jump to navigation

Politik-P April 13, 2009

Posted by anick in All Posts, Demokrasi, Indonesia, Politik.
trackback

DI bilik suara itu aku tertegun: di sini aku sendiri, satu di antara jutaan suara lain, satu noktah di dalam arus 170 juta manusia, mungkin patahan bisik yang tak akan terdengar. Ini sebuah pemilihan umum; statusku: sebuah angka.

Di ruang yang sempit itu, beberapa menit aku menatap lembar-lembar kertas yang diberikan kepadaku. Sederet gambar. Sejumlah nama. 99% tak kukenal. Kalau ada yang kukenal, ia terasa berjarak dari diriku. Tak ada nama partai dan orang yang tercantum yang menggerakkan hati saya. Tak ada ada dorongan kesetiaan yang akan membuat aku dengan gigih memilih sambil berkata pelan tapi bangga, di bilik itu, “Partaiku, wakilku!”.

Aku tertegun: apa aku, apa mereka? Partai-partai itu sehimpun penanda yang tampaknya tak berkaitan dengan yang ditandai; mungkin bahkan tak ada sama sekali yang mereka tandai. Yang jelas, mereka tak membuatku mati-matian ingin mengisikan makna, dengan seluruh keyakinan, ke dalam penanda kosong itu.

Tapi aku mencontreng, aku memilih. Dengan demikian aku mengubah diriku jadi satu satuan numerik, sebuah unsur dalam sebuah ritus kolektif. Dan dengan demikian pula aku termasuk, tergabung, ke dalam sesuatu yang tak pernah, dan mungkin sekali tak akan, jadi bagian hidupku.

Jangan-jangan seluruh ritus ini, setidaknya di tahun 2009 ini, adalah sebuah alienasi. Aku bayangkan mungkin yang serupa terjadi di sebuah pabrik: seorang buruh mengerahkan seluruh tubuhnya dan mencucurkan keringatnya untuk sebilah gunting atau sepasang sepatu, dan pada saat itu juga berubah: ia hanya jadi tenaga-kerja-sebagai-komoditi; ia tak berkaitan lagi dengan buah tangannya sendiri. Ia terasing.

Aku pun ke luar dari bilik suara, aku melangkah meninggalkan TPS, dan tak merasa amat peduli mana yang akan menang dan yang akan kalah dalam pertandingan lima tahun sekali ini. Ada jarak antara aku dan ritus itu. Saling tak kenal lagi, saling terasing. Mungkin inilah yang aku alami: politik yang telah mati.

Di rumah aku baca lagi bab-bab yang berat dari buku Kembalinya Politik, yang ditulis beberapa pemikir politik mutakhir Indonesia, dengan pengantar Rocky Gerung, sebuah buku yang dipersembahkan kepada A. Rahman Tolleng, seorang aktivis yang tak kunjung reda kesetiaannya kepada politik.

Tapi di sini, “politik” berarti politik-sebagai-perjuangan, “politik-P”. Bukan politik yang telah mati. Bukan politik-sebagai-ritus, “politik-R”.

“Politik-R” adalah politik yang tercetak dalam gambar-gambar di lembaran kartu suara 2009 itu. “Politik-R” datang karena ritus adalah repetisi yang diwajibkan dan disepakati. Repetisi bisa membawa daya magis, seperti mantra yang berkali-kali dirapal, tapi juga sebaliknya: bahkan sembahyang yang suatu ketika khusyuk juga bisa kehilangan rasa ketika dilakukan berulang-ulang.

Kita bisa juga mengatakan, “politik-R” adalah politik tanpa la passion du réel — untuk memakai kata-kata Alain Badiou, pemikir yang banyak dikutip dalam Kembalinya Politik.

Tanpa passion, tak ada gairah. Tanpa gairah untuk bersua dan memasuki le réel, berarti tak ada tekad untuk membuka diri kepada yang paling tak terduga. Le réel ada dalam tubuh kita, di bawah-sadar kita, dalam relung gelap kebersamaan kita: wilayah Antah Berantah yang tak terjaring dalam “pengetahuan”, tak tercakup dalam bahasa, tak dapat diatur dalam tata simbolik. Di sanalah segala rencana dan doktrin terbentur.

Tapi justru sebab itu, politik adalah perjuangan. “Politik-P”, adalah laku yang militan, karena ada keberanian mempertaruhkan nasib, menabrak apa yang sudah pasti untuk sesuatu yang belum. Tapi perjuangan itu memanggil aku, melibatkan diriku, bahkan perjuangan itulah yang menjadikan aku sebagai subyek — bukan badan pasif yang datang ke kotak suara dan pergi dengan rasa asing kepada apa yang dilakukannya sendiri.

“Politik-P” itu pernah terjadi ketika Indonesia diproklamasikan merdeka, 17 Agustus 1945, atau ketika para pemuda melawan Tentara Sekutu di Surabaya, 10 November 1945, atau ketika para mahasiswa menantang rezim Orde Baru dan tanpa senjata menduduki Parlemen sampai Suharto terdesak mundur.

Tentu, kejadian itu jarang. Selalu datang “politik-R” menggantikannya. Tapi yang menyebabkan aku merasa terasing di tahun 2009 bukan semata-mata “politik-R” yang tak terelakkan. Di atas saya katakan, tanda gambar dan nama politisi itu tak menandai apa-apa – tapi mungkin saya keliru. Mereka sebenarnya sebuah simptom. Mereka gejala dua nihilisme yang bertentangan.

Nihilisme pertama menampik politik sebagai proses kebenaran – karena kebenaran dianggap tak perlu. Hampir semua partai didirikan bukan karena ada satu subyek kolektif yang tergerak oleh keyakinan tentang yang benar dan yang tidak. Bahkan beberapa partai bukanlah “partai politik” (yang mengandung “kebersamaan”), melainkan “partai palangki”: dibuat hanya untuk jadi tempat mengusung sang pemimpin.

Nihilisme kedua juga menampik politik sebagai proses kebenaran. Tapi ia berbeda dari nihilisme pertama. Bagi para pelakunya, kebenaran ada, tapi bukan sebuah proses. Kebenaran sudah selesai. Tak ada pengakuan, apalagi gairah, akan le réel. Maka tak ada celah bagi yang baru, yang tak terduga-duga, yang lain.

Di sini pun sebenarnya yang terjadi hanya pengulangan. Sebab para pak turut dogma bukanlah orang yang berjuang. Perjuangan dalam arti sebenarya melawan kebekuan dan represi, juga dalam pikiran sendiri.

Sekian puluh tanda dan nama, dua nihilisme…

Di tengah itu, bagaimana aku tak akan terasing? Bagaimana aku tak akan merasa diri hanya sebuah angka kurus di bilik suara, jari penyontreng yang sebentar lagi akan ditelan ritus 170 juta manusia?

~Majalah Tempo, Edisi Senin, 13 April 2009~

Iklan

Komentar»

1. Politik-P - April 17, 2009

[…] the rest here: Politik-P Posted in Catatan Pinggiran | Tags: a-menit-aku, antara-jutaan, beberapa-menit, bilik-suara, […]

2. Politik-P - April 17, 2009

[…] post: Politik-P Posted in Catatan Pinggiran | Tags: a-jutaan-suara, a-menit-aku, aku-menatap, all posts, […]

3. kampanye damai pemilu indonesia 2009 - April 17, 2009

wow artikel nya keren juga yah pak

4. bodrox - April 17, 2009

yah… untung nggak politik-P yang mana P nya itu pembodohan…. ekhm.

5. zaval - April 17, 2009

setan mana yang membawa angin ribut-ribut hura-hura mabuk kepayang pada senja di poranya pesta rakyat indonesia ???
indonesia mana yang dahulu kala seperti surga para pezina juga tempat melepas lelah para peziarah???
seperti setan, segalanya berawal dari nafasMu yang bau.
seperti politik.

6. podolisasi prima - April 17, 2009

nihilis ,eksistensialis,=utopis?
potret utuh republik?
Fiuhhhhhhhhhhh..

7. thepenks - April 18, 2009

bagus pak postingnya… aku dulu begitu waktu pertama kali mau mencoblos (dulu nyoblos. bukan nyontreng).. jadi sama orang-orang didesa suruh nyoblos partai B (samaran), padahal tidak tahu historynya..

8. ochidov - April 19, 2009

aku tidak tahu dengan Politik-P, mungkinkah ‘Perjuangan’ untuk sebuah kekuasaan? uang? perempuan?. masih banyak Politik-P selain masuk pada bilik yang hanya menjadi ritus bualan 5 tahun sekali. GM di sini tak mengajak rakyat pada ‘Perjuangan’ yang sesuai dengan cita-cita Republik ini. jauh dan semakin terbelakang.
kekuasaan masih menjadi ladang legal yang menjijikkan.
demi ia, BLT jadi “Bohong Lanjut Terus”
untuk ia, PNPM Mandiri jadi “Pekerja Numpang Pamrih Malah Maling di negeri sendiri”
oleh DPT (ini kasus KPU-Kepanjangan Pemerintah Terpilih) jadi “Duit Palu Tebas”
aku jadi ragu dan munafik dengan BOS, Raskin, dan entah gombal apa lagi.
SBY tak perlu disalahkan dan mereka yang dalam lingkar kekuasaan masih juga rebutan, jihhh, malu aku jadi “kutu” di negeri sendiri.
hidup memang tak panjang bung! tapi kehidupan dan kebenaran tidak ada istilah “panjang”.
GM, jadi siapakah yang masuk dalam bilik-bilik itu?
masihkah 6 Juni akan disembah lagi?
bedoalah, jika masih mampu, padahal berdoa sendiri adalah mengemis.
pada kekuasaan dan yang punya Kuasa.
silakan.

9. Mossack Anme - April 20, 2009

wah, penggemarnya Goenawan Mohammad juga ya Pak? Sama.
Atau memang langganan TEMPO? 🙂

10. isoelaiman - April 20, 2009

Saya sepenuhnya dapat memahami seorang GM yang tokoh, begitu berubah menjadi butir “pasir” tatkala mengamati lembaran calon “tokoh”. Juga saya dapat memahami seorang GM yang selalu berada di “mainstream” gelombang dahsyat republik, begitu nihil melihat lembaran nama tanpa ekpressi.
DPR yang kini menjadi “penguasa” baru, yang sarat dengan fasilitas, bagaikan ladang pekerjaan menggiurkan ditengah sulitnya mencari kerjaan. Tentu, inilah yang diprihatinkan GM. Kian jauh dari istilah perjuangan, ia sekedar pekerjaan. Meski tak seluruhnya, tapi sebagian besarnya. Karena itulah ekses negati “stress” menjangkitinya.
Bisakah GM menukar “kacamata”-nya? Menakar kekinian dengan kedahsyatan masalalu belaka tidak sepenuhnya adil. Bisakah GM mempergunakan “kacamata baru” menakar “realitas” apa adanya di kekinian sebagai sesuatu keniscayaan sejarah. Sesuatu yang dalam logika sejarah memperkenankan “hadir”? Bahkan dengan “kenihilan” sekalipun. Bisakah kita legowo dengan proses sejarah, apa adanya hadir tanpa kebelum jelasan kita?
Misalnya, kita melihat Indonesia memasuki gelombang baru, civil society, masyarakat madani. “Zaman emas” bagi siapa saja yang ingin membuktikan “kejantanannya” di legislatif, tanpa model restu “elite politik” . Ini zaman yang “luar biasa”. Dan Indonesia ingin membuktikan dirinya “bisa”. Meski untuk itu, taruhannya sangat berat; stress, gantung diri, gelap otak, ngamuk.

11. frodobag - April 20, 2009

Yang Nyontreng kemaren ….. “aku gak paham,gimana posisi otak mereka ya …???? isinya ya.. ‘paling paling’ uang. mungkin”

12. zaval - April 21, 2009

“just porn, No bullshit”..itu sebuah slogan disalah satu situs porno terlengkap yg pernah saya kunjungi…dab, barangkali gaung kalimat2 sejenis itu perlu di dengus dan dengungkan lebih dari sekedar erang…dalam beraneka ragam “demonstrasi”…seperti juga dalam demonstrasinya mas ochidov…hahahaha….iya ya ya ya, sungguh saya terkesan sangat pragmatis, sepragmatis BLT, BOS, PNPM, dan program2 pemerintah lainnya yg kurang jelas…iya ya ya ya, mungkin pemerintah perlu membuat program2 jangka panjang yg dapat memuaskan keruh kering pikiran para idealis yang ada di negeri ini…tapi apa artinya itu buat tetanggaku yang sehari-harinya hidup dari penjualan seekor kambing tiap 8 bln sekali ???? dan tetanggaku yang hidup dari mencari daun jati tuk di jual buat bungkus nasiMu???? dan buat tetangga-tetanggaku yang hidup dalam “takdir2” yang kurang beruntung lainnya ????….ah ! dunia terlalu penuh dengan pesepsi dan opini…tapi ngomong-ngomong dab, aku kok salah kamar ya ???? haha

13. podolisasi prima - April 21, 2009

hahaha.. wrong room,wrong bill. :-))

14. ibra - April 21, 2009

ngga apa-apa “salah kamar” atau “ngga ngonteks”. Asalkan memberi sedikit imajinasi untuk membuatnya jadi konvergen.

Fenomena itu kan mengandung banyak dimensi. Ngga perlu juga kita ikut2an berpikir fragmentaris kaya trend di negri ini sekarang. Yang integral malah lebih bagus. Kita bisa main2 dengan pelbagai disiplin ilmu dan membuatnya jadi interdisipliner.( Ini juga argumen Giddens untuk mempertahankan “kemacetan” sosial sains).

Dalam hal ini, sikap GM agak mendua, menurut saya. Di satu sisi, dalam tulisannya, dia mengamini yang fragmentaris. Di sisi lain, GM bermain-main dengan intertekstualitas (seperti dalam buku barunya itu), yang berarti juga bermain-main dengan konteks dan “kehendak untuk konvergen” dari imajinasi pembaca. (atau penulisnya sendiri?)

15. ibra - April 21, 2009

hayo para munsyi!!
Debat argumenku di atas!!!
Nuyumput aja kayak yang paling jago, kalian! Kayak yang paling penting aja!

Hehehehehehe

16. zaval - April 21, 2009

iya iya iya kang mas ibra…kamu arus, sedang saya cuma tetes, kamu keruh, aku yuyumput, mungkin…haha…tapi malas ah debat sama kamu, paling2 juga aku kalah, sebab tak ada yg lebih foucolist dari kamu bra (kutang)….”Knowledge is Power”, kamu sungguh punya itu braaaa…………..hehehe

17. podolisasi prima - April 22, 2009

Nah giliran Gelanggang dibuka.,
Kemana tuh si pendekar data?

A.K.A .. yeah uknowho. S.S.

voorsetengah deh dr ibra buat doi :ppp

18. marianus - April 22, 2009

Politik… atau kusri dan uang?

Politik itu kumoulan orang cari kerja…. males aku.

19. ibra - April 22, 2009

:p
Becanda, boss….
Itu eksperimental kok

20. ibra - April 22, 2009

Aku punya eksperimen lain.

kenapa ada :
“wilayah Antah Berantah yang tak terjaring dalam “pengetahuan”, tak tercakup dalam bahasa, tak dapat diatur dalam tata simbolik.” ?

jawaban eksperimentalnya adalah : karena manusia zaman ini belum butuh itu.
Kita dibatasi oleh kebutuhan.

21. podolisasi prima - April 22, 2009

Bisa dipersempit spektrumnya sob?
Deus ex machina?
Kaitan dengan refleksi topik GM, “rapuh” di atas.. adalah..?

Cepat lo manusia mengejar kebutuhannya. Termasuk hal-hal desktruktif. Disaat yg sama “pengetahuan” semakin signifikan.

Eksperimental Large Hadron Collider contohnya,.
Sdh nyenggol2 wilayah antah berantah tuh..

22. ibra - April 22, 2009

Gini, tem….
(Sob =tem?)
“wilayah Antah Berantah yang tak terjaring dalam “pengetahuan”, tak tercakup dalam bahasa, tak dapat diatur dalam tata simbolik.”
-> itu saya cuplik dari caping di atas. Kaitannya tentang refleksi dari ” tak ada apa-apa di luar teks” si Derrida. Dan teks “disinonimkan” dengan bahasa.

Kaitannya ya itu dia, “salah kamar” itu cuma persoalan konvergensi : Di titik mana mereka akan bertemu.

Saya coba pertahankan eksperimen “tentang kebutuhan” lewat analogi ini :

Kenapa manusia dengan beraneka macam karakter dan kebutuhan tidak berakhir pada chaos? Sebab di sisi lain mereka saling membutuhkan, mereka saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Dari situ institusi sosial, hukum dan kostitusi terbentuk. Semua itu terbentuk karena adanya kebutuhan akan aturan main dalam memenuhi kebutuhan mereka. Sebab kondisi sebaliknya (chaos) akan membuat banyak pihak tidak dapat memenuhi kebutuhannya. ( Ini dari Hobbes)

Nah, dari situlah “bahasa” tentang institusi sosial, hukum dan konstitusi muncul. Bahasa muncul dari kebutuhan, tem….

Karena ini adalah eksperimen, saya melakukan induksi dari situ. Bahwa jangan jangan semua hal juga berawal dari kebutuhan?

Termasuk kebutuhan untuk “ada”

23. podolisasi prima - April 23, 2009

Alamak lg lg gimmick intelektual..
Okeh, nuhun bray data singkatnya.
Dear ibra=sob,bray,=pren. baraya di sundanya.

24. zaval - April 23, 2009

sesungguhnya bertindak baik dan tulus itu bukan suatu gerakan instan..
itu di mulai dari waktu kecil..sejauh mana hatimu terenyuh melihat nyanyian burung-burung di belakang rumah..tapi tak semua orang dilahirkan pada tahun-tahun yang sejernih itu…sungguh aku merasa beruntung..dan seperti burung, dengan suaranya…diatas negasiku pada seluruh isi jagat raya, aku hanya ingin memeberi sekaligus melupakannya..tapi itu sulit, sungguh..

25. Zul Azmi Sibuea - April 23, 2009

Politik-P atau Politik-R, adalah soal musim-musiman saja, dikampung-kampung seputar jakarta, ada musim layangan … ya.. just do it, sama juga dikampung tempat lahir kita kita , kalau lagi musim durian… ya cicipilah sedikit, sekedarnya supaya tidak terasing. Baik yang – P maupun yang – R , cukuplah sekedar untuk membunuh waktu dengan sedikit lebih menyenangkan karena :

sudah lama politik tercerabut dari akar katanya “politie” yang berarti “bibit-bibit society yang dalam dirinya sendiri terus-menerus memperbaiki kehidupan bersama. meletakkan masalah-masalah bersama ditengah-tengah interaksi kehidupan bersama, mencapai tujuan bersama melalui musyawarah yang integratif dan berevolusi kearah peradaban yang lebih baik”.
apa baik, apa artinya baik, baik menurut siapa ????? itu sebabnya politik harus dilandasi oleh moral, etika dan spiritual. inilah yang tidak exist dalam kancah perpolitikan kita dewasa ini.

saya cuma mau introduksi politik-p (politik dengan p huruf kecil)
salam
zul azmi sibuea

26. ibra - April 24, 2009

nyantai aja, Bos Zaval….
Ngga bisa dilupain, ya dialihin aja….
Cari yang baru…
hehehehe

27. zaval - April 24, 2009

ok…slow wae bra….tergesa-gesa itu dekat dg ejakulasi dini.ejakulasi adalah orgasme, dan tak ada jarak antara orgasme dg sakarotul maut…makane, slow wae sob….haha…..

28. ibra - April 24, 2009

Nah, gitu dong….
Olah raga teratur, biar ga edi
Hehehehe
Jadi kayak slogan Nat Geo Adventure :
Let’s get lost!
Cheers!

29. podolisasi prima - April 24, 2009

hahaha nugelo!

30. espito - April 27, 2009

pemilu itu boleh jadi adlah “Politik-S”: Politik Simulacrum -untuk meminjam kata-kata Jean Baudrillard. Politik-S adalah politik yang dihelat bagi kepentingan politik itu sendiri; bukan politik yang dilaksanakan untuk kepentingan rakyat. pemilu itu barangkali sebuah hiperrealitas dalam politik kita dewasa ini… tapi apa boleh buat, seakan tak lagi ada pilihan lain buat kita kecuali merayakan banalitas plus hiperrealitas yang memang telah maujud di mana-mana…

31. ibra - April 27, 2009

nah, giliran aku nanya niy…

Mas espito aku bole nanya ya?,

1. Aku ngga ngerti tuh “politik untuk politik” atau “seni untuk seni” atau “sains untuk sains”.
Mohon penjelasannya.

2. Kalau saya tidak salah, “merayakan” berarti : menyambut dengan euphoria. sensitivitas kita dipertaruhkan di sini. Masih banyak yg ga beres, masih banyak yg menderita. Kenapa kita merayakan sesuatu yang tidak ditujukan untuk memperbaiki itu?

Salam

32. espito - April 27, 2009

ya, pak/mas ibra..
politik untuk politik itu jelas (saya yakin anda juga sudah mafhum) sesuatu yg bertentangan dgn prinsip dan moralitas politik yg luhur. politik, seharusnya, adalah untuk mengelola kepentingan bersama menuju suatu cita2 bersama nan luhur. tapi bahwa yg trjadi saat ini adalah politik untuk politik (dan bukan untuk melayani rakyat) saya kira sudah jadi suatu mainstream dalam perikehidupan bangsa ini. di lain sisi, biarpun telah tahu bahwa politik itu telah menyimpang dari tujuan yang semestinya, kebanyakan kita tetap gegap gempita merayakannya (angka partisipasi pemilu masih di atas 50persen).
untuk pertanyaan ke dua, kata2 saya di atas sebenarnya lebih saya maksudkan sbg sebuah parodi semata (bukan sbg sebuah himbauan).

trimakasih..

33. alfach - April 27, 2009

politik:
yang pinter di akalin yang bodo juga diakalin….

34. podolisasi prima - April 28, 2009

Mas Anick sibuk ni sepertinya menyebrangi samudra,.?
berbilang minggu, blm post caping terbaru.

Have a nice day mas … :p

35. Maya - April 28, 2009

artikelnya bagus, pas untuk merenung … thanks for sharing

36. Zul Azmi Sibuea - April 29, 2009

@espito ,
Untuk pemilu terakhir ini KPU sudah melaksanakannya, mereka tak usah peduli dengan DPT/DPS, pemilu dikontrakin aja ke konsultan quick count , everything perfectly had been simulated. Hasilnya adalah similie, dan kita sebagai angka-angka (bilangan) pemilih, adalah realitas-similie yang juga puppet-similie yang menjadi bahan permainan program similie yang akan dimainkannya.
Saya setuju Jean Baudrillard yang melukiskan realitas apa adanya, tapi menurut saya realitas tetaplah realitas, bahwa ada kuasi realitas, atau realitas bermetamorfosa menjadi similie atau imaji masih berkategori bagaimana adanya.
Dimana saya harus mencari realitas yang haqiqi, andai anda menemukan, mohon beri tahu kepada saya, terimakasih.
salam
zul azmi

37. Loginataka - April 29, 2009

GM ke TPS. Jadi penasaran, kira-kira nyontreng siapa ya? Di bilik suara itu mungkin cuman GM dan Tuhan yang tahu.
Vox GM vox Dei…
Sebuah ritus alienasi? Tentu.
Politik, pemilu, parlemen, partai telah menjadi komoditi. Di ‘pasar’ ini, la passion du réel tidak dibutuhkan lagi.

38. namo awak palawak (@palawak) - Januari 14, 2012

lalu lah segalanya, dan yang dimuka menanti saja.
habislah perjuangan, tenggelam dibalik ritus. begitulah berkah tuhan memberikan kita ketiada-abadian. sayang, sayang disayang, ditangan kita sendiri ke yang buruk pilihan jatuh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: