jump to navigation

Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada Oktober 6, 2007

Posted by anick in Tuhan.
trackback

GOENAWAN MOHAMAD

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ

Atheisme dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan. Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu ’ke Tuhan’ atau adieu ’selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ’Tuhan’ yang itu juga”.

Syahadat Nurcholish Madjid

Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.

Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya. Signatum (“petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.

Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.

Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain—satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.

Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas—bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau—asumsi “metafisika kehadiran”.

Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.

Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”—atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” —hanya sebuah representasi.

Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.

Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan-Nya—satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”.

Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal.

Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang-ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.

Tampaknya Levinas menganggap Heidegger—pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu—berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).

Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.

Levinas—yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi—tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.

Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain—Buddhisme dan Taoisme misalnya—dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.

Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.

Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.

Tuhan “Tak Harus Ada”

Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam-theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”—sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”—saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.

Marion, seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’-nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.

Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.

Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ’fenomena yang dilimpah-turahi’. Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek—kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.

“Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.

Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.

Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi”, Marion—seperti Levinas—berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?

Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?

Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu—juga Tuhan—di-atas-Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart—merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.

Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa-Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.

Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit”, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.

Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.

Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

Jakarta, 27 September 2007

GOENAWAN MOHAMAD Penyair, Pendiri Majalah Tempo
Sumber, Kompas, Sabtu, 06 Oktober 2007

Komentar»

1. Arnowo - Januari 14, 2008

Astaghfirulloh… Mas Gunawan… istighfarlah mumpung anda masih hidup. Tatkala rohmu berpindah alam semuanya akan terlambat. Ingatlah akhirat itu nyata abadi sedangkan dunia ini hanya nyata sesaat.

2. katasa07 - Januari 15, 2008

kebanyakan orang kafir itu sembunyi di balik kata ” PLURALISME’
sulit bangeet menurut gw jadi Pluralisme sejati, setau gw sampai saat ini cuma di mulut

makin lama gw makin blur ngeliat Pluralisme yang di degungkan

3. fatris moh, faiz - Januari 17, 2008

astagfirullah…masya allah..allahuakbar…innalillah…mas goenawan (arnowo menulisnya:gunawan)..
apalagi ya..ooya..alhamdulillah…barakallah…kalamullah…allahu akbar..walillahilhamd…
iman, barangkali beranjak dari ktaksadaran. menanggapi arnowo, semuanya akan terlambat: apa yang harus dikejar? Tuhan kah? atau tobat?

4. pelaku sejarah - Januari 30, 2008

pribadi yang haus bertempur dengan jiwa yg telah kenyang, ada y7g blum berhenti mencari ada yg telah merasa tersesat….hidup memang sering bersekutu terhadap apa yg kita inginkan, bagi yg masih gersang GM jadi penawar, bagi yang telah tersesat GM seoalh memberi arah yg keliru…untuk GM pepatah diatas langit ada langit…sepertinya harus di revisi, di delete…GM adaah cakrawala, hasil pernikahan mimpi dan kenyataan

5. muhamad khozin - Februari 18, 2008

ada dua golongan -menurut Pascal, salah satu murid Descartes -yang merupakan manusia benar.
1. mereka yang patuh pada Tuhan karena mereka mengetahuiNya.
2. mereka yang mencari Tuhan karena mereka tidak mengetahuiNya.
menurut saya ada baiknya kita melihat lebih dalam pada diri kita masing-masing sebelum kita terjerumus pd hal-hal yang mengakibatkan kita keliru dan salah.

6. ajie - Maret 10, 2008

Saya dulu pernah merasa “terguncang” ketika membaca Nietzsche tentang Tuhan. Lalu menjadi takut. Namun lewat tulisan GM saya mengerti bahwa ia tidak menakutkan dan tak perlu ketakutan. Membaca komentar Arnowo diatas kok ya saya menduga anda belum membaca dan berusaha memahami isi tulisan diatas. Cobalah dulu memahaminya, dan kalau perlu juga membaca siapa-siapa yang GM sebutkan diatas (memang butuh keberanian dan stamina). Alangkah bijaknya jika kita memahami permasalahan terlebih dahulu baru memberikan komentar. Saya menduga anda salah sangka dengan judulnya..:D.

7. kartizah - Maret 11, 2008

Pada dasarnya, tulisan Atheisme & Tuhan yang tak harus ada, bukan membahas tentang eksistensi Tuhan dan juga bukan berarti Tuhan dianggap tak ada, tapi lebih kepada pemahaman dan pemaknaan manusia terhadap Tuhan itu sendiri, jadi lebih mengarah kepada manusianya sendiri, bukan Tuhannya yang diutak utik….

Baca, pahami, renungkan dan maknai setiap tulisan GM, jangan diartikan TEKSTUAL, tapi lebih cenderung pada arti yang KONTEKSTUAL… semoga dengan membaca karya-karya GM, kita jadi manusia yang bijak dan berwawasan luas…….^_^

8. ajie - Maret 11, 2008

Setujuuu

9. zainal - Maret 13, 2008

Yaaa..kita hargai aja mas Arnowo yg sdh mengingatkan GM utk istigfar meskipun saya tdk tahu persis dosa apa yg sdh diperbuat GM dg tulisannya itu.

10. temene ajie - Maret 13, 2008

Hehe..bener juga memang bermaksud baik untuk mengingatkan. But…yang jadi point utama disini adalah pandangan Apriori (anggapan atau sikap yang sudah ditentukan sebelum meneliti). Pada saat membaca kata “Tuhan yang tak harus Ada” dengan tergesa-gesa (kadang dengan sikap yg emosional) menyimpulkan GM berpendirian Tuhan tak harus ada, lalu JIL, lalu kafir, lalu Atheis, lengkap dengan teman2nya, ujung2nya-bukan tak mungkin- menentang dengan kekerasan. Itulah yg perlu dihindari. Itulah yg “diajarkan” GM kepada kita lewat capingnya. Saya tak habis pikir kadang masih ada orang yg tidak melihat betapa positif bersikap seperti itu.

11. Ivan Hutajulu - Maret 25, 2008

Sebagai Protestan yang tidak saleh dan semoga tidak fanatik, saya tergetar membaca tulisan diatas. Saya jadi malu ketika usaha saya dalam proses untuk mencari, mengenal dan memuja Tuhan terasa sangat sumir, kerdil bahkan menyepelekan Dia Yang Maha Segalanya.
Keterbatasan akal dan indra menjerumuskan saya untuk mengkotakan dan membajui tuhan sesuai selera agar saya kenal dan pahami
Semoga saya tidak salah mungkin “usaha memuja” ini yang dimaksud dengan “getaran dari dalam” dan teks kitab suci adalah wahyu dari atas. Andaikan berjodoh, mereka kawin dan melahirkan iman.
Matur Nuwun Sanget Kagem Pak Goenawan Mohammad.

12. samson rambah pasir - Juli 14, 2008

seperti embun di dedaun iman. menyejukkan. GM yang cerdas tak bisa dipahami dgn antena jengkalan. memahami GM bertolak dari kekosongan. bila terbebani paham tertentu, ianya, GM, bisa dituduh macam-macam. pikiran GM sudah mendekati kecepatan cahaya, makanya tak bisa dipahami dengan … . GM, membacamu aku kian terjaga. terbangun. sadar: masih banyak manusia ingin memonopoli tuhan. padahal, tuhanlah yang memonopoli kehidupan.

13. Iqra' - Agustus 1, 2008

ye.. gmana, ya, GM kadang-2 lompatan cakrawalanya tinggi banget, tapi kadang-2 lupa juga, bagi sebagian muslim adalah ‘final’ bahwa Tiada Tuhan selain Allah.

14. Iqra' - Agustus 1, 2008

dan kayaknya kalau GM seorang muslim, kutipan Nurcholis Madjid Tiada Tuhan selain Tuhan itu sendiri, bagaimana pendapatnya,, Keyakinan bahwa Tiada Tuhan selain Allah adalah dasar dalam beragama bagi seorang muslim.

15. Inprodic - Agustus 3, 2008

Membaca artikel di atas, saya merasa ‘terbebaskan’. Kalimat tauhid: “Tiada Tuhan selain Allah” begitu menggetarkan.

Selama ini, dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak, kita menuhankan pekerjaan, takut, taat, dan prioritas terhadap pekerjaan. Kita menuhankan uang, takut dan tunduk pada sistem finansial, takut & taat pada bos, pada atasan, pada segala hal. Dengan kalimat “Tiada Tuhan”, segala sesuatu: uang, jabatan, pekerjaan, dan lainnya akan hilang ’sifat ketuhannya’ dari pikiran kita.

Lebih dari itu, kita sudah tidak perlu khawatir lagi dengan hal-hal seperti: menghormati bendera, memasang Garuda Pancasila, memajang salib, seni lukis, patung dsb. Dengan pemaknaan & pemahaman kalimat “Tiada Tuhan”, sifat ‘yang di-tuhan-kan’ dalam ’segala sesuatu’ itu menjadi hilang.

Kalimat Tauhid: “Tiada Tuhan selain Allah” adalah sebuah kalimat monotheisme yang sempurna.

16. bagus - Desember 22, 2008

Bisakah Tuhan di deskripsikan oleh kata-kata yang jelas-jelas buatan manusia? Bisakah kebesaranNya dikungkung oleh kata-kata belaka?
Tidakkah dalam lubuk hati kita yang terdalam dan jujur (bukan pemikiran kita yang terbatas) bisa merasakan kalau kalimat “Tiada TUHAN selain ALLAH”, meskipun seakan-akan mengagungkan TUHAN, sebenarnya mengkungkung TUHAN dalam “kata ALLAH” yang hanya merupakan
ciptaan pemikiran kita sendiri yang berusaha mendeskripsikan TUHAN?

Sekarang, …jika kita mengucapkan “Tiada TUHAN selain TUHAN” …. bisakah TUHAN dideskripsikan?

Mana yang lebih pas…. “Tiada TUHAN selain TUHAN”, atau “Tiada TUHAN selain ALLAH” , … adalah pilihan hati kita sendiri dan tergantung dari sejauh mana kejujuran tertinggal di hati kita .

Wallahu ‘Alam

17. reno ranti - Desember 24, 2008

setahu saya Tuhan Allah sudah melarang umatnya untuk mempertanyakan ZATNYA. Tetapi pelajarilah apa yang diciptakanNYA.CiptaanNya itulah yg merepresentasikan akan keAgungan dari sifat- sifatNya bukan ZatNya. Tak akan pernah tertembus oleh kapasitas kemakhlukan kita mengenai SIAPA TUHAN dalam bentuk sosok.Dia bukan personlisasi apa pun Dia adalah ADA. Yang tiada itu sebenarnya adalah kita. Kita ini berangkat dari ketiadaaan, diadakan oleh KEKUASAANNYA, kemudian ditiadakan lagi olehNYA. Mengapa kita menjadi durhaka dengan sangsi kepada KEBERADAANNYA.

18. inda suhendra - Januari 16, 2009

Tentang terjemahan LAA ILAAHA ILLALLAAH, menurut saya bukanlah diskursus utama teologi. Masalah itu hanya masalah kebahasaan–– alihbahasa lebih tepatnya.
Saya tidak melihat terjemahan Cak Nur itu sebuah kesalahan. Perlu diingat, bahwa kata ALLAH adalah masih –atau setidaknya serapan dari– bahasa Arab.

Terjemahan (translate) masyhur “tiada Tuhan selain Allah” sah-sah saja. Tapi sebenarnya di situ ada pengalihbahasaan yang tidak sempurna. Kata “Allah” itu adalah bahasa Arab yang dialihtulis/di-transliterasi dan diserap menjadi kosa kata bahasa Indonesia. Jadi dalam terjemahan “tiada Tuhan selain Allah” ada satu kata yang tidak diterjemahkan, hanya dialihtuliskan/transliterasi, yaitu “ALLAH”.

“ILAAH” artinya Tuhan, sedangkan “ALLAAH” itu adalah bentukan dari “AL” dan “ILAAH” yang sudah mengalami proses morfologi dalam bahasa Arab. Tambahan “AL” di depan adalah bentuk pengkhususan (takhsis/makrifat) terhadap kata “ILAAH” yang masih umum (nakirah). “AL” Dalam bahasa Inggris mungkin mirip dengan “THE”. ILAAH = God, AL ILAAH/ALLAAH = The God.
Nah dalam Bahasa Indonesia, kita tidak mengenal “AL”/”THE”.
Jadi, menurut saya ada beberapa alternatif menerjemahkan syahadat dan semuanya tidak menghilangkan substansi:

1. tiada Tuhan selain Allah
atau
2. tiada Tuhan selain Tuhan itu sendiri
atau
3. tiada tuhan (dengan T kecil) selain Tuhan (dengan T besar)

dalam bahasa Inggris mungkin kira-kira:
1. there is no God but Allah
atau
2. there is no God but The God

Dan saya setuju: Tuhan, Allah, God, Eli, Yahweh, Theo, Deo, bahkan Hyang Widi Wasa, atau sederet nama lain ––yang tidak sepenuhnya mewakili– tentang Tuhan adalah sesuatu yang tidak pernah selesai, ia selalu bergerak dialektis di antara makhluk yang memiliki keterbatasan.

19. Ateis Cinta Indonesia - Februari 3, 2009

Goenawan Mohamad itu jurnalis Tempo, bukan filsuf. Posisinya ndak pas bikin artikel kayak gini. Ini jelas hanya ditulis sebagai catatan pribadi Dia, bukan artikel akademik. Tapi yo ndak apa2 sih. Itu kan kebebasan berpendapatnya Dia. Tapi mengapa Dia musti bahas Tuhan/ateis/teis dari segi bahasa??? Kayak ngoceh wae lah itu.
Menurut Saya Indonesia dari dahulu tidak maju maju pola pikir masyarakatnya karena terlalu dibebani oleh masalah Tuhan ataupun dunia akhirat/lain. Kalau seandainya kita bisa mengedepankan urusan dunia nyata dahulu, itulah Indonesia di jaman keemasan.

20. guardian - Februari 4, 2009

@ Ateis Cinta Indonesia
Guoblog..cuma itu komentar gw. Peace.

21. campus girl - Februari 4, 2009

@ guardian
Nga ada yang lebih “guoblog” dari komentar loe sendiri. Sopan dikit dong biar enak dibaca. Malu jadi orang Indo tau. Peace

22. guardian - Februari 4, 2009

@campus girl
Hua..ha..ha…bcanda. sensitif bgt lagi dapet ya
ACI teman gw sendiri mbak. Maaf jika kebiasaan di kantor dibawa kesini. Peace.

23. tikushutan - Februari 6, 2009

wah,bagus sekali tulisan GM ini.aku salut…….

24. B1000 - Februari 6, 2009

Blegeg duweg ugeg-ugeg mel mel sa’dulito

25. Agung - Februari 11, 2009

basmi! pokoknya basmi korupsi, bukan komunis! semua yang korupsi harus dibasmi! widyatmoko.agung@gmail.com

26. PranotoHady - Februari 16, 2009

Artikel mas GM, adalah proses -minimal- kesadaran akan pribadi bagaimana seorang hamba harusnya memahami tuhannya. tuhan tak bisa di pandang, dia tak mungkin di jangkau, bahkan dia tak bisa dirasa dengan apapun. penegasan mas GM tentang ” tidak ada yang bisa mempersamain-Nya” adalah gambaran bahwa tuhan tak mungkin kita gambarkan dengan jangkauan indra kemanusiaan kita. penegasan tadi juga menjadi entri point dari kritik GM tentang adagium umum yang mempersamakan tuhan dalam dimensi Materi”
pertentangan -seolah olah- antara penggila atheis terhadap penganut agama dalam artikel tadi, adalah satu gambaran, bahwa kematangan cara pandang mas GM terhadap hakekat ketuhanan sudah pada tataran kesadaran seorang hamba yang baik. keberpihakan nyata mas GM kepada agama sudah tak perlu diragukan lagi.
Kemasan tulisan yang matang dan tiada duannya, membuat -kita- para pembaca seolah ikut merasa bahwa perseteruan itu melibatkan kita. sayangnya, tulisan itu pasti akan menimbulkam pertentangan. karena sering sesuatu yang baik belum tentu ada di tempat dan waktu yang tepat.

27. ochidov - Februari 17, 2009

dan Tuhan itu tidak ada, hanya manusia dengan pikirannya yang mengada-ada…

28. ochidov - Februari 17, 2009

tuhan, tuhan….akua tak membutuhkanmu….juga Tuhan tak akan peduli akan kita…

29. zomaidup - Februari 18, 2009

@ochidov
anak baru ya… di dunia wacana ..?
udah berapa buku yang dibaca?gak usah belagulah komentarnya …. biasa aja!!!!

30. massto - Februari 18, 2009

sekedar tips saja,..bagi para pembaca yang mungkin tingkat isi kapalanya sama dengan saya yang baru belajar hidup,..mendingan nggak usah memaksakan diri untuk mengerti, memahami, ato menghayati karya2 um GM,.. ada saatnya,..
inget,..Jangan Dipaksa!!!..
nanti yang muncul cuma pertentangan,.. mending sama orang lain,..lha kalo didalem kepala sendiri kan bahaya,.. bisa gila nantinya,..

31. maneka - Februari 20, 2009

aku salut sama orang-orang kayak GM ini, berani melakukan pencarian dan melaporkan hasilnya ke khalayak. Ya pasti jadi kayak gini ini hasilnya, ada yg mendoakan, menghujat, mendukung, memuja, cuek, dan kombinasi kelimanya (mendoakan supaya dihujat, memuja yg mendoakan yg menghujat, dst…dst…)
kalo boleh tahu, gimana ya caranya punya keberanian kayak gitu. Masalahnya kalo orang selevel kayak saya gini mau ngomong aja mesti dipikir bolak balik balik bolak, akhirnya demi stabilitas nasional ‘mending milih gak ngomong aja deh…’
kayak sekarang ini, mau ngomong kalo setuju banget sama jalan pikiran GM aja (“lha ya gitu itu Pak GM, maksud saya juga”) mesti pake nama samaran…

32. Tiada tuhan selain Tuhan - Mei 25, 2009

Tiada satu pun manusia di muka bumi ini yg tdk bertuhan.

Atheisme pada hakikatnya adalah menuhankan dirinya sendiri. Mereka menganggap bahwa mereka lah yang punya kuasa atas diri mereka sendiri.

Apa yang ada di langit dan di bumi seolah ada di bawah kekuasaan mereka. Planet-planet yg bergerak seolah atas perintah mereka. Angin yang berhembus seolah mereka yang meniup. Nyawa yang ada di tubuh seolah tak bisa dicabut.

Liahatlah betapa sombongnya mereka!!!

Ku berani taruhan kalau mereka juga masih bisa MENCRET.

Hahahahaha..!