jump to navigation

Indonesia Juni 16, 2008

Posted by anick in Agama, All Posts, Identitas, Indonesia.
trackback

Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: ”SBY Pengecut!”

Yang membacakannya Abu Bakar Ba’asyir, disebut sebagai ”Amir” Majelis Mujahidin Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. Yang bikin statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang dalam tahanan polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.

Dari kejadian itu jelas: mencerca Presiden dapat dilakukan dengan gampang. Suara itu tak membuat kedua orang itu ditangkap, dijebloskan ke dalam sel pengap, atau dipancung.

Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2007.

Di tanah air ini, seperti Saudara alami sendiri, seorang tahanan boleh dikunjungi ramai-ramai, dipotret, didampingi pembela, tak dianggap bersalah sebelum hakim tertinggi memutuskan, dapat kesempatan membuat maklumat, bahkan mengecam Kepala Negara.

Di negeri ini proses keadilan secara formal dilakukan dengan hati-hati—karena para polisi, jaksa, dan hakim diharuskan berendah hati dan beradab. Berendah hati: mereka secara bersama atau masing-masing tak boleh meletakkan diri sebagai yang mahatahu dan mahaadil. Beradab: karena dengan kerendahan hati itu, orang yang tertuduh tetap diakui haknya untuk membela diri; ia bukan hewan untuk korban.

Keadilan adalah hal yang mulia, Saudara Shihab dan Ba’asyir, sebab itu pelik. Ia tak bisa digampangkan. Ia tak bisa diserahkan mutlak kepada hakim, jaksa, polisi—juga tak bisa digantungkan kepada kadi, majelis ulama, Ketua FPI, atau amir yang mana pun. Keadilan yang sebenarnya tak di tangan manusia.

Itulah yang tersirat dalam iman. Kita percaya kepada Tuhan: kita percaya kepada yang tak alang kepalang jauhnya di atas kita. Ia Yang Maha Sempurna yang kita ingin dekati tapi tak dapat kita capai dan samai. Dengan kata lain, iman adalah kerinduan yang mengakui keterbatasan diri. Iman membentuk, dan dibentuk, sebuah etika kedaifan.

Di negeri dengan 220 juta orang ini, dengan perbedaan yang tak tepermanai di 17 ribu pulau ini, tak ada sikap yang lebih tepat ketimbang bertolak dari kesadaran bahwa kita daif. Kemampuan kita untuk membuat 220 juta orang tanpa konflik sangat terbatas. Maka amat penting untuk punya cara terbaik mengelola sengketa.

Harus diakui (dan pengakuan ini penting), tak jarang kita gagal. Saya baca sebuah siaran pers yang beredar pada Jumat kemarin, yang disusun oleh orang-orang Indonesia yang prihatin: ”… ternyata, sejarah Indonesia tidak bebas dari konflik dengan kekerasan. Sejarah kita menyaksikan pemberontakan Darul Islam sejak Indonesia berdiri sampai dengan pertengahan 1960-an. Sejarah kita menanggungkan pembantaian 1965, kekerasan Mei 1998, konflik antargolongan di Poso dan Maluku, tindakan bersenjata di Aceh dan Papua, sampai dengan pembunuhan atas pejuang hak asasi manusia, Munir.”

Ingatkah, Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, semua itu? Ingatkah Saudara berapa besar korban yang jatuh dan kerusakan yang berlanjut karena kita menyelesaikan sengketa dengan benci, kekerasan, dan sikap memandang diri paling benar? Saudara berdua orang Indonesia, seperti saya. Saya mengimbau agar Saudara juga memahami Indonesia kita: sebuah rahmat yang disebut ”bhineka-tunggal-ika”. Saya mengimbau agar Saudara juga merawat rahmat itu.

Merawat sebuah keanekaragaman yang tak tepermanai sama halnya dengan meniscayakan sebuah sistem yang selalu terbuka bagi tiap usaha yang berbeda untuk memperbaiki keadaan. Indonesia yang rumit ini tak mungkin berilusi ada sebuah sistem yang sempurna. Sistem yang merasa diri sempurna—dengan mengklaim diri sebagai buatan Tuhan—akan tertutup bagi koreksi, sementara kita tahu, di Indonesia kita tak hidup di surga yang tak perlu dikoreksi.

Itulah yang menyebabkan demokrasi penting dan Pancasila dirumuskan.

Demokrasi mengakui kedaifan manusia tapi juga hak-hak asasinya—dan itulah yang membuat Saudara tak dipancung karena mengecam Kepala Negara.

Dan Pancasila, Saudara, yang bukan wahyu dari langit, adalah buah sejarah dan geografi tanah air ini—di mana perbedaan diakui, karena kebhinekaan itu takdir kita, tapi di mana kerja bersama diperlukan.

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memakai istilah yang dipetik dari tradisi lokal, ”gotong-royong”. Kata itu kini telah terlalu sering dipakai dan disalahgunakan, tapi sebenarnya ada yang menarik yang dikatakan Bung Karno: ”gotong-royong” itu ”paham yang dinamis,” lebih dinamis ketimbang ”kekeluargaan”.

Artinya, ”gotong-royong” mengandung kemungkinan berubah-ubah cara dan prosesnya, dan pesertanya tak harus tetap dari mereka yang satu ikatan primordial, ikatan ”kekeluargaan”. Sebab, ada tujuan yang universal, yang bisa mengimbau hati dan pikiran siapa saja—”yang kaya dan yang tidak kaya,” kata Bung Karno, ”yang Islam dan yang Kristen”, ”yang bukan Indonesia tulen dengan yang peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.”

”Gotong-royong” itu juga berangkat dari kerendahan hati dan sikap beradab, sebagaimana halnya demokrasi. Itu sebabnya, bahkan dengan membawa nama Tuhan—atau justru karena membawa nama Tuhan—siapa pun, juga Saudara Ba’asyir dan Saudara Shihab, tak boleh mengutamakan yang disebut Bung Karno sebagai ”egoisme-agama.”

Bung Karno tak selamanya benar. Tapi tanpa Bung Karno pun kita tahu, tanah air ini akan jadi tempat yang mengerikan jika ”egoisme” itu dikobarkan. Pesan 1 Juni 1945 itu patut didengarkan kembali: ”Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa.”

Dengan begitulah Indonesia punya arti bagi sesama, Saudara Shihab dan Ba’asyir. Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti apa-apa?

~ Majalah Tempo Edisi. 17/XXXVII/16 – 22 Juni 2008~

Komentar»

1. umme - Juni 25, 2008

catatan pinggir dari gunawan mengingatkan saya, betapa bangsa indonesia selalu menggunakan kekerasan dalam segala bentuk,
kapan bangsa kita bisa menggunakan akal dan budi jika menghadapi masalah??????????tapi perlu kita ketahui kebrobokan pemerintah saat ini sehingga masyarakat sudah muak dengan negosiasi dan justru menggunakan kekerasan.
-pemerintah kurang tegas untuk masalah Ahmadiyah sehingga masyarakat anarkis,
-pemerintah banyak korupsi
-dulu DPR perna baku hantam di gedung DPR/MPR
masih banyak yang salah dari pemerintah sehingga masyarakat pun ikut-ikutan.

2. arroyani - Juni 25, 2008

salut ada yang bersedia retyping tulisan GM. aka menjadi langganan saya ini blog. lam kenal

3. Ilmi - Juni 25, 2008

@umme
Masalah ahmadiyah tidak semudah yg dikira, kebrobokan pemerintah adalah soal lain dan tidak bisa menjadi pembenaran atas kekerasan di monas kemaren.
Saya juga ingin berteriak (!) seperti GM rasanya :
Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir!

4. Ibra - Juni 25, 2008

They’ve made our world their battleground…itu saya kutip dari sebuah film jelek sebetulnya. Tapi kalau sudah begini, saya yang orang kecil cuma bisa berharap hujan turun…

5. Cyber Issue - Juni 25, 2008

Well, at least Indonesia is a beautiful country after all..
It’s wonderful enjoying trip to this country..

visit us today…

6. panji - Juni 25, 2008

Quote:
“Ataukah bagi Saudara ia tak punya arti apa-apa?”

Perttanyaan aneh. Jelas buat mereka, Indonesia tanah yg harus dikuasai dg jalan imperialis. Hancurkan musuh2. Di tangan mereka, di tangan dinasti para habib (maaf) yg sudah keblinger, yang bercita2 bukannya menjadi penunjuk umat tapi penguasa “Kekalifahan Indonesia”.

7. aliefte - Juni 26, 2008

Ya.. hendaknya “egoisme” jangan terlalu ditonjolkan.. bisa bahaya..:D

8. Restiani Reksoprojo - Juni 26, 2008

Beginilah kalo seorang yang katanya tokoh intelektual tetapi memiliki pemahaman Islam yang dangkal, pemikiran liberal ciri khas GM

9. khoirul - Juni 26, 2008

yang dangkal sapa yak???

10. khoirul - Juni 26, 2008

Saat indonesia dilanda krisis dan bencana mungkin Saudara mengatakan :
Inilah akibatnya sebuah negara yang jauh dari nilai2 Islam karena itu harus di ubah menjadi negara islam!
Saat terjadi kebiadaban aksi pemboman yang mengatasnamakan agama dan membunuh ratusan orang tak bersalah saudara mengatakan :
Ada aktor intelektual di balik ini semua! Adu domba! AS! Zionis! sembari tutup mata terhadap “kelemahan psikologis” manusia yang bisa berubah fanatik, merasa paling benar dan gelap mata.

Pada saat Saudara melihat korban2 tak bersalah yang tewas menggenaskan anda mungkin mengatakan :
Bahwa mereka mati syahid dan akan masuk surga..insyaalllah!!

Pada saat Saudara merasa “dizalimi” karena perbuatan Saudara yang melukai orang banyak…saudara berkata : “bukankah pada zaman dulu nabi menerima cobaan yang lebih pedih dari penentangnya??? Jadi bersabarlah..teruskan perjuangan, teruslah berjihad !!Allah bersama kita!! Kebenaran akan terbukti nanti!!

Mungkin benar kata GM Indonesia tak berarti apa-apa bagi Saudara. Juga mungkin nyawa2 yang ikut menjadi korban bom ‘teman-teman’ saudara yang mungkin Saudara anggap sudah menjadi kehendak Allah untuk menjadi “tumbal” dalam perjuangan Saudara.
Jika anda melihat dengan mata kepala sendiri seorang anak kecil yang menangis karena ibunya di pukuli oleh orang serupa preman atau seperti saya pribadi yang memiliki karib yang mati menggenaskan saat bom di bali pada saat mencari nafkah untuk istri dan anak semata wayangnya yang kini menjadi yatim dan hidup terlantar.

Saya tak tahu akankah anda mengatakan seperti itu pula (“tumbal” untuk menegakkan kebenaran) jika yang menjadi korban anak Saudara yang “lagi lucu-lucunya” hancur berkeping-keping oleh bom yang tak pandang bulu yang dipasang ‘teman’ anda sendiri, atau malah bom yang anda buat sendiri

ATAUKAH BAGI SAUDARA ITU TAK PUNYA ARTI APA-APA????????!!!!!!!!!!…

Masyaallah…

11. josh - Juni 26, 2008

@mas khoirul: selama masih ada umat muslim yang seperti anda dan GM, saya – nonmuslim – akan selalu percaya bahwa Islam – sebagaimana agama-agama lain – adalah rahmat bagi seluruh umat manusia.

salam

12. panji - Juni 26, 2008

@khoirul:
Karena itulah arti kedalaman pemahaman Islam bagi mereka: kemanusiaan bukan sesuatu yg diutamakan, melainkan kejayaan keislaman (baca: imperialisme atas nama Tuhan). Hanya mereka yg sejalan pemikirannya dg mereka yg layak menjadi “manusia”. Lainnya bukan manusia, yg boleh/harus dibasmi dalam Daulah al-Islamiyah al Indunisiyah, atau paling banter warga kelas dua yg harus bayar pajak tambahan dan tak berhak jadi pemimpin.

Begitu kan Bu Restiani? (*trenyuh*).

13. Tuti - Juni 26, 2008

Saya seorang muslim yang pernah merasakan pendidikan di negara Barat, dan merasakan betapa nilai-nilai Islam saya temui di sana. Dan saya pun bisa beribadah dengan sangat-sangat leluasa, tanpa adanya intimidasi dan ketakutan akan adanya kekerasan. Makanya hancur hati saya kalau melihat saudara-saudara saya sesama muslim masih menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Islam bukan agama kekerasan, Islam adalah agama yang menganjurkan adanya dialog. Be realistic, this world’s created by Allah,…and this world is plural. Mudah-mudahan di negeri yang sudah telanjur hancur ini (menurut saya, benar-benar sudah hancur) masih banyak orang-orang seperti GM, mas Khoirul, cak Nun, pak Amien, dll yang mudah-mudahan bisa mengajari banyak orang bagaimana menjadi seorang Muslim yang benar.

14. zaki - Juni 26, 2008

Kok masalah insiden monas ini heboh benar ya, padahal tak ada korban yang jatuh.

15. Ilmi - Juni 27, 2008

Tak ada salahnya sepertinya untuk ‘heboh’ tentang masalah itu, karena ada problem yang pelik dan tidak kecil di balik kejadian tersebut. Yah…yang kena pukul sampai berdarah kemaren (liatkan di TV?) mungkin biasa dan bukan korban menurut mas Zaki…cuma luka keciillll. Saya melihat tidak heboh kok disini, tak ada yang berteriak-teriak (menyebut nama Tuhan misalnya), menghujat, mengkafirkan orang lain dengan suara lantang….santai aja…mereka cuma mempertanyakan kok mas.

16. deddy arsya - Juni 29, 2008

“Tuhan, berikanlah suara-Mu kepadaku”

“mereka” bukannya tak bertanda gambar, Mas Gun!

17. hartono budi - Juni 30, 2008

Untuk apa punya pemerintah
Kalau hidup terus-terusan susah

18. zaki - Juni 30, 2008

Kalau mau pintar, bangsa ini harus mampu mencium setiap unsur politis yang ada dalam setiap isu2 yang heboh. Saya tak yakin bahwa kehebohan monas itu murni urusan keyakinan dalam beragama. Banyak hal2 yang substansial dan kritis sedang di hadapi negara ini tapi tak pernah jadi perhatian nasional secara intens dan berkesinambungan seoperti soal BBM, Ekonomi, pemilu yang tak kunjung mampu menghasilkan pemimpin yang efektif dan efisien, keadilan dan kesenjangan masyarakat kaya dan miskin.

Sebuah bangsa bisa kuat bukan karena ia selalu luput atau terhindar dari persoalan dasar dengan cara akal2an seperti ini. Penipuan kolektif secara terus menerus terbukti telah membawa bangsa ini tak maju2 seperti sekarang. Untuk jangka pendek mungkin itu semua bisa menguntungkan secara politis tapi itu sangat merugikan untuk jangka panjang.

Tapi ya terserah, mau menjadikan negara ini berumur panjang atau pendek.

19. Aji - Juli 1, 2008

Bisa jadi.Tapi mungkin maksudnya biar proporsional aja kali. Mencium ada sesuatu di balik masalah terkadang juga bisa salah cium😛 . Kadang ujungnya sebuah kambing hitam dan pembenaran yang kalau terus-terusan di ulang sama kurang pintarnya dengan ketidakjelian dengan sesuatu di balik masalah tersebut. Satu sisi kita dituntut awas, sisi lain kita butuh introspeksi jugalah…

20. zainal - Juli 3, 2008

sdh terang benderang, yg satu ada kelompok yang mempunyai keyakinan agama yg berbeda dari keyakinan agama yang dianut golongan mayoritas, dan itu hak dasar yg dilindungi oleh konstitusi. satunya lagi, ada kelompok yang melakukan kekerasan fisik thd kelompok lain, dan itu kriminal, dan karenanya sanksi hukum harus diterapkan. (ini wilayah negara, domain kepentingan publik secara umum. meskipun sebenarnya, hal yg kriminal thd kemanusiaan sdh pasti adalah hal yg batil dalam agama)

dari sudut ajaran agama yg diyakini meyoritas, perbedaan keyakinan itu adalah penyimpangan dan karenanya telah keluar dari jalur agama yg disimpangi. selesai (ini wilayah teologis)

masalahnya, persoalan teologis itu didesakkan ke wilayah negara, sementara kewajiban pokok negara adalah melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum.

yg bukin tambah asik, ada yg mencari pembenaran (dan dukungan) atas tindakan kekerasan tadi, karena merasa ini panggilan kewajiban yg ditetapkan agama.

agama, negara, agama, orang-orang, agama, budaya, agama, amarah, agama, perilaku barbar, agama, kebutuhan batin individu, agama, kerukunan sosial, agama…

21. husni - Juli 3, 2008

saya dengar PPP tertarik menjadikan Rizik Sihab menjadi calon legislatif. wah..ini pertanda: agama sebagai jalan mendapatkan “sesuatu”, dan ini masuk akal saja. namanya juga manusia. yang ga berprikemanusiaan adalah menghancurkan sesama warga Indonesia untuk kepentingan dirinya. idih….jijik gw mah.

22. pengagum GM - Juli 4, 2008

saya setuju sekali dengan pemikiran bung goenawan muhammad
dia merupakan pemikir yang tajam dan tidak sembarangan berbicara
tp fenomena pembicaraan bisa memberikan dari dasar sampai keatas pengertian kata2nya

perjuangkan wahai bung goenawan muhammad yang arif dan bijaksana

Tuhan akan selalu melindungi bung Goenawan Muhammad

wassalam

23. jaka - Juli 4, 2008

Kalo ada yg masih ingat, di tahun 90-an ada wakil dari partai beraliran ultraliberal di Italia yg jadi anggota parlemen. Repotnya dia peraga tarian dan pemain film porno (namanya Ilona Staller). Sbg tanda kebanggaannya dia memperagakan dadanya yg ranum di sidang parlemen. Tentunya kalau HRzS jadi masuk parlemen kita ngga mengharapkan dia buka baju pamer dada.

Substansinya sama: dua2nya radikal. Kalau PPP berani ambil risiko ya ngga masalah, tapi ini malah bisa membuktikan kalau sistem (demokrasi) kita mulai jalan tanpa rasa ketakutan akan perbedaan ideologi. Daripada HrzS bikin ribut di jalan ganggu masyarakat, kan cukup di parlemen, ditonton jutaan orang menyaksikan “hiburan” politik. Gratis, rakyat aman.

24. qwerty - Juli 4, 2008

Boleh juga. Kan cukup banyak orang ‘setype’ HRZ di parlemen yang suka merasa benar sendiri sampai mau berantem😛

25. Popy - Juli 7, 2008

HAK JAWAB

sumber: http://www.arrahmah.com/index.php/news/detail/habib-rizieq-si-goen-ingin-menggurui-saya-dan-abubakar-baasyir-tentang-iman/

“Si goen”

Setelah membaca catatan pinggir si goen dalam majalah tempo edisi 16-22 Juni 2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan pengap, berubah menjadi luas dan nyaman.

Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen bertanya dan memantang, maka saya gunakan HAK JAWAB saya. Di sini saya sengaja menulis namanya dengan singkat “si goen”, itu pun cukup dengan huruf kecil. Bagi saya huruf besar hanya untuk orang yang besar, palagi nama MUHAMMAD hanya untuk orang mulia.

Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika kita mendapatkan “musuh” galau dan panik, apalagi depresi berat, ketakutan dan hilang kontrol.

Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, tiba-tiba melalui catatan pinggirnya menjilat Polisi, Jaksa, Hakim hingga Presiden. Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang depresi, takut dituntut dan diperiksa sebagai “biang kerok” insiden Monas? Atau si goen sedang ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek asing? Atau si goen sedang bingung hilangkan jejak dana asing ratusan juta dolar yang diterimanya bersama “gang” akkbb, dari bosnya di amerika, melalui asia foundation ford foundation, usaid, ndi, rockefeller, dll?

Lebih anehnya lagi, si goen ingin “menggurui” saya dan Al-Ustadz Asy-Syeikh Abu Bakar Ba’asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan Pancasila.

Lucu, si goen dan “gerombolannya” yang selama ini mati-matian membela pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi palsu, aliran sesat. Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah Iskam dan Al-Qur’an. Dia ingin menggurui kami? Itukah “iman” dan “ketuhanan” yang ingin diajarkan si goen kepada saya dan Syeikh Ba’asyir?!

Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat “geng” si goen “dikemplang bambu” oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan Sang Pahlawan Munarman, teriakan si goen dan “gerombolannya” keras sekali. Namun dimana suara mereka untuk ribuan Umat Islam yang “dibantai dengan sadis” di Sampit, Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya untuk Kasus Banyuwangi?

Selain itu, si goen ini getol betul membela pki, bahkan nekat memutar-balikan fakta sejarah dengan mengatakan bahwa pki sebagai “korban pembantaian”. Lalu bagaimana dengan kebiadaban pki yang telah membakar pesantren, membantai santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati negara, mengangkangi Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang ingin ditunjukkan si goen kepada saya dan Ustadz Ba’asyir?!

Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin bertanya: Pancasilais kah orang maca berikut ini: yang membela pki sang pengkhianat Pancasila? yang ingin memperkosa kawan gadis “lsm”nya sendiri? yang membayar orang miskin untuk demo tentang apa yang tidak mereka paham? yang menipu orang kampung dengan janji wisata ke Dunia Fantasi-Ancol, ternyata diajak demo di Monas? Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI yang sedang mencekik anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita Panglima KLI mencekik anggota gerombolan akkbb? Yang menerima dana asing untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi antek asing? Yang membentuk atau mendukung lsm-lsm komprador yang menjadi antek asing? Yang menjual harkat dan martabat bangsa dengan dolar?

Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang ingin menggurui saya dan Amir MMI?! Memalukan sekali. Orang yang tidak bermoral bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis berbicara tentang kekeluargaan dan persamaan.

Saya ingatkan anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, tapi jangan lupa Indonesia bukan amerika! Indonesia memang bukan negara Agama, tapi Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa seenaknya menistakan agama dan budaya.

Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan kubiarkan orang macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak Indonesia dan kau gundik amerika.

Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.

Jakarta, 21 Juni 2008

Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab

Ketua Umum Front Pembela Islam

26. Popy - Juli 7, 2008

Sdh baca catatan pinggir gunawan M di majalah Tempo?
Masya Allah … hati saya panas……
Alhamdulillah, Habib Rizieq sdh melakukan hak jawab atas tantangan dan pertanyaan yg “si goen” layangkan kpd Habib Rizieq dan Ustad Abu Bakar Ba’asyir.
Perang (kata) di balas perang (kata).
Shg hatipun menjadi lega dan hilanglah panas hati …

QS 9:14-15
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

27. jaka - Juli 7, 2008

@Popy: HUA HA HA HA ….

28. Ilmi - Juli 7, 2008

@Popy
Senang juga rasanya ternyata Caping ini di baca beliau2 (yah gpp lah pakai kata beliau setidaknya HRS & ABB jauh lebih tua dari saya).
saya tetap suka Capingnya, lebih ‘menentramkan’ daripada hak jawabnya. Paling tidak di Capingnya tak ada keluar kata2:
Manusia tidak bermoral, Penjilat, ingin memperkosa kawan gadis “lsm”nya, dan kata-kata pedas lainnya serta pempaparan dugaan-dugaan yang (kalau tidak hati-hati Saudara HRS!) menjurus kepada fitnah yang keji. Jawaban emosional seperti itu, saya yakin, tak menghasilkan apa-apa. Nothing. Orang2 yang baca Caping gak bodoh kok, orang2 yang pro GM gak bodoh saudarai Popy.

29. Popy Pasaribu - Juli 7, 2008

to Jaka: we’ll see who is going to have the last laugh

QS 83:29
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.

QS 83:34
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,

30. Ilmi - Juli 8, 2008

Pada saat menonton film ‘action’ anak-anak dan juga sinetron, sang ‘jagoan’ biasanya teraniyaya di petengahan cerita sedangkan ‘musuh’ berkuasa. Lalu kemudian diakhir cerita sang ‘jagoan ‘menang’ dan sang ‘musuh’ musnah binasa. Senang dan puas rasanya kalau sebuah cerita sesuai dengan yang inginkan.
Terkadang saya juga ‘terangsang’ kok ketika membaca sebuah teks seperti sedang menonton tinju sambil berkata dalam hati “hajar lagi!”, “mampus kau!”…”mati kau!”….melihat pihak yang tidak kita dukung dipukuli, dengan jantung berdebar-debar terbawa emosi, lupa diri, dan jadi tidak kritis lagi.

31. jaka - Juli 8, 2008

@Popy:
Tidak semua yg tertawa ketika di dunia adalah orang-orang yang berdosa. Saya berani tertawa karena yang saya tertawakan bukanlah termasuk mereka yg tergolong beriman. (Berimankah seseorang yg mengeluarkan makian2 kasar kepada orang lain, padahal perkataan adalah pancaran apa yg ada dalam kalbu ? )

Qur’an memang ampuh ya buat berbagai macam pembenaran. Wallaahu alam.

32. zainal - Juli 9, 2008

Yaa gitulah.. kalo baca Al Quran nggak pake ilmunya…

33. agiekpujo - Juli 9, 2008

Membaca & membandingkan hak jawab si rizieq dg capingnya mas gun. saya jadi tahu ternyata cuman segitu kedalaman ilmu seseorang yang katanya ulama, panutan masyarakat, bergelar habib (entah sapa yg memberi gelar ini). Bisanya cuman mencaci dan memfitnah, tanpa ada bukti dan dasar2 yang jelas. Duh Gusti, orang seperti itu ko bisa disebut ulama. ini jelas2 “penodaan” terhadap istilah ulama. ckckckckck

Anak TK pun juga tahu mana yang intelek dan mana yang cuman memperturutkan hawa nafsunya.

34. Ilmi - Juli 9, 2008

Mari kita bandingkan (mumpung lg santai 😀 )
– Pada saat GM memanggil dengan kata Saudara (dengan “S” besar dan saya yakin tanpa sinisme) HRS memanggil dengan panggilan si goen dengan sinisme terhadap akhiran Muhammad
– Pada saat GM ‘bertanya’ dengan sopan HRS bilang kalau GM menantang
– Pada saat GM menjelaskan proses keadilan secara formal HRS menulis kalau GM sedang menjilat polisi & jaksa
– Pada saat GM memberi penjelasan “kenapa Pancasila?” dan apakah iman itu?”(yang sebenarnya terbuka untuk didebat dgn pendapat yg cerdas) ….eh…malah mengeluarkan paparan2 yg kasar, serangan terhadap pribadi dan berfotensi fitnah tanpa ada wawasan pembanding yang cerdas sedikit pun
– Pada saat GM menyarankan tentang pentingnya bersama-sama menjaga Indonesia HRS bilang kalau dia anak Indonesia dan GM Gundik Amerika.
– Di akhir Caping GM bertanya, HRS mengina (walaupun tak menyebutkan nama langsung) dengan mengatakan harga diri GM sama dengan apa yang keluar dari perutnya

GM menulis dengan jernih dan mencerahkan HRS menulis dengan emosi dan perasaan benci

Kesimpulan : gak level ah..membandingkan keduanya

Kayaknya clear sudah siapa yang pantas kita hormati.

35. Agiek - Juli 10, 2008

@komen di atas
itu namanya triple combo knock out bro, hehehe analisis yang mantap *two thumbs up*

36. Daif - Juli 13, 2008

@Ilmi

Terima kasih..

37. samson rambah pasir - Juli 17, 2008

Ha… asyik, dech. Hebat. Mas GM, aku ingin kita nge-jazz bila-bila masa, sebab tuhan juga ada dalam musik, kita baca puisi, karena tuhan juga penyair, kita duduk satu meja dengan umat semua nabi. kita raup kemanusiaan tanpa pembeda –apalagi karena agama. Mas GM, cobalah ulas kembali robohnya surau kami aa navis. Tuh, makian anggap say hello dari orang-orang yang sedang belajar jadi manusia yang sebenarnya. mereka semua saudaramu, GM. Cuma, agaknya, mereka belum sadar bahwa tuhan tak sekelam mereka, tak sehitam-putih pikiran mereka.

kepada semua yang komentar… salam dari saya. saya cinta kalian semua. sampai jumpa di surga yang satu. surga semua kekasih ilahi. tuhan semua manusia — tanpa membedakan agama. di sana — di panggung milik ilahi–kita mainkan jazz, blues, syair, sembari bersulang kasih.

bravo kehidupan!

38. indahnya Islam - Juli 18, 2008

Kesalahan yang disampaikan dengan indah akan diterima dengan mudah, kebenaran yang disampaikan dengan kekerasan akan menimbukan kebencian.

Semoga dalam waktu yang masih tersisa muncul
Al-Ustadz Syeikh K.H. Gunawan Muhammad
insya Allah.

39. zaki - Juli 18, 2008

apakah seorangpenyair atau pemikir memang harus serba toleran dan nyentrik sedemikian rupa seperti GM ?

40. nazdan meuraxa - Juli 29, 2008

Saya pembaca caping sejak Tempo harganya 2000 perak, buku2nya juga saya usahakan koleksi walaupun mahal buat saya. Namun semua itu tidak menjadikan saya pro GM atau anti GM. Caping buat saya adalah tamasya diluasnya referensi dan perenungan penulisnya. Alhasil sehabis membaca caping, dalam hati saya selalu merasa bertambah pintar.
Tapi dalam caping yang ‘ini’, agaknya mas gun sedikit ‘hilang kontrol’, benar seperti yang dikatakan ‘lawannya’ itu. Walaupun dibungkus dengan dengan gaya bahasa yang bertolak belakang indah dengan ‘lawannya’, buat saya nilainya sama saja.
Sayang juga, harusnya mas gun menulisnya jangan di caping, tapi di artikel koran biasa saja. Apa karena harus terbit seminggu sekali maka mas gun jadi kurang khusuk semedinya ?
Buat saya, mas gun kalo sudah terlibat dalam ‘sesuatu’ yang berwarna agama, terasa ‘gak pas’ dan ‘gak kena’. Mungkin karena dia selalu membahas dari sudut pandang ‘humanis’, dan bukan sebagai seorang ‘hamba’.

41. arghi - Juli 29, 2008

Emang kenapa kalau di caping? emang menurut bung nazdan Caping ‘wadah tulisan’ yang seharusnya seperti apa? Siapa yang menentukan? Apa akibatnya? Kenapa jadi ‘gak kena’ gara-gara ‘humanis’? Terasa ‘gak pas’ bagi siapa? Kenapa memihak? kenapa subyektif?…pasti bung Nazdan lebih bisa menjawabnya karena sudah membacanya sejak Tempo seharga 2000 perak dibanding saya yang membaca sejak Tempo berharga 8000.

42. arghi - Juli 29, 2008

@indahnya Islam
GM gak perlu gelar sepanjang itu
kebencian yang disampaikan dengan halus dan santun juga sebuah kemunafikan.
Walau kasar, paling tidak orang2 seperti Rizik…atau Saut Situmorang..entah siapa lagi…terbuka dengan kebenciannya.

43. Iqra' - Agustus 1, 2008

GM bagaimanapun asset yang sangat berharga negara ini, kecerdasan, keluasan pandang, serta kemampuan menyampaikan (menuliskan) ide juga sangat mumpuni (ini kayaknya modal utama GM). tapi saya yakin tiap orang punya sisi ‘kurang’. dan ketika GM memasuki ranah agama terlihat seperti ‘pemula’. tapi tak mengapa, bahkan se’pemula’ begitu pun tulisan GM tetap menarik apalagi untuk orang-2 yang kadar agamanya masih se’pemula’ GM. Saya masih bisa kok menikmati GM, dan jujur sering jadi referensi, tapi kalau udah masuk ranah agama lagi, yang bisa diambil cuma ‘cara menyampaikannya’. Dari pada jadi polemik, kayaknya GM bagus deh nggak nulis yang nyinggung-2 agama. Karena memang, ilmu agama (;Islam) tidak hanya butuh logika, kemampuan nalar dan insting humanis aja, kalau nggak percaya liat tiap GM nulis tentang agama jadi rancu. Keberpihakan terhadap logika semata tidak akan bisa memaparkan agama, apalagi yang menyangkut tentang keyakinan, akidah dan sejenisnya.
However, bagi penikmat GM, ambil yang bagus aja, karena saya yakin GM nggak marah kok kalau dibilang pemula. Saya yakin, GM seorang muslim, tapi coba tanya udah berapa banyak ayat Alqur’an yang hafal GM?
Bravo GM

44. Aldy rahmad - Agustus 2, 2008

@iqra
tetep saja ada orang yang ‘sok-sokan’ tau ‘kadar’ nya GM…ck..ck..ck. Masih saja ada ‘kesombongan’ yang disembunyikan secara halus dan disampaikan secara ‘bersahabat’..ck..ck..ck. Masih saja ada orang yang memilah dengan naif antara ‘logika’ dan ‘rasa keimanan’…ck…ck…ck
Memang GM gak akan marah kok dibilang ‘pemula’,saya yakin, karena GM selalu (dan selalu) mengakui bahwa dirinya daif dan tidak tau apa-apa sebenarnya.
Dan saya, fans berat GM?..selalu mengambil pelajaran baik yang baik atau yang buruk dari GM…karena yang saya pelajari dari beliau adalah bagaimana menyadari tentang kedaifan….bukan kenaifan.
Bravo juga

45. KGS - Oktober 23, 2008

@Ilmi

Terima kasih,
KGS

46. fsiekonomi.multiply.com - Januari 31, 2009

terus terang saya kurang setuju dengan caping di atas pun dengan kutipan tanggapan caping oleh MRS di bawah ini. mmm, kapan yaa umat islam bisa bersatu dan menjadi ummat yang moderat (tidak kebablasan dalam liberalisme pun tidak kebablasan dalam radikalisme)? wallohu a’lam.

si goen, Tanggapan atas Catatan Pinggir Goenawan Mohamad
Friday, 08 August 2008
Oleh: Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, Ketua Umum Front Pembela Islam

Setelah membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad dalam majalah tempo edisi 16-22 Juni 2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan pengap, berubah menjadi luas dan nyaman.

Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen bertanya dan menantang, maka saya gunakan hak jawab saya. Di sini saya sengaja menulis namanya dengan singkat “Si Goen”, itu pun cukup dengan huruf kecil. Bagi saya huruf besar hanya untuk orang yang besar, apalagi nama Muhammad hanya untuk orang mulia.

Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika kita mendapatkan “musuh” galau dan panik, apalagi depresi berat, ketakutan dan hilang kontrol.

Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, tiba-tiba melalui catatan pinggirnya menjilat polisi, jaksa, hakim hingga presiden. Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang depresi, takut dituntut dan diperiksa sebagai “biang kerok” insiden Monas? Atau si goen sedang ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek asing? Atau si goen sedang bingung menghilangkan jejak dana asing ratusan juta dolar yang diterimanya bersama “gang” AKKBB, dari bosnya di Amerika, melalui Asia Foundation, Ford Foundation, USAID, NDI, Rockefeller, dan lain-lain.

Lebih anehnya lagi, si goen ingin “menggurui” saya dan Al-Ustadz Asy-Syeikh Abu Bakar Ba’asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan Pancasila.

Lucu, si goen dan “gerombolannya” yang selama ini mati-matian membela pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi palsu, aliran sesat. Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah Iskam dan Al-Qur’an. Dia ingin menggurui kami? Itukah “iman” dan “ketuhanan” yang ingin diajarkan si goen kepada saya dan Syeikh Ba’asyi?

Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat ”geng” si goen ”dikemplang bambu” oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan Sang Pahlawan Munarman, teriakan si goen dan ”gerombolannya” keras sekali. Namun di mana suara mereka untuk ribuan umat Islam yang ”dibantai dengan sadis” di Sampit, Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya untuk Kasus Banyuwangi?

Selain itu, si goen ini getol betul membela PKI, bahkan nekat memutarbalikkan fakta sejarah dengan mengatakan bahwa PKI sebagai ”korban pembantaian”. Lalu bagaimana dengan kebiadaban PKI yang telah membakar pesantren, membantai santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati negara, mengangkangi Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang ingin ditunjukkan si goen kepada saya dan Ustadz Ba’asyir?

Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin bertanya: Pancasilais kah orang macam berikut ini: yang membela PKI sang pengkhianat Pancasila? Yang ingin memperkosa kawan gadis ”LSM”nya sendiri? Yang membayar orang miskin untuk demo tentang apa yang tidak mereka paham? Yang menipu orang kampung dengan janji wisata ke Dunia Fantasi-Ancol, ternyata diajak demo di Monas? Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI yang sedang mencekik anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita Panglima KLI mencekik anggota gerombolan AKKBB? Yang menerima dana asing untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi antek asing? Yang membentuk atau mendukung LSM-LSM komprador yang menjadi antek asing? Yang menjual harkat dan martabat bangsa dengan dolar?

Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang ingin menggurui saya dan Amir MMI?! Memalukan sekali. Orang yang tidak bermoral bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis berbicara tentang kekeluargaan dan persamaan.

Saya ingatkan Anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, tapi jangan lupa Indonesia bukan Amerika! Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa seenaknya menistakan agama dan budaya.

Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan kubiarkan orang macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak Indonesia dan kau gundik Amerika.

Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.

Jakarta, 21 Juni 2008 [www.suara-islam.com]
Comments (1)Add Comment

written by urang dusun, December 08, 2008
orang macam si goen mah kudu di waspadai,namanya jg ular kepala dua,kalo diantep jd biangna kerok,tak punya pendirian.Bener kt Kang Shihab,orang yang memikirkan ttg apa yg masuk ke perutnya,sama hrg dirinya sprt apa yg keluar dari perutnya,paling yg makan anjing2 kmp yg lapar.

47. Satari - April 23, 2009

Iya..mana dong celotehan lincah, teriakan lantang, alunan prosa walau sebait sj dari GM yg disebut oleh HRS ttg pembantaian muslim diambon, palestina,dll. Jgn2 mas goen mmg antek barat yg cm menyuarakan segala hal yg cuma disenangi oleh negara induk semangnya… Sayang kalo mas goen menjual idealismenya dan iman serta aqidah islamnya cuma utk segepok dollar… Ah mudah2an ini tdk benar…semoga

48. Satari - April 23, 2009

Iya..mana dong celotehan lincah, teriakan lantang, alunan prosa walau sebait sj dari GM yg disebut oleh HRS ttg pembantaian muslim diambon, palestina,dll. Jgn2 mas goen mmg antek barat yg cm menyuarakan segala hal yg cuma disenangi oleh negara induk semangnya… Sayang kalo mas goen menjual idealismenya dan iman serta aqidah islamnya cuma utk segepok dollar… Ah mudah2an ini tdk benar…semoga
Krn aku bgitu mengidolakan mas goen

49. Zul Azmi Sibuea - Mei 4, 2009

yang didiskusikan pada komentar ini isinya atau bungkusnya????.
kalau bungkusnya atau framenya atau formnya , antara lain soal sopan santun, soal pengolahan kata agar enak dibaca, soal kultur yang akan dibangun dalam komunikasi , tentu saja mas goen menang jauh – karena bisa sangat persuasif.

kalau soal konten, soal isi, soal inti masalah sebenarnya adalah masalah pluralisme dalam beragama, soal agama kultural agar humanis dipihak mas goen, dengan masalah keyakinan keesaan dan tekstual agama yang dianut oleh habib riziq.

masalah konten seperti ini adalah persoalan klasik, yang sudah berlangsung sejak dahulu kala, sesudah berakhirnya masa khulafaur rasyidin – hanya aktual kembali belakangan ini karena, setelah runtuhnya komunisme, serta goyahnya sendi-sendi kapitalisme. kemana arah perkembangan islam setelah tesisnya huntington, dan bagaimana wajah islam yang kita inginkan..
salam
zul azmi sibuea

50. i-think - Juni 3, 2009

ada pro dan kontra ..

sebuah kebenaran yang di bungkus berbagai kepalsuan, tetaplah sebuah kepalsuan

ataupun sebaliknya sebuah kepalsuan yang di bungkus berbagai kebenaran,juga tetaplah kepalsuan

maka benarkanlah yang benar itu, walaupun pahit ..

saya pikir intinya terletak di pribadi masing2 baik GM maupun HRS
seberapa takutkah mereka ini kepada Yang Sangat Mengetahui Isi Hati Manusia ..

+ x + = + (telah jelas yang benar)
– x – = + (telah jelas yang bathil)
+ x – = – (tidak jelas)
– x + = – (tidak jelas)

Wallahu’alam bishawab ..

51. hidupinipenderitaan - Juni 23, 2009

Apa yang haram bukanlah apa yang masuk dari mulut, bukan pula apa yang keluar dari perut, tapi apa yang keluar dari mulut. Lidah itu seperti api, ia seperti pedang bermata dua, ia seperti kekang mulut kuda, dan ia seperti kemudi kapal. Apa yang keluar dari mulut saudara dan saya mungkin lebih menjijikan dari apa yang keluar dari perut saudara dan saya.

Dan jangan mengira engkau yang menyebut-nyebut nama Tuhan telah membela Dia yang Maha Kuasa. Ia tidak perlu dibela karena Ia adalah yang Maha Tinggi. Ia bisa jadikan batu-batu menjadi saksi-Nya. Tidak semua yang berteriak-teriak demi nama-Nya akan masuk hadirat-Nya, mungkin Ia akan berkata “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

52. Bayu Probo - Juni 26, 2009

Agama sebagai rahmat? Itu dapat terjadi jika para penafsirnya saling sepakat.

53. Ikra - Januari 14, 2010

Teman saya orang Iran, menanggapi kasus pembakaran gereja di Malaysia dengan ringan berkata, “Orang-orang yang membela theokrasi tidak berasal dari negara yang pernah mengalami theokrasi.” Saya membalas, “Apakah tidak ada secuil kebaikanpun dari theokrasi yang pernah kalian alami?” Jawabnya tegas, “Tidak ada!”

54. Fahmi Faqih - September 27, 2010

sayangnya TEMPO tidak memuat hak jawab habib rizieq. biar lebih berimbang, saya muatkan di sini:

Tanggapan Habib Rizieq atas CATATAN PINGGIR TEMPO yang ditulis goenawan Mohamad

Senin, 23 Juni 2008 | 11:55 WIB

Advokasi Anti Ahmadiyah selaku Kuasa Hukum Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, mendatangi Kantor Majalah TEMPO untuk menyampaikan HAK JAWAB HABIB RIZIEQ terhadap CATATAN PINGGIR GOENAWAN MOHAMAD di majalah TEMPO edisi 16-22 Juni 2008. Namun ternyata majalah TEMPO hingga saat ini tidak sudi memuat HAK JAWAB tersebut. Karenanya, wajar jika dari balik sel tahanan Habib Rizieq Syihab menyerukan Umat Islam : “SUDAH WAKTUNYA UMAT ISLAM MEMBOIKOT TEMPO !”

Berikut ini HAK JAWAB HABIB RIZIEQ yang TEMPO takut memuatnya :

Si goen

Setelah membaca catatan pinggir si goen dalam majalah tempo edisi 16-22 Juni 2008, saya rasakan sel tahanan yang semula sempit dan pengap, berubah menjadi luas dan nyaman.

Tadinya, saya enggan menulis tanggapan ini, tapi karena si goen bertanya dan menantang, maka saya gunakan HAK JAWAB saya. Di sini saya sengaja menulis namanya dengan singkat “si goen”, itu pun cukup dengan huruf kecil. Bagi saya huruf besar hanya untuk orang yang besar, apalagi nama MUHAMMAD hanya untuk orang mulia.

Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika kita mendapatkan “musuh” galau dan panik, apalagi depresi berat, ketakutan dan hilang kontrol.

Anehnya, si goen yang selama ini tidak pernah memuji pemerintah, tiba-tiba melalui catatan pinggirnya menjilat Polisi, Jaksa, Hakim hingga Presiden. Kenapa? Takut atau cari muka? Mungkin si goen sedang depresi, takut dituntut dan diperiksa sebagai “biang kerok” insiden Monas? Atau si goen sedang ketar-ketir kedoknya terbuka sebagai antek asing? Atau si goen sedang bingung hilangkan jejak dana asing ratusan juta dolar yang diterimanya bersama “gang” akkbb, dari bosnya di amerika, melalui asia foundation ford foundation, usaid, ndi, rockefeller, dll?

Lebih anehnya lagi, si goen ingin “menggurui” saya dan Al-Ustadz Asy-Syeikh Abu Bakar Ba’asyir tentang iman, ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan Pancasila.

Lucu, si goen dan “gerombolannya” yang selama ini mati-matian membela pornografi, pornoaksi, sex bebas, homo sex, lesbi, nabi palsu, aliran sesat. Bahkan menghina Allah dan Rasul-Nya, memfitnah Islam dan Al-Qur’an. Dia ingin menggurui kami? Itukah “iman” dan “ketuhanan” yang ingin diajarkan si goen kepada saya dan Syeikh Ba’asyir?!

Sejak kapan si goen mengenal kemanusiaan dan keadilan? Saat ”geng” si goen ”dikemplang bambu” oleh Komando Laskar Islam (KLI) pimpinan Sang Pahlawan Munarman, teriakan si goen dan ”gerombolannya” keras sekali. Namun dimana suara mereka untuk ribuan Umat Islam yang ”dibantai dengan sadis” di Sampit, Sambas, Ambon, dan Poso? Mana pula suaranya untuk Kasus Banyuwangi?

Selain itu, si goen ini getol betul membela pki, bahkan nekat memutar-balikan fakta sejarah dengan mengatakan bahwa pki sebagai ”korban pembantaian”. Lalu bagaimana dengan kebiadaban pki yang telah membakar pesantren, membantai santri, membunuh kyai, menculik jenderal, mengkhianati negara, mengangkangi Pancasila? Kemanusiaan dan keadilan itukah yang ingin ditunjukkan si goen kepada saya dan Ustadz Ba’asyir?!

Soal Pancasila, lagi-lagi si goen sok menggurui. Saya ingin bertanya: Pancasilais kah orang macam berikut ini: yang membela pki sang pengkhianat Pancasila? yang ingin memperkosa kawan gadis ”lsm”nya sendiri? yang membayar orang miskin untuk demo tentang apa yang tidak mereka paham? yang menipu orang kampung dengan janji wisata ke Dunia Fantasi Ancol, ternyata diajak demo di Monas? Yang membohongi publik dengan publikasi foto Panglima KLI yang sedang mencekik anak buahnya sendiri, lalu dipelintir menjadi berita Panglima KLI mencekik anggota gerombolan akkbb? Yang menerima dana asing untuk memecah belah bangsa? Yang menjadi antek asing? Yang membentuk atau mendukung lsm-lsm komprador yang menjadi antek asing? Yang menjual harkat dan martabat bangsa dengan dolar?

Pantaskah orang macam itu bicara Pancasila? Orang model itukah yang ingin menggurui saya dan Amir MMI?! Memalukan sekali. Orang yang tidak bermoral bicara tentang moral. Orang yang rasis dan fasis berbicara tentang kekeluargaan dan persamaan.

Saya ingatkan anda goen: Indonesia memang bukan Arab dan Turki, tapi jangan lupa Indonesia bukan amerika! Indonesia memang bukan negara Agama, tapi Indonesia juga bukan negara syetan yang kau bisa seenaknya menistakan agama dan budaya.

Indonesia adalah Indonesia, negeriku tercinta, yang takkan kubiarkan orang macammu untuk merusak dan menghancurkannya. Aku anak Indonesia dan kau gundik amerika.

Ingat, orang yang hidupnya hanya berpikir tentang apa yang masuk ke perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya.

Jakarta, 21 Juni 2008,
Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab
Ketua Umum Front Pembela Islam

55. anung - September 29, 2010

kadang memang ada orang yang diberi kemampuan memainkan kata, lembut tutur katanya dan memukau, akan tetapi sebenernya isinya BUSUK.
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.”(Al Baqarah :204)
“Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah.”(HR. Abu Ya’la)

budiman - Oktober 8, 2010

Jawaban Riziek ngawur dan mencerminkan tentang kedangkalan pikir!!! Sudah tutur katanya tidak islami, kalimatnya juga sarkastis dan provokatif: tidak ada yang dapat diambil pelajaran darinya.

56. budiman - Oktober 8, 2010

Nampaknya ustad Riziek harus belajar lagi menyusun kalimat, mengurai tata pikir dan membangun argumen yang ajeg dengan tetap dipijakkan pada tatakrama komunikasi

57. isoelaiman - Oktober 11, 2010

Astaghfirllaahal ‘adziem. Puas mencaci? Puas membantai? Puas menyakiti? Puas menepuk diri yang paling benar? Puas mendukung geng?
Lalu siapa sebenarnya jati diri kita. Prasangka baik menjadi barang yang langka. Agama menjadi “mainan”. Pesan Tuhan, “…dan jauhilah mereka yang menjadikan agamanya sebagai bahan cemoohan,,,”.
Sebaiknya kita tidak saling mencaci diantara Saudara yang beriman. Jangan mengeluarkan tuduhan. Bila pun menasehati, lakukan dengan santun, penuh hikmah dan ikhlas dari lubuk rasa tawadhu’ kepada Allah. Kedengkian akan menggerogoti kebaikan. Juga jangan membungkus kebusukan dengan untaian prosa indah.
Saya akhirnya menyadari bahwa tidak mudah menjadi hamba Allah, ahlullah. Benar sabda Rasul; “kalian, bagaikan bintik putih di tubuh sapi berbulu hitam. Sangat mudah menjadi hamba syaitan, hamba hawa nafsu, hamba kecongkaan akal, hamba egoisme. Adam, masukkan surga anak cucumu. Berapa, ya Tuhan? “Satu diantara seribu”.
Menyikapi sejumlah peristiwa yang terjadi perlu kehati-hatian karena ternyata variannya amat kompleks. Banyak informasi berlalu lalang, membingungkan. Tapi, bila kita mampu mengendalikan diri, menghadapkan wajah hanya mencari ridho Tuhan, insya Allah, akan selamat. Jalan lurus itu memang tak banyak peminat. Orang kebanyakan berminat di lalu lalang yang hiruk pikuk, untuk menunjukkan “kebodohannya atau kepintarannya”, sama saja. Tujuannya ingin diakui, dihargai, dihormati selayak mungkin.
Tokh semua kita, siapa pun takkan bisa mengelak untuk berjumpa dan kembali kepada Tuhan. Yang taat, yang menentang, yang ragu akan kembali, terpaksa, suka rela atau dengan senang hati.
Jadi, tiada yang kalah dan yang menang, yang ada suara Tuhan yang berbisik”..hai hamba-Ku yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan penuh ridha dan kasih. Masuklah dalam hamba-Ku, masuklah surga-Ku”.

58. abu axl thalib - November 26, 2010

membaca artikel bantahan bpk habib,seolah saya sedang dikelilingi musuh dgn golok terhunus dan siap memenggal kepala saya…ngeri

59. kota salju - Juli 3, 2011

sudah saatnya bangsa kita tidak lagi mengelola sengketa dengan kebencian, geram, dan kekerasan. keterbatasan diri(daif) adalah takdir yang harus kita terima terima. lambang negara kita bukanlah golok tetapi dua sayap yang ingin terbang ke surga

60. Edi Martono - Januari 22, 2013

Membaca artikel bantahan Bpk.Habib, saya jadi mau ketawa. Bpk.Habib tulis:
Saya senang dengan catatan pinggir si goen, bahkan saya sempat tertawa saat membacanya. Bagaimana tidak? Bukankah hal yang sangat membahagiakan ketika kita mendapatkan “musuh” galau dan panik, apalagi depresi berat, ketakutan dan hilang kontrol.

Tapi dgn membandingkan Caping dan tulisan Bpk.Habib saya jadi bertanya apakah Bpk.Habib tidak terbalik?

Yang galau, panik, depresi, hilang kontrol siapa?

Caping dengan bahasan khas-nya yang santun, indah, dan beradab, sementara tulisan Bpk.Habib yang provokatif, kasar, tidak berpendidikan, dan menuduh dgn serampangan… saya rasa semua pembaca yg punya akal sehat sangat-sangat bisa membandingkannya.

Yah wajarlah dengan kualitas tulisan Bpk.Habib yang (maaf) “stensilan” mana mungkin bisa masuk di Majalah TEMPO yang tulisan dan bahasannya sangat memperkaya khasanah Bahasa Indonesia.

Pembaca yang smart dapat membedakan tulisan yang kalem/tenang dengan yang kasar, yang santun dengan yang kurang ajar, yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan, yang arif dengan yang tidak beragama, yang tulus dan yang munafik, yang beriman dan yang tidak ber-Tuhan.

61. aima - Agustus 26, 2014

udah2, soal habibrizk ane tertarik siapa dia dan gak usah bahas dalam2 ane baca sejarah fpi dari blog2 aja dah tau,suka narik ‘uptei’.si habib punya majalah/koran/situs online kecil2lan yg artikelnya copas dan serampangan ditambah editan dengan gaya provokativ dan mengada2 tanpa fakta.gak kelas ma Tempo,
eh kalo habib ma basyir di arab/iran kayak tulisan diatas mungkin dah dipancung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: