lakiahlakiah.blogspot.com.
Tulisan bapak banyak menginspirasi saya. Baik dalam perbuatan, pemikiran, maupun dalam tulisan. Sehat selalu, pak.

123. rayfayudha - November 22, 2008

trima kasih pak rozak..berkat beliau sy dpt mengenal GM sbg sastrawan yg berkharisma…
kumpulan puisi2nya dalam parikesit (1969),akan sy cb telaah sbg bahan kuliah sy..
mohon izin dan doa’nya Goen dan kawan2

124. bibikpici - November 25, 2008

sastrawan sejati..

125. Arief Zein - Desember 7, 2008

GM, mendengar namanya pikir ini merinding..
GM, menyebut namanya rasa ini tergolak..
GM, kata yg tak biasa..
GM, tak ada kata yg mencuat dari mulut ini untuk melukiskanmu
GM, GOENAWAN MOHAMAD

betulkah dikau menagis saat AR gagal di 2004?

126. anwar aris - Desember 15, 2008

Salam.
GM tonggak sastra Indonesia. Jamuan caping-nya adalah pesta para pembacanya: suguhan ranah pemikiran-renungan, luas dan renyah. Panjang umurlah Mas Goenawan Mohammad. Amien.

127. mikoalonso - Desember 27, 2008

mantap

128. Mohammad dwi nanto - Desember 30, 2008

Ass. Wrb. salam kenal pak GM. berulang kali saya membaca kolom catatan pinggir Tempo. yang tertulis di akhir cerita selalu muncul GM. Siapa GM dalam hati saya selepas membaca tulisan yang tidak pantas saya komentari (alias tidak bisa mengurai kata). Blog ini membantu saya dalam pencarian pak GM. Mohon rasuki semangatmu kedalam jatidiri pemuda-di bangsa agar kami bisa berbuat banyak demi kebaikan negera ini.

129. Albert - Januari 1, 2009

Selamat Tahun Baru 2009 Oom GM.
Terimakasih atas kalimat “ia merayakan adanya gunung” dalam Catatan Pinggir terbaru.

Salam,
AM

130. gozali - Januari 15, 2009

blognya oke, tulisan GM adalah tulisan yg penuh inspirasi utk memaknai hidup ini lebih bermakna.. sukses selalu

131. Divansemesta - Januari 27, 2009

Banyak info yang bisa diambil dr gunawan. dan info ini bisa dijadikan kutipan penulis-penulis yang sukanya kutap-kutip. mungkin seperti saya. sayangnya saya bukan penulis :)

132. farHanz - Februari 4, 2009

selamat siang pak..salam budaya!!!
maaf aku mau tanya sampai sejauh mana peran sastra terhadap koran pada masa kini?

133. Beni Sutrisno - Februari 6, 2009

terima kasih untuk mengusahakan blog ini… sangat berguna bagi saya dan semoga berguna juga bagi yang lain

Salam,

134. decky - Februari 11, 2009

Gm adalah “manusia langka”,pikiran,tulisan,dan langkahnya gaya bahasanya dalam menulis tiada bandingnya.
Banyak penulis Essai yg dimiliki negri ini,rata2 hanya menguasai satu bidang,mis. sastra saja,atau budaya,atau politik, musik film,..
Tapi tidak dg GM dia menguasai banyak hal,Filsafat Yunani kuno-hingga Filsat modern,Max Weber, Karl Max,Nietzcshe,Haidegger,sampai filasat Jawa, Perwayangan,Tokoh Musik Country,Jazz, Lokal mancanegara,Tokoh Politik Dunia,Mafioso Italia,Olahraga,Lingkungan,Geografi Dunia,Tokoh Film Lokal-Holiwood,Sutradara penulis Skenario dunia,Kebudayaan Dunia, Indian,aborigin,Negro,Romawi,Persia,Islam Arab,tentang Nazi,Yahudi,Kristiani,Konfosius,pokoknya semua deh,seni Peran teater,Tari,tokoh Fashion ,dan Novel .apalagi ini adalah bidangnya,semuanya deh.Saya punya kumpulan Caping 1 sd 4, isinya keren.. kayaknya Dewi Lestari( Dee Dee),dan penulis muda indonesia lainnya,harus belajar banyak saben hari sama GM.Kalo ada Perkuliahan/Studi tentang teknik penulisan Essai oleh GM, aku mau ikutan deh….
Viva GM

135. risdiantoro - Februari 13, 2009

semuanya memuji, emang hebat banget kah Goenawan Muhamad entu?…. pengalaman dari baca caping-nya tulisannya emang indah tapi tak bisa juga untuk tidak mengakui kalau ‘sedikit membosankan’ juga, dimana rima dan tema dibahas dengan ringan..boleh lah..tapi terlalu ringan juga bisa terasa tak ada muatan yang cukup tedas juga kan???dalam kritik pada budaya kita yang lagi melempem ini,,, kurang diskusif, mungkin. Intinya sentuhan yang terlalu lembut untuk membangunkan sesuatu yang sedang tertidur pulas…he he he, mas Goen masih bisa di kritik kan??????????

136. Dedisyah - Februari 23, 2009

Surat Terbuka:
Kepada Mas Goenawan Mohamad yang terhormat!

Salam,

Ketika itu, sekira bulan Juni-Juli 2008, seorang sahabat bernama Bonny Triyana datang ke kantor kami yang terletak di Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta. Ia yang waktu itu masih bertugas sebagai wartawan sejarah di Harian Jurnas berniat meminjam sejumlah buku-buku Tan Malaka. Menurutnya, buku-buku tersebut sedianya sebagai bahan untuk menyusun Edisi Khusus Majalah Tempo.

Tanpa berpikir panjang, karena memang kebetulan buku-buku yang dimaksud Bonnie ada pada kami, akhirnya sejumlah buku kami serahkan, yakni:

1. Madilog (edisi Widjaya Djakarta).
2. Dari Penjara ke Penjara II (edisi Pustaka Murba Djogjakarta).
3. Dari Penjara ke Penjara III (Pustaka Murba Djakarta).
4. Thesis (edisi Yayasan Massa).
5. Massa Actie (edisi Yayasan Massa).
6. Gerpolek (edisi Jajasan Massa Djatim).
7. SI Semarang dan Onderwijs (edisi Yayasan Massa).
8. Menuju Republik Indonesia (edisi Yayasan Massa).
9. Kumpulan tulisan:
a. Manifesto Jakarta (edisi Yayasan Massa).
b. Uraian Mendadak (edisi Yayasan Massa).
c. Sambutan Presiden RI Pada Kongres Partai Murba (edisi Yayasan Massa).
10. Islam Dalam Tinjauan Madilog (edisi Yayasan Massa).

Gagasan Edisi Khusus hari kemerdekaan itu sendiri memang sudah lama kami dengar dari Bonnie. Dan Pendeknya Majalah Tempo ‘Bapak Republik yang Dilupakan’ terbitlah pada 11 Agustus 2008.

Sangat kami sayangkan, ketika program tersebut usai, tidak diakhiri dengan kelegaan (mungkin kelegaan ada kepada tim penyusun) namun sebaliknya, menyisakan kegeraman karena hingga surat ini diedarkan, Senin 23 Februari 2009, buku-buku milik kami, belum ada tanda-tanda akan dikembalikan.

Maka, dengan tanpa mengurangi hormat kami kepada Anda, melalui surat ini pula kami meminta niat baik Anda (serta pihak-pihak yang berkompeten) hendaknya mengembalikan buku-buku tersebut. Ini merupakan langkah awal kami karena kami yakin Mas Goen yang kami kenal sangat tidak sepakat dengan ketidakadilan, tentu peka terhadap reaksi kami ini.

Demikian yang dapat kami sampaikan, dan menanti respon Anda.

Dedi Yuniarto
PT Jyesta Communication
Jl. Tegal Parang Selatan Rt 04/02 No. 86
Tegal Parang, Mampang Prapatan
Jaksel 12790

137. Ila Edam - Februari 28, 2009

GM, tulisan anda selalu menginspirasi saya. bolehkah saya berguru kepada anda?

138. Majid - April 26, 2009

Salam,
Kepada Goenawan Muhammad yang saya hormati,

Saya mau tanya sesuatu. FIlm-film apa yang disukai sampean?

Terima kasih,
Abdul Majid,
Pati, Jawa Tengah

139. Gunawan K - Juni 17, 2009

Apakah saya salah lihat?
GM yg saya kagumi karena pandangan yg luas dan sangat humanis.
Tampak hadir di kampanye SBY Boediono?
Sungguh saya ter kaget2.
Mudah2an saya salah lihat.

140. yundanita - Juli 4, 2009

blog yang sangat menarik!

141. ufik saladin - Juli 10, 2009

Pak goen yang saya hormati!!! bagaiman saya mendapatkan buku kumpulan catatan harian bapak? terus terang pak!! sekarang mendapatkan buku-buku bapak sangat sulit diitemui? terus terang pak, saya banyak belajar jurnalistik dari membaca sebagian-sebagian karya bapak yang banyak tersebar dimedia-media.trims.

142. inna - Juli 15, 2009

pak goen yang ina banggakan. ina mau minta tolong. saat ini ina sedang menyusun skripsi tentang caping GM. ina butuh wawancara.gimana caranya ya pak. bisa minta alamat email bapak.

143. Taufik Al Mubarak - Juli 17, 2009

sejak SMP saya sudah membaca TEMPO zaman tahun 1989-1992, dan saya menyenangi kolom Catatan Pinggir. Malah, sampai sekarang kalau saya membaca majalah TEMPO, pasti saya baca dari belakang dulu, baru kemudian kolom-kolom para pakar. Blog yang bakal saya kunjungi terus nih

144. Tyo D. Sudagung - Juli 20, 2009

saya mungkin baru kali ini membaca secara teliti isi blog ini, padahal link blog ini sudah lama ada di blog saya. Saya juga mulai sering membaca TEMPO sejak saya masuk semester 1 perkuliahan sejak Agustus 2008 lalu. Setelah membaca beberapa tulisan di blog ini, saya tergugah dan menjadi tambah semangat untuk lebih belajar menulis supaya suatu saat nanti bisa menjadi penulis seperti GM.tengs buat tulisan-tulisannya yang membuat saya semakin termotivasi.

145. KangBoed - Juli 21, 2009

SALAM CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG

146. free football manager downloads - Juli 27, 2009

Caping merupakan Kitab Suci Kedua

Sepertinya saat tuhan menurunkan sabdanya satu persatu (bukan serentak turun semua), mungkin juga karena Dia terinspirasi oleh ulah manusia.

GM berbuat hal serupa

147. R.M.A. Ahmad Said Widodo, A.G. - Juli 29, 2009

Aku adalah salah seorang pembaca setia “Catatan Pinggir”-nya mas Goenawan Mohamad, baik di dalam bentuk esai di Majalah Tempo maupun di dalam bentuk buku kumpulan esainya “Catatan Pinggir” Jilid 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Aku begitu terkagum-kagum dibuatnya. Salut buat mas Goen. Teruslah berkarya dan berkarya. Anda sejajar dengan para penulis handal Indonesia lainnya bahkan di dunia.Terimakasih.

148. rolly130583 - Agustus 10, 2009

gun, otakmu itu bermerk apa?
Mencerminkan semangat,
memupuk persaudaraan,
memelopori perjuangan seni.

149. hasim - Oktober 8, 2009

hebaaaat
salam kenal
numpang lewat

150. Riyanto - Oktober 13, 2009

Beliau cerdas dan sangat sederhana, memiliki semangat untuk mencerdaskan bangsa ini. orangnya juga legowo. saya takut kalo beliau meninggal, GANTINYA SIAPA lagi?

151. Riyanto - Oktober 13, 2009

jujur saya sering ke SALIHARA hanya untuk melihat wajah BELIAU. saya takut kalo Beluai MENINGGAL siapa yang mau jadi gantinya?

152. Riyanto - Oktober 13, 2009

1.pertama kali saya ketemu Beliau (Pak GM) di acara bedah buku nya Pak BOEDIONO, di jakarta: langsung saya minta foto bersama namun hasilnya BURENG

2. Ikut kuliahnya Humanisme oleh Pak GM, lalu foto bersama dengan beliau hasilnya BURENG lagi

3. Mau minta foto bareng lagi takut BURENG, jadi malu dehhhhh

153. Rizky Syaiful - November 5, 2009

GM for President.

saya siap ikut kampanye pak…

154. rajawali - November 15, 2009

begitu beragamnya variasi pembaca mas goen. o ya, mohon dibagitau dimana bisa baca tempo edisi khusus ” bapak republik yang dilupakan”?

155. rizky90syaiful - November 16, 2009

yang Tan Malaka ya?

kemarin ada yang jual bekasnya waktu ada acara di FIB UI…
berburu di toko loak seharian saya rasa cukup…

156. Maren Kitatau - November 16, 2009

Yes!
Bung Goen tuh mencerdaskan,
Dan meluaskan pikiran kita.

157. Cecep Hasanuddin - Desember 5, 2009

Saya butuh pemikirannya,juga butuh bukunya. Terutama Caping-nya…Bagus!!!

158. aduyirt - Januari 2, 2010

sy suka caping juga blm terlalu lama..tp baru mengetahui wp ini dari seorang teman..
maju terus GM..
keep inspiring!!

triyudha
makassar

159. i made aribawa nada - Januari 4, 2010

Setiap ada majalah tempo, yang pertama saya cari pasti catatan pinggir dai GM. Karena itu sangat mengena di hati dan itu bertentangan dengan realita di masyarakat. Seandainya rakyat indonesia semua baca…. alangkah harmonisnya negeri ini…

160. Toto Pangakhir - Maret 20, 2010

GM — maaf, -setelah berguru pada GM sendiri- saya justru takut memutlakkan definisi — MUNGKIN [catat, tidak ADALAH] sebuah enigma yang masih mencari forma. Ia menerangi, tapi bisa juga ‘menggelapankan’. Ia adalah kejernihan yang kadang burai oleh ragu yang menyembunyi. Kebenarannya pun begitu JERNIH. Tapi –enigmatiknya– ia lesakkan juga sesuatu yang amat payah untuk disebut jernih. Perjalanan aneh sebuah institusi person bernama GM. Saya hanya mendoa, dalam ujung kembaranya ia ‘pana dalam keabadian waktu’ di titik cinta sang ‘sufi sejati’. Di pinggiran hayat, iblis tak hendak kuwawa menggoda; ia yang berkata dalam ‘igau abadi’, menatat nanar, ENGKAU ADALAH PERSONA CINTA, tak semestinya dan layak menampik CINTA SUPRAEKSISTENSIA….

161. ibnu sina - Mei 8, 2010

yang mengasuh blog ini, sampaikan pada GM, bahwa Reyna, judul salah satu caping, mohon bisa diakses di internet; sebab saya cari daftar judul ini, ternyata tidak terdaftar…

162. adit - Juni 17, 2010

nice blog…..GM g ada matinya. vey inspired

163. yuwono - Juli 4, 2010

Angkat topi u. pengembalian Bakri Award, saya sebagai korban lumpur Lapindo hanya bisa menangis Sidoarjo dijadikan target oleh bakri u. berkuasa melalui kaki tangannya maju lewat pilkada, BPW ( manager operasioonal MLJ) Yuniwati (humas PT. Lapindo Brantas). yang notabene, keduanya tidak bisa menyelesaikan masalah sosial korban lumpur. Bagaimana dia bisa pimpin Sidoarjo, wong nangani masalah sosial aja nggak bisa, beri saya saran untuk menggagalkan mereka berdua maju di pilkada sidoarjo. saya nggak akan terima salah satu dari mereka pimpin sidoarjo

164. yuwono - Juli 4, 2010

cacat hukum pencalonan bupati sidoarjo dari Lapindo.
proses hukum lapindo belum selesai pentolan Lapindo ramai-ramai mencalonkan diri jadi bupati sidoarjo, ada apa ? target apa yang di harapkan oleh bakri di bumi sidoarjo. Korban lumpur belum hilang dukanya kehilangan rumah, sosial kemasarakatan, keluarga, sanak saudara, keterpurukan ekonomi, terganggunya kesehatan dan masih banyak lagi efk dari meluapnya lumpur di kampung halaman kami, ganti rugi belum juga kelar. harapan sya wakil dari bakri tidak akan pernah jadi bupati di sidoarjo. adakah trik & tip untuk mereka tidak akan memenangkan pilkada bupati sidoarjo, saran2 kami tunggu

165. Vitalis Wolo - Juli 4, 2010

Tautan antara kedalaman refleksi, keluasan wawasan, dibaluti empati dan kemampuan sang penulis meramu dan memilih diksi, menjadikan CAPING adalah semacam “kitab suci” juga. Disinilah fungsi penulis sebagan “nabi” menemukan habitatnya yang tepat. Dan GM adalah “NABI” itu….. Satu CAPING favorit saya yang sangat inspiratif dan tak henti-hentinya saya baca adalah “THE DEATH OF SUKARDAL”. Profisiat untuk penulis yang konsisten tidak hanya dalam menulis tapi juga menjadi teladan untuk generasi Indonesia sekarang dan masa depan.

166. gowier Esha - September 4, 2010

dinding ini hanya berfungsi sebagai pembatas penglihatan.
aku tidak tau dan memang tidak mau tau ada apa dibaliknya.
karena disini aku merahasiakan mauku.
Bang,” ceritakan semuanya padaku,”kata istriku….
aku hanya menengok, dan menggeleng.

Diek……..

167. anung - September 17, 2010

hmm lengkap juga biografinya di blog ini, baguslah nambah referensi.

168. Abdalla Badri - November 7, 2010

ada banyak perlawanan arsitektural dalam tulisan-tulisan GM. Dia “nabi” di tengah jahiliyyahnya negeri, ketika di kepung para “bandit” tak bertanggungjawab.

abdallabadri@yahoo.co.id

destar pank - November 11, 2010

kapan kk bisa bikn clan

169. destra picatso prasetya putra - November 10, 2010

kk aq kok dak biisa bikin clan ya ap caranya bikin clan

170. destra picatso prasetya putra - November 10, 2010

kk kapan bisa buat clan lagi aq dak bisa bikin clan nih

171. Zain Mallawa - November 11, 2010

CAPING ya GM… GM ya CAPING
Syukur atas kehadiran blog ini…
VIVA KEBEBASAN BERFIKIT…

172. Ihsan Alma'ruf - November 11, 2010

Terimakasih atas terbitnya blog ini. salam kepada pengasuh. Kita doakan Semoga Mas Goen senantiasa sehat walafiat dan tetap terus menulis tuk memberikan inspirasi bagi kaum muda bangsa ini. Semoga kau panjang umur Mas Goen, sehingga kami bisa membaca karya-karyamu.

173. Tulisan di Blogspot - November 15, 2010

Makasih infonya…

Nice post..
If you have check Pagerank, you can visit blog Check Pagerank

174. koen - November 19, 2010

minta alamatnya Pak Goen dong.. plisss… mau maen ke rumahnya nih….

bee - Februari 13, 2011

di NERAKA

175. elviriadi - Desember 29, 2010

pintar memang iya. tapi kekritisan mas goen harus bila berdepanan dengan syariat Islam, harus hati-hati karena ia tidak hanya dapat ditakar dari nalar kritis. perlu ilmu agama, seperti ushul fiqh, ulumul quran, ulumul hadits supaya tidak terlalu liberal dan salah tafsir terhadap ajaran islam. saya termasuk sunggguh menyayangkan bila intelektual muslim seperti GM bergabung dengan Jaringan Islam Liberal. JIL ini justru menolak perbedaan, inisiatif dan gagasan merdeka yang merupakan cita-cita tulisan pak GM. wallahu’a’lamu

176. budi, Jogja - April 16, 2011

aku tak pernah percaya mas GM setua itu (lahir 1941??), karena bagiku tulisannya sangat berjiwa muda, gelora yang tak pernah padam, bahkan mampu menegakkan rumput-rumput layu. itulah alasan kenapa kita lebih suka memanggilnya mas Goen, bukan Pak Goen.
Semoga panjang umur Mas Goen,karya-karyamu adalah pencerah yang tak pernah padam, teruslah berkarya

177. Devi - April 30, 2011

assalamu’alaikum..
sya ingin skali memiliki buku GM, tp sungguh sulit mncariny.
skrg sy brdomisili d srbya, apakah anda bsa memberitahu dmna sy bsa mendapatkanny??
trima kasih..

178. nico i.m - Mei 1, 2011

gm ngapo chit mase ado kan lah di ban

179. Dadan Mulyadansyah - Mei 14, 2011

bolehkah saya copy paste “Sastrawan Catatan Pinggir” untuk webkami http://www.forsa5sukabumi.co.cc sebagai sumber pembelajaran bagi siswa-siswi kami, yang tentunya akan dicantumkan sumbernya?

180. LINTANG, ANTARA JURNALISME DAN SASTRA « katakutukita - Agustus 2, 2011

[...] melalui opini dan pumpunan. Kelak, ia ingin membukukan tulisannya menjadi semacam kumpulan “Catatan Pinggir” milik Goenawan [...]

181. idrusbinharunun - Agustus 20, 2011

salah seorang sastrawan dan budayawan paling berpengaruh hingga ke antero negeri dan dunia… sangat inspiratif. terutama puisi2nya

182. Dita - Agustus 20, 2011

@Kelana: gunoto saparie bukan hanya pengekor, tapi juga penjiplak tulisan-tulisan orang, alias plagiat. lihat saja tulisan gunoto di suara karya 10 agustus 2011 “mengurai masalah RUU BPJS” yang terang-terang menjiplak bulat-bulat tulisan i gusti agung anom astika di sinar harapan 20 juli 2011 “sesat-pikir RUU BPJS” .

dan ternyata tidak sekali ini gunoto saparie mencontek tulisan orang lain, track recordnya bisa dilihat di blog tahun 2008: http://n0vri.wordpress.com/2008/07/11/dicontek-mentah-mentah/. penulis-penulis plagiat macam gunoto saparie tidak bisa terus-menerus dibiarkan dan diberi ruang oleh media massa karena mengotori dunia intelektual kita.

183. wulan - September 23, 2011

terimakasih banget udah bikin blog ini

184. tentang GM « Catatan Pinggir - Februari 2, 2012

tentang GM « Catatan Pinggir…

[...]Sastrawan ‘Catatan Pinggir … Pelacur; Hikayat abdullah; tentang caping; tentang GM; Harmoko; galeri buku GM; tentang blog ini; Nasionalisme; Tanggapan.[...]…

185. edy - Februari 15, 2012

Secara pribadi saya tak mengenalnya.

Namun, dari gaya tulisan-tulisannya itu, saya mulai menebak-nebak penulisnya. Kadang ikut juga mencecap rasa “getir”-nya itu, saat ia beranjak dewasa.

Benturan -benturan hidupnya, nampaknya membekas begitu dalam. Ia, selalu bisa mengatasinya untuk tak menjadi murung. Mungkin karena ia seorang yang cerdas dan pendiam atau barang kali ada kekuatan lain yang selalu membuatnya tak tunduk.

Pengalamannya di saat-saat Orde Baru, di tengah situasi politik yang serba represif, dimana media lebih banyak “tiarap” dan tak mampu bicara lantang dan jujur, ia pun mencoba untuk tetap merdeka untuk tak tunduk, demi kebenaran.

Ia tak ingin dibungkam oleh penguasa yang diktator. Ia tetap ingin menyampaikan kebenaran, walau tak berteriak. Karena bagi penguasa, membabar kebenaran adalah sebuah upaya membangkang. Ia sadar akan hal itu.

Situasi inilah, yang rasa-rasanya menjadi embrio lahirnya jenis tulisan Catatan Pinggir di kolom Tempo. Ia tak ingin berteriak. Walau lirih, ia tetap ingin menyuarakan kebenaran. Inilah suara seorang GM yang pendiam itu. Mungkin juga pemalu.

186. tentang GM « Catatan Pinggir - Maret 5, 2012

tentang GM « Catatan Pinggir…

[...]tentang GM « Catatan Pinggir… [...]Sastrawan ‘Catatan Pinggir … Pelacur; Hikayat abdullah; tentang caping; tentang GM; Harmoko; galeri buku GM; tentang blog ini …[...]…

187. Yoko PS - Juni 6, 2012

Gunoto Saparie dan Goenawan Mohamad sama-sama kukagumi. Mereka penyair liris yang sangat diperhitungkan di negeri ini. Salam sastra.

188. social media - Oktober 4, 2012

Good day! This is kind of off topic but I need some help from an established blog.
Is it very difficult to set up your own blog? I’m not very techincal but I can figure things out pretty quick. I’m thinking about making my own but I’m not sure where to begin. Do you have any tips or suggestions? Appreciate it

189. /blog/4574777348/Michael-Kors-Owns-the-Internet-Deborah-Needleman-Apologizes-for-T‘s-Lack-of-Diversity-and-Models’-Salaries-Exposed/5193956 - Maret 23, 2013

Great post. I used to be checking continuously this blog and I’m inspired! Extremely helpful information specifically the ultimate part :) I take care of such info a lot. I was seeking this certain info for a very lengthy time. Thanks and good luck.

190. sunartri boedjonagoro - Juni 23, 2013

Catatan Pinggir GM di TEMPO begitu memukau, Gaya Sastra GM sebagaimana Seni, menjadikan ketenangan batin yang sejati, karena Sastra juga dapat mengajarkan kepada kita untuk hidup berdampingan dengan damai, walau berbeda dalam iman.

191. toko buku online murah - Februari 5, 2014

Hello, i think that i saw you visited my blog thus i came to “return
the favor”.I’m trying to find things to improve my
site!I suppose its ok to use some of your ideas!!

192. jasman - Maret 12, 2014

aku ingin mengenalmu lebih dekat.. andaikan GM tinggal di Bulukumba????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 346 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: