jump to navigation

Ini Pagi, Kata Kartini April 28, 2008

Posted by anick in All Posts, Sejarah, Tokoh.
trackback

It is morning, Senlin says, and in the morning
Should I not pause in the light to remember God?

–Conrad Aiken.

Ini pagi, kata Kartini, dan bila pagi seperti ini, ia akan berangkat kerja, naik ojek dengan motor yang guncang, terpekur di sadel plastik yang gelap, mungkin mengingat ujung mimpi, mungkin mimpi.

Ini pagi, kata Kartini, dan bila pagi seperti ini, ia akan turun di pengkol gang yang patah, sebuah lorong dengan nama seorang haji, dan akan menyusuri aspal kusam, dan akan membayangkan dirinya menyanyi, mungkin sebuah lagu Dewi Persik, mungkin sejumlah goyang, sejumlah angan-angan, mungkin fantasi.

Ini pagi, kata Kartini, dan bila pagi seperti ini, di tempat kerja itu, di sebuah panti pijat, si asisten pemilik usaha akan berkata kepadanya: ”Jangan lupa gembok.” Dan ia akan mengambil di lokernya celana-dalam seragam yang hijau itu, dengan retsliting mengkilap, dengan gembok kecil yang merah.

”Jangan lupa gembok”. Aku tak akan lupa, tak akan lupa. Gembok itu melindungi perempuan pemijat dari dosa, kata pegawai jawatan agama kabupaten; gembok adalah teknologi kealiman, peranti iman, pelindung harmoni keluarga, perisai kesehatan jasmani & rohani. ”Tentu, tentu, tentu. Amin, amin, amin,” kata Kartini, kata Kardinah, kata perempuan-perempuan pemijat, kata asisten pemilik usaha, dan tak seorang pun yang tak patuh.

Ini pagi, kata Kartini, dan tiap pagi di tempat ini selalu dimulai dengan ingatan tentang dosa, kekotoran manusia, atau najis, Tuhan yang mengirimkan sifilis, insan yang menyembunyikan kemungkinan-kemungkinan jorok, syahwat yang hanya sedetik dirasakannya, dan fatwa yang menyuntikkan ke jantungnya segumpal rasa bersalah seperti dokter menyuntikkan serum kuda.

Siapa yang bersalah? Ini pagi, kata Kartini, jam-jam pertama ia mencari upah, tak mencari laki-laki. Ini pagi, kata Kartini, benarkah ia selamanya paham apa yang dikehendaki laki-laki? Suaminya yang cemburu tapi lapar dan malas mengantar si Ujang ke sekolah; pak cik yang tiap Jumat datang menagih utang karena ia sendiri hidup dari utang; satpam yang selalu sangat ramah kepada istri pemilik warteg di pinggir jalan, dan tukang ojek yang selalu berkata lewat kaca spion sepeda motornya, seperti mau mengejek, ”Aku tak suka bau badan.”

Siapa yang bersalah? Laki-laki yang tak mau memakai gembok di celana-dalam, kata Kardinah: bupati yang selalu berpikir tentang seks; anggota dewan yang percaya ada gerakan pengedar syahwat di selatan khatulistiwa; komandan koramil yang punya senyum mesum; nyonya kepala jawatan agama yang kalang-kabut mengintip film ”begituan” dan merasa betapa gemuruhnya godaan dan asyiknya kenikmatan, astaghfirullah, astaghfirullah.

”Jangan lupa gembok”. Laki-laki adalah otak, kata ketua Majelis Ulama setempat, perempuan adalah badan. Laki-laki matahari, perempuan bumi, katanya lagi. Yang di dekat langit dekat pula dengan sumber terang dan wahyu, yang dekat bumi mudah tersenggol lendir dan gonorea. Surya melahirkan tenaga, bumi melahirkan bahan. Memang dari sini datang bau harum, tapi juga racun. Jangan lupa gembok. Jangan lupa penutup rambut di kepala. Jangan lupa penutup lengan dan tungkai kaki. Wahai, jangan lupa dari mana datangnya dosa: dari mata turun ke vagina. Jangan lupa gembok, jangan lupa kunci. O, ya. Jangan lupa celana-dalam.

Ini pagi, kata Kartini. Pagi adalah menunggu tamu. Pagi adalah dag-dig-dug. Pagi adalah suara tokek di dinding yang ditebak seperti ramalan feng-sui: rezeki – rugi – rezeki – rugi – rezeki – tidak.… Dan Kardinah, dan Rukmini, dan Badriyah, dan Sri Urip, dan Zakiyah, dan seluruh tim pemijat itu, mereka tahu bahwa di antara mereka cemas adalah sesuatu yang sah dan terduga: para tamu tak akan gampang dan tenang datang ke sini, sebab para tamu adalah orang yang terhormat, dan orang yang terhormat tak mau dituduh mendekati sesuatu yang harus diproteksi dengan sepotong logam berwarna merah.

Ini pagi, kata Kartini. Ini pagi, Stella—ataupun siapa nun di luar sana. Di ruang ini hari dimulai dengan kewaspadaan. Atau kecurigaan. Atau penghinaan. Dan kaum yang lapar, kaum yang terhina, berderet termangu, duduk, bersalah sebelum diupah.

Ini pagi, kata Kartini, aku turun dari gelap
dan dengan angin yang menghuni,
aku berangkat, entah ke mana.
Sepucuk kunci di kantungku,
arlojiku kuputar siap.
Langit menyuram,aku turun tangga.
Ada bayang-bayang di jendela, melintas,
juga sepotong awan di atas,dan sesosok tuhan di antara bintang—aku akan pergi…

~Majalah Tempo, Edisi. 38/IX/28 April – 04 Mei 2008~

Iklan

Komentar»

1. ibra - April 30, 2008

Demi tanah dingin di pantai yang memanggil segala ombak segala badai, aku tak akan melarangmu untuk pergi…Semoga hidup memberimu hidup, semoga cinta memberimu cinta..Sedang aku? Aku tak tahu..Bahkan aku pun tak tahu, apa sebenarnya yang kutangisi..

2. Dedy - Mei 2, 2008

Ini pagi,kata kartono, dia minta pamit pada istri dan mencium kepala bayi 1 taunnya. Dia panaskan motor tua dengan asap hitamnya
yang sudah merusak pagi dan paru-paru anaknya.
Lalu berangkat dengan motor yang ribut dan tatapan mata yang capek dibalik kaca helm yang keruh.
Mungkin berkhayal tentang anak istri yang kenyang, bersih, dan bergairah menjalani hidup, mungkin memikirkan cara agar tak lagi bekerja ditempat yang seringkali harus berkata “Jangan lupa gembok”

3. pandasurya - Mei 3, 2008

Lagi-lagi esai GM ini bisa membuat kita berkaca-kaca dan meneteskan air mata…

4. refanidea - Mei 7, 2008

Mas Anick, “Mak” kok belum diposting?

5. jek - Mei 14, 2008

bang,kulo nuwun numpang.
tulisan nya bikin kita lebih menghargai dan memaknai hidup. dan tidak sekedar bisa mengeluh saja tetapi berusaha untuk mengisi hidup lebih baik dan bermanfaat.thanks bang inspirasinya

6. Faizal Kamal - Agustus 28, 2008

emang kalo baca posting disini . . . kalo gak dadanya bergetar mah . . . berarti dadanya dari batu . . .
jadi inget keluarga pak . . . inget istri tercinta yang selalu berdoa saat saya pamit dari rumah, inget anak tersayang yang selalu nangis pengen ikut bapaknya kerja . . . . huwhhwuhwuwhuwhwuhwuhwuw

nice Post pak . . . keep post. . . karena insya allah saya akan baca terus.
terimakasih di izinkan mampir

7. Olin Hives - Desember 7, 2012

Our Searching and Selection function has been a massive success. Due to this, weve been able to grow into new areas including benchmarking, coaching

8. visite el sitio de Internet hasta que viene - Juli 31, 2014

When someone writes an piece of writing he/she keeps the plan of a
user in his/her mind that how a user can know it.
Therefore that’s why this paragraph is outstdanding. Thanks!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: