Pelacur Desember 17, 2008
Posted by anick in All Posts, Elegi, Film, Kisah, Tokoh, Tuhan.trackback
Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.
Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.
Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.
Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.
Matahari sudah mulai turun ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor.
Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.
Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok ”Semanggi” di Kediri. Pekerjaan mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus menikah.
Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.
”Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika melayani tamu?”
”Ah, ya ndak ada,” jawabnya.
Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat Ucu Agustin—salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini—kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari.
Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia—seakan-akan mall megah itu bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.
Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri—dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur dan kaumnya.
Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen.
Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? ”Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka,” Nur berkata, berkali-kali.
Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia contoh yang baik ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh; ia bukan.
Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”.
Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan para preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur tahu bagaimana tabah. Kebaikan hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan membayar uang sekolah di TK Katolik itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CIMED, organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.
Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.
~Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008~



wow… this is a powerful story n written as well..
sad but true, huh?? welcome to the new era of “uncivilized” indonesian civilization…
let’s sing a song to soothe their sorrow, ease their pain…
but not “that song”…
sayangnya di negeri ini agama dan/atau institusi sering memposisikan diri sbagai Kebenaran (“K” besar). mereka seperti berhak mengangkat palu dalam menjatuhkan dan menghakimi. Kebenaran seoalah-olah ada pada mulut, sikap dan perbuatan mereka (menyerang, memukul dan melempar).
Magdalena saja bisa tersucikan hanya ketika ia membasuh kaki Yesus…meski dosanya semerah biji saga…
tak ada seorang pun yg punya cita2 menjadi pelacur…
Kenapa mesti pelacur yg jd “ibu indonesia 2008″? Kenapa ngga istri wartawan kecil, yg bukan pelacur? Atau istri pemulung yg tidak mau melacur?
Saya kira kita tidak punya cukup variabel untuk membuat tesis atau antitesis tentang siapa yg berhak pergi ke neraka atau surga. Tesis dan antitesis itu derajatnya sama: sotoy.
Tapi di luar itu saya sepakat dgn Barthes bahwa dari doxa muncul paradoks, lalu paradoks jadi doxa, lalu muncul paradoks baru. Terus-terusan begitu. Meski kadang hal itu juga terasa seperti tengil-tengilan filsafat.
Halah, Ibra di atas ini ngomong apa sih? situ pernah gak harus ngebesarin 5 anak tanpa nafkah dari COWOK yg seharusnya memberi nafkah? No offense, tapi menurut saya, yg namanya pelacur itu (khususnya yg ditulis mas Goen di atas), bukan bersinonim dengan “Tak ada moral”, namun bersinonim dengan “Tak ada modal”. Nice writing indeed mas Goen, hm.. jadi ingin nonton filmnya. Kira2 di tampilkan di mana ya? Thx for the post anick..
menampilkan kisah penuh haru, untuk memasuki ranah emosi pembaca. dan secara diam-diam menyerang agama.
saya yakin ada juga yg lebih/sama menderita, lebih tabah, sekaligus memilih jalan yg sesuai dengan agamanya. ini yg pantas jadi Ibu Indonesia.
Yup, kisah penuh haru mas Goen, haru biru di negeri yang katanya sudah merdeka ini. Di mana moralitas di junjung tinggi tapi menjadi absurd karena berdiri di atas ketimpangan kehidupan (yang lain). Membuat kita serasa bercermin di kaca retak..
dilihat dari ceritanya, Nur bukanlah istri siapa2. Dia layak sebagai Ibu Indonesia, karena ia ingin mengubah nasib anak-anaknya. Dan tidak ada seorangpun perempuan yang bercita2 menjadi pelacur!
satu sisi yang mengharukan menurut saya, tetapi banyak terjadi kontra disini. pelacur memang suatu tndakan tidak terhormat, tapi dengan menghidupi 5 anak2 bukan berarti ibu nur menjadi orang yang dihormati, bagaimanapun menjadi suatu pelacur itu adalah tindakan yang mengarah ke neraka. tidak ada satu kejahatan pun dapat disucikan oleh manusia yang terhimpit dan berjuang untuk hidup. jika saja ada ibu yang menghidupi 5 anaknya dengan cara yang lebih halal dengan kisah yang sama tentu ia lebih patut dinobatkan sebagai ibu terhormat 2008. saya tidak sepakat sama mas gun, disini agama sangat sangat berpengaruh, kalau cuma dilihat agama sebagai hal yang memperngaruhi tentu kita sudah salah kaprah mengenai apa itu agama. agama itu pondasi, dasar dari hidup, jadi ia bukan suatu variabel dalam hidup, tapi ia hidup itu sendiri.
bikin saya berfikir nih…
Saya rasa bukan agama yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi manusia yang menjalankan agama itu lah yang tidak mau berbuat apa-apa untuk menyelamatkan saudara-saudaranya. Saya agaknya berpendapat mirip dengan viavi, jangan salahkan agama, tapi salahkan manusia yang tidak mau menjalankan agama secara utuh, kebanyakan manusia sekarang hanya menjalankan agama dalam kaitannya dengan “Yang di atas” tapi melupakan kaitannya dengan “yang di bawah”.
bukti tuh,, pelacur juga manusia..
Billy K.
iamthebilly.wordpress.com
bersambung.wordpress.com
hanya Tuhan Yang Tahu
agama itu sama halnya dengan sebuah institusi/lembaga. ia hanya label mekanisme ruang formal. kalau buat KTP misalnya, atau isi form lainnya. yang paling penting itu adalah keyakinan akan kebenaran. by the way bus way Tuhan tidak menciptakan agama itu berbeda2 kan???
melacur, buat nur adalah pilihan getir jalan hidup yg mngkin hrs dilakoninya. menjajakan tubuh (harga diri) demi kebertahanan hidupnya dan anak2nya. tak ada keluh, tak ada dendam (mempersalahkan org lain yg sdh menelantarkannya). persoalan hidup Nur adalah salah satu gambaran persoalan sosial kita.
wajar kemudian Nur dinobatkan sebagai “Ibu Indonesia 2008″ karena ia jg mengambil peran yang dilakonkan oleh laki2 sebagai kepala keluarga.
mungkin tidak perlu dikatakan sebagai “diam-diam menyerang agama”, tapi dapat dikatakan bahwa “secara terus terang menyerang pemeluk-pemeluk agama yang taat”; yaitu, tuan-tuan dan nyonya-nyonya bermoral yang kebanyakan memang sangat lantang dengan kebiasaan menghakimi & mengutuk orang lain.
agama, saya kira, memang bukan untuk dipakai sebagai referensi untuk menghakimi & mengutuk orang lain; melainkan untuk dipakai introspeksi dan mendidik diri.
atau; kalau kita tidak juga dapat rela melepaskan keinginan untuk menghakimi & mengutuk hidup mereka sebagai dosa, maka ada baiknya kita juga “menghakimi dan mengutuk” orang-orang super kaya yang membiarkan mereka. Mereka adalah pendosa juga.
Yop, Ibra ini model-modelnya sih tipe cowok kutu buku jomblo kronis. Mana ada cewek tahan lama-lama ama cowok pake logika mulu? Basi!
menurutku Nur hanya berbuat sesuatu dengan kemampuannya sendiri, menghidupi anak-anaknya tanpa menengadah kepada orang lain! Nur tidak bergantung pada siapapun, tapi hati saya masih meronta mengingat dia adalah seorang pelacur!!
Just repeating stories. Iwan Fals 25 tahun yg lalu juga sudah meng-highlight hal ini. Dan saya percaya hal semacam ini sudah terjadi 200, 500, bahkan 1000 tahun lalu. Mungkin juga 1000 tahun ke depan.
Biang keroknya memang ibra. Orang biasa kemungkinan besar hanyut terbawa. Tapi saya pikir dia berbakat. Dengan umur segitu, dia malah sangat berbakat.
Apakah ini artinya agama harus “dimanusiakan” agar lebih dapat mengakomodasi manusia? Nur mungkin sudah mencoba bertuhan seperti orang bermoral lainnya. Kalau itu tidak membuatnya lepas dari apa yang dia alami, apakah dia yang harus disalahkan? Atau sebaliknya sebagai kompensasi karena agama tidak berbuat apa apa?
Saya setuju dengan navis, manusia yang memeluk agamalah yang tidak menyelamatkan saudara2nya. harusnya kita malu.
Bagi saya ini teriakan bahwa mereka yang miskin bukan malas tapi mereka dipaksa untuk miskin. Dan negara tidak memberikan ruang buat mereka keluar dari kemiskinan.
Agama? masih ada orang beragama di Indonesia? kalo di ktp aja seh masih ada
ko jadi saya yg kena?
Saya ga memihak ko..atau jangan2 di situ letak permasalahannya: keberpihakkan? Dan GM sudah mengambil sikap memihak. Kalau setuju, ya silahkan…saya cuma nanya, apa itu tidak berlebihan? Saya sendiri lebih sepakat dgn mas Sawung di atas. Masalahnya bukan agama, tapi kemiskinan.
nice writing. at last.
Bukankan kefakiran akan menyebabkan kekafiran? kefakiran bukan hanya berupa harta, tapi juga ilmu & agama. Bila hidup di dunia & akhirat memerlukan ILMU, & di negeri ini bukan hanya ada satu Nur tapi ratusan bahkan ribuan…So, apa kabar menteri pendidikan & kebudayaan?
T_T terharu gw bacanya…tapi apa g ad pekerjaan lain selain pelacur?
Peace and Love
Red Dog
“Happiness depends more on how life strikes you than on what
happens.”
– Andy Rooney
“All of us every single year, we’re a different person. I
don’t think we’re the same person all our lives.”
– Steven Spielberg
“I have become my own version of an optimist. If I can’t make
it through one door, I’ll go through another door — or I’ll
make a door. Something terrific will come no matter how dark
the present.”
– Joan Rivers
“There are no classes in life for beginners: right away you
are always asked to deal with what is most difficult.”
– Rainer Maria Rilke
“Formulate and stamp indelibly on your mind a mental picture
of yourself as succeeding. Hold this picture tenaciously.
Never permit it to fade. Your mind will seek to develop the
picture… Do not build up obstacles in your imagination.”
– Norman Vincent Peale
“Treat people as if they were what they ought to be and you
help them to become what they are capable of being.”
– Johann Wolfgang von Goethe
Cerita tentang pelacuran di atas adalah juga tentang kecintaan yang berlebihan terhadap dunia sehingga mau mengorbankan harga diri demi uang.
Saya yakin jika pun ibu itu tidak melacur, anak2nya tak mungkin mati kelaparan. Konsekwensinya mungkin si anak tak bisa sekolah, tapi setahu saya banyak pesantren di Jatim yang murah meriah dan tak perlu mengeluarkan banyak duit seperti sekolah2 katolik.
GM telah mengalami suatu sindrome bawah sadar dimana ia merasa ada kenikmatan penuh sensasi jika telah menyudutkan Islam melalui cerita2 yang mengasosiasikan bahwa setiap dekadensi dan kekacauan adalah gambaran tentang kegagalan Islam. Padahal semuanya adalah berasal dari caranya sendiri yang sangat naif dalam mencerna Islam: Ia menganggap Islam seperti sebuah lemari es: apapun harus dingin dan beku jika sudah masuk kedalamnya. Kalau ada yang tak dingin, maka lemari es yang harus disalahkan. Ini adalah suatu bentuk yang unik tentang iman seorang seniman yang masih belum beranjak dari doktrin2 materialistik.
Dogma agama menafikan fitrah saya sebagai seorang manusia yang menyukai sesama jenis…
Ya, serang saya dengan doktrin2: “Dosa Kaum Sodom”, “Unnatural behavior”, “Abnormal” dsb tapi siapa Anda? Memangnya Anda merasakan kehidupan sebagai seorang homoseksual? Pernahkah Anda merasakan pedihnya stigma dan cibiran? Hujatlah saya karena saya belum pernah disentuh siapa pun.
Jangan heran kalau saya tidak berkendaraan dengan merek “agama”, saya mencari Tuhan dengan nurani saya sendiri!!
Fakta…
sesuatu yang harus diakui meskipun itu pahit
Meminta satu keberanian tersendiri untuk menjadikan Nur sebagai “Ibu Indonesia 2008″. Dan seperti biasa, GM selalu mengajak kita buat berpikir dan bersikap. Apapun ! Karena tak seorangpun didunia ini yang ingin miskin dan melacur. Daripada pelacur politik yang dosanya tak terampuni !
mgkn bbrp tahun kedepan mbak nur sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja mengandalkan “fisik” karena faktor usia, sementara perjalanan bocah2 tak berdosa itu masih sangat panjang, jangan terlena mbak nur, mulailah banyak belajar untuk beralih pada pekerjaan/usaha lain, semoga ada jalan keluar…amin.
haha…1 lagi kenyataan tentang agama, dia tak bisa menjawab segalanya…dan masihkah tetap kalian poles wajah mu dg bedak kitab suci dan lipstik sabda nabi, lalu kalian bercermin sangat narcis di depan kaca dan kamera ??…berkacalah pada udara, dan mungkin kau tak kan menemukan apa2…mbak nur pelacur, bertempur melawan takdir, menahkodai dan mengarahkan ke lintang mana alat produksi nya dijajakan…walau di derajat cuma 10 ribu…mbak nur, aku tahu hidup memang kecut..dan aku salut..karenanya, hindari mati (saran octavio paz)
oh ya, ada yg lupa, masalah ibu indonesia 2008..Ukuran itu relatif..sebagaimana taksiran..plus minus plus minus bagi kali bagi kali sama dengan angka – angka sama dengan berapa lembar pecahan seratusan dolar yg Kau dapatkan…dan sejujurnya, Persetan dengan ukuranmu !
dalam tangkapan saya, mas Goen tidak hendak mengatakan, “ia ‘Ibu Indonesia Tahun 2008′”…
itu ungkapan ironis yang khas mas Goen!
Dan yang menjawab adalah kita, semua warga Indonesia, tidak terkecuali perempuan. mungkin mba Ucu Agustin layak mendapat penghargaan itu. Karena ia ibu dari ‘Ibu Indonesia Tahun 2008′
udah pada nonton pelemnya?
atau datang sendiri dan bicara dengan bu nur?
atau coba survai langsung ke tulungagung.
bu nur itu bekerja memecah batu. itu sebuah pilihan pekerjaan halal tapi tidak mencukupi hidupnya. Adakah yang bisa memberikan pekerjaan lain? saya kira dia akan memilih pekerjaan lain, jika ada.
semua agama tak berfungsi apa-apa, tak bisa dicerna apalagi dibela. semua pelacur (termasuk Nur) belum tahu itu “agama”, Nur sendiri adalah penerang untuk 5 anaknya, agama tak perlu. tidak juga kita yang bila tidak apa itu agama yang benar bisa membuat kita kenyang, tenang dan riang pada situasi yang tak lagi memungkinkan, bayangkan…andai kita menjadi…
wah ternyata benar yah hidup itu sangat berwarna, sy paling tdk setuju kl ada org yg bilg hdp memiliki 2 warna saja d+ daerah abu-abu. Hidup adalah berkah terbesar dr TUHAN. Tidak ada yg bisa menghidupkan kehidupan selain Dia. Lalu kehidupan itu berjalan sesuai dengan “arusnya” . Coba d temen2 yg concern dg masalah tsb mengimbanginya dg bacaan dr Agus Mustopha dia fisikawan indonesia yg bisa menjelaskan misteri hidup dengan ilmiah dan tetap bersandar pada AlQuran. kl ga salah bukunya yg bisa berhubungan dg masalah ini adalah Mengubah Takdir. Mdh2an kita semua mendapat pencerahan ilmu sehingga mendapat berkah dari Sang Maha ILMU.
saya pengen ketemu dg yayasan langit yg bilang agama itu hanya u ktp. apakah ibu anda pelacur?
wellll,…… dengan tulisan-tulisanya, GM selalu berhasil membuka cakrawala berpikir saya. Dan dgn essaynya yg baru sy baca, saya yakin, dia tidak bermaksud menyudutkan atau menyerang siapapun atau apapun. Dia hanya berusaha membantu kita menyadari realita kehidupan dan segala kemungkinan-kemungkinannya.
Tau apa si zaval itu tentang relatifitas? Tau apa dia tentang matematika? Tau apa dia tentang berapa tumpuk ratusan dolar yg bisa dihasilkan seorang pedagang! Cuih!
Pake ngetawain agama pula…bukankah agama yg ngajarin lingkungan kamu untuk memperlakukan dengan baik mayat kamu nanti? Bukankah agama yg mengajarkan moyang kamu sehingga kamu lahir tanpa HIV dan mendoakan kelahiranmu? Mengajarkan kebaikan, kebersihan dan kesehatan. Kenapa kamu ketawa, dungu!
kenapa harus penghargaan yang kita berikan? kenapa bukan penyelamatan yang kita lakukan. janganlah kita selalu mengeksploitasi keadaan mereka untuk sebuah pengakuan bahwa kita peduli. bahwa kita adalah orang-orang, kelompok atau apapun bengek diteteknya adalah orang yang prihatin dengan kondisi sosial masyarakat yang carut marut. bukankah pewartaan yang kita lakukan untuk membuka mata banyak orang tentang luka dan rapuh yang kita miliki hanya akan menambah getirnya hati mereka ketika banyak orang-orang ikut dal;am pro dan kontra membahas keberadaan mereka yang sebetulnya tidak pernah mereka cita-citakan.
bukalah hatimu dulu baru gugah rasa orang lain. ulurkan tanganmu untuk menyelamatkan mereka kembali baru raih gandeng tangan yang lain untuk menciptakan lapangan pekerjaan buat mereka.
pujian yang kalian terima dari memfilmkan atau membuat karya apapun sebanyak-banyaknya adalah kepentingan ego kalian untuk kepuasan pribadi dan meraih pengakuan dan penghargaan setinggi-tingginya. bukan untuk keselamatan mereka.
sisihkan pendapatnmu untuk anak mereka dan modal usaha mereka agar mereka tak terus-terusan seperti itu.
kalau setelah pertemuan itu kalian membiarkan mereka kembali ke komunitas pekerjaannya, itu artinya kalian telah melakukan penghianatan kemanusiaan. jangan salahkan agama dulu sebelum kau memahami ajarannya dengan sepenuhnya. sudah berapa banyak aturan agama yang kau pahami dan jalankan?
selamatkan dulu mereka, baru namanya kau jadi pahlawan bangsa. kalau hanya berkoar dalam berita, karya apapun bentuknya, sama artinya kau memanfaatkan atau mengeksploitasi keadaan mereka untuk kebutuhan egosentrismu dan mengharapkan pengakuan dari banyak orang sebagai pahlawan sosial.
kalau mau membantu, tak usah bwerkoar, bantu saja dan selamatkan mereka. itu baru pahlawan sejati namanya.
saya ingin nambah tulis mas.
mas GM kan prihatin ama bu Nur tuh.
gimana kalau mas GM berpoligami saja?
angkat derajat bu Nur dan anak-anaknya ditengah masyarakatnya. saya yakin mas, pernikahan kalian nanti pasti tidak akan mendapat pro-kontra kayak aa’ gym dulu. saya yakin seluruh bangsa indonesia akan angkat topi untuk tindakan mas GM itu.
saya pikir disinilah letak substansi kenapa salah satu agama membenarkan poligami. seperti juga yang dilakukan oleh nabi di agama tersebut. beliau pernah menikahi seorang janda miskin berkulit hitam. dan ini semua beliau lakukan untuk mengangkat derajat kaumnya dan membebaskannya dari jerat kemiskinan.
saya yakin mas GM pasti bisa membiayai “calon” anak mas GM yang lima orang itu sampai mereka bisa mandiri.
dan pernikahan ini bukanlah orientasi seksual, tapi orientasi kemanusiaan. dan karena itulah poligami itu halal. jadi gak usah saja ada undang-undang yang melarang poligami.
saya yakin sekali mas, kalau ini anda lakukan, dan semua orang kaya di indonesia mau mempoligami janda-janda miskin yang tidak berorientasi pada seks, saya sangat yakin persoalan kemiskinan di indonesia pasti akan segera teratasi.
krisis moral bangsa juga akan dengan mudah kita benahi.
ayo mas GM! dan ajaklah kawan-kawan anda yang berlebih dengan pendapatan yang melimpah untuk mempoligami janda-janda miskin dan juga pelacur-pelajur miskin untuk tugas kemanusiaan.
jangan hanya mengamati lalu menuliskannya, tapi lakukanlah sesuatu.
bangsa ini tidak lagi membutuhkan perdebatan mas, ia butuh tindakan nyata secara bersama-sama merubah keadaan.
poligami yang berorientasi kemanusiaan adalah salah satu bukti kebenaran dan ketepatan agama sebagai jalan keluar menuju kebahagiaan dan keserasian kehidupan.
kl niatannya “membantu” kok musti dikawinin sih? ujung2nya ga mau rugi juga tuh namanya, mmg ga ada yg “gratis” di dunia ini…
bung iben…
justru dengan dibuatnya itu film bung goen jadi nulis esai ini…
dan dengan adanya esai ini maka kita2 yang tadinya gak tau gimana “ngenes”nya kondisi disana jadi melek…
soal upaya penyelamatan n perbaikan nasib mereka, itu tanggung jawab kita bersama, dimana bentuk minimalnya adalah peduli n ikut mendo’akan…
bisa juga dengan bikin film yang mengangkat kehidupan mereka, or bikin esai kuat seperti ini… dengan harapan, semakin banyak yang tahu akan semakin banyak yang peduli, dan pada akhirnya akan semakin banyak pula yang bersedia turun tangan membantu secara riil…
so, terlepas dari apapun pendapat kita, tulisan bung goen cukup berhasil membangkitkan kepedulian kita ‘kan??
peace bung iben…
jadi menurut reno ranti agama itu apa? islam, kristen, budha, hindu, dll itu apa? hati2 (mbak ato om nih) agama itu tdk menyelamatkan!! pahami lagi deh…karena agama org bisa bertikai dan berperang. ibu saya bukan pelacur. ibu saya ibu yg terbaik buat anak2nya.
trims reno ranti.
tidak harus jadi isa di tengah sekumpulan filsuf manja macam Ibra…haha..
sungguhpun kita hanya semacam kutu beras…
bung iben nuriska, kenapa aku begitu setuju dengan usulanmu ???
fakta “mungkin” jauh dari opini…
tapi kenyataannya, kita hobi sekali bermain opini…
aih ! kenapa omong kosong begitu lekat dengan kita ?????
Betul, tak harus jadi Isa. Sebab seorang Isa membuatku sangat malu dengan diriku sendiri. Andai saja bisa kuhapus kata2 burukku di atas. Andai saja aku tak mengatakan apapun.
Saya jadi ingat kata2 seorang yg sangat saya kagumi : Andai saja tidak kosong, andai saja tidak tercoreng moreng.
Andai saja…
Tidak perlu dihapus. Omongan kamu banyak benernya. Adapun tentang cara yang membuat orang tercekat, itu hal lain. Sama seperti ketika kamu tulis esay untuk melerai radit&saut yang berpantun di milis-milis. kamu bukan cuma membuat mereka bungkam, tapi juga kamu menelan mereka. Artinya, cara seperti itu juga akhirnya kembali ke pembaca. Seperti kata Barthes.
kang ibra, kita sepantaran..dan aku sungguh kagum dengan pengetahuanmu tentang FILSAFAT, dilihat dari umur kita, aku sngat jauh dari apa yang telah kau ketahui…tapi aneh, aku malah lebih menyukaimu di sisi ini, sisi kejujuran dan kerendahan hati tanpa tendensi apapun…
maaf kalau kata2ku agak pahit…mahfum, belajar itu pahit, belajar berfilsafat itu sakit, dan sebenarnya aku baru hanya seekor pembelajar kang ibra, yang selalu siap Belajar pada guru yang terserak dimana-mana
naif sekali mengatakan poligami tak berorientasi seks…(bullshit!!) kalo memang ingin orientasi kemanusiaan, kenapa mesti dikawini? ya bantu sajalah, tak mesti pake embel2 dikawini… tapi kalo bung iben mau mengawininya silahkan saja…. malang betul nasib perempuan kalo ada semua laki2 berpikiran yg sama seperti iben nuriska…
Bidang saya ekonomi, sebetulnya. filsafat mah cuma baca2 dari org2 driyakara, ama obrolan temen2 aja…
Oiya, kalau menurut Gonick tendensi poligami Rasul itu politik, yg dikawin itu janda2 pembesar suku2 arab…
Politik ama Nafsu beti (beda2 tipis)….
hm.. salam buat mas Anic.
tulisan ini membahas dari satu sisi saja. dan ini kelemahannya.
tidak menyeluruh.
jadi terkesan naif plus emosional.
bagaimana dengan istri2 dan anak2 para pria yang tergoda untuk membeli layanan pelacur?
tentu sangat naif menyalahkan sepenuhnya kepada pria yg punya uang dan jajan pelacur. kita tahu nafsu kejahatan, turut distimulus rangsangan dari luar.
“menganggap yang baik itu baik, itu tidak baik. Menganggap yang jelek itu jelek, itu juga jelek”.
Kesedihan dan kebahagian sama2 berasal dari obyek yang diamati, dan subyek yang mengamati.
Ketika membaca essay ini anda bahagia, berarti anda setan!
Ketika membaca essay ini anda sedih, anda berpeluang jadi manusia!
tapi ketika anda membaca essay ini merasa campur aduk, bisa jadi anda binatang!
salam
lalu anda apa?
menafkahi 5 anak dengan melacur membawa seseorang menjadi ibu indonesia 2008.
ada sesuatu yang kurasa kurang pas di sini.
meski tidak pas bukan berarti kita berhak menghakimi seseorang.
juga meramal seseorang akan masuk neraka atau tidak.
tetapi tidak pula dengan membesar-besarkan pekerjaan sebagai pelacur.
tapi tulisan ini bagus. dalam ketidakpasnya, ia bagus.
yang namanya syariat agama itu mengajarkan kita supaya berada pada jalan yang benar, tidak merugikan orang dan menempatkan hati kita menjadi tenang .. kisah pelacur diatas cukup kontroversial.. hahha ternyata banyak juga orang2 yang masi blum cukup melihat dengan baik syariat2 agama itu tujuannya apa..
menobatkan pelacur diatas sebagai ibu indonesia 2008 rasanya akan banyak melemahkan hati.. si pembuat film harusnya lebih bijak nih ngambil tema!!!
mengenai poligami… lebih kontroversial lagi.. klo memang mau merasa kasihan dengan si pelacur ya bolehlah memberikan nafkah, tp menikahi itu ada kalanya mengangkat derajat wanita yang lemah.. islam membolehkan pologami kan bukan berarti mengharuskan.. smua harus liat situasi donk ah.. ini tergantung dr masing2 orang sih.. yang jelas.. BIG NO untuk menobatkan kisah diatas jd ibu indonesia 2008.. sbagai wanita.. saya merasa kurang sreg dng itu.. bukan brarti tidak empati lho ya!!!
to mas ibra.. thnx for the inspiration.. jhahha
aduh, jangan lah dipandang dia dari pekerjaannya sebagai pelacur. lalu kemudian menyimpulkan bahwa pekerjaan itu hina dina, kotor, dan tak layak. bukankah dia jg manusia yang dipandang sama oleh Pencipta. Baca lagi deh pelan2 tulisannya mas gun tuh… saya kira mas gun tidak melihatnya dari sisi itu, tp dilihat dari semangat, perjuangan, pengorbanan, kasih sayang dan tanggungjawab. kan dah dibilang “tak ada satu perempuan pun yg mempunyai cita2 sbg pelacur”.
mbak, mas, om, tante, pengembala itu akan mencari dombanya yang hilang, bukan yg sudah ada. Tuhan tak mencari org2 “alim” seperti anda2.
menolongnya bukan berarti dikawini (mengangkat derajat–>omong kosong). saya tak melihat kejujuran laki2 berpoligami untuk mengangkat derajat perempuan, selain nafsu dan birahi. Wkkkkkk…. saya laki2 yang sangat menghargai perempuan. sayang, ada perempuan yg tak menghargai dirinya sendiri. mau saja di madu…
NB: jngan disangka saya setuju dgn pekerjaan pelacur. pekerjaan itu tetap pekerjaan yg tak baik. tapi sekali lg jgn dilihat dari pekerjaannya, lihatlah dari pengorbanan yg luar biasa buat kebertahanan hidupnya yang getir dan miris. beruntunglah anda tidak berhadapan pada persoalan yang dialami Nur.
pelacur ya tetap pelacur mas…
Dalam Islam poligami itu halal sedangkan pacaran itu haram. Namun nilai2 yang ada sekarang sebaliknya, justru poligami diharamkan dan pacaran dianjurkan. Saya berani mengatakan bahwa orang2 yang berprinsip seperti itu adalah KAFIR karena sudah berani menyalahkan Islam. Gak usah berdebat terlalu panjang tentang poligami ini.
Itu saja.
Titik.
setan akan berpikiran hal yang sama dengan zaki. pd prinsipnya setan tak mau berdebat panjang soal Kebenaran. wkwkwkwkwkw….
itu saja.
koma,
@arifrahmanlubis
Menyerang agama kayaknya berlebihan juga kedengarannya. Mungkin lebih pas menyentil
orang2 yang tekun beribadah
tapi melupakan keadaan sesama.
Memang lebih condong sebagai masalah ekonomi. Masalah kemiskinan. Melihat masalah ini
saya hanya bisa meng’iya’kan ‘Agama kebajikan’ yang dicetuskan Nur Khalik Ridwan. Yang
dibutuhkan adalah kesadaran dan kebaikan agar bermanfaat bagi orang lain apapun agama
kita. Contoh rilnya mungkin dengan memasukkan pelacur kedalam golongan yang berhak
menerima zakat misalnya. Saya cuma masih yakin agama masih punya peran.
@ibra
kayak iklan aja…”gak ada lo gak rame”…hahaha.
mantab tiap kali kasih comment.
Tulisan mas GM di atas memang memungkinkan terjadinya multi tafsir. Saya hanya menilai bahwa pengangkatan kondisi bu Nur hanya untuk menunjukkan realitas kehidupan yang ada. Seperti itulah kehidupan, dimana saja, selalu ada sisi gelap dan terang.
Adapun kesan pembaca tergantung dari latar belakang ilmu atau pengalaman yang dia miliki, dan itu tidak dapat dipungkiri karena itu pun bagian dari kehidupan pula.
Jadi marilah kita buat hidup menjadi lebih baik dengan apapun yang kita mampu sebab kehidupan masih akan tetap berjalan, bahkan sampai kita tak lagi hidup.
Orang yang mengaku anak Tuhan itu pasti lebih goblok daripada syaitan.
Ngomong opo Zaki ini…tiba2 bilang gituan. Blo’on.
pease pease pease….
saya kerap menelan kekecewaan terhadap realitas pertumpahan darah dan seabrek kekacauan yang disebabkan oleh (orang’s yang mengatasnamakan) agama.
mereka masing-masing subyek egois yang mendeklarasikan diri sebagai penguasa tunggal pulau kebenaran.
mereka yang selalu berpikir hitam-putih, benar-salah, tanpa mau melihat kenyataan bahwa ada ruang abu-abu dalam kehidupan.
kadang saya berpikir: bukankah tanpa agama pun manusia bisa mengetahui baik-buruk, benci-kasih, benar-salah, dan ide-ide universal alamiah lainnya?
seraya meyakini eksistensi Sang Pencipta dan Sang Maha Kuasa, diam-diam saya juga menikmati khayalan John Lenon …. “imagine …. and no religion too…”
Memang kenyataan nya gitu kok.
Goblok yang dibungkus estetika akan kelihatan lebih memuakkan daripada goblok seperti biasa.
@Inda Suhendra
sambil cimeng lebih asik tuh kayaknya….dengar lagu John Lenon….peace…peace..(snip).
hanya setan yg tersinggung dgn kalimat gw. dan zaki tersinggung. brarti zaki??? wakkkk…. saya tau anda itu cerdas zaki. dan siapa bilang setan itu goblok. buktinya pengikutnya banyak. tipuannya luar biasa. saking hebat dan jagonya, kita terkadang tak menyadari sedang dalam kekuasaannya. biar pun saya goblok tapi saya anak Tuhan. apakah anda itu anak Tuhan?? kalo bukan ya brarti anda anak setan. wkkkkkkk……..
semoga jawabanmu cerdas…
Anda harus baca dulu dari awal, siapa yang duluan tersinggung, anak tuhan atau saya. Lo duluan kan yang bawa2 kata setan. Kalau anda cerdas, pasti bisa tahu siapa yang sebenarnya anak setan.
Kalau boleh tahu yang tuhan itu bokap atau nyokap lo sih. kalau nyokap dan bokap lo dua2nya tuhan, mereka pernah pacaran nggak???? Truz waktu nyokap lo hamil siapa yang periksa kandungannya n siapa juga yang bisa jadi bidan???? Trus gimana sih rasanya nyusu sama tuhan????
ha 3x aja.
Truz kalau ortu lo tuhan, kakek lo siapa dan dimana ia sekarang ????
masih hidup atau nggak.
lumayan cerdas kan jawaban gw????
sudah, sudah, sesama anak manusia ga boleh brantem…
@zaki
kurang cerdas kayaknya jawabannya…pikir ulang
@rusdi
Jadi menurut anda gimana?? Tunjukkan dong yang lebih cerdas!!!!!
Ih…marah
….sensi banget….ntar dulu ya gw baca2 dulu…
Ok.
Ditunggu
ketauan banget kan kerjanya setan, sering ngebalik-balikin omongan. dan gw sangat cerdas untuk tau siapa anak setan karna gw anak Tuhan. tul kan rus? wkkkk… oh gw sama sekali tak tersinggung tuh dengan perkataan mu… gw cuma memberi asumsi saja, kalo setan punya pikiran yang sama dgn mu. subjeknya kan setan. lalu, kamu vonis saya lebih goblok dari setan (padahal setan itu pintar, bahkan pinter banget–>itu aja gak tau). medusa aja ngomentari omongan kamu. kamu harus baca lagi.
kerjaan setan emang semakin gampang ditebak ya. liat aja jawaban zaki. dikiranya “anak” itu adalah hasil persetubuhan. tuh kan pikirannya emang ke sono-sono aja. kawin, seks dan nafsu birahi saja (hal-hal yang biologis saja). padahal bisa saja kedekatan kita secara emosional dgn org yg lebih tua menjadikan kita sebagai anaknya. ngerti gak? pasti ngerti, tapi pasti dicari-cari jg jawabannya ngaconya.
si zaki (yg gak mau dianggap anak Tuhan) sudah pasti sensi, rusdie.. wkkkkkkkkkk
aku coba tanya ya, zak, kamu anak Tuhan ga? kalo aku bilang iya, kalo jawaban kamu?
@anak tuhan.
Sudahlah ganti aja nama anda itu. Meskipun itu dalam arti kiasan tapi kedengarannya tetap berlebihan, bahkan kalo saya perhatikan prinsip kamu yang sangat keras menentang komentar saya, itu adalah gambaran bahwa nama kamu itu tidak bermaksud untuk menyandang arti kiasan.
Saya sendiri cukup pede karena yang saya sampaikan ini adalah memang sebuah kebenaran yang mutlak dan simple.
Kalau anda tidak bisa menerima kebenaran dengan cara yang wajar, seperti yang saya sampaikan, maka anda akan disamperin oleh kebenaran dengan cara yang tragis. Ingatlah kata2 saya meskipun sekarang anda belum bisa mempercayainya. Suatu saat pasti anda akan menyadari kebenaran kata2 saya.
knapa saya harus ganti nama? ah, zaki jawabanmu jgn ngeyel mulu. saya siap menerima segala konsekuensinya, dan saya percaya Tuhan pasti senang karna saya menganggap Dia ayah saya. ayah saya tak mungkin memberi saya ular ketika saya meminta mainan. ini pasti tidak tertangkap dgn kamu, karna pikiranmu yg tertutup dgn setan.
zaki sangat mengetahui kebenaran yg mutlak. wah, zaki hebat!! lebih hebat dari filsuf2 poststrukturalis dan postmodernisme.
sori ya, zaki. saya ga mungkin dihampirin kebenaran dgn cara tragis karna saya telah meyakini kebenaran itu. dan sori lagi nih, kata anda tak ada benarnya. wkkkkkkkkkkk….
nb: Pertanyaan saya ga dijawabkan? setan emang ga mau ngaku sebagai anak Tuhan… wkkkkkk.
i luv u, zak!!
Ya sudahlah kalo gitu. Mau gimana lagi.
Sekarang saya sudah cukup punya alasan untuk mengucapkan, “Laa ikraha fiddin” (Tak ada pemaksaan dalam kebenaran).
Peace.
Kupu2 malam
Dan saya juga punya cukup alasan untuk mengatakan siapa anak Tuhan dan siapa anak setan. wkkkk…….
ngomong apa sich setan ma tuhan terus …
“gwa suka binun saat ditanya suka gunung atau lautan.. gwa jawab aja asal.. gwa suka guling”
kayak kurang akal aja ngasih penghargaan ke pelacur…
emangnyanggak ada wanita yg lebih layak?
apakah guru wanita berjilbab …. yg rajin beribadah … yg mencurahkan tenaganya demi akan didiknya, tak lebih baik daripada si pelacur itu?
Sebenarnya Mas Goen itu protes. Ia protes pada agama yang diyakininya, itupun bila ia beragama. Dan bila agamanya Islam, –paling tidak dari segi namanya–, maka ia protes pada agamanya.
Coba simak kalimat yang ia pilih, sehabis mendeskripsikan dengan jernih dan apik sosok tokohnya, Nur, tiba-tiba ia menggugat lantang, …”Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang hormat ke wajah Nur; seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya?” Ini kalimat yang sarat makna, perlu hati yang dingin memahaminya.
Istilah agama dalam kalimat tersebut bisa berarti dua, ajaran dan pemeluk. Agama dalam arti pertama, subyeknya, ajaran, –predikatnya, akan punya arti. Agama dalam arti kedua, –subyeknya, pemeluk, –predikatnya, tak memandang hormat.
Bila ia protes ke ajaran, ia bakal nyesel. Bila protesnya ke pemeluk, ya, saya kira ada benarnya. Dewasa ini, sepertinya lembaga agama rada jauh dengan kemanusiaan. Tak seperti zaman sahabat. Jadi, protes Mas Goen itu benar adanya. Bahkan, dalam satu suratnya, Tuhan lebih keras dan mengancam; pemeluk agama itu “pendusta agama” tatkala ia tak memandang hormat alias mengabaikan anak yatim, fakir miskin, wajah Nur.
Sebenarnya Mas Goen ingin mengatakan begini. Agama itu hanya berarti bila ia begitu dekat dan ramah dengan realitas kemanusiaan. Pemeluk agama itu akan bermakna bila mereka juga pemeluk kemanusiaan. Apakah di dekat Nur tak ada pemeluk agama? Kenapa Nur dibiarkan, diabaikan, tak ditolong, tak disantuni?
Kalau soal penobatan, “Bagi saya, ia Ibu Indonesia tahun 2008″, itu merupakan bagian tak terpisahkan dengan protesnya. Atas nama kemanusiaan, yang memperjuangkan masa depan ke 5 anaknya dengan cara menjual alat reproduksinya, wajar bila Mas Goen nobatkan sebagai Ibu Indonesia, sekalian protes ke agama. Gitu aja.
Buat semuanya… Ketika kalian berdebat tentang apa yang disebut “agama” maka kalian masih dalam taraf “Syariat” yaitu mempelajari teori dan keilmuan sebuah agama. Namun apabila anda sudah bisa memandang, menilai, memaklum, dan tersenyum hingga kalian bisa mendapatkan hikmahnya maka anda sudah dalam taraf “Hakekat” meloncati taraf “Tarekot”.
Namun apabila kalian sekarang juga bergegas melihat lingkungan tentang kejadian yang anda cermati, (melihat orang butuh pertolongan, melihat anak miskin kelaparan, mendengar tangis janda yang memohon belas kasih Tuhan) dan kalian merogoh kocek/membantunya… maka kalian telah sampai pada taraf “ma’rifat”… kalian telah mengerti sebuah agama secara sempurna.
Syariat > Tarekot > Hakekat > Ma’rifat
“Mengamalkan agama”
salam,
Hanya hamba
kalau anda?
@diatas
Iya..iya tau…saya loncat-loncat tuh….kadang ma’rifat kadang tarekot kadang syariat…..tapi di syariat asik juga kayaknya, ya disini dulu. Besok saya ke ma’rifat kayaknya…kalau lagi mood. Peace!
Hehe… tulisannya udah bagus kok tanggapannya aneh-aneh ! Jauh api dari panggang boss!
hhmm….
pelacur juga seorang ibu..
that’s the fact..
dan kurasa surga masih ada di telapak kakinya..
Salam Sejahtera Semua…
Dari semua diskusi ini…ada perbedaan dan keindahan yang kudu dtarik benang merahnya (kaya Tukang Jahit).
Sejarah Pelacur/wanita panggilan/kupu2 malam apa siang, orang banyak memberikan bahasa pada mereka dengan versi panggilan masing-masing yang kadang melecehkan secara pisik (Disini manusia hipokrit dominan sekali),sudah ada ribuan tahun yang lalu, hampir sama dengan dg penciptaan manusia.
Ada hukum sebab akibat kenapa ada pelacur dll, ironisnya mereka dihujat tapi dibutuhkan,Kalo dari kaca mata “Syariat” Jelas sekali bagaimana Syariat Memposisikan “Pelacur” itu DOSA BESAR, itu menurut Versi Syariat, tiap-tiap agama punya penilaian sendiri ttg “pelacur”.Bagaimana kalau dilihat secara “Spiritual?.Apalah TUHAN akan Kejam Terhadap “Mahluk Ciptaanya itu”? TUHAN bukan angkara MURKA, TUHAN punya Fleksibilitas terhadap MAHLUKNYA makanya TUHAN disembah…tapi klo TUHAN Dibuat dg MERK DAGANG Tertentu dengan tingkat Kesulitan yang RUAR BIASA ketika kita masuk wilayahnya, Orang-orang yang BERFIKIR akan sulit masuk, justru manusia yang gampang dicuci otaknya mudah masuk wilayah itu….mereka mudah sekali menghujat,memberikan doktrin haram,teroris DLL…semuanya berpulang pada kita dalam menelaah sebuah peristiwa karna pada intinya LIFE IS BEUTIFUL masuk wilayah itu segala sesuatunya akan berisi KEIHLASAN TERHADAP SESAMANYA bahkan Terhadap saudara kita WANITA YANG DI Juluki ‘pelacur” itu…..Salam semuanya
Hallo GM, saya sangat sangat…. setuju sekali dengan Mbak Nur mu. Cuma sedikit mengganggu kenapa dia yang kekurangan, memilih menyekolahkan anak2nya di sekolahan yang nota bene mahal untuk ukuran dia. Atau kamu punya alasan tertentu untuk itu.
Thanks.
Oiya, untuk kaum laki2 yang berkeinginan untuk berpolygami atau yang sudah berpolygami.
Kalau jantan jangan bersembunyi dibalik AGAMA untuk melampiaskan Hawa Nafsu. Isi ajaran agama bukan harga mati. Kita manusia ciptaanNya yang paling sempurna diantara makhluk hidup yang lain ( salah satunya BINATANG ), berakal budi punya naluri, perasaan jangan diperbudak dengan salah satu sarana yang ada di diri kita yaitu Hawa Nafsu Egois.
Kita ibarat Sopir dari badan kita. Kita yang menyetir, mengendalikan mobil kita, bukan sebaliknya. Hawa Nafsu yang mengendalikan kita! Anjing saja tertawa lihat Hawa Nafsu menyetir manusia! Apalagi Hawa Nafsu itu sendiri…. puas puas puas…….?????
Ngga puas, aku…
Aku juga ngga suka kamu pakai kata “kita”….siapa yang kamu pikir sama denganmu?
memangnya kamu pikir “will-to-power”nya Nietzsche itu apa? Memangnya kamu pikir ” alam bawah sadar”nya Freud itu isnya apa? Emangnya “suvival instinct”nya Darwin itu apa? Emangnya manusia dibawah bayang-bayang hegemoni itu isinya apa?
Bawa-bawa anjing segala…ckckck….malu dooong, masak bego dipamer-pamerin….ckckckck…..
aduh, tulisan begitu bagus kenapa diskusinya jadi begini?
malu ah sama GM dan mas anick yg sudah susah-susah ngup-date.
lagipula, ini hitam atas putih, beberapa tahun lagi ada yang baca (biarpun iseng, sapa tahu peneliti sejarah atau yang lain) apakah tidak geleng-geleng?
wah… , ya bersyukurlah kalau anda andrimanggadua yang tidak termasuk golongan manusia.
Dan saya tidak meminta siapapun untuk merasa puas?! Baca yang benar dong mas nya sing pinter dhewe.
Yang berujar puas itu si HAWA NAFSU sendiri yang bisa mengendalikan manusia demikian halnya si anjing yang melihat manusia dikendalikan oleh hawa nafsu.
sudah santai saja…, TerBukti kan.Dikendalikan!
Udah cari duit dulu ya.
Kulonuwun massss.
Kadangkala, manusia itu begitu mengagumi akalnya, sehingga Tuhan dapat dijangkaunya sedemikian rupa. Dari pengungan akal itu, kemudian, manusia mengatakan Tuhan itu begini, begitu. Misalnya dalam kesadarannya akan hebatnya akalnya, lalu dia mengatakan Tuhan itu sayang pelacur, sayang koruptor, sayang pada manusia penghujat. Asghfirullahal ‘adziem.
Yang Maha Benar tentang bagaimana sikap Tuhan terhadap mereka semua adalah menurut penjelasan Tuhan sendiri di dalam kitab suci Al-Qur’an.
Dan salah satu ciri bagi yang memahami tentang sikap Tuhan dalam kitab suci-Nya, akan mengekpresikan pemahaman itu lewat sopan santunnya, tawadhu’nya, ketundukannya, ketakutannya , pengagungannya dan kedekatannya kepada-Nya. Klaim bahwa Tuhan itu begini dan begitu sepanjang menurut akal manusia bisa sesat. Apalagi ditunjang dengan ketokohan, posisi, kedudukan dan kesombongan. Dalam sejarah kehidupan manusia –sebagaimana dijelaskan oleh Allah sendiri dalam kitab suci-Nya–, kesesatan manusia itu salah satunya bersumber pada –pengagungan akalnya sendiri–. Memang, Tuhan menciptakan akal manusia itu sangat luar biasa, dan yang dipakai baru sedikit saja. Namun, tetap ada batas. Pembatasnya adalah Penciptanya sendiri, yakni Allah Yang Maha Perkasa. Dan batasan itu sudah ada di dalam kitab suci, Al-Qur’an.
Justru anda yg baca lagi apa kataku, beybeh
Kalau anda pernah baca lietaratur yang saya coba angkat di atas, anda mungkin akan memahami bahwa manusia banyak memakai kedok dalam pelbagai aktivitasnya. Kedok itu bisa berupa moral, agama, etika, dll -yang nota bene disahkan masyarakatnya. Ada pun isi sesungguhnya dari segala aktivitas itu tidak lain dan tidak bukan merupakan “kehendak untuk menguasai”, “insting libidal”, dan “insting survival”.
Maksud saya, motif dari segala aktivitas itu sudah bukan lagi “masalah”, motif itu sudah diamini sebagai penggerak manusia. So what?!
Artinya, bila anda menganggap bahwa naluri alamiah tersebut diketawain anjing, barangkali anda sendiri tidak menyadari diri sendiri?
Mari saya perjelas lagi.
Bila dalam masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan nilai-nilai islam sebagai acuan dari pelbagai penilaiannya, maka poligami itu bukan masalah, apapun motifnya, takkan diketawain anjing.
Sebaliknya, bila masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan nilai-nilai budaya padang (yg mensahkan poliandri) sebagai acuan segala penilaiannya, maka dengan motif apa pun, poliandri tidak bakal diketawain anjing.
Jadi kesimpulannya: bila anda sedang main basket, jangan pakai aturan sepak bola.
Begitu pula sebaliknya.
Paham, bung!
Mari kita bicara dengan bersemangat! Tapi tolong, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan dengan bahasa yang kurang enak.
Ayo, beb…bicara lagi….
Jangan sampe aku berpikir kalo kamu cuma bisa ngomong “anjing” doang….omongan kaya gitu ga bikin aku takut
Ayo dong, kalo jantan jangan bersembunyi dibalik “manusia” dalam rekaan kamu, guru kamu, atau orang-orang pencerahan…
(Terangkan padaku lebih jelas tentang hal ini, please)
Masak kamu mau nunggu orang buat ngebelain kamu….
nilai-nilai islam itu yg banyak salahnya! apalagi dalam hal poligami! hah, ngomomg poligami tidak ada masalah. sapa bilang? tanya ama perempuan. kalo andri yg jawab ya iya lah. sama2 punya pikiran bersifat libidinal!! lha wong laki2!! pake kedok agama!! cih!!
Benar-salah itu penilaian, bung!
Kamu bersandar pada nilai apa dulu ni?
Kamu ngga suka nilai2 islam? monggo pake yang lain….barangkali pada mau poliandri?, yo monggo….
Gitu aja kok repot
Mau hombreng? Monggo….
Mau lesbong? Monggo….
Repot-repot amat?
Anything goes!
Berapa banyak laki-laki yang cermat dirusak hatinya oleh perempuan?
Berapa banyak perempuan yang tabah dikoyak oleh keperkasaan laki-laki?
Berapa banyak yang tidak cermat dan tidak tabah merasa mewakili mereka?
Pake kedok empati, Cih!
There’s no free lunch!
miris membaca tulisan ini. Apalagi ketika pak GM menulis, “Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”. Seperti ingin mengatakan banyak wanita yang bernasib seperti itu
huh……….
Kayaknya si biyu ngerjain gue deh….
Hehehehe
Tae lah
Tulisan bapak sangat menyentuh,lahir dari sebuah dialektika yang jujur dan terkesan intim dengan mbak Nur….memang seperti itu hendaknya sebuah tulisan..kadang kita harus “bercinta” dengan subyek..bergumul…dan “bersenggama”…..mbak Nur seperti Ibu pada umumnya…Ibu…yang EMOH anaknya terlunta seperti ibunya..ibu yang mengalah teriris raga dan jiwanya…ibu yang bisa mendadak kurus,mengalah,karena memberi asi untuk jabang-nya….yah……Overall…IBU WALI KITA DI SORGA….I love U mbak Nur…Teruskan PERJUANGANMU….Om Gun…ijinkan saya belajar…
Salam Dari Studio Sanur
Eryana
andri ini pasti sering disakiti perempuan dan sering berhasrat untuk menunjukan keperkasaannya pd keperawanan perempuan!!!
benar salah memang penilaian, tapi kalo penilaian yg salah jgn dipertahankan donk, kedondonk!!
kamu banyak2 aja cari pelanggan supaya dagangan mu laku…
poligami itu dah jadul! zaman dulu manusia itu masih sedikit, jd laki2 cenderung beristri banyak guna memenuhi bumi. poligami jg sejarah raja2 dalam mencari selir. bahkan dayang2 pun dihajar. namun berjalannya waktu, ketika manusia itu sudah banyak, maka poligami mulai menemukan masalah. cuma masalah itu masih dipolitisasi. agamalah yang menjadi kedoknya. seolah-olah menolong, padahal berhasrat dengan yg lain. kekayaan menjadi alat kekuasaan sebagai ketuk palu dlm menentukan istri berikutnya.
kalo mo diteliti, boleh tuh. buat aja kuesioner yg respondennya perempuan. pertanyaannya: mau kah anda di madu?
empati tuh substansi dari rasa cinta dan kasihsayang -bukan dgn hawanafsu!!
jgn ikut-ikutan meludah, air ludah anda dah kering karna teriak2 : Obraaall…obraaal.. 10rb tinggal pilih dipilih!!!!
wkkkkkkkk….
-sori admin, pembicaraan agak keluar dr esainya GM
Kata sori pada admin itu maksudnya alibi?
ini adminnya ikut2an nih
hwalahh..ngomong opo???..
saya pernah melacur beberapa kali
ko’ nggak ada yang promosiin saya jadi pria idaman 2008/2009 ya…??
semoga kita semua mati dalam keadaan tunduk….
with love
menarik…
coba klo diliat dari sudut pandang si anak…
kira2 apa pendapatnya ttg pekerjaan yg dilakukan ibunya…
kira2 apa yg ada di pikiran si anak ya???
ah…puyeng ah…
apapun itu saya gak pingin melacurkan diri…
melacurkan keyakinan saya….
…
bravoo… 1 tulisan 102 meesage…
kuat juga aromanya…
tapi saya ndak suka nulis… saya lebih suka “berak” haha
wah keren, saya tersentuh banget..
GM terlalu menyudutkan agama yang “tidak bisa berbuat apa-apa”. Beberapa diantara kita mungkin pernah menggugat TUHAN atau tidak setuju pada keputusan NYA. Namun TUHAN punya “rahasia” entah apa yang ingin IA lalukan, kita hanya berusaha. Bahkan ibu Nur tidak menyudutkan TUHAN tapi malah GM yang melakukannya.
GM, kenapa anda tak gunakan saja istilah yg lebih amelioratif semisal: Pramuria, atau PSK. istilah pelacur terlampau berkonotasi buruk dan melecehkan saya kira..
pelacuran tidak pernah baik.
niat baik tanpa cara yang baik itu seperti bilangan positif dikalikan dengan bilangan negatif, hasilnya negatif. malah, nilai negatifnya besar, semakin jauh dari titik nol. semakin jelek, semakin rusak.
pekerjaan halal segambreng, koq milih jadi pelacur? murah pulak. mending jualan gorengan, jadi sopir angkot, atau apapun yang halal.
sekali lagi, positif x negatif = negatif.
patung pancoran..
sederhana sekali hidup atas kalkulasi..
o Ya?
menurut pandangan saya artikel yg bapak tampilkan,membuat saya merasa bahwa seorang pelacur tidak selamanya haram..
karena seorang perempuan yang sudah di tinggalkan suaminya tanpa diberi nafkah harus mengurusi dan membiayayi 5 orang anak..
itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, tetapi itu harus di lakukan dengan perjuangan yang sangat besar…
oleh karena itu, kita harus menghargai semua orang walaupun berprofesi seperti pelacur..
Teman-teman, saya mau tanya nih.. Ada gak ketentuan agama yang mengharamkan pelacuran? (Misal: Surat di Quran)
Trims.
Hmm,, kisah yg sangat mengharukan bwt sya. Tp di satu sisi, sya sangat bangga dengan ibu Nur yg harus bekerja menjadi pelacur dan tukang memecah batu untuk membiayai skolah dan memperbaiki nasib anak-anaknya. Apalagi tekad dia yang memasukkan anak sulungnya, Tegar(6) ke salah satu sekolah TK katolik di Jakarta. Perjuangan nya sangat menyentuh hati. mungkin orang lain menilai bahwa pelacur itu perempuan yang gak sayang sama “tubuhnya”, tapi kisah ini sangat lain. Bukan berarti harus menjadi seorang pelacur, tapi harus menjadi seorang yang berjiwa besar seperti ibu Nur.
saya sangat prihatin dengan keadaan indonesia yang kehidupannya sangat keras. disamping kemiskinan yang dialami masyarakat, harga harga barang juga mahal sehingga orang orang yang putus asa karena harus menghidupi keluarganya sehingga harus menjadi seorang PSK.
Saya merasakan suatu kebanggaan dari seorang ibu Nur, karena dia merelakan tubuh nya untuk membiayai anak-anakna yang masih kecil untuk bersekolah,tetapi di satu sisi saya tidak setuju.Kenapa harus menjadi “Pelacur”?? Kenapa tidak menjadi pembantu saja. Walaupun derajatnya tidaklah tinggi tetapi itu merupakan pekerjaan yang halal. Menurut saya, saya lebih setuju jika ibu Nur melamar pekerjaan sebagai seorang pembantu,dari pada seseorang yang harus merelakan tubuhnya dan menjadi wanita yang tidaklah baik.
saya sebenarnya cukup bangga kepada ibu Nur,karena ia mampu menghidupi anak-anknya,sampai-sampai ia harus menjual tubuhnya sendiri.Ia melakukan pekerjaan itu terpaksaan karena suaminya tidak mengirimkan uang sedikit pun.coba jika suaminya mengirimkan uang setiap bulan,maka ibu Nur tidak harus bekerja seperti itu.Dan juga kesalahan ibu nur kenapa mesti bekerja seperti itu seharusnya ia bekerja yang lebih layak,kan masih banyak pekerjaan yang lebih layak.seperti menjadi tukang jahit.walaupun pekerjaannya melelahkan yang penting halal.
Menurut saya, memang melacur adalah pekerjaan yang haram tetapi saya salut dengan Ibu Nur karena Ia rela melakukan pekerjaan yang termasuk haram demi menghidupi anak-anaknya yang masih kecil dan membiayai mereka sekolah. Saya juga sangat prihatin dengan keadaan Ibu Nur.
Tetapi di satu sisi saya tidak setuju karena…………..mengapa Ibu Nur harus memilih pekerjaan melacur untuk mencari nafkah untuk anak-anaknya sedangkan masih banyak sekali pekerjaan yang halal/ pekerjaan yang lebih layak, seperti pembantu rumah tangga, bekerja di pabrik,dll. Memang kehidupan di Indonesia sangat keras dan sangat memprihatinkan, tetapi kita tidak boleh mudah putus asa dalam menghadapi kehidupan yang keras tersebut melainkan kita harus selalu berjuang untuk mencapai suatu keberhasilan.
masih banyak “Nur-Nur” lain di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita untuk membantunya keluar dari segala himpitan. Jadi buat Anda yang merasa suci dan benar…buktikan dengan tindakan, bukan makian dan perdebatan yang tak penting. Buat Andri…sadarkah Anda? pernahkah Anda melahirkan dan mengasuh anak tanpa nafkah dari seorang yang harusnya menafkahi. atau bila Anda ada di posisi sebagai anak ibu Nur. apa Anda masih juga menyudutkan dia? Logika anda memang jalan..tapi hati nurani Anda tumpul.
Being religious means asking passionately the question of the meaning of our existence and being willing to receive answers, even if the answers hurt…dibalik profesinya, BISA saja Bu Nur berkeyakinan bahwa itulah jalan/jawaban bagi seorang ibu yang berjuang menafkahi anak-anakya, skalipun itu menyakitkan bagi Bu Nur. Tapi apakah hanya itu satu-satunya jawaban bagi Bu Nur untuk masa depan anak-anaknya? mungkin saja memang hanya ada satu jawaban bagi Bu Nur karena dalam dunia ini, CINTA KASIH sudah semakin TAWAR!!!!!………..
[...] the original: Pelacur Posted in Catatan Pinggiran | Tags: a-belum-bercerai, a-seorang-istri, a-yang-gempal, [...]
Kisah “pertaruhan” telah menyuguhkan perjalanan bu Nur entah sebagai pelacur atau justru seorang Ibu yang bermoral. Agaknya akan lebih komplit jika kiranya kita baca juga caping “Mulyana” ; apakah itu “kebajikan” atau juga “kewajiban”.
Hormat untuk Om Goen… yang juga manusia…
“tahukah jalan yang berat dan mendaki itu, ialah membebaskan budak dan perbudakan”, tugas dan tanggung jawab kita bersama apalagi depsos en pemerintah jangan sampai lalai masih ada ribuan kasus seperti ini di Indonesia yang merdeka
coba renungkan andai kita sbg nur dg smua polemik hidupnya………….
tujuan tidak menghalalkan cara
lalu kemanakah agamawan mengobral kata agamanya dan dimana para kaya menafkahkan uangnya?
saya percaya pertimbangan moralitas adalah sesuatu yang harus secara hati2 kita letakan didalam melihar kasus ini. Dalam kerangka teistik tentu saja ada konsekuensi dari apa yang dilakukan nur.Sebab kerangka teistik menysyaratkan hubungan asimertis antara Tuhan yng meiliki perintah yang mutlak dilakukan dan ditaati oleh manusia ciptaannya.Walapun demikian kaum beragama perlu secara bijak menilai kasus nur ini agar tidak terjebak pada penghakiman sempit dan tidak melihat keseluruhan masalhnya secara utuh dan struktural.
Mungkin memang “ibu Indonesia”. Itu sindiran buat kita bangsa Indonesia yang tidak sabar, mudah putus asa dan menyerah, sehingga tidak masalah bila kita menyalahkan agama, dengan menyerang para pemeluknya yang suka menghujat mereka yang dianggap tidak bermoral (mengapa tidak berpaling pada para pemeluk yang taat dan taqwa dengan sebenar2 taqwa pada Tuhan yang tidak suka menghujat? Emangnya nggak ada? Mengapa memandang agama dari perilaku buruk pemeluknya?), sehingga tidak masalah pergi kerja melacur, semua itu tidak salah karena tidak ada kesabaran. Mungkin karena kesabaran dalam menetapi atau menjalani kebenaran dianggap sbg sesuatu yg mustahil bukan sebagai sesuatu yang harus diupayakan meskipun sulit.
Tuhan Maha Baik, mungkinkah nasib pelacur yang melacur karena terpaksa adalah salah agama atau salah Tuhan?
Memang nasib Pelacur yang melacur memang buka salah agama dan Tuhan. Tetapi saat sekelompok orang memandang rendah yang lainnya dengan berkedok agamanya dan Tuhannya, itu yang salah. Sepertinya sudah jelas itu yang ditunjukkan dari tulisan ini.
Yang salah ya cowo yang ga bisa ngendaliin nafsu. Bukannya pernah denger anekdot: “kenapa surga itu bidadarinya banyak n cewe semua? ya karena klo cowo semua bisa berubah jadi neraka tu surga”
Tuh, masih ada “bang Toyib” ga tanggung jawab ninggalin anak istri, 3 kali lebaran ga pulang-pulang.
Tuh, masih ada pelanggannya. Namanya juga realita sosial. Tapi ya mungkin saja ada yang melacur lama-lama bukan karena kebutuhan, karena hobi.
Tuhan memberikan banyak anekdot dan ibarat melalui jalan ceritanya yang indah, sebuah rangkaian sebab akibat yang unik. Yang salah bisa pelacurnya sendiri, pelanggannya, atau kita yang membiarkan realita itu terus bergulir tanpa kepedulian.
salam aidilfitri..pertama kali singgah, membacanya dengan penuh rasa..hidup adalah tentang pengorbanan, sisi diri yang ‘terpilih’ diuji Tuhan, pertimbangan dan kewarasan titik fikir..
Manusia sekarang ini penuh tekanan hidup dan cobaan, membuat banyak orang tidak berpikir panjang lagi. Apalagi negeri kita ini yang kebanyakan penduduk, sudah makin susah diatur, semua mau sendiri. Yang penting sekarang ini adalah bagaimana individunya itu sendiri, semua kembali kepada diri kita sendiri.
Ada agama aja begitu apalagi gak beragama
maksudnya? Translate yourself
bukankah agama itu penuh dengan tafsiran-tafsiran? lalu siapa kita yang begitu berani menilai orang lain, bahkan dengan beraninya Berprasangka kepada Tuhan? dalam mata yang fana ini siapapun boleh menilai dalam batas kinerja akalnya yang paling mungkin. Tapi Tuhan, yang menciptakan, jauh lebih mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
masih ada banyak mbak Nur lain disekitar kita, terjebak dalam pembodohan dan pemiskinan struktural, kesulitan hidup tanpa akhir, perjuangan melepaskan diri dari lembah kegelapan, sementara itu disekitarnya diliputi dengan dakwah yang tidak ikhlas tanpa metode dan tauladan, mana sang pengayom who will protect and serve, sementara egoisme manusia yang merasa pemikirannya lah yang paling benar diantara yang benar merajalela.
Saya secara pribadi melihat apa yang gambarkan mas goen, adalah sebuah peristiwa lumrah, tapi gaya menulis beliau memang sukses memancing pemikiran dalam berbagai bentuk alirannya.
Mbak nur merupakan produk generasi ke n dari dari dalam dunia yang demikian pahit, berjuang sendirian dan bahkan ditinggal hidup oleh suaminya, siapa kita yang dengan entengnya mengatakan “kenapa gak kerja yang laen aja mbak, kan banyak kerjaan halal yang laen”…come on … sekali-sekali turun dong ke bumi. Hidup bukanlah sekedar makan minum.
Ujian yang diberikan Tuhan “barangkali” bukan hanya ditujukan kepada mbak Nur saja, tapi semua termasuk orang termasuk Mas Goen dan juga saya yang telah berani lancang masuk kedalam diskusi ini. Mbak Nur sekarang sedang menjadi guru (barangkali test case lebih sesuai), orang seperti mbak nur lah yang dalam satu ketika menjadi sebab sumber kehidupan bagi para penarik becak, penjual makanan, penyewa rumah kost dsb. Ternyata ada rantai rezeki yang bersumber dari tubuhnya yang kemudian menjadi sebab rezeki atas mahkluk yang lain. Mari, bantulah beliau untuk kembali mensucikan tubuhnya, sehingga mengalirlah rezeki yang halallan thoiyyiban bagi anak-anaknya. Putuskan rantai penyebab kekufuran itu, sehingga generasi m tak lagi bergelimang dalam situasi yang sama seperti orang tuanya. Dan kalau hendak merajam seseorang, carilah makhluk yang memang melacurkan dirinya sebagai sebuah kesenangan dan gaya hidup, yang pasti mereka tidak mencari makan secara demikian dan mereka tidak kekurangan harta, itulah penzina sejati. Tapi ingat, mereka punya cukup uang untuk membayar pengacara yang justru bisa membuat anda dirajam.
salam dari negeri syariah
Untuk menguraiakan masalah ini cukup rumit, kita merasa prihatin terhadap kondisi Perempuan dalam suatu negara agamis yang berada di garis kemiskinan di mana daya dan upaya orang kecil harus berhadapan dengan sistem nilai, hukun dan peraturan yang mereka tidak akan mampu menempuhinya (menjalaninya) agar bisa menikatkan strata ekonomi sosialnya. Apalagi mereka hidup di masyarakat yg pelit dalam urusan membantu seseorang yg berada dlm keadaan kekurangan ini (kecuali ajakan berhura2). Seperti saya mungkin hanya merasa iba saja, lalu mengkambing hitamkan satu yg lainnya dan itu tidak akan mengurangi penderitaan mereka. Mengapa kehidupan ini begitu getir bagi mereka (tanya aja pada bayi kenapa kok tidak bisa tertawa ketika muncul kedunia ).
Saya teringat biografi Ibu Inggid Ganarsih wanita yang pertama kali mendampingi si Bung (Kusno) di masa yang begitu getir dalam kehidupan si Bung, dimana segalanya telah Ibu Inggid berikan untuk perjuangan beliau termasuk harta bendanya, dan segenap jiwa raganya untuk menyemangati si Bung ini. Walaupun itu tidaklah sepadan terhadap apa yang diterima oleh Bu Ingid ini. Wanita ini selalu mendapingi perjuangan si Bung dimana saja (lebih banyak dalam keadaan susah), sebelum terjadi percerai diantara keduanya. Ibu Inggid ini bukan wanita penuntut dan ia berwawasan sangat luas (tentang keadaan si Bung dan perjuangan Bangsa ini). Si janda ini begitu kaya raya karena keuletannya sebelum menikah dengan si Bung (Kusno), dan setelah bercerai dengan si Bung beliau harus mulai lagi dari awal (kusno menepati janjinya setelah ia jadi Presiden untuk memberinya sebuah rumah). Semua telah habis untuk membiayai kegiatan politik si Bung yang tidak bekerja (mencarikan nafkah bagi istrinya karena ia adalah tokoh politik saat itu). Apakah akhir kisah Ibu Inggrid Ganarsih ini begitu membahagiakan bersama si Bung ini ?, ah itu tidaklah penting. Inggid Ganarsih telah mengambil suatu peran yang sangat dibutuhkan disaat itu yaitu mengantarkan pemuda indekos ini sampai ketingkat paling tinggi dalam pentas perpolitikan saat itu. Semangat wanita Sunda ini sungguh luar biasa. Wanita penyokong berdirinya PNI pertamakali ini sungguh membanggakan bagi kita semua.
Orang yang merasa beragama(Islam.Kristen dll) sepertinya ingin masuk surga dengan menutup mata terhadap sekeliling.Namun sebenarnya orang yang beragama itu tidak menjalankan ‘nilai2 agama dengan benar….Tidakkah 2.5% dari uang pendapatannya itu sebenarnya milik Mbak Nur (baca : orang miskin)…Kalau saja nilai Islam itu dilakukan di Indonesia,aku yakin Mbak Nur akan berhati-hati sekali dalam hidup dan tidak akan menjajakan alat kelaminnya….
nice article…
Bali Page – Island of Bali
Indonesia Page – All About Indonesia