jump to navigation

Pintu Desember 7, 2009

Posted by anick in All Posts, Hukum, Pepeling.
trackback

Mereka saling tak kenal, tapi masing-masing mereka berjalan ke sebuah pintu yang jauh. Ada seorang perempuan tua yang memetik tiga butir biji kopi di perkebunan negara. Ada seorang lelaki setengah baya yang mengambil dua batang ketimun di kebun orang. Ada seorang perempuan yang dituduh memfitnah karena mengeluh di surat kabar sore kota itu.

Mereka berjalan dari sudut-sudut yang tak dekat. Ketika mereka tiba di gerbang yang berbeda-beda itu, masing-masing dicegat penjaga.

”Mau ke mana?” tanya juru pintu.

”Ketemu Hukum,” sahut mereka, sebuah jawaban yang sama, dengan logat yang berbeda-beda, di tempat yang berjauhan.

”Belum boleh masuk,” kata sang penjaga.

Sebelum saya lanjutkan, para pembaca tentu tahu, saya sedang meminjam dari Kafka untuk cerita ini; maksud saya, saya akan memakai—dengan diubah di sana-sini—parabelnya yang ganjil dan muram, Vor dem Gesetz (”Di Depan Hukum”), karena meskipun ditulis di Praha di awal abad ke-20, kali ini rasanya ia diceritakan untuk kita.

Di depan Hukum, pintu terbuka, tapi perempuan itu, tak bisa melangkah masuk. Ia mencoba melihat sedikit ke dalam, tapi mengurungkan niatnya, ketika penjaga pintu itu berkata: ”Kalau kamu ingin masuk, meskipun sudah aku larang, silakan saja. Tapi di balik pintu ini ada pintu lain, dan di baliknya lagi, ada pintu lagi, demikian seterusnya. Tiap pintu ada penjaganya, yang makin lama makin perkasa dan makin angker. Bahkan di pintu ketiga saja, si penjaga begitu rupa wajahnya hingga aku sendiri tak berani melihat.”

Perempuan itu diam. Si penjaga menerima suap, dengan alasan: ”Supaya nyonya tak merasa ada yang ketinggalan,” tapi perempuan itu memutuskan akan menunggu saja. Ia pun duduk di depan pintu. Dan ia duduk di sana bertahun-tahun, hingga ia hafal bagaimana gerak tangan penjaga itu menabok nyamuk, membersihkan kutu. Ia bahkan hafal berapa ekor kutu tiap hari naik ke topi itu.

Sampai akhirnya perempuan itu tua, rabun, dan mati.

Tapi beberapa saat sebelum mati, ia melihat seberkas cahaya bersinar dari bagian dalam gerbang. Hanya sebentar. Ketika dengan kupingnya yang besar si juru pintu menangkap bunyi napas itu melemah, ia pun mendekat. Ia berdiri mengangkangi jasad si nenek yang tergolek. Pada detik-detik terakhir, masih didengarnya bisik itu bertanya: ”Tuan, katakan, kenapa selama bertahun-tahun ini, tak ada orang lain yang datang kemari? Kecuali saya?”

Penjaga itu melepaskan topinya sebentar, membersihkannya dari kutu No. 72, dan menjawab: ”Orang lain tak ada yang kemari, karena pintu ini memang dibuat hanya untuk kamu.”

Dan ajal pun menjemput perempuan yang datang dari jauh beberapa puluh tahun yang lalu itu. Dan pintu itu ditutup.

Siapa penjaga itu gerangan? Adakah ia aparat penghambat untuk membuat Hukum, yang ditulis dengan huruf ”H”, merupakan sesuatu yang melarang dan sekaligus terlarang—semacam firman suci yang bilang ”jangan” dan seketika itu jadi kata-kata yang tak boleh disentuh?

Ataukah ia bagian dari façade yang menyembunyikan rahasia bahwa Hukum sebenarnya tak pernah ada?

Perempuan itu memutuskan tak jadi masuk. Ia hanya menunggu. Menunggu. Entah sabar atau gentar, entah tawakal atau putus asa. Kita tak tahu sudah pernahkah ia dinyatakan bersalah sebelum datang ke sana. Kita tak tahu merasakah ia bahwa dirinya tak layak, hingga tanpa digertak lebih lanjut, ia patuh. Yang kita tahu: dilakukannya itu dengan kemauan sendiri. Tapi mungkin ia sebenarnya tak bebas. Menunggu adalah sebuah situasi antara bebas dan tak bebas—terutama menunggu Hukum, yang ditulis dengan ”H”.

Tapi mungkin juga perempuan itu telah terkecoh. Ia menyangka Hukum adalah Keadilan. Sangkaannya berlangsung sampai akhir: ia melihat (tapi benarkah ia melihat?) berkas cahaya yang sejenak itu, dan barangkali merasa diyakinkan bahwa di balik itu ada Keadilan itu sendiri.

Tapi Hukum tak identik dengan Keadilan.

Hukum bahkan ruang tertutup, dan Keadilan tak selamanya betah di dalamnya. Dalam novel Kafka, Der Proseß, ada tokoh, Titorelli namanya, seorang perupa yang aneh, yang menggambar Keadilan dengan sayap pada tumit kaki. Keadilan selamanya akan terbang dari satu tempat yang terbatas, terutama ketika hukum merasa jadi Hukum, begitu angkuh, kukuh, dan kaku, bahkan akhirnya jadi bagaikan berhala yang membuat manusia jeri. Berhala: patung bikinan manusia yang disembah manusia—seakan-akan benda itu bebas dari tangan manusia, seakan-akan ada roh di dalamnya, atau seakan-akan ia bisa mewakili sang roh seutuhnya. Padahal mustahil. Sebab itu ada selalu akan datang para ikonoklas, yang dengan niat baik memperingatkan: berhala hanyalah berhala. Hukum hanya hukum. Yang transendental tak ada di sana. Dan para ikonoklas pun akan menetakkan kapak ke batu atau kayu atau logam itu….

Jika Keadilan adalah sesuatu yang transendental, memang mustahil ia diwakili oleh hukum yang disusun di ruang para legislator, dicoba di depan mahkamah, dan dijaga jaksa dan polisi dengan sel-sel penjara yang sumpek. Sesuatu yang transendental bukan produk dari dunia ini, meskipun ia meraga—dari kata ”raga”—di dunia.

Perempuan itu mungkin telah terpengaruh oleh ideologi yang bertahun-tahun mengatakan bahwa Hukum justru sesuatu yang harus angker, mengandung misteri, hingga tak mudah dimasuki.

Atau jangan-jangan karena cerita ini tak berasal dari Indonesia, melainkan dari sebuah negeri tempat hukum dibuat oleh Negara yang dibayangkan Hegel, dengan rasa kagum kepada Republik Plato: sebuah kesatuan politik, etik, hukum, dan budaya yang utuh. Tapi bagi kita di Indonesia, apa yang bisa dikatakan tentang ”Negara”, selain sebagai lapisan penjaga pintu yang jangan-jangan hanya menjaga sesuatu yang praktis kosong, karena tak jelas? Menjaga ”Hukum”, yaitu ketidakpastian?

~Majalah Tempo Edisi Senin, 07 Desember 2009~

Komentar»

1. bahak - Desember 8, 2009

bagus, cuman saya yang masih kurang bisa mencerna bahasa-bahasa yang di pakai oleh pak Gun……

gambang semarang - Desember 14, 2009

wah ia bahasa tingkat tinggi, haha buka-buka kamus filsuf dulu neh

2. songsong - Desember 9, 2009

Untuk membuat rumah ‘hukum’ type81 yg ideal, kita masih menggunakan bahan yang lama yaitu :
-Untuk dinding diperlukan bahan2 berupa batu kesepakatan, semen rekayasa, besi berkarat, kayu yang sudah digerogoti rayap, dan juga lumpur.
-Untuk lantainya diperlukan bahan khusus dari emas dan perak sehingga mempermudah utk dibersihkan dan tidak kotor .(kalau merasa kurang nyaman perlu ditambahi permadani diatasnya).
-untuk binatang yang paling cocok untuk dipelihara adalah ular.

3. zul azmi sibuea - Desember 9, 2009

hukum, keadilan, yang disebut diatas adalah universal bukan hanya karena kafka membayangkan negaranya hegel dan plato, hegel membayangkan negaranya plato.

yang tidak terasa sampai ditingkat penjaga pintu “Sesuatu yang transendental bukan produk dari dunia ini, meskipun ia meraga di dunia.” yang mestinya berada dalam ruang terjaga itu.

4. Bodrox - Desember 9, 2009

Bagi saya, hukum itu seperti cerita isa dan pelacur: siapa yang tak memiliki dosa bolehlah ia menghukum, melempar batu lebih dulu.

zul azmi sibuea - Desember 11, 2009

inilah masalahnya, berhubung perbuatan dosa, tidak memberi jendol dikepala kita – agama melakukannya untuk kita dengan memberi kesadaran bahwa setelah hidup ini, ada kehidupan lain yang transendental, yang menjadi landasan moral, etika demi kemaslahatan.

masalahnya adalah bagaimana meng”endogenisasi” moral dan etika kedalam kesadaran kita, sehingga termanifestasi dalam kehidupan kita sehari-hari. bila tidak moral dan etika hanya bertindak sebagai teori, yang berguna untuk diomongkan saja – sekedar diskursus atau wacana.

5. Guam - Desember 9, 2009

Makasih banyak – Island of Guam.

6. wemmy al-fadhli - Desember 10, 2009

@pak guam how much i must pay to enter ur island and run mytask manager hang in??

7. Cynthia Gyp - Desember 10, 2009

nice blog….

8. Taufik Al Mubarak - Desember 12, 2009

Hukum hanya tertulis di KUHP, dijalankan saja tak pernah ditegakkan, sehingga tak pernah tegak. ditafsirkan tergantung selera dan kepentingan

9. ochidov - Desember 13, 2009

ketika kecil aku nakal, dan bapakku bilang “awas..!!”, inilah hukum.

10. ocidov - Desember 13, 2009

hukum adalah keji…

11. fatih - Desember 13, 2009

bagi saya perlu baca ulang tulisannya bang gun ini, tapi memang kaya makna. Salam

12. Iswady - Januari 13, 2010

artikel menarik

13. Iswady - Januari 13, 2010

semangat terus sob


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: