jump to navigation

Pelacur Desember 17, 2008

Posted by anick in All Posts, Elegi, Film, Kisah, Tokoh, Tuhan.
trackback

Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.

Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.

Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.

Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.

Matahari sudah mulai turun ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor.

Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.

Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok ”Semanggi” di Kediri. Pekerjaan mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus menikah.

Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.

”Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika melayani tamu?”

”Ah, ya ndak ada,” jawabnya.

Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat Ucu Agustin—salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini—kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari.

Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia—seakan-akan mall megah itu bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.

Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri—dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur dan kaumnya.

Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen.

Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? ”Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka,” Nur berkata, berkali-kali.

Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia contoh yang baik ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh; ia bukan.

Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”.

Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan para preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur tahu bagaimana tabah. Kebaikan hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan membayar uang sekolah di TK Katolik itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CIMED, organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008~

About these ads

Komentar»

1. b0nK - Desember 17, 2008

wow… this is a powerful story n written as well..
sad but true, huh?? welcome to the new era of “uncivilized” indonesian civilization…
let’s sing a song to soothe their sorrow, ease their pain…
but not “that song”…

2. manix - Desember 17, 2008

sayangnya di negeri ini agama dan/atau institusi sering memposisikan diri sbagai Kebenaran (“K” besar). mereka seperti berhak mengangkat palu dalam menjatuhkan dan menghakimi. Kebenaran seoalah-olah ada pada mulut, sikap dan perbuatan mereka (menyerang, memukul dan melempar).
Magdalena saja bisa tersucikan hanya ketika ia membasuh kaki Yesus…meski dosanya semerah biji saga…
tak ada seorang pun yg punya cita2 menjadi pelacur…

3. Ibra - Desember 17, 2008

Kenapa mesti pelacur yg jd “ibu indonesia 2008″? Kenapa ngga istri wartawan kecil, yg bukan pelacur? Atau istri pemulung yg tidak mau melacur?
Saya kira kita tidak punya cukup variabel untuk membuat tesis atau antitesis tentang siapa yg berhak pergi ke neraka atau surga. Tesis dan antitesis itu derajatnya sama: sotoy.
Tapi di luar itu saya sepakat dgn Barthes bahwa dari doxa muncul paradoks, lalu paradoks jadi doxa, lalu muncul paradoks baru. Terus-terusan begitu. Meski kadang hal itu juga terasa seperti tengil-tengilan filsafat.

4. titiw - Desember 17, 2008

Halah, Ibra di atas ini ngomong apa sih? situ pernah gak harus ngebesarin 5 anak tanpa nafkah dari COWOK yg seharusnya memberi nafkah? No offense, tapi menurut saya, yg namanya pelacur itu (khususnya yg ditulis mas Goen di atas), bukan bersinonim dengan “Tak ada moral”, namun bersinonim dengan “Tak ada modal”. Nice writing indeed mas Goen, hm.. jadi ingin nonton filmnya. Kira2 di tampilkan di mana ya? Thx for the post anick..

5. arifrahmanlubis - Desember 17, 2008

menampilkan kisah penuh haru, untuk memasuki ranah emosi pembaca. dan secara diam-diam menyerang agama.

saya yakin ada juga yg lebih/sama menderita, lebih tabah, sekaligus memilih jalan yg sesuai dengan agamanya. ini yg pantas jadi Ibu Indonesia.

Sugeng Riyanto - Mei 11, 2012

anda persis seperti bait pertama anda

6. Fa - Desember 17, 2008

Yup, kisah penuh haru mas Goen, haru biru di negeri yang katanya sudah merdeka ini. Di mana moralitas di junjung tinggi tapi menjadi absurd karena berdiri di atas ketimpangan kehidupan (yang lain). Membuat kita serasa bercermin di kaca retak..

7. ika - Desember 17, 2008

dilihat dari ceritanya, Nur bukanlah istri siapa2. Dia layak sebagai Ibu Indonesia, karena ia ingin mengubah nasib anak-anaknya. Dan tidak ada seorangpun perempuan yang bercita2 menjadi pelacur!

8. viavi - Desember 18, 2008

satu sisi yang mengharukan menurut saya, tetapi banyak terjadi kontra disini. pelacur memang suatu tndakan tidak terhormat, tapi dengan menghidupi 5 anak2 bukan berarti ibu nur menjadi orang yang dihormati, bagaimanapun menjadi suatu pelacur itu adalah tindakan yang mengarah ke neraka. tidak ada satu kejahatan pun dapat disucikan oleh manusia yang terhimpit dan berjuang untuk hidup. jika saja ada ibu yang menghidupi 5 anaknya dengan cara yang lebih halal dengan kisah yang sama tentu ia lebih patut dinobatkan sebagai ibu terhormat 2008. saya tidak sepakat sama mas gun, disini agama sangat sangat berpengaruh, kalau cuma dilihat agama sebagai hal yang memperngaruhi tentu kita sudah salah kaprah mengenai apa itu agama. agama itu pondasi, dasar dari hidup, jadi ia bukan suatu variabel dalam hidup, tapi ia hidup itu sendiri.

9. nafis - Desember 18, 2008

bikin saya berfikir nih…

Saya rasa bukan agama yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi manusia yang menjalankan agama itu lah yang tidak mau berbuat apa-apa untuk menyelamatkan saudara-saudaranya. Saya agaknya berpendapat mirip dengan viavi, jangan salahkan agama, tapi salahkan manusia yang tidak mau menjalankan agama secara utuh, kebanyakan manusia sekarang hanya menjalankan agama dalam kaitannya dengan “Yang di atas” tapi melupakan kaitannya dengan “yang di bawah”.

10. Billy Koesoemadinata - Desember 18, 2008

bukti tuh,, pelacur juga manusia..

Billy K.
iamthebilly.wordpress.com
bersambung.wordpress.com

11. omiyan - Desember 18, 2008

hanya Tuhan Yang Tahu

12. yayasan langit - Desember 18, 2008

agama itu sama halnya dengan sebuah institusi/lembaga. ia hanya label mekanisme ruang formal. kalau buat KTP misalnya, atau isi form lainnya. yang paling penting itu adalah keyakinan akan kebenaran. by the way bus way Tuhan tidak menciptakan agama itu berbeda2 kan???
melacur, buat nur adalah pilihan getir jalan hidup yg mngkin hrs dilakoninya. menjajakan tubuh (harga diri) demi kebertahanan hidupnya dan anak2nya. tak ada keluh, tak ada dendam (mempersalahkan org lain yg sdh menelantarkannya). persoalan hidup Nur adalah salah satu gambaran persoalan sosial kita.
wajar kemudian Nur dinobatkan sebagai “Ibu Indonesia 2008″ karena ia jg mengambil peran yang dilakonkan oleh laki2 sebagai kepala keluarga.

13. herman hidayat - Desember 18, 2008

mungkin tidak perlu dikatakan sebagai “diam-diam menyerang agama”, tapi dapat dikatakan bahwa “secara terus terang menyerang pemeluk-pemeluk agama yang taat”; yaitu, tuan-tuan dan nyonya-nyonya bermoral yang kebanyakan memang sangat lantang dengan kebiasaan menghakimi & mengutuk orang lain.

agama, saya kira, memang bukan untuk dipakai sebagai referensi untuk menghakimi & mengutuk orang lain; melainkan untuk dipakai introspeksi dan mendidik diri.

atau; kalau kita tidak juga dapat rela melepaskan keinginan untuk menghakimi & mengutuk hidup mereka sebagai dosa, maka ada baiknya kita juga “menghakimi dan mengutuk” orang-orang super kaya yang membiarkan mereka. Mereka adalah pendosa juga.

:))

14. Putri - Desember 18, 2008

Yop, Ibra ini model-modelnya sih tipe cowok kutu buku jomblo kronis. Mana ada cewek tahan lama-lama ama cowok pake logika mulu? Basi!

15. mengejaperistiwa - Desember 18, 2008

menurutku Nur hanya berbuat sesuatu dengan kemampuannya sendiri, menghidupi anak-anaknya tanpa menengadah kepada orang lain! Nur tidak bergantung pada siapapun, tapi hati saya masih meronta mengingat dia adalah seorang pelacur!!

16. jaka - Desember 18, 2008

Just repeating stories. Iwan Fals 25 tahun yg lalu juga sudah meng-highlight hal ini. Dan saya percaya hal semacam ini sudah terjadi 200, 500, bahkan 1000 tahun lalu. Mungkin juga 1000 tahun ke depan.

17. Danar - Desember 19, 2008

Biang keroknya memang ibra. Orang biasa kemungkinan besar hanyut terbawa. Tapi saya pikir dia berbakat. Dengan umur segitu, dia malah sangat berbakat.

18. zee - Desember 19, 2008

Apakah ini artinya agama harus “dimanusiakan” agar lebih dapat mengakomodasi manusia? Nur mungkin sudah mencoba bertuhan seperti orang bermoral lainnya. Kalau itu tidak membuatnya lepas dari apa yang dia alami, apakah dia yang harus disalahkan? Atau sebaliknya sebagai kompensasi karena agama tidak berbuat apa apa?
Saya setuju dengan navis, manusia yang memeluk agamalah yang tidak menyelamatkan saudara2nya. harusnya kita malu.

19. sawung - Desember 19, 2008

Bagi saya ini teriakan bahwa mereka yang miskin bukan malas tapi mereka dipaksa untuk miskin. Dan negara tidak memberikan ruang buat mereka keluar dari kemiskinan.
Agama? masih ada orang beragama di Indonesia? kalo di ktp aja seh masih ada

20. Ibra - Desember 19, 2008

:D
ko jadi saya yg kena?
Saya ga memihak ko..atau jangan2 di situ letak permasalahannya: keberpihakkan? Dan GM sudah mengambil sikap memihak. Kalau setuju, ya silahkan…saya cuma nanya, apa itu tidak berlebihan? Saya sendiri lebih sepakat dgn mas Sawung di atas. Masalahnya bukan agama, tapi kemiskinan.

I W. Mudita - September 27, 2012

keberpihakan? dengan keberpihakan saja kemiskinan tidak bisa dikurangi, apalagi tanpa keberpihakan. atau, kapankah sebenarnya kita pernah tidak berpihak?

21. fsiekonomi.multiply.com - Desember 19, 2008

nice writing. at last.

22. Yunie Jusri Djalaluddin - Desember 20, 2008

Bukankan kefakiran akan menyebabkan kekafiran? kefakiran bukan hanya berupa harta, tapi juga ilmu & agama. Bila hidup di dunia & akhirat memerlukan ILMU, & di negeri ini bukan hanya ada satu Nur tapi ratusan bahkan ribuan…So, apa kabar menteri pendidikan & kebudayaan?

23. Red Dog - Desember 20, 2008

T_T terharu gw bacanya…tapi apa g ad pekerjaan lain selain pelacur?

Peace and Love
Red Dog

24. Zaki - Desember 21, 2008

“Happiness depends more on how life strikes you than on what
happens.”
– Andy Rooney

“All of us every single year, we’re a different person. I
don’t think we’re the same person all our lives.”
– Steven Spielberg

“I have become my own version of an optimist. If I can’t make
it through one door, I’ll go through another door — or I’ll
make a door. Something terrific will come no matter how dark
the present.”
– Joan Rivers

“There are no classes in life for beginners: right away you
are always asked to deal with what is most difficult.”
– Rainer Maria Rilke

“Formulate and stamp indelibly on your mind a mental picture
of yourself as succeeding. Hold this picture tenaciously.
Never permit it to fade. Your mind will seek to develop the
picture… Do not build up obstacles in your imagination.”
– Norman Vincent Peale

“Treat people as if they were what they ought to be and you
help them to become what they are capable of being.”
– Johann Wolfgang von Goethe

Cerita tentang pelacuran di atas adalah juga tentang kecintaan yang berlebihan terhadap dunia sehingga mau mengorbankan harga diri demi uang.
Saya yakin jika pun ibu itu tidak melacur, anak2nya tak mungkin mati kelaparan. Konsekwensinya mungkin si anak tak bisa sekolah, tapi setahu saya banyak pesantren di Jatim yang murah meriah dan tak perlu mengeluarkan banyak duit seperti sekolah2 katolik.
GM telah mengalami suatu sindrome bawah sadar dimana ia merasa ada kenikmatan penuh sensasi jika telah menyudutkan Islam melalui cerita2 yang mengasosiasikan bahwa setiap dekadensi dan kekacauan adalah gambaran tentang kegagalan Islam. Padahal semuanya adalah berasal dari caranya sendiri yang sangat naif dalam mencerna Islam: Ia menganggap Islam seperti sebuah lemari es: apapun harus dingin dan beku jika sudah masuk kedalamnya. Kalau ada yang tak dingin, maka lemari es yang harus disalahkan. Ini adalah suatu bentuk yang unik tentang iman seorang seniman yang masih belum beranjak dari doktrin2 materialistik.

25. The Oppressed - Desember 22, 2008

Dogma agama menafikan fitrah saya sebagai seorang manusia yang menyukai sesama jenis…

Ya, serang saya dengan doktrin2: “Dosa Kaum Sodom”, “Unnatural behavior”, “Abnormal” dsb tapi siapa Anda? Memangnya Anda merasakan kehidupan sebagai seorang homoseksual? Pernahkah Anda merasakan pedihnya stigma dan cibiran? Hujatlah saya karena saya belum pernah disentuh siapa pun.

Jangan heran kalau saya tidak berkendaraan dengan merek “agama”, saya mencari Tuhan dengan nurani saya sendiri!!

kota salju - Oktober 28, 2011

waduh, bisa bisa maalaaaah ketemu iblis tuh mas

I W. Mudita - September 27, 2012

daripada ketemu agama yang menghalalkan kekerasan terhadap pihak lain demi mencapai sorga untuk diri sendiri…

26. tea - Desember 22, 2008

Fakta…
sesuatu yang harus diakui meskipun itu pahit

27. sn - Desember 23, 2008

Meminta satu keberanian tersendiri untuk menjadikan Nur sebagai “Ibu Indonesia 2008″. Dan seperti biasa, GM selalu mengajak kita buat berpikir dan bersikap. Apapun ! Karena tak seorangpun didunia ini yang ingin miskin dan melacur. Daripada pelacur politik yang dosanya tak terampuni !

28. dykus - Desember 23, 2008

mgkn bbrp tahun kedepan mbak nur sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja mengandalkan “fisik” karena faktor usia, sementara perjalanan bocah2 tak berdosa itu masih sangat panjang, jangan terlena mbak nur, mulailah banyak belajar untuk beralih pada pekerjaan/usaha lain, semoga ada jalan keluar…amin.

29. zaval - Desember 23, 2008

haha…1 lagi kenyataan tentang agama, dia tak bisa menjawab segalanya…dan masihkah tetap kalian poles wajah mu dg bedak kitab suci dan lipstik sabda nabi, lalu kalian bercermin sangat narcis di depan kaca dan kamera ??…berkacalah pada udara, dan mungkin kau tak kan menemukan apa2…mbak nur pelacur, bertempur melawan takdir, menahkodai dan mengarahkan ke lintang mana alat produksi nya dijajakan…walau di derajat cuma 10 ribu…mbak nur, aku tahu hidup memang kecut..dan aku salut..karenanya, hindari mati (saran octavio paz)

30. zaval - Desember 23, 2008

oh ya, ada yg lupa, masalah ibu indonesia 2008..Ukuran itu relatif..sebagaimana taksiran..plus minus plus minus bagi kali bagi kali sama dengan angka – angka sama dengan berapa lembar pecahan seratusan dolar yg Kau dapatkan…dan sejujurnya, Persetan dengan ukuranmu !

31. fahmi - Desember 23, 2008

dalam tangkapan saya, mas Goen tidak hendak mengatakan, “ia ‘Ibu Indonesia Tahun 2008′”…
itu ungkapan ironis yang khas mas Goen!
Dan yang menjawab adalah kita, semua warga Indonesia, tidak terkecuali perempuan. mungkin mba Ucu Agustin layak mendapat penghargaan itu. Karena ia ibu dari ‘Ibu Indonesia Tahun 2008′

32. sawung - Desember 23, 2008

udah pada nonton pelemnya?
atau datang sendiri dan bicara dengan bu nur?
atau coba survai langsung ke tulungagung.
bu nur itu bekerja memecah batu. itu sebuah pilihan pekerjaan halal tapi tidak mencukupi hidupnya. Adakah yang bisa memberikan pekerjaan lain? saya kira dia akan memilih pekerjaan lain, jika ada.

33. rozhiet - Desember 24, 2008

semua agama tak berfungsi apa-apa, tak bisa dicerna apalagi dibela. semua pelacur (termasuk Nur) belum tahu itu “agama”, Nur sendiri adalah penerang untuk 5 anaknya, agama tak perlu. tidak juga kita yang bila tidak apa itu agama yang benar bisa membuat kita kenyang, tenang dan riang pada situasi yang tak lagi memungkinkan, bayangkan…andai kita menjadi…

34. reno ranti - Desember 24, 2008

wah ternyata benar yah hidup itu sangat berwarna, sy paling tdk setuju kl ada org yg bilg hdp memiliki 2 warna saja d+ daerah abu-abu. Hidup adalah berkah terbesar dr TUHAN. Tidak ada yg bisa menghidupkan kehidupan selain Dia. Lalu kehidupan itu berjalan sesuai dengan “arusnya” . Coba d temen2 yg concern dg masalah tsb mengimbanginya dg bacaan dr Agus Mustopha dia fisikawan indonesia yg bisa menjelaskan misteri hidup dengan ilmiah dan tetap bersandar pada AlQuran. kl ga salah bukunya yg bisa berhubungan dg masalah ini adalah Mengubah Takdir. Mdh2an kita semua mendapat pencerahan ilmu sehingga mendapat berkah dari Sang Maha ILMU.

35. reno ranti - Desember 24, 2008

saya pengen ketemu dg yayasan langit yg bilang agama itu hanya u ktp. apakah ibu anda pelacur?

36. herdi - Desember 24, 2008

wellll,…… dengan tulisan-tulisanya, GM selalu berhasil membuka cakrawala berpikir saya. Dan dgn essaynya yg baru sy baca, saya yakin, dia tidak bermaksud menyudutkan atau menyerang siapapun atau apapun. Dia hanya berusaha membantu kita menyadari realita kehidupan dan segala kemungkinan-kemungkinannya.

37. Ibra - Desember 24, 2008

Tau apa si zaval itu tentang relatifitas? Tau apa dia tentang matematika? Tau apa dia tentang berapa tumpuk ratusan dolar yg bisa dihasilkan seorang pedagang! Cuih!
Pake ngetawain agama pula…bukankah agama yg ngajarin lingkungan kamu untuk memperlakukan dengan baik mayat kamu nanti? Bukankah agama yg mengajarkan moyang kamu sehingga kamu lahir tanpa HIV dan mendoakan kelahiranmu? Mengajarkan kebaikan, kebersihan dan kesehatan. Kenapa kamu ketawa, dungu!

kota salju - Oktober 28, 2011

mungkin benar, tapi aaaaku tidak akan mendukungmu………………………

38. iben nuriska - Desember 25, 2008

kenapa harus penghargaan yang kita berikan? kenapa bukan penyelamatan yang kita lakukan. janganlah kita selalu mengeksploitasi keadaan mereka untuk sebuah pengakuan bahwa kita peduli. bahwa kita adalah orang-orang, kelompok atau apapun bengek diteteknya adalah orang yang prihatin dengan kondisi sosial masyarakat yang carut marut. bukankah pewartaan yang kita lakukan untuk membuka mata banyak orang tentang luka dan rapuh yang kita miliki hanya akan menambah getirnya hati mereka ketika banyak orang-orang ikut dal;am pro dan kontra membahas keberadaan mereka yang sebetulnya tidak pernah mereka cita-citakan.
bukalah hatimu dulu baru gugah rasa orang lain. ulurkan tanganmu untuk menyelamatkan mereka kembali baru raih gandeng tangan yang lain untuk menciptakan lapangan pekerjaan buat mereka.
pujian yang kalian terima dari memfilmkan atau membuat karya apapun sebanyak-banyaknya adalah kepentingan ego kalian untuk kepuasan pribadi dan meraih pengakuan dan penghargaan setinggi-tingginya. bukan untuk keselamatan mereka.
sisihkan pendapatnmu untuk anak mereka dan modal usaha mereka agar mereka tak terus-terusan seperti itu.
kalau setelah pertemuan itu kalian membiarkan mereka kembali ke komunitas pekerjaannya, itu artinya kalian telah melakukan penghianatan kemanusiaan. jangan salahkan agama dulu sebelum kau memahami ajarannya dengan sepenuhnya. sudah berapa banyak aturan agama yang kau pahami dan jalankan?
selamatkan dulu mereka, baru namanya kau jadi pahlawan bangsa. kalau hanya berkoar dalam berita, karya apapun bentuknya, sama artinya kau memanfaatkan atau mengeksploitasi keadaan mereka untuk kebutuhan egosentrismu dan mengharapkan pengakuan dari banyak orang sebagai pahlawan sosial.
kalau mau membantu, tak usah bwerkoar, bantu saja dan selamatkan mereka. itu baru pahlawan sejati namanya.

39. iben nuriska - Desember 25, 2008

saya ingin nambah tulis mas.
mas GM kan prihatin ama bu Nur tuh.
gimana kalau mas GM berpoligami saja?
angkat derajat bu Nur dan anak-anaknya ditengah masyarakatnya. saya yakin mas, pernikahan kalian nanti pasti tidak akan mendapat pro-kontra kayak aa’ gym dulu. saya yakin seluruh bangsa indonesia akan angkat topi untuk tindakan mas GM itu.
saya pikir disinilah letak substansi kenapa salah satu agama membenarkan poligami. seperti juga yang dilakukan oleh nabi di agama tersebut. beliau pernah menikahi seorang janda miskin berkulit hitam. dan ini semua beliau lakukan untuk mengangkat derajat kaumnya dan membebaskannya dari jerat kemiskinan.
saya yakin mas GM pasti bisa membiayai “calon” anak mas GM yang lima orang itu sampai mereka bisa mandiri.
dan pernikahan ini bukanlah orientasi seksual, tapi orientasi kemanusiaan. dan karena itulah poligami itu halal. jadi gak usah saja ada undang-undang yang melarang poligami.
saya yakin sekali mas, kalau ini anda lakukan, dan semua orang kaya di indonesia mau mempoligami janda-janda miskin yang tidak berorientasi pada seks, saya sangat yakin persoalan kemiskinan di indonesia pasti akan segera teratasi.
krisis moral bangsa juga akan dengan mudah kita benahi.
ayo mas GM! dan ajaklah kawan-kawan anda yang berlebih dengan pendapatan yang melimpah untuk mempoligami janda-janda miskin dan juga pelacur-pelajur miskin untuk tugas kemanusiaan.
jangan hanya mengamati lalu menuliskannya, tapi lakukanlah sesuatu.
bangsa ini tidak lagi membutuhkan perdebatan mas, ia butuh tindakan nyata secara bersama-sama merubah keadaan.
poligami yang berorientasi kemanusiaan adalah salah satu bukti kebenaran dan ketepatan agama sebagai jalan keluar menuju kebahagiaan dan keserasian kehidupan.

Jona - Oktober 22, 2009

kl niatannya “membantu” kok musti dikawinin sih? ujung2nya ga mau rugi juga tuh namanya, mmg ga ada yg “gratis” di dunia ini…

asalngomong - Mei 3, 2010

Hahahahaha….Lucu!!!!!!!!!!!
Saya baru tau kalau ada pernikahan yang didasarkan atas rasa kemanusiaan….

Menurut saya ini namanya menyelesaikan masalah dengn menciptakan masalah baru….

kota salju - Oktober 28, 2011

kalo maau mendapatkan ikan pakai kail jangan nyemplung ke sungai ha ha ha

40. b0nK - Desember 25, 2008

bung iben…
justru dengan dibuatnya itu film bung goen jadi nulis esai ini…
dan dengan adanya esai ini maka kita2 yang tadinya gak tau gimana “ngenes”nya kondisi disana jadi melek…
soal upaya penyelamatan n perbaikan nasib mereka, itu tanggung jawab kita bersama, dimana bentuk minimalnya adalah peduli n ikut mendo’akan…
bisa juga dengan bikin film yang mengangkat kehidupan mereka, or bikin esai kuat seperti ini… dengan harapan, semakin banyak yang tahu akan semakin banyak yang peduli, dan pada akhirnya akan semakin banyak pula yang bersedia turun tangan membantu secara riil…
so, terlepas dari apapun pendapat kita, tulisan bung goen cukup berhasil membangkitkan kepedulian kita ‘kan??
peace bung iben…

41. yayasan langit - Desember 25, 2008

jadi menurut reno ranti agama itu apa? islam, kristen, budha, hindu, dll itu apa? hati2 (mbak ato om nih) agama itu tdk menyelamatkan!! pahami lagi deh…karena agama org bisa bertikai dan berperang. ibu saya bukan pelacur. ibu saya ibu yg terbaik buat anak2nya.
trims reno ranti.

42. zaval - Desember 26, 2008

tidak harus jadi isa di tengah sekumpulan filsuf manja macam Ibra…haha..
sungguhpun kita hanya semacam kutu beras…
bung iben nuriska, kenapa aku begitu setuju dengan usulanmu ???
fakta “mungkin” jauh dari opini…
tapi kenyataannya, kita hobi sekali bermain opini…
aih ! kenapa omong kosong begitu lekat dengan kita ?????

43. Ibra - Desember 27, 2008

Betul, tak harus jadi Isa. Sebab seorang Isa membuatku sangat malu dengan diriku sendiri. Andai saja bisa kuhapus kata2 burukku di atas. Andai saja aku tak mengatakan apapun.
Saya jadi ingat kata2 seorang yg sangat saya kagumi : Andai saja tidak kosong, andai saja tidak tercoreng moreng.
Andai saja…

44. Danar - Desember 27, 2008

Tidak perlu dihapus. Omongan kamu banyak benernya. Adapun tentang cara yang membuat orang tercekat, itu hal lain. Sama seperti ketika kamu tulis esay untuk melerai radit&saut yang berpantun di milis-milis. kamu bukan cuma membuat mereka bungkam, tapi juga kamu menelan mereka. Artinya, cara seperti itu juga akhirnya kembali ke pembaca. Seperti kata Barthes.

45. zaval - Desember 27, 2008

kang ibra, kita sepantaran..dan aku sungguh kagum dengan pengetahuanmu tentang FILSAFAT, dilihat dari umur kita, aku sngat jauh dari apa yang telah kau ketahui…tapi aneh, aku malah lebih menyukaimu di sisi ini, sisi kejujuran dan kerendahan hati tanpa tendensi apapun… :) maaf kalau kata2ku agak pahit…mahfum, belajar itu pahit, belajar berfilsafat itu sakit, dan sebenarnya aku baru hanya seekor pembelajar kang ibra, yang selalu siap Belajar pada guru yang terserak dimana-mana :(

46. bolenk - Desember 27, 2008

naif sekali mengatakan poligami tak berorientasi seks…(bullshit!!) kalo memang ingin orientasi kemanusiaan, kenapa mesti dikawini? ya bantu sajalah, tak mesti pake embel2 dikawini… tapi kalo bung iben mau mengawininya silahkan saja…. malang betul nasib perempuan kalo ada semua laki2 berpikiran yg sama seperti iben nuriska…

I W. Mudita - September 27, 2012

sesungguhnya malang betul itu laki-laki yang hanya bisa membantu perempuan setelah mengawini … moralitas dibarter dengan seks

47. Ibra - Desember 27, 2008

Bidang saya ekonomi, sebetulnya. filsafat mah cuma baca2 dari org2 driyakara, ama obrolan temen2 aja…
Oiya, kalau menurut Gonick tendensi poligami Rasul itu politik, yg dikawin itu janda2 pembesar suku2 arab…

Kojiro Warthon - April 8, 2010

pahami saja seks seperti apa adanya. seks seperti makan minum mandi dan sebagainya. perbuatan manusia tidak lebih dari pertemuan materi dengan materi dalam medium materi-dalam rentang waktu tertentu. Tidak ada moralitas apapun yang bisa diambil dari perbuatan manusia jika dianalisa dari peristiwa itu sendiri. Pemikiran manusia adalah aktivitas dari materi juga… lalu dari mana datangnya baik dan buruk…. ah kecuali kau pernah bertemu Tuhan…. yang mengajarimu tentang kalam… ma adrokamal insan??? what is human being?? menungso iku opo?? jawabku : mbuh….

48. bolenk - Desember 28, 2008

Politik ama Nafsu beti (beda2 tipis)….

49. c2rs - Desember 29, 2008

hm.. salam buat mas Anic.

50. arifrahmanlubis - Desember 31, 2008

tulisan ini membahas dari satu sisi saja. dan ini kelemahannya.
tidak menyeluruh.

jadi terkesan naif plus emosional.

bagaimana dengan istri2 dan anak2 para pria yang tergoda untuk membeli layanan pelacur?

tentu sangat naif menyalahkan sepenuhnya kepada pria yg punya uang dan jajan pelacur. kita tahu nafsu kejahatan, turut distimulus rangsangan dari luar.

51. Giyanto - Januari 5, 2009

“menganggap yang baik itu baik, itu tidak baik. Menganggap yang jelek itu jelek, itu juga jelek”.

Kesedihan dan kebahagian sama2 berasal dari obyek yang diamati, dan subyek yang mengamati.

Ketika membaca essay ini anda bahagia, berarti anda setan!
Ketika membaca essay ini anda sedih, anda berpeluang jadi manusia!
tapi ketika anda membaca essay ini merasa campur aduk, bisa jadi anda binatang!

salam

Jona - Oktober 22, 2009

lalu anda apa?

52. dokterpenulis - Januari 8, 2009

menafkahi 5 anak dengan melacur membawa seseorang menjadi ibu indonesia 2008.
ada sesuatu yang kurasa kurang pas di sini.
meski tidak pas bukan berarti kita berhak menghakimi seseorang.
juga meramal seseorang akan masuk neraka atau tidak.
tetapi tidak pula dengan membesar-besarkan pekerjaan sebagai pelacur.
tapi tulisan ini bagus. dalam ketidakpasnya, ia bagus.

53. monster li - Januari 11, 2009

yang namanya syariat agama itu mengajarkan kita supaya berada pada jalan yang benar, tidak merugikan orang dan menempatkan hati kita menjadi tenang .. kisah pelacur diatas cukup kontroversial.. hahha ternyata banyak juga orang2 yang masi blum cukup melihat dengan baik syariat2 agama itu tujuannya apa..

menobatkan pelacur diatas sebagai ibu indonesia 2008 rasanya akan banyak melemahkan hati.. si pembuat film harusnya lebih bijak nih ngambil tema!!!

mengenai poligami… lebih kontroversial lagi.. klo memang mau merasa kasihan dengan si pelacur ya bolehlah memberikan nafkah, tp menikahi itu ada kalanya mengangkat derajat wanita yang lemah.. islam membolehkan pologami kan bukan berarti mengharuskan.. smua harus liat situasi donk ah.. ini tergantung dr masing2 orang sih.. yang jelas.. BIG NO untuk menobatkan kisah diatas jd ibu indonesia 2008.. sbagai wanita.. saya merasa kurang sreg dng itu.. bukan brarti tidak empati lho ya!!!

to mas ibra.. thnx for the inspiration.. jhahha

bramastara - Agustus 12, 2010

lontong… pecel tentu beda rasa neng…. meskipun keduanya sama enak dan mengenyangkan…. zzz… zzz… pules… lalu senyap.

54. yayasan langit - Januari 13, 2009

aduh, jangan lah dipandang dia dari pekerjaannya sebagai pelacur. lalu kemudian menyimpulkan bahwa pekerjaan itu hina dina, kotor, dan tak layak. bukankah dia jg manusia yang dipandang sama oleh Pencipta. Baca lagi deh pelan2 tulisannya mas gun tuh… saya kira mas gun tidak melihatnya dari sisi itu, tp dilihat dari semangat, perjuangan, pengorbanan, kasih sayang dan tanggungjawab. kan dah dibilang “tak ada satu perempuan pun yg mempunyai cita2 sbg pelacur”.
mbak, mas, om, tante, pengembala itu akan mencari dombanya yang hilang, bukan yg sudah ada. Tuhan tak mencari org2 “alim” seperti anda2.
menolongnya bukan berarti dikawini (mengangkat derajat–>omong kosong). saya tak melihat kejujuran laki2 berpoligami untuk mengangkat derajat perempuan, selain nafsu dan birahi. Wkkkkkk…. saya laki2 yang sangat menghargai perempuan. sayang, ada perempuan yg tak menghargai dirinya sendiri. mau saja di madu…

NB: jngan disangka saya setuju dgn pekerjaan pelacur. pekerjaan itu tetap pekerjaan yg tak baik. tapi sekali lg jgn dilihat dari pekerjaannya, lihatlah dari pengorbanan yg luar biasa buat kebertahanan hidupnya yang getir dan miris. beruntunglah anda tidak berhadapan pada persoalan yang dialami Nur.

Jona - Oktober 22, 2009

pelacur ya tetap pelacur mas…

55. Zaki - Januari 14, 2009

Dalam Islam poligami itu halal sedangkan pacaran itu haram. Namun nilai2 yang ada sekarang sebaliknya, justru poligami diharamkan dan pacaran dianjurkan. Saya berani mengatakan bahwa orang2 yang berprinsip seperti itu adalah KAFIR karena sudah berani menyalahkan Islam. Gak usah berdebat terlalu panjang tentang poligami ini.

Itu saja.

Titik.

56. Anak Tuhan - Januari 14, 2009

setan akan berpikiran hal yang sama dengan zaki. pd prinsipnya setan tak mau berdebat panjang soal Kebenaran. wkwkwkwkwkw….

itu saja.

koma,

57. Ajie - Januari 15, 2009

@arifrahmanlubis
Menyerang agama kayaknya berlebihan juga kedengarannya. Mungkin lebih pas menyentil

orang2 yang tekun beribadah
tapi melupakan keadaan sesama.
Memang lebih condong sebagai masalah ekonomi. Masalah kemiskinan. Melihat masalah ini

saya hanya bisa meng’iya’kan ‘Agama kebajikan’ yang dicetuskan Nur Khalik Ridwan. Yang

dibutuhkan adalah kesadaran dan kebaikan agar bermanfaat bagi orang lain apapun agama

kita. Contoh rilnya mungkin dengan memasukkan pelacur kedalam golongan yang berhak

menerima zakat misalnya. Saya cuma masih yakin agama masih punya peran.

@ibra
kayak iklan aja…”gak ada lo gak rame”…hahaha.
mantab tiap kali kasih comment.

58. ery - Januari 15, 2009

Tulisan mas GM di atas memang memungkinkan terjadinya multi tafsir. Saya hanya menilai bahwa pengangkatan kondisi bu Nur hanya untuk menunjukkan realitas kehidupan yang ada. Seperti itulah kehidupan, dimana saja, selalu ada sisi gelap dan terang.

Adapun kesan pembaca tergantung dari latar belakang ilmu atau pengalaman yang dia miliki, dan itu tidak dapat dipungkiri karena itu pun bagian dari kehidupan pula.

Jadi marilah kita buat hidup menjadi lebih baik dengan apapun yang kita mampu sebab kehidupan masih akan tetap berjalan, bahkan sampai kita tak lagi hidup.

bramastara - Agustus 12, 2010

idem dito…

59. Zaki - Januari 15, 2009

Orang yang mengaku anak Tuhan itu pasti lebih goblok daripada syaitan.

60. Medusa - Januari 16, 2009

Ngomong opo Zaki ini…tiba2 bilang gituan. Blo’on.

61. inda suhendra - Januari 16, 2009

pease pease pease….

saya kerap menelan kekecewaan terhadap realitas pertumpahan darah dan seabrek kekacauan yang disebabkan oleh (orang’s yang mengatasnamakan) agama.
mereka masing-masing subyek egois yang mendeklarasikan diri sebagai penguasa tunggal pulau kebenaran.
mereka yang selalu berpikir hitam-putih, benar-salah, tanpa mau melihat kenyataan bahwa ada ruang abu-abu dalam kehidupan.

kadang saya berpikir: bukankah tanpa agama pun manusia bisa mengetahui baik-buruk, benci-kasih, benar-salah, dan ide-ide universal alamiah lainnya?

seraya meyakini eksistensi Sang Pencipta dan Sang Maha Kuasa, diam-diam saya juga menikmati khayalan John Lenon …. “imagine …. and no religion too…”

62. Zaki - Januari 16, 2009

Memang kenyataan nya gitu kok.

Goblok yang dibungkus estetika akan kelihatan lebih memuakkan daripada goblok seperti biasa.

63. Medusa - Januari 16, 2009

@Inda Suhendra
sambil cimeng lebih asik tuh kayaknya….dengar lagu John Lenon….peace…peace..(snip).

64. Anak Tuhan - Januari 17, 2009

hanya setan yg tersinggung dgn kalimat gw. dan zaki tersinggung. brarti zaki??? wakkkk…. saya tau anda itu cerdas zaki. dan siapa bilang setan itu goblok. buktinya pengikutnya banyak. tipuannya luar biasa. saking hebat dan jagonya, kita terkadang tak menyadari sedang dalam kekuasaannya. biar pun saya goblok tapi saya anak Tuhan. apakah anda itu anak Tuhan?? kalo bukan ya brarti anda anak setan. wkkkkkkk……..

semoga jawabanmu cerdas…

65. Zaki - Januari 17, 2009

Anda harus baca dulu dari awal, siapa yang duluan tersinggung, anak tuhan atau saya. Lo duluan kan yang bawa2 kata setan. Kalau anda cerdas, pasti bisa tahu siapa yang sebenarnya anak setan.

Kalau boleh tahu yang tuhan itu bokap atau nyokap lo sih. kalau nyokap dan bokap lo dua2nya tuhan, mereka pernah pacaran nggak???? Truz waktu nyokap lo hamil siapa yang periksa kandungannya n siapa juga yang bisa jadi bidan???? Trus gimana sih rasanya nyusu sama tuhan????

ha 3x aja.

Truz kalau ortu lo tuhan, kakek lo siapa dan dimana ia sekarang ????

masih hidup atau nggak.

lumayan cerdas kan jawaban gw????

Jona - Oktober 22, 2009

sudah, sudah, sesama anak manusia ga boleh brantem…

66. Rusdie21 - Januari 17, 2009

@zaki
kurang cerdas kayaknya jawabannya…pikir ulang

67. Zaki - Januari 18, 2009

@rusdi
Jadi menurut anda gimana?? Tunjukkan dong yang lebih cerdas!!!!!

68. Rusdie21 - Januari 18, 2009

Ih…marah :P ….sensi banget….ntar dulu ya gw baca2 dulu…

69. Zaki - Januari 18, 2009

Ok.
Ditunggu

70. Anak Tuhan - Januari 18, 2009

ketauan banget kan kerjanya setan, sering ngebalik-balikin omongan. dan gw sangat cerdas untuk tau siapa anak setan karna gw anak Tuhan. tul kan rus? wkkkk… oh gw sama sekali tak tersinggung tuh dengan perkataan mu… gw cuma memberi asumsi saja, kalo setan punya pikiran yang sama dgn mu. subjeknya kan setan. lalu, kamu vonis saya lebih goblok dari setan (padahal setan itu pintar, bahkan pinter banget–>itu aja gak tau). medusa aja ngomentari omongan kamu. kamu harus baca lagi.

kerjaan setan emang semakin gampang ditebak ya. liat aja jawaban zaki. dikiranya “anak” itu adalah hasil persetubuhan. tuh kan pikirannya emang ke sono-sono aja. kawin, seks dan nafsu birahi saja (hal-hal yang biologis saja). padahal bisa saja kedekatan kita secara emosional dgn org yg lebih tua menjadikan kita sebagai anaknya. ngerti gak? pasti ngerti, tapi pasti dicari-cari jg jawabannya ngaconya.

si zaki (yg gak mau dianggap anak Tuhan) sudah pasti sensi, rusdie.. wkkkkkkkkkk

aku coba tanya ya, zak, kamu anak Tuhan ga? kalo aku bilang iya, kalo jawaban kamu?

71. Zaki - Januari 18, 2009

@anak tuhan.
Sudahlah ganti aja nama anda itu. Meskipun itu dalam arti kiasan tapi kedengarannya tetap berlebihan, bahkan kalo saya perhatikan prinsip kamu yang sangat keras menentang komentar saya, itu adalah gambaran bahwa nama kamu itu tidak bermaksud untuk menyandang arti kiasan.

Saya sendiri cukup pede karena yang saya sampaikan ini adalah memang sebuah kebenaran yang mutlak dan simple.

Kalau anda tidak bisa menerima kebenaran dengan cara yang wajar, seperti yang saya sampaikan, maka anda akan disamperin oleh kebenaran dengan cara yang tragis. Ingatlah kata2 saya meskipun sekarang anda belum bisa mempercayainya. Suatu saat pasti anda akan menyadari kebenaran kata2 saya.

72. anak Tuhan - Januari 19, 2009

knapa saya harus ganti nama? ah, zaki jawabanmu jgn ngeyel mulu. saya siap menerima segala konsekuensinya, dan saya percaya Tuhan pasti senang karna saya menganggap Dia ayah saya. ayah saya tak mungkin memberi saya ular ketika saya meminta mainan. ini pasti tidak tertangkap dgn kamu, karna pikiranmu yg tertutup dgn setan.

zaki sangat mengetahui kebenaran yg mutlak. wah, zaki hebat!! lebih hebat dari filsuf2 poststrukturalis dan postmodernisme.

sori ya, zaki. saya ga mungkin dihampirin kebenaran dgn cara tragis karna saya telah meyakini kebenaran itu. dan sori lagi nih, kata anda tak ada benarnya. wkkkkkkkkkkk….

nb: Pertanyaan saya ga dijawabkan? setan emang ga mau ngaku sebagai anak Tuhan… wkkkkkk.

i luv u, zak!!

73. Zaki - Januari 20, 2009

Ya sudahlah kalo gitu. Mau gimana lagi.
Sekarang saya sudah cukup punya alasan untuk mengucapkan, “Laa ikraha fiddin” (Tak ada pemaksaan dalam kebenaran).

Peace.

74. Said - Januari 21, 2009

Kupu2 malam

75. anak Tuhan - Januari 21, 2009

Dan saya juga punya cukup alasan untuk mengatakan siapa anak Tuhan dan siapa anak setan. wkkkk…….

76. nikholas - Januari 24, 2009

ngomong apa sich setan ma tuhan terus …

“gwa suka binun saat ditanya suka gunung atau lautan.. gwa jawab aja asal.. gwa suka guling”

77. wedhus - Januari 28, 2009

kayak kurang akal aja ngasih penghargaan ke pelacur…
emangnyanggak ada wanita yg lebih layak?
apakah guru wanita berjilbab …. yg rajin beribadah … yg mencurahkan tenaganya demi akan didiknya, tak lebih baik daripada si pelacur itu?

78. Irchamni Soelaiman - Januari 29, 2009

Sebenarnya Mas Goen itu protes. Ia protes pada agama yang diyakininya, itupun bila ia beragama. Dan bila agamanya Islam, –paling tidak dari segi namanya–, maka ia protes pada agamanya.
Coba simak kalimat yang ia pilih, sehabis mendeskripsikan dengan jernih dan apik sosok tokohnya, Nur, tiba-tiba ia menggugat lantang, …”Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang hormat ke wajah Nur; seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya?” Ini kalimat yang sarat makna, perlu hati yang dingin memahaminya.
Istilah agama dalam kalimat tersebut bisa berarti dua, ajaran dan pemeluk. Agama dalam arti pertama, subyeknya, ajaran, –predikatnya, akan punya arti. Agama dalam arti kedua, –subyeknya, pemeluk, –predikatnya, tak memandang hormat.
Bila ia protes ke ajaran, ia bakal nyesel. Bila protesnya ke pemeluk, ya, saya kira ada benarnya. Dewasa ini, sepertinya lembaga agama rada jauh dengan kemanusiaan. Tak seperti zaman sahabat. Jadi, protes Mas Goen itu benar adanya. Bahkan, dalam satu suratnya, Tuhan lebih keras dan mengancam; pemeluk agama itu “pendusta agama” tatkala ia tak memandang hormat alias mengabaikan anak yatim, fakir miskin, wajah Nur.

Sebenarnya Mas Goen ingin mengatakan begini. Agama itu hanya berarti bila ia begitu dekat dan ramah dengan realitas kemanusiaan. Pemeluk agama itu akan bermakna bila mereka juga pemeluk kemanusiaan. Apakah di dekat Nur tak ada pemeluk agama? Kenapa Nur dibiarkan, diabaikan, tak ditolong, tak disantuni?

Kalau soal penobatan, “Bagi saya, ia Ibu Indonesia tahun 2008″, itu merupakan bagian tak terpisahkan dengan protesnya. Atas nama kemanusiaan, yang memperjuangkan masa depan ke 5 anaknya dengan cara menjual alat reproduksinya, wajar bila Mas Goen nobatkan sebagai Ibu Indonesia, sekalian protes ke agama. Gitu aja.

79. Hanya hamba - Februari 2, 2009

Buat semuanya… Ketika kalian berdebat tentang apa yang disebut “agama” maka kalian masih dalam taraf “Syariat” yaitu mempelajari teori dan keilmuan sebuah agama. Namun apabila anda sudah bisa memandang, menilai, memaklum, dan tersenyum hingga kalian bisa mendapatkan hikmahnya maka anda sudah dalam taraf “Hakekat” meloncati taraf “Tarekot”.

Namun apabila kalian sekarang juga bergegas melihat lingkungan tentang kejadian yang anda cermati, (melihat orang butuh pertolongan, melihat anak miskin kelaparan, mendengar tangis janda yang memohon belas kasih Tuhan) dan kalian merogoh kocek/membantunya… maka kalian telah sampai pada taraf “ma’rifat”… kalian telah mengerti sebuah agama secara sempurna.

Syariat > Tarekot > Hakekat > Ma’rifat
“Mengamalkan agama”

salam,
Hanya hamba

Jona - Oktober 22, 2009

kalau anda?

80. Andra - Februari 3, 2009

@diatas
Iya..iya tau…saya loncat-loncat tuh….kadang ma’rifat kadang tarekot kadang syariat…..tapi di syariat asik juga kayaknya, ya disini dulu. Besok saya ke ma’rifat kayaknya…kalau lagi mood. Peace! :D

81. AyaAyaWae - Februari 6, 2009

Hehe… tulisannya udah bagus kok tanggapannya aneh-aneh ! Jauh api dari panggang boss!

82. vina kamisama - Februari 11, 2009

hhmm….

pelacur juga seorang ibu..

that’s the fact..

dan kurasa surga masih ada di telapak kakinya..

83. Bagoes - Februari 12, 2009

Salam Sejahtera Semua…
Dari semua diskusi ini…ada perbedaan dan keindahan yang kudu dtarik benang merahnya (kaya Tukang Jahit).
Sejarah Pelacur/wanita panggilan/kupu2 malam apa siang, orang banyak memberikan bahasa pada mereka dengan versi panggilan masing-masing yang kadang melecehkan secara pisik (Disini manusia hipokrit dominan sekali),sudah ada ribuan tahun yang lalu, hampir sama dengan dg penciptaan manusia.
Ada hukum sebab akibat kenapa ada pelacur dll, ironisnya mereka dihujat tapi dibutuhkan,Kalo dari kaca mata “Syariat” Jelas sekali bagaimana Syariat Memposisikan “Pelacur” itu DOSA BESAR, itu menurut Versi Syariat, tiap-tiap agama punya penilaian sendiri ttg “pelacur”.Bagaimana kalau dilihat secara “Spiritual?.Apalah TUHAN akan Kejam Terhadap “Mahluk Ciptaanya itu”? TUHAN bukan angkara MURKA, TUHAN punya Fleksibilitas terhadap MAHLUKNYA makanya TUHAN disembah…tapi klo TUHAN Dibuat dg MERK DAGANG Tertentu dengan tingkat Kesulitan yang RUAR BIASA ketika kita masuk wilayahnya, Orang-orang yang BERFIKIR akan sulit masuk, justru manusia yang gampang dicuci otaknya mudah masuk wilayah itu….mereka mudah sekali menghujat,memberikan doktrin haram,teroris DLL…semuanya berpulang pada kita dalam menelaah sebuah peristiwa karna pada intinya LIFE IS BEUTIFUL masuk wilayah itu segala sesuatunya akan berisi KEIHLASAN TERHADAP SESAMANYA bahkan Terhadap saudara kita WANITA YANG DI Juluki ‘pelacur” itu…..Salam semuanya

84. Beb - Februari 12, 2009

Hallo GM, saya sangat sangat…. setuju sekali dengan Mbak Nur mu. Cuma sedikit mengganggu kenapa dia yang kekurangan, memilih menyekolahkan anak2nya di sekolahan yang nota bene mahal untuk ukuran dia. Atau kamu punya alasan tertentu untuk itu.
Thanks.

Oiya, untuk kaum laki2 yang berkeinginan untuk berpolygami atau yang sudah berpolygami.
Kalau jantan jangan bersembunyi dibalik AGAMA untuk melampiaskan Hawa Nafsu. Isi ajaran agama bukan harga mati. Kita manusia ciptaanNya yang paling sempurna diantara makhluk hidup yang lain ( salah satunya BINATANG ), berakal budi punya naluri, perasaan jangan diperbudak dengan salah satu sarana yang ada di diri kita yaitu Hawa Nafsu Egois.
Kita ibarat Sopir dari badan kita. Kita yang menyetir, mengendalikan mobil kita, bukan sebaliknya. Hawa Nafsu yang mengendalikan kita! Anjing saja tertawa lihat Hawa Nafsu menyetir manusia! Apalagi Hawa Nafsu itu sendiri…. puas puas puas…….?????

85. andrimanggadua - Februari 12, 2009

Ngga puas, aku…
Aku juga ngga suka kamu pakai kata “kita”….siapa yang kamu pikir sama denganmu?

memangnya kamu pikir “will-to-power”nya Nietzsche itu apa? Memangnya kamu pikir ” alam bawah sadar”nya Freud itu isnya apa? Emangnya “suvival instinct”nya Darwin itu apa? Emangnya manusia dibawah bayang-bayang hegemoni itu isinya apa?

Bawa-bawa anjing segala…ckckck….malu dooong, masak bego dipamer-pamerin….ckckckck…..

86. numpanghidup - Februari 12, 2009

aduh, tulisan begitu bagus kenapa diskusinya jadi begini?
malu ah sama GM dan mas anick yg sudah susah-susah ngup-date.
lagipula, ini hitam atas putih, beberapa tahun lagi ada yang baca (biarpun iseng, sapa tahu peneliti sejarah atau yang lain) apakah tidak geleng-geleng?

87. Beb - Februari 13, 2009

wah… , ya bersyukurlah kalau anda andrimanggadua yang tidak termasuk golongan manusia.
Dan saya tidak meminta siapapun untuk merasa puas?! Baca yang benar dong mas nya sing pinter dhewe.
Yang berujar puas itu si HAWA NAFSU sendiri yang bisa mengendalikan manusia demikian halnya si anjing yang melihat manusia dikendalikan oleh hawa nafsu.
sudah santai saja…, TerBukti kan.Dikendalikan!
Udah cari duit dulu ya.
Kulonuwun massss.

88. isoelaiman - Februari 13, 2009

Kadangkala, manusia itu begitu mengagumi akalnya, sehingga Tuhan dapat dijangkaunya sedemikian rupa. Dari pengungan akal itu, kemudian, manusia mengatakan Tuhan itu begini, begitu. Misalnya dalam kesadarannya akan hebatnya akalnya, lalu dia mengatakan Tuhan itu sayang pelacur, sayang koruptor, sayang pada manusia penghujat. Asghfirullahal ‘adziem.
Yang Maha Benar tentang bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka semua adalah menurut penjelasan Tuhan sendiri di dalam kitab suci Al-Qur’an.
Dan salah satu ciri bagi yang memahami tentang sikap Tuhan dalam kitab suci-Nya, akan mengekpresikan pemahaman itu lewat sopan santunnya, tawadhu’nya, ketundukannya, ketakutannya , pengagungannya dan kedekatannya kepada-Nya. Klaim bahwa Tuhan itu begini dan begitu sepanjang menurut akal manusia bisa sesat. Apalagi ditunjang dengan ketokohan, posisi, kedudukan dan kesombongan. Dalam sejarah kehidupan manusia –sebagaimana dijelaskan oleh Allah sendiri dalam kitab suci-Nya–, kesesatan manusia itu salah satunya bersumber pada –pengagungan akalnya sendiri–. Memang, Tuhan menciptakan akal manusia itu sangat luar biasa, dan yang dipakai baru sedikit saja. Namun, tetap ada batas. Pembatasnya adalah Penciptanya sendiri, yakni Allah Yang Maha Perkasa. Dan batasan itu sudah ada di dalam kitab suci, Al-Qur’an.

89. andrimanggadua - Februari 13, 2009

Justru anda yg baca lagi apa kataku, beybeh

Kalau anda pernah baca lietaratur yang saya coba angkat di atas, anda mungkin akan memahami bahwa manusia banyak memakai kedok dalam pelbagai aktivitasnya. Kedok itu bisa berupa moral, agama, etika, dll -yang nota bene disahkan masyarakatnya. Ada pun isi sesungguhnya dari segala aktivitas itu tidak lain dan tidak bukan merupakan “kehendak untuk menguasai”, “insting libidal”, dan “insting survival”.

Maksud saya, motif dari segala aktivitas itu sudah bukan lagi “masalah”, motif itu sudah diamini sebagai penggerak manusia. So what?!

Artinya, bila anda menganggap bahwa naluri alamiah tersebut diketawain anjing, barangkali anda sendiri tidak menyadari diri sendiri?

Mari saya perjelas lagi.

Bila dalam masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan nilai-nilai islam sebagai acuan dari pelbagai penilaiannya, maka poligami itu bukan masalah, apapun motifnya, takkan diketawain anjing.

Sebaliknya, bila masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan nilai-nilai budaya padang (yg mensahkan poliandri) sebagai acuan segala penilaiannya, maka dengan motif apa pun, poliandri tidak bakal diketawain anjing.

Jadi kesimpulannya: bila anda sedang main basket, jangan pakai aturan sepak bola.
Begitu pula sebaliknya.

Paham, bung!
Mari kita bicara dengan bersemangat! Tapi tolong, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan dengan bahasa yang kurang enak.

90. andrimanggadua - Februari 13, 2009

Ayo, beb…bicara lagi….

Jangan sampe aku berpikir kalo kamu cuma bisa ngomong “anjing” doang….omongan kaya gitu ga bikin aku takut

Ayo dong, kalo jantan jangan bersembunyi dibalik “manusia” dalam rekaan kamu, guru kamu, atau orang-orang pencerahan…
(Terangkan padaku lebih jelas tentang hal ini, please)

Masak kamu mau nunggu orang buat ngebelain kamu….
:D

91. biyu - Februari 14, 2009

nilai-nilai islam itu yg banyak salahnya! apalagi dalam hal poligami! hah, ngomomg poligami tidak ada masalah. sapa bilang? tanya ama perempuan. kalo andri yg jawab ya iya lah. sama2 punya pikiran bersifat libidinal!! lha wong laki2!! pake kedok agama!! cih!!

92. andrimanggadua - Februari 15, 2009

Benar-salah itu penilaian, bung!
Kamu bersandar pada nilai apa dulu ni?
Kamu ngga suka nilai2 islam? monggo pake yang lain….barangkali pada mau poliandri?, yo monggo….

Gitu aja kok repot

Mau hombreng? Monggo….
Mau lesbong? Monggo….
Repot-repot amat?
Anything goes!

Berapa banyak laki-laki yang cermat dirusak hatinya oleh perempuan?
Berapa banyak perempuan yang tabah dikoyak oleh keperkasaan laki-laki?

Berapa banyak yang tidak cermat dan tidak tabah merasa mewakili mereka?
Pake kedok empati, Cih!

There’s no free lunch!

93. bodrox - Februari 16, 2009

miris membaca tulisan ini. Apalagi ketika pak GM menulis, “Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”. Seperti ingin mengatakan banyak wanita yang bernasib seperti itu :(

94. yungchi - Februari 16, 2009

huh……….

95. andrimanggadua - Februari 16, 2009

Kayaknya si biyu ngerjain gue deh….
Hehehehe
Tae lah

96. eryana - Februari 18, 2009

Tulisan bapak sangat menyentuh,lahir dari sebuah dialektika yang jujur dan terkesan intim dengan mbak Nur….memang seperti itu hendaknya sebuah tulisan..kadang kita harus “bercinta” dengan subyek..bergumul…dan “bersenggama”…..mbak Nur seperti Ibu pada umumnya…Ibu…yang EMOH anaknya terlunta seperti ibunya..ibu yang mengalah teriris raga dan jiwanya…ibu yang bisa mendadak kurus,mengalah,karena memberi asi untuk jabang-nya….yah……Overall…IBU WALI KITA DI SORGA….I love U mbak Nur…Teruskan PERJUANGANMU….Om Gun…ijinkan saya belajar…

Salam Dari Studio Sanur
Eryana

97. biyu - Februari 19, 2009

andri ini pasti sering disakiti perempuan dan sering berhasrat untuk menunjukan keperkasaannya pd keperawanan perempuan!!!
benar salah memang penilaian, tapi kalo penilaian yg salah jgn dipertahankan donk, kedondonk!!
kamu banyak2 aja cari pelanggan supaya dagangan mu laku…

poligami itu dah jadul! zaman dulu manusia itu masih sedikit, jd laki2 cenderung beristri banyak guna memenuhi bumi. poligami jg sejarah raja2 dalam mencari selir. bahkan dayang2 pun dihajar. namun berjalannya waktu, ketika manusia itu sudah banyak, maka poligami mulai menemukan masalah. cuma masalah itu masih dipolitisasi. agamalah yang menjadi kedoknya. seolah-olah menolong, padahal berhasrat dengan yg lain. kekayaan menjadi alat kekuasaan sebagai ketuk palu dlm menentukan istri berikutnya.

kalo mo diteliti, boleh tuh. buat aja kuesioner yg respondennya perempuan. pertanyaannya: mau kah anda di madu?

empati tuh substansi dari rasa cinta dan kasihsayang -bukan dgn hawanafsu!!
jgn ikut-ikutan meludah, air ludah anda dah kering karna teriak2 : Obraaall…obraaal.. 10rb tinggal pilih dipilih!!!!
wkkkkkkkk….

-sori admin, pembicaraan agak keluar dr esainya GM

98. andrimanggadua - Februari 19, 2009

Kata sori pada admin itu maksudnya alibi?

99. Aree - Februari 19, 2009

ini adminnya ikut2an nih

100. massto - Februari 20, 2009

hwalahh..ngomong opo???..

101. jaah_unit - Februari 21, 2009

saya pernah melacur beberapa kali
ko’ nggak ada yang promosiin saya jadi pria idaman 2008/2009 ya…??
semoga kita semua mati dalam keadaan tunduk….

with love

102. jamurkomik - Februari 23, 2009

menarik…

coba klo diliat dari sudut pandang si anak…
kira2 apa pendapatnya ttg pekerjaan yg dilakukan ibunya…
kira2 apa yg ada di pikiran si anak ya???

ah…puyeng ah…
apapun itu saya gak pingin melacurkan diri…
melacurkan keyakinan saya….

103. benhamed - Maret 4, 2009

bravoo… 1 tulisan 102 meesage…
kuat juga aromanya…
tapi saya ndak suka nulis… saya lebih suka “berak” haha

104. Vania - Maret 4, 2009

wah keren, saya tersentuh banget..

105. Sutan - Maret 5, 2009

GM terlalu menyudutkan agama yang “tidak bisa berbuat apa-apa”. Beberapa diantara kita mungkin pernah menggugat TUHAN atau tidak setuju pada keputusan NYA. Namun TUHAN punya “rahasia” entah apa yang ingin IA lalukan, kita hanya berusaha. Bahkan ibu Nur tidak menyudutkan TUHAN tapi malah GM yang melakukannya.

106. espito - Maret 7, 2009

GM, kenapa anda tak gunakan saja istilah yg lebih amelioratif semisal: Pramuria, atau PSK. istilah pelacur terlampau berkonotasi buruk dan melecehkan saya kira..

107. patung pancoran - Maret 13, 2009

pelacuran tidak pernah baik.

niat baik tanpa cara yang baik itu seperti bilangan positif dikalikan dengan bilangan negatif, hasilnya negatif. malah, nilai negatifnya besar, semakin jauh dari titik nol. semakin jelek, semakin rusak.

pekerjaan halal segambreng, koq milih jadi pelacur? murah pulak. mending jualan gorengan, jadi sopir angkot, atau apapun yang halal.

sekali lagi, positif x negatif = negatif.

108. HetLotobOrsos - Maret 13, 2009

patung pancoran..
sederhana sekali hidup atas kalkulasi..
o Ya?

109. cindy natalia.Xa - Maret 22, 2009

menurut pandangan saya artikel yg bapak tampilkan,membuat saya merasa bahwa seorang pelacur tidak selamanya haram..
karena seorang perempuan yang sudah di tinggalkan suaminya tanpa diberi nafkah harus mengurusi dan membiayayi 5 orang anak..
itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, tetapi itu harus di lakukan dengan perjuangan yang sangat besar…
oleh karena itu, kita harus menghargai semua orang walaupun berprofesi seperti pelacur..

110. Loginataka - Maret 24, 2009

Teman-teman, saya mau tanya nih.. Ada gak ketentuan agama yang mengharamkan pelacuran? (Misal: Surat di Quran)
Trims.

111. Sheren. M. E (X-A) - Maret 25, 2009

Hmm,, kisah yg sangat mengharukan bwt sya. Tp di satu sisi, sya sangat bangga dengan ibu Nur yg harus bekerja menjadi pelacur dan tukang memecah batu untuk membiayai skolah dan memperbaiki nasib anak-anaknya. Apalagi tekad dia yang memasukkan anak sulungnya, Tegar(6) ke salah satu sekolah TK katolik di Jakarta. Perjuangan nya sangat menyentuh hati. mungkin orang lain menilai bahwa pelacur itu perempuan yang gak sayang sama “tubuhnya”, tapi kisah ini sangat lain. Bukan berarti harus menjadi seorang pelacur, tapi harus menjadi seorang yang berjiwa besar seperti ibu Nur.

112. Martinus C. S. - Maret 27, 2009

saya sangat prihatin dengan keadaan indonesia yang kehidupannya sangat keras. disamping kemiskinan yang dialami masyarakat, harga harga barang juga mahal sehingga orang orang yang putus asa karena harus menghidupi keluarganya sehingga harus menjadi seorang PSK.

113. Alvin.P - Maret 29, 2009

Saya merasakan suatu kebanggaan dari seorang ibu Nur, karena dia merelakan tubuh nya untuk membiayai anak-anakna yang masih kecil untuk bersekolah,tetapi di satu sisi saya tidak setuju.Kenapa harus menjadi “Pelacur”?? Kenapa tidak menjadi pembantu saja. Walaupun derajatnya tidaklah tinggi tetapi itu merupakan pekerjaan yang halal. Menurut saya, saya lebih setuju jika ibu Nur melamar pekerjaan sebagai seorang pembantu,dari pada seseorang yang harus merelakan tubuhnya dan menjadi wanita yang tidaklah baik.

114. Andre aprianto yusuf....X a....... - Maret 30, 2009

saya sebenarnya cukup bangga kepada ibu Nur,karena ia mampu menghidupi anak-anknya,sampai-sampai ia harus menjual tubuhnya sendiri.Ia melakukan pekerjaan itu terpaksaan karena suaminya tidak mengirimkan uang sedikit pun.coba jika suaminya mengirimkan uang setiap bulan,maka ibu Nur tidak harus bekerja seperti itu.Dan juga kesalahan ibu nur kenapa mesti bekerja seperti itu seharusnya ia bekerja yang lebih layak,kan masih banyak pekerjaan yang lebih layak.seperti menjadi tukang jahit.walaupun pekerjaannya melelahkan yang penting halal.

115. Albert Feria Nobel / No:1 (10A) - Maret 30, 2009

Menurut saya, memang melacur adalah pekerjaan yang haram tetapi saya salut dengan Ibu Nur karena Ia rela melakukan pekerjaan yang termasuk haram demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil dan membiayai mereka sekolah. Saya juga sangat prihatin dengan keadaan Ibu Nur.
Tetapi di satu sisi saya tidak setuju karena…………..mengapa Ibu Nur harus memilih pekerjaan melacur untuk mencari nafkah untuk anak-anaknya sedangkan masih banyak sekali pekerjaan yang halal/ pekerjaan yang lebih layak, seperti pembantu rumah tangga, bekerja di pabrik,dll. Memang kehidupan di Indonesia sangat keras dan sangat memprihatinkan, tetapi kita tidak boleh mudah putus asa dalam menghadapi kehidupan yang keras tersebut melainkan kita harus selalu berjuang untuk mencapai suatu keberhasilan.

116. chia - Maret 31, 2009

masih banyak “Nur-Nur” lain di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita untuk membantunya keluar dari segala himpitan. Jadi buat Anda yang merasa suci dan benar…buktikan dengan tindakan, bukan makian dan perdebatan yang tak penting. Buat Andri…sadarkah Anda? pernahkah Anda melahirkan dan mengasuh anak tanpa nafkah dari seorang yang harusnya menafkahi. atau bila Anda ada di posisi sebagai anak ibu Nur. apa Anda masih juga menyudutkan dia? Logika anda memang jalan..tapi hati nurani Anda tumpul.

117. Samaritan - April 13, 2009

Being religious means asking passionately the question of the meaning of our existence and being willing to receive answers, even if the answers hurt…dibalik profesinya, BISA saja Bu Nur berkeyakinan bahwa itulah jalan/jawaban bagi seorang ibu yang berjuang menafkahi anak-anakya, skalipun itu menyakitkan bagi Bu Nur. Tapi apakah hanya itu satu-satunya jawaban bagi Bu Nur untuk masa depan anak-anaknya? mungkin saja memang hanya ada satu jawaban bagi Bu Nur karena dalam dunia ini, CINTA KASIH sudah semakin TAWAR!!!!!………..

118. Pelacur - April 15, 2009

[...] the original:  Pelacur Posted in Catatan Pinggiran | Tags: a-belum-bercerai, a-seorang-istri, a-yang-gempal, [...]

119. robert - April 30, 2009

Kisah “pertaruhan” telah menyuguhkan perjalanan bu Nur entah sebagai pelacur atau justru seorang Ibu yang bermoral. Agaknya akan lebih komplit jika kiranya kita baca juga caping “Mulyana” ; apakah itu “kebajikan” atau juga “kewajiban”.
Hormat untuk Om Goen… yang juga manusia…

120. sigit wardoyo - Mei 5, 2009

“tahukah jalan yang berat dan mendaki itu, ialah membebaskan budak dan perbudakan”, tugas dan tanggung jawab kita bersama apalagi depsos en pemerintah jangan sampai lalai masih ada ribuan kasus seperti ini di Indonesia yang merdeka

121. widyaharningtyas - Mei 20, 2009

coba renungkan andai kita sbg nur dg smua polemik hidupnya………….

122. nakula sadewa - Mei 30, 2009

tujuan tidak menghalalkan cara

123. )x( - Juni 8, 2009

lalu kemanakah agamawan mengobral kata agamanya dan dimana para kaya menafkahkan uangnya?

124. suarbudaya - Agustus 28, 2009

saya percaya pertimbangan moralitas adalah sesuatu yang harus secara hati2 kita letakan didalam melihar kasus ini. Dalam kerangka teistik tentu saja ada konsekuensi dari apa yang dilakukan nur.Sebab kerangka teistik menysyaratkan hubungan asimertis antara Tuhan yng meiliki perintah yang mutlak dilakukan dan ditaati oleh manusia ciptaannya.Walapun demikian kaum beragama perlu secara bijak menilai kasus nur ini agar tidak terjebak pada penghakiman sempit dan tidak melihat keseluruhan masalhnya secara utuh dan struktural.

125. nilam - Agustus 29, 2009

Mungkin memang “ibu Indonesia”. Itu sindiran buat kita bangsa Indonesia yang tidak sabar, mudah putus asa dan menyerah, sehingga tidak masalah bila kita menyalahkan agama, dengan menyerang para pemeluknya yang suka menghujat mereka yang dianggap tidak bermoral (mengapa tidak berpaling pada para pemeluk yang taat dan taqwa dengan sebenar2 taqwa pada Tuhan yang tidak suka menghujat? Emangnya nggak ada? Mengapa memandang agama dari perilaku buruk pemeluknya?), sehingga tidak masalah pergi kerja melacur, semua itu tidak salah karena tidak ada kesabaran. Mungkin karena kesabaran dalam menetapi atau menjalani kebenaran dianggap sbg sesuatu yg mustahil bukan sebagai sesuatu yang harus diupayakan meskipun sulit.
Tuhan Maha Baik, mungkinkah nasib pelacur yang melacur karena terpaksa adalah salah agama atau salah Tuhan?

126. Amirah Kaca Sumarto - September 15, 2009

Memang nasib Pelacur yang melacur memang buka salah agama dan Tuhan. Tetapi saat sekelompok orang memandang rendah yang lainnya dengan berkedok agamanya dan Tuhannya, itu yang salah. Sepertinya sudah jelas itu yang ditunjukkan dari tulisan ini.

127. M Firdaus - September 16, 2009

Yang salah ya cowo yang ga bisa ngendaliin nafsu. Bukannya pernah denger anekdot: “kenapa surga itu bidadarinya banyak n cewe semua? ya karena klo cowo semua bisa berubah jadi neraka tu surga”
Tuh, masih ada “bang Toyib” ga tanggung jawab ninggalin anak istri, 3 kali lebaran ga pulang-pulang.
Tuh, masih ada pelanggannya. Namanya juga realita sosial. Tapi ya mungkin saja ada yang melacur lama-lama bukan karena kebutuhan, karena hobi.
Tuhan memberikan banyak anekdot dan ibarat melalui jalan ceritanya yang indah, sebuah rangkaian sebab akibat yang unik. Yang salah bisa pelacurnya sendiri, pelanggannya, atau kita yang membiarkan realita itu terus bergulir tanpa kepedulian.

128. lonelyroseblack - September 20, 2009

salam aidilfitri..pertama kali singgah, membacanya dengan penuh rasa..hidup adalah tentang pengorbanan, sisi diri yang ‘terpilih’ diuji Tuhan, pertimbangan dan kewarasan titik fikir.. :)

129. udin - September 25, 2009

Manusia sekarang ini penuh tekanan hidup dan cobaan, membuat banyak orang tidak berpikir panjang lagi. Apalagi negeri kita ini yang kebanyakan penduduk, sudah makin susah diatur, semua mau sendiri. Yang penting sekarang ini adalah bagaimana individunya itu sendiri, semua kembali kepada diri kita sendiri.

130. Nyubi - Oktober 2, 2009

Ada agama aja begitu apalagi gak beragama :) maksudnya? Translate yourself

131. rizal - Oktober 12, 2009

bukankah agama itu penuh dengan tafsiran-tafsiran? lalu siapa kita yang begitu berani menilai orang lain, bahkan dengan beraninya Berprasangka kepada Tuhan? dalam mata yang fana ini siapapun boleh menilai dalam batas kinerja akalnya yang paling mungkin. Tapi Tuhan, yang menciptakan, jauh lebih mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Saya secara pribadi melihat apa yang gambarkan mas goen, adalah sebuah peristiwa lumrah, tapi gaya menulis beliau memang sukses memancing pemikiran dalam berbagai bentuk alirannya. :) masih ada banyak mbak Nur lain disekitar kita, terjebak dalam pembodohan dan pemiskinan struktural, kesulitan hidup tanpa akhir, perjuangan melepaskan diri dari lembah kegelapan, sementara itu disekitarnya diliputi dengan dakwah yang tidak ikhlas tanpa metode dan tauladan, mana sang pengayom who will protect and serve, sementara egoisme manusia yang merasa pemikirannya lah yang paling benar diantara yang benar merajalela.
Mbak nur merupakan produk generasi ke n dari dari dalam dunia yang demikian pahit, berjuang sendirian dan bahkan ditinggal hidup oleh suaminya, siapa kita yang dengan entengnya mengatakan “kenapa gak kerja yang laen aja mbak, kan banyak kerjaan halal yang laen”…come on … sekali-sekali turun dong ke bumi. Hidup bukanlah sekedar makan minum.
Ujian yang diberikan Tuhan “barangkali” bukan hanya ditujukan kepada mbak Nur saja, tapi semua termasuk orang termasuk Mas Goen dan juga saya yang telah berani lancang masuk kedalam diskusi ini. Mbak Nur sekarang sedang menjadi guru (barangkali test case lebih sesuai), orang seperti mbak nur lah yang dalam satu ketika menjadi sebab sumber kehidupan bagi para penarik becak, penjual makanan, penyewa rumah kost dsb. Ternyata ada rantai rezeki yang bersumber dari tubuhnya yang kemudian menjadi sebab rezeki atas mahkluk yang lain. Mari, bantulah beliau untuk kembali mensucikan tubuhnya, sehingga mengalirlah rezeki yang halallan thoiyyiban bagi anak-anaknya. Putuskan rantai penyebab kekufuran itu, sehingga generasi m tak lagi bergelimang dalam situasi yang sama seperti orang tuanya. Dan kalau hendak merajam seseorang, carilah makhluk yang memang melacurkan dirinya sebagai sebuah kesenangan dan gaya hidup, yang pasti mereka tidak mencari makan secara demikian dan mereka tidak kekurangan harta, itulah penzina sejati. Tapi ingat, mereka punya cukup uang untuk membayar pengacara yang justru bisa membuat anda dirajam. :)

salam dari negeri syariah :)

132. j.fz - Oktober 12, 2009

Untuk menguraiakan masalah ini cukup rumit, kita merasa prihatin terhadap kondisi Perempuan dalam suatu negara agamis yang berada di garis kemiskinan di mana daya dan upaya orang kecil harus berhadapan dengan sistem nilai, hukun dan peraturan yang mereka tidak akan mampu menempuhinya (menjalaninya) agar bisa menikatkan strata ekonomi sosialnya. Apalagi mereka hidup di masyarakat yg pelit dalam urusan membantu seseorang yg berada dlm keadaan kekurangan ini (kecuali ajakan berhura2). Seperti saya mungkin hanya merasa iba saja, lalu mengkambing hitamkan satu yg lainnya dan itu tidak akan mengurangi penderitaan mereka. Mengapa kehidupan ini begitu getir bagi mereka (tanya aja pada bayi kenapa kok tidak bisa tertawa ketika muncul kedunia ).

133. j.fz - Oktober 12, 2009

Saya teringat biografi Ibu Inggid Ganarsih wanita yang pertama kali mendampingi si Bung (Kusno) di masa yang begitu getir dalam kehidupan si Bung, dimana segalanya telah Ibu Inggid berikan untuk perjuangan beliau termasuk harta bendanya, dan segenap jiwa raganya untuk menyemangati si Bung ini. Walaupun itu tidaklah sepadan terhadap apa yang diterima oleh Bu Ingid ini. Wanita ini selalu mendapingi perjuangan si Bung dimana saja (lebih banyak dalam keadaan susah), sebelum terjadi percerai diantara keduanya. Ibu Inggid ini bukan wanita penuntut dan ia berwawasan sangat luas (tentang keadaan si Bung dan perjuangan Bangsa ini). Si janda ini begitu kaya raya karena keuletannya sebelum menikah dengan si Bung (Kusno), dan setelah bercerai dengan si Bung beliau harus mulai lagi dari awal (kusno menepati janjinya setelah ia jadi Presiden untuk memberinya sebuah rumah). Semua telah habis untuk membiayai kegiatan politik si Bung yang tidak bekerja (mencarikan nafkah bagi istrinya karena ia adalah tokoh politik saat itu). Apakah akhir kisah Ibu Inggrid Ganarsih ini begitu membahagiakan bersama si Bung ini ?, ah itu tidaklah penting. Inggid Ganarsih telah mengambil suatu peran yang sangat dibutuhkan disaat itu yaitu mengantarkan pemuda indekos ini sampai ketingkat paling tinggi dalam pentas perpolitikan saat itu. Semangat wanita Sunda ini sungguh luar biasa. Wanita penyokong berdirinya PNI pertamakali ini sungguh membanggakan bagi kita semua.

134. sinar903621 - Oktober 25, 2009

Orang yang merasa beragama(Islam.Kristen dll) sepertinya ingin masuk surga dengan menutup mata terhadap sekeliling.Namun sebenarnya orang yang beragama itu tidak menjalankan ‘nilai2 agama dengan benar….Tidakkah 2.5% dari uang pendapatannya itu sebenarnya milik Mbak Nur (baca : orang miskin)…Kalau saja nilai Islam itu dilakukan di Indonesia,aku yakin Mbak Nur akan berhati-hati sekali dalam hidup dan tidak akan menjajakan alat kelaminnya….

135. onesimpletech - Oktober 30, 2009

nice article…

Bali Page – Island of Bali
Indonesia Page – All About Indonesia

136. Much - Februari 23, 2010

Selalu ada 2 sisi dalam kehidupan, baik dan buruk. Baik dan buruk tidak ada, dosa pun tidak ada yang ada adalah belum pasnya menempatkan sesuatu pada porsinya.

Keterpurukan manusia dibuat oleh manusia itu sendiri bukan oleh orang lain bukan Tuhan pula. Tuhan tidak akan menyiksa ciptaannya sendiri, tinggal kita mau berada di wilayah mana, itu terserah diri kita sendiri.

Hidup adalah perjalanan, selalu ada jatuh dan juga ada bangun. Ketika terjatuh maka biarkan saja, nikmati maka suatu saat juga akan bangun lagi.

Dosakah apa yang dilakukan oleh para pelacur itu? Jika dijawab secara hukum agama maka jawabnya adalah IYA. Tetapi ketika ada pertanyaan lanjutan kenapa orang disekelilingnya tidak mau membantunya, maka beban dosa inipun beralih kepada saudara-saudara atau orang yang tinggal di sekitarnya karena sudah membiarkan salah satu manusia terlantar. Dosa itu juga akan dilimpahkan kepada para pejabat yang hanya berpesta pora orang rakyat tanpa memperdulikan rakyat yang kelaparan. Dosa itu juga akan dibebankan kepada para kyai, para pendeta para tokoh-tokoh agama yang hanya perduli dan berkutat di masjid dan gereja dll.

137. jatonas - Februari 23, 2010

10 rb…mau

138. Pyan Sopyan Solehudin - Februari 28, 2010

Saya jd ingat ibu saya yg seorang janda. ia mati-matian pergi jauh dari kampung halaman untuk bisa hidup, menghidupi–membesarkan keempat anaknya yang terlantar. Sampai aku bisa sekolah, sampai bisa kuliah. meski ketiga kakakku terpaksa harus rela putus sekolah, yg mungkin ingin mengutamakan adik bungsunya untuk bisa sekolah sampai jenjang lebih tinggi.

Tapi aku bingung bagaimana membalas kebaikan semua ini…

139. Koru - Maret 5, 2010

Ia Nur… Ia terang… Ia ibu… the real ibu…

140. surya esa - Maret 6, 2010

rasa iba penting,tapi sampai sejauh mana iba itu tidak berdampak negatif adalah iba yang sakmurwate,marilah kita berlomba lomba menuangkan rasa iba kita,utk Indonesia.

141. Imam - Maret 8, 2010

Mendapat kekayaan(entah harta,ilmu ataupun tahta) itu cobaan. Mendapat kemiskinan adalah cobaan. Jadi “penulis” juga cobaan. Hidup di dunia ini cobaan. Masih ada hidup yang kekal nanti. Entah kita bisa melewati cobaan itu dengan baik atau tidak itu tergantung manusianya. Saya yakin neraka atau surga bukan takdir. Jadi sekarang pilihlah! Kemana engkau akan berlabuh setelah hidup di dunia fana ini. Pihlah kalau engkau memang yakin terhadap agamamu.

142. nana - Mei 2, 2010

nana
yupz,semua jalan yang kita lalui adalah sueatan tujan tapi tuhan memberikan pilihan jalan tinggal manuasia yang memilih jalan yang akan di tempuhnya. begitu juga sebuah cerita di atas ketika tuhan memberikan cobaan tinggal bagaimana manusia menyikapi hal tersebut.

143. Guam - Mei 4, 2010

Makasih semua, Guam Network.

144. capung - Mei 5, 2010

kenapa ibu itu harus jd pelacur? padahal sampah saja bisa mendatangkan uang dgn kemauan dan kreatifitas..kenapa harus mengorbankan kehormatan??

basi ahh! nulis ini-itu ujung-ujungnya nyalahin agama…merasa lebih suci dari agama mas goegoen??

145. ALex - Mei 12, 2010

Kenapa kalian semua berkutat dengan pertentangan dan perselisihan pendapat.
Memang pendapat bebas diungkapkan. Tapi terlepas dari semuanya, kita adalah manusia, yang kadang kebenaran akan sesuatu kita nilai absurd.
Beda pendapat boleh, tapi jangan ujungnya saling menjatuhkan dan ujungnya diakhiri makian ataupun kata-kata serapah.

Mending kita saling mengasihi, seperti Allah mengasihi kita. Allah mengerti, dan peduli akan kita. Dia mengasihi kita dengan cara yang dianggap butuh buat kita.

Salut buat Pak GM.
Peace for All my friends.

146. Guam Network - Mei 25, 2010

Menarik ceritanya, Guam Network.

147. takeonepicture - Juni 2, 2010

Makasih, TakeOnePicture.

148. fetz - Juli 17, 2010

seandaina dunia ga ada pelacur sih gimana yach..!!?

149. yudhistira - Agustus 26, 2010

thanks,mas goen!

150. rudy_rudy - Desember 27, 2010

agama adalah ‘tarikat’, jalan. bukan tujuan. dan sangat ironi apabila kita mau dan sudi membela mati-matian untuk sebuah jalan.
lalu jika kita tak mengenal jalan yang kita tempuh, bagaimana kita bisa sampai (pada sebuah tujuan)? bagaimana kita bisa tahu berapa jarak yang telah tertempuh–selama ini? dan tinggal berapa jarak lagi kita sampai? atau memang kita senang hanya sekadar berjalan, yang berkelok-kelok, jadi tak sampai-sampai.
di dunia yang bulat, teruslah berjalan di jalan yang lurus. krn hanya jalan yang luruslah yang menghantarkan kita pada awal kita berangkat. dan itulah tujuan perjalanan sebenarnya: diri sendiri. bukan yang lain.
saatnya pejalan menjadi jalan, dan pedo’a menjadi do’a itu sendiri…

151. divan - Januari 12, 2011

Wah, semakin jelas saja agama baru paman Gun. Bukan muslim, bukan kristen, bukan budha tapi agama ABU ABU. Ingin mendamaikan dunia, karena menganggap agama-agama yang ada sarat konflik, tapi malah menambah agama baru. Paman Gun, paman Gun.

Rasulullah pernah berkata bahwa ada satu saat, ummatku yang paginya muslim, siangnya menjadi kafir.

Nampaknya zaman ini, yang dikatakan Rasulullah ada satu saat. Di wordpress ini pun seperti itu. Banyak yang tak sadar, tak paham, bahwa dirinya dengan pengaruh ide-ide paman Goen melangkah keluar dari Islam.

Demikian juga untuk yang diluar Islam. Pemikiran Paman Gun, membawa kalian untuk keluar dari agama kalian untuk memeluk agamanya (agama baru GM dan Kalyana Shira sebagai institusi agamanya.) :D. Selamat.

Subhanallah.
Maha suci Allah.

152. Brain - Februari 1, 2011

@ divan

saya rasa kurang pantas juga jika saudara men-jugde seseorang seperti itu, terlalu picik. Yang seperti itu malah menyamakan diri saudara dengan GM sendiri. Biarlah masing-masing memegang akidahnya sendiri, toh Tuhan tidak butuh manusiaNya. Jika saudara muslim, jadilah muslim yang baik, dimulai dari melihat diri sendiri, apa yang sudah saudara lakukan untuk diri saudara sendiri. sudah cukupkah amal ibadah saudara, sudah pernahkah saudara membantu sesama manusia, sudah jauhkah diri kita sendiri dari kemaksiatan (termasuk mengumpat terhadap orang lain)?? sekarang jaman yang semakin miris.. bahkan departemen agama pun menjadi sarang koruptor. Uang jamaah haji dikorupsi oleh kiayi.

Bagi saya.. Islam mungkin memang jalan yang lurus, tapi tetap hanya sebuah jalan, pada akhirnya yang menentukan manusia itu sendiri.

Salam

153. divansemesta - Februari 5, 2011

Bukan menyamakan diri saya dengan kakek Goen, dear BRAIN, tapi MENILAI kakek Goen menggunakan perangkat, pisau analisa Quran, hadist.
Menggunakan perangkat wahyu untuk menarik batasan mana yang muslim mana yang bukan.

Salah kah saya? sementara saya, kamu (kalau muslim. kalau bukan saya tidak ada masalah dengan hal itu.) diharuskan untuk menstandarkan cara pandang pada wahyu. (Ragukah kamu pada Quran?)

Dari sana (dari kita bisa melihat konteks komentar-komentar saya, bahwa kakek Goen itu terjun, berjibaku, berperang di kancah wacana. Dan saya pun masuk kedalamnya. Seperti halnya beberapa saudara saya (secara pribadi sy tak kenal, tapi saya mengenal ikatannya)

Silahkan cari tulisan saya di wordpress ini yang mengumpat Gunawan. Justru saya banyak di umpat, termasuk kamu yang mengumpat sy picik (dan itu tidak masalah bagi saya).

Kalau kamu beranggapan ungkapan kafir itu sebagai umpatan, sy pikir tidak juga. Kafir dan muslim itu batasan.

Saya tidak mau menggunakan kata kafir dengan tanda seru. Saya hanya menarik batasan di dalam perang ide ini. Dan kamu, kalau bukan non muslim, punya hak juga mengatakan saya kafir. Silahkan :)

Mengenai apa yang sudah saya lakukan untuk saya sendiri, mengenai keluarga, mengenai apakah saya suka menolong orang atau tidak, sebaiknya saya sembunyikan. Dan kamu pun menyembunyikannya. Banyak pahala yang terhambur karena keinginan dipandang bukan? karena keinginan ingin dilihat, karena keinginan untuk eksis. Jadi sebaiknya kamu pun begitu. Saya be-positif thinking dengan orang-orang yang ada di sini, termasuk kakek Goen bahwa kita semua suka membantu manusia. Tapi membantu manusia atau tidak, tidak boleh menghindarkan kita untuk bicara tentang ‘garis dan batasan.’ Tapi okelah, mengenai saudara yang menasihati saya, saya ucapkan terimakasih untuk mengingatkan. Saya terima itu :)

Mengenai departemen agama, memang departemen yang aneh, sarang korupsi. Termasuk vatikan juga, termasuk rezim saud juga. Termasuk politbiro partai komunis juga. Tapi bukan lantas dengannya kita tidak boleh bersikap bukan?

bukan lantas dengan fakta itu kita boleh berdiam diri atas sesuatu yang kita pikir tidak beres.

Ada statement yang menarik dari saudara:

“Bagi saya.. Islam mungkin memang jalan yang lurus, tapi tetap hanya sebuah jalan, pada akhirnya yang menentukan manusia itu sendiri.”

sementara saudaraku ini bilang:

“Biarlah masing-masing memegang akidahnya sendiri, toh Tuhan tidak butuh manusiaNya. Jika saudara muslim, jadilah muslim yang baik, dimulai dari melihat diri sendiri, apa yang sudah saudara lakukan untuk diri saudara sendiri. sudah cukupkah amal ibadah saudara, sudah pernahkah saudara membantu sesama manusia, sudah jauhkah diri kita sendiri dari kemaksiatan (termasuk mengumpat terhadap orang lain)??”

Ini artinya, saudara sebenarnya tengah menyampaikan sesuatu, mengatakan bahwa Islam adalah jalan yang lurus, tapi hanya sebuah jalan. Ketika anda mengatakan islam jalan yang lurus, maka anda –sama halnya dengan saya– telah membuat batas. Ini sebenarnya, saudara, sama halnya dengan saya yang menyampaikan sesuatu, tapi mengapa saya disalahkan?

Saya sayang dengan anda Brain. Saya saya hanya berusaha agar kita kembali pada wahyu (Saya yakin anda muslim. Bahwa yang berhak menentukan standar baik dan benar itu hanya Allah, pencipta Anda, Rabb kita semua. Bahwa inilhukmu illalillah: bahwa hak asasi dalam mengatur manusia, menentukan baik buruk untuk manusia adalah Allah. Bahwa yang menentukan baik buruknya suatu perbuatan bukan kakek Goen.

Bahwa Allah mengatakan Huwallazi arsala rasulahu bil huda wadiinilhaq liyudzhirahuu aladdiinikulihi, walaukarihal munafiquun:

Diturunkkannya Rasulullah Muhammad (mogsaw) dengan membawa dien/way of life/fussion between ideology and spirituality, untuk dimenangkan atas ide/agama lain buatan manusia, sementara orang munafik tidak menyukainya.

Lantas untuk apa kita mengambil ide lain (selain untuk mengambil hikmah)dan malah berhukum dengannya? Lantas untuk apa kita mengambil ide Gunawan Muhammad sementara kita mengaku bahwa kita sebagai seorang muslim.

Allah menyayangi Anda dear brain.

Salam

gina - Februari 8, 2011

“Bahwa yang menentukan baik buruknya suatu perbuatan bukan kakek Goen.”

“Wah, semakin jelas saja agama baru paman Gun. Bukan muslim, bukan kristen, bukan budha tapi agama ABU ABU” — lha ini kata2nya siapa Cih Cih! (sampe dobel)

katanya nggak boleh menentukan .. seseorang.. anda sendiri bilang Pak Goen agamanya bukan Islam, Kristen tapi Abu2.. plin-plan jangan dipelihara dong..?!

“Lakum dinukum waliadin” Nabi hanya menyebarkan Islam kepada orang yg mau menerima wahyunya, jika nggak mau, ya sudah urusan dia toh.. Nabi juga pernah mengutip, “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina..” padahal Islam belum sampai disana.. Tahu anda kenapa? karena di Cina lah ditemukan pertama kali KERTAS, cikal bakal ilmu pengetahuan..! Begitu tingginya Nabi menghargai orang lain yg meski tidak beragama Islam.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it.”

Kalo nganggur silahkan baca How To Kill a Mockingbirdnya Harper Lee. Semoga aja bisa ngerti maksud saya. Semoga masih bisa nyantol apa maksud dr bukunya.

Kalo masih ngeyel, saya cuman bs bilang CIH!

154. divansemesta - Februari 9, 2011

Itu yang saya yang bilang. Silahkan dibaca wawancara dan tulisan-tulisan Goen terkait agama. Ada banyak clue disana.

Btw, menurut kamu agama Goen apa Gina?

Btw, Nabi memang menghargai non muslim, tapi beliau juga kan berdakwah, menyampaikan, member batas mana yang muslim mana yang bukan, mana musyrik mana yang bukan, mana yang munafiq mana yang bukan?

Dan konteks ajakan untuk menuntut ilmu ke negeri china adalah ajakan untuk menggali pengetahuan (teknik) untuk mencari hikmah, dan ITU TIDAK ADA KAITANNYA dengan apakah kita harus menyampaikan atau tidak, apakah kita selaku muslim harus member batasan atau tidak.

Muslim kan memang harus menyampaikan. Bukan cuma kiai/ulama aja yang terkena kewajiban untuk menyampaikan.

Nah perkara nggak boleh menentukan itu –masuknya sebenernya ke Kamu Gina. Mungkin –ini mungkin lho—kamu menganggap Goenawan itu muslim, tapi kalau analisa itu tidak mendasar (berdasarkan batasan iman menurut Quran Hadist Ijma) maka kamu tidak boleh menentukan, sebab kamu menggunakan logika mu sendiri untuk menentukan batasan.
Seorang muslim bisa menentukan batasan iman karena memang Quran, hadist, ijma membuat batasan-batasannya (keimanan).

Nah, saya mengatakan Gunawan itu agamanya abu-abu, bukan muslim setelah menganalisa berbagai statement yang dia bilang terkait situasi keagamaan, kemudian mencocokkannya dengan batasan keimanan yang tertuang di pokok-pokok ajaran Islam. Coba kamu lihat komentar2 saya di word press ini, kamu bakal melihat rujukan saya selalu –berusaha konsisten pada pokok-pokok ajaran yang saya yakini.

Btw saya sudah baca To Kill a Mockingbird, dan saya piker itu bukan fundamen berpikir. Rata-rata novel kan seperti itu. Memang baik sih untuk ngasah hati, cara pandang, sikap fair/ Tapi tetep aja dear ketika beragama kita harus melihat kembali ke sumber-sumber yang kita percayai lebih dulu. Kalau tidak, pandangan kamu akan tergantung dari buku yang kamu baca.

Dan menjadi muslim yang mengerti batasan bukan berarti bakal menghabisi siapapun yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan dia. Menjadi muslim yang mengerti batasan bukan berarti ia harus jahat pada yang tidak memiliki keyakinan yang sama. Tidak seperti itu. Keraslah dan lemah lembutlah pada tempatnya, karena Rasulullah yang mulia mengajarkan kita keagungan, untuk dijalankan dalam kehidupan.

Dan ingat Gina, saya nggak kasar sama kamu, tapi kamu kasar ke saya. Kamu yang punya pemahaman ‘cinta damai,’ plural (sepertinya) malah kasar, sementara saya yang kamu anggap ‘kasar’ dan ‘keras’ malah tidak mau mengatakan kamu cih sekalipun . Saya rasa To Kill a Mocking Bird yang berbicara tentang prasangka, lebih banyak menuntut kamu untuk menjauhi prasangka.

Rahmat untuk Gina.

155. gina - Februari 9, 2011

Oh very well. Saya memang hanya manusia yang tidak bisa menahan amarah untuk ngomel (namanya saja perempuan) Saya ingat ada cerita istri sahabat Nabi (saya lupa siapa sahabat Nabinya siapa), bahwa istrinya selalu mengomel setiap hari.. Istri sahabat nabi aja ngomel, apalagi saya yg cuman manusia biasa yg hidup di jaman millenium yg banyak banget godaan untuk bermaksiat.. Untung saya masih punya jalan berpikir dan cuman blg cih.

Saya sudah baca banyak komentar anda bung diwan, itu makanya saya “terprovokasi” untuk komentar disini.. Tidak ada orang yg tanpa cela dan saya cuman yakin di dunia ini yg suci hanyalah para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan seluruh keluarga kerabat beliau.

Tidak ada gading yg tak retak. Saya hanya ingin berbicara, jika Pak Goen yg sudah se-terkenal itu mau berbicara apapun, saya hanya mengambil sisi baiknya saja. Pendidikan dan cara berpikir oranglah yg bisa menentukan mana yg baik dan mana yg buruk.

Bahwa menghargai orang lain dengan cara yg bermartabat dan kehidupan yg plural itu perlu.. itu saja.

Soal akidah, saya sejak kecil diganjar semua pelajaran pondok (saya dari Kediri), dan meski saya sekarang menempuh s2 di Belanda, saya tidak pernah lupa root saya sebagai orang Muslim..

Dari SMP sampai sekarang saya berjilbab. Semua teman2 lab saya yg cowok dan semua Nederlander, semua selalu bertanya “Kenapa orang Islam seperti ini..?” “Kenapa orang berjilbab kayak kamu bisa sekolah sampai kesini..?”

Saya menjadi salah satu duta Islam, dr negara berkembang yg terkenal dgn teroris, pakai jilbab pula, wanita pula. Dan karena saya menjawab beberapa pertanyaan diatas dgn jawaban yg menurut saya logis, karena itulah sedikit demi sedikit orang di lab yg pertama menganggap rendah orang Islam mulai luntur.

Saya sudah muak dengan orang yg sok Islam dan mengagung-agungkan Nabi sebagai penganut tapi dia tidak mau menghargai pendapat orang lain..

How to Kill A Mockingbird biasa biasa saja? Coba tulis novel seperti itu dulu baru mengatakan biasa. Andalah yg selalu menganggap orang lain tidak lebih suci dan SANTUN seperti anda.. MAAFKAN SAYA.

Ibu saya seorang Hajj (even 2 kali), Bapak saya juga. dan mereka tidak pernah mengajarkan saya untuk menyebarkan agama, berdakwah ataupun everything else untuk membenarkan yg baik dan yg buruk.

Saya akan lakukan itu ke orang2 yg saya kenal dan terdekat, karena pondasi terbaik adalah level keluarga dan sekitar. Saya nggak bakal ngomel ngalor ngidul bilang Islam lah yg terbaik — ISLAM memang terbaik dan bisa dilihat perilaku dan ucapan NYATA penganutnya..

Sekian dan Terimakasih.

156. gina - Februari 9, 2011

Oh iya soal negara China. Menurut saya itu jelas ada hubungannya. Disini saya kira, bahwa Nabi mengajarkan toleransi (dan mungkin berbaik sangka) untuk menuntut ilmu even dari seorang KAFIR sekalipun..

Menyampaikan akidah ke siapa? kepada orang Nasrani? kepada Pak Goen? Apakah dia meminta pelajaran akidah dari Anda? Inilah mungkin kenapa orang2 Indonesia terbelakang dari negara lain, selalu ngurusin hal2 yg melibatkan orang lain, remeh temeh.

Lebih baik meningkatkan kualitas diri daripada berdakwah ini itu. NONSENS!

Dan soal akidah, Nabi tidak bisa mengharapkan semua umatnya untuk menjaga murni islamnya, dan yang saya lakukan sebisanya hanyalah bershalawat kepada beliau setiap kali saya ingat (selain ibadah 5 yg pokok tentu saja). Semoga saya masih dianggap orang Islam, saya juga tidak masalah dianggap HITAM, ABU ABU or whatever..

Hanya Allah SWT semata yg menilai ibadah dan hati kita.. Sekali lagi saya kutip dari How To Kill A Mockingbird:

“You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it..”

Karena saya tidak bisa berpikir dan menulis seperti Goenawan Muhammad, maka saya hanya ambil sisi baiknya saja. Urusan dia plural atau dia abu2, itu terserah Pak Goen. I dont really care about what he is, or how he did his “Islam” behaviour in his life.. Itu urusan Tuhan. Bukan urusan saya.

Sekian dan Terimakasih.

157. gina - Februari 9, 2011

PS sorry saya kurang nulisnya:

“Lebih baik meningkatkan kualitas diri daripada berdakwah ini itu. Mau berdakwah ini itu membenarkan ajaran/ akidah agama orang lain –> itu NONSENS!”

Di tulisan ahmadiyah:
Capek ah ngurusin balesin orang ngeyel. Pergaulan saya kurang dari Anda. Ya Maaf. Tapi semua teman kuliah, dosen saya di Belanda sini rata2 Atheis dan Katolik, Kristen. Saya nggak mau ngitung, minder sama bung diwan yg jumlah temennya sedunia mungkin.

PS kedua: (info nggak penting) seorang teman saya yg dulu Katolik (maaf buat yg penganut Katolik), pindah Islam dan tertarik mempelajari karena mengenal saya.. Ngborol ini itu soal sejarah Yesus dan Bunda Maria. Disini saya berdakwah, karena dia meminta penjelasan dari saya.. Saya tidak akan meminta orang menjelaskan ini itu jika saya tidak diminta dan dalam kondisi yg baik.

Karena sesungguhnya orang yg sok adalah orang yg tak pernah mau belajar. Saya selalu menganggap diri saya salah dan bodoh agar saya bisa terus belajar dari orang lain, siapapun. Andalah yg menyulut komen2 provokasi (baca lagi komen2 Anda), dan ini juga yg mendorong saya menjawab komen2 hingga sepanjang ini. Fiuh.

Cukup disini ya bung Diwan, silahkan terus menerus menjawab dan memprovokasi orang. Saya mau terus berdakwah, dengan cara saya sendiri, dgn orang2 di sekitar saya, sekolah hingga gelar s3, lalu mengabdikan diri menjadi pengajar di Indonesia. Semoga niat baik saya diridhai oleh Allah SWT. Ya Rabb semoga Engkau selalu memberikan pelajaran terbaik bagi orang2 yg Engkau pilih..

Sekian (untuk ke-3 kalinya) dan Terimakasih.

158. divansemesta - Februari 11, 2011

Saya sengaja menyertakan tulisan-tulisan Gina sebelumnya, jadi cukup panjang, maaf. mudah-mudahan Allah memberi berkah ditengah2 kesibukan kita:

Gina:

Oh very well. Saya memang hanya manusia yang tidak bisa menahan amarah untuk ngomel (namanya saja perempuan) Saya ingat ada cerita istri sahabat Nabi (saya lupa siapa sahabat Nabinya siapa), bahwa istrinya selalu mengomel setiap hari.. Istri sahabat nabi aja ngomel, apalagi saya yg cuman manusia biasa yg hidup di jaman millenium yg banyak banget godaan untuk bermaksiat.. Untung saya masih punya jalan berpikir dan cuman blg cih.
Saya sudah baca banyak komentar anda bung diwan, itu makanya saya “terprovokasi” untuk komentar disini.. Tidak ada orang yg tanpa cela dan saya cuman yakin di dunia ini yg suci hanyalah para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan seluruh keluarga kerabat beliau.
Tidak ada gading yg tak retak. Saya hanya ingin berbicara, jika Pak Goen yg sudah se-terkenal itu mau berbicara apapun, saya hanya mengambil sisi baiknya saja. Pendidikan dan cara berpikir oranglah yg bisa menentukan mana yg baik dan mana yg buruk.
Bahwa menghargai orang lain dengan cara yg bermartabat dan kehidupan yg plural itu perlu.. itu saja.
Soal akidah, saya sejak kecil diganjar semua pelajaran pondok (saya dari Kediri), dan meski saya sekarang menempuh s2 di Belanda, saya tidak pernah lupa root saya sebagai orang Muslim..
Dari SMP sampai sekarang saya berjilbab. Semua teman2 lab saya yg cowok dan semua Nederlander, semua selalu bertanya “Kenapa orang Islam seperti ini..?” “Kenapa orang berjilbab kayak kamu bisa sekolah sampai kesini..?”
Saya menjadi salah satu duta Islam, dr negara berkembang yg terkenal dgn teroris, pakai jilbab pula, wanita pula. Dan karena saya menjawab beberapa pertanyaan diatas dgn jawaban yg menurut saya logis, karena itulah sedikit demi sedikit orang di lab yg pertama menganggap rendah orang Islam mulai luntur.
Saya sudah muak dengan orang yg sok Islam dan mengagung-agungkan Nabi sebagai penganut tapi dia tidak mau menghargai pendapat orang lain..
————————————————–Harusnya kamu nggak marah ketika saya menulis banyak hal di kolom komentar ini ke saya Gina :)

Jika kamu mencintai Islam maka kamu akan berusaha menelaah sumber otentik, menekuni sejarah kehidupan dan sahabat rasulullah dalam menyampaikan banyak hal.

Ketika kamu mengutip ngomelnya istri rasulullah untuk digunakan sebagai landasan sikap manusiawi kamu ketika marah, itu ada baiknya, karena kamu pun melihat contoh dan merefleksikan contoh itu untuk membedah kealfaan kita. Nah mari kita lebarkan, maukah kamu mengambil contoh lain, diluar sisi cerewetnya istri rasulullah, sedihnya istri rasulullah, manusiawinya istri rasulullah, yang dilakukan oleh sahabat-sahabat rasulullah yang lain (khususnya dalam masalah menyampaikan?)

Rasulullah diminta Allah untuk menyampaikan

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan!” [Al-Muddatstsir: 1-2]
Atau :

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” [Al-Hijr: 94]

Dan banyak ayat lainnya terkait suruhan Allah untuk menyampaikan kepada manusia.

Intinya adalah perintah menyampaikan adalah hal yang baku. Ada banyak ayat mengenai hal ini. Tidak usah saya kutipkan lagi.

Kemudian ada yang bertanya:
“Itu kan suruhan untuk Rasulullah. Bukan suruhan bagi kita!”

Maka kita bisa melihat dalam kisah pengutusan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu seorang diri untuk berdakwah ke Yaman.

Nabi memerintahkan Mu’adz,
“Jadikanlah yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka hendaknya mereka beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila mereka telah mengenal Allah maka kabarkanlah bahwa Allah mewajibkan mereka untuk melakukan sholat wajib lima waktu setiap sehari semalam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adapula kata-kata yang menarik lagi terkait dengan usaha menyampaikan (aktif)

“Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh oleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. “
[HR. Muslim]

Bahwa yang menyampaikan sebuah kebenaran akan diberikan sebuah ganjaran yang menarik, melebihi ganjaran pegawai negeri saat mendapat uang pension dan jamsostek.

Nabi member surat peringatan kepada para kaisar, para raja, bahkan sahabatnya yang tak lepas DARI DOSA pun melakukannya. Umar melanjutkan dakwah hingga menerobos persepolis dan lain sebagainya. Ustman pun begitu, Ali dan para penerusnya pun begitu.

Ada sahabat yang menyampaikannya hanya menggunakan perbuatan, ada yang kedua-duanya. Dan yang paling ideal adalah kedua-duanya.

Diluar itu, sayapun berusaha tau kapan diamnya, dan kapan bicara, dalam kehidupan sehari-hari, kapan menyampaikan kapan menunggu, dan lain sebagainya.

Perkara, saya berbincang di sini, karena terkait banyak muslim yang terpengaruh ide Kakek Goen. Apakah saya salah kemudian berusaha menyatakan pendapat saya? Apakah salah ketika saya menyampaikan pendapat ketika banyak orang menyampaikan pendapat, termasuk kakek Goen, bahkan Chomsky pun menyampaikan, dan apa kita fikir di dunia ini tidak ada lembaga yang ditujukan untuk memasarkan ide-ide libertarian, ide komunis? Bagaimana dengan menteri penerangan di masa Orba, bukankah itupun upaya untuk menyampaikan? Lantas mengapa saya tidak boleh melakukan hal itu?

Ini dunia wacana. Sastra pun memerlukan kritik (kritik sastra)

Btw, Kita disini tidak dalam rangka memperlihatkan perilaku kita (kecuali perilaku menulis, menjawab dan mengomentari tulisan), karena ini dunia maya Gina. Mana mungkin penyampaian di wordpress ini bisa saya sampaikan menggunakan gerak saya, atau gerak kamu, atau gerak semua orang, kecuali di youtube atau fasilitas lainnya. Jadi ya inilah yang bs saya lakukan.

Salahkah saya mempraktikkan hadist sampaikanlah walaupun satu ayat? apakah itu bukan perintah namanya? Ditengah keterbatasan perilaku saya, ditengah upaya saya untuk memperbaiki diri karena kewajiban menyampaikan harus terus dilakukan seiring perbaikan yang terus menerus kita upayakan.
————————————————–
Gina:

How to Kill A Mockingbird biasa biasa saja? Coba tulis novel seperti itu dulu baru mengatakan biasa. Andalah yg selalu menganggap orang lain tidak lebih suci dan SANTUN seperti anda.. MAAFKAN SAYA.
————————————–
Biasa dalam artian bukan saya bisa membuat buku seperti itu. How to Kill a Mocking Bird biasa jika dibandingkan tulisan Pramudya, Steinback, Karl May, Nietzche, Saadi, apalagi Iwan Simatupang. Dan menurut saya masih bagusan film Crash ketika membahas tentang prasangka. Saya mendapat banyak hal yang menarik dari How To Kill, kok. Tapi How To Kill bukan landasan berpikir saya.

Ikbal mengatakan muslim adalah seorang manusia yang horizon lost on him. Membaca apapun hanyalah upaya mengejar hikmah, mencari sesuatu yang bermanfaat, tetapi tetap saja seluruh fenomena yang kit abaca kita lihat kita pelajari tetap tidak bisa merubah dasar pandangan kita.

Contohnya adalah dalam menyampaikan, ketika seorang membaca a kill to mocking bird, maka ada banyak alternatif sikap, seseorang bisa menjadikan hal itu sebagai justifikasi agar dia tidak menyampaikan, nah mengutip statement Iqbal maka he lost on the horizon.

Saya gemar sekali menontong documenternya Bruce Parry di BBC, suka sekali menelaah lirik-lirik Bad Religion, Rancid, RATM, The Used, bahkan baru-baru ini saya baru saja menemukan kisah mengenai rapper yang dalam kehidupan kesehariannya adalah pemulung dari Logos, Nigeria (kalau tidak salah), saya suka sekali mempelajari Nietzche, dsb. Saya mendapatkan hikmah, tetapi bukan karena saya membaca itu kemudian saya menolak statement Quran, Hadist mengenai kewajiban menyampaikan. Tidak, saya tidak mau hilang di dalam horizon. Biarkan horizon lost didalam diri saya.

Saya suka sekali membaca jurnal-jurnal humanism, mengagumi semangat Garibaldi, takjub oleh perjuangan militant anarkis dalam menghadapi tank Zionist, tetapi tetap saja saya tidak mau menundukkan Islam dibawah humanism. Karena Islam diatas segalanya. Saya tidak mau menjustifikasi ide-ide sosialisme, komunisme, libertarianisme, humanism hanya karena diantara ide-ide itu terdapat sedikit kesamaan dengan ide islam. Tidak saya tidak mau itu. Saya tidak mau lost in their horizon. Saya tidak mau meniadakan, menghilangkan apa yang Rasulullah dan Quran serta para sahabat ajarkan hanya untuk dikatakan bahwa saya toleran, (karena Islam memiliki toleransi yang tinggi)

Dan saudariku, ketika kamu mengatakan
“Tidak lebih suci dan santun ketimbang saya?”

Begini… pertanyaan retoris saya kan sebenarnya berawal dari beberapa statement yang mengatakan sy tidak OPEN MINDED, PICIK, dan NGGAK bertingkah sopan dsb, karenanya saya menanyakan balik, sebenarnya siapa yang nggak sopan.

Lantas kenapa Gina malah mengatakan lagi:
Andalah yang selalu menganggap orang lain tidak lebih suci dan santun? Kok balik lagi?

Pada inti, bahwa apa yang saya sampaikan sebenarnya sebuah pertanyaan balik
“Kalau kamu anggap saya cupet, bener nih saya cupet?,
kalau kamu nggak picik, benarkah kalau saya picik?
Kalau kamu anggap dirimu sopan berarti saya tidak sopan?
Benarkah?

Dan saya tahu, sebenarnya ini masalah remeh temeh, menjauhkan kita dari sesuatu yang seharusnya kita diskusikan.
————————————————–
Gina:
Ibu saya seorang Hajj (even 2 kali), Bapak saya juga. dan mereka tidak pernah mengajarkan saya untuk menyebarkan agama, berdakwah ataupun everything else untuk membenarkan yg baik dan yg buruk.
————————————————–
Kalau ibu saya dah haji (2x juga), termasuk bapak saya juga, tetapi mereka tidak mengajarkan untuk menyebarkan agama, berdakwah maka saya tidak mau menjadikan standar hokum perbuatan mereka atas apa yang seharusnya seorang muslim lakukan.

Saya hanya akan ikut Rasulullah dan para sahabatnya yang sudah berpuluh-puluh kali naik haji ketimbang ibu atau bapak saya yang baru dua kali dan insya Allah akan melakukan umrah di tahun ini 

Standar salah dan benar itu bukan ibu dan bapak kita, bukan SBY bukan Gunawan. Bagi seorang muslim standar baik dan buruk itu, yah… kita sama-sama mengertilah apa yang sebelum2nya saya sampaikan.
————————————————–Gina:

Saya akan lakukan itu ke orang2 yg saya kenal dan terdekat, karena pondasi terbaik adalah level keluarga dan sekitar. Saya nggak bakal ngomel ngalor ngidul bilang Islam lah yg terbaik — ISLAM memang terbaik dan bisa dilihat perilaku dan ucapan NYATA penganutnya..
—————————————————————————————————-
Itu bagus, pemikiran teman-teman di salah satu partai ‘hijau’ di Indonesia pun seperti itu.

Tapi ingat, bahwa kalau Rasulullah memfokuskan diri dulu pada keluarga, nggak mau beranjak sampai keluarganya tercerahkan, maka rasulullah tidak akan memberikan pencerahan pada Abu Bakar, Bilal, dsb karena Abu Jahal, Abu Lahab yang nota bene keluarga Rasul sendiri tidak pernah masuk Islam. Got my point dear?

Lagipula seolah-olah disini Gina mengesankan bahwa Ginalah yang terbaik, terhebat karena Gina tidak ngomong ngalor ngidul bilang Islam yang terbaik, sementara saya ngalor ngidul. Tapi, saya nggak mempermasalahkan hal yang remeh temeh itu, karena akan mengganggu apa yang seharusnya kita bahas (kembali ke rujukan. Ini rujukan saya, dan mana rujukan Gina jika Gina seorang muslimah)
————————————————-

Gina:

Oh iya soal negara China. Menurut saya itu jelas ada hubungannya. Disini saya kira, bahwa Nabi mengajarkan toleransi (dan mungkin berbaik sangka) untuk menuntut ilmu even dari seorang KAFIR sekalipun..
————————————————–
Benar sebagian apa yang kamu katakan dalam paragraph tersebut tapi Coba perhatikan apa yang sebelumnya saya sampaikan, saya kutipkan:

“Dan konteks ajakan untuk menuntut ilmu ke negeri china adalah ajakan untuk menggali pengetahuan (teknik) untuk mencari hikmah, dan ITU TIDAK ADA KAITANNYA dengan apakah KITA HARUS MENYAMPAIKAN ATAU TIDAK, APAKAH KITA SELAKU MUSLIM HARUS MEMBERI BATASAN (MANA MUSLIM—ini saya tambahkan) ATAU TIDAK.

Ohya, mengenai konteks lakum dinukum waliadin
Munculnya ayat itu adalah terkait dengan segolongan kaum yang diajak masuk Islam tetapi kaum itu menyatakan akan masuk Islam kalau seandainya hari ini mereka beribadah menyembah Allah, sementara di hari yang lainnya mereka menyembah tuhan-tuhan yang lain.

Maka melalui lisan Rasulullah, Allah mengatakan Lakum dinukum waliadin. Agamamu agamamu, agamaku-agamaku.

Cukup sederhana bukan. Dan hal itu bukan ditujukan untuk menjustifikasi bahwa tidak ada kewajiban menyampaikan tentang Islam, tentang batasan. Karena ada banyak ayat dan hadist yang mengharuskan kita menyampaikan (tentu saja member contoh juga)

————————————————–
Gina:
Menyampaikan akidah ke siapa? kepada orang Nasrani? kepada Pak Goen? Apakah dia meminta pelajaran akidah dari Anda? Inilah mungkin kenapa orang2 Indonesia terbelakang dari negara lain, selalu ngurusin hal2 yg melibatkan orang lain, remeh temeh. Lebih baik meningkatkan kualitas diri daripada berdakwah ini itu. NONSENS!
————————————————–
Saya tahu, Gunawan Muhammad tidak mungkin (kemungkinannya kecil untuk melihat wordpress ini) saya tidak dalam rangka member pelajaran untuk dia (tapi dipikir2 apa salahnya memberi pelajaran. Bukankah pelajaran bisa didapat dari siapapun seperti yang Gina bilang).

Dan apakah masalah akidah masalah yang remeh? Apa kita tidak bisa memiliki akidah yang baik tetapi bersikap professional dalam mendalami teknologi? Ada banyak ilmuwan muslim yang canggih tapi akidahnya kuat. Dia senantiasa meningkatkan kualitas diri sembari menyampaikan apa yang ia bisa sampaikan.
————————————————–
Gina:
Dan soal akidah, Nabi tidak bisa mengharapkan semua umatnya untuk menjaga murni islamnya, dan yang saya lakukan sebisanya hanyalah bershalawat kepada beliau setiap kali saya ingat (selain ibadah 5 yg pokok tentu saja). Semoga saya masih dianggap orang Islam, saya juga tidak masalah dianggap HITAM, ABU ABU or whatever..
————————————————–
Nabi memang tidak bisa semua muslim tetaplah muslim, karena Quran pun mengatakan aka nada orang yang munafiq pula kan? Tetapi apakah yang kita lakukan hanya bershalawat saja. Shalawat bukan hanya sekedar memuji rasulullah saja. Mahabbah kepada Rasulullah itu adalah dengan berupaya mendekati perilaku beliau, sebisa mungkin, jatuh bangun, ketika salah ok… ada yang memberitahu kesalahan itu maka kembalilah ia untuk berbenah. Rasa cinta itu seperti halnya pengamen jalanan sering menyanyikan:

“semua bisa bilang sayang,
semua bisa bilang.
Apalah artinya cinta kalau hanya di bibir saja?”

Mari saya kutipkan apa yang disampaikan Rasulullah, baginda mulia, sang pendamai, sang penyejuk sekaligus sang kombatan, lord of war, manusia yang fair, superhuman itu mengenai dakwah. Ah, saya sudah menyampaikannya di atas (harap lihat kembali).
————————————————–
Gina:
Hanya Allah SWT semata yg menilai ibadah dan hati kita.. Sekali lagi saya kutip dari How To Kill A Mockingbird:
“You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it..”
Karena saya tidak bisa berpikir dan menulis seperti Goenawan Muhammad, maka saya hanya ambil sisi baiknya saja. Urusan dia plural atau dia abu2, itu terserah Pak Goen. I dont really care about what he is, or how he did his “Islam” behaviour in his life.. Itu urusan Tuhan. Bukan urusan saya.
————————————————–
Gina:

Benar, hanya Allah yang bisa menilai ibadah kita.
Tapi apakah kemudian syarat diterimanya sebuah perbuatan itu hanya dinilai dari hatinya saja?
Tentu tidak.

Perbuatan membutuhkan keikhlasan dan syariat/tatacara yang dicontohkan oleh sosok yang kita sama-sama muliakan, Rasulullah SAW.

Dear Gina, saya memahami How To Kill a Mocking bird, ada banyak hal yang bisa saya ambil dari sana, tetapi apakah dengannya kemudian kita bakal menolak apa yang disampaikan Rasulullah, dicontohkan para sahabat yang mulia?

Karena Gina –sepertinya—berjanji untuk tidak lagi menanggapi tulisan saya, tolonglah…

Rasulullah SAW mencintai Gina dan sambutlah kecintaan itu dengan bersama-sama saya,
bersama sahabat yang lainnya yang ada disini untuk meneladani seluruh perilaku beliau,
menstandarkan perilaku beliau dalam berbuat,
perilaku dalam menyampaikan.

Demi cintamu ya Allah, pada Muhammad nabiku
Ampunilah dosaku. Wujudkan harapanku. (Hadad Alwi)

“Lebih baik meningkatkan kualitas diri daripada berdakwah ini itu. Mau berdakwah ini itu membenarkan ajaran/ akidah agama orang lain –> itu NONSENS!”

Di tulisan ahmadiyah:

Capek ah ngurusin balesin orang ngeyel. Pergaulan saya kurang dari Anda. Ya Maaf. Tapi semua teman kuliah, dosen saya di Belanda sini rata2 Atheis dan Katolik, Kristen. Saya nggak mau ngitung, minder sama bung diwan yg jumlah temennya sedunia mungkin.
————————————————–
Tidak usah dibales.
Saya ngeyel dengan metodologi, struktur berfikir yang konsisten, sementara orang yang menganggap saya ngeyel kebanyakannya tidak memiliki konsistensi, sumber, muara yang jelas dalam berfikir.
Terkait itung itungan itu  okelah saya salah, karena itu memang remeh temeh, dan sayapun tidak perlu mendata apa siapa teman saya yang atheis, agnostic, munafik dan lain sebagainya. Terus terang saya terpancing. Itu kesalahan saya karena yeah…. saya dianggap kurang pergaulan di blog ini. Oke itu kesalahan saya. Mengutip hal remeh yang mungkin membuat sakit. Maafkan)
————————————————–
PS kedua: (info nggak penting) seorang teman saya yg dulu Katolik (maaf buat yg penganut Katolik), pindah Islam dan tertarik mempelajari karena mengenal saya.. Ngborol ini itu soal sejarah Yesus dan Bunda Maria. Disini saya berdakwah, karena dia meminta penjelasan dari saya.. Saya tidak akan meminta orang menjelaskan ini itu jika saya tidak diminta dan dalam kondisi yg baik.
————————————————–
Itu bagus. Tetapi bagusnya kamu, tidak bs dijadikan standar bagi seorang muslim dalam menyampaikan sesuatu. Rujukan kita sudah jelas seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Dan saya pun tidak perlu mengungkap apa yang saya lakukan karena itu tidak penting.

Simpanlah baik-baik kebaikan yang Gina lakukan, karena itu bisa bernilai luar biasa dihadapan Allah. Subhanallah.
————————————————–
Karena sesungguhnya orang yg sok adalah orang yg tak pernah mau belajar. Saya selalu menganggap diri saya salah dan bodoh agar saya bisa terus belajar dari orang lain, siapapun. Andalah yg menyulut komen2 provokasi (baca lagi komen2 Anda), dan ini juga yg mendorong saya menjawab komen2 hingga sepanjang ini. Fiuh.
———————————————–
Saya sepakat dengan Gina. Orangyang sok adalah orang yang tak pernah belajar. Saya sepakat, siapapun itu kita belajar tetapi bukan berarti kita tidak bisa menyampaikan kritisi padanya, kritisi pada orang-orang yang mendukungnya, yang seharusnya melihat kembali roots standar perbuatan yang harusnya dia yakini erat.

Saya memang mengakui menyulut komen-komen ‘provokasi’ tapi kata-kata saya saya fikir kata-kata yang biasa disampaikan oleh orang yang biasa melakukan diskusi.
————————————————–
Cukup disini ya bung Diwan, silahkan terus menerus menjawab dan memprovokasi orang. Saya mau terus berdakwah, dengan cara saya sendiri, dgn orang2 di sekitar saya, sekolah hingga gelar s3, lalu mengabdikan diri menjadi pengajar di Indonesia. Semoga niat baik saya diridhai oleh Allah SWT. Ya Rabb semoga Engkau selalu memberikan pelajaran terbaik bagi orang2 yg Engkau pilih..
Sekian (untuk ke-3 kalinya) dan Terimakasih.
———————————————–
Insya Allah. Saya yakin Gina bakal membaca apa yang saya sampaikan  Jangan menutup diri (dengan mengatakan saya ma uterus berdakwah dengan cara saya sendiri. Karena metode dakwah itu harus bersumber pada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah yang samasama kita muliakan, dan para sahabat yang luar biasa indah perbuatannya. Jangan menutup diri karena kita sama-sama belajar.

Siapa tahu apa yang saya sampaikan benar, dan yang Gina sampaikan benar.

Rahmat Allah pada Gina,
pada kita yang mau menstandarisasikan perilaku kita
pada Al Quran dan Rasulullah SAW serta para sahabat yang mulia.
Kecintaan Rasulullah untuk Anda saudaraku non muslim,
Yang tidak memerangi, yang tidak mendengki.

Kesejahteraan untuk Anda semua.

159. gina - Februari 11, 2011

1. “Perkara, saya berbincang di sini, karena terkait banyak muslim yang terpengaruh ide Kakek Goen”

Jawab saya:
Darimana anda tahu kalau semua orang Muslim membaca Goenawan Muhammad? Ibu saya aja nggak tahu dia siapa. Intinya, saya disini nggak mau orang Islam dicap fanatik dan berdakwah ini itu nggak pada tempatnya.

Maaf sy nggak pernah baca Nietzsche, atau ajaran2 sosialis liberal etc, nggak tertarik. Saya lebih suka baca terjemahan/tafsir, klo masih nganggur, saya belajar foto, ngasah kemampuan bhs asing, dan memasak (wong sy cewek nanti jadi ibu2), atau baca yg berbau IT (karena saya memang dosen IT di almamater sy kuliah, meski skrg masih studi).

2. “..tetapi apakah dengannya kemudian kita bakal menolak apa yang disampaikan Rasulullah, dicontohkan para sahabat yang mulia?..”

Jawab saya:
Balik lagi, saya nggak mau berdakwah di tempat orang dan numpang tenar disitu. Memang ini dunia maya, kenapa orang bisa kesini dan mau baca Pak Goen? karena dia sudah duluan terkenal & kontroversial sejak di media cetak. Tulisan beliau mudah dicerna.. Nggak ribet.
Makanya semua orang pingin membaca artikel beliau. Saya menganggap saya orang muslim, sebagai pribadi dan berusaha menjalankan semampu saya bagaimana muslim itu.

Saya juga keseringan baca Goenawan Muhammad, dan saya hanya mengambil semua yg saya anggap baik, dan membuang jauh apa yg nggak sesuai sm akidah Islam versi saya. Btw, akidah Islam versi saya adalah: ajaran dari bapak ibu penganut NU, dulu pernah mondok bentar di Lirboyo level SMP, dan baca2 buku punya bapak ibu di rumah, (yg menurut sampean mungkin cemen), saya cuman baca Riyadhus Salihin, Bey Arifin-Samudera Al Fatihah, La Tahzan, dan buku2 pop terjemahan dr Al-Hikam etc.

Terus terang, sejak SMA di bangku negeri dan kuliah di institut teknik negeri di surabaya, saya udah jarang ngaji dan tidak pernah mendalami Islam lagi secara menyeluruh. Apalagi sekarang s2, hbs itu lanjut doktor. Saya bukan nggak punya waktu.

Saya akhirnya balik lagi, cuman baca terjemahan Al-Quran dan mencoba memahami isinya bagaimana. Saya nggak ribut nyari buku2 lain krn udah ada Riyadhus salihin dan Al-Quran. Saya sadar, saya bukan ustadzah. Saya nggak bisa mengutip semua ajaran Al-Quran disini. Karena apa? Karena saya tahu yg menggunakan internet & membaca tulisan Pak Goen ini bukan hanya muslim saja. Mungkin kalau saya mau mengutip Al-Quran, saya mau warning “Alert, for muslim only”

Sampeyan nggak salah menyampaikan 1 ayat kepada orang lain. Cuman saya minta, berhentilah memprovokasi dan menjudge ini itu orang lain (maaf sy ngomong begini karena saya terus melihat nada benci anda ke Pak Goen). Dan sudah saya bilang sebelumnya, itulah mengapa saya ngomen2 sampai bilang cih.. Maafkan saya.

160. gina - Februari 11, 2011

Saya ini heran dgn INA, kita ini bukan negara muslim, bukan negara yg menganut prinsip Islam dalam kehidupan sehari2. Kalau kita Islam, Islam lah se-islam2nya, dengan masih toleran dengan yg lain.
Kalau nanti kita terkenal, biar dikenalnya dgn — “Ya ampun bapak X itu loh, udah baik, pinter, nggak sombong, suka nolong pula, agamanya apa sih? Islam ya?”

3. “Perbuatan membutuhkan keikhlasan dan syariat/tatacara yang dicontohkan oleh sosok yang kita sama-sama muliakan, Rasulullah SAW.”

Monggo. Saya akan mencontoh perilaku Nabi (semampu saya) di perilaku dan kehidupan sehari2 saya. Ngurus diri sendiri sudah repot mas, apalagi ngurus org terkenal yg ada di internet. Sampean memang bagus dan kritis, tapi ingat jangan memprovokasi..

Lihatlah kasus Ahmadiyah baru2 ini, semua orang ribut ngurusin orang lain — soal akidah pula.

Bangsa barat udah ribut ngurusin e-gov lah, data visualization lah, e-health, ngurus energy efficiency lah—biar listrik nggak byar pet– wind power yg effisien biar listriknya cukup untuk negara…benerin saluran air biar bersih dan bisa layak minum, benerin kota yg kotor, benerin jalan, pengelolaan sampah yg bagus, nanam pohon, go green, bersepeda kemana2, terus menerus bikin tram dalam kota, untuk mengurangi macet…

LHA KITA? kita masih saja ribut soal agama.. Menurut saya itu yg namanya kemunduran. Kita hidup ingin apa? Sejahtera? Makmur? kalau saya ingin makmur dan berislam, tentu itu buat saya sendiri. Saya nggak repot menjudge dia baik & buruk, saya hanya ingin negara kita maju, nggak ribut soal remeh temeh.

Berapakah dulu pengikut Nabi? Cuman sedikit.. lalu mengapa banyak yg Islam? 1 karena Allah lah yg menjaga keislaman mereka, kedua ya balik lagi, karena melihat keteladanan mereka.. Kalau saja orang2 bijak masih ada di dunia (macam Ibn Sina, dan cendekiawan zaman Spanyol), merekalah yg akan dicari. Ini yg harusnya ditiru, belajar setinggi2nya, maka kita nanti dicari sendiri oleh orang lain.. Bulan depan saya mau ke Granada, biar nangis sejadi2nya karena ingat tingginya peradaban Islam jaman itu kalau ingat bobroknya INA.

Nabi disini beda konteksnya mas dalam berdakwah (sori beda pendapat lagi). Di kala itu, masa sebelum Islam carut marut, orang pada jahiliyyah semua.. maka itulah Nabi berdakwah, dengan lantang.. Diturunkanlah Nabi sebagai pembawa wahyu.. Nabi berdakwah dengan sempurna.. Baik dalam perilaku beliau, sifat semuanya.. karena Allah memang membuat beliau hampir sempurna.. Baik perang maupun dalam lisan.. Karena orang zaman itu nggak tahu, udah pada JAHIL semua.. oh ada yg baru toh bernama Islam.

4. Soal Ahmadiyah

Kalau ada yg tertarik dgn Islam nanya ke kita, baru kita jelasin, dengan enak sambil makan pisang goreng kek teh anget kek.. Ngobrol yg tenang, ngalor ngidul. Lha ini sekarang, semua merasa benar dan menghakimi orang lain (termasuk menghakimi Ahmadiyah & pelacur, karena judul diatas adl pelacur)..

Kalau kita punya uang, kita bantu orang2 sekitar yg nggak mampu. Kalau ada yg bertanya, kita jawab yg baik.. Pernahkah kita nanya ke orang Ahmadiyah “Nabimu siapa?” Jawabnya apa? kalau kita bilang Nabi Muhammad, ya sudah.. kalau dia bilang Mirza Ghulam kita kasih tau yg baik.. kalau dia nggak mau, gugurlah kewajiban kita. sudah itu tok. tadi saya ngecek twitter saya, ada yg posting sesuai pendapat saya di (sumber: http://de.tk/aIPsY)

“Perbedaan keyakinan tidak bisa menjadi alasan untuk memaksa keyakinan saya terhadap orang lain. Karena yang memberikan petunjuk ke jalan benar itu hanya Allah. Innaka laa tahdi man ahbabta walakinnallaaha yahdi man yasya, sesungguhnya kamu tidak bisa memastikan hidayah kepada orang lain, hanya Allah lah yang dapat memasukan hidayah kepada hamba-Nya yang dikehendaki (surat Al Qoshosh ayat 56)..” Kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas’udi

161. gina - Februari 11, 2011

Semisal ya, kalau anda berada di negara atheis macam Belanda ini? Anda apa mau berdakwah? mereka udah seks bebas, mabuk tiap hari, nggak bertuhan pula.. Kurang musyrik DAN kafir DAN jahilliyah apa mereka? Apa saya mau berdakwah? jawaban saya nggak.

Saya hanya ingin mereka lihat bagaimana mbak2Islam itu (saya) berkelakuan, berperilaku.. Apakah mbak2 berjilbab ini bar2 seperti gembar gembor CNN? oh tyt nggak.. apakah dia selalu “Allahu Akbar ke orang kafir..” dan bilang “DIE you kafiirrunn…” oh tyt nggak.. Balik lagi saya keukeuh, saya nggak mau ngurusin ini itu soal agama. capek.. Saya bukan aktifisjilbab saya juga nggak gede, jilbab feminis kata teman2. saya biasa juga dicibir mbak2 aktivis kampus yg berjilbab lebar.. tapi saya nggak peduli, tetep aja ikut pengajian mereka dan berhahahihi. Mungkin orang menganggap “kamu ini islam sesat ya jilbabnya kok modis, Westernerr kafir, kamu ini plural, liberal..” mboh semua dicap. kalau saya ya bodo amat mau apa, “saya suka begini kok, ibu aja nggak melarang, Tuhan aja nggak melarang, siapa kamu?”

Saya mau nulis lirik lagunya Michael Jackson – Man in the Mirror:

I’m Gonna Make A Change,
For Once In My Life
It’s Gonna Feel Real Good,
Gonna Make A Difference
Gonna Make It Right . . .
I’m Starting With The Man In The Mirror
I’m Asking Him To Change His Ways
And No Message Could Have Been Any Clearer
If You Wanna Make The World A Better Place
(If You Wanna Make The World A Better Place)

Take A Look At YOURSELF, And
Then Make A Change

Ikhlas adalah urusan hati.. kalo menurut saya sama dengan keyakinan dan agama. yg paling benar siapa? Jawabannya ada di tulisan http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=10&id=1190

Wassalamualaikum wr.wb.

162. Jual Meja Kantor - Kursi Kantor - April 30, 2011

terharu saya membacanya, suatu pilihan hidup yang teramat sulit, antara agama/moral dan anak mana yang lebih penting? kalaupun saya ditodong senjata api dan dihadapkan pilihan yang sama, akan susah bagi saya untuk memilih, dan dalam hal ini Nur telah memilih, luar biasa yang tidak biasa.

163. yuli kurniasih - April 30, 2011

Apa yang menjadi takdir bu Nur….jd mengingatkan kita pada lagunya Titik Puspa…”.Dosakah yang dia kerjakan, sucikah mereka yang datang……….bla…bla…yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa…….”
Untuk menilai bu Nur….kita kembalikan pada hati nurani kita sendiri2, karena disini kita tidak berhak menghakimi benar atau tdknya dia menjadi pelacur, tp rengkuhlah dia dengan kasih…..menghakimi bu Nur justru kita salah, tp merengkuh bu Nur dengan kasih…..itu jalan kebenaran menuju jalan Tuhan…..Pahala….salam.

164. serba serbi - Juni 27, 2011

garisan hidup yg harus disikapi dan diperjuangkan untuk menjadi lbh baik… trims

165. makno - Agustus 17, 2011

oh nur…
Aku hanya bisa mengucap salam padamu. Menyampaikan doa semoga keselamatan untukmu dan anak2mu..

Banyak dr kami yg tdk tahu kamu, tdk paham kamu, maafkan kami.
Mata kami sejauh horison, matamu yg sedepa. Betapa kami telah tak adil membandingkanya.
Tangan kami lengan excavator, dng batu-batu mangsa kami. Betapa kami telah tak adil memaksa tangan kecilmu, palu dan penjepit dari bambu berhadapan dng kami.
Kemuliaan milikmu, yg dng pandangan yg sedepa(bukan sarjana atau s3) seperti kami, melemparkan milik yg paling berharganya untuk kehidupan 5 mata embun pagi.
Mbak Nur.. Kami nanti yg akan d belakangmu jika malaikat bertanya tentang hidupmu. Akan kami adukan bahwa, suamimu menginggalkanmu, bahwa pak kyai dan pendeta tak membimbingmu, bahwa orang kaya tulungagung tidur dng perut kenyang, bahwa dprd buta, bahwa bupati alpa, bahwa, … Saya baru tahu dan hanya bisa berdoa.

166. Catatan Negeri - Agustus 20, 2011

salam….
pelacur yang melacurkan diri tidaklah sama dengan melacur untuk menjadi pelacur..

167. idrusbinharunun - Agustus 20, 2011

di taman budaya aceh sudah pernah dipertontonkan film ini. bersama film yang bercerita tentang pasangan lesbi yang menikah di hongkong. keren….

168. idrus bin harun - Agustus 20, 2011

keren

169. edy - September 22, 2011

Tanggung jawab dan keinginan Sang ibu untuk tak mengulang ceritera lama, adalah landasan pijakan Ibu Nur Hidayah. Ia, bahkan tak cuma membanting tulang. Ia remukkan tulang belulanynya demi ke-5 anaknya itu.

Ia bukannya tak ingat Tuhan. Ia lebih tercekam apabila salah satu anaknya ada yang tak makan, kedinginan, meriang, dan bahkan tak bersekolah. Ia juga, praktis tak memikirkan dirinya sendiri.Cuma “tubuhnya” yang terpikir saat di Gunug Bolo, itu pun untuk orang lain.

Ibu Nur, tak pernah melupakanNya. TempatNya yang jauh tapi tak berjarak dan dekat tak bersentuhan itu, ia ringkas dalam hatinya. Ia masih mendekap-Nya, sesekali mengundang-Nya dalam doa, ditengah lelap tidur ke-5 anaknya, di saat-saat kelam.

170. nicholasdammen - September 23, 2011

barangsiapa yang merasa tidak memilik dosa dan kesalahan hendaklah dia merasa muak pada kehidupan pelacur.

171. Edi Winarno - Oktober 19, 2011

?

172. Evanaldo Sinaga - Oktober 20, 2011

Yohannes 8:2-11

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

173. Reza - Oktober 28, 2011

membaca tulisan di atas, sungguh membuat hati siapapun miris. ironis! seseorang mengambil jalan pintas untuk menafkahkan keluarga. seseorang berusaha. tapi tak menjanjikan apa-apa. cuma benarkah dengan menjajakan tubuhnya seseorang bisa mendapatkan apa-apa. atau jalan ini hanya kesempitan berpikir saja, yang seolah-olah tak ada usaha lain selain menyewakan tubuhnya? hmmmm… saya bingung melihat kondisi indonesia. negara memang tak pernah menyejahterakan rakyatnya.

174. Joseph - Oktober 29, 2011

TOP….!!!! gua nangis baca tulisan ini.
NUR…….! Cahaya yang diciptakan TUHAN !
———————————————————-
Ribuan Kilo Jalan yg kau tempuh lewat rintangan untuk aku anakmu
Ibu ku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah……!

Kasih ibu sepanjang jalan…..!

175. Malaikat - Januari 4, 2012

Sadarkah kalian apa yg ad d pikiran nya dia berkata “Mnqkin aq lbih trhormat klo jd PEMUAS NAFSU LELAKI BJAT hdpku qk bkl mnderita sprti ini prcuma jd orq baik hnya airmata yq mnjdi mkanan sehari*….

libih baik aku tdk bermoral skalian jd sampah masyarakat mnqkin itu smua akn mmbuat ku bhaqia,,,”

176. nikita willy - Juni 11, 2012

wow itu amat menyedihkan tapi seru juga jadi pelacur pengen juga ne sama rizky aditya ahh nikmat

177. keyza - Juli 29, 2012

masih banyak pekerjaan lain yang lebih baik n pantas selain jadi seorang pelacur.selalu ada jalan untuk memilih semasih kita ingin berusaha insyak allah tuhan akan memberikan jalan

178. Taufik Bilfagih - Oktober 6, 2012

Pelacur ini, mendapat posisi teratas pada popular post blogs CAPING… bravooo

179. taylor Guitar - Maret 30, 2013

Hi, Neat post. There is a problem together with your web site in web
explorer, may test this? IE still is the marketplace chief and a huge part of other people
will leave out your excellent writing because of this problem.

180. tampa bay mitigation bank - April 2, 2013

Hi I am so glad I found your blog, I really found you by error,
while I was looking on Aol for something else, Nonetheless I am here
now and would just like to say kudos for a incredible post and a all round
interesting blog (I also love the theme/design), I don’t have time to browse it all at the minute but I have saved it and
also added your RSS feeds, so when I have time I will be
back to read much more, Please do keep up the superb jo.

181. coding - Mei 3, 2013

Pelacur melacur dilacuri, pelacuran, melacurkan, dilacurkan… Bahkan terkadang yg mengaku beragamapun mereka melacur, sehingga dia dilacuri dan otomatis dia pelacur,,, yg dijajakan agamanya, keyakinannya, kehormatannya, kebodohannya, kepintarannya, kepada apapun saja bernama Money,,,bedanya yg dijajakan orang miskin seperti Nur adalah alat kelaminnya,,,orang kaya ataupun yg mau kaya kebanyakan menjajakan harga dirinya…
Saya sangat menghormati agama-terutama yg manusianya memanusiakan manusia (baca sadar diri), bukan kebinatangan manusia (lupa bahkan pada Nur yg terseok2 masih dipermasalahkan), dia hanya butuh sesuap nasi,,,laku dari kalian yg melacur mulut lebih baik tunjukkan sikapnya (gerak),,,mulai berpikir setidaknya kita mengurangi…bahkan mereka tak menghendaki melacurkan dirinya,,,

182. Slamet - November 21, 2013

Bijak belajar untuk hidup lebih baik. Dan pelajaran hidup bisa diambil dari mana saja … termasuk dari kisah ini. Thank’s GM.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 346 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: