jump to navigation

tentang caping

 tumpukan-caping.jpgtumpukan-caping.jpgtumpukan-caping.jpg

===== > Ignatius Haryanto

Posisi GM memang tak tergantikan. Tak mungkin mencari ganti penulis Catatan Pinggir yang sudah khas milik Goenawan Mohamad—sama dengan Kompasiana-nya PK Ojong— apalagi kalau itu diserahkan ”hanya” pada para calon reporter. Posisi GM yang memang unik di Tempo ini tak tergantikan. Sampul buku ini saja telah menunjukkan seakan GM adalah lakon utama dalam buku ini. Lepas dari itu, GM sendiri mengalami evolusi tersendiri. GM yang seniman, mahasiswa psikologi yang tak menyelesaikan skripsi, negosiator dengan pemodal, ”terpaksa” jadi manager, penulis tetap kolom Catatan Pinggir, editor pemberitaan setiap minggu, lobbyist dengan sejumlah pejabat, menjadi aktivis jalanan, hingga akhirnya memilih untuk tidak lagi menduduki jabatan puncak sebagai Pemimpin Redaksi dan posisinya digantikan Bambang Harymurti. Kalau buku ini mau dibilang setengah biografi GM bisa saja karena dalam masa hidup GM dalam periode Tempo, informasi yang ada dalam buku ini sangat padat.

Untuk membaca lengkap artikel Ignatius Haryanto, klik link di atas (ed).

===== > Ribut Wijoto

Bila seseorang mengikuti majalah Tempo, selalu ada kolom Catatan Pinggir. Saya melihat Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad merupakan contoh bagus dalam tulisan aktualitas. Bahwa tulisan GM bergerak dalam waktu aktual dan waktu sejarah. Ia dapat dibaca dengan kaitan dengan aktualitas topik majalah Tempo sekaligus dapat dibaca kapan saja sebagai tulisan mandiri. Keberhasilan terbitan buku Caping 1-4 membuktikan kecerdasan tulisan Goenawan Mohamad tersebut. Mungkin dalam cerpen persoalannya tidak semudah itu. Atau, dalam cerpen persoalannya sudah dapat teratasi, yaitu dengan adanya cerpen-cerpen yang berhasil. Teknik cerpen yang berhasil itulah yang mesti dipelajari, ditiru, dikembangkan, bahkan disikapi dengan cara menciptakan teknik yang lain. Dari kegiatan sederhana ini, mungkin akan diandaikan, kemudian hari, tercipta tradisi atau sejarah cerpen yang berwibawa.

Untuk membaca lengkap artikel Ribut Wijoto, klik link di atas (ed).

===== > Hamson Jr

Mungkin anda pernah merasakan mimpi, yang membawa anda berkeliling dunia, kesatu daerah asing, yang tidak pernah anda pijak. Dari kebun teh yang sejuk, ke angkasa luar yang hitam dengan kemerlap bintangnya. Seperti itulah penulis cacatan pinggir akan membawa anda, dialah Goenawan Mohammad, essais, wartawan, budayawan, seniman sekaligus agamis yang sangat sosialis.

Suatu ketika saya masih di bangku kuliah, semester dua. Seorang senior pengagum Goenawan meminjamkan catatan pinggir untuk saya baca, hasilnya seusai melahap buku satu, saya seperti baru saja menginjakkan kaki di bandara, terbawa oleh Goenawan melanglang buana, dari dinginnya lapangan merah di Kremlin, hingga perjuangan napoleon meraih tahtanya di Prancis.

Hal yang paling berkesan ketika dengan manisnya, dibuku berikutnya Goenawan menceritakan kematian tragis Kemal Ataturk, disisi anak angkatnya yang manis bernama Ulku, yang sepanjang hayatnya dikenal sebagai satu-satunya manusia yang tidak pernah membohonginya. Disaat istrinya lari meninggalkannya, dan sejumlah menterinya korup dan berhianat.

Itulah Goenawan! itulah Catatan pinggir.

Paropo, 22 Oktober 2004

===== > Arief

“Seperti halnya membentuk sebuah cawan yang tak habis untuk dipakai, menulis pada dasarnya ada pekerjaan yang resah”, Goenawan Mohamad.

Ayah saya selalu membaca TEMPO setiap minggu. Di halaman terakhirnya, ada kolom Catatan Pinggir yang ditulis Goenawan Mohamad, sang pemimpin redaksi. Saya agak terlambat: saya mulai menikmati Catatan Pinggir pada 1997. Saya terpesona dengan bahasanya, gaya penuturan, alur, sejarah, tokoh dan makna dari setiap esai pendek itu. Ada 5 jilid Catatan Pinggir dan saya tak bosan membacanya. Terakhir “Kata, Waktu”, sebuah kompilasi 5 jilid itu, diterbitkan tahun 2000. Dan, versi bahasa Inggrisnya saya temukan dengan judul Conversation with Difference, diterjemahkan oleh Jennifer Lindsay, assistant professor di National University of Singapore.

Seperti besok mau ujian, saya membaca catatan pinggir dengan seksama dan memetakan plot, bahasa, penokohan dan mencari sumber bacaan. Ketika itu, “kegilaan” terhadap Catatan Pinggir saya alami di Bandung. Sekolah saya, ketika itu, lumayan memberikan kebebasan untuk berkembang sesuai minat. Tidak secara formal dan eksplisit menyuruh mahasiswa jadi kreatif, tapi ambience dan lingkungan membentuk orang jadi bebas: jadi apa yang dia inginkan, belajar apa saja, dengan gaya apa saja, bahkan untuk tujuan yang absurd dan pragmatis. Menulis adalah hal yang sulit karena saya tidak ekspresif dan tak cukup kosakata untuk mendeskripsikan sesuatu. Menulis itu pekerjaan yang resah: saya selalu gelisah ketika saya kesulitan mencari kata yang cocok untuk menceritakan lakon atau plot pendek, saya selalu termangu di meja belajar, sebal dengan otak yang macet dan berakhir dengan melempar buku atau merobek kertas. Tapi esai Goenawan Mohamad dengan sabar “mengajari” saya mencari makna setiap kejadian, mencari relasi di pelosok dunia, membahasakan dengan sempurna. Goenawan Mohamad adalah guru saya dalam menulis.

Tahun 2004, saya bertemu Goenawan Mohamad di Fort Canning. Orang Jawa Tengah ini kalem, murah senyum dan friendly.

===== > Studi Literatur Septiawan

Untuk membaca selengkapnya studi yang dilakukan oleh Setiawan, klik link di atas (ed).

===== > Ahmadrudi

Protes orang-orang yang dipinggirkan!! Itulah kesimpulan saya saat membaca buku ini di perpustakaaan. Buku ini sebenarnya kumpulan rubrik catatan pinggir di majalah tempo yang ditulis oleh gunawan muhammad. Rubrik ”Catatan Pinggir” sebagai semacam komentar, tapi juga semacam gumam, seperti kalau kita berbicara sendiri atau mencoret-coretkan kalimat di kertas kosong di tengah suara orang ramai. Atau semacam marginalia: catatan-catatan yang kita torehkan di tepi halaman buku yang sedang kita baca. Dari situlah nama ”catatan pinggir” sebenarnya ditemukan: percikan pikiran pendek dan cepat di antara lalu lintas ide dan peristiwa-peritiwa.

Buku ini memang membuat penasaran bagi pembaca dengan tema-tema yang menarik demokrasi,kebebasan,dan hak asasi manusia.

Cerita ,celotehan, angan-angan, kritik-kritik soial dari Goenawan Mohammad ada di sini. Penuh dengan ide-ide selintas yang langsung dituliskan oleh Goenawan Mohammad secara langsung, menggelitik, bahkan membuat kita beremosi. Apa yang ditulis oleh sang penulis adalah refleksi dari realitas sosial yang penulis lihat. Saya sangat setuju dengan ide-ide yang ada didalam buku ini.

Masyarakat demokrasi adalah masyarakat yang menghargai kebebasan pendapat. Martabat kemanusiaan bukan untuk di rekayasa demi kekuasaan sementara.
Buku ini bisa menjadi sebuah refleksi dari orang-orang yang terpinggirkan.

Namun bagi orang-orang awam kadang-kadang buku ini masih sulit dicerna dengan bahasa sosial yang kadang kiat belum tahu artinya. Bagi yang mengininginkan perubahan sosial dan budaya bangsa indonesia menuju indonesia baru. Pantas kita membaca buku ini.

Komentar»

1. ganda - Oktober 20, 2006

kulo nuwun…..ikut bca2 ya bang….???

2. Goenawan Mohammad - Desember 14, 2006

Silahkan, semoga bermanfaat.

3. mochtar han - Desember 15, 2006

Bagimu jawaban adalah
pertanyaan itu sendiri
Bagimu setelah revolusi
tak ada lagi…

Begitupun tanganku
seperti tertuntun arahanmu

(terima kasih GM)

4. Budinuryanta Yohanes - Desember 18, 2006

Salah seorang di antara banyak orang yang gembira atas caping adalah saya. Lebih gembira lagi atas blog ini. Betapa tidak?! Sejak tahun 70-an saya sangat menyukai caping. Sampai saat ini pun juga. Enam kumpulan caping sengaja saya buru. Mengapa? Tentu banyak alasan. Salah satu alasan pragmatis saya saat ini, (dan tentu alasan ini sebagai akibat logis akumulasi alasan-alasan lain) saya sedang menyiapkan karya akhir S.3 (disertasi) di bidang logika bahasa dengan pumpunan pada kesatuan bahasa dan pikir seperti terekspresikan dalam caping.
Oleh karena itu, dengan penuh hormat lewat media ini saya memohon ijin (dan juga restu) pada Mas GM untuk mengkaji proses berbahasa dan proses berpikir yang Mas GM miliki saat ini seperti termanifestasi dalam caping. Bahkan pada kesempatan lain saya juga ingin bertemu langsung dengan Mas GM untuk keperluan tugas akhir saya tersebut. Saya berharap panjenengan tidak berkeberatan.
Matur nuwun sakderengipun. Nuwun.
Budinuryanta, Surabaya

5. Aiz - Mei 9, 2007

Pertama kali saya baca Catatan Pinggir sekitar tahun 1993an. Pada saat itu sering “mencuri” baca (karena tidak berani pinjam langsung) Majalah Tempo milik Kyai saya, Pengasuh Pondok Pesantren Al Mathlab Kediri, beliau berlangganan.
Setelah sekian lama tidak membaca Catatn Pinggir (meskipun hasrat itu ada), saya diingatkan kembali untuk membaca Catatan Pinggir ketika Kakak saya (Alm. Ishom Hadziq - ghufiro lahu) sekitar tahun 1999, minta tolong ke saya untuk dipinjamkan “Catatan Pinggir”nya GM ke Perpusatakaan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Saya baru tahu ternyata sudah dibukukan.
Ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari Catatan Pinggir, seolah-olah berada dibelahan dunia yang lain. Ada banyak inspirasi disana.
Terima Kasih Kang GM.

6. evelyn pratiwi yusuf - Mei 25, 2007

Salam kenal bang dari penulis muda kampus seperti saya. Mohon bantuan untuk membuat saya lebih eksis di dunia jurnalistik

7. john - Mei 25, 2007

Caping memang kadang kita butuhkan saat terik panas menghujam kepala kita. dan mampu memberikan pisau analisa yang tajam pada fokus tertentu. Tapi kadang kala juga harus segera kita ganti dengan topi lain yang lebih praktis agar kita mampu menangkap cakrawala yang lebih luas dan menyesuaikan situasi. lucu juga kalo kita ngantor pake caping?? Tuhan Maha Tahu..
Salam kenal buat GM-mania semua. and numpang sapa ke Aiz., iseh nang Jakarta ta rek?. piye kabare bolo2 Jombang?

8. Toni - Juni 11, 2007

Catatan Pinggir. Saya senang. Dari sana saya seolah sedang membaca banyak kitab, literatur, tanpa harus membacanya sendiri—apalagi memilikinya. Inilah salah satu yang patut saya ajungi jempol.

Bahasa yang digunakan cukup menghibur (salah satu halman yang paling menyenangkan di TEMPO adalah Catatan Pinggir), meski terkadang terlalu elitis—yang membuat harus dibaca berulang.

Soal isi, ini yang menjadi problem! Seringkali saya membayangkan sang penulis, GM, bak Nabi. Tak pernah salah. GM terbayang sebagai sosok moralis. Dia benar, dan yang lain. Salah.

Jadi, bagaimana Bung? Sang Moralis.

Salam Kenal
Toni, Sidojangkung - Gresik

9. putra - Juli 8, 2007

saya suka sekali baca tulisannya kakek gunawan ..(gak papa kan dibilang kakek).. bingung sebenarnya yang saya rasakan pas baca tulisannya, rumit, sekali loncat sana, lompat sini. tapi mungkin disitu letak kebijaksanaannya dalam membuat cerita, menyuruh kita berpikir sendiri, jangan malas fikir. anda harus berpikir ketika membaca tulisan saya, mungkin itu syarat dan prasyarat membaca catatan pinggir.
tanpa mendikte, memberi pengetahuan, mendidik kritis. catatan pinggir adalah suatu ke khas an .
catatan pinggir, seharusnya menjadi sebuah kurikulum.

10. Aneke - Juli 23, 2007

Gaya bahasa Mas Gunawan membawa saya berzapping diantara peristiwa dan waktu. Bagai klipping 3 abad yang pada akhirnya cukup untuk kita masukkan pada diary kita hari ini.
Catatan Pinggir bagi saya tidak hanya tulisan dan coretan, namun lebih dari sebuah refleksi dan pemahaman. Karena dalam hutan belantara informasi sekarang ini, kadang kita hanya bisa memahami dan bergumam tanpa bisa berbuat apa-apa.
Namun gumaman tersebut… catatan-catatan pinggir tersebut… coretan-coretan batin tersebut….. suatu hari ini nanti dapat menjadi harapan dan cermin untuk diri kita sendiri.

Terima kasih Mas Gunawan.

11. tono - Agustus 8, 2007

tak ada lagi kata…………..hanya hutan, jauh di selatan, hujan pagi.

12. Dr. med. A.W. Tjahjadi - Agustus 22, 2007

saya penggemar tempo sejak awal terbitnya.
catatan pinggir gunawan mohammad saya ikuti sejak semula -
sampai kepindahan saya ke eropa. kalau ada kenalan yang
datang - saya cuman minta oleh2 “tempo” bekas - selain berita2
tanah air - juga “catatan pinggir” yang padat isi dan layak direnungkan.
sayang saya tidak bisa menemukan buku kumpulan catatan pinggir
ini di toko buku gramedia. ada yang bisa tolong saya?

13. Pormadi Simbolon - Agustus 23, 2007

Catan pInggir itu inspiratif, menggugah, menantang, mencerahkan, membuat hidup lebih hidup. Selamat Bang Goenawan Mohamad!

14. abdullah dahlan - September 3, 2007

Caping itu jadi inspirator bener. sy kadang iri, GM sepertinya tak habis kehilangan ide, gagasan, pemikiran saat menulis caping. tulisan begitu mengalir, enak dibaca meski kadang berkeringat. Terima kasih, Bang Gunawan Mohamad..!!

15. Baskara - Oktober 9, 2007

saya selalu berusaha untuk mengikuti catatan pinggir setiap minggu. setiap kali membaca tempo, maka pertama kali yang ada di pikiran saya adalah caping.
meski terkadang perlu sampai dua kali membaca untuk memahami inti pesan didalamnya, namun saya puas.
Bang Gm memang ‘kyai-nya’ jurnalistik, sastra dan juga soal-soal hakikat…
coba kita lihat caping ‘puasa’, isinya membuat saya tersentak…

16. xwoman - Oktober 10, 2007

Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H

Taqabalallahu minna wa minkum, shiamanaa wa shiamakum…

Mohon maaf lahir dan bathin yaaa… :)

17. Kristian - Oktober 15, 2007

Baskara, I am in favour of your idea. That essay has also shaken my thought.

18. daniel! - Oktober 18, 2007

tempo is caping.
the rest is just details.

19. Gandhi - Nopember 8, 2007

Tuhan tak punya agama…

20. Atique - Nopember 24, 2007

wah senengnya bisa liat catatan pinggir berbentuk blog, dulu waktu saya masih sekolah, selalu ngantri baca tempo setelah ayah saya selesai hanya untuk baca catatan pinggir dan indonesiana. maju terus Pak Gun :)
btw saya juga permisi nglink ya..terimakasih

21. tobadreams - Nopember 26, 2007

aku suka tulisan Gunawan, kukagumi bahan bacaannya yang luas. tapi belum sekalipun aku menemukan pandangan Gunawan sendiri mengenai satu masalah kecil di Indonesia. Kesanku, dia itu penulis esai yang jago meringkas ribuan halaman buku menjadi hanya beberapa baris. Tapi mengenai kehidupan dinamis yang harus dia liput dan simpulkan sendiri, aku nggak yakin Gunawan mampu.

Mahbub Djunaidi adalah salah satu penulis esai kita yang tak kalah dibanding Gunawan. So nggak usah kuatir, penulis hebat berikutnya akan mulai muncul setelah kalian mengurangi pujian buat Gunawan.

22. Akhwan - Nopember 26, 2007

Tak disangka, tulisan yang kubaca setiap awal pekan pada halaman terakhir TEMPO ternyata Wong Mbatang, ternyata sampean tetangga Pak…
Beberapa bulan lalu kudapatkan sebuah Buku Kumpulan Caping tahun 80-an , saya telat mendapatkan edisi 90-an. Tapi saya lebih menikmati Caping-nya GM tahun-tahun sekarang.
Melalui blog ini saya bisa menikmati tulisan GM seperti menikmati minum teh di sore hari dengan seksama.
saya punya keyakinan suatu saat akan ketemu dengan Anda. Tp Kapan?

23. Aulya - Desember 1, 2007

Ketika kuberdiri di pantai
kupandang laut lepas
ombak bergulung meninggi
bahagiaku di seberang
hanya dengan biduk kugapai ia
tapi yang mana?
sampan kecil dari bambu ?
perahu dayung dan layar ?
kapal cepat bermoncong hiu?
atau ….
seharusnya dengan apakah aku bersimpul
excuse atau retensi
benarkah kebenaran adalah kekaburan?

24. Cita Sophia - Desember 23, 2007

Salam kenal buat temen-temen penggagum GM smuanya…
Saya gabung di persma sejak 2 tahun lalu. Jadi ng salah kalau akhirnya GM menjadi sosok role model dari saya. Bulan April mendatang saya dan teman-teman dari Pers Mahasiswa FE Unair akan mengadakan serangkaian acara jurnalistik dengan lingkup nasional.
Rencananya saya akan mengundang GM sebagai selah satu pembicara, dalam seminar yang bertemakan Etika dan Batas-Batas Kebebasan Pers. Mohon doa restunya!! =)

25. erik supit - Februari 12, 2008

Jika ada orang yang mampu membuat sebagian yang lain merenung dalam senyum, orang tersebut adalah mbah gunawan

26. elsya crownia - Maret 11, 2008

saya sangat menyukai gaya penulisan GM yang begitu gamblang dan jujur, memang bahasanya cukup bagus dan sangat menyejukkan. Saya belajar bagaimana proses penulisan sastra, apalagi setelah memahami sastra itu lebih dalam lagi, o ya bisa dikirimkan ke email saya puisi2 dan esai GM.

27. ajie - Maret 11, 2008

Tulisannya tak pernah menggurui, hanya sekedar memberitahu kita bahwa “disini”, “disana”, dulu, kini, pernah terjadi atau seseorang berbicara seperti ini dan mendorong kita memikirkan lalu mencari maknanya setelah membaca. That’s it!. Mungkin cara bagus belajar dari sebuah sejarah. Ringkas, berjarak, padat sekaligus tanpa batas, kadang menyentuh, selalu segar (ada salah satu caping yang saya baca lebih dari 5 kali kayaknya entah karena terlalu memukau atau sayanya yang lemot ya :D)…dan tentu saja tak bosan dibaca berulang-ulang. Buktinya Caping 4 saya sudah hilang sampul…jadi mirip kitab2 kuno zaman dulu deh jadinya…:D.

28. PakFa - Maret 17, 2008

Sejak kecil dulu saya demen ama GM, hanya aja jangan sampe ikut-ikutan aliran GSM. Nggak nge-fan lagi kalau GM jadi “bersinyal” GSM.

Wah apaan tuh, tanya apa…

29. drgsubur - Maret 19, 2008

Beli tempo, yah bacanya dari belakang. GM saya kagum pada anda

30. moch faisol - Maret 19, 2008

meski saya berusaha tidak melewatkan satu episode pun tulisan GM di catping (saya menyebutnya catping bukan caping), namun terkadang karena keterbatasan wawasan saya, terpaksa menghindari topik yg ‘tidak sesuai kapasitas saya’.
“gak ngatasi koen !”, kata teman saya, arek jombang - jatim
topik catping yg masih bisa menarik minat baca saya adalah tentang agama, nasionalisme dan sejarah. kalau GM sudah ngomong tentang sastra, seni dan tokoh (beberapa), wah… sekali lagi saya sudah tidak ngatasi !

31. cerbongasap - April 14, 2008

ok juga tapi aku gak rada ngerti sih

32. cerbongasap - April 14, 2008

emang tulisannya uedan banget, mengakar gitulah.

33. jon - Juni 5, 2008

membaca tulisannya GM seperti mengajari saya untuk menemukan kembali iman saya yang sempat tercecer dan hilang entah kemana…
mbk or mas bisa minta tolong gak dimana nyari Caping 1,3,4 sulit banget nyari di sby.

34. Ajie - Juni 6, 2008

Saya sangat menunggu Caping (atau apapun bentuknya) dari GM yang mengulas tentang sebuah karya seni-khususnya seni rupa- yang kadang sulit untuk di ‘nikmati’. Caping yang berjudul “Dari Sebuah Jerit di Jembatan” yang mengulas apa yang ada dibalik lukisan karya Munch yang sudah di posting disini termasuk yang saya suka banget. Da Vinci juga. Kalau gak salah pada pengantar di Caping 4 GM pernah berencana membuat tulisan yang lebih panjang, tentang cara Picasso memandang tubuh misalnya. Mungkin juga nanti tentang Mondrian, Vincent Van Gogh (saya ‘ketipu’ dengan Caping Van Gogh yang lain disini walau sama2 menariknya..hehe). Kapan ya GM menulisnya? Saya mau menantinya sampai kapanpun.. :(

Overall, saya suka semua Caping yang ada. Saya suka tulisan2 GM.

35. aliefte - Juni 7, 2008

membaca caping, seperti membaca sejarah, tapi dari sudut pandang yang lain.. dan terkadang menghadirkan wacana baru.. :)

Hai semuanya.. salam kenal.. :)

36. retnani - Juni 8, 2008

hi..
terimakasih buat papaku,…
yang meskipun masih sering berdebat sampai sekarang, tapi banyak sekali yang membuatku berterimakasih..
salah satunya adalah beliau berlangganan tempo tahun 90-an, sehingga saya muda bisa berkenalan dan mencicipi caping…
tulisan tiap minggu yg masih saja membuat saya bergetar, aku ingin bisa menulis seperti GM.
dan sekarang, ketika orang bertanya, kenapa kau mencintai laki laki itu.. aku hanya bisa bilang, karena dia membaca catatan pinggir…
iiiiihhhh… hahahahahaha (naif baanget ya..? ) la mbok biarin….

buat GM…
beberapa bulan yg lalu aku sempat bersirobok dengan GM di TIM.
deg degan nya minta ampun,
at least i have an idol for my life…

menjadi bagian dari pembaca caping saja sudah membuatku sangat bahagia…